[Chapter 6] The Silver Age of Virgo: Impulsive

virgo-new
the Silver Age of Virgo

written by tsukiyamarisa

.

BTS’ Jin as Killian, Jimin as Alven, Suga as Fyre, iKON’s Jinhwan as Axel

and

OC’s Aleta, Rhea, Icy

Chaptered | Fantasy, Wizard!AU, Life, Friendship, Family, slight!Fluff | 15

.

previousIntro | #1: Obscured | #2: Presence | #3: Unidentified | #4: Face to Face | #5: After Effect

.

.

.

#6: IMPULSIVE

.

Mengempaskan dirinya ke atas kasur, Rhea bisa merasakan air matanya menggumpal di pelupuk mata.

Setelah apa yang ia curi dengar—setelah semua penjelasan dari Fyre, Aleta, dan Alven—sang gadis malah mendapati emosinya makin memuncak. Kekesalan berkumpul, membuat kepalanya berdenyut tak menyenangkan. Ia bukannya tak senang Fyre sudah kembali dengan selamat, tetapi—

“Sialan!”

Rhea mendesis, menggigit bibirnya seakan dengan begitu ia bisa menahan kata-kata makian yang lain untuk tak ikut meluncur keluar. Namun, kendati usahanya itu berhasil, rasa sesak di dalam dadanya malah semakin menumpuk. Ia membayangkan bagaimana rasanya menjadi Alven atau Aleta, bagaimana rasanya mendapati orang yang penting bagimu kembali dengan selamat. Itu adalah sebuah angan-angan yang menyakiti, harapan yang kini berubah menjadi dorongan nekat.

Killian tidak adil.

Tatkala para Spica dan si Auva kembali, tadinya Rhea mengharapkan kemarahan Killian. Ia ingin pemimpin mereka itu untuk menegur Alven dan Aleta, mengatakan bahwa keputusan mereka untuk mencari Fyre tanpa memberitahu adalah sesuatu yang bodoh. Terlebih, jika mendengar dari kata-kata Fyre, aksi penyelamatan itu ternyata hanya suatu keberuntungan semata. Salah satu dari mereka bisa saja terbunuh, demi bintang-bintang! Tapi, apa mereka peduli?

Tidak, kan?

Bagi Alven dan Aleta, Fyre-lah yang penting. Sepasang kakak-beradik itu sengaja menggantungkan segalanya pada harap dan keberuntungan, mengambil risiko lima puluh persen berhasil dan lima puluh persen gagal. Membayangkan ketiganya tak akan pernah kembali membuat Rhea bergidik; tetapi kini melihat ketiganya kembali dan tak mendapat konsekuensi apa pun….

Lantas, rasa khawatirnya sama sekali tidak dianggap, huh?

Oh, atau mereka mulai menganggap seluruh kejadian ini sebagai sesuatu yang remeh? Menyelamatkan Fyre nyatanya tak sesusah yang dibayangkan, bukan?

Kalau begitu caranya, ia juga bisa menyelamatkan Axel!

Ditemani pemikiran itu, Rhea pun memutuskan untuk kabur dari apartemen Killian. Tujuannya hanya satu, mencari Axel dan membawanya kembali. Masa bodoh dengan fakta bahwa ia sebenarnya belum mendapatkan mimpi ramalan mengenai keberadaan Axel—Rhea berharap ia bisa mendapatkannya di tempat ini.

Menggulingkan tubuhnya, Rhea bisa merasakan sedikit ketenangan merambat masuk, seiring dengan aroma khas Axel yang sudah ia kenal baik.

Tempat ini adalah flat milik mereka, tempat keduanya berbagi tempat tinggal semenjak lulus dari bangku sekolah. Dan saat ini, dengan absennya Axel, Rhea pun mengizinkan dirinya untuk masuk ke kamar sang lelaki. Berharap agar otaknya bisa berpikir lebih jernih di sini, dengan yakin menganggap bahwa hanya ialah yang bisa menemukan dan menolong Axel.

Memangnya, hanya Alven, Aleta, dan Fyre saja yang punya hubungan dekat?

Bagi Rhea, segala yang berhubungan dengan Virgo dan kekuatan sihirnya dimulai oleh presensi Axel dalam hidupnya.

Maka, setelah memasang selubung pelindung pada dirinya (trik sederhana, tetapi dengan demikian Killian tak akan bisa melacaknya), Rhea pun membiarkan kupu-kupu kebiruan itu muncul. Memanggil ramalan untuk datang, kedua kelopak serentak terpejam sementara kegelapan mengambil alih. Lalu, beberapa sekon setelahnya, titik-titik cahaya aneka warna pun beterbangan masuk. Mengambil alih kegelapan, membentuk berbagai gambaran sementara Rhea mencari-cari.

Aku bersumpah, Axel. Aku akan menemukan dirimu.

.

-o-

.

Sejak kecil, ia sudah terbiasa melakukan semuanya sendiri.

Tumbuh besar sebagai seorang anak yatim piatu, Rhea hanya punya panti asuhan sebagai tempat tinggalnya. Namun, di sana pun, ia tak bisa berkata bahwa ia bahagia. Rhea nyaris tak punya teman; semua anak menganggap dirinya menyebalkan, semua orang membencinya yang dianggap membawa sial.

Padahal, ia tak melakukan apa-apa.

Rhea tak pernah melakukan sesuatu yang sekiranya mencelakakan orang lain, tetapi berbagai hal aneh datang dan membuatnya dituduh sebagai pelaku. Teman sekamarnya yang sakit demam setelah ia menghabiskan waktu dengan Rhea, barang-barang yang hilang, kecelakaan-kecelakaan kecil seperti salah satu kawan jatuh dari pohon padahal Rhea hanya memanggil nama yang bersangkutan, sampai keengganan para orang tua untuk mengadopsinya.

Sang gadis mengalami semua itu.

Maka, ia pun tumbuh besar menjadi seseorang yang defensif. Menjadi gadis dengan perangai menyusahkan, dengan lidah yang siap melontarkan bentakan atau umpatan. Itu adalah caranya melindungi diri—Rhea berpikir bahwa jika tak seorang pun menginginkannya, maka ialah yang harus berjuang untuk dirinya sendiri.

Tapi, pertahanan dan perisai itu hanya bertahan hingga bangku SMA.

“Boleh aku duduk di sini?”

Kejadiannya tepat saat tahun ajaran baru, ketika Rhea baru saja naik ke tingkat dua. Pagi itu, bersamaan dengan kedatangan seorang murid pindahan di kelasnya, hidup Rhea perlahan-lahan mulai berubah. Siswa bernama Axel itu langsung mendudukkan diri di samping Rhea, bahkan tanpa menunggu sang gadis mengiakan. Ia sama sekali tak terpengaruh oleh tatap galak ataupun aura kesal yang ada, kepala ditelengkan selagi ia memamerkan senyum.

“Jangan memasang muka seram begitu. Kamu mau dengar suatu rahasia?”

Awalnya Rhea tak peduli. Ia biarkan saja Axel berada di sampingnya, ia abaikan semua ocehan yang ada. Terus seperti itu, sampai sebuah kejadian mengejutkan yang tak akan lesap dari ingatannya terjadi di tengah pelajaran sejarah.

“Baik, jadi apa jawaban untuk soal nomor tiga?”

Seisi kelas hening, dan butuh dehaman serta teguran dari sang guru agar Rhea menyadari bahwa pertanyaan itu ditujukan padanya. Pada ia yang tertangkap basah melamun di tengah pelajaran, sama sekali tak memerhatikan atau mengerti topik yang dibicarakan. Dengus tawa bahkan mulai terdengar di sana-sini, membuat emosi Rhea mulai melonjak—

“Halaman 197. Baris paling akhir.”

—dan suara itu tahu-tahu saja terdengar di dalam kepalanya.

Tertegun, Rhea malah menolehkan kepalanya alih-alih menurut. Berusaha mencari asal suara, sementara guru mereka berdeham lagi demi mencuri atensinya. Namun, Rhea tak peduli. Gadis itu bergumam asal saja, beralasan kalau ia sedang sedikit tidak enak badan dan hendak ke ruang kesehatan. Tanpa menunggu persetujuan lekas bangkit, melangkah pergi dengan langkah terburu-buru.

Barulah ketika jam istirahat tiba, ia mendapat penjelasan.

Menemukan Rhea yang sedang sendirian di atap—ia tidak benar-benar ke ruang kesehatan, tentu—Axel mengulum senyum tipis. Senyum yang bertahan sampai ia tiba di hadapan Rhea, menatap gadis bersurai panjang itu seraya berkata, “Tidak ada ucapan terima kasih untukku?”

Dan seketika Rhea pun ingat, bahwa suara Axel-lah yang tadi muncul di dalam kepalanya.

“A—“

“Aku tahu kalau kamu sama sepertiku,” potong Axel, tak mengizinkan Rhea berbicara. “Auramu terasa sangat kuat, Nona. Kamu punya kekuatan yang besar.”

“Apa yang kamu bicarakan?”

Sebagai jawaban, Axel menundukkan kepalanya dan mulai mencari-cari. Tangan lantas meraih salah satu batu kerikil yang tersebar di atap, mengulurkannya ke arah Rhea agar gadis itu dapat melihat. Sekon berikutnya, sebuah lingkaran bercahaya dengan berbagai simbol muncul di bawah kaki Axel. Lengkap dengan sinar yang mengelilingi batu tersebut, seraya Axel menutup telapaknya dan membukanya kembali.

Batu itu sudah hancur menjadi serpihan.

“Apa yang…” Rhea menelan ludah, memandang Axel yang kini tersenyum lebar. “K-kamu bukan manusia?”

“Kalau begitu, kamu juga bukan,” balas Axel dengan nada bercanda. “Memangnya, kamu tidak pernah heran atas kejadian-kejadian aneh yang kadang terjadi di sekitarmu?”

Entah lelaki ini dapat memengaruhi pikirannya atau apa, tetapi Rhea mendapati dirinya mulai memutar ulang semua kenangan itu. Masa kecilnya, masa ketika ia dianggap sebagai pembawa sial. Pun dengan berbagai keanehan yang tak bisa ia jelaskan, seperti tatkala lampu di panti asuhan tahu-tahu padam padahal tak ada yang menyentuh saklar. Atau ketika ia membuat teman yang menyebalkan tahu-tahu mendapatkan luka gores di lengannya, padahal keduanya sedang berdiri berhadap-hadapan dan mengobrol biasa.

“A-aku… aku tidak….”

“Mau mencoba sesuatu?” Axel meraih batu yang lain, meletakkannya di dekat kaki gadis itu. “Pandangi batu itu, dan coba berkonsentrasi. Anggap batu itu telah menganggu jalanmu, anggap kamu ingin meledakkannya hingga berkeping-keping.”

“Tapi….”

“Coba saja!” ujar Axel bersemangat, tanpa permisi mengulurkan jemari untuk menggenggam tangan Rhea. “Percaya padaku, oke? Aku bisa membantumu.”

Pada akhirnya, Rhea pun menurut. Axel telah membawa sesuatu yang berbeda dalam hidupnya, membuat Rhea merasa diperhatikan. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ada seseorang yang tidak merasa takut atau benci pada dirinya. Ada yang menganggapnya istimewa, memberikan perhatian dan mengulurkan tangan tanpa ragu.

Siang itu juga, Rhea mengetahui segalanya. Bahwa ia memiliki lingkaran sihir yang sama dengan Axel, bahwa di dalam dirinya terdapat kekuatan yang selama ini terpendam. Sedikit rasa takut tak ayal membayangi, kendati sesungguhnya ia juga lega. Ia bukan orang aneh atau pembawa sial; ia istimewa seperti kata Axel.

Rhea percaya pada Axel, lebih dari apa pun di dalam hidupnya.

Bahkan, ketika Axel akhirnya mengajak Rhea untuk mencari anggota konstelasi yang lain, ia menurut. Mereka melacak keberadaan Killian, Icy, Alven, Aleta, dan Fyre. Menemukannya, lantas membangun persahabatan serta keluarga. Kelima orang itu adalah orang-orang yang menerima dirinya, yang menyambutnya dengan tangan terbuka dan tidak pernah merendahkan bakat Rhea.

Namun, Axel tetaplah menjadi orang nomor satunya.

Rhea ingat; bagaimana Axel selalu merangkulnya tiap mereka berjalan bersama, bagaimana ia tertawa agar Rhea ikut tertawa, bagaimana ia akan menautkan tangan mereka tiap Rhea merasa gelisah, bagaimana jemarinya senantiasa mengusap air mata yang tak pernah Rhea tunjukkan di depan orang lain.

Ia merindukan itu.

Ia bisa melihat tangan Axel yang terulur ke arahnya, yang akan ia sambut dengan penuh kelegaan, yang akan membuat emosinya teredam….

 

….dan yang kini melingkar di pangkal lehernya, menekan dengan kuat.

“A… xel?”

.

-o-

.

“A—uhuk!

Terbatuk, Rhea lekas membuka matanya. Insting mengambil alih, selagi tangannya sendiri terangkat untuk menangkap tangan sang penyerang. Sekuat tenaga berusaha menjauhkan diri, napas terengah dan keterkejutan membayang di matanya.

“Axel?!”

Rhea berguling cepat, menjatuhkan dirinya dari kasur dan bergegas bangkit berdiri. Sorot tertuju pada sosok Axel yang tadi nyaris mencekik dirinya, penuh dengan ketidakpercayaan. Ia pasti lengah tadi, tanpa sengaja membiarkan sihir pelindungnya lenyap lantaran otaknya terlalu berkonsentrasi pada ramalan. Ramalan yang datang terlambat, yang sama sekali tidak mempersiapkannya untuk kejutan macam ini.

Axel kini telah menampakkan diri di hadapannya, sesuatu yang ia tunggu sejak dulu-dulu.

Tapi, sejujurnya, Rhea tak tahu harus melakukan apa.

Tidak karena Axel baru saja melangkah mendekat dan meninju tembok di samping Rhea hingga hancur, membuat Rhea spontan berkelit sembari mencoba menemukan cara untuk melawan. Untuk menaklukkan Axel, untuk mengembalikan kesadarannya sebagaimana Aleta membawa Fyre kembali.

Dan untuk itu….

“Axel, apa kamu tidak bisa mengingatku?”

.

.

.

Rhea hanya bisa berharap agar cara Aleta berhasil untuk kedua kalinya.

.

tbc.

.

.

The Heze
Axel

axel

Zeta Virginis, si tukang tinju yang berhati lembut. Itulah ledekan yang kerap dilontarkan Vindemiatrix pada Heze, sang bintang yang terletak di bagian tengah konstelasi Virgo. Sebuah posisi yang kerap membuat Heze disebut sebagai si penyeimbang dan pengatur, lantaran ia adalah satu-satunya anggota Virgo dengan tingkat kesabaran yang setara dengan Killian. Ia kuat, tetapi ia tidak meledak-ledak seperti Auva. Ia pandai mengatur strategi, tapi ia juga suka maju ke ranah pertikaian.

Axel, lelaki yang berada di bawah naungan simbol Heze, adalah lelaki yang tidak menyukai kekerasan. Namun, bakatnya mengatakan lain. Ia ahli dalam mengendalikan elemen bumi, ia lihai dalam berkawan dengan alam. Kekuatan Heze adalah salah satu yang paling diandalkan oleh para Virgo, tetapi jarang digunakan lantaran mereka lebih suka menyimpannya sebagai elemen kejutan.

.

.

.

Advertisements

9 thoughts on “[Chapter 6] The Silver Age of Virgo: Impulsive

  1. Finally next chap update… yg kali ni jg bkin pnasaran bgt … tp kok feeling q gk enak, rsa.na axel ndak kn balik semudah fyre. Mlah aq tkut axel bkal parah bgt.

    Fyre si auva yg mledak2, tp bsa dgn mdah kmbali…
    Axel? Aq brpkir sbalik.na~

    Rhea? Kmu ykin ini kptusan yg bnar kn? Gak da satu pun yg tau posisi mu skrg, klau hal bruk trjadi.. siapkah?

    Like

  2. waaaa kak amer udah apdet next chp aku sungguh menantikan ini :’)

    rhea pasti sayang banget sama axel sampe dicari begitu huh i feel you mba rhea axel memang patut diberi sayang yang melimpah /plak.

    pokoknya aku tetep nunggu kelanjutan dari virgo kak, tinggal icy nih XD mangatzeeee kak amer!!! XD

    Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s