[BTS FF Freelance] I am Not STUPID (Chapter 1)

Poster 1

Title : I am Not STUPID

Author : Yuki yuki

Genre : Romance, Sad, School-Life

Maincast : Ahn Nami (OC) || Jeon Jungkook (BTS) || Kim Taehyung (BTS) || Lee Juhna (OC)

Rating : PG-15

Length : Chaptered

Desclaimer : BTS hanya milik Tuhan, agensi, dan orang tuanya kecuali OC milik author sendiri. Jika ada kesamaan tokoh, judul dan lain-lain adalah ketidaksengajaan. Warning! Typo bertebaran dimana-mana.

Author Note : Ini ff keduaku yang kubuat dengan hasil khayalanku sendiri. Semoga para reader-nim menyukai jalan cerita ff ini.

Summary

Tidakkah kalian berfikir jika menyatakan perasaan kepada seseorang yang sangat kita sukai di masa lalu kemudian ditolak itu sangat menyakitkan? Seiring berjalannya waktu, bagaimana jika orang itu kembali lagi di hadapan kalian?

Happy Reading

.

.

.

Terlihat dua yeoja yang sedang duduk di dalam perpustakaan. Yeoja yang sedang menghafal rumus terhenti melihat sahabatnya yang sedang melamun di depannya dengan satu tangan menopang dagunya.

“Nami?” panggil Juhna, sahabat dekatnya.

Nami masih tidak merespon panggilan dari Juhna.

“Ya!” tepuk Juhna kemudian di kedua pipi Nami.

Nami pun langsung tersadar dari lamunannya. Ia lalu memerhatikan keadaan disekitarnya.

“Melamun lagi? Setiap hari kau selalu saja melamun. Apa sih yang kau lamuni itu?” Tanya Juhna kesal.

“Tidak ada. Jam berapa sekarang?”

“Jam…10.00” jawab Juhna yang melihat jam di tangannya.

“Ah… apakah aku melewatkan suatu pelajaran?”

“Ani. Bukankah kau yang mengajakku tadi untuk belajar bersama disini? Bagaimana sih kau ini? Kenapa bisa menjadi lupa?”

“Ah… ya. Aku lupa.” ucap Nami sambil memegang kepalanya yang sedikit pusing.

“Sampai dimana kita tadi?” Tanya Nami lagi.

“Itulah mengapa kau lupa karena selalu saja melamun. Apakah kau baik-baik saja?”

“Tentu. Aku baik-baik saja.”

Mereka pun melanjutkan belajar mereka lagi di perpustakaan sekolah mereka. Mereka berdua belajar dengan giat di perpustakaan selama beberapa hari ke depan untuk menghadapi ulangan harian matematika nanti.

Nami dan Juhna berusaha keras untuk mendapatkan nilai yang terbaik. Nami tidak terlalu berusaha keras tetapi Juhna lah yang harus berusaha keras. Tidak usah diragukan lagi, pasti Nami  lah yang akan mendapatkan nilai tertinggi di kelas. Semenjak penolakan 2 tahun lalu, ia menjadi selalu giat dalam belajar. Siapa sangka jika sampai sekarang ia sudah menjadi murid terkenal dalam hal kepintaran dan kepandaiannya di sekolah.

“Pokoknya kali ini, kau harus mendapatkan nilai yang sempurna!” perintah Nami dengan tegas.

“Baiklah! Kali ini aku akan berjuang dengan sekuat tenaga!” ucap Juhna semangat dengan dirinya sendiri sambil mengepalkan tangan di depan wajahnya.

Mereka melanjutkan belajar lagi. Nami yang hanya membaca-baca buku sejarah dan Juhna yang berusaha mengingat rumus-rumus yang diberikan oleh Nami. Seperti itulah mereka. Selalu menghabiskan waktu setiap hari di perpustakaan.

—OO—

#Hari Ujian

Nami mengerjakan ujian dengan serius. Begitupun Juhna yang tak kalah serius mengerjakan ujian tersebut. Mereka berdua mengerjakan dengan keseriusan mereka. Ujian yang mereka hadapi bukan ujian biasa. Walaupun terlihat ulangan harian, mereka semua berusaha keras agar dapat menghindari dari kelas tambahan matematika yang diberikan oleh Hyeon Ssaem jika tidak mendapatkan nilai diatas KKM. Waktu yang diberikan oleh Hyeon Ssaem untuk mengerjakan ujian adalah 120 menit. Ujian terus berlangsung hingga waktu yang tersisa tinggal 60 menit.

Nami telah selesai mengerjakan ujian matematika tersebut dengan begitu mudah. Hanya 1 jam saja Nami bisa mengerjakan ujian matematika 50 soal yang diberikan oleh Hyeon Ssaem. Padahal soal-soal yang diberikan oleh Hyeon Ssaem sangatlah sulit.

Juhna masih begitu keras mengerjakan soal matematika tersebut. Ia masih mengingat-ngingat rumus yang diajarkan Nami saat mereka belajar bersama di perpustakaan.

“Waktu kalian untuk mengerjakan masih tersisa 30 menit. Kerjakanlah dengan baik.”

Terdengar banyak keluhan dari para-para murid. Sementara sambil menunggu waktu habis, Nami memutuskan untuk membaca-baca buku sejarah yang ada di tasnya. Ia memang sangat senang dengan pelajaran sejarah. Bukannya Nami tidak mau mengumpulkan ujiannya duluan, dia hanya tidak mau terlihat sombong di depan teman-temannya.

Masih tersisa 20 soal yang belum Juhna kerjakan. Juhna masih berusaha keras untuk mengerjakannya. Hyeon Ssaem yang melihat Nami tidak mengerjakan ujiannya lagi, langsung bertanya kepada Nami.

