[Chapter 5] The Prince of Vesperia and His Aide

Vesperia
The Prince of Vesperia and His Aide

.

BTS’s Kim Seokjin as Killian | BTS’s Min Yoongi as Fyre

BTS’s Park Jimin as Alven | SHINee’s Lee Taemin as Erden

OC’s Icy

.

Kingdom!AU, friendship, family, fantasy | chaptered | Teen

.

inspired by anime (Snow White with The Red Hair & The World is Still Beautiful)

beautiful poster by tsukiyamarisa (Amer) 

.

Where’s the message?

.

Ketika Killian membuka mata, kegelapan berselimut dingin di tengah hutan Hoogland tersuguh di hadapannya. Hanya desing kesunyian tertangkap telinga yang kemudian terdengar keresak samar di kejauhan. Setitik cahaya mulai tampak diiringi deru napas menggebu. Killian masih tak bisa berkutik saat dua pasang kaki berderap ke arahnya dengan jemari saling bertaut dan gurat wajah ketakutan berlumur keringat menghiasi.

Keduanya melewati Killian begitu saja seakan abai pada presensinya. Sekilas, wajah-wajah itu terlihat di keremangan cahaya. Mengikuti, Killian yang kini bisa mengendalikan tubuhnya, menggerakan tungkai secepat mungkin. Tunik putihnya tercabik ranting semak, menggores kulit lengan hingga merahnya darah mucul di permukaan. Perih tak lagi terasa. Luka ini tak seberapa jika dibandingkan dengan luka memar juga lelahnya kaki mereka yang terus berlari menghindari kejaran.

“Jangan….” Killian menggumam seorang diri. Tangan terulur berusaha menggapai jemari mungil di depannya, namun sia-sia belaka. Dua orang itu tersungkur; sang gadis kecil menggantung di bibir jurang, kaki yang kini tak beralas menendang-nendang udara, air mata membasahi wajah melihat lelaki yang masih menggenggeam erat tangannya meringis menahan sakit.

Jill—”

Aku baik-baik saja, Icy.” Seulas senyum lemah itu diberikan. Berusaha menenangkan kendati ia tahu orang-orang yang mengejar mereka semakin mendekat. Sebuah panah meluncur, Jillian tak mengacuhkan panah yang menancap di paha kanannya, dan ia mencoba menarik Icy. Namun, permukaan tanah bersalju di bawah separuh tubuhnya perlahan runtuh. Menimpa kepala Icy di bawah sana hingga gadis cilik bergaun biru yang telah lusuh itu hilang kesadarannya. “Icy, sadarlah! Icy!

Killian tak kuasa membantu. Tubuhnya kembali kaku bagai batu. Ia hanya dapat mengamati bagaimana Jillian yang sontak menoleh saat derap langkah mulai terdengar. Abai, Jillian kembali melihat Icy yang masih tak bergerak sebelum lelaki itu memejamkan kelopaknya erat. Denyut jantung Icy masih terasa di genggaman, namun Jillian harus merelakannya. Berharap ketebalan salju di dasar jurang mampu menyelamatkan si gadis cilik dari benturan langsung dengan tanah berbatu.

Maafkan aku, Icy.”

Terisak, Jillian menyaksikan tubuh si kecil Icy tenggelam di kegelapan jurang. Dan saat ia berbalik, seorang pria bertudung hitam melepaskan dua anak panahnya sekaligus, mengujam tepat di jantung sang pangeran pertama Vesperia.

Killian membuka mulutnya namun tak ada suara teriakan yang keluar. Air mata terus bergulir menatap kakak laki-lakinya mengerang kesakitan. Belum lengkap keterkejutannya, dua pasang manik kakak-beradik itu saling pandang. Lagi, Jillian mengukir senyumnya. Sebelum mata itu terpejam untuk selamanya, sebaris kalimat sempat ia suarakan.

.

Berjanjilah kamu akan menjaga Icy untukku, Killian.”

.

.

.

Killian terbangun dari tidurnya. Kisah kelam itu bukan kali pertama bertandang ke dalam mimpinya. Tidak, Killian tidak berada di sana ketika kejadian itu terjadi. Mungkin Jillian sengaja menyampaikan memori miliknya kepada Killian tentang saat terakhir kebersamaannya bersama si kecil Icy. Bukan suatu perpisahan yang apik mengingat Icy tak menyadari bahwa ia telah kehilangan seseorang yang begitu berharga dalam hidupnya, pun yang telah menyelamatkannya secara tak langsung.

