[BTS FF FREELANCE] 95’lines Diary 2 – The Power Of Women (Part 3)

kangharastory

Title : 95’lines Diary 2

Subtitle : 03. The Power Of Women

By : Kangharastory

Genre : Romance, Friendship

Rating : PG – 17

Lenght : Series

Cast : Kim Taehyung (BTS), Park Jimin (BTS), Song Jihyun (OC), Kim Nayeon (OC)

Note : Author tidak bisa move on dari cerita ini T_T

03. The Power Of Women

Kisah cinta ini berawal dari sebuah persahabatan yang berlabel pada sebuah saksi bisu yang sudah usang di makan waktu dan tidak pernah di anggap lagi keberadaannya. 

Jihyun menggigit bibir bawahnya, kedua tangannya berkacak pinggang dan juga kedua kakinya terus berjalan mondar-mandir persis didepan sebuah coffee shop yang barusaja ia sambangi beberapa saat lalu. Sementara itu, seorang pria yang tengah menyenderkan punggungnya pada dinding coffee shop, dengan kedua tangannya yang memegang dua gelas americano yang barusaja dibelinya itu, terus mengamati Jihyun yang terlihat sangat frustasi, akibat pernyataannya yang mengatakan bahwa dia ingin mengajaknya pergi menemui ayahnya –jangan salah, ini adalah bagian dari strategi, sebelum Shinji berkata yang tidak-tidak nantinya –katanya.

Taehyung menyeruput americano miliknya yang berada di tangan kiri selagi kedua matanya bergerak ke kanan dan ke kiri mengikuti pergerakan ‘gadisnya’ itu sambil sesekali mengulum senyum. Mungkin bukan ‘gadisnya’ tetapi calon gadisnya. Rasanya dia sudah tidak sabar untuk menyematkan gelar ‘gadisnya’ itu pada Jihyun. Maklumi saja, dia ini sedang di mabuk cinta –dengan sahabatnya sendiri, astaga!

“aku tidak bisa. Kita bahkan baru bertemu, kau ingat?”

Kali ini kedua mata Taehyung terarah pada bibir mungil berwarna merah muda yang barusaja melontarkan pernyataan padanya –errr gemas melihatnya. Gadis itu terlihat mendesah panjang sebelum akhirnya berjalan mendekatinya dan merebut satu gelas americano yang berada di tangan kanan Taehyung –miliknya.

“kita sudah saling mengenal sejak lama, yang aku ingat. Lagipula, ayah juga pasti sangat merindukanmu.”

Taehyung berkata jail, membuat Jihyun memutar bola matanya dan berjalan meninggalkan laki-laki itu, membuat Taehyung mau tak mau mengikuti langkah gadis itu di belakang sembari memasukkan satu tangannya ke dalam saku celananya.

“Aku tidak mengenalmu sebelumnya. Aku anggap ini adalah awal dimana kita barusaja bertemu, karna ketidaksengajaan.”

Cibi Jihyun sembari menggigiti sedotan di gelasnya. Dia tak habis pikir. Bagaimana bisa Taehyung membawanya ke hadapan ayahnya? Oh tunggu dulu. Apa dia akan mendapat masalah? Tiba-tiba saja Taehyung berkata akan membawa dirinya menemui ayah laki-laki itu setelah kejadian memalukan tadi malam dan yang dia ingat saat itu –bagaimana dia harus menyebutnya? Kekasih Taehyung? Ah benar saat itu ada kekasih Taehyung yang datang dengan muka memerah dan dia berkata akan melaporkan hal tersebut pada ayah Taehyung. Ah benarkah dia akan dapat masalah? Ayolah, kedua orangtuanya sedang berada di luar negeri dan tidak ada siapapun yang bisa menggantikan walinya saat ini.

Jihyun menghentikan langkahnya secara tiba-tiba dan membalikkan tubuhnya menghadap Taehyung yang juga segera menghentikan langkahnya tepat di hadapan gadis itu.

“apa ayahmu yang menamparmu? Dia pasti sangat marah kan? Kalau sudah begini aku harus bagaimana? Harusnya kau meyakinkan ayahmu bahwa kita tidak melakukan apa-apa. Arggh, kenapa jadi serumit ini. Apa ayahmu tidak percaya? Kenapa aku terus-terusan mendapat masalah?”

