[BTS FF Freelance] Run (Chapter 5)

maru___run-copy

Title : Run

Author : Maru

Genre : friendship, family, crime

Cast :-Member BTS

-And others ….

Rating : PG -13

Leght : Chaptered

Disclaimer : Aku hanya memiliki cerita dan OC, selainnya bukan.

Credit : Poster by ChocoYeppeo @Indo Fanfictions Arts 

…………………………………………………………………………..

Youngjae menghentikan laju motornya di depan sebuah rumah yang dikelilingi garis polisi. Motor temannya, Yoongi sudah terparkir di depan rumah itu. Yoongi dan Youngjae masuk ke dalam halaman rumah itu melewati celah di bawah garis polisi. Mereka membuka pintu rumah itu dan masuk ke dalamnya.

“Akh, banyak debu di sini.” keluh Youngjae sambil mengibaskan tangannya di depan hidungnya.

Yoongi tidak peduli dengan debu-debu itu. Ia beranjak menuju tempat terjadinya pembunuhan itu. Ruangan itu masih tampak berantakan.

“Yak, Yoongi. Tak ada yang bisa kita temukan lagi. Bukankah kita dan yang lain waktu itu sudah menyelidikinya dengan sungguh-sungguh? Apalagi yang kurang? Sidik jari pada pisau itu hanya ada sidik jari Kim Seok Jin.” kata Youngjae.

Yoongi tidak mempedulikan temannya itu. Matanya masih menelusuri setiap sudut ruangan itu. “Apa kau masih mengingat apa yang terjadi saat itu?”

“Eh? Apa maksudmu?” Youngjae memiringkan kepalanya, tidak mengerti dengan pertanyaan Yoongi barusan.

“Saat Kim Seok Jin menelpon, apa yang dia katakan?”

“Hm … aku tidak yakin apa yang dikatakannya. Bukan aku yang mengangkat telponnya, Seungyeon yang mengangkatnya. Tapi kalau tidak salah, dia bilang bahwa dia baru saja membunuh eomma-nya dan dia merasa bersalah.” Youngjae menerawang ke langit-langit mengingat kejadian yang sudah cukup lama itu.

“Aneh.” gumam Yoongi. “Selama aku menjadi polisi, aku belum pernah mendapati seseorang melaporkan dirinya sendiri karena membunuh seseorang.”

“Maksudmu? Kau masih mau mengatakan Kim Seok Jin bukan pelakunya?”

Yoongi mengangguk mengiyakan. “Aku yakin itu bukan dia. Dia melakukannya hanya untuk melindungi Jungkook yang menyaksikan pembunuhan itu. Jika dia tidak melaporkan dirinya sendiri, maka Jungkook yang akan dijadikan tersangka. Bukankah begitu?”

“Tapi, Yoongi …. Sidik jari Kim Seok Jin terdapat pada pisau itu dan hanya sidik jari itu yang ada.” kilah Youngjae.

“Mungkin Kim Seok Jin menghapusnya. Dia sangat jago bermain dengan bahan kimia, barangkali ada cairan untuk menghilangkan sidik jari.” kata Yoongi.

Youngjae menautkan alisnya. “Apa? Dari mana kau tahu?”

Yoongi tersentak. “Ah … aku … aku bertanya pada warga.”

Youngjae menarik salah satu sudut bibirnya. “Oh, aku curiga denganmu. Apa jangan-jangan kau yang membunuh Kim Mi Joo?”

Yoongi membulatkan matanya. “Apa? Yak, Choi Young Jae! Jaga ucapanmu!”

“Eoh, kau membentakku, huh? Dengar, Yoongi, kau itu mencurigakan. Kau mengetahui banyak hal tentang keluarga Kim Seok Jin dan Jeon Jung Kook, bahkan kau pernah menyebut Kim Seok Jin dengan panggilan ‘hyung‘. Dan untuk apa kau mengikuti Jungkook malam itu? Apa jangan-jangan kau bekerja sama dengan pembunuh Kim Mi Joo?” terka Youngjae.

BRAKK

Yoongi memukul pintu di sampingnya dengan keras. “Apa maksudmu, huh?! Kau tidak akan mengerti, Youngjae. Sampai kapanpun aku tidak akan menjelaskannya padamu!”

