[Ficlet] Storm in the Jupiter

j-hope

storm in the Jupiter

a ficlet by tsukiyamarisa; part of An Ode to Youth series 

BTS’ Jung Hoseok

750 words | AU, Life | 17

.

“Mereka memalingkan muka, mereka menuntut agar hanya keindahanlah yang ditampakkan.”

.

.

.

.

Ia tidak tahu, apakah rumahnya masih bisa disebut rumah.

Jung Hoseok menatap mereka semua dari sudut mata, kekesalan membayangi begitu saja. Jemari otomatis membentuk kepalan, tanda bahwa ia sedang menahan amarah itu untuk tak menyeruak keluar. Padahal, kalau mau jujur, memandangi rupa-rupa penuh tawa itu membuatnya muak setengah mati. Mereka dan ia, sekumpulan manusia yang sesungguhnya sedang berlaku pura-pura. Yang menutup-nutupi isi hati, agar orang lain yang melihat dari kejauhan menganggap bahwa segalanya baik-baik saja.

Baik-baik saja, huh?

Fuck it.

Bullshit.

Atau apa pun kata makian yang bisa Hoseok pikirkan, karena—demi Tuhan—tidak! Semuanya tidak baik-baik saja!

Nyaris menendang kursi yang tadi sempat ia duduki, sang lelaki lekas bangkit berdiri. Dengan sengaja dan sedikit mengentak-entakkan langkah berjalan menjauh, berusaha agar gendang telinganya tak menangkap apa yang dikatakan mereka. Namun, layaknya dunia yang memang tak akan pernah ada di dalam kendalinya, kali ini pun demikian.

“Laki-laki tapi sikapnya seperti itu. Payah.”

Oke, ia mendengarnya.

Ia bisa menangkap semua kata tersebut dengan amat baik, terima kasih banyak.

Sialnya, ia masih tidak tahu apa salahnya.

Tidak karena menurut Hoseok, ia sama sekali tak bersalah.

Mereka adalah keluarganya, atau begitu menurut Hoseok dulu kala dirinya masih duduk di bangku sekolah. Saat-saat ketika mereka semua teramat akrab, kala setiap obrolan terasa menyenangkan dan tanpa beban. Sesuatu yang Hoseok pikir akan terus bertahan, sampai sang lelaki pun akhirnya sadar bahwa hubungan antarmanusia itu tak semudah kelihatannya.

Keluarga, huh?

Ya sudah, tempelkan saja embel-embel itu pada dokumen registrasi kependudukan mereka atau apalah. Hoseok tak peduli. Mau dia ditendang keluar dan tidak dianggap sebagai keluarga pun, ia tak peduli. Mungkin, akan lebih baik jika seperti itu, bukan?

Setidaknya, ia tak perlu hidup bersama orang-orang yang mengaku bahwa mereka mengenal Hoseok dengan amat sangat baik.

Yeah, baik. Baik karena mereka hanya melihat dari kejauhan, karena mereka menganggap Hoseok adalah seorang lelaki yang akan selalu tersenyum. Yang memiliki jalan hidup jelas, yang akan senantiasa bahagia meski ada masalah menghadang. Yang mereka kira tak akan pernah rusak, tak akan pernah bertarung dengan batin yang bergejolak serta tangis ketakutan di kala dini hari menjelang.

Uh.

Maunya sih, Hoseok juga ingin hidup seperti itu.

Tapi, ia tidak seperti itu.

Kalian tahu planet Jupiter, kan? Nah, mungkin lebih tepat kalau kehidupan Hoseok digambarkan seperti planet raksasa yang satu itu saja.

“Egois, ya. Tapi kalau disuruh pun, aku tidak mau berkunjung ke sana.”

Menghela napas, Hoseok memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Kepala terdongak, seraya ia melangkah lamat-lamat di sepanjang gang tersebut. Meninggalkan rumah selalu menjadi caranya untuk mendinginkan kepala, untuk bersikap melankolis selama beberapa saat tanpa ada yang menghakimi. Dan malam ini, hampir serupa dengan malam-malam ketika ia dirundung perkara, Hoseok memilih untuk menghabiskan waktunya ditemani hamparan langit.

Langit yang kelam nan sepi; yang tengah menampakkan bulan bulat sempurna, satu hingga dua bintang, dan satu kerlip yang jauh lebih terang dibandingkan bintang-bintang lainnya.

Itu sang Jupiter, si planet kelima yang kini terasa bagai kawan.

Awalnya adalah ketidaksengajaan, ketika Hoseok tak sengaja membaca bahwa planet itu akan tampak di langit malam selama jangka waktu tertentu. Ia—terdorong oleh rasa penasaran—lantas mulai mencari-cari. Menemukannya dengan cukup mudah, kemudian malah termenung kala ia menyadari betapa indahnya si raksasa yang tak berbatu itu.

Hoseok bukan penggila astronomi, tetapi pengetahuannya juga tidak buruk-buruk amat. Paling tidak ia tahu bahwa Jupiter adalah planet yang mengerikan, yang tak akan pernah bisa dihuni dan dipenuhi oleh badai-badai dahsyat tak berkesudahan. Itu kata Namjoon dulu, serangkai pengetahuan yang belakangan ini sering berputar-putar di dalam benak Hoseok.

Bukankah ia juga seperti itu?

Bukankah hampir semua manusia seperti itu?

Dari jauh, ia terlihat memiliki kehidupan yang baik-baik saja. Yang penuh dengan senyum, yang selalu optimis, dan segala kata-kata positif lainnya. Orang-orang menerimanya jika ia sedang berpolah semacam itu; memasang topeng agar apa yang di dalam tidak terlihat, memberi jarak agar yang indah tetaplah dipandang indah.

Namun, ketika tiba saatnya bagi Hoseok untuk menunjukkan apa yang ada di dalam, untuk mengundang orang-orang agar maju lebih dekat, mereka merendahkannya. Mereka memalingkan muka, mereka menuntut agar hanya keindahanlah yang ditampakkan. Mereka yang dulu Hoseok sebut sebagai keluarga, yang ia pikir akan mengerti, tetapi ternyata tetap mempertahankan ego masing-masing.

Itulah, di atas segala masalah serta perkara, yang Hoseok jadikan alasan untuk bersikap seperti ini. Untuk terlihat membangkang, untuk mencari segala macam pelampiasan, untuk berhenti percaya pada orang-orang yang mengaku peduli.

Karena Jung Hoseok tahu bahwa ia sendiri, ia kesepian, ia terasing layaknya Jupiter yang berbadai di luar sana.

.

.

.

Dan karena Jung Hoseok juga tahu, bahwa itulah satu-satunya cara agar ia bisa bertahan.

.

fin.

Advertisements

2 thoughts on “[Ficlet] Storm in the Jupiter

  1. Fadhilah Septi

    Kreeennn.. suka bgt ma kata2.na… dalem bgt n kok bsa pas bgt yaw ma keadaan hoseokie skrg (hbs bca brta d FB n Tweet, hoppie d bully lg ma bbrpa army gk jlas)… yaw ampuunn.. jd kbawa… nih situasi.na ma kyk skrg siihh… ksian… huuaa my hoppie..

    Smngat trs yaw kak.. d tnggu FF2 lain.na… thanks..

    Like

  2. Pingback: [Challenge] An Ode to Youth – Chamber of Fiction and Fantasy

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s