[Chapter 5] The Silver Age of Virgo: After Effect

virgo-series2

the Silver Age of Virgo

written by tsukiyamarisa

.

BTS’ Jin as Killian, Jimin as Alven, Suga as Fyre, iKON’s Jinhwan as Axel

and

OC’s Aleta, Rhea, Icy

Chaptered | Fantasy, Wizard!AU, Life, Friendship, Family, slight!Fluff | 15

.

previousIntro | #1: Obscured | #2: Presence | #3: Unidentified | #4: Face to Face

.

.

.

#5: AFTER EFFECT

.

Satu desah lega; satu senyum yang terkembang.

Aleta baru saja terbangun pagi itu, tanpa banyak kata lekas mengeluarkan lingkaran sihirnya. Napas sempat tertahan selama beberapa sekon, sebelum akhirnya rasa senang membanjir masuk. Simbol Auva yang terpampang di sana kini sudah kembali bersinar, kendati masih sedikit redup dan belum seterang dulu. Namun, itu bukan masalah. Setidaknya simbol itu tak lagi berupa garis-garis kehitaman dan—

“Hei.”

Hm?”

“Sedang apa?”

Yang ditanya hanya mengulum senyum, membiarkan lingkaran sihirnya lenyap dalam sekejap mata. Lamat-lamat menghampiri kasur tempat Fyre masih terbaring, lantas mendudukkan diri tepat di sampingnya. Tangan hendak terulur untuk menggapai jemari sang lelaki, namun niatnya gagal lantaran Fyre sudah lebih dulu menarik lengannya.

“Kemarilah, Al.”

Membiarkan dirinya ditarik, Aleta pun akhirnya berbaring bersisian dengan Fyre. Secara otomatis bergelung di sana, kepala disandarkan pada bahu Fyre. Sejak dulu, Aleta memang senang melakukan ini. Kehadiran Fyre senantiasa bisa membuatnya merasa nyaman, melupakan segala kegelisahan dan masalah yang melanda. Tak hanya itu, Fyre pun hanya menunjukkan sisi dirinya yang seperti ini di hadapan Aleta. Saat ketika ia tak berucap seenaknya, atau malah memamerkan kekuatannya yang meledak-ledak itu. Fyre yang seperti ini mengingatkan Aleta akan banyak hal, akan fakta bahwa lelaki itu….

“Maaf.”

“Untuk?”

Yang ditanya tak menjawab, serta-merta menarik dirinya menjauh. Praktis timbulkan kerutan di kening sang gadis, terlebih tatkala dirinya mulai memasang wajah muram. Tambahkan ujung jemarinya yang bergerak menyusuri bahu serta leher Aleta, mengingatkan gadis itu akan memar yang terpampang jelas di sana.

“Alven akan membunuhku.”

“Kak Alven tidak akan melakukan itu.”

“Aku nyaris membunuhnya juga, Aleta.”

“Itu bukan dirimu,” bantah Aleta, memasang ekspresi cemberut yang ia tahu tak akan bisa ditolak Fyre. “Hei, yang kemarin itu adalah kesalahan mereka. Kamu sama sekali tak bermaksud untuk mencelakakan kami—“ Aleta menarik napas dalam, mengulurkan kedua telapak tangan untuk menangkup wajah Fyre seraya melanjutkan,”—dan tolong, berhentilah berpikir yang tidak-tidak, oke?”

“Aku—“

“Beban pikiran tak akan membuatmu cepat pulih, Fyre.” Aleta mengingatkan, menepuk-nepuk ruang kosong di sampingnya agar Fyre kembali berbaring. “Semua kejadian ini telah menguras energi kita—“

“Dan aku tidak akan membunuhmu untuk itu.” Sebuah suara memotong, membuat keduanya serentak menolehkan kepala. Memandang Alven yang berdiri di ambang pintu kamar, tampak sama lelahnya dengan mereka. “Aku lega kau sudah kembali, Fyre.”

“Hai juga, Alven.” Fyre balas menyapa, tetapi maniknya langsung tertuju pada lengan kanan saudara kembar Aleta itu. Menatap garis kemerahan yang ada di sana, bekas dari perkelahian mereka tempo hari. Killian pasti sudah menggunakan kekuatannya untuk membantu menyembuhkan luka itu—kendati tentu saja, tak ada kekuatan sihir yang bisa seratus persen menyembuhkan sebuah luka. Yang ada hanyalah percepatan pada masa pemulihan, dan itu berarti—menilik dari ekspresi Alven yang sedikit mengernyit kala ia menyilangkan lengan—rasa sakit itu pasti masih tersisa.

