[BTS FF Freelance] Run (Chapter 6)

maru___run-copy-1

Title : Run

Author : Maru

Genre : friendship, family, crime

Cast :-Member BTS

-And others ….

Rating : PG -13

Leght : Chaptered

Disclaimer : Aku hanya memiliki cerita dan OC, selainnya bukan.

Credit : Poster by ChocoYeppeo @Indo Fanfictions Arts

~-~

Jungkook menghela nafas panjang. Rasanya Hari Minggu ini akan terasa membosankan karena ia dan Jimin tidak berniat pergi ke mana-mana. Jungkook mengangkat komik yang dibacanya tinggi-tinggi sambil membaringkan tubuhnya di atas kasur. Pintu kamarnya tiba-tiba di buka oleh seseorang. Jimin menyembulkan kepalanya dari luar kamar.

“Jungkook, apa kau bosan?” tanya Jimin.

“Ya, aku bosan.” balas Jungkook malas.

“Aku juga bosan. Bagaimana kalau kita bermain ke rumah Taehyung?” usul Jimin.

“Taehyung? Hm … baiklah! Sepertinya menyenangkan.” Jungkook menutup komik yang dibacanya dan melompat dari kasurnya.

~-~

Jungkook dan Jimin kini tengah berdiri di depan sebuah rumah bertingkat. Jimin menekan bel rumah itu beberapa kali, namun tak ada yang membukakan pintunya setelah ia menunggu selama hampir tiga puluh menit.

“Apa Taehyung sedang pergi?” tanya Jungkook karena mereka sebenarnya belum mengatakan kepada Taehyung kalau mereka akan bermain ke rumahnya.

“Tidak. Sepatunya ada di sini. Seharusnya anak itu juga ada di dalam.” balas Jimin sambil terus menekan bel rumah itu.

Jimin meneriaki nama Taehyung beberapa kali. Namun ia tak kunjung mendapat jawaban dari dalam. Kesabarannya sudah habis. Jimin melepas sepatunya dan melemparnya ke kaca jendela di lantai dua.

“YAK, KIM TAE HYUNG!” teriak Jimin.

BUKK

“Akh, sakit!” Jungkook meringis sambil memegang kepalanya yang tertimpuk sepatu yang Jimin lempar tadi setelah menabrak kaca jendela di lantai dua.

“Eoh, Jungkook. Kau tidak apa? Maafkan aku.” kata Jimin sambil mendekati Jungkook yang masih memegang kepalanya.

“Y-ya, ya, tidak apa.” balas Jungkook.

“Hei, jangan berteriak di depan rumahku!” seru seseorang.

Jimin dan Jungkook menoleh ke arah datangnya suara, lebih tepatnya pintu utama rumah itu. Taehyung berdiri di depannya sambil memasang wajah masam.

“Yak, kemana saja kau? Aku sudah memanggilmu sejak tadi!” seru Jimin kesal.

“Kemana? Aku tidak ke mana-mana. Lagipula di rumahku, kan, ada bel. Kenapa kau masih berteriak-teriak?” tanya Taehyung.

Jimin mengepalkan tangannya kesal. Ia mengeraskan gerahamnya sambil menatap Taehyung dengan tatapan mautnya yang sama sekali tidak mengerikan. Tentu saja Taehyung tidak menghiraukannya, atensinya lebih terarah ke Jungkook yang kini menatap mereka berdua.

“Oh, Jungkook. Kau ikut juga?”

“Ya, aku bosan di rumah saja.” balas Jungkook.

“Kalau begitu, cepat masuk! Apa kalian ingin di sini saja, eoh?”

Jimin langsung masuk dengan seenaknya, menerobos Taehyung yang masih berdiri di ambang pintu. “Tae, aku lapar! Apa kau punya makanan?”

Taehyung menatap namja itu aneh. “Kau datang ke sini untuk bermain denganku atau mencari makan? Kau kira rumahku apa? Pasar?”

Noonamu bekerja di kