[BTS FF FREELANCE] 95’lines Diary 2 – Find Your Love (Part 2)

kangharastory1

Title    : 95’lines Diary 2

Subtitle    : 02. Find Your Love

By    : Kangharastory

Genre    : Romance, Friendship

Rating    : PG – 17

Lenght    : Series

Cast    : Kim Taehyung (BTS), Park Jimin (BTS), Song Jihyun (OC), Kim Nayeon (OC)

  1. Find Your Love

Kisah cinta ini berawal dari sebuah persahabatan yang berlabel pada sebuah saksi bisu yang sudah usang di makan waktu dan tidak pernah di anggap lagi keberadaannya.

Tak ada yang tau bahwa waktu akan kembali mempertemukan mereka. Tak ada juga yang tau untuk apakah takdir kembali mempertemukan mereka. Mungkinkah ini adalah akhir dari kisah mereka? Dipertemukan kembali, lalu dipisahkan kembali. Menyakitkan. Jika saja mereka memiliki kekuatan untuk menghentikan waktu barang sedikit saja, mungkin mereka bisa dengan cepat menyelesaikan kisah ini tanpa ada yang terluka sedikitpun. Tetapi ketahuilah, bahwa tidak ada satu kisahpun yang dapat dengan mudah diselesaikan semudah membalikkan telapak tangan. Seandainya ada, pastilah mereka sangat tidak beruntung karna tidak diberi kesempatan untuk mengerti apa itu arti dari sebuah perjalanan hidup.

Suatu saat mereka akan berpisah, kemudian bertemu kembali dan menemukan banyak hal yang tidak akan pernah ada habisnya. Hanya ada dua hal yang akan mereka pilih, bertahan atau menghilang –seperti saat ini. Jika memilih bertahan, tidak ada pilihan lain selain menikmati pahit manisnya perjalanan ditengah sulitnya membangun benteng yang kokoh agar bisa bertahan bahkan harus mempertaruhkan segalanya. Dan jika memilih menghilang, tidak ada pilihan lain selain berusaha untuk tetap tak terlihat dan tersembunyi dibalik kisah yang memiliki banyak tuntutan, sulit diungkapkan dan tidak dapat dilupakan.

Jihyun hanya duduk tak berdaya di lantai dan menyenderkan punggungnya pada tempat tidur. Perasaan dingin menggelitik tubuhnya kala kakinya yang jenjang yang tak terbalut apapun menyentuh lantai. Gaun tidurnya yang hanya sebatas lututnya dan panjang di bagian kedua tangannya itu tak mampu menghilangkan rasa dingin di tubuhnya. Ah, sekarang ini hujan suka turun dengan tiba-tiba, sehingga membuat cuaca menjadi dingin. Seharusnya dia memakai pakaian yang tebal –karna penghangat ruangan saja tak mampu menghangatkannya.

Gadis itu sadar bahwa dirinya bukanlah si melankonis dan si sensitif Nayeon. Tapi belakangan, dia sadar bahwa perubahaan perilakunya ini sungguh membuatnya tersiksa. Mau makan saja dia bisa berpikir berkali-kali dan pada akhirnya dia memilih untuk bergumal dengan buku-bukunya atau paling tidak memilih untuk mengumpat dibalik selimutnya. Kalau sudah begini, rasa rindu pada kedua orangtuanya yang jauh disana membuatnya larut dalam kesedihan. Setelah bertemu dengan Taehyung kembali, apa yang bisa dia lakukan? Haruskan ia memarahi laki-laki itu atau membiarkannya saja seperti tak pernah terjadi apa-apa sebelumnya? Ah mungkin yang lebih baik adalah tidak saling mengenal satu sama lain. Seharusnya dia bisa menyadari bahwa mungkin saja Taehyung tak pernah keberatan dan terbebani dengan kisah masa lalu mereka, bukannya seperti dirinya ini –seolah-olah merasa yang paling tidak berdaya, benar-benar hal yang bodoh untuk dilakukan.