“Ahn Nami? Apakah kau sudah selesai mengerjakan soal dariku?”

Nami yang merasa ditanya oleh Hyeon Ssaem, langsung menoleh kearahnya.

“Tentu Ssaem.”

“Kenapa kau tidak mengumpulkannya daritadi?”

“Aku hanya ingin menunggu teman-temanku selesai semua.”

Sontak semua siswa di kelas tersebut langsung menoleh kea rah Nami. Lalu mereka semua tersenyum kepada Nami.

“Wah kau ini sangat baik, Nami” ucap salah seorang yeoja.

“Wah… kau sudah selesai daritadi? Kau daebak!” ucap salah seorang namja yang belum pernah sekelas dengan Nami sebelumnya saat kelas X.

“Menurutku biasa saja.” ucap yeoja dengan sinis yang tak lain adalah Hana. Hana memang tidak menyukai Nami dari kelas X.

Semua murid langsung menatap tajam kea rah Hana.

“Mwo? Apa yang kalian lihat? Aku benar kan. Hanya karena ini, dia sampai dipuji-puji seperti itu. Huh! Menyebalkan.”

“Akan kuikat mulut manismu itu, Jung Hana!” ucap Juhna yang mulai kesal dengan perkataan Hana.

“Mwo?! Apa kau—“

TAK! TAK! TAK!

Hyeon Ssaem yang melihat perkelahian kecil langsung memukulkan tongkatnya ke meja pengajarnya.

“Kalian sedang ujian. Kalian pikir ini dimana? Hanya masalah seperti ini kalian semua bisa berkelahi.”

Semua murid pun menunduk dan melanjutkan ujiannya lagi.

“Karena kalian membuatku kesal, waktu akan kukurangi menjadi 5 menit.”

“MWO?!” semuanya pun berteriak karena terkejut.

“Tidak ada yang protes. Kerjakan pekerjaan kalian kembali!”

Mereka pun mengerjakan dengan pasrah. Satu persatu dari mereka telah selesai. Juhna yang masih belum selesai mengerjakan sisa soalnya terlihat cemas.

“Waktu kalian tersisa 2 menit.”

Sisa dua soal lagi yang belum Juhna selesaikan. Hyeon Ssaem melihat jam di tangannya dan menghitung mundur.

“10…9…8…7…6…”

Juhna bingung seperti apa lagi ia mengisi jawaban yang benar ke 2 soal tersebut.

“5…4…3…2…1! Tidak ada lagi yang mengerjakan dan taruh pulpen kalian sekarang di atas meja.”

Juhna pun akhirnya telah selesai  mengerjakan 2 soal yang belum dikerjakannya tadi walaupun sembarangan menjawabnya. Hyeon Ssaem berjalan mengelilingi semua murid untuk mengambil kertas ujian mereka satu persatu di atas meja. Saat Hyeon Ssaem ingin mengambil kertas ujian Juhna, Juhna pun menahannya.

“Lee Juhna! Kau ini kenapa?”

Juhna menatap Hyeon Ssaem dan menggeleng pelan dengan wajah sedikit sedih.

“Oh… jangan seperti itu Juhna. Waktu sudah habis. Berikan ujian itu sekarang juga.” tarik Hyeon Ssaem.

Kertas ujian itu pun akhirnya berada di tangan Hyeon Ssaem.

“Kalian boleh beristirahat sekarang.” ucap Hyeon Ssaem lalu keluar dari kelasnya.

Juhna hanya pasrah dan langsung menaruh kepalanya di atas meja. Nami yang melihat Juhna seperti itu, langsung menghampirinya dan duduk di sebelah kursi Juhna.

“Waeyo?”

“Aku bisa gila.” jawab Juhna lemas yang kepalanya masih diatas meja tanpa menoleh kearah Nami yang duduk di sebelahnya.

“Sudahlah. Kau ini terlalu berlebihan. Kajja! Kita ke kantin sekarang. Aku akan mentraktirmu karena kau sudah mengerjakan ujian itu dengan baik.”

“Aku sedang tidak bersemangat.”

“Oh… ayolah. Hanya karena ujian seperti ini kau terlihat frustasi. Aku yakin, nilaimu pasti akan lebih tinggi dari yang sebelumnya.”

“Benarkah?” Tanya Juhna yang langsung mengangkat kepalanya dan menoleh kea rah Nami.

Nami sedikit terkejut dengan perilaku Juhna.

“Kau ini!”

“Benarkah jika nilaiku akan lebih tinggi dari yang kemarin-kemarin?’

“Nde. Percayalah padaku. Aku yakin kalau nilaimu nanti—“ belum sempat melanjutkan kata-katanya, tangan Nami langsung ditarik oleh Juhna untuk keluar dari kelas.

Mereka pun berjalan menuju kantin. Disana Juhna mendudukkan Nami di kursi kantin tersebut.

“Kau tunggu disini, aku akan memesankan makanan untuk kita.”

Juhna pun pergi menuju tempat pemesanan makanan. Nami hanya menggeleng-geleng pelan melihat tingkah sahabatnya yang begitu semangat. Sambil menunggu Juhna yang sedang memesan makanan, ia pun kembali teringat lagi masa lalunya yang menyedihkan.

“Buat apa aku menyukai seorang yeoja yang bodoh sepertimu?”

Perkataan tersebut terus tergiang-giang di kepala Nami. Nami yang mengingat-ingat perkataan namja tersebut menjadi kesal dan seketika ia langsung menggebrakkan kedua tangannya di meja kantin tersebut. Juhna yang baru saja datang, terkejut mendengar Nami yang menggebrakkan kedua tangannya di meja kantin tersebut. Seketika Juhna langsung menepuk pipi Nami dengan kedua tangannya.

