[BTS FF Freelance] Hidden Star (Oneshot)

COVER HD 1

Title : Hidden Star

Author : Valleria Russel/Heni Kurniyasari

Cast : – Irene “Red Velvet” as Shin Ryuna

  • Jeon Jungkook as himself
  • BTS Members

Genre : Romance, Drama, Alternate Universe

Length : Oneshoot

Rated : Teens

Disclaimer : Cerita ini murni dari pemikiran saya sendiri. Jangan mengkopi apapun tanpa izin ya. Semua yang ada di cerita ini adalah milik saya kecuali tokohnya 🙂 

─Dan yang tidak sempat aku katakan adalah saat kau terluka aku juga akan merasakan sakit yang sama.

Kookie, dengarkan aku dulu! Aku tidak pernah memiliki niatan untuk menghancurkan kebahagiaanmu dengannya. Kau mengenalku lebih baik dari itu, Kookie. Aku akan selalu menghormati keputusanmu. Aku sudah menyerah untuk perasaanku padamu saat kau dengan jelas memilihnya, tapi aku tidak akan pernah membiarkan dia menyakitimu. Sedikitpun aku tidak akan pernah membiarkannya. Bukan untuk aku dan perasaanku lagi, sekarang aku berdiri dihadapanmu untuk menunjukkan kepedulianku sebagai seorang teman yang tidak ingin temannya disakiti. Kau akan hancur saat mengetahui kenyataan ini, Kookie. Maka dari itu aku berusaha untuk menyampaikannya padamu sebaik yang aku bisa agar kau tidak hancur. Aku tidak mau gadis itu menyakitimu. Bisakah kau mengerti? Tolonglah! Percaya padaku!

Bagaimana aku bisa mempercayaimu lagi setelah semua yang terjadi, Ryuna? Katakan padaku! Aku sangat menghormati pertemanan kita. Aku bahkan masih melakukannya sampai detik ini. Aku menemuimu di sini karena aku pikir tadinya mungkin kau sudah menyadari kesalahanmu dan ingin memperbaiki semuanya. Aku siap memberikan kesempatan kedua padamu karena kau adalah teman baikku. Ya, kau memang benar. Aku mengenalmu lebih baik dari siapapun, tapi itu hanya berlaku dimasa lampau sekarang. Kau telah melakukan kesalahan dan bukannya memperbaiki kesalahanmu dengan meminta maaf kau malah membuatku menyesal datang kesini dan membuang waktuku dengan berpikir kita akan kembali baik-baik saja.

Kookie… kenapa kau tidak percaya padaku? Aku masih temanmu apapun yang terjadi. Aku peduli padamu dan aku tidak ingin melihatmu hancur. Tolong dengarkan kata-kataku. Feranda tidak baik untukmu. Dia… dia…

Cukup! Cukup sudah! Kau benar-benar telah melewati batasanmu, Shin Ryuna. Dia adalah kekasih hatiku! Gadisku. Calon istriku! Aku tidak akan membiarkan siapapun menghinanya termasuk kau! Apa yang sebenarnya ada dikepalamu itu? Gagal mendapatkanku, kau mencoba untuk menghancurkan kebahagiaanku? Kenapa kau berubah begitu cepat? Aku sudah tidak mengenal Ryuna yang kini berdiri dihadapanku. Kau bukan Ryuna temanku. Kau adalah orang asing. Seorang wanita yang rela melakukan segala cara untuk mendapatkan kemauannya.

Kookie…

Hentikan, Ryuna! Aku bilang hentikan! Mulai hari ini, lupakan saja jika aku pernah begitu dekat denganmu. Lupakan saja tentang pertemanan kita. Kita tidak pernah saling mengenal. Berbahagialah dengan hidupmu dan jangan pernah muncul dihadapanku lagi, aku tidak mau melihat wajahmu!

Tes. Air mata mengalir dari pelupuk mataku bersamaan dengan angin kencang yang mendadak muncul, menerbangkan dedaunan kering yang mengotori jalanan di musim gugur.Suatu saat nanti, kau akan tahu yang sebenarnya, Kookie. Kau akan tahu seseorang seperti apa yang telah kau pilih untuk menjadi pendamping hidupmu dan seseorang seperti apa yang hari ini telah kau remukkan hatinya untuk yang kedua kalinya. Kau hanya tidak tahu dan ketidaktahuanmu juga cintamu membuatmu buta untuk melihat kenyataan. Seperti kataku, Kookie, kau akan hancur nanti. Kita lihat sampai kapan Tuhan akan terus menghitung air mataku dan memendam kemarahannya. Kita lihat saja, Kookie, siapa yang akan menang dan akan kupastikan padamu kau akan bisa menentukan mana yang benar dan mana yang salah nanti. Tentang ketulusanku, tentang cintaku, tentang kejujuranku, dan tentang kepalsuan serta keserakahan Feranda. Selamat tinggal.