Dihari ulang tahunnya yang ke dua puluh dua ini, dia merasa sangat-sangat tidak bahagia. Kemana orang-orang yang dulu selalu memberinya ucapan selamat dan juga selalu meramaikan hari-harinya? Dunia ini memang kejam. Haruskah dia diperlakukan seperti ini?

Jihyun menggaruk tengkuknya dengan malas.

“sejak tadi pagi Nayeon belum juga menghubungiku. Dia juga tidak masuk kuliah.”

Ujarnya sembari bangkit dari duduknya dan meraih ponselnya yang terletak di atas kasur –mencoba sejenak menghilangkan kegundahan hatinya. Dia menatap jam dinding yang bertengger di atas pintu kamarnya yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam sembari menghela nafas.

“Secepat inikah waktu berlalu? Dan aku tidak mendapatkan apapun yang berguna untuk hari ini. Hhh, kalau aku seperti ini terus, bisa-bisa aku membusuk di dalam rumah dan tidak ada yang tau.”

Jihyun mengacak rambutnya sebelum tatapannya tertuju pada lemari pakaian yang terletak di sudut ruangan.

Haruskah aku pergi? Aku ingin merasakan dunia bebas.  

Ini adalah dunia bebas. Tempat yang tidak pernah dan tidak mau dia kunjungi akhirnya dapat ia rasakan. Kata Jimin, tempat seperti ini sangat pas untuk menghilangkan penat. Untuk menciptakan kesan bahwa dirinya telah dewasa, mau tidak mau dia memakai pakaian yang terbuka dan terbilang cukup membuat mata para pria tak sedikitpun memalingkan pandangan darinya. Oh apakah benar ini Song Jihyun? Si gadis yang katanya sangat malu memakai pakaian sexy seperti ini, namun sekarang dia nampak percaya diri untuk masuk ke sebuah club malam yang cukup tersohor itu.

Bau alkohol langsung menyeruak begitu ia masuk ke dalam. Di tambah lagi dengan alunan musik yang begitu asing ditelinga, membuatnya sedikit mengerutkan dahi karna merasa dunia bebas ini sungguh penuh dengan kebebasan dan tak terkontrol. Bahkan mengerikan jika tak sengaja bersenggolan dengan orang-orang yang tengah asik berdansa dan langsung di beri tatapan mematikan. Apakah karna terlalu bebas sehingga tempat ini sangat berbahaya seperti yang pernah di katakan Taehyung dulu?

Lupakan. Hari ini dia kesini bukan untuk mengingat laki-laki itu, tetapi untuk menghilangkan rasa terpuruknya –yang harus dia akui karna laki-laki itu.

Jihyun memilih tempat di paling sudut –karna menurutnya tempat itulah yang paling aman, sampai seorang bartender menghampirinya dan menawarinya minum, namun dia hanya berkata apasaja yang cocok untuk orang yang sedang stress berat. Dan dengan senang hati bartender tersebut mengiyakan. Namun sampai saat ini gadis itu belum menyentuh minumannya sama sekali. Dia masih mencoba untuk beradaptasi dengan lingkungan barunya. Bahkan kedua matanya hampir saja lepas begitu melihat dua orang berbeda jenis yang tengah bercumbu di setiap sudut. Pikiran gadis itu langsung tertuju pada sosok ayahnya. Entah kenapa tiba-tiba ia menjadi sangat merindukan ayahnya. Bahkan kedua matanya tak terasa sudah memanas dan berair.

Semudah itukah mereka melakukannya, ayah?

Kedua tangannya meremas ujung gaunnya selagi kedua matanya itu mengamati objek-objek yang tak terlalu jelas dipandang mata. Dia pasti salah sudah datang ke tempat seperti ini. Sekarang dia merasa menyesal karna sudah pergi ke tempat ini.

Tanpa sadar dia menyambar minuman –yang entah apa namanya, yang diberikan oleh salah seorang bartender beberapa menit yang lalu dan meneguknya hingga habis meskipun kedua matanya kadang menyipit karna tak tau cairan apa yang masuk ke dalam mulutnya itu.

Apakah disini hanya aku yang terlihat seperti mengemis cinta?