“Tak perlu minta maaf.” Alven langsung membuka mulut, sukses membaca isi pikiran kawannya. “Seperti kata Aleta, ini bukan salahmu. Musuh sialan itulah yang telah mengendalikan pikiranmu. Dan lagi, aku tahu bahwa Fyre yang kukenal tidak akan pernah melukai teman sendiri.”

“Fyre yang kaukenal juga tak seharusnya berbuat ceroboh sampai bisa tertangkap,” gumam Fyre, lantas melempar pandang kosong ke arah langit-langit. “Aku idiot, tahu? Membiarkan lawan menangkap dan mempergunakan diriku sampai seperti itu….”

“Hentikan.”

“Tapi…”

“Kami tidak menyalahkanmu.” Aleta melanjutkan, ikut mendudukkan diri lantaran Fyre menolak untuk kembali berbaring. “Kami hanya menginginkanmu kembali, dan sekarang kamu sudah kembali. Alih-alih muram, kami seharusnya merasa senang, bukan?”

“Aku setuju.” Alven mengangguk, memasang mimik wajah yang menolak perdebatan lebih lanjut. “Menurutku, kita sudah mendapat sedikit kemajuan dalam mengatasi segala kekacauan ini. Jadi, bagaimana kalau kau menggunakan waktumu untuk beristirahat lagi? Killian memang punya sejuta pertanyaan, tapi ia pasti bisa menunggu.”

Mendengar semua itu, hanya bungkam yang bisa Fyre lakukan. Tahu bahwa membantah tak ada gunanya, pun karena saran Alven untuk kembali beristirahat terdengar menggoda. Jujur saja, kepalanya masih lumayan pening. Kembali merebahkan diri di atas tumpukan bantal agaknya adalah pilihan terbaik, terlebih karena Aleta sudah kembali beringsut ke sisinya dan memeluk lengannya erat-erat.

“Terima kasih.”

“Jangan membuat kami ketakutan lagi, hm?” Aleta berkemam, membiarkan jemari Fyre mengusap puncak kepalanya. “Kamu berjanji, kan?”

Pandang Fyre berkelebat ke arah Alven, yang memberikan anggukan singkat sebelum beranjak pergi, lantas kembali kepada Aleta yang masih setia di sampingnya. Gadis yang selalu ia anggap sebagai adik dan keluarga, yang rela terluka hanya karena ia tak mau balas menyerang. Mereka memang belum tahu pasti apa penyebab patahnya sihir sang lawan terhadap Fyre; namun kalau boleh, Fyre ingin menganggap bahwa ketulusan hati para Spica-lah yang telah menyelamatkannya.

“Fyre?”

Satu tepukan menenangkan kembali ia berikan pada Aleta, seraya dirinya mendekap gadis itu erat-erat dan balas berbisik:

“Tentu saja, Al. Aku berjanji.”

.

-o-

.

“Jadi….”

“Aku belum tentu bisa menjawab semua pertanyaanmu, Killian.”

“Aku tahu,” balas Killian tanpa jeda, menyandarkan tubuh pada birai pintu. Dalam diam menatap Fyre yang masih menempati kasur miliknya, kendati tentu saja bukan hal macam itu yang membebani dirinya. Daripada harus terpisah lagi, Killian memilih agar mereka semua menginap di apartemennya saja. Berada dalam jarak dekat adalah suatu keputusan yang ia rasa tepat, paling tidak sampai mereka benar-benar tahu bagaimana cara mengatasi si lawan.

“Adakah sesuatu yang kauingat, yang paling tidak bisa membantu?” Killian akhirnya bertanya, menelengkan kepalanya sedikit. “Apa pun itu. Baik tentang musuh kita, cara mereka mencuri kekuatanmu, atau—“

“Tidak.” Fyre menggeleng, terlihat sama kecewanya dengan Killian. “Aku pun ingin membantu, Killian. Tapi, satu-satunya hal yang ada dalam ingatanku hanyalah….” Sang lelaki menggigit bibir, lantas mengalihkan pandangnya ke arah kanan. Menatap Aleta yang masih berpegangan pada lengannya, kendati saat ini gadis itu sedang lelap. Sebuah pertanda bahwa ia benar-benar takut mengalami kehilangan lagi, sesuatu yang amat Fyre pahami sepenuhnya.

“Maaf kalau aku menganggu, tapi—“

Sebuah gelengan lain diberikan Fyre. “Killian, kita semua ingin agar masalah ini cepat berakhir. Namun, jujur saja, aku memang benar-benar tidak ingat. Memori terakhirku mengenai si penyerang sialan itu adalah saat ia menangkapku, kemudian semuanya kosong.”