Aku menghela napas bosan karena harus mendengarkan guru sejarah ini mengoceh dengan nada bicara yang mendayu-dayu membuatku mengantuk dan lapar dalam waktu yang bersamaan. Teman-temanku sejak tadi sibuk membahas mengenai masalahku dengan seorang pria yang sudah berhasil memporak-porandakan duniaku.

Aku tidak mengenal banyak pria di dunia ini, hanya ada beberapa, tapi diantara beberapa itu ada satu orang yang kucintai. Mudah mengutarakannya jika hanya dipikiran saja, tapi mengucapkan kalimat itu secara langsung membuatku nyaris gila. Aku takut, tentu saja. Selama ini ada begitu banyak orang yang berpikir kalau seorang gadis menyatakan perasaannya lebih dulu itu bukanlah sesuatu yang baik untuk dipamerkan.

Teman-temanku bilang, aku ini adalah makhluk paling langka yang pernah ada. Enak saja, mereka kira aku ini hewan apa! Gadis secantik aku tidak mungkin mirip dengan jenis hewan manapun karena orangtuaku tidak memiliki gen hewan sama sekali. Bagaimana teman-temanku itu bisa berpikir seperti itu? Karena dua bulan yang lalu, aku menyatakan perasaanku pada pria itu secara langsung tanpa perantara apapun. Ya, benar sekali aku ini memang agak sedikit gila dan memiliki rasa malu yang agak minim. Kuharap kalian bisa memaklumi hal itu ya. Hei, tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini.

Well, kejadian itu sudah berlalu sejak dua bulan yang lalu tapi mereka masih saja membicarakannya dan membuat telingaku nyaris meledak setiap saat. Oke, aku tahu tidak seharusnya aku melakukan sesuatu seperti itu. Yang dengan jelas bisa menghancurkan diriku sendiri, tapi aku mengambil keputusan itu setelah aku memikirkan semuanya dengan baik. Aku tahu kalau pria itu tidak menyukaiku dan menolakku maka rasa sakit dan malulah yang akan aku dapatkan, tapi hal positif dari itu adalah aku bisa mengetahui perasaannya padaku dan aku sudah melepas beban memendam sendiri perasaanku. Walaupun rasanya memang sakit saat dia menolakku.

“Ryuna, kau benar-benar sudah baik kan sekarang?”

Aku berdehem malas pada Chanmi. “Ryuna, aku tahu kau masih belum bisa menerima jika Jungkook lebih memilih gadis pengkhianat itu ketimbang dirimu, tapi percayalah Tuhan itu adil. Dia akan menunjukkan bagaimana semua ini akan berjalan nantinya.”

Aku mengangguk pada Taeyon sebagai respon dari nasihatnya. “Ya, dan setelah ini kuharap kalian tidak lagi membahas tentang pria sialan dan kekasih sialannya itu dihadapanku karena aku sudah benar-benar muak!”

Mereka berdua mengangguk bersamaan sambil mengacungkan kelingking tanda jika mereka berjanji padaku.

Seumur hidupku, aku tidak pernah sekalipun berpikir jika ada cinta yang lebih indah dari cinta yang dimiliki oleh orangtua, aku tidak pernah mempercayai kisah-kisah dongeng yang sering dibacakan ibuku dulu ketika aku kecil. Aku tidak pernah percaya. Bagiku cinta ayah dan ibu adalah segalanya. Mereka adalah dunia untukku.

Kata ayah, suatu saat nanti seseorang akan datang dan mengubah hidupmu untuk selamanya. Aku tidak mengerti maksudnya. Tentu ketika itu aku hanya seorang gadis kecil berumur delapan tahun.

Semuanya baru saja bisa aku mengerti akhir-akhir ini. Nyaris setiap malam, aku selalu memikirkan sore itu. Sore dipinggir danau yang menyimpan begitu banyak kenangan tentang kebersamaanku dengannya serta menjadi saksi pertemanan kami. Dia adalah teman pertama yang kupercaya. Kenapa seperti itu? Karena aku bukanlah tipe orang yang terbuka, yang bisa dengan mudah menerima kehadiran orang baru lalu menceritkan kisah hidupku padanya.

