[Vignette] She’s Mine!

Processed with VSCO with c2 preset

She’s Mine!

by ayshry

[BTS’s] Kim Taehyung – [OC’s] Park Reyn – [NEOZ’s] Baek Juho

AU!, Fluff, Romance/Vignette/G

***

Menjejakkan kakinya di gerai kue yang paling dekat dari kediamannya, Reyn kini tengah melihat-lihat kue yang terpajang di estalase toko. Gara-gara permainan bodoh bersama Kim Taehyung, gadis itu harus rela pergi sendirian untuk membelikan kue cokelat kesukaan karibnya itu lantaran kalah dalam permainan. Dan bodohnya lagi, sang gadis sempat mengiyakan jika ia akan kembali ketika Taehyung menyelesaikan hitungannya dari 1 sampai 1000. Sangat kekanak-kanakan, bukan? Tapi begitulah mereka.

Reyn telah menetapkan pilihan, ketika ia hendak menyebutkan pesanan, tiba-tiba—

“Park Reyn?”

—suara bariton yang cukup familier menyapanya dari arah belakang. Lekas, ia pun berbalik dan mendapati seorang lelaki tengah tersenyum ke arahnya.

“Baek … Juho?” Mengerutkan kening lantaran sudah lama tak bertemu dengan adik tingkatnya masa sekolah menengah dulu, raut wajahnya kemudian berubah sumringah ketika sang pemuda mengangguk. “Astaga! Hei, apa kabar? Sudah lama tak bertemu, ya? Sekarang kau kuliah di mana? Kausudah banyak berubah ya, Juho-ya!” Pertanyaan bertubi-tubi lolos dari bibirnya, bahkan si pemuda sempat tergelak kecil karena melihat sang gadis begitu senang bertemu dengannya.

“Bagaimana kalau kita duduk dulu sembari bercerita?”

Reyn tertawa lepas. Agaknya tawaran Juho ada benarnya, ia saja yang kelewat senang sampai tak bisa mengontrol diri. Jadilah ia dan Juho kini duduk di salah satu bangku yang tersedia dengan dua potong kue cokelat serta dua gelas jus jeruk. Dan Reyn pun melupakan tujuannya pergi ke gerai kue tersebut.

“Ah, aku tak pernah menyangka kita akan bertemu lagi, Juho-ya. Hmm, sudah lima tahun ya? Dan kau, astaga, jika bukan karena senyummu itu, mungkin aku takkan mengenal bocah dekil yang sudah bertransformasi menjadi pemuda yang sangat tampan!”

“Astaga, Noona! Bisakah kau berhenti memanggilku ‘bocah dekil’?” Mencebik sebal, namun senyum tak lepas dari wajah tampan sang pemuda. “Aku baik-baik saja, kaubisa lihat sendiri ‘kan bagaimana aku tumbuh dan—oh, iya, aku kuliah di Seoul University, bag—“

“Seoul University katamu!? Hei, aku juga kuliah di sana! Baek Juho, kenapa kita baru bertemu lagi padahal berada di lingkungan yang sama?”

“Kau sungguh tak berubah, Noona.”

Haha, aku terlalu bersemangat sepertinya.”

“Oke, sekarang giliran aku yang bertanya. Bagaimana kabarmu? Oh, jika dilihat-lihat kau baik-baik saja. Hmm, kuliah? Sudah terjawab jika kita berada di kampus yang sama. Rumah? Oke, aku bahkan belum tahu alamat barumu sehingga kita tak bisa bertemu sejak lama. Yang terakhir dan yang paling penting … kausudah memiliki kekasih, Noona?”

***

Memandangi jam tangannya berkali-kali, Kim Taehyung tengah mengutuki Reyn lantaran sang gadis tak kunjung datang. Hitungannya sudah usai sejak sepuluh menit yang lalu, omong-omong, dan—oh, demi Tuhan, Taehyung paling benci menunggu terlebih setelah dijanjikan sesuatu.

“Kenapa gadis itu lama sekali, sih?” Memulai monolognya, Taehyung bangkit dari sofa. Maniknya kini melihat ke arah luar, kalau-kalau Reyn sudah tiba, maka ia akan segera melabrak gadis itu dengan berbagai umpatan kekesalan.

Park Reyn menyebalkan!

“Sebentar, apa gadis itu tersesat? Oh, jelas sekali tidak mungkin.”

Menggoyang-goyangkan kakinya gelisah, sepertinya Taehyung benar-benar berada di ambang batas kesabaran.

“Apa aku perlu menyusulnya?” Berdiri tergesa-gesa, si pemuda terlihat menimbang-nimbang. “Ya, aku harus menyusulnya. Harus. Mana tahu ada hal buruk yang menimpanya, jadi, aku harus menyusulnya sekarang. Oke, ayo kita pergi, Kim Taehyung.”

Baru saja tubuhnya ia tarik dari atas sofa dan hendak mengayunkan tungkainya, tiba-tiba—

“Oke, lupakan. Ini baru sepuluh menit dan dia bukan anak kecil yang harus di susul ketika terlambat datang. Berhenti memikirkan hal-hal aneh, Kim Taehyung. Ayo kita tunggu dia sebentar lagi.”

—bokongnya ia hempaskan kembali sembari memulai monolognya lagi. Dasar Kim Taehyung plin-plan.

Hingga pada akhirnya, si pemuda pun mengurungkan niat dan kembali pada kegiatan awalnya: menunggu.

***

“Kekasih? Haha, kau ini baru bertemu sudah bertanya yang seperti itu.” Reyn tertawa, mengira pertanyaan yang terlontar hanya sekedar candaan.

“Aku serius, Noona. Kau … jangan bilang kau melupakan janji yang pernah kit—“

“Astaga, aku hampir saja melupakan tujuanku datang ke sini!” Merasakan percakapan mereka menjurus ke sesuatu yang kiranya enggan ia bahas, Reyn pun mencoba mengalihkan pembicaraan. Menepuk keningnya kuat-kuat, si gadis lantas berdiri dari duduknya, namun—

“Mau ke mana? Kau belum menjawab pertanyaanku, omong-omong. Jangan merubah arah pembicaraan, Noona, sejak dulu kautak berbakat dalam hal seperti ini.”

—pergelangan tangannya terlanjur di tarik, membuat si gadis mau tak mau kembali duduk di bangkunya.

Berdehem lantaran merasa canggung, Reyn kini tak mampu lagi bersikap seperti biasa. Jika mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu di mana mereka sempat mengikrarkan sebuah janji, ada sebagian perasaan bersalah karena ia terlanjur melupakan tanpa menganggapnya sebagai sebuah keseriusan. Hei, janji yang dibuat bocah berusia dua belas tahun apa sudah bisa di anggap serius?

Noona?”

“Hmm?”

“Kau baik-baik saja?”

Sebuah anggukan canggung yang Juho dapatkan.

“Jadi … kausudah memiliki kekasih, huh? Haha, it’s okay, janji yang kita buat jangan terlalu dibawa serius, toh saat itu kita masih bocah da—“

“Juho-ya, maafkan aku.”

Merasa satu titik di rongga dadanya mulai sesak, penyesalan pun terlontar.

“Reyn Noona, sungguh, aku tidak kenapa-kenapa. Kautak perlu merasa bersalah seperti itu. Waktu sudah berlalu sangat lama dan bukan kesalahanmu jika kini kautelah memiliki seseorang yang bisa melindungimu. Meski dulu posisi itu adalah mutlak milikku.”

Juho mengulas senyum. Melihat ekspresi Reyn yang tak seperti awal pertemuan, sang pemuda sadar ada beberapa kesalahan yang telah ia perbuat. Tapi mau bagaimana lagi? Juho sudah menyimpan semuanya selama lima tahun belakangan dan kini, ia mendapatkan kesempatan untuk bertemu setelah sekian lama, jadi pertemuan ini tak mungkin ia sia-siakan, bukan?

