BTS FF Freelance] Completed Love (Chapter 1)

vernew

Title : Complicated Love

Author : Neko Kuran, Suje

Main Cast : Jeon Jungkook, Yun Hyena

Genre : Romance, Comedy, School life

Rating : T

Length : 1/?

Disclaimer : Karakter bukan milik kami, tapi cerita milik kami. Jangan baper eaaa.

Warn : Typo(s), abal, karakter banyak dibully.

Gadis itu berjalan bersama keramaian, menapaki bandara sembari matanya melirik ke sana kemari, seolah sedang mencoba membiasakan matanya akan sesuatu. Ia telah menubruk dua laki-laki selama perjalanannya menuju pintu keluar yang entah sepanjang mata memandang belum tampak oleh matanya.

Dia memakai kaus bergaris dengan jaket yang diselempangkan di pinggang, rambutnya diikat tinggi ke atas dengan sebuah jepit untuk menahan poninya jatuh menuju mata. Dan mungkin, laki-laki sudah banyak yang memeliriknya. Level populeritas perdetik : A.

Ia menggaruk tengkuknya –tidak, tidak gatal kok. Hanya kebiasaan seperti yang orang lain lakukan saat kebingungan saja. Kemudian bersama wajahnya yang benar-benar gelisah –yang lebih seperti orang ingin menangis–, ia merogoh ke dalam tas biru yang terselempang di samping pinggang sembari tangan yang lainnya menggerek koper.

“Bu!”

Ia berteriak. Dan itu mengangetkan orang-orang –seorang laki-laki, jika ia tidak memikirkan bahwa yang berteriak itu adalah gadis, pasti sebuah pukulan sudah melayang. Wajah gadis itu begitu jengkelnya sampai terlihat seperti tomat yang benar-benar matang –busuk, mungkin.

“Kau sudah sampai, Hyena?”

“Bu! Tidak ada laki-laki tinggi tampan yang sedang menungguku di bandara untuk menjemputku seperti yang Ibu bilang!” ia mendumel, gadis yang dipanggil ibunya sebagai Hyena itu mengerucutkan bibirnya dan menoleh ke sana kemari untuk kembali memastikan kalau saja orang tinggi-tampan itu muncul entah dari mana.

“Mungkin dia sibuk, kau bisa naik taksi kan?”

“Huh,” Hyena memutar bola matanya, dilihatnya ada pintu keluar di depan sana, dan ia hanya bisa menghela napas begitu panjang. “Ya sudah, jaga kesehatan Ibu.”

Setelah mengatakan masing-masing satu kalimat ‘aku sayang padamu’, Hyena memutuskan telpon dan kembali berjalan.

“Permisi!”

Gadis itu berteriak. Dan kembali, ia menganggu para tetangga. Demi padatnya jalanan Seoul, dia baru sampai saat jamnya telah menunjukkan pukul sebelas.

“Permisi!” sekali lagi ia memanggil. “Apa pemiliknya sudah mati?”

Ia mendorong pintu di depannya dan melongok ke dalam pekarangan rumah, ia bisa melihat lampu di dalam rumah menyala jadi ia berlari kecil dan mengetok. Sial. Rumah sebesar ini tidak punya bel pintu.

“Permisi!” ia berteriak –lagi. “Pemilik rumah yang rumah tidak punya bel pintu, apa kau ada di dalam? Ada seorang gadis kedinginan di luar sini dan butuh dibukakan pintu. Sekarang.”

Tetap tidak ada jawaban. Jangan-jangan mati betulan. Membuat orang lain takut saja. Jangan-jangan orang yang membukakan pintu, adalah pembunuh berantai yang baru saja membunuh pemilik rumah. Ah, merinding.

“Permisi! Aku masuk,” Hyena mendorong pintu –yang kebetulan sekali tidak terkunci, jadi kakinya bisa langsung menjajaki lantai rumah dan ia bisa melihat langsung ruang tengah yang lampu gantungnya menyala.

“Permisi, aku Yun Hyena, anak Yun Daehwa. Ibuku bilang aku bisa tinggal di sini sementara waktu, ehm, halo? Ada orang?”