“Aww… Appo!”

“Ya! Kenapa kau memukul meja seperti itu, eoh? Kau ini membuat semua orang memerhatikanmu.”

Nami menoleh ke semua orang yang duduk di meja kantin sedang memerhatikannya.

“Joesonghamnida.” ucap Nami menunduk-nundukkan kepalanya untuk meminta maaf kepada semua orang yang terkejut karena mendengar gebrakan mejanya tadi.

Semua orang di kantin tersebut langsung tersenyum seakan-akan mengatakan tidak papa. Ya… itu karena Nami murid terkenal diantara kalangan yeoja maupun namja.

“Lihat. Kau sangat beruntung jika semua mereka mau memaafkanmu. Jika itu aku, pasti mereka membenciku. Ya! Sebenarnya kau itu kenapa?”

“Ani. Aku hanya sedang berkhayal saja.”

“Tunggu, tunggu, tunggu! Berkhayal? Sejak kapan seorang Ahn Nami menjadi pengkhayal?”

“Ah… kau ini berhentilah mengejekku. Oh ya, kau memesan makanan apa untuk kita?”

“Jjajangmyeon!” ucap Juhna dengan semangat sambil mengangkat kedua tangannya.

“Jjajangmyeon lagi? Ini sudah ke-30 kalinya aku makan Jjajangmyeon terus bersamamu sejak kelas X. Tidak adakah menu yang lainnya yang bisa kumakan?”

“Hehehe… kurasa tidak. Haruskah aku memesan yang lainnya?”

“Nde. Kurasa harus. Jika kau ingin memesan Jjajangmyeon, pesan saja sendiri. Aku sudah bosan memakan Jjajangmyeon terus. Jadi jika mau pesan—“

“Arraseo…arraseo. Lain kali aku akan memesankanmu menu lain. Sekarang kita tunggu Jjajangmyeon kita datang.” semangat Juhna lagi.

Nami hanya tersenyum simpul melihat sahabatnya yang bertingkah seperti kekanak-kanakan itu.

—OO—

“Ahjumma…. Berikan itu kepadaku.”

“Tapi… ini pesanan—“

“Aku tau. Berikan saja. Aku akan mengantarkannya kepada mereka yang duduk disana kan?” tunjuknya kea rah Nami dan Juhna yang duduk di kursi kantin menunggu pesanan mereka datang.

Bibi kantin itu terlihat ragu untuk memberikan Jjajangmyeon tersebut kepada yeoja yang memintanya.

“Baiklah. Berikan ini kepada mereka, ne?” ucap ahjumma lalu memberikan Jjajangmyeon ke yeoja tersebut.

Yeoja itu mengangguk tersenyum kepada bibi kantin tersebut. Bibi kantin itu kembali masuk ke tempatnya berjualan. Yeoja itu tersenyum memandang Jjajangmyeon tersebut yang dipegangnya.

—OO—

“Dimana pesanan kita? Kenapa lama sekali. Aah… aku bisa saja mati kelaparan jika lama begini.” rengek Juhna yang memegang masing-masing satu sumpit di tangan kanan kirinya lalu menjatuhkan kepalanya di atas meja.

“Ah… kau ini selalu saja berlebihan. Tunggu saja. Pasti bentar lagi datang.” ucap Nami yang mengacak pelan rambut Juhna.

“Tapi… sampai kapan Nami? Sampai kapan?“

Nami hanya menggeleng-geleng melihat tingkah sahabatnya yang menurutnya sangat berlebihan itu. Tiba-tiba seorang yeoja berjalan mendekati mereka.

“A-a-apa kalian Nami dan Juhna?” Tanya siswi yang bernama Ryeoni yang menghampiri mereka berdua sambil memegang dua mangkuk berisi Jjajangmyeon pesanan mereka.

“Nde. Ada apa?” Tanya Nami dengan ramahnya kepada Ryeoni.

Juhna masih tidak peduli dengan Nami yang berbicara kepada seseorang. Ia masih menaruh kepalanya di atas meja.

“Aku…aku…ingin memberikan Jjajangmyeon ini kepada kalian. Ini…. Pesanan kalian bukan?”

Juhna yang mendengar Jjajangmyeonnya telah diantar, langsung saja mengangkat kepalanya lalu menoleh kearah Ryeoni dan mengambil dua mangkuk tersebut dari tangan Ryeoni.

“Ah… lama sekali. Emm.. aku sudah menunggu lama untuk ini!” ucap Juhna yang langsung melahap Jjajangmyeon tersebut dengan sumpitnya.

Nami hanya menggeleng pelan melihat sahabatnya yang terlalu lahap memakan Jjajangmyeon tersebut.

“Gomawo. Tapi kenapa kau yang mengantar makanannya kesini? Kenapa bukan ahjumma?” Tanya Nami yang masih melihat kea rah Ryeoni

“Ah…i-i-itu… karena ahjumma sedang sibuk. Jadi ahjumma menyuruhku untuk mengantarkan Jjajangmyeon ini ke meja kalian.”

“Begitukah? Tapi kurasa sesibuk apapun ahjumma, ia akan tetap mengantarkan makanan ini kepada kita.” Jawab Juhna di sela-sela makannya.

Ryeoni hanya menunduk tidak menjawab pertanyaan Juhna.

“Ah… jadi begitu. Sekali lagi, gomawo.” ucap Nami tidak mau ambil pusing dan tersenyum kepada Ryeoni

Ryeoni hanya mengangguk-angguk lalu berjalan meninggalkan Nami dan Juhna.

Nami pun mengambil mangkuk di depannya yang berisi Jjajangmyeon lalu memakannya dengan sumpit.