Aku tidaklah seperti itu dan Jungkook adalah seseorang yang berbeda. Saat pertama menatap matanya empat tahun yang lalu, entah kenapa hatiku langsung mempercayainya. Kami langsung dekat dalam waktu yang sangat singkat. Dia membagi kisah hidupnya padaku dan aku juga mempercayakan rahasia-rahasiaku untuk dijaga olehnya.

Perasaan nyaman dan terlindungi selalu saja melingkupiku setiap kali dia ada disampingku. Hanya Tuhan yang tahu kapan aku memiliki perasaan aneh ini pada temanku itu. Begitu aku sadar, aku sudah mencintainya. Cinta pada caranya berbicara, cinta pada caranya tersenyum dan tertawa, cinta pada mata indahnya, cinta pada nyanyiannya, cinta pada setiap bagian terkecil yang dimiliki olehnya.

Pada awalnya, aku tidak apa-apa saat dia mengatakan kalau dia telah menjadikan Feranda Hwang sebagai kekasihnya. Aku baik-baik saja. Karena saat Jungkook mempertemukan kami berdua, dia adalah gadis yang sangat manis dan baik. Dia cantik dan anggun. Sangat serasi berdampingan dengan Jungkook.

Hubungan mereka mengalami lika-liku yang cukup berat. Mereka sering beradu argumen dan beberapa kali putus lalu kembali lagi. Dua bulan yang lalu, semuanya memburuk saat Chanmi mengatakan sesuatu padaku tentang gadis bernama Feranda Hwang itu.

Ryuna, aku ingin menceritakan sesuatu padamu, tapi kau, berjanjilah kau tidak akan membuat masalah setelah mendengar cerita ini.

Tidak, aku tidak akan membuat masalah, cepat katakan!

Kemarin, sepupuku Jimin mengajakku ke pesta dansa khusus yang diadakan oleh perusahaan milik keluarga Hwang. Aku dan Jimin melihat Feranda di sana dan dia tidak sedang bersama dengan Jungkook. Aku bingung awalnya, sampai akhirnya aku memutuskan untuk bertanya pada Jimin, mungkin dia mengetahui sesuatu tentang pria yang digandeng mesra oleh Feranda. Kata Jimin, pria itu Seok Jin. Pewaris Jewell Group. Dan yang lebih mengejutkanku lagi adalah ternyata Seok Jin dan Feranda sudah bertunangan dua malam sebelum pesta dansa formal itu diadakan. Aku tidak tahu harus mengatakan apalagi setelah mendengar cerita dari Jimin, jadi aku hanya diam saja mendengarkannya. Dia juga bilang kalau Feranda tidaklah semanis penampilan dan cara bicaranya, dia menerima semua pria yang mendekatinya sekalipun dia memiliki Jungkook. Dia tidak mau dirugikan karena sebuah hubungan dimatanya hanyalah simbiosis mutualisme. Jika pria itu tidak bisa memenuhi standarnya maka dia akan meninggalkannya dan memilih kanidat lain yang lebih baik. Ryuna, aku tidak tahu apakah ini berita baik untukmu ataukah tidak tapi kupikir sekaranglah saatnya kau untuk mengatakan pada Jungkook kalau kau mencintainya. Rebut dia dari Feranda sebelum gadis itu menghancurkan pujaan hatimu.

Cerita itulah yang membuatku akhirnya menguatkan tekat untuk menemui Jungkook dan mengatakan isi hatiku padanya, tapi aku tidak mengatakan apapun tentang Feranda padanya. Aku ingin lihat bagaimana responnya terhadap perasaanku. Ternyata responnya sangatlah buruk hingga membuatku menangis dan kehilangan selera makan hingga seminggu lamanya. Padahal semua orang tahu kalau Shin Ryuna sangat suka makan.

Ada apa? Apa ada yang mengganggumu lagi di sekolah? Katakan saja padaku, biar aku yang menyelesaikan semuanya.

Tidak, ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu, Kookie.

Hei, sejak kapan kau merasa sungkan padaku? Ceritakan saja! Aku siap mendengarkan semua keluh kesahmu. Sebenarnya, ada sesuatu yang juga ingin kubicarakan denganmu, tapi aku akan mengatakannya setelah kau menceritakan masalahmu.

Sebenarnya ini bukan masalah yang biasa kuhadapi. Masalah seperti ini baru satu kali menghampiriku dan aku tidak tahu harus bagaimana.

