[Vignette] A Moment For Two

bts-seokjin

a moment for two

a vignette by tsukiyamarisa; part of An Unforgettable Party series

BTS’ Kim Seokjin and OC’s Lee Yein

2,3k of words | Future-Utopia!AU, Romance, slight!Fluff, slight!Friendship | G

.

.

Eight o’ clock at night,

do come to our party,

and regret shall not come to you

.

.

.

Kim Seokjin mengernyit kala ia menemukan kertas itu diselipkan di bawah pintu kamarnya; sebuah undangan singkat yang mampu membangkitkan kuriositasnya. Jam masih menunjukkan pukul tujuh pagi, terlampau dini mengingat dirinya tak punya jadwal jaga ataupun tugas untuk dijalankan. Ini adalah hari liburnya, satu fakta yang membuat ia mulai bertanya-tanya apakah undangan macam ini merupakan hasil keisengan dari salah satu anak buahnya. Well, itu bisa saja terjadi, bukan?

Menggeleng-gelengkan kepalanya, Seokjin lantas beralih membuka pintu kamar. Manik menatap koridor yang lengang, pertanda bahwa penghuni markas di sisi ini mungkin sudah keluar sejak pagi-pagi buta untuk beraktivitas atau malah masih terlelap. Terkecuali untuk Kim Namjoon, salah satu rekan Seokjin di tempat ini.

“Oy!” Seokjin melambaikan tangan—dan juga kertas yang ia pegang—mengundang Namjoon mendekat.

“Kapten Kim.”

“Selamat pagi juga, Letnan Kim,” balas Seokjin, jemari menyodorkan undangan yang tadi ia temukan. “Apa kau mendapatkan sesuatu yang seperti ini?”

Lelaki yang memiliki pangkat satu tingkat di bawah Seokjin itu menjungkitkan alis, menerima kertas yang disodorkan dan memindainya cepat. Diikuti dengan gelengan pelan, juga ekspresi rupa yang murni terlihat kebingungan.

“Itu apa?”

“Itu yang kutanyakan padamu,” balas Seokjin, menyilangkan kedua lengan sambil berdecak. “Karena ini hari libur kita, kupikir ada yang berniat usil.”

“Hari liburmu,” koreksi Namjoon, mengembalikan undangan yang dibawanya ke tangan Seokjin. “Aku baru saja mendapat panggilan, dan aku harus menyelesaikan beberapa laporan.”

“Laporan.”

Yeah, karena aku adalah letnan yang baik, kautahu?” Namjoon menudingkan telunjuk, selagi Seokjin terkekeh ringan. “Berterima kasihlah padaku yang rela mengerjakan semua itu, Kapten Kim.”

Seokjin mengedikkan bahu. “Ingatkan aku untuk membelikanmu bunga?”

“Sialan.”

“Tapi, serius.”

“Serius akan membelikanku bunga?”

“Serius soal undangan ini, bodoh,” timpal Seokjin, menyipitkan mata ke arah Namjoon yang hanya bisa memasang cengiran. “Menurutmu, siapa yang memberikannya? Jebakan dari musuh atau….?”

“Siapa pula yang mau menjebak kita di masa seperti ini?” Namjoon balik bertanya, retoris. “Satu tahun sejak Kerusuhan Besar berakhir, Kapten. Kita bahkan nyaris tak pernah melakukan operasi militer yang berbahaya lagi.”

“Kau hendak berkata bahwa aku akan aman-aman saja meskipun pesta itu ternyata hanya tipuan.”

Yap, itu yang terpenting, kan?” Namjoon menyelesaikan, menunggu sampai Seokjin menentang argumennya. Barulah ketika sekon demi sekon berlalu dalam keheningan, ia pun menambahkan, “Siapa tahu memang ada yang mengundangmu ke pesta?”

Seokjin hanya diam. Ucapan Namjoon itu memang masuk akal, dan ia tahu bahwa ia tak akan bisa membantah. Sejak perjanjian diberlakukan, dunia telah berubah. Tepat pada tahun 2150, ketika perdamaian yang selalu didamba-dambakan akhirnya benar-benar tercipta. Pertikaian lenyap, peperangan sirna begitu saja. Seolah seisi dunia mendadak saling bahu-membahu untuk menciptakan kebaikan, untuk membangun tempat yang indah dihuni. Kekacauan atau kejahatan menjadi hal yang amat jarang terjadi, sehingga orang-orang sepertinya mendapat lebih banyak hari libur. Hari kerja pun tak bisa sepenuhnya dibilang berat, lantaran tugas mereka hanyalah mengawasi dan memberikan bantuan dalam hal merestrukturisasi pemukiman yang rusak akibat peperangan.