Yoongi mendorong kasar tubuh Youngjae yang menghalangi pintu keluar. Yoongi langsung melangkahkan kakinya keluar dari rumah itu. Ia menaiki motornya dan bersiap pergi. Tapi tatapannya tiba-tiba saja terpaku ke arah halaman rumah itu. Beberapa kuntum bunga lily masih tampak berdiri di sana. Yoongi terdiam sejenak menatap bunga-bunga lily itu.

“Jika saja aku benar-benar dekat denganmu, aku tak akan pernah mempercayai penyataan namja itu. Maafkan aku.”

~o0o~

Entah ini sudah hari keberapa Jungkook berada di rumah sakit, tapi hari ini merupakan hari yang membuat Jimin senang karena Jungkook sudah boleh pulang. Luka di kepala sudah sembuh, tapi memori Jungkook belum kembali. Dan hampir setiap hari, bunga lily di ruangan Jungkook selalu terganti dengan bunga lily yang masih segar. Jungkook mengatakan kalau namja itu hanya tersenyum ke arahnya ketika mengganti bunga lily itu. Namja itu tidak pernah mengucapkan sepatah katapun, kecuali saat ia sadar untuk pertama kalinya di rumah sakit itu.

Jimin melangkahkan kakinya sambil bersenandung pelan ke arah halaman rumah sakit. Hari ini dia meminta izin untuk pulang lebih awal karena ingin menemani Jungkook. Langkah Jimin tiba-tiba terhenti ketika melihat sesosok namja yang tengah duduk terdiam di atas sebuah motor hitam. Namja itu, namja yang pertama kali mengatakan kepadanya kalau Jungkook kehilangan ingatan. Apakah itu namja yang mengganti bunga lily di ruangan Jungkook?

Jimin pun berjalan mendekati namja itu. “Permisi. Apa kau … namja yang waktu itu?”

Namja itu tampak terkejut. “Ah, kau … Park Ji Min?”

“Ya, aku Park Ji Min. Kau mengenalku?” tanya Jimin.

“Eum … bisakah kita berbicara sebentar?”

Jimin menautkan alisnya. “Eoh, baiklah.”

Namja itu mengambil sesuatu dari motornya. Seikat bunga lily. Namja itu mengajak Jimin untuk pergi ke taman rumah sakit. Namja itu duduk di bangku taman yang disediakan di sana. Jimin pun duduk di sebelahnya sambil menatap namja itu bingung.

“Aku … Min Yoon Gi. Aku lebih tua dari kau, jadi sebaiknya kau memanggilku hyung.” ujar namja itu memulai pembicaraan. “Kau teman kecil Jeon Jung Kook, kan?”

“Ya … aku teman kecilnya. Dari mana hyung tahu?” tanya Jimin.

Namja itu tersenyum misterius. “Belakangan ini, aku sedang memata-matai Jungkook.”

“Oh, jadi hyung yang membawa Jungkook ke sini? Terima kasih, hyung. Jika hyung tidak mengikuti Jungkook waktu itu, Jungkook mungkin sudah tidak berada di dunia ini lagi.” ujar Jimin sambil menyunggingkan senyumannya.

“Hm … apa kau tahu tentang kasus Kim Mi Joo?” tanya Yoongi.

Senyuman Jimin langsung menghilang ketika mendengar nama eomma Jungkook. “Ya …. Aku mengetahui tentang itu.”

“Bagaimana menurutmu?”

“Eum …. Aku benar-benar kasihan dengan Jungkook. Tapi aku masih tidak peraya kalau Seokjin Hyung membunuh eomma-nya sendiri walau sudah ada buktinya.” Jimin menundukkan kepalanya.

“Kau teman dekat Jungkook, kan? Apa kau mengetahui kejadiannya?”

Jimin menggeleng. “Malam itu, Jungkook datang ke rumahku dengan mata yang memerah karena ia terus menangis. Ia tidak mau mengatakan apapun ketika aku dan eomma bertanya padanya, jadi kami pikir mungkin dia kelelahan. Eomma menyuruh Jungkook untuk beristirahat saja.” cerita Jimin.