Jihyun menghentakkan kakinya saking frustasinya dia. Sementara itu Taehyung terkekeh geli melihat kelakuan Jihyun. Setelah di tinggal dua tahun ternyata dia baru tau bahwa gadis itu  bertambah cerewet. Ya tuhan Taehyung bisa gila kalau di suguhkan pemandangan ini setiap hari.

“aku harus jawab pertanyaan yang mana? Aku rasa ayahku memang tidak percaya dengan semua yang aku katakan nanti. Dan ini bukan karna ayah, tapi karna Junki.”

Jawab Taehyung sembari mensejajarkan langkahnya dengan Jihyun dan menunjuk pipinya yang lebam itu.

“nanti? Jadi kau belum bertemu dengan ayahmu? Siapa lagi Junki? Tunggu dulu, tapi memang benar kau tidak melakukan apa-apa kan –tadi malam? Melihat ekspresimu yang seperti ini membuatku berpikiran yang tidak-tidak.”

“kenapa? Kau tau, lelaki mana yang tahan dengan –itu –sexy…”

Taehyung menaikturunkan telunjuknya dari ujung kepala sampai ujung kaki Jihyun, membuat Jihyun bergidik dan kesal di buatnya.

“ya! Jadi kau melakukan apa?!”

Pekik Jihyun tak terima sembari melayangkan tinjunya ke perut Taehyung hingga lelaki itu mengaduh kesakitan.

“isshh, menyebalkan.”

Jihyun menghentakkan kakinya, melangkah dengan lebar, meninggalkan Taehyung di belakang yang terkikik geli sembari mengacak rambutnya.

“aku memang tidak melakukan apa-apa.”

Gumamnya sembari mengejar langkah Jihyun.

“kenapa aku ada disini?”

Nayeon bergumam, kemudian berdiri dari duduknya, namun tak berapa lama dia kembali mendudukkan dirinya disana, di sebuah cafe yang terletak tak jauh dari apartemen Jihyun. Sebelumnya, dia memang berada di apartemen Jihyun. Tetapi karna Taehyung membawa Jihyun pergi, akhirnya dia berada di tempat itu yang sialnya tempat dimana Jimin mengajaknya bertemu.

Gadis itu merapikan rambut panjangnya dengan jari, lalu mengamati pakaian casual yang di kenakannya –kaus biru tua berlengan panjang dan juga celana hotpants berwarna hitam di tambah lagi dengan sepatu converse berwarna senada. Sesekali dia memunguti sisa-sisa bulu anjing milik Jihyun yang menempel di bajunya –keterlaluan. Pandangannya kemudian beralih pada tas lengan berwarna peach yang terletak di kursi sebelahnya.

“ahh aku memang tidak pandai menyesuaikan warna. Harusnya aku tidak ambil warna yang ini.”

Dia meletakkan kembali tas lengannya dengan kasar kemudian mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja.

“haruskah aku disini?”

Nayeon benar-benar gusar hari ini. Demi Park Jimin dia sekarang berada disini. Setelah bertemu dengan laki-laki itu kemarin, hari ini Jimin mengirim pesan dan memintanya bertemu di cafe tersebut. Nayeon sebenarnya sudah memikirkannya berkali-kali apakah dia akan datang atau tidak, dan pada akhirnya dia datang walaupun dengan perasaan menyesal. Lagipula yang di tunggupun belum juga menunjukkan batang hidungnya hingga saat ini.

“aku tidak bisa berpikir bahwa ini adalah ajakan kencan. Tapi kenapa aku semangat sekali datang kesini meskipun aku juga merasa tidak mau datang.”

Dia bergumam lagi, sampai pandangannya terarah pada pintu masuk dan mendapati seorang pria berpakaian casual dengan kaus berwarna merah yang dibalut dengan jaket kulit berwarna hitam yang barusaja masuk.

Mendadak Nayeon menjadi tak tenang. Sebelum pria itu melihatnya, sebenarnya masih ada peluang untuknya melarikan diri dari sana. Tapi sayang sekali Jimin lebih cepat menemukan keberadaannya dan melambai padanya.

“kau benar-benar datang? Aku pikir tidak.”

Ujar laki-laki itu seraya mendudukkan dirinya di hadapan Nayeon.

“sebenarnya aku juga tidak mau datang, tapi aku merasa tidak enak padamu.”