Ya Tuhan, apa yang terjadi padamu? Kita bertemankan? Jika kau memiliki masalah yang tidak bisa kau selesaikan sendiri, kau bisa menceritakannya padaku dan aku akan membantumu.

Bagaimana kalau masalah ini berhubungan denganmu?

Apa? Apa maksudmu?

Kookie, maafkan aku! Aku tidak tahu bagaimana caranya menjelaskan hal ini padamu. Aku bingung dan kupikir semua ini tidak akan baik untuk kita. Tapi aku juga tidak bisa memendam ini lagi. Awalnya kupikir aku akan menyimpan semuanya untuk diriku sendiri, tapi aku tidak bisa. Seseorang telah memberikan alasan yang kuat untukku mengatakan semua ini padamu. Kookie, aku tidak tahu kapan perasaan seperti ini datang, tapi aku mencintaimu…

Aku sudah menjelaskan perasaanku setelah bersusah payah meredam rasa malu dan gugup. Mungkin itu adalah kalimat-kalimat paling bodoh yang pernah kukatakan pada seseorang, tapi aku bisa apa. Aku tidak akan membiarkannya hancur. Aku begitu peduli padanya melebihi aku peduli pada diriku sendiri.

Ryuna, apa yang kau katakan?

Kookie, itulah masalah yang kumiliki. Aku mengungkapkannya padamu sekarang agar kau tahu dan aku harap kau bisa memikirkannya karena aku akan menerima semua keputusanmu.

Aku tidak percaya kau bisa melakukan hal seperti ini padaku. Kupikir kita berteman?

Apa? Tentu saja, kita berteman. Aku mengungkapkan perasaanku padamu dan apapun jawabanmu nantinya aku akan menerima semuanya dan setelah itu segalanya akan tetap baik-baik saja.

Tidak ada yang baik-baik saja saat ini. Kau tahu, aku tidak akan pernah bisa mencintai orang lain selain Feranda.

Tapi kenapa? Bukankah aku berhak mendapatkan kesempatan?

Ini bukan tentang kesempatan untukmu ataupun perasaan bodohmu itu, Shin Ryuna! Kita sudah berteman sejak lama dan hari ini kau mengkhianati pertemanan kita! Apa-apaan ini! Bagaimana bisa kau melakukan ini padaku! Aku begitu peduli padamu dan pertemanan kita, tapi kau sudah menghancurkan semuanya.

Kookie, aku tidak bermaksud seperti itu. Apa yang salah dari perasaanku? Aku hanya…

Salah! Kau salah dan aku salah di sini! Harusnya kita tidak pernah berteman! Harusnya aku tidak menghampirimu di sini empat tahun lalu. Aku menyesal sekarang, seandainya waktu bisa diputar kembali.

Kau menyesal karena mengenalku.

Bukan hanya itu, Ryuna. Aku kecewa padamu.

Jungkook meninggalkanku bersama dengan hujan deras yang bercampur air mataku. Tubuhku mendadak lemas dan jatuh terduduk di kursi kayu ini. Ya Tuhan, seperti inikah akhirnya!

Aku melempar tubuhku ke atas tempat tidur, meraih novel yang belum selesai kubaca dan menyalakan musik dari tabku. Ya, ini adalah keseharian yang kusukai dari mulai pulang sekolah lalu meneruskan kelas tambahan, sore tiba di rumah, mandi, dan istirahat sambil bercumbu dengan novel-novelku.

Ponselku berdering bersamaan saat aku ingin meraih keripik kentang. Dengan malas aku menjawab panggilan dari Chanmi. Ada apa dia menelponku malam-malam begini?

“Ada apa?”

“Ryuna, dengarkan aku baik-baik! Jungkook. Dia…dia…”

“Ya Tuhan, bukankah kalian sudah berjanji tidak akan membahas pria itu lagi? Aku malas mendengarkan apapun tentangnya.”

“Jangan memotong omonganku. Tolong dengarkan aku sekali ini saja! Ini penting dan kau harus tahu.”

Memutar malas bola mataku. “Sekarang katakan!”

“Jungkook, dia kecelakaan, mobilnya terjun ke jurang, tapi dia berhasil keluar dari mobil sebelum mobil itu jatuh. Sekarang keadaannya kritis di rumah sakit. Aku mendapatkan berita ini dari Jimin. Datang ke rumah sakit. Dia membutuhkanmu sekarang.”