“Keesokan paginya, berita tentang pembunuhan itu menyebar. Awalnya aku tidak percaya Seokjin Hyung membunuh eomma-nya. Aku bahkan berniat pergi ke kantor polisi untuk menyangkal tuduhan itu. Tapi setelah buktinya ditemukan, aku tidak bisa berkata apa-apa lagi.” lanjutnya.

“Lalu apa Jungkook mengetahui berita ini?” tanya Yoongi.

“Ya. Awalnya aku kira dia masih tertidur. Tapi ternyata dia mendengarkan berita itu dari kamarnya. Tiba-tiba dia berteriak dan mengatakan kalau itu bukan perbuatan hyung-nya. Aku benar-benar bingung waktu itu. Buktinya sudah ada, tapi Jungkook tetap mengatakan kalau itu bukan hyung-nya.” terang Jimin.

“Apa dia memberi tahu pelakunya?”

Jimin menggeleng. “Dia tidak mengatakan siapa pelakunya, tapi dia tetap bersikeras kalau itu bukan perbuatan hyung-nya.”

“Oh, aku mengerti.” ucap Yoongi. “Ah, boleh aku meminta bantuanmu? Tolong berikan ini kepada Jungkook.” Yoongi memberikan seikat bunga lily yang ia pegang sejak tadi

Jimin mengambil bunga lily itu dari tangan Yoongi. “Apa hyung yang selalu mengganti bunga lily di ruangan Jungkook?”

“Ya, itu aku.” jawab Yoongi.

“Kenapa?”

“Itu permintaan Tuan Jeon. Kim Mi Joo sangat menyukai bunga lily.” balas Yoongi.

“Apa? Apa Paman Jeon ingin ingatan Jungkook kembali? Tapi … bukankah lebih baik dia tidak mengetahui kejadian itu?” tanya Jimin.

“Aku juga berpikir begitu. Tapi Tuan Jeon itu appa-nya, Tuan Jeon pasti lebih mengerti tentang Jungkook dibanding kita. Kalau begitu, aku ingin pergi. Terima kasih atas waktunya.” Yoongi bangkit dari bangku taman itu dan bersiap pergi.

“Tunggu!”

Yoongi menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Jimin.

“Apa yang harus kukatakan jika Jungkook menanyakan siapa yang memberi bunga ini?” tanya Jimin.

“Katakan saja, itu dari eomma-nya.” sahut Yoongi.

“Tapi aku tidak ingin berbohong.”

“Aku mengambilnya dari halaman rumah Jungkook. Itu milik eomma-nya, kan?”

Jimin terdiam sejenak. “Eum … benar juga.”

“Baiklah. Sampai berjumpa lagi!” Yoongi melangkahkan kakinya menuju tempat motor hitamnya diparkir.

Jimin masih menatap Yoongi yang mulai menjauh. “Min Yoon Gi? Rasanya aku pernah mendengar nama itu. Tapi di mana?”

~-~

Sejak keluar dari halaman rumah sakit, Jungkook terus memperhatikan gedung-gedung di sekitarnya. Sementara Jimin yang duduk di sebelahnya hanya melihat Jungkook sambil sesekali tersenyum. Jungkook benar-benar tampak seperti seseorang yang tidak pernah tinggal di Korea.

“Jimin,” Jungkook tiba-tiba mulai berbicara sambil menolehkan wajahnya ke arah Jimin. “Kau bilang aku hilang ingatan, kan?”

“Oh?” Jimin sedikit ragu untuk menjawab. “Ya … dokter bilang seperti itu.”

“Hm …. Kalau begitu, aku orang yang seperti apa? Apa aku pendiam? Periang? Atau pembuat onar?” tanya Jungkook sambil menatap Jimin meminta jawaban secepatnya.

“Kau orang yang periang, Jungkook. Kau juga pintar. Guru-guru selalu memilihmu untuk mewakili sekolah kita dalam berbagai perlombaan. Kau orang yang mudah bergaul. Dan kau juga jago bermain basket, kau ingat?”