Nayeon berkata jujur. Dia memang tidak enak jika dia tidak menerima ajakan Jimin, bagaimana nanti kalau Jimin salah faham dan mengira dia masih menghindari laki-laki itu.

“itu berarti kau terpaksa datang kesini. Seharusnya kau memang datang.”

Jimin terkekeh lalu melipat kedua tangannya di atas meja.

“memangnya ada perlu apa kita datang kesini?”

Tanya Nayeon cepat, dia tidak ingin berlama-lama dan membuang-buang waktu, karna hal itu sangat menyebalkan. Bahkan bisa-bisa kejadian yang lalu terulang lagi –dimana Jimin hanya meneguk air putih berkali-kali sampai perutnya kembung dan dia hanya menguliti fried chicken tanpa minat sama sekali, mungkin kalau hal itu terulang lagi, kali ini dia yang berada di posisi Jimin.

“tentu saja untuk membicarakan tentang kita.”

Nayeon hampir tersedak. Tatapannya terarah pada pria di hadapannya yang tengah tersenyum penuh arti. Tunggu, gadis itu tidak boleh memperlihatkan ekspresi berlebihan, anggap saja dia baru pertama kali bertemu dengan laki-laki itu. Lagipula, Nayeon tidak pernah yakin bahwa Jimin benar-benar menyukainya.

“setelah lama pergi dan sekarang kau baru ingat tentang kita?”

Jimin tertawa pelan mendengar pertanyaan Nayeon. Gadis ini makan apa? Kenapa bisa jadi sekuat ini –bahkan tak pernah sekalipun Jimin melihatnya berkata dengan tagas seperti sedang menuntut padanya seperti saat ini.

“eyy, kau marah? Selama aku pergi apa yang kau lakukan? Kenapa kau jadi galak seperti ini.”

Gadis itu memutar bola matanya, kedua tangannya saling menggenggam di atas meja dan tak lama setelahnya dia berdiri, membuat Jimin menatapnya bingung.

“dari awal aku tau, kau hanya mempermainkanku. Keterlaluan.”

Nayeon melenggang pergi, tanpa memperdulikan Jimin yang diam sembari menggigir bibirnya, kemudian tak lama dia tersenyum sekilas sambil memandang kepergian Nayeon. Sejujurnya, Jimin sangat terkejut karna Nayeon menganggap dirinya hanya mempermainkan gadis itu.

Apa dia mengejarku? Bagaimana kalau tidak? Ahh, aku terlalu berlebihan.

Nayeon merutuki dirinya sendiri selagi berjalan menyusuri trotoar di kawasan Insadong yang cukup ramai itu. Dia memperlambat langkahnya, berhenti sejenak kemudian berjalan lagi –benar-benar gundah hatinya. Sesekali dia menatap pernak-pernik yang tertata rapi di pinggiran jalan. Mulai dari jam tangan, cincin kayu hingga gelang-gelang warna warni yang sungguh enak di pandang mata.

“yang ini bagus, kau mau aku membelikannya untukmu?”

Terkesiap. Gadis itu segera menatap sebelahnya. Dia menggigit bibir bawahnya selagi pria bernama Jimin itu tersenyum sumringah menatapnya.

“ayolah, biar bagaimanapun kau harus memaafkanku.”

Ujar pria itu sembari mengeluarkan dompet dari dalam saku celananya.

“bibi aku mau yang ini.”

Jimin menunjuk sekumpulan cincin kayu berwarna cokelat gelap dengan motif bunga teratai di setiap sisinya.

“satu atau dua?”

“satu, ah dua.”

Ucap Jimin, kemudian mengerlingkan sebelah matanya pada Nayeon. Sementara Nayeon yang melihatnya segera memalingkan wajahnya dan menghembuskan nafasnya kasar –merasa sedikit lega karna pria itu masih berani menganggunya. Karna sungguh, inilah yang dia inginkan.

.

.

“kau bohong.”

Jihyun menjejalkan sesendok eskrim vanilla kedalam mulutnya sembari mengatur langkahnya yang beriringan dengan Taehyung. Sementara pria di sampingnya itu hanya tersenyum, tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan di taman bermain yang mereka kunjungi siang itu. Taehyung berkata akan mengajak Jihyun bertemu dengan ayahnya, tetapi nyatanya mereka malah pergi ke taman bermain, tempat yang memang sedang Jihyun rindukan saat ini.