Icy ditemukan keesokan paginya. Beruntung ia dapat bertahan di tengah cuaca dingin meski ia mengalami hipotermia yang sangat parah. Tertidur selama satu minggu penuh, Icy terbangun dengan ingatannya yang hilang. Sejak saat itu, Trevor membawa Icy dan Erden pergi dari Vesperia. Menjauhkan sang gadis yang baru menginjak usia sepuluh tahun itu dari kenangan buruknya dan menyembunyikan fakta bahwa kedua orang tuanya meninggal karena menyelamatkan keluarga kerajaan, terutama Killian.

“Maaf,” bisik Killian pada potret dua dimensi Jillian dan Icy yang ada di dalam bandul kalung yang melingkar di lehernya. Kalung yang sama seperti yang dimiliki sang kakak. Namun, kalung itu tak ada saat mereka menemukan jasad Jillian di hutan, pun di kamarnya.

.

.

“Kamu masih menyimpannya, Kak?”

Menoleh, Icy mengedikkan bahu sebagai jawab atas pertanyaan Erden. Lelaki itu sengaja berkunjung ke kamar Icy untuk menemani sang kakak berlatih pedang di pagi buta, sembari menunggu burung pengantar pesan yang telah dikirimkan Icy kemarin malam kepada Rhea. Usai berlatih pedang, keduanya duduk bersandar di langkan—Erden yang mengudap roti gandum sementara Icy membersihkan lima belati peraknya.

“Kamu ingat benda itu?” tanya Erden lagi.

Kali ini Icy menggeleng. Sekeras apa pun ia mencoba mengingat, Icy tak bisa menemukan jawab atas kuriositasnya. Benda bulat mengilap yang memiliki pahatan huruf J di permukaannya ini selalu ia bawa meski Icy tidak tahu asal-usul mengapa ia bisa memilikinya. Kata Erden, bukan orang tua mereka yang memberikan. Lalu siapa?

Kembali menyimpan benda itu di balik bajunya, Icy bangkit berdiri. Mengulurkan tangan pada sang adik sembari berujar, “Ayo, Er. Aku harus memulai tugasku sebentar lagi.” Sekilas kejadian semalam terputar, tak sadar kedua ujung bibir sang gadis berjungkit naik. Membuat kening Erden mengernyit dan manik menyipit curiga menatap perubahan raut wajah kakak perempuannya. “Kenapa kamu melihatku dengan ekspresi macam itu?”

“Sepertinya kamu mulai menyukai pekerjaanmu, Kak. Atau….”

“Atau apa, huh?” Menghindari tatap selidik dari Erden, Icy berjalan cepat memasuki kamarnya. Mulai memakai jubah khas kerajaan Vesperia dan merapikan tatanan rambutnya, Icy berpolah abai meski nyatanya jantung sang gadis berdegup kencang. Terlebih, ujung telunjuk Icy tertusuk jarum dari lencana emas yang akan ia kenakan ketika Erden mengatakan….

“Kamu menyukai Killian?!”

“Tidak!” jawab Icy spontan. Tak acuh pada lencana emasnya yang belum tersemat sempurna, Icy menarik ujung tudung jubah Erden dan menyeretnya keluar kamar. “Sana pergi. Trevor pasti merindukanmu.”

.

.

Seperti bukan tipikal Killian yang selalu rapi dan tepat waktu, alih-alih duduk menunggu aide-nya untuk menyesap teh hangat bersama, Killian masih berkutat di depan cermin. Torehkan senyum tipis kala melihat pantulan Icy yang berjalan mendekat sebelum kembali sibuk merapikan tunik putihnya. Di sofa di samping cermin, tersampir jubah berwarna senada dengan pinggiran merah marun yang akan dipakai Killian. Tak hanya penampilannya yang belum siap, manik Icy menangkap selimut putih sang pangeran yang masih berantakan.

“Kau kesiangan, Pangeran?” tanya Icy di sela kegiatannya melipat selimut Killian. Tak ada gerutuan karena bagi Icy menyibukkan diri seperti ini lebih baik daripada harus berlama-lama berdiri di dekat Killian. “Aku akan membawa selimut ini untuk dicuci.”