Jungkook menggeleng. “Tidak sama sekali. Aku tidak ingat aku tinggal di mana, seperti apa wajah orang tuaku, sekolahku sebesar apa. Aku tidak ingat.”

“Tak apa, Jungkook. Aku dan Taehyung akan membantumu.” kata Jimin.

Jungkook tersenyum simpul. “Terima kasih, Jimin.”

Eomma Jimin -yang mengendarai mobil itu- melirik kegiatan kedua anak itu. Matanya mendadak berkaca-kaca. Kehidupan yang dilalui Jungkook rasanya benar-benar sulit. Jika eomma Jimin yang berada di posisinya, ia belum yakin bisa tetap tersenyum seperti Jungkook.

Mobil itu berhenti di depan sebuah rumah. Rumah keluarga Park. Jimin mengambil tas Jungkook dan mengajaknya untuk masuk. Jungkook memperhatikan setiap sudut rumah itu. Tak ada satupun memori tentang rumah ini yang tertinggal di otaknya. Jimin langsung mengajak Jungkook masuk ke kamar tamu yang sekarang menjadi kamar Jungkook.

Jimin meletakan tas Jungkook di atas kasur. “Nah, ini kamarmu.”

Jungkook mengedarkan pandangannya. Gerakannya terhenti ketika matanya menangkap kalender yang tergantung di sebelah cermin.

“Hm. Apa maksudnya lingkaran ini?” tanya Jungkook sambil menunjuk lingkaran pada salah satu tanggal di kalender itu.

“Oh, itu. Itu adalah hari di mana Jungkook Si Rajin berubah drastis. Kau bangun kesiangan, dihukum lari mengelilingi lapangan dan membolos setelah jam istirahat.” kata Jimin.

“Benarkah aku melakukannya?” tanya Jungkook lagi sambil terkekeh pelan.

“Ya. Dan itu adalah hari yang menyebalkan bagiku karena aku ikut terkena hukumannya.” gerutu Jimin.

“Maafkan aku kalau begitu. Tapi … apa yang terjadi hari itu?”

“Entahlah, kau yang memulainya.” sahut Jimin. “Akh, aku lapar. Cepat rapihkan barang di tasmu dan nanti kita akan makan bersama.”

~o0o~

Jungkook menghentikan langkahnya di depan gerbang sekolah. Matanya berkeliling memperhatikan gedung besar nan megah ini. Jimin yang berjalan di depannya hampir saja tidak menyadari bahwa Jungkook sudah tidak ada di sebelahnya jika seorang temannya tidak meneriaki nama Jungkook. Jimin pun berbalik dan langsung berlari mendekati Jungkook bersama temannya yang berteriak tadi.

“Jungkook, kenapa kau berhenti di sini?” tanya Jimin.

Jungkook mengalihkan perhatiannya. “Eum … tidak, tidak apa-apa.”

“Yak, Jungkook! Kau sudah sehat?” tanya orang yang berdiri di sebelah Jungkook.

“Ya, aku sudah sehat, Taehyung.” balas Jungkook sambil tersenyum.

“Eoh, maafkan aku karena hanya menjengukmu satu kali. Hei, ayo kita ke lapangan basket! Yang lain sudah menunggu!” seru Taehyung bersemangat sambil menarik lengan Jungkook.

“Yak! Kau melupakan aku!” teriak Jimin.

Taehyung menoleh kebelakang dan menjulurkan lidahnya. “Aku hanya ingin mengajak Jungkook. Kau pergi saja sendiri. Wekk!”

“Cih, awas kau, Kim Tae Hyung.” Jimin mengepalkan tangannya kesal.

Sementara itu Taehyung dan Jungkook sudah sampai di lapangan basket indoor. Tiga namja di dalam sana tampak tengah asyik memainkan sebuah bola oranye.

“Teman-teman, Jungkook di sini!” seru Taehyung.

Ketiga namja itu menghentikan permainan mereka dan menoleh. Mereka tersenyum lebar kemudian berlari mendekati Jungkook.

Aigoo, Jungkookie! Kemana saja kau?”

“Jungkook, kau baik-baik saja, kan?”

“Ayolah, cepat kita bermain basket. Aku ingin bermain basket denganmu!”