Dengan kondisi yang seperti itu, seharusnya ia senang, bukan? Tambahkan undangan pesta barusan, yang berarti identik dengan bersenang-senang. Ya, Kim Seokjin seharusnya merasa senang dan puas dengan hidupnya, tapi….

“Sudah saatnya kau bahagia, tahu?”

Pada situasi normal, Seokjin mungkin akan memutar bola matanya atau bergidik mendengar kalimat macam itu terlontar dari bibir Namjoon. Namun, melihat keseriusan yang terpampang, Seokjin tahu jika rekannya bermaksud baik. Oh, mungkin Seokjin sendiri juga sebenarnya sudah tahu jika ia harus mulai belajar mencari kebahagiaannya yang baru. Namun, melakukan tak semudah menyatakan, bukan? Dunia ini tidak adil, sehingga terlepas dari semua perdamaian yang kini ada, ia amat membenci perasaan kontradiktif yang ada di benaknya.

Ia benci karena dirinya telah gagal—

“Pergilah, Kapten. Mungkin, kau akan menemukan sesuatu di pesta itu.”

“Tapi, itu akan terasa seperti aku mengkhianati—”

“Aku tidak memintamu untuk mencari pasangan hidup.” Namjoon berdecak, menepuk pundak Seokjin sekilas. Berpolah seakan ia bisa membaca isi pikiran sang kapten, sebelum akhirnya melangkah pergi dan memberikan satu saran sebagai penutup.

“Bersenang-senang sajalah. Ia pasti juga tak mau melihatmu terus-terusan menangis, kan?”

.

-o-

.

Megah, itulah kata pertama yang terlintas di benak Seokjin. Mendongakkan kepala, sang lelaki bisa melihat lampu-lampu oranye terang yang menghiasi gedung silindris tersebut. Pun dengan rangkaian bunga yang tersemat di dinding dekat pintu masuk, juga karpet warna biru gelap yang membentang. Seakan mengundangnya untuk segera melangkah, selagi alunan musik terdengar menyapa indra pendengaran.

Menarik napas dalam-dalam, Seokjin menggerakan tungkainya lamat-lamat. Sedikit ragu karena ia tak melihat satu orang pun selain dirinya di sini, namun tak juga menemukan alasan untuk tidak mencoba masuk ke dalam gedung. Bagaimanapun juga, suasana yang menguar dari sana memang menandakan adanya sebuah pesta. Entah pesta macam apa Seokjin tak tahu, tetapi…

“Oh, baiklah. Sebentar saja lalu aku bisa pulang, kan?”

Berpikir bahwa setidaknya hal itu bisa membuat Namjoon berhenti menceramahinya, Seokjin mengedikkan bahu dan melangkah masuk. Membiarkan hawa sejuk dari pendingin ruangan yang menyala menyambutnya, sembari ia mengamati dekor pesta yang—menurutnya—kelewat sederhana. Hanya ada rangkaian bunga sebagai pemanis di segala sudut, serta karpet yang membentang melapisi ruang utama. Seokjin bahkan tak melihat meja atau kursi barang satu pun—baik itu yang digunakan untuk duduk para tamu maupun untuk meletakkan makanan serta minuman. Pesta yang tengah ia hadiri ini terlampau berbeda dengan pesta-pesta lainnya, terlalu menimbulkan banyak pertanyaan yang tak berkesudahan.

Tak ayal, sang lelaki pun mulai berpikir apakah keputusannya untuk datang adalah hal yang tepat. Untuk apa ia datang ke pesta yang nyaris kosong melompong, yang jumlah tamunya bisa dihitung dengan jari? Terlebih, orang-orang lainnya juga sama sekali tak menganggap kehadirannya penting. Sejauh mata memandang, Seokjin bisa melihat bahwa semua tamu pesta ini tak datang sendirian. Mereka sibuk dengan pasangan masing-masing, bertukar konversasi seolah dunia adalah milik berdua.

Seakan itu akan menjadi terakhir kalinya mereka bertukar cakap.

Dengan susah payah, Seokjin berusaha mengalihkan pandangnya dari sepasang kekasih yang berdiri cukup dekat dengannya. Ia tak bisa tetap di sini, tidak jika nasihat Namjoon untuk bersenang-senang telah berubah menjadi sebuah petaka. Oke, sedikit berlebihan memang, tapi Seokjin benar-benar bisa merasakan tangan tak kasat mata itu mencengkeram jantungnya. Membuatnya sedikit susah bernapas, menghadirkan kembali lubang besar di dalam dada.