Sekarang dia jadi orang gila yang berbicara entah pada siapa.

Ia bisa mendengar suara televisi, ia juga mendengar seseorang sedang mengunyah. Apa itu pembunuhnya?

Ia melihat ada sebuah sofa di dekatnya, dan sebuah televisi yang menyala. Ada bunyi krauk-krauk yang menganggu. Ada seorang laki-laki yang duduk di sana. Dan ada saos tomat yang berceceran di lantai.

Saos tomat?

Tunggu.

Jangan-jangan …

“Darah?”

Tiba-tiba saja kepala yang sedang duduk menoleh, menatap Hyena begitu tajam. Sampai gadis itu tersedak oleh air liurnya sendiri.

“A-aku, aku …” Hyena menunjuk dirinya sendiri, hendak memperkenalkan diri, namun terlalu takut. Jangan-jangan memang pembunuh? “Maaf, kau pembunuh?”

Aduh.

Terus terang sekali.

Dan wajah orang yang ditanyai adalah seperti ‘apa maksud kau mengatakan itu?’ dan berubah menjadi seperti ‘aku benar-benar akan memukulmu jika kau berkata seperti itu lagi’ setelah beberapa saat.

“Bodoh.”

Nah lo, Hyena malah dibilang bodoh. Salah apa gadis itu.

“Tentu saja bukan.”

“Terus itu yang warnanya merang berceceran di lantai itu?”

“Itu saos tomat bodoh.”

“Jangan panggil aku bodoh. Aku kan hanya bertanya.”

“Memang bodoh, mana ada orang yang baru bertemu langsung bertanya apa ia pembunuh atau bukan.”

“Sudah kubilang aku kan cuma tanya!”

“Kenapa kau yang malah marah?”

Hyena yakin wajahnya yang kelewat manis itu telah turun kecantikannya menuju level paling bawah karena laki-laki bergigi kelinci di depannya ini kelewat mengesalkan pula.

“Kau yang harusnya menjemputku di bandara kan? Kenapa tidak datang?!”

“Aku malas.”

“Dasar gigi tonggos! Apa kau tidak ikhlas aku tinggal di sini?”

“Ini gigi kelinci, dilihat dari mana pun juga. Dan benar sekali, aku tidak ikhlas. Kembali sana ke habitatmu,” meledek dengan seenaknya, Hyena ingin sekali mengambil sepatunya di luar dan melemparkannya pada laki-laki ini –mana tahu, ketampanannya bisa berkurang, dan Hyena jadi bisa meledeknya.

“Enak saja, huh,” ia mencibir, kemudian ia berjalan ke sofa tempat laki-laki itu duduk, dan ikut menempatkan bokongnya di sana.

“Sedang apa kau?” yang laki-laki mengerutkan alis, makin tidak ikhlas saja ia. “Hush.”

Hyena sakit hati. Coba hitung, ia sudah dinistai berapa kali hari ini? Tidak ada yang menjemputnya di bandara, ia terjebak macet sialan, tidak ada yang membukan pintu untuknya, dan seorang laki-laki menyebalkan malah menyambutnya. Apanya yang tinggi-tampan? Dia malah terlihat seperti anak manja yang bergigi tonggos.

“Huh,” Hyena berdecih lagi, matanya berputar. Kemudian bersama rasa sakit yang melilit teramat sangat di perutnya, ia meringis.

Laki-laki itu sudah terlihat takut saja. “Kau … kau kenapa?”

“Ugh,” tangan Hyena makin menekan perutnya.

“Ayo ke rumah sakit.”

“Hah, bicara ap-”

“Ayo cepat!”

Laki-laki itu menarik tangan Hyena tergesa-gesa.

“Apa sih? Dasar gila.”

“Kau mau melahirkan kan?”

Hyena terdiam beberapa saat.

Tanda-tanda kehamilan :

  1. Perut membuncit
  2. Kaki dan tangan membengkak
  3. Dan yang pasti, perempuan seumurnya tidak bisa hamil secepat itu! Dia itu anak baik-baik.