Jungkook menatap heran ketiga namja itu. Ia sama sekali tidak mengingat ketiga namja itu. Taehyung tampaknya menyadari hal itu dari raut wajah Jungkook. Taehyung pun memperkenalkan mereka seakan-akan mereka baru bertemu.

“Jungkook, mereka anggota basket di sini. Ini Sanghyuk, Youngjoo dan Jiwoo.”

Jungkook terdiam sejenak kemudian membungkukkan tubuhnya. “Namaku Jeon Jung Kook.”

Ketiga namja itu tampak kebingungan melihat sikap Jungkook. Taehyung langsung memberi isyarat untuk mengajaknya bermain basket. Ketiga namja itu menuruti permintaan Taehyung walaupun mereka masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Keempat namja itu pun langsung bermain basket bersama, sementara Taehyung berbalik dan pergi keluar mencari Jimin.

Baru saja Taehyung hendak berbelok, seseorang menarik kerah bajunya dari belakang dan membuatnya tercekik.

“Akh, lepaskan!” seru Taehyung.

Orang yang menggenggam kerah Taehyung melepaskan tanganya. “Di mana Jungkook?”

Taehyung membalikkan tubuhnya. “Dasar kejam! Kau hampir membunuhku, Park Ji Min!” hardiknya sambil mengelus lehernya.

“Apa? Membunuhmu? Yak, aku hanya menarik kerahmu, bodoh!” balas Jimin sembari menjitak pelan kepala Taehyung.

“Yak! Kau menyebutku bodoh?!”

“Ya, karena kau memang bodoh.”

Taehyung menggertakan giginya. Dengan cepat ia langsung mendekati Jimin dan menggelitikinya dari segala arah yang mampu dijangkaunya. Jimin mencoba melepaskan diri dari Taehyung, namun tampaknya Taehyung lebih kuat dari pada Jimin sehingga Jimin gagal meloloskan diri.

“Akh, Taehyung, berhenti!”

“Aku tidak akan berhenti sebelum kau menarik ucapanmu!” Taehyung masih terus menyerang Jimin.

“Oke, oke. Kau tidak bodoh. Akh, cepat berhenti!” Jimin akhirnya menyerah.

Taehyung menghentikan serangannya. “Nah, sebaiknya kau mengakui itu dari awal!”

Jimin mencoba mengatur nafasnya yang memburu akibat serangan Taehyung. “Di mana Jungkook?”

“Sedang bermain basket dengan yang lain.” kata Taehyung. “Hei, Jimin. Apa ada perkembangan dengan memorinya?”

“Soal itu … entahlah. Tapi aku rasa sekarang ia menyukai bunga lily.” jawab Jimin sambil mengambil tasnya yang terjatuh tadi.

“Huft. Lalu bagaimana dengan Seokjin Hyung?”

Jimin menjentikan jarinya tepat di depan mata Taehyung. “Ada yang ingin kubicarakan tentang itu. Ikut aku!” Jimin langsung melangkah pergi.

Taehyung masih terpaku di tempatnya akibat jentikan jari Jimin yang mengagetkannya. “Dia benar-benar menyebalkan.”

~o0o~

“Oh, jadi begitu ….” gumam Taehyung setelah Jimin menceritakan pertemuannya dengan Yoongi di rumah sakit waktu itu.

“Tapi … rasanya aku pernah mendengar nama itu. Min Yoon Gi. Aish, di mana aku mendengarnya?” Jimin mengacak-acak rambutnya frustasi.

“Jadi … Seokjin Hyung bukan pelakunya?” tanya Taehyung.

Jimin mengangkat kedua bahunya. “Aku tidak bisa memastikan itu. Kita tunggu saja berita dari kepolisian.”

“Huft. Seokjin Hyung pasti merasa kesepian saat ini.” ujar Taehyung pelan. “Bagaimana jika kita menceritakan tentang Seokjin Hyung kepada Jungkook?”

PLAKK

“Akh, sakit! Kenapa kau memukulku? Apa salahku?” protes Taehyung sambil mengelus kepalanya yang baru saja menjadi korban pukulan Jimin.