Seokjin tidak butuh semua ini.

Ia tidak butuh diingatkan akan kelalaiannya di masa lalu, akan kegagalannya, akan waktu di mana seluruh kebahagiaannya mulai memudar. Ia hanya ingin pulang dan kembali belajar melupakan—

Seokjin?”

—namun suara itu menghadangnya.

Terkesiap, Seokjin hanya bisa geming tatkala figur tersebut mulai memasuki lingkup pandangnya. Memenuhi netra sang lelaki dengan rambut cokelat bergelombang yang dibiarkan tergerai, juga gaun putih panjang yang simpel namun tetap apik. Tak hanya itu, sebuah korsase tangan yang berbentuk bunga lily putih tampak menghiasi pergelangannya—hiasan yang dulu pernah Seokjin berikan diiringi kata-kata penuh keputusasaan.

“Aku senang bisa mengenalmu. Namun, seandainya aku terpaksa pergi, kau akan memaafkanku, bukan?”

Kala itu, sang gadis berkata “ya” dengan mantap.

Namun, siapa sangka bahwa situasi akan berbalik? Siapa sangka bahwa Seokjin-lah yang berakhir tidak bisa memaafkan dirinya sendiri? Perang adalah sesuatu yang menuntut banyak bayaran; selalu seperti itu tak peduli berapa kali pun umat manusia melakukannya. Satu tahun sejak perdamaian diberlakukan boleh saja berlalu, tapi bukan berarti kesedihan mereka yang dipaksa membayar ikut pergi, kan?

Sampai kapan pun, Seokjin tak akan pernah merelakan.

Tidak karena ia—dirinya yang berperan sebagai Kapten dan menyusun semua rencana penyerangan—jauh lebih patut untuk mati dibandingkan….

“Kamu tidak ingin bertemu denganku, atau kamu sudah melupakanku?”

“Lee Yein.” Seokjin menarik napas dalam-dalam, sama sekali tak menjawab pertanyaan yang ditujukan kepadanya. “Apa yang—“

“Tapi, aku terkejut kamu datang.” Yein melanjutkan, mengulum sebuah senyum yang amat Seokjin rindukan. Sesuatu yang selama setahun terakhir hanya bisa ia kenang melalui selembar foto, tapi kini kembali tersaji di hadapannya seolah apa yang telah terjadi adalah mimpi semata.

Atau mungkin, pesta inilah yang merupakan sebuah mimpi.

Sebagian dari akal sehat Seokjin berteriak demikian, bahwa perang dan kekacauan sebesar itu tak mungkin sekadar semu. Rasa sakit yang ia peroleh nyata adanya; segala bekas luka tembakan, goresan, dan hati yang serasa dicengkeram kala pemukiman penduduk berubah menjadi lautan api. Air matanya waktu itu nyata, pun dengan tangis yang kadang masih datang menyergap beberapa malam sekali. Bahkan rusaknya janji yang telah ia buat—janjinya untuk menikah dengan sang gadis selepas perang—masih meninggalkan bekas luka, sebuah ingatan yang membuat ia semakin merasa gagal sebagai seorang lelaki.

Jadi….

“Ini bukan mimpi,” gumam Yein, telapak tangan terulur untuk menggamit lengan Seokjin. “Untuk satu malam saja, di pesta ini saja, ini bukan mimpi.”

“Pesta ini….”

“Kamu…” Yein berdeham, terlihat malu. “Seokjin, apa kamu percaya dengan keajaiban? Hal-hal seperti dongeng dan….” Yein kini sedikit tertawa, kegembiraan kecil yang entah mengapa ikut menghangatkan relung hati Seokjin. “Aneh ya, tahu-tahu aku berkata seperti ini?”

“Yein….”

“Kamu bisa mengatakan hal selain namaku, bukan?” timpal sang gadis, mengerutkan keningnya. “Ini akan menjadi satu-satunya kesempatan bagi kita untuk bertemu—hei!”

Mengabaikan seruan Yein sepenuhnya, Seokjin membiarkan lengannya bergerak spontan. Tanpa banyak kata merengkuh gadis itu, membiarkan jarak di antara mereka lenyap sepenuhnya. Jarak yang ia harap tak akan pernah tercipta lagi, lantaran Seokjin tak menginginkan sosok di dekapannya kembali berubah menjadi bayang-bayang semata.

Tapi, layaknya Lee Yein yang dulu, dorongan keras serta cubitan adalah respons yang langsung tercipta. Melepaskan diri dari pelukan Seokjin, gadis itu lantas memelototi sang lelaki. Tampak tak terima, sementara Seokjin—alih-alih terkekeh menggoda seperti dulu—hanya mampu memberikan tatap nanar.