“Tidak perlu,” sahut Killian yang kini bersusah payah menyematkan bros berlambang Vesperia di pundak kanannya. Tetap memfokuskan pada pantulannya di cermin, Killian berujar, “Sebaiknya kau sarapan dulu karena kita akan sibuk seharian ini. Sebentar lagi—”

“Sini aku bantu.”

Mendengus, Icy menyambar bros emas itu dari tangan Killian. Mengisyaratkan lelaki itu untuk menghadapnya sebelum menata ulang letak ujung jubah sang pangeran. Abaikan jarak mereka yang begitu dekat, pun jantung yang keras berdetak, Icy memusatkan maniknya ke arah pundak Killian. Sedikit berjinjit dan dalam hitungan detik, bros itu telah terpasang.

Melihat hasil kerja ringannya itu, Icy tersenyum bangga. “Nah, sudah selesai. Ayo, kita sambut para tamu undangan.”

Killian tersenyum. “Terima kasih, My Aide.”

“Oh, diamlah.” Icy memutar bola matanya sebelum berjalan cepat keluar kamar.

.

.

Sejak beberapa hari yang lalu, seluruh penghuni istana disibukkan oleh persiapan menyambut pesta ulang tahun raja Vesperia yang akan dilaksanakan esok hari. Lachlant tidak mempersiapkan pesta yang terlalu besar. Hanya kerabat dekat dan dua utusan dari tiga kerajaan tetangganya yang ia undang yang akan datang hari ini.

Tepat ketika Killian dan Icy sampai di dekat pintu masuk istana, gerbang kayu itu membuka. Tampilkan sebuah kereta kuda berwarna putih dengan ukiran daun-daun hijau di sekelilingnya dan seorang lelaki berkuda di sampingnya yang dikenal Icy sebagai pengawal pribadi—

“Putri Lucy?!” Sontak manik Icy membola ketika dilihatnya seorang gadis dengan gaun sederhana namun tampak anggun itu keluar dari kereta kuda dibantu oleh pengawal pribadinya. Perlahan berjalan menghampiri, Putri Lucy menoreh senyum yang begitu manis di wajah cantiknya. “Beruntung sekali pria yang nantinya akan menikahi Putri Lucy,” gumam Icy.

Killian mendengar ucapan lirih aide-nya. Menoleh, ia mendapati manik Icy yang belum lepas dari memandangi sang putri dari kerajaan Meridies itu dengan penuh kekaguman. Kehadiran Lucy memang selalu membuat orang-orang terpesona. Tak terkecuali Killian, dulu saat kali pertama mereka bertemu di sebuah jamuan makan malam di istananya. Dilihat dari sisi mana pun, Lucy memang tampak sempurna. Penampilannya sederhana namun auranya bisa memikat manik setiap orang untuk terus menatapnya.

“Kalau aku seorang—”

“Bagaimana jika aku yang kelak menjadi suaminya?” tanya Killian.

Icy menoleh cepat. Sekian detik mereka bersitatap tanpa sedikit pun suara yang terucap. Icy terlalu terkejut mendengar pertanyaan Killian. Cemburu? Ya, mungkin bisa dikatakan begitu. Tapi, agaknya Icy harus tahu diri kalau ia sangat tak pantas merasakan hal demikian. Killian dan Lucy bisa menjadi pasangan yang cocok. Vesperia dan Meridies bisa menjadi satu kerajaan yang luar biasa besar dan makmur dengan segala kekayaan alam yang mereka miliki.

Jika memang Killian dan Lucy akan menikah nantinya, bukankah seharusnya Icy patut merasa bahagia? Lucy telah membantunya satu tahun lalu dan Killian… waktu yang terbilang sangat singkat dapat menjadi pengawal pribadinya, telah menorehkan beberapa kenangan yang pantas diingat.

Tanya itu berujung tanpa jawab. Icy lekas memalingkan wajahnya ketika Killian mengecup singkat punggung tangan sang putri sebagai ucapan salam saat Putri Lucy sampai di hadapan mereka. Keduanya lantas beriringan memasuki istana. Icy dan Axel, pengawal pribadi Putri Lucy, megikuti di belakangnya. Mereka terus berjalan menyusuri koridor hingga sampai di sebuah rumah kaca di belakang istana.