Di balik Nami dan Juhna yang sedang memakan Jjajangmyeonnya, ada tiga orang yeoja yang sedang memerhatikan Nami dan Juhna dari kejauhan.

“Aduh…kita salah sasaran.” ucap yeoja berambut kuncir kuda.

“Ya kita benar-benar salah sasaran” ucap yeoja berkepang dua.

“Ah…bagaimana bisa? Biarkan saja. Tidak ada ruginya juga kan siapa yang kena di antara mereka berdua.” ucap yeoja yang merupakan pemimpin dari kedua temannya.

“Nde. Kau benar juga.” jawab dua temannya bersamaan.

Mereka bertiga pun berhenti mengintai Nami dan Juhna lalu meninggalkan kantin tersebut sambil tertawa-tawa.

Bel masuk pun berbunyi. Nami dan Juhna akhirnya telah selesai memakan Jjajangmyeonnya. Nami berjalan kea rah tempat ahjumma yang berjualan Jjajangmyeon tadi lalu membayar kepada ahjumma tersebut. Selesai membayar, Nami berjalan kea rah Juhna dan mereka segera kembali ke kelas mereka untuk melanjutkan pelajaran selanjutnya yaitu sejarah.

Di kelas, semua murid memperhatikan Han Ssaem yang sedang menerangkan pelajaran sejarah. Inilah pelajaran yang sangat disenangi oleh Nami. Saat Han Ssaem bertanya tentang sejarah-sejarah masa lampau, dengan cepat Nami pun segera menjawabnya. Nilainya selalu saja lebih tinggi dalam pelajaran lain.

KRINGGG….

Akhirnya bel pulang pun berbunyi. Semua aktivitas mengajar di sekolah telah usai. Nami dan Juhna pulang dan berjalan kaki bersama. Rumah mereka memang searah jika dari sekolah. Di sepanjang perjalanan, mereka selalu saja mengobrol tentang sesuatu yang terjadi pada hari itu.

“Kau tau?”  Tanya Juhna yang berjalan berdampingan dengan Nami.

“Tidak tahu.” jawab Nami.

“Aisshh…aku benar-benar serius”

“Bagaimana bisa aku tahu, kau saja belum memberitahuku”

“Begini. Kurasa ada yang aneh dengan Ryeoni.”

“Aneh? Maksudmu?” tanya Nami bingung menoleh kea rah Juhna yang berjalan di sampingnya.

“Hem… aku hanya berfikir, dari nada bicaranya ia terlihat gugup. Dan wajahnya seperti ketakutan saat berbicara denganmu. Apakah menurutmu itu tidak aneh?”

“Aku tidak merasa ada yang aneh dengannya. Mungkin hanya perasaanmu saja. Ryeoni kan memang begitu orangnya. Dia selalu saja terlihat gugup jika berbicara kepada orang lain.”

“Tapi ini beda. Emm…” terlihat Juhna yang sedang memikirkan sesuatu yang tak bisa dijabarkan oleh Nami.

“Kau benar. Mungkin hanya perasaanku saja.” lanjut Juhna sambil tersenyum.

Mereka pun berhenti di pertigaan. Yah… walaupun mereka searah dari sekolah ke jalan rumah mereka, tetapi rumah mereka berbeda jalan. Rumah mereka berbeda arah. Jika mereka ingin bertemu, mereka selalu bertemu di pertigaan jalan tersebut.

“Annyeong…..” ucap Juhna yang melambaikan tangannya ke arah Nami.

Nami tersenyum dan juga melambaikan tangannya kea rah Juhna. Nami pun berjalan lagi menuju rumahnya. Hanya butuh lima menit untuk sampai ke rumahnya.

Sampai di rumah, Nami pun melepaskan sepatunya dan menaruhnya di rak sepatu. Ia masuk ke dalam rumahnya yang tidak terlalu besar. Ia melangkahkan kakinya masuk dan segera menuju ke kamarnya. Namun baru beberapa langkah, perutnya terasa sakit. Ia merasakan sakit yang luar biasa pada perutnya.

—OO—

#Besoknya

Terlihat Juhna yang sedang menunggu seseorang di pertigaan jalan dekat rumahnya. Ia terus menunggu sambil sesekali melirik jam di tangannya.

“Kemana anak itu? Ini sudah lewat 10 menit. Apa dia tidak tau?” gerutu Juhna yang masih berdiri menunggu di pertigaan jalan tersebut.

Juhna pun juga sesekali mengirim pesan dan menghubunginya. Tetapi HP orang tersebut tidaklah aktif.

“Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif—“ langsung saja Juhna mematikan panggilan tersebut.

“Apa sebaiknya kutinggalkan saja? Biarlah. Dia juga yang salah karena datang terlambat. Ini sudah pukul 07.00 lebih dan aku bisa terlambat.”

Juhna pun meninggalkan pertigaan tersebut dan berlari menuju ke arah sekolahnya.

Sesampainya di sekolah, ia masih melihat para siswa berkeliaran di sekitar koridor sekolah. Juhna menarik nafas lega. Untung saja ia belum terlambat. Ia pun berjalan menuju kelasnya. Di sepanjang koridor, para yeoja membicarakan sesuatu yang masih bisa di dengar oleh Juhna.

“Jinjja?”

“Nde… untuk apa aku berbohong. Aku dengar namja itu akan pindah ke sekolah kita hari ini”

“Katanya dia juga tampan. Aah… aku tidak sabar ingin melihatnya”

“Kuharap… aku bisa sekelas dengannya. Aaa….”

Juhna hanya melirik dan mendengar ocehan-ocehan para yeoja yang sedang membicarakan murid pindahan tersebut.

Apa benar? Murid pindahan? Hari ini? Emm… aku penasaran seperti apa wajahnya?’ Tanya Juhna dalam hatinya.