“Kosong?”

Yeah.” Fyre membenarkan, mengerutkan kening sejenak. “Kosong seperti… seperti kau tengah berdiri di tengah kegelapan. Seperti waktu, arah, dan tempatmu berpijak tak lagi ada artinya. Kau tak bisa melihat, mendengar, atau merasakan apa-apa. Menakutkan memang, tapi anehnya, kau sama sekali tak merasa takut ketika semua itu terjadi.”

“Karena semuanya kosong.” Killian mengulang, mengusap dagunya sepintas sembari berpikir. “Lalu, kau sadar ketika—“

“—ketika aku mendengar suara Aleta, juga teriakan panik Alven walau samar.” Fyre kini melanjutkan dengan seulas senyum, refleks menggerakkan telapaknya untuk mengelus puncak kepala sang gadis. “Seperti ada cahaya, namun bukan cahaya yang terlihat oleh mata. Hal berikutnya yang kutahu adalah kegelapan itu pudar, dan aku mendapatkan kontrol atas pikiranku kembali.”

Respons Killian adalah diam, selagi otaknya sibuk mencerna semua informasi tadi. Menilik dari kata-kata Fyre, sesungguhnya ia memiliki sedikit dugaan mengenai bagaimana cara sang lawan mengambil alih kendali atas para Virgo. Namun, kendati begitu, ia sama sekali belum berniat untuk mengucapkannya keras-keras. Tidak karena masih ada ketidakpastian yang membayang, juga—

.

.

BRAAAKK!!

.

.

Tersentak, Killian langsung menolehkan kepalanya ke arah ruang tengah. Kelopak dikerjapkan beberapa kali, diikuti dengan perintah agar Fyre tetap menunggu di kamar selagi ia pergi mengecek keadaan. Setelah semua kejadian yang ada, wajar saja jika Killian bersikap serba waspada seperti ini. Ia hanya tidak mau kawan-kawannya terluka lagi.

“Rhea?”

Maka, memanggil nama gadis itu adalah hal yang langsung Killian lakukan. Seingat sang lelaki, si bintang Vindemiatrix sempat berkata bahwa ia akan tidur di sofa ruang tengah. Menolak untuk ikut bersama Alven yang sedang keluar mencari makan malam, pun untuk ikut mendengarkan penjelasan dari Fyre barusan. Dan Killian hanya bisa mengangkat bahu mendengarnya, paham jika sifat keras kepala Rhea pasti sedang muncul ke permukaan.

Tapi, sekarang, ia tak bisa menemukan presensi Rhea.

Ruang tengah itu kosong. Begitu pula halnya dengan sneaker milik sang gadis, yang tak lagi mengisi salah satu tempat di rak sepatu. Rhea telah menghilang, tanpa berpamitan dan tanpa meninggalkan jejak apa pun. Meninggalkan Killian yang hanya bisa terpaku, lantas bergegas mengeluarkan lingkaran sihirnya untuk memastikan bahwa simbol Vindemiatrix masih….

“Sial!” desis Killian sambil mengepalkan tangan, dengan sigap berlari ke arah pintu depan dan membukanya. Pandang diarahkan ke sepanjang koridor, hanya untuk mendapati sesuatu yang nihil. Bahkan jejak-jejak sihir pun tak ada—padahal Killian baru saja memastikan bahwa lambang milik Rhea masih menyala terang. Gadis bersurai panjang itu agaknya memang sengaja tidak menggunakan kekuatannya, semata-mata karena ia ingin pergi tanpa diikuti.

Dan untuk itu, satu-satunya penjelasan yang bisa Killian pikirkan adalah….

.

Apa kamu baru saja mencuri dengar obrolan kami dan memutuskan untuk pergi mencari Axel?”

.

tbc.

.

.

The Auva
Fyre

fyre

Auva yang istimewa; begitulah cara Killian menyebut si pemilik simbol di awal perkenalan mereka. Delta Virginis memang bukan sebuah bintang yang terang, terlebih jika dibandingkan dengan Spica, Porrima, atau Vindemiatrix. Kendati demikian, kemampuannya berbanding terbalik dengan fakta tersebut. Auva adalah si penyerang, pelindung konstelasi Virgo yang nyaris tak pernah kalah.

Sang lelaki, Fyre, adalah pemilik berbagai macam bakat. Ia lihai baik dalam pedang maupun panah, dua keahlian utama yang juga dimiliki oleh Alven dan Aleta. Tak hanya itu, kekuatan yang tersimpan dalam energi sihirnya pun tidak main-main. Tembakan bola sihir serta si serigala petir adalah senjatanya yang lain, sesuatu yang bisa menghadirkan kerusakan dalam waktu sekejap. Sifatnya pun cenderung agresif: melawan sebelum kawan-kawannya sempat terluka.