“Tidakkah—“

“Aku merindukanmu, Kim Seokjin.” Yein memotong, tak mengizinkan sang lelaki untuk berbicara. “Sungguh, di atas sana sepi sekali. Hanya saja, aku masih Lee Yein yang sama seperti dulu.”

“Bagaimana….”

“Seperti yang kukatakan tadi, apa kamu percaya dengan keajaiban?” Yein memulai, melanjutkan penjelasannya yang sempat tertunda. “Gedung ini… yah, apakah kamu sadar jika gedung ini adalah gedung kosong yang sama sekali belum direnovasi? Namun, untuk malam ini, semuanya berubah.”

“Seperti…” Seokjin menggelengkan kepalanya, tak bisa langsung mencerna segala yang terjadi kendati sebuah bukti nyata telah disorongkan ke depan matanya. “Seperti sebuah kesempatan? Bagi kalian yang telah pergi untuk… untuk kembali ke dunia?”

“Mungkin?” Yein mengangkat bahu. “Yang jelas, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal dengan pantas dan—“

Menghentikan ucapannya, Yein bisa melihat bagaimana ekspresi Seokjin berubah. Bagaimana kebahagiaan yang sempat hadir kembali tersapu, digantikan dengan rupa muram yang sarat akan rasa bersalah. Namun, suka atau tidak suka, Yein tahu bahwa ia harus tetap melanjutkan kata-katanya.

“Seokjin….”

“Haruskah?”

“Kamu toh tahu jika semua ini adalah sesuatu yang sebenarnya tak mungkin,” ujar Yein langsung, untuk sekali ini mengulurkan tangannya dan membiarkan Seokjin saling mengaitkan jemari mereka. “Aku menyebut ini keberuntungan, dan aku akan menggunakannya dengan baik.”

“Untuk mengucapkan selamat tinggal padaku.”

“Untuk membuatmu berhenti bersikap menyedihkan mungkin lebih tepat,” sahut Yein tanpa jeda, mendadak membiarkan sifat galaknya muncul. “Jangan membantah, tapi aku tahu kalau kamu pasti menyalahkan diri sendiri.”

Yang dituduh hanya mampu diam, membenarkan sekaligus mencegah air matanya meluncur turun. Biar saja jika Yein mengatainya cengeng, biar saja jika gadis itu menertawakannya yang sama sekali tidak dewasa. Seokjin memang egois, tapi ia hanya ingin membiarkan perasaan berdukanya menang. Lagi pula, Yein tidak tahu kalau….

“Ini klise. Tapi, kalau aku bilang bahwa ini demi diriku, maukah kamu menggantikanku untuk menepati janji yang pernah kita buat?”

“Jangan—“

“Maaf karena aku terpaksa pergi.” Yein langsung berkata dalam satu tarikan napas. “Maaf karena aku tidak bisa menjaga diriku sendiri. Jadi, berhentilah menyalahkan dirimu, Kapten Kim.  Hiduplah dengan baik, karena aku ingin percaya bahwa kita masih bisa bertemu suatu saat nanti.”

“Seperti pertemuan ini?”

Yein menggeleng cepat.

“Kalau begitu, ketika aku sudah tiada nanti?”

Yeah, dan jangan sampai kamu berpikir untuk mengakhiri hidup,” balas Yein, melepas tautan mereka agar ia bisa berganti menyilangkan kedua lengan di depan dada. “Suatu saat nanti, Kim Seokjin. Bersabarlah sedikit, oke? Tidakkah kamu bisa sepertiku, yang selalu menunggu setiap kali kamu pergi berperang?”

“Ini tidak sama,” protes Seokjin, menyadari bahwa ia bersikap kekanakan kala ia ikut bersedekap. “Bagaimana kalau ternyata kita tidak akan bertemu lagi? Bagaimana kalau ini adalah terakhir kalinya? Dan bagaimana—“

“Itu tidak penting.”

“Kamu sendiri yang berkata kalau kamu ingin percaya.”

“Aku ingin percaya,” ulang Yein. “Ingin adalah kata kuncinya. Kamu bahkan sama sekali tidak bertanya apa yang aku percayai saat ini.”

“Apa?”

Lee Yein tak langsung menjawab. Alih-alih, ia memilih untuk kembali menjungkitkan ujung-ujung bibirnya. Lengan tak lagi tersilang, namun ganti terulur untuk menarik Seokjin mendekat. Memeluk lelaki itu sekilas, seraya dirinya berjinjit dan berbisik lirih, “Aku menyayangimu, Kim Seokjin. Kalau aku tidak menyayangimu, aku tidak mungkin kembali kemari, bukan?”