Napasku terhenti detik pertama mendengar ucapan Chanmi. Sesuatu dalam diriku merasa sedih dan ingin melihatnya, tapi sisi yang lainnya merasa sudah tidak ada lagi yang perlu kulakukan untuknya lagipula dia sudah memutuskan hubungan pertemanan kami. Untuk apa aku repot-repot peduli padanya! Ada Feranda Jalang Hwang di sana!

“Tidak, Chanmi. Aku tidak akan datang kesana. Dia sudah bukan urusanku lagi. Semuanya sudah selesai. Terima kasih karena sudah memberitahuku.”

Aku mematikan sambungannya sebelum dia mengatakan apapun lagi yang akan membuat pertahananku runtuh. Ini tidak mudah untukku, aku bersumpah. Dia yang memutuskan semuanya dan pergi begitu saja. Sekarang dia bisa menikmati buah dari kelakukannya.

Aku sudah pernah mengatakannyakan, Kookie. Kau akan hancur dan sekarang aku bisa melihat kehancuran seperti apa yang terjadi padamu. Maafkan aku karena tidak bisa melakukan apapun lagi untukmu. Kau tahu semua ini kulakukan sesuai dengan keinginanmu.

Perlahan-lahan tubuhku meringkuk di atas kasur hangatku. Air mata meleleh membasahi wajahku. Aku memeluk lututku, menggigit bibirku untuk meredam suara tangisku.

Adakah hal yang lebih buruk dari ini? Aku tidak tahu harus bagaimana sekarang. Dia yang memintaku untuk tidak usah menemuinya lagi. Dia bilang dia kecewa padaku. Dia bilang dia menyesal berteman denganku. Hanya demi seorang gadis yang penuh dengan kepalsuan dia telah menghancurkan hati yang lain.

Sekarang lihatlah, Kookie! Hal seperti inilah yang aku takutkan. Aku sudah berusaha untuk menjelaskan padamu, tapi kau tidak mendengarkanku. Kau akan terluka. Dan yang tidak sempat aku katakan adalah saat kau terluka aku juga akan merasakan sakit yang sama. Kookie, aku sangat mencintaimu, tapi hatimu sudah mati untuk bisa merasakan perasaanku.

Kenapa, Kookie? Kenapa harus seperti ini?

“Ryuna, aku mohon. Temui dia sekali saja! Hanya sekali! Kau harus menolongnya. Dia benar-benar membutuhkanmu. Aku mohon!”

Aku mendengar kalimat seperti itu telah berulang kali keluar dari mulut kedua sahabatku ini. Yang kulakukan hanya diam dan mengeraskan volume musik di earbud-ku. Kookie tahu dengan baik, aku tidak akan pernah melanggar kata-katanya. Apapun yang telah ia ucapkan padaku, mau tidak mau aku harus menurutinya. Dan dia sudah memintaku untuk tidak pernah menemuinya lagi. Dia tidak ingin melihat wajahku. Aku melakukannya persis seperti keinginannya. Jadi aku tidak bersalah di sini.

“Ya Tuhan! Ryuna! Bisakah kau berhenti bertingkah seperti anak kecil!”

Dan kali ini aku mendengar teriakan dari Taeyon. Dengan malas aku menoleh pada kedua gadis itu sambil melepas earbud-ku. “Apa yang kalian inginkan?”

“Dia hancur! Kau juga hancur! Aku tahu! Jangan pernah mencoba untuk menipu kami! Dia sedang melawan kematian, harusnya dia sedang melawan kematiannya, tapi yang dia lakukan hanyalah pasrah. Seolah-olah sudah tidak ada lagi alasannya untuk tetap bertahan. Ibunya menanyakan tentang dirimu karena semalam dia memanggilmu. Demi Tuhan, ini sudah empat hari, Ryuna! Dan kau tetap bersikukuh dengan kerasnya kepalamu itu! Sekali saja aku mohon! Mungkin dengan mendengar suaramu, dia akan mendapatkan kembali semangat hidupnya,” isak Taeyon.

“Kenapa kau begitu peduli padanya, Tae? Aku temanmukan? Aku tidak hancur. Sama sekali tidak. Dia yang mengatakannya padaku kalau dia tidak ingin aku untuk menemuinya lagi. Aku tidak akan menemuinya lagi. Apa kalian bisa mengerti? Kalian pikir ini semua mudah untukku? Kalian hanya melihat satu keadaan dan itu dari sebelah Kookie dan kalian melupakan keadaanku.”

Air mataku mengalir lagi, tapi dengan cepat aku menghapusnya. “Biarkan dia hidup dengan caranya dan aku akan hidup dengan caraku.”