“Kau ini bodoh atau apa? Bagaimana jika ingatan Jungkook kembali dan dia menjadi depresi? Tidakkah dia terlihat lebih ceria sekarang?” cerocos Jimin.

“Eung … benar juga.”

“Sudahlah. Sebaiknya kita segera menyusul Jungkook. Aku ingin bermain basket.”

~o0o~

Beberapa hari yang lalu ….

Junki memasuki gedung besar yang sering dikunjunginya itu. Ia berbincang dengan petugas sebentar kemudian menandatangani buku yang diberikan petugas itu. Petugas itu menyuruh rekannya untuk membawa Junki ke sebuah ruangan. Junki duduk di kursi yang di sediakan di ruangan itu. Tak lama kemudian sesosok namja masuk ke ruangan di sebelahnya bersama seorang petugas.

A-appa. Jungkook di mana?” tanya namja itu.

“Dia sedang banyak urusan di sekolahnya. Dia memintaku untuk menyampaikan permintaan maaf kepadamu karena tidak bisa mengunjungimu.” ujar Junki berbohong walau sebenarnya ia tidak ingin melakukannya. Tapi jika ia mengatakan yang sesungguhnya, maka ia yakin namja ini akan benar-benar depresi.

“Begitukah?” balas namja itu lemah.

“Apa yang terjadi denganmu? Kau tampak sangat pucat dan kurus, Seokjin. Apa petugas tidak memberimu makan?” tanya Junki khawatir melihat anak angkatnya itu benar-benar terlihat seperti mayat hidup.

Seokjin menggeleng. “T-tidak. Hanya saja aku masih memikirkan Jungkook. Apa dia benar-benar baik-baik saja?”

“Ya, ya, dia baik-baik saja. Dia akan mengikuti pertandingan basket antar sekolah dalam waktu dekat. Kau tak ingin membuatnya khawatir saat dia mengunjungimu lagi, kan? Itu artinya kau juga harus dalam keadaan yang baik juga. Jungkook pasti sedih melihat kau dalam keadaan seperti ini.” kata Junki.

Seokjin tersenyum tipis. “Jika saja aku tidak berada di dalam sini, aku pasti akan pergi melihat pertandingan Jungkook.”

Junki membalas senyuman Seokjin. “Seokjin, apa yang kau sukai?”

“Aku? Memangnya ada apa?”

“Tidak ada apa-apa, aku hanya bertanya. Mungkin aku bisa mendapatkannya untukmu jika kau sudah keluar nanti.” kilah Junki.

“Hm … tapi appa jangan tertawa.” ujar Seokjin. “Aku suka boneka Mario.”

“A-apa?” Junki hampir saja tertawa. Namja seumuran Seokjin masih menyukai boneka rupanya.

Seokjin yang mengetahui Junki hendak tertawa memajukan bibirnya. “Aku, kan, sudah mengatakan untuk tidak tertawa.”

Junki benar-benar tertawa sekarang. “Ahahaha …. Maaf, maaf. Apa Mijoo tahu tentang ini, hm?”

“Tahu. Eomma hampir selalu memberikan boneka Mario pada hari ulang tahunku.” kata Seokjin.

“Apa Jungkook tahu tentang ini?”

“Ya, Jungkook juga. Tapi dia selalu mengejekku tentang itu.” ucap Seokjin.

“Oh, jadi tidak apa, kan, jika aku tertawa juga? Hahaha ….” Junki tertawa cukup keras saat itu.

“Aish, appa!” gerutu Seokjin kesal. “Aku masih ingin bertanya lagi. Apa Jungkook benar-benar tidak apa-apa? Kenapa ia tidak mengunjungiku lagi?”

“Sudah kubilang, dia banyak urusan di sekolahnya. Tenang saja. Dia masih hidup, kok.” tukas Junki tanpa mengubah ekspresinya agar Seokjin tidak menganggap ucapannya barusan sebuah kebohongan. “Tersenyumlah. Jungkook pasti sedih melihat keadaanmu yang seperti ini.”

Seokjin terdiam sejenak, kemudian ia tersenyum tipis, meyakinkan dirinya bahwa Jungkook benar-benar baik-baik saja.

~To Be Continue~

Advertisements

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s