Sampai di kelas, Juhna pun duduk di tempat kursinya. Ia pun masih mencari sosok-sosok yang ditunggunya saat di pertigaan tadi.

“Ck, dimana sih dia?” Tanya Juhna pada dirinya sendiri sambil menoleh-noleh ke seluruh kelas mencari sosok tersebut.

“Jihyeon?” panggil Juhna ke teman di sebelahnya yang sedang membaca.

“Nde?” toleh Jihyeon kea rah Juhna.

“Hei…. Apa kau melihat Nami?”

“Ani. Memangnya ada apa?”

“Ahh….tidak papa.”

Jihyeon kembali membaca bukunya lagi. Juhna mencoba menghubungi sahabatnya lagi. Tetapi HPnya masih tidak aktif seperti tadi. Semua murid di kelas 2-3 tampak ribut karena guru wali kelas mereka yang belum datang. Ada yang bermain sapu, ada yang sedang membaca, ada yang sedang mengobrol, dan lain-lain.

“Tumben jam segini Hyeon Ssaem belum juga datang. Biasanya selalu cepat.” gumam Juhna lalu kembali fokus memikirkan Nami yang juga belum datang daritadi. Juhna pun melirik kea rah tempat duduk Nami yang terletak di belakang samping kursi kosong paling pojok di kelas tersebut.

Tak lama, terdengar suara pintu kelas yang tergeser. Hyeon Ssaem baru memasuki kelas tersebut. Semua murid pun masih terdengar berisik dan mereka masih tetap melanjutkan aktivitas mereka masing-masing. Mereka belum menyadari kedatangan Hyeon Ssaem yang sudah masuk ke dalam kelas.

Hyeon Ssaem memerhatikan kelasnya yang tampak ribut dan sangat berisik baginya. Ia pun  langsung memukulkan tongkat ke meja pengajarnya seperti biasa yang selalu dibawanya setiap hari saat mengajar.

TAK! TAK! TAK!

Sontak semua murid berhenti beraktivitas dan langsung terdiam menyadari adanya guru wali kelas mereka sendiri yang sudah masuk daritadi. Semua murid kembali ke tempat duduk mereka masing-masing.

“E..e..em” Hyeon Ssaem berdehem pelan lalu memulai perkataannya.

“Maafkan atas keterlambatanku hari ini. Aku sedang sibuk mengurus sesuatu di kantor sana. Kita…” Hyeon Ssaem tampak membuka sebuah kertas lalu membalik-balikkan halaman kertas tersebut.

Semua murid masih diam memerhatikan Hyeon Ssaem yang akan melanjutnya lagi perkataannya.

“Kita kedatangan murid baru untuk hari ini. Dia adalah anak dari perusahaan Direktur Seonghan yang memiliki sekolah ini”

Seketika semua murid pun ribut.

“Apa? Ayahnya yang memiliki sekolah ini?”

“Anak dari Direktur Seonghan?”

“Pindah ke sekolah ini?”

Banyak siswa-siswi yang sedang berbisik-bisik mengenai murid pindahan tersebut.

TAK! TAK! TAK!

Hyeon Ssaem memukulkan lagi tongkatnya.

“Ya! Diamlah! Kenapa kalian kembali ribut? Sekarang dengarkan perkenalan dari teman baru kalian.”

Hyeon Ssaem menoleh kea rah pintu masuk kelas.

“Kau boleh masuk sekarang”

Pintu kelas depan pun tergeser. Seorang namja dengan postur tinggi memakai almamater berwarna hitam dengan kemeja yang terbuka dua kancingnya di atas, memakai dasi hitam dan membawa tas ransel yang hanya ia gantungkan di bahu kanannya saja berjalan di depan semua murid kelas 2-3 tersebut. Semua yeoja di kelas tersebut tak berkedip termasuk Juhna yang juga memandang namja tersebut.

“Kau boleh perkenalkan dirimu sekarang.”

Namja tersebut menghadap ke semua murid di kelas tersebut.

“Jeon Jungkook. 16 tahun. Dari Emerlard High School.” ucap Namja tersebut dengan singkat.

Semua murid di kelas 2-3 tersebut memandang namja tersebut berseri-seri lalu mereka semua pun bertepuk tangan.

“Apa ada yang ingin kau tambahkan untuk mengenalkan dirimu, Jeon Jungkook?”

“Tidak ada.” jawabnya singkat.

“Baiklah… karena hanya yang tersisa cuma satu meja di kelas ini, kau boleh duduk di kursi pojok paling belakang disana.” tunjuk Hyeon Ssaem kea rah kursi tersebut.

Namja tersebut berjalan menuju kea rah kursi yang dimaksud Hyeon Ssaem. Banyak para yeoja di kelas tersebut terlihat kagum memandang namja tersebut yang berjalan menuju kursinya.

“Baiklah sambil menunggu bel berbunyi, aku akan mengabsen kalian semua. Waktuku untuk mengajar sisa sedikit. Jadi harap tenang.”

“Ah Junna”

“Hadir”

“Ah Sonna”

“Hadir”

“Ahn Nami”

“Ahn Nami? Apakah Ahn Nami tidak hadir hari ini?”

“Ssaem?” Juhna pun mengangkat tangannya.

“Nde? Ada apa Juhna?”

“Kurasa dia memang tidak masuk hari ini.”

“Apa kau tau alasannya kenapa dia tidak masuk hari ini?”

“Ani. Aku tidak tau Ssaem.”

“Baiklah. Karena dia tidak mengirimkan surat dan aku juga tidak tau apa alasannya, jadi Ahn Nami hari ini alpa.”