“kau tenang saja, aku akan membawamu bertemu orangtuaku lain kali karna saat ini sangat tidak memungkinkan. Aku akan mengubah strategi.”

“bukan itu maksudku. Lagipula siapa juga yang mau bertemu dengan orangtuamu. Kita bahkan tidak memiliki hubungan yang jelas. Untuk apa membuat strategi.”

Taehyung segera melirik Jihyun. Laki-laki itu kemudian berdehem dan mengacak rambutnya. Sementara itu Jihyun langsung mengatupkan bibirnya, merasa ada yang salah dengan ucapannya.

“aku hanya –aku berpikir kita sangat tidak baik-baik saja. Kau tau, seorang sahabat mana ada yang meninggalkan sahabatnya sendiri selama dua tahun dan tidak memberi kabar sama sekali.”

“Bukannya aku sudah mengatakannya padamu semalam tentang perasaanku?”

Ujar Taehyung, seraya mengikuti Jihyun yang menghentikan langkahnya, kemudian menuju sebuah kursi kayu yang berjejer di sisi jalanan taman bermain itu.

“hey kau harus tau aku ini bukan sahabatmu lagi.”

Taehyung berucap lagi setelah mendudukkan dirinya di samping Jihyun. Sambil menatap Jihyun, Taehyung berpikir, apakah gadis itu masih belum mengerti juga dengan apa yang dia katakan semalam? Kalau begitu sia-sia dia melakukan hal yang romantis itu.

“aku tau. Tapi –ck, bisa-bisanya kau berkata dengan santai bahwa kau bukan sahabatku lagi. Saat ini bukannya kau sudah punya pacar? Aku tau itu. Kau harus memperjelas semuanya dan jangan biarkan gadis itu salah faham. Kemarin aku mabuk, jadi bisa saja aku mengatakan hal-hal yang bodoh, iya kan? Aku sendiri bahkan lupa sudah mengatakan apa.”

“bohong.”

Taehyung membuang muka dan membuat Jihyun mendesah melihatnya.

“kau hanya tidak ingin berada dalam masalah. Aku ingin mulai sekarang kau harus terbiasa dalam masalah. Tenang saja, ada aku. Dan aku beritahu padamu, gadis itu tidak ada hubungan apa-apa denganku.”

“bukan seperti itu. Aku hanya tidak mau membuat gadis itu berpikir yang tidak-tidak. Tidak mungkin dia tidak punya hubungan denganmu.”

Taehyung terdiam. Rupanya sangat sulit menjelaskan hal seperti ini pada orang yang dia cintai dibandingkan dengan menjelaskannya pada seorang sahabat. Taehyung mengerti kalau dia sekarang sudah dewasa dan masalah seperti ini adalah masalah yang sangat serius dan benar-benar membuatnya pusing. Ahh apa perlu dia meminta bantuan Jimin? Dia tau bahwa sahabatnya itu lebih pandai dalam hal seperti ini.

“sekarang aku harus bagaimana menjelaskannya padamu? Aku berhubungan dengannya karna ini semua untuk bisnis. Tapi aku sama sekali tidak memiliki perasaan sedikitpun kepadanya. Aku tau semua wanita pasti akan berkata hal yang sama seperti dirimu, karna mereka hanya tidak ingin terluka, aku sangat mengerti tentang itu. Percayalah, kau akan baik-baik saja.”

“hey Kim Nayeon, cepat makan nanti keburu dingin.”

“tidak mau.”

Jimin meletakkan sumpitnya, kemudian menatap Nayeon.

“mau sampai kapan kau marah padaku?”

Laki-laki itu terkekeh lalu meneguk segelas air putih dan kembali menatap Nayeon.

“lihatlah, kita sudah memakai cincin yang sama itu artinya kita punya hubungan, kau harus tau itu.”

Memang benar mereka memakai cincin yang sama –yang tadi dibeli Jimin. Nayeon sebenarnya tidak mau memakainya tapi Jimin memaksanya. Biar bagaimanapun dia harus membuat pria itu mengejarnya lebih dari ini. Dia harus membuat Jimin merasakan apa yang dia rasakan.