Sama halnya seperti Yein tadi, Seokjin tak bisa melontarkan tanggapan. Ia biarkan Yein merengkuhnya, selagi bulir-bulir itu akhirnya meloloskan diri. Membasahi sudut matanya, diikuti dengan kesadaran bahwa segala pernyataan Yein benar adanya. Setelah segala yang terjadi malam ini, Kim Seokjin mungkin harus benar-benar belajar untuk memaafkan diri dan merelakan kepergian Lee Yein.

“Aku akan mencoba, Yein.” Seokjin akhirnya berkemam setelah mereka saling melepaskan diri, berusaha untuk memamerkan senyumnya agar terlihat meyakinkan. “Sungguh, aku—“

“Aku percaya, kok.” Yein lekas menyahuti. “Kamu pasti bisa melakukannya, Seokjin. Hidup dengan baik, bergerak maju, dan—“

“Jangan minta aku untuk melupakanmu.”

Yein tergelak, tapi lekas menggeleng-gelengkan kepalanya sebagai jawaban. “Tidak, kok.”

Thanks,” balas Seokjin langsung, telapak tangan terangkat dengan maksud mengusap puncak kepala gadisnya. Namun, bukannya langsung melaksanakan niatan tersebut, Seokjin malah memasang rupa bertanya. Menunggu sampai Yein mengangguk setuju—yang tentu saja tak ia dapatkan kendati satu menit telah berlalu.

“Yein?”

Dan sang gadis pun tersenyum lebar, tahu-tahu berjingkat maju untuk mengecup pipi Seokjin sekilas. Tinggalkan gelenyar kehangatan pada permukaan kulit Seokjin, sebelum akhirnya jarak kembali terbentang—dan kali ini, untuk selamanya.

“Lee Yein….”

“Kurasa waktu kita sudah hampir habis,” kata Yein, kepala ditolehkan ke seluruh penjuru ruangan. Tunjukkan bahwa sebagian besar tamu kini telah kembali sendiri tanpa pasangan, selagi sosoknya yang tadi merupa manusia hidup kembali berubah menjadi bayang-bayang. “Terima kasih untuk malam ini, Seokjin. Sampai jumpa lagi dan….”

Jeda sesaat, seraya manik Seokjin mendapati bahwa ia tak lagi bisa melihat gadis itu berdiri di hadapannya. Hanya belai lembut pada jemarinya yang dapat ia rasakan, diikuti dengan sebaris kalimat terakhir yang—menurut Seokjin—tak akan pernah lesap dari ingatannya.

“Semoga pesta ini menjadi sesuatu yang tak terlupakan bagimu. Baik-baik, ya….”

.

.

.

“…karena aku akan selalu menunggumu dan mendukungmu.”

.

.

fin.

piece 1 of 7 from the series!

well, supposed to be a series, hopefully I can write the rest

and do leave your review, please!

3 thoughts on “[Vignette] A Moment For Two

  1. Kyaaaaaaaa kak amer sukses melengkapi akhir pekan yg sendu ini :””””
    Tersalurkan bgt lah pokoknya soal kecewa, frustasi, getir, bahagia tp sedih jg, ugh poll syekali. Dan, jujur, setelah sekian lama aku absen menyatroni(?) lapak kakak, diriku terhipnotis dan terbuai dgn gaya penulisan kak amer yg makin canggih dan cantik ini. Yash, sukak bgt 🙂 🙂

    Yejin jg favoritku dr top3 pairingngan BTS versi sc IFK dan itu besar prngaruhnya mmg dari kak amer dan kak yeni.
    Hihi, last, monggo dan semangat utk meneruskan fict ini jd fict berseri ^^ good luck n stay healthy kak amer 😀

    Liked by 1 person

    1. AAAAAAAAAAAAAAAAAKKK ADA YEJIN LAGI 🎇🎉🎊
      AAAAAAAAAAAAAAAAAKKK INI SEDIH 😭
      AAAAAAAAAAAAAAAAAKKK YEIN NYA UDAH MATI TAPI AKU SUKA 😆
      Ini romantis, manis, tapi ga berlebih dan ga bikin geli/? dengan skinship yg ada. Pokoknya ini porsinya PAS 👍👏
      SUKA SUKA SUKA 😘 *ayah sama ibu romantis ya 😳. Makasih buat ff nya ya tante tsuki~ 😚ㅡLeo Kim

      Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s