Semua murid berbisik-bisik karena Nami yang tidak masuk pada hari itu. Ya…..Itu karena hari pertama Nami alpa dalam 2 tahun ini. Ia memang tidak pernah bolos dari kelas X. Juhna hanya pasrah karena tidak tau alasan apa yang harus ia pakai untuk menutupi sahabatnya yang tidak masuk pada hari itu. Hyeon Ssaem pun melanjutkan absennya lagi.

Juhna pun kembali melirik namja tersebut. Juhna yang daritadi tidak berhenti memerhatikan namja tersebut, langsung berfikir.

‘Wah… ternyata lebih tampan dari yang kubayangkan. Dan dia duduk di sebelah kursi Nami? Omo! Nami benar-benar beruntung. Aku harus memberitahunya nanti.’

Hana yang merasa senang karena namja tersebut duduk di belakangnya langsung menoleh ke namja tersebut ke belakang.

“Jungkook? Aku tak percaya jika kau akan pindah disini. Apa ayahmu yang menyuruhmu untuk pindah kesini?” tanya Hana yang daritadi tidak dihiraukan oleh Jungkook.

Jungkook tidak menggubris pertanyaan Hana dan masih sibuk mencari-cari barang di tasnya.

“Ya! Jungkook-ah? Kau tak menjawabku? Apa kau lupa dengank—“ belum sempat melanjutkan pertanyaannya lagi, Jungkook langsung memasang earphone di telinganya lalu membaca buku.

Hana yang merasa daritadi tercueki oleh sikap Jungkook hanya tertawa hambar dan langsung menghadap ke depan lagi. Juhna yang daritadi memerhatikan Hana, hanya terkekeh pelan melihat Hana yang daritadi dicueki oleh namja tersebut. Hyeon Ssaem pun akhirnya telah selesai mengabsen semua murid.

“Baiklah…. Waktuku untuk mengajar sudah habis. Kalian boleh beristirahat sekarang.”

“Yeeee…” terdengar banyak sorakan gembira dari para murid.

TAK! TAK! TAK!

Semua murid kembali terdiam.

“Dengarkan dulu. Setelah kalian istirahat, kalian semua boleh langsung pulang karena para guru akan mengadakan rapat. Dan ingat! Besok ulangan matematika kalian akan kubagikan.”

“Yuhuu…” mereka semua pun semakin ribut walaupun semuanya terlihat khawatir jika ulangan mereka besok dibagi tetapi yang mereka pikirkan sekarang adalah hari itu pulang lebih cepat dari biasanya.

“Ada yang ingin kalian tanyakan lagi?”

Di tengah kebisingan para murid, Jungkook pun mengangkat tangan kanannya. Hyeon Ssaem yang melihat itu, langsung bertanya kepada Jungkook.

“Nde Jungkook? Ada yang ingin kau tanyakan?”

Jungkook pun berjalan ke depan membawa tasnya lalu berbicara sesuatu kepada Hyeon Ssaem. Hyeon Ssaem terlihat tidak yakin dengan perkataan Jungkook, lalu Jungkook mencoba untuk meyakinkan Hyeon Ssaem. Hyeon Ssaem pun akhirnya mengangguk setuju.

Dua yeoja menatap Jungkook dan Hyeon Ssaem yang berbicara daritadi.

“Ya… baiklah. Sekiranya hanya ini yang bisa kukatakan kepada kalian. Permisi.” ucap Hyeon Ssaem pergi dari kelas tersebut yang diikuti Jungkook.

Semua murid pun keluar dari kelas. Hanya tersisa Juhna dan dua yeoja tesebut yang masih berada di kelas. Juhna mendengar percakapan dua yeoja tersebut yang sedang membicarakan Jungkook.

“Hei..hei. Apa kau tadi dengar apa yang dibicarakan oleh Jungkook dengan Hyeon Ssaem?” tanya salah satu dari yeoja itu ke temannya.

“Ani. Aku tidak mendengarnya sama sekali. Kau?” tanya temannya balik.

“Aku juga tidak mendengarnya juga. Aku penasaran apa yang sedang mereka bicarakan.” jawabnya.

“Molla. Sudahlah, kajja. Yang penting kita pulang cepat untuk hari ini.” 

Dua yeoja itu pun keluar dari kelas. Semua murid di kelas tersebut memilih untuk langsung pulang daripada beristirahat dulu. Hanya tersisa Juhna yang masih berada di kelas. Ia hanya menggeleng-geleng mendengar percakapan dua yeoja tersebut.  Juhna yang hanya sendiri di kelas, mencoba lagi untuk menghubungi Nami. Seketika sambungan pun berhasil.

“Yeoboseyo?” tanya Nami di seberang telepon.

“Nami?! Kenapa kau mematikan HPmu?” teriak Juhna.

Seketika Nami menjauhkan HP dari telinganya karena teriakan Juhna.

“Ya! Bisakah kau berbicara lebih pelan?” jawab Nami diseberang telepon.

“Darimana saja kau? Kenapa kau tidak masuk hari ini? Kenapa kau tidak memberitahuku jika kau tidak masuk hari ini? Kenapa kau mematikan HPmu? Ken—“

 “Mianh, mianh jika aku tidak memberitahumu tentang ini. Aku harus menjawab pertanyaanmu yang mana dulu?” potong Nami kesal karena mendengar Juhna yang terus berteriak.

“Baiklah. Darimana saja kau?” kali ini Juhna menanyakannya dengan suara agak pelan.

“Aku? Aku baru saja dari rumah sakit”

“Mwo?! Kau sakit?” teriak Juhna lagi.

“Ya! Bisakah kau berbicara lebih pelan? Aku jadi tambah pusing mendengar suaramu yang seperti orang kerasukan itu” terdengar suara Nami yang serak menjawab pertanyaan Juhna.

“Hehehe. Mianh. Kau sakit? Tapi kenapa kau mematikan HPmu?”