Terdapat berbagai macam bunga berwarna-warni juga tanaman obat-obatan di dalam rumah kaca itu. Tempat yang cocok untuk menyesap teh hangat dan mengobrol santai bersama. Ada sebuah meja dan dua kursi saling berhadapan di tengah ruangan. Di atas meja tersebut telah tersedia kudapan, teko berisi teh hangat, dan dua cangkir. Killian menuntun Lucy memasuki rumah kaca, sedangkan Icy dan Axel menunggu di pintu masuknya.

Melihat bagaimana Killian selalu tersenyum kala Lucy berbicara, membuat rasa aneh itu kembali datang. Icy mengeratkan genggaman pada gagang pedangnya. Berpaling, manik Icy bersirobok dengan milik Axel. Lelaki itu menjungkitkan sebelah alisnya dan tersenyum. Mengedikkan dagunya, Axel menyenggol pelan bahu Icy sebelum berjalan menjauhi rumah kaca, mengisyaratkan pengawal pribadi pangeran Vesperia yang juga sahabat kekasihnya itu untuk mengikutinya.

Icy mengentakkan kakinya dan menoyor punggung Axel ketika ia sudah bersisian dengan lelaki itu. “Jangan berpikir macam-macam, Axel.”

“Memang aku memikirkan apa?” Axel bersedekap. Dan senyumnya membuat Icy ingin sekali menenggelamkan lelaki pendek itu ke dalam tumpukan salju. “Icy?”

“Dasar menyebalkan!”

Axel tertawa. Berlari kecil menyusul Icy yang lebih dulu berjalan cepat di depannya setelah meredakan tawanya. Sekian detik berjalan dalam diam, mereka memutuskan untuk berhenti di dekat pohon rindang yang tak begitu jauh dari rumah kaca. Kedua pengawal pribadi itu masih bisa mengawasi Killian dan Lucy dari sana.

“Tak ada kabar apa pun dari Rhea?” tanya Icy mengawali percakapan.

Dahi Axel mengerut. “Aku bertemu Rhea kemarin malam dan dia baik-baik saja.”

“Kemarin malam?” Kali ini Icy yang mengerutkan spasi di antara kedua alisnya. “Berarti kautahu Rhea mendapatkan burung pengantar pesanku?”

“Burung pengantar pesan?”

Yap.”

Mendongak, Axel mengingat-ingat perjumpaannya dengan sang kekasih semalam. Mereka hanya berbincang-bincang di benteng perbatasan antara Norden dan Meridies. Rhea merupakan warga Norden yang bertugas di benteng itu sebagai pemanah, sedangkan Axel telah menetap di Meridies selama dua tahun sebagai pengawal pribadi Lucy.

“Bagaimana? Ada?”

“Kurasa tidak ada.”

“Tidak ada?!” Manik Icy membelalak. Selama memiliki burung pengantar pesan, hewan peliharaannya itu tak pernah gagal dalam menyampaikan pesan—bahkan dalam jarak terjauh yang mampu dilampauinya sekali pun. Kecuali….

“Icy!”

Seruan kencang dari belakangnya membuat si pemilik nama menoleh, begitu pun dengan Axel. Dari arah pintu masuk rumah kaca, terlihat Alven berlarian ke arah mereka. Dan Fyre telah berkumpul bersama Killian dan Icy di dalam rumah kaca.

Raut kesal juga lelah kentara di wajah Alven ketika lelaki itu sampai di hadapan Icy. Berkacak pinggang, Alven berujar, “Kau ke mana saja, huh? Kenapa tidak membalas pesan yang dikirimkan Fyre? Kami menunggu—”

“—tunggu sebentar!” Mengangkat sebelah tangannya, Icy memotong ceracau Alven yang membuatnya luar biasa bingung. “Apa katamu tadi? Fyre mengirimkan pesan padaku?”

“Tentu saja!” sahut Alven diakhiri dengusan sebal. “Memangnya kaupikir Fyre tidak—”

“Tapi tak ada burung pengantar pesan milik Fyre yang sampai padaku.”

“Hah?!” Ekspresi Alven sangat mirip dengan Icy ketika ia mendengar ucapan dari Axel tadi, matanya membelalak lebar sekali. “Bagaimana mungkin?!”