Sembari membatin, Jihyun menekan dadanya merasakan pilu yang entah kenapa seperti menggerogoti hatinya. Aneh, tapi dia merasa emosinya memuncak sekarang. Kepalanya terasa seperti di tusuk-tusuk benda tumpul dan kedua matanya tak henti-hentinya mengeluarkan airmata, seperti mengeluarkan segala kekesalannya yang entah harus ia tujukan kepada siapa. Sialan. Kenapa tempat ini membuatnya sangat tidak bisa mengontrol emosinya?

Taehyung menghembuskan nafasnya selagi kedua matanya mengawasi seorang gadis mabuk yang tengah di ganggu oleh dua orang pemuda. Dia tidak ingin peduli –sebenarnya, tapi melihat gadis itu tak berdaya membuatnya merasa marah dan kesal –entahlah semuanya menjadi satu. Nafasnya membara dan juga kedua tangannya mengepal.

Dia berjalan cukup cepat, menerobos orang-orang yang tengah menari di arena dansa tanpa peduli orang-orang tersebut mengomel padanya. Rahangnya mengeras begitu dia sampai ditempat Jihyun yang tengah menghindar dari dua orang pria yang duduk mengapit dirinya. Kesadaran Jihyun sudah tak sepenuhnya ada, membuat Taehyung semakin marah dan bahkan sempat terbesit di otaknya bahwa dia adalah penyebab dari semua ini, dan dia merasa iba pada gadis itu.

“jangan sentuh dia.”

Suara rendah Taehyung menginterupsi kedua pemuda yang kelihatannya lebih muda darinya, yang tengah menggoda Jihyun. Kedua matanya menatap tajam kedua pemuda tersebut bahkan hampir mau copot rasanya.

“kau siapa?”

Salah seorang pemuda berambut hitam legam yang duduk disebelah kanan Jihyun membuka suara seraya memberikan tatapan tajam pada Taehyung.

“aku sudah membayarnya.”

Ujar Taehyung lagi –dengan suara dingin dan penuh penekanan, sembari berjalan mendekati Jihyun yang membuat kedua pemuda itu pergi dengan acuh tak acuh sesudah melontarkan kata-kata kasar padanya.

Taehyung diam. Memperhatikan wajah Jihyun yang sudah memerah dan juga kedua matanya yang sembab. Hatinya bergetar. Sejak pertama kali melihat Jihyun masuk kedalam bar tersebut, dia merasa tidak percaya bahwa itu adalah Jihyun. Di tambah lagi dengan Jihyun yang menangis hingga sejadi-jadinya membuatnya tak tahan dan membuatnya merasa marah.

Sementara itu Jihyun yang terlihat seperti sudah tak berdaya itu hanya menyender pada sandaran sofa dan menggumamkan sesuatu yang tak jelas. Dan Taehyung masih berdiri, menatap wajah Jihyun yang sudah lama tak pernah dia lihat dari jarak sedekat ini.

“aisshh kemana anak ini!”

Nayeon berdecak sebal seraya memandangi layar ponselnya yang masih melakukan panggilan pada Jihyun. Gadis itu berdiri di depan pintu apartemen Jihyun dengan seeokor anak anjing yang berada di dalam kandang yang akan di hadiahkan untuk Jihyun. Sudah dari semalam dia menghubungi gadis itu, tapi nyatanya hingga pagi ini gadis bermarga Song itu sama sekali belum kembali menghubunginya, bahkan membalas pesannya.

Sementara itu di sisi lain, Jihyun masih nyaman berbaring di kasur empuk dan juga selimut tebal yang membalut tubuhnya. Ponselnya sejak tadi berdering berkali-kali dimana nama Nayeon tertera sebagai orang yang kelihatannya sangat khawatir padanya –dilihat dari seberapa banyak gadis itu terus-terusan menelponnya karna semalaman dirinya tak bisa di hubungi.

Kedua mata Jihyun perlahan-lahan terbuka setelah dirinya menggeliat untuk meregangkan otot-otot tubuhnya. Nuansa putih dari langit-langit kamar itu menjadi objek yang pertama kali dilihatnya. Belum pulih semua kesadarannya dan kembali memejamkan kedua matanya, Jihyun memiringkan tubuhnya ke sisi kiri dimana tempat guling kesayangan biasanya berada, namun ketika tangannya tengah meraba-raba sisi kirinya, yang dia sentuh bukanlah guling kesayangannya, melainkan tubuh manusia.