“Tak perlu merasa bersalah, karena … di sini akulah yang bersalah. Meninggalkanmu tanpa pamit bahkan tak sempat memberikan kabar lagi, pantas rasanya jika kini kautelah mendapatkan seorang pengganti. Setidaknya, bisa bertemu dengamu lagi adalah suatu kesenangan yang tak bisa kupungkiri.”

“Aku tidak memiliki kekasih, setidaknya … belum.”

Mendengar penuturan Reyn barusan, membuat raut wajah Juho menjadi berbinar. Entah karena ia merasa mendapat kesempatan lain agar bisa kembali dekat dengan si gadis atau karena ia memang ingin menunjukkan sisi dirinya yang baik-baik saja.

“Tapi ada seseorang yang aku sayangi dan itu … kurasa perasaan ini benar-benar perasaan yang sesungguhnya. Maksudku, dia … se—“

“Jika terlalu sulit untuk mengungkapkan, maka kautak perlu melakukannya.” Juho tersenyum. Tangan kanannya terangkat lantas mendarat di pucuk kepala Reyn dan mulai mengusak surai cokelat milik sang gadis dengan gemas. “Aku mengerti. Jadi tak perlu dilanjutkan lagi.

“Astaga, kau menggemaskan sekali, Noona! Aku in—“

Ya! Singkirkan tanganmu dari situ.”

Sebuah tepisan di terima Juho tiba-tiba lantas suara bernada judes menguar bersamaan. Serempak, kedua orang itu menoleh ke sumber suara dan mendapati seorang lelaki berdiri di sana dengan ekspresi wajah yang sulit dijelaskan.

“Kau siapa?”

“Kim Taehyung!”

Pertanyaan serta pekikan tertahan terlontar bersamaan. Juho kini mengerutkan keningnya bingung sedangkan Reyn memelototkan matanya galak.

“Jadi ini yang membuatmu lama, Park Reyn? Kau hampir membuatku mati kelaparan, tau! Ayo kita pulang!”

Menarik pergelangan tangan Reyn kelewat kuat, Taehyung tak lupa melayangkan tatapan sengit kepada si pemuda. Lewat sorot matanya, ia seakan berkata; hei-kau-jelek-jangan-coba-coba-menyentuh-gadisku-atau-kau-akan-kehilangan-salah-satu-jarimu!

“H-hei, tunggu sebentar. Dia orang yang kukenal, jadi kautak perlu sep—“

“Tidak ada tunggu-tungguan, ayo kita pulang!”

“Tapi kuemu ….”

“Lupakan soal kue, Park Reyn. Kubilang, ayo kita pulang.”

“Sebentar, ak—YA KIM TAEHYUNG!”

Jeritan menguar bersamaan dengan Taehyung yang mengangkat tubuh Reyn lantas meletakkannya di pundak. Mengabaikan pukulan serta teriakan dari si gadis, ia pun memulai langkahnya keluar dari gerai kue tersebut. Sedangkan Juho berhasil dibuatnya membeku di tempat tanpa berucap bahkan mengedipkan mata.

Tepat sebelum Taehyung menghilang dari sebalik pintu, ia kembali berbalik lantas berkata dengan lantang:

Don’t touch her. She’s mine!

Oh, Reyn rasa kini wajahnya sudah berubah semerah tomat. Bukan karena pernyataan yang baru saja terlontar dari bibir si gila Taehyung, melainkan karena kelakuan absurd sang pemuda yang membuatnya menjadi bahan tontonan.

Dasar Kim Taehyung gila! 

-Fin.

inspired by this pic:

3e2fe0fcb55be44d0ce4c68e4a9ec31b

  1. Another story ‘bout Taehyung dan Reyn kyaaa dan muncullah si orang ketiga /uhuk/ makanya kimtete cepetan dah ungkapin perasaannya sama ddrey dia kan lelah mas nungguin kamu ngomong etapi ga ngomong-ngomong. Musti gitu ddrey yang nembak kamu? /jangan woi/
  2. Dah, berarti yang mampir musti ninggalin jejak yasss ❤

-mbaay.

Advertisements

5 thoughts on “[Vignette] She’s Mine!

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s