Ketiga pengawal pribadi itu bungkam selagi berkelut dengan pikiran mereka masing-masing. Pertukaran pesan ini bukanlah sebuah pesan main-main belaka. Jadi, tidak mungkin Axel dan Alven membohongi Icy, ataupun sebaliknya. Baik Axel maupun Alven pun tahu kalau segala sesuatu yang menyangkut Stephan Hurton sangatlah penting bagi Icy.

“Astaga!” pekik Alven tiba-tiba. Tangannya spontan menepuk-nepuk pundak Axel berkali-kali dan mendapat balas toyoran di kepalanya dari pengawal pribadi putri Lucy itu. “Kalau kau tidak menerima pesan dari Fyre, berarti kau tidak tahu tentang—”

“Apa?”

“Stephan Hurton dan keluarganya,” jawab Alven.

“Keluarga Hurton?”

Alven mengangguk. Ingatannya kembali pada saat ia dan Fyre baru saja tiba di Orient dan langsung mendapat laporan yang membuat Fyre lekas mengirimkan pesan singkat melalui burung biru miliknya. “Stephan Hurton berhasil kabur dari penjara. Biarkan aku menyelesaikan penjelasanku dulu.” Mengangkat satu tangannya, Alven menghentikan Icy yang ingin mengutarakan protes. “Atas nama Fyre dan Orient, aku meminta maaf karena kami lalai dalam menjaga tahanan kami. Kami mencari Stephan di seluruh kota dan kami menemukan jasadnya di pinggir sungai.”

“M-Maksudmu… S-Stephan…?”

“Dia tewas. Beberapa saksi mengatakan kalau dia bunuh diri. Dan seluruh keluarganya juga tewas.”

.

.

.

Usai makan malam bersama, tak pedulikan semua tatap penuh tanya yang mengarah padanya, Killian memutuskan untuk langsung kembali ke kamarnya. Di lain waktu saat keempat kerajaan itu berkumpul, Killian memang lebih senang menghabiskan waktunya dengan mengobrol bersama, berbagi lelucon aneh, atau apa pun itu asalkan ia tak sendiri. Namun untuk saat ini, agaknya Killian memilih untuk sendiri. Meskipun Killian tak melarang Icy yang mengikutinya dari belakang.

“Sebenarnya aku ingin menanyakan satu hal padamu,” ujar Killian saat ia dan Icy tiba di kamarnya. Sejak siang tadi, Icy lebih banyak melamun dan tak banyak bicara. Bahkan hampir tidak bersuara jika Killian atau yang lainnya tidak bertanya padanya. Killian sangat tahu, ada yang disembunyikan gadis itu (juga teman-temannya) darinya. Meski Killian tampak mendengarkan Lucy atau Fyre dalam obrolan santai mereka di rumah kaca tadi, Killian tetap mengawasi gerak-gerik Icy beserta Axel dan Alven dari jauh. Ada yang mereka bicarakan, dan hal itu bukanlah suatu hal yang biasa.

Mendengar pernyataan seperti itu, Icy yang berdiri cukup jauh berhadapan dengan Killian, hanya bisa menunggu dan berharap tanya yang akan dilontarkan nantinya bukanlah sebuah tanya yang mengharuskan ia untuk berbohong. Menyimpan masalahnya dengan Stephan Hurton dari Killian meskipun ini semua menyangkut keselamatan sang pangeran, memang bukan keputusan yang baik. Tapi Icy ingin menyelesaikan masalahnya sendiri, sebelum Killian tahu. Dan sebelum ada hal buruk terjadi pada lelaki itu.

Killian menggeleng pelan. Sekeras apa pun niatnya untuk mengetahui rahasia yang disembunyikan aide-nya, lagi-lagi, Killian harus bisa mengendalikan egonya. Lagi pula, ia bukanlah siapa-siapa bagi sang gadis, saat ini. Seorang pangeran Vesperia dan pengawal pribadinya; ya, itulah hubungan mereka sekarang.

Maka, alih-alih berusaha menguak rahasia sang gadis, Killian berbalik dan berjalan menghampiri lemarinya sembari melepas jubah. “Istirahatlah. Dan pastikan kau ada di dekatku saat pesta berlangsung.”