Seperkian detik Jihyun menahan nafasnya. Percaya atau tidak, tubuhnya bahkan mendadak kaku, dan hanya jantungnya yang terasa masih hidup hingga bedetak dua kali lipat dari biasanya.

“AAAAAA!!!”

Entah bagaimana kejadiannya, tapi Jihyun sudah merubah posisi tidurnya mejadi duduk sembari menutup kedua telinganya selagi dia berteriak tak karuan. Sementara itu seorang pria berambut cokelat yang berada disampingnya hanya menatapnya santai sembari menopang kepalanya dengan tangannya –dimana tangannya bertumpu pada sebuah bantal.

“apa –yang….”

Jihyun tak melanjutkan ucapannya dan malah memeriksa seluruh tubuhnya dibalik selimut dengan mata terbelalak.

“aku tidak melakukan apapun.”

Dengan santai, Taehyung –pria itu, mendudukkan dirinya dan menarik selimut yang masih membalut tubuh Jihyun –yang masih lengkap dengan pakaiannya, membuat gadis itu terperanjat dan segera menyilangkan kedua tangannya didepan dada.

“asal kau tau, kau tidak pantas memakai pakaian seperti itu.”

Ujar Taehyung sembari menunjuk Jihyun dan segera memalingkan wajahnya. Sementara itu, Jihyun meneliti pakaiannya. Sebuah gaun berwarna merah yang terbuka di bagian atasnya yang juga hanya sebatas satu jengkal di atas lututnya. Oh sungguh, wanita macam apa dirinya ini.

“a-aku –aku hanya –“

Jihyun tergagap. Niat hati ingin memberikan penjelasan kepada Taehyung tetapi dia malah sibuk menyatukan kalimat yang padahal sudah tersusun rapi di otaknya. Bukankah ini sangat memalukan? Dua tahun tidak bertemu lalu mereka bertemu pada situasi seperti ini. Benar-benar.

“sejak tadi malam Nayeon menelponmu.”

Taehyung mengalihkan pembicaraan, dia mengendikkan dagunya ke arah nakas yang berada di samping Jihyun dan membuat gadis itu menolehkan kepalanya. Laki-laki itu kembali merebahkan tubuhnya –biar bagaimanapun dia tidak bisa menyembunyikan detak jantungnya yang menggila dan situasi ini sungguh membuatnya gugup. Salahnya juga membawa gadis itu ke tempat ini. Tapi setidaknya dia merasa senang karna bisa kembali bertemu dengan Jihyun –gadis yang sampai saat ini masih diam-diam ia simpan dalam hatinya.

Hening.

Jihyun tak tau harus berbuat apa, gadis itu menggaruk tengkuknya dan memainkan ujung bajunya tanpa minat. Bahkan untuk menatap laki-laki itu rasanya sangat berat. Kenapa hal seperti ini bisa terjadi? Sekarang ia benar-benar sangat gugup dan iapun berpikir untuk bersiap-siap lalu kembali ke rumahnya.

“A –“

Namun ia tersentak ketika Taehyung yang masih berbaring di atas kasur menarik lengannya secara tiba-tiba dan membuatnya kini berada dalam pelukan pria itu. Jihyun lagi-lagi menahan nafasnya, sebelum akhirnya menghembuskannya dengan perasaan was-was. Kepalanya bertumpu pada lengan bagian kanan tangan Taehyung dan persis berhadapan dengan dada bidang lelaki itu, sementara tangan kiri lelaki itu melingkar di pinggannya yang membuat bulu kuduknya meremang karna kali pertama ia mendapat perlakuan seperti ini. Sementara itu tangan kanan Jihyun yang mengepal persis berada di depan dada laki-laki itu, sehingga membuatnya dapat merasakan detakan jantung Taehyung yang berdetak sangat cepat, sama seperti miliknya.