Dengan jengkel Nayeon melepas cincinnya dan meletakannya secara kasar di atas meja hingga membuat sedikit keributan disana dan beberapa pengunjung menatapnya.

“aku tidak akan membiarkan ini mudah untukmu.”

Jimin lagi-lagi terkekeh. Gadis di hadapannya ini sekarang jadi lebih menyeramkan di banding yang dulu. Kalau sudah begini, Jimin akan kesulitan meledek gadis itu karna bisa-bisa dia di cekik hingga mati –lihatlah kuku di tangannya bahkan sudah sepanjang kuku ayam, ah atau bahkan lebih.

“sekarang aku harus bagaimana?”

Tanya Jimin sembari menopang dagunya dengan satu tangannya –tersenyum jail dan menatap gadis di depannya dengan tatapan sok ganteng. Menarik. Jimin sungguh menyukainya.

“aku tidak mau berhubungan denganmu. Hubungan keluarga, teman atau apapun itu aku ingin kita putus hubungan.”

Nayeon berucap sembari menatap Jimin dengan tajam dan melengos ke arah lain setelah mengatakannya. Bagi Jimin gadis itu sangat menggemaskan. Jimin tau bahwa Nayeon sedang membalas perlakuannya beberapa tahun lalu, tapi mau bagaimana lagi, dia malah senang dengan perlakukan Nayeon yang seperti ini padanya meskipun dia tau bahwa sebenarnya dia yang bersalah –bahkan dirinya belum meminta maaf pada gadis itu semenjak bertemu kembali.

the power of women, terkadang aku heran, kenapa banyak gadis yang sering sekali berbuat seperti ini pada seorang pria. Tambah aneh lagi kenapa si pria tidak menyerah padahal si gadis berkali-kali memperlakukan mereka seperti ini. Seperti dirimu ini. Apa ini cara mereka menarik perhatian dari si pria? Tolong jelaskan padaku karna aku masih belum mengerti teorinya.”

Nayeon membelalakkan kedua matanya.

“m-maksudmu? Aku sedang menarik perhatianmu? Tidak sama sekali. Aku hanya sedang membalasmu. Permisi.”

.

.

.

Nayeon mendesah. Sudah dua kali dia pergi dari hadapan Jimin dengan cara yang sungguh memalukan. Ayolah, tidak bisakah Jimin mengejarnya sekali lagi? Nayeon benar-benar tidak berpengalaman dengan hal-hal semacam ini. Biar bagaimanapun dia ingin memberi pelajaran pada Jimin. Lalu bagaimana kalau laki-laki itu benar-benar tidak mengejarnya? Ah membuat frustasi saja. Baiklah, mungkin sampai di sini hubungannya dengan Jimin akan berakhir. Laki-laki itu pasti sangat tersinggung dengan ucapannya.

Nayeon menghentikan langkahnya, menghentakannya sebentar lalu membalikan badannya dan ingin mengutuk Jimin walaupun tidak ada laki-laki itu disana –pikirnya, tapi betapa terkejutnya dia ketika Jimin hanya berjarak beberapa langkah saja dibelakangnya –tersenyum dan memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya. Jantungnya berdetak kencang. Tunggu dulu, ini karna dia kaget tiba-tiba pria itu ada di belakangnya.

Semakin lama Jimin mengikis jarak di antara mereka dan hal itu membuat Nayeon terdiam di tempatnya padahal dia tidak ingin melakukannya –karna seharusnya dia pergi dari sana dan berpura-pura marah pada lelaki itu. Dan satu langkah lagi maka Jimin benar-benar tepat berada di hadapannya tanpa ada jarak sedikitpun. Detakan jantungnya semakin liar dan dia yakin jika Jimin bisa mendengarnya sebentar lagi.

HAP!

Dan benar saja. Jimin tidak memberikan jarak lagi di antara mereka. Hal itu membuat Nayeon merasa sangat gugup. Angin yang sepoi-sepoi itu membuat rambut panjangnya beterbangan dan membuat suasana sore ini semakin romantis saja. Jujur saja Nayeon benci hal ini, karna membuatnya terbawa suasana dan menikmatinya.

Nayeon masih menatap Jimin. Tatapannya seakan tidak bisa berpaling dari pria itu.

Menyebalkan! Pada akhirnya aku yang selalu terjebak dalam pesonanya.