“O-Oke. Itu, kan tugasku.” Diam-diam Icy mengembuskan napas penuh kelegaan karena tak menyangka bahwa Killian ternyata hanya ingin mengatakan hal itu. “Kalau begitu, aku permisi. Selamat malam.”

“Selamat malam.”

Mendengar suara pintu menutup, barulah Killian berbalik. Terus menatap daun pintu bercat putih itu seolah Icy akan kembali masuk dengan ingatannya yang telah pulih. Di satu sisi, ia menginginkan Icy yang lama—yang mengingat siapa dirinya. Namun di sisi lain, Killian ingin Icy tetap seperti sekarang—yang tak mengingat bahwa Jillian tewas demi menyelamatkan dirinya.

Memikirkan Jillian membuat luka lama itu kembali bertandang. Sebuah kisah singkat di malam dingin bersalju yang tak diharapkan siapa pun kedatangannya.

.

.

“Berhenti memperlakukanku seperti anak kecil!”

Teriakan nyaring disertai suara debum keras, menutup perjumpaan Killian dengan Icy di malam itu. Killian yang baru menginjak usianya yang kesepuluh, sengaja mengajak si kecil Icy bermain di perpustakaan sementara mereka menunggu Jillian yang sedang dalam perjalanannya kembali ke istana dari inspeksi di benteng perbatasan utara. Tak seperti Jillian yang telah beranjak dewasa dan tahu segala hal, yang Killian tahu saat mendengar Icy mengutarakan impiannya juga untuk membuat suasana di antara mereka terasa lebih akrab, bocah lelaki itu merespons dengan olok-olok semata.

Aku ingin menjadi ahli pedang yang terkenal. Tidak hanya di Vesperia, tapi di semua kerajaan.”

Ahli pedang? Kamu itu masih kecil, tahu. Pegang pedang kayu saja masih tidak becus, eh kamu mau jadi ahli pedang terkenal. Jangan terlalu tinggi bermimpi, Icy.”

Kalau saja Killian tidak berkata demikian, Icy takkan berteriak marah dan berlari keluar istana. Jillian yang baru saja tiba di istana dan melihat gadis cilik itu pergi, alih-alih memasuki istana dan berkumpul dengan keluarganya, lelaki tujuh belas tahun itu lebih memilih untuk mengejar Icy. Ibu si gadis pun takkan datang ke lantai tiga, di mana perpustakaan itu berada, untuk mencari putrinya dan berakhir harus bertarung dengan sekelompok pemberontak demi menyelamatkan Killian. Dan di sisi lain, Atlan harus berjuang sendiri dengan pedangnya saat ia berada di balairung. Menyuruh raja dan ratu Vesperia pergi sementara ia melawan pemberontak lainnya.

Hingga beberapa jam berada dalam situasi ricuh yang menumpahkan darah dan hilangnya banyak nyawa, kegemparan itu berakhir duka. Keluarga kerajaan selamat, kecuali Jillian yang ditemukan tewas di hutan Hoogland. Atlan dan istrinya pun tewas bersimbah darah di ruang yang berbeda. Menyisakan Erden yang menangis pilu kehilangan kedua orangtuanya dan Icy tanpa ingatannya.

.

.

Semua ini salahku.”

.

.

tbc.

Advertisements

2 thoughts on “[Chapter 5] The Prince of Vesperia and His Aide

  1. kakyeeeen T-T sekiranya beberapa hari lalu aku bilang rindu killian-icy dan sekarang mereka datang dengan kisah yang cukup memilukan T-T

    btw kakyen jillian sama icy beda 7 tahun…(?) dan ceritanya semakin seru astaga aku makin penasaran sama icy-killian-dan siapalah itu si hurton apalah hubungan mereka T-T yakin, aku pasti kangen mereka lagi!

    ku menunggu kelanjutan kisah mereka yang rumit namun sesungguhnya sweet sekali XD mangatze kakyen!!!!♥

    Like

    1. Demi penggemar setia killian-icy aku kudu semangat kelarin ff nya 😆
      Yep jillian sama icy beda 7 tahun. Kayanya sih penjelasan ttg hurton ini bakal di dua chapter berikutnya 😅
      Sipsip terima kasih sekali lagi untuk kesetiaannya menunggu kami~ (segenap kru vesperia memberi hormat 😘)

      Liked by 1 person

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s