Kendati demikian, Fyre bukanlah sosok yang senantiasa menggunakan emosinya setiap waktu. Ia lebih memilih diam, berada di latar belakang saat tidak diperlukan. Berada di sisi para Spica adalah favoritnya, tempat di mana ia bisa membuka diri dan menunjukkan kelemahannya. Ketiganya memang telah saling mengenal semenjak kecil, meskipun cerita di balik kedekatan mereka serta segala alasan yang ada belumlah diketahui anggota yang lain hingga kini.

.

.

.

AKHIRNYA VIRGO LANJUT JUGAAA!!

Hi, there! Dua hari menjelang KKN selesai, dan akhirnya bisa nulis ini. Semoga setelah ini Virgo nggak banyak ditunda-tunda lagi, meskipun sebenernya saya udah mulai kuliah juga besok Selasa *deep sigh*

Anyway, it’s nice to come back with this story. See ya!

Advertisements

9 thoughts on “[Chapter 5] The Silver Age of Virgo: After Effect

  1. Whooaa halohaa aku readers baru loh~
    aku telat banget baru nemu fanfic sekeren ini>< jadi ceritanya ini direkomendasiin temen dan baru baca tadi siang!! sebelum lanjut chapter berikutnya aku sempetin komentar dulu hehe *takut dibilang dark readers._. wkwk*

    Like

  2. Pingback: [Chapter 9] The Silver Age of Virgo: Prophecy – BTS Fanfiction Indonesia

  3. Pingback: [Chapter 8] The Silver Age of Virgo: Spica and Auva – BTS Fanfiction Indonesia

  4. Pingback: [Chapter 7] The Silver Age Of Virgo: Unspoken – BTS Fanfiction Indonesia

  5. Pingback: [Chapter 6] The Silver Age of Virgo: Impulsive – BTS Fanfiction Indonesia

  6. Yey akhirnya lanjut lagi!! ^-^
    Duheh kak… Itu aleta sma fyre bisa ga dipisahin aja? /ditendang/ Mereka sweet bgt masak ㅠ.ㅠ Ku iri ku baper /ga
    Masih kepo nih sma yg lain..(yg lagi diculik ㅋㅋㅋ) Axela, icy pakabar? Semoga mereka ga napa2 ya.. Kasian tuh kapelnya si axel kelimpungan 😂😂😂
    And si musuh ini siapa cobak? Kenapa feeling mengatakan dia salah satu member bts?? /mulai buat plot sendiri/
    Ah lanjut terus ya kak amer…. Agak panjangin jg, soalnya yg chp ini agak pendek/? Tambah geregetan jadinya wkwk.. 😂😂😂😂 /dilempar pulang gegara bikin rusuh/
    Fighting juga kuliahnya! ^^)/ (ga ush buru2 kak, selalu ditunggu kok :)))

    Like

  7. Fadhilah Septi

    Akhiirrrnyyyyaaa ya Alllaaahhhh *tangis haru*

    Ini lmaaaa bgt d tnggu2.in…. kakak~~~

    Akhirnya lnjut lg… hmmm

    Iri bgt sumpah ma Aleta~~~ bsa bobok ma Abang Fyre #d lirik smua org

    N sumpah,pas d akhir narasi.na killian aq cma bsa Diem. Omagad Rhea… Ndak kn??? OMG!!!!! bsa gila.. ini Kren.
    Srius bkin kepo.
    D tunggu sgera yaw lnjut.an nya kak… asli. Ini. Perlu. Dilanjutin. Segera.

    Huhuhuhuhuhuhu thanks

    Like

  8. AKHIRNYA VIRGO LANJUT JUGAAA(999+)

    Well kak amer aku sangat excited sekali setelah messed up sudah mncapai epilogue dan virgo mencapai babak baru lagi. Dan aku boleh jujur? Ohhhhh aku ngeship fyre sama aleta pake banget!!!! Mereka sweet banget masa duh aku gemes XD
    Killian juga aduuuh kak aku gak kuat kalau disuguhin Killian bhaq T-T
    Rhea juga tipikal cewe yang tidak sabaran ya sepertinya, setelah cepat emosi, sekarang rhea mau apaa coba nanti kamu kenapa-kenapa mbak icy aja lom ketemu duh kezel sama mbak rhea 😦

    Intinya part 5 ini masih penuh misteri kak amer XD yang semangat kak kuliah dan ngelanjutin virgonya ‘-‘)9 aju naiseu~ XD

    Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s