Dia yakin jika Jimin tahu dengan apa yang sedang di rasakannya, tapi dia tidak memikirkannya sama sekali karna dia hanya ingin menikmati suasana ini. Gadis itu bahkan terus mengutuk pria di hadapannya itu dalam hati membuat kedua matanya hampir berkaca-kaca –sial, sampai saat ini Nayeon masih juga sangat sensitif.

CUP!

Jimin menarik dagunya dan mengecup bibir Nayeon sekilas, membuat gadis itu membelalakkan kedua matanya saking terkejutnya dia, bahkan membuatnya hampir terhuyung jika saja laki-laki itu tidak dengan sigap melingkarkan tangannya di pinggang Nayeon.

 Park Jimin menciumku!!? 

Nayeon menahan nafasnya hingga membuat wajahnya tarasa sangat panas. Dia juga merasa seperti ada jutaan kupu-kupu yang melambung di perutnya dan membuat bulu kuduknya meremang merasakan sensasi aneh yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.

“mau berapa kali kau menghindariku? Empat kali? sepuluh kali? Atau dua tahun seperti yang aku lakukan? Aku tetap akan mengejarmu. Maafkan aku karna sudah membuatmu menunggu. Tapi asal kau tau, aku tidak pernah mempermainkanmu dan aku sungguh-sungguh menginginkanmu.”

Dari jarak sedekat ini Nayeon bisa melihat bagaimana laki-laki itu serius saat mengatakannya. Tapi masa bodoh dengan semua yang dia katakan, Nayeon hanya ingin mengontrol detak jatungnya yang sudah menggila.

“Ayo kita mulai semua dari awal. Aku hanya ingin hidup bahagia bersamamu, aku rasa aku hampir gila karna terus memikirkannya. Aku sangat takut kalau ternyata kau sudah bersama orang lain.”

Nayeon memandang ke arah lain, masih dengan posisi berpelukan dengan Jimin.

Ya, aku tau kau ini dari dulu pandai merayu wanita. Dasar playboy! Mau sampai kapanpun kau tetaplah seorang playboy.

Kali ini Nayeon memutar bola matanya ketika kembali bertatapan dengan Jimin.

“terserah apa yang kau pikirkan, tapi aku tidak bohong dengan semua yang aku katakan. Kau tau, hari ini kau sangat menarik dan aku sangat suka strauberry.”

Jimin mencium bibir Nayeon untuk yang kedua kalinya, kali ini dengan penuh perasaan dan penuh emosi –membuat Nayeon mencengram kerah jaket Jimin dengan kencang.

Sialan kau Park Jimin! Sudah berapa banyak kau berbuat seperti ini pada wanita lain!? 

TBC

Advertisements

4 thoughts on “[BTS FF FREELANCE] 95’lines Diary 2 – The Power Of Women (Part 3)

  1. Like, aku suka jalan ceritanya…. Semangat ya thor untuk melanjutkan fic ini sampai tamat…

    Keep Writing^^

    Nitip sesuatu author.

    Kamu suka baca atau nulis-nulis FF tentang K-Pop, tapi gak tahu mau di-post dimana. Kirimkan saja FF kalian di https://kpopfanfictionindonesiablog.wordpress.com/ . Sebelum itu baca dulu aturannya https://kpopfanfictionindonesiablog.wordpress.com/send…/ . Untuk para newbie gak usah takut/malu/ minder, kirimkan saja fanfiction kalian, ok. Itung-itung buat tempat belajar. Karena seorang yang hebat pasti butuh perjuangan sebelum hal itu terjadi.

    Jika ada yang ingin berbagi link blog kalian dengan KFI bisa langsung klik link ini https://kpopfanfictionindonesiablog.wordpress.com/bertuk…/ .

    Maaf sekali blog ini masih sepi karena baru saja dibuat. FFnya juga belum ada, tolong partisipanya ya. Agar blog ini ramai. Jangan lupa klik ikuti ya. Kamsahamnida…

    Jika pertanyaan lebih lanjut, bisa PM saya di email (dinadwi2000@gmail.com) or facebook (Dina Dwi Ramadani)

    Like

  2. Yaampun aku nunggu bgt ini ff update, ternyata part 3, maaf gakomen di part 2 nya. Aku suka bgt ceritanya dari awal, tetap lanjutkan ya 🙂

    Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s