“Kau langsung ke pertanyaan akhir?”

“Nde. Jawabanmu dari pertanyaan pertama sudah mewakilkan semua pertanyanku yang lainnya.”

“Oh…begitu. Yang tadi itu karena aku tidak sempat mengisi baterai HPku.”

“Kau ini. Aku jadi tidak bisa menghubungimu daritadi.”

“Mianhe. Maaf membuatmu khawatir, Juhna-ya.”

“Tidak papa. Apa aku boleh mengunjungimu? Kau sekarang berada dimana?”

“Tidak usah… aku sudah di rumah. Kau tidak perlu mengunjungiku. Aku sudah merasa baikan. Besok aku akan kembali bersekolah.”

“Apa kau yakin?”

“Tentu.”

“Baiklah besok kita bertemu di tempat seperti biasa. Oh ya… aku ada berita bagus untukmu.”

“Berita bagus? Berita apa?”

“Ada murid pindahan baru di sekolah kita.”

“Benarkah? Apakah dia cantik?”

“Hahahah. Kau ini, belum saja tau murid itu yeoja atau namja. Dia itu seorang namja.”

“Namja?”

“Nde… yang lebih mengejutkan lagi, dia itu adalah anak dari pemilik sekolah kita”

“Oh…jinjja? Siapa namanya?”

“Aishh… aku lupa. Kalau tidak salah… Jeon…. Jeon. Ah… Jeon Jung—PIP“ sambungan Juhna pun terputus dengan Nami.

Kini HP Juhna yang sekarang baterainya habis.

“Ck, Kenapa baterai HP ini habis? Ah… sudahlah.”

Terlihat sudah banyak murid di sekolah tersebut pulang. Juhna pun juga memutuskan untuk segera pulang.

—OO—

#Rumah Nami

Nami pun bingung tiba-tiba sambungannya dengan Juhna langsung terputus. Nami pun teringat lagi dengan perkataan Juhna tentang nama murid pindahan tersebut.

“Jeon Jung? Jung siapa? Ia belum bilang kelanjutan nama itu. Apa iya Jeon Jungkook? Ani, ani. Itu pasti tidak mungkin. Ck, mana mungkin dia pindah ke sekolah kita. Paling-paling bisa saja namanya Jeon Junghoo atau Jeon Jungdae atau mungkin Jeon Jungsoo. Hahaha iya mungkin saja begitu.”

Nami hanya berbaring di kasurnya. Ia pun kembali beristirahat dan melupakan pemilik nama murid pindahan tersebut.

—OO—

#Besoknya

Nami dan Juhna bertemu kembali di pertigaan jalan mereka. Mereka berbincang-bincang selama di perjalanan.

“Kemarin kau sakit apa sampai-sampai tidak masuk begitu?” tanya Juhna.

“Aku tidak tau. Kemarin tiba-tiba saja perutku sakit.”

“Jinjja? Tapi sekarang kau baik-baik saja kan?”

“Nde… hanya sedikit.”

“Oh… ayo bersemangatlah. Karena kau sakit, hari ini aku akan mentraktirmu di sekolah untuk makan di kantin. Anggap saja untuk membalasmu kemarin yang sudah mentraktirku. Hehe.”

“Aku tidak yakin jika kau yang akan mentraktirku. Tapi jika kau benar akan mentraktirku hari ini, jangan Jjajangmyeon lagi. Aku tidak akan mau makan jika kau memesankanku itu lagi”

“Arraseo, arraseo. Hei kau tau, hari ini ujian matematika kita akan dibagi”

“Jinjja? Kira-kira berapa dengan nilaiku?”

“Sudahlah… aku yakin jika nilai kau pasti yang tertinggi lagi di kelas” tepuk Juhna di pundak Nami.

Nami hanya tersenyum menanggapi pujian Juhna.

“Yang harus dikhawatirkan itu aku. Berapa nilaiku nanti?” ucap Juhna dengan wajah cemberut.

“Aku yakin…. Nilaimu pasti akan lebih tinggi dari yang sebelumnya”

“Kau benar. Kau sudah berkata seperti itu kepadaku kemarin”

Akhirnya setelah banyak mengobrol, mereka pun sampai di sekolah. Mereka menuju ke kelas mereka.

Sampai di kelas, Juhna pun duduk di kursinya. Begitupun dengan Nami. Jika bertanya kenapa jarak tempat duduk mereka sedikit berjauhan itu karena Hyeon Ssaem yang menentukan tempat duduk setiap murid.

Di kelas tersebut terdiri dari 20 meja, setiap barisan terdiri dari 5 meja ke belakang dan hanya satu meja saja yang ditempati setiap murid. Walaupun Nami duduk di kursinya, ia belum menyadari adanya Jungkook yang duduk tidak jauh di seberang kirinya. Jungkook juga tidak peduli siapa yang duduk di seberang kanannya. Ia juga belum menyadari keberadaan Nami di seberangnya.

Tak lama Hyeon Ssaem pun masuk ke dalam kelas dengan membawa tumpukan kertas di kedua tangannya. Semua murid tampak begitu tegang menantikan nilai ujian mereka. Nami hanya terlihat biasa saja.

“Baiklah, kalian bisa mengambil kertas ujian kalian setelah aku memanggil nama kalian. Dimulai dari Ah Junna, Ah Sonna, Ahn Nami…” Hyeon Ssaem pun memanggil nama mereka satu persatu lalu memberikan kertas ujian mereka.

Jungkook yang merasa mendengar nama yang familiar di telinganya langsung menatap yeoja yang sedang maju mengambil ujiannya. Nami mengambil kertas ujiannya di depan. Saat Nami ingin kembali ke tempat duduknya, namanya pun dipanggil kembali oleh Hyeon Ssaem.