“Ini, ada sesuatu untukmu. Kuharap setelah ini kau mau menemuinya,” ujar Chanmi.

Aku meraih ponsel Chanmi dan menempelkannya ke telingaku. ‘Ryu, maafkan aku. Ryu. Ryu.

Semua orang menatapku begitu aku berhasil memarkirkan mobilku di halaman parkir rumah sakit. Kakiku membawaku berlari dengan kencang masuk ke dalam. Tidak, kumohon! Maafkan aku! Jangan pergi, Kookie. Kau tidak boleh meninggalkanku!

Dengan napas memburu, aku tiba didepan ruang ICU. Semua orang melihatku dan seorang wanita paruh baya yang kukenal sebagai Nyonya Jeon langsung berteriak histeris saat melihatku. Dia berlari tergopoh-gopoh dan memelukku dengan erat seraya menangis tersedu-sedu.

“Ryuna, aku sudah menunggumu, Nak! Kupikir kau tidak akan pernah datang. Tolong temui dia, Nak. Dia hanya menyebutkan namamu saja sejak kemarin. Keadaannya tidak stabil. Aku mohon, Nak! Tolonglah, dia.”

“Tidak, Bi. Jangan seperti ini. Kookie adalah temanku. Maafkan aku baru bisa datang hari ini. Aku perlu untuk disadarkan dengan keras. Hari ini aku akan mengakhiri semua kesalahpahaman diantara kami,” balasku.

Setelah itu aku memakai pakaian steril lalu melangkah masuk ke ruangan yang sangat menyeramkan ini. Bau-bau medis yang sangat kubenci menguar dipenciumanku. Tubuhku seolah kehilangan energinya saat melihat keadaan pria-ku itu. Tubuhnya penuh dengan luka. Wajahnya memar, kepalanya di perban, kakinya, tangannya, dan rusuknya. Dengan lunglai aku berusaha melangkah mendekatinya. Mesin pendeteksi detak jantung seperti sedang memberikan tikaman menyakitkan tepat mengenai hatiku.

Aku meraih tangannya dan tangisku pecah begitu saja. Aku menggenggam erat tangannya, mengecupnya, menempelkannya di pipiku.

“Kookie, ini aku! Kau mendengarkukan? Maafkan aku, Kookie. Aku tidak tahu. Aku tidak tahu semuanya akan jadi seperti ini. Kookie, buka matamu. Aku sudah ada di sini. Aku berjanji padamu, aku tidak akan bersikap bodoh dan keras kepala lagi. Kookie, aku mohon! Bangunlah, Kookie. Kau tidak boleh meninggalkanku.”

Perlahan aku merebahkan kepalaku di sisinya. Mataku terpejam dan mendadak tubuhku dihantam rasa lelah dan semuanya berubah menjadi gelap. Hal terakhir yang kuingat adalah suara gumaman seseorang memanggil namaku.

“Kau terlambat, 23 detik, Nona!”

“Jangan mulai lagi! Atau aku akan pulang,” ancamku.

Dia terkekeh pelan dan menarik tanganku untuk menunduk lalu mengecup bibirku sekilas. “Aku merindukanmu,” bisiknya.

“Aku bahkan baru meninggalkanmu pagi tadi, dan terhitung sampai sekarang itu hanyalah 5 jam.”

“Terserah, tapi aku merindukanmu! Aku ingin cepat-cepat pulang dan melamarmu,” katanya sambil terkikik.

“Sinting! Aku masih harus melewati ujian akhir. Jangan macam-macam.”

“Tidak macam-macam, Nona Shin. Hanya satu macam saja!”

Aku terkekeh melihat ekspresi wajahnya. Lalu tawa kami meledak bersama-sama.

Hari itu, aku tersadar begitu pagi baru menyingsing. Begitu membuka mata aku sudah tidak ada di ruang ICU lagi melainkan ruang rawat super VIP. Jungkook masih tidur saat itu dan Nyonya Jeon mengatakan Jungkook sadar beberapa jam setelah aku tertidur. Dia bilang untuk tidak membangunkanku. Semuanya sudah membaik sekarang. Aku juga sudah memberi pelajaran pada Feranda dan membuat pernikahannya dengan Seok Jin batal. Kurasa itu adalah balasan yang setimpal atas apa yang sudah dia lakukan pada Kookie-ku. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah membiarkan siapapun menyakitimu, Kookie. 

TAMAT~

Advertisements

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s