“Kau gila. Aku lapar bodoh.”

Laki-laki tadi –ini sangat sulit mendeskripsikannya hanya dengan kata ‘laki-laki itu’– hanya bisa termenung sejenak. “Oh.”

Dan dia kembali duduk. “Tidak ada makanan.”

“Ayolah! Rumah sebesar lapangan fut- oh tidak, lebih besar dari lapangan futsal ini, masa tidak punya makanan? Kau pelit atau miskin sih?”

“Cari saja di kulkas.”

“Kulkasnya saja di mana aku tidak tahu,” Hyena melirik ke arah makanan di meja dekat sofa –ada tiga bungkus snack, satu kotak pizza yang kelihatannya masih hangat, dan sebotol cola. “Atau kalau kau mau berbagi makanan yang di sana, juga tidak apa-apa.”

“Hm,” dijawab dengan angkatan bahu, kemudian ia berdiri. “Ambil saja, aku mau ke kamar.”

Ah ya! Kamar.

“Ah, aku sekalian ingin bertanya, di mana kamarku?”

“Tidak tahu.”

“Apa?”

“Tidak tahu.”

“Serius?”

“TI-DAK TA-HU.”

Oke, sekarang Hyena yang mungkin menyebalkan. Tapi serius, masa tidak ada kamar untuknya. Di mana ia harus mengepak barangnya, di mana ia harus merebahkan diri, di mana ia harus tidur?

Orang tadi malah berjalan pergi di tengah kebingungan yang melanda si gadis polos ini. Jadi Hyena mau tidak mau mengejarnya –setelah mengambil sepotong pizza dan memasukkannya ke mulut.

Tidak terduga, laki-laki itu berjalan sangat cepat, sampai-sampai Hyena tidak bisa mengejarnya lebih cepat. Dan sebelum ia selesai menanjaki tangga lantai dua, laki-laki itu sudah masuk ke dalam ruangan.

“Hey!”

“Aku Jungkook by the way,” yang di dalam ruangan berseru ketika Hyena sudah sampai di puncak tangga.

Dengan tidak sabaran, gadis itu memutar knop dan membukanya dengan kasar.

“Aaaaaaaaaa!!!”

TUHAN

ADA ABS YANG TEREKSPOS DI DEPANNYA DENGAN BEBAS.

BUNUH. HYENA. SEKARANG.

“Bodoh! Pakai bajumu!”

“Aku memang mau pakai baju, dan berhenti memanggilku bodoh.”

Hyena tidak mendengarkan, ia kembali menutup pintu dengan sangat keras.

“Lagipula kenapa dia berteriak.”

Kan Jungkook yang diintip, bukan seperti gadis yang tadi mengintip.

.

.

TBC

.

.

Leave your lovely comments guys~

Advertisements

4 thoughts on “BTS FF Freelance] Completed Love (Chapter 1)

  1. You Got No Jams

    ANJIR GUE NGAKAK PARAAHH!! YANG SABAR AJA BUAT HYENA
    Btw, itu tulisan tbc nya bisa digeser gaa??kalo perlu ga usah ditulis menganggu mata *ngode* /najis//digeplak author-nim 😂🔫
    FIKS INI HARUS LANJUUTT!! BUAT CHAP INI ALURNYA LUCUUU!! Neext yaa kaak!!

    Like

  2. HyenaHan

    Serasa ada didalam ffnya karena namaku Hyena hohoho~ /digeplak armys/
    Seru juga ceritanya! Hyena enak banget, uda serumah sama Jungie, tiba-tiba kelihatan absnya Jungie. Kyaaa aku juga mau T.T wkke
    Next thorr

    Like

  3. Woww ngakak sumpah, kookie sejak kapan gigimu tonggos haha dan bodohnya hyena bilang kookie pembunuh, oh ayolah mana ada pembunuh seimut dan setampan kookie wkwkwk
    Cie cie hyena dapat rezeki nomplok, baru aja ketemu udah liat abs nya jungkook wkwk aku juga mau dong wks

    Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s