“Nami?”

Nami pun langsung menoleh ke Hyeon Ssaem.

“Nde?”

“Kau kesini sebentar”

Nami pun berjalan kembali ke meja pengajarnya Hyeon Ssaem.

“Mengapa kemarin kau tidak masuk sekolah dan tidak ada kabar darimu?”

“Mianhe Ssaem. Kemarin aku sakit dan tidak bisa mengirim surat karena tidak ada yang mengantar.”

“Ibumu?”

“Eomma sedang bekerja.”

Hyeon Ssaem mengerti jika tidak ada yang mengantar surat tersebut. Ia mengerti juga jika ayah Nami telah meninggal 10 tahun yang lalu.

“Oh… jadi begitu. Baiklah kau boleh kembali.”

Nami pun berjalan kembali. Hyeon Ssaem kembali memanggil lagi satu persatu nama muridnya.

Nami hanya fokus melihat kertas ujian yang ada di tangannya yang sudah terbagi. Jungkook hanya melirik ke samping melihat Nami di seberang kanan dari tempat duduknya.

‘Apa dia Ahn Nami? Ck, kenapa aku bertemu dengannya lagi disini?’ ucap Jungkook dalam hatinya.

Tak lama Jungkook pun di panggil, Nami tidak menyadari adanya nama Jungkook saat dipanggil. Nami hanya masih terfokus melihat nilainya yang mendapat 98. Ia masih fokus bagaimana bisa ia mendapat 98 dan mencari jawaban yang salah di jawabnya.

Setelah selesai memanggil satu persatu nama muridnya, Hyeon Ssaem pun menatap semua muridnya yang sedang menatap ujian matematika dihadapan mereka.

“Baiklah… aku akan menyebutkan nilai paling tertinggi di kelas ini.”

Semuanya hanya diam dan mencoba mendengarkan siapa yang mendapat nilai tertinggi di kelas tersebut.

“Nilai paling tertinggi di kelas ini untuk ulangan matematika hari ini adalah….”

“Paling-paling Ahn Nami lagi yang mendapatkan nilai tertinggi tersebut.” ucap salah satu dari yeoja di kelas tersebut.

“Jeon Jungkook… Selamat Jungkook, kau mendapatkan nilai paling tinggi di kelas ini. Padahal kau ini murid baru tetapi kau bisa mengerjakannya.”

Semua murid terbelalak kaget mendengar penuturan Hyeon Ssaem. Semua murid pun jadi membicarakan Jungkook.

“Bukankah kemarin saat kita ujian Jeon Jungkook tidak ada?” bisik seorang namja ke teman-temannya.

“Dia memang tidak ada. Jadi kapan dia juga ikut mengerjakannya?” bisik seorang yeoja.

“Molla. Aku juga tidak tahu” jawab lainnya.

“Tetapi hebat juga dia. Ia bisa mengalahkan Nami murid terpintar di sekolah ini”

“Nde, aku juga kagum padanya”

Nami pun bingung dengan situasi tersebut.

“Nami kau nilai tertinggi yang kedua. Kenapa kau bisa turun? Padahal Jungkook adalah murid baru disini tetapi ia bisa mengerjakannya dan mendapatkan nilai yang lebih tinggi darimu.” ucap Hyeon Ssaem.

“Ssaem? Bukankah disini tidak ada yang namanya Jeon Jungkook? Kurasa kau salah menyebutkan nama orang”

“Ani. Apa kau tidak lihat? Murid baru itu berada di sampingmu.”

“Nde?”

-To Be Continued-

Annyeong~ semuanya. Fiuh….Akhirnya chapter satu selesai juga. Terima kasih para readers yang udah baca ff abal-abal ini. Kritik dan saran aku terima dengan senang hati. Arigatou Gozaimazu ^^.

Advertisements

12 thoughts on “[BTS FF Freelance] I am Not STUPID (Chapter 1)

  1. Nadellia

    Yukii-ya:v akhirnya muncul juga ff nya^^ dah nunggu lama nih:’v #yuki: sapa ya sok kenal gitu??:3 /njelbb:x jatuh dipelukan Jungkook:3/
    Oh iya, dulu Nami itu suka sma Jungkook gitu??:| terus Nami ada masalah apa sma Jungkook sampe Jungkook nya BETE gitu sama Nami-.- #yuki: mulai sotoy ini bocah–” /muha polos’-‘/
    Penasaran nih^^ Jangan lama2 ya chapter selanjutnya:*
    FIGHTINGG:3^^:*

    Like

    1. Anonymous

      Siapa km ya? 😏 ckckck, seharusnya bkan km yg jtuh di pelukan jungkook tp sbnarnya yg jtuh dipelukan jungkook itu adalah aku kkkk~, becanda, jungkook tetap milikmu seorang, eaaaa…. Oh ya, mksh adel sdh bc ff ini dan jg sdh comment di ff ini😊😁. *pelukciumdrijungkook*😘 eh?

      Like

    2. Anonymous

      Siapa km ya? 😏 ckckck, seharusnya bkan km yg jtuh di pelukan jungkook tp sbnarnya yg jtuh dipelukan jungkook itu adalah aku kkkk~, becanda, jungkook tetap milikmu seorang, eaaaa…. Oh ya, mksh nadel sdh bc ff ini dan jg sdh comment di ff ini😊😁. *pelukciumdrijungkook*😘 eh?

      Like

    1. Yuki yuki

      Hahaha iya, nami yg ketemu pujaan hatinya dlu…. Ckckck ya si jungkook memang kurang suka sm si nami hahaha…. Iya semoga aj mreka cpt jadian. Gomawo sdh bca ff ini dan jg sdh comment. *pelukciumdrijungkook* eh?

      Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s