Gadis itu tak bisa membuka suara. Lidahnya kelu dan darahnya berdesir hingga membuat perutnya terasa geli. Bahkan hembusan nafas Taehyung sangat terasa di pucuk kepalanya, semakin membuatnya tak karuan. Sungguh, ini adalah scene impiannya. Dan jangan bilang pada siapapun kalau dia sangat menyukainya.

Kedua mata Jihyun semakin lama memanas, namun entah kenapa dia sama sekali tak merasakan kesedihan disana. Yang dia rasakan saat ini adalah perasaan yang sangat nyaman dan bahagia. Dia sangat-sangat bahagia mungkin jika dia adalah Gumiho, maka dia akan menampakkan kesembilan ekornya. Lalu pertanyaannya, bisakah mereka berada pada situasi seperti ini?

“jangan lakukan itu lagi.”

Mencelos, Jihyun menarik sudut bibirnya ketika suara bass yang amat sangat ia rindukan itu bergema di telinganya membuat bulu kuduknya lagi-lagi meremang. Dia bahkan bisa merasakan anak-anak rambutnya berterbangan selagi pria itu mengucapkan kalimat tersebut tepat di pucuk kepalanya. Dan hangat. Hembusan nafas itu terasa hangat sampai membuat hatinya yang mencelos ketika mendengar ucapan pria itu terasa seperti ada yang membakarnya sesaat kemudian menghilang dengan tiba-tiba. Dia baru tahu jika Taehyung bisa membuat seorang wanita menjadi seperti ini. Atau mungkin karna dirinya yang terlalu tergila-gila pada laki-laki itu?

Ya tuhan ini sungguh memalukan.

Jihyun menggigit bibir bawahnya, menimang antara harus menerima perlakukan seperti ini atau tidak. Ah tidak bisa. Dia harus segera pergi dari sini. Bukan ide yang bagus bersama seorang laki-laki di atas ranjang. Benar-benar bukan ide yang bagus. Selanjutnya apa yang akan terjadi? Dia bahkan tidak mau memikirkannya.

“m-maaf –”

Jihyun mendorong pelan tubuh Taehyung, namun pria itu sama sekali tak bergerak sedikitpun dan juga tetap bergeming dan malah kembali bersuara yang membuat jantungnya lagi-lagi dibuat menggila bahkan hanya dengan mendengar suara bassnya yang entah kenapa terdengar sangat lembut di telinga.

“Maafkan aku. Aku tau semua ini adalah salahku. Semua rasa bersalah ini benar-benar tidak bisa hilang. Aku benar-benar minta maaf. Asal kau tau, aku sangat mencintaimu Jihyun-ah. Aku benar-benar mencintaimu.”

Taehyung mengeratkan pelukannya, membuat Jihyun dapat mencium aroma Taehyung lebih dalam lagi dan membuatnya memejamkan kedua matanya. Haruskah dia malu di saat seperti ini? Taehyung barusaja mengatakan apa yang ingin ia dengar selama ini, yaitu sesuatu yang membuatnya bingung dengan perasaannya karna pria itu menghilang setelah menyatakan cinta padanya, dan kali ini dia mendengar Taehyung mengatakan hal tersebut.

Persetan dengan rasa malu atau apapun itu, biarkan dia menangis untuk saat ini saja. Ini adalah airmata bahagia. Jihyun tak pernah membayangkan hal ini akan terjadi. Selama bersahabat, tak pernah sekalipun Jihyun berada dalam pelukan laki-laki itu. Tak pernah sekalipun Jihyun mendengar dan merasakan dengan jelas detakan jantung dari laki-laki itu. Dan tak pernah pula dia mendengar Taehyung bicara padanya dengan intens seperti saat ini. Ini sungguh hal yang luar biasa indah baginya. Haruskah dia menghilangkan perasaan ini? Atau bagaimana? Dia benar-benar sudah gila karna lelaki ini. Dan sekarang ia sangat takut kalau laki-laki itu akan kembali meninggalkannya.

“untuk yang terakhir kalinya aku berjanji, aku tak akan pernah meninggalkanmu lagi –mulai detik ini.”

Hati Jihyun kembali mencelos. Airmatanya turun dengan deras, ia bahkan terisak yang membuat Taehyung kembali mengeratkan pelukannya. Dan berkali-kali pula Jihyun memukul Taehyung –karna merasa malu sudah menangis, yang mungkin saja membuat Taehyung berpikir bahwa dirinya sekarang jauh lebih feminim. Mau ditaruh dimana wajahnya ini.

“bagaimana aku harus percaya padamu? Apa kau tau aku bahkan mempertaruhkan harga diriku untuk berada disini. Sekarang kau tau kalau aku sangat mengharapkanmu, ini tidak adil. Setelah ini apa kau akan pergi lagi? Meninggalkanku? Jangan pergi lagi. Apa kau dengar? Aku tidak ingin kau pergi. Dasar menyebalkan.”

Jihyun berucap sembari memukuli dada bidang Taehyung yang membuat laki-laki itu tertohok dengan perkataan gadis itu dan dia mengeratkan lagi pelukannya. Mungkin beribu alasan dan ucapan maaf saja tidak mampu menebus segala kesalahannya. Dia bahkan tidak pernah tau jika gadis di hadapannya ini sangat menderita karna dirinya. Sekarang, lagi-lagi ia dibuat sangat menyesal. Ternyata setega inikah dia terhadap Jihyun?

“selamat ulang tahun Song Jihyun.”

“jangan tanya bagaimana bisa aku ada disini. Junki oppa memberitahuku.”

Sinis, Shinji menatap Taehyung dengan wajah memerah menahan airmata. Gadis yang saat ini tengah mejabat sebagai kekasih Taehyung itu sudah berdiri di depan pintu ketika Taehyung berniat mengantarkan Jihyun pulang kerumahnya. Gadis itu terperangah ketika mendapati Taehyung terlihat acak-acakan. Kancing kemeja putih yang dikenakan pria itu sudah terlepas di bagian atasnya sementara itu jas hitam milik Taehyung berada di tubuh Jihyun yang dari atas sampai bawah kakinya terlihat sangat menjijikan bagi Shinji. Shinji marah. Dia sangat kecewa dengan Taehyung.

“apa yang sudah kau lakukan!? Kenapa kau lakukan ini padaku!!”

Pekik gadis itu sembari memukul Taehyung dengan berurai airmata. Sementara Taehyung hanya diam, bahkan tak menatap gadis itu sama sekali.

“kami tidak melakukan apa-apa.”

Jihyun menengahi. Gadis itu segera mengklarifikasi sebab Taehyung hanya diam, bahkan seperti tak terkejut sama sekali dengan kehadiran Shinji disana.

Kali ini tatapan Shinji beralih pada Jihyun.

“berapa banyak dia membayarmu!?”

Jihyun mengatupkan bibirnya rapat-rapat sambil terus beradu pandang dengan Shinji. Gadis itu mengerti bagaimana perasaan Shinji, jika dia berada di posisi gadis itu diapun akan melakukan hal yang sama, dan percuma jika dia kembali bicara, karna gadis itu tak akan pernah percaya.

“cukup!”

Suara Taehyung menginterupsi. Laki-laki itu menatap Shinji dengan tatapan tajamnya. Sementara itu Shinji balas menatap Taehyung, membuat suasananya kian memanas.

“akan aku laporkan pada ayahmu.”

Gadis itu menghilang. Berlari dengan cepat sembari mengusap pipinya dengan kasar.

“apa?! jadi –jadi kemarin seharian kau pergi dengan Jimin?”

Jihyun berkacak pinggang sembari melotot pada Nayeon yang tengah duduk di sofa dan memangku anjing kecil yang di hadiahkan untuk Jihyun. Sementara Jihyun yang berdiri dihadapan Nayeon itu berkali-kali membenarkan lilitan handuk di kepala yang terus saja melorot.

“dan katamu, anjing itu –pemberian darinya?”

Nayeon mengangguk-anggukkan kepalanya selagi Jihyun –yang entah kenapa hari ini tiba-tiba menjadi sangat berbeda dari hari-hari biasanya- itu terus memberikan tatapan tidak percaya padanya.

“astaga. Aku benar-benar tidak mengerti –“

“aku malah tidak mengerti kenapa Taehyung bisa bersamamu.”

Nayeon menaikkan sebelah alisnya dan memberikan tatapan penuh tanya pada Jihyun.

“kau melihatnya?”

“dengan kedua mataku ini.”

Ujar Nayeon cepat sembari menunjuk kedua mata bulatnya itu.

“bagaimana –“

“tadi pagi aku sudah datang kesini dan karna kau tidak pulang juga makanya aku memutuskan untuk pergi. Tapi aku malah melihatmu keluar dari mobil bersama Taehyung. Mengaku padaku, kemana kau semalaman? Dengan Taehyung?”

Jihyun mendesah mendengarkan ocehan Nayeon lalu berjalan mendekati Nayeon dan mendudukkan dirinya disamping gadis itu.

“aku sangat malu kalau menceritakannya padamu.”

Nayeon menendang-nendang udara kosong dengan kakinya yang menggantung dan mencebikkan bibirnya mengetahui Jihyun tidak mau menceritakan apapun padanya.

“kau sangat tidak adil. Aku sudah menunggumu sangat lama dari pagi hingga siang dan aku juga sudah bercerita padamu, cepatlah kau juga harus cerita padaku.”

Benar sekali, Nayeon sudah berada disana dari pagi hari hingga siang hari untuk menunggu Jihyun. Bahkan dia sudah bolak-balik ke cafe yang letaknya tak jauh dari apartemen Jihyun untuk menghilangkan rasa bosannya.

“apa kau tega membiarkanku menunggu lama? Ayolah~ ceritakan apa yang terjadi.”

TOK! TOK!

Keduanya menoleh bersamaan ke arah pintu, sampai akhirnya Jihyun beranjak dari hadapan Nayeon.

“kau kurang beruntung~”

Ujar Jihyun meledek dan segera berlari menuju pintu utama setelah mendapatkan pukulan keras dari bantal yang di lempar Nayeon. Namun belum lama dia dibuat senang karna berhasil mengerjai Nayeon, dia harus dibuat terkejut dengan sosok yang berdiri dihadapannya saat ini. Bahkan lebih terkejut lagi ketika sosok itu dengan santainya mendorong bahunya dan segera masuk kedalam tanpa mendapatkan ijin terlebih dulu darinya.

“Kim Taehyung!”

Dari dalam Nayeon nampak terkejut dengan kehadiran Taehyung yang tiba-tiba. Gadis itu bahkan sampai berdiri dari duduknya membuat anjing yang sejak tadi berada di pangkuannya itu berlarian di dalam apartemen yang tak besar itu.

“apa kabar Nayeon-ah?”

Taehyung memeluk Nayeon sekilas sembari mengacak rambut gadis itu, kemudian menghempaskan tubuhnya di sofa besar yang letaknya cukup strategis di ruangan itu persis di sebelah Nayeon.

“i-ini –kenapa kau bisa kesini?”

Jihyun tergagap sambil menunjuk Taehyung dan beradu pandang dengan Nayeon yang masih berdiri tanpa berkutik sedikitpun. Nayeon sendiri sangat bingung, apa masih belum puas Taehyung bertemu dengan Jihyun? Bahkan baru tadi pagi Taehyung berpisah dengan gadis itu. Hal ini benar-benar perlu di waspadai.

“menurutmu untuk apa aku kesini?”

Taehyung balik bertanya dengan ekspresi wajahnya yang terlihat berseri-seri namun juga membingungkan.

“kau berkelahi? Ada apa dengan wajahmu?”

Jihyun tak mengindahkan pertanyaan Taehyung barusan karna tatapannya terfokus pada pipi Taehyung yang memerah dan juga sudut bibirnya yang membiru. Nayeon mengikuti arah pandang Jihyun, sembari mendudukan dirinya di samping Taehyung masih dengan pertanyaan yang berputar-putar di otaknya karna tak mengerti ada apa sebenarnya.

Sementara itu Taehyung terdiam sejenak sembari meraba pipinya, kemudian tersenyum.

“cepatlah bersiap, hari ini kita kencan.”

TBC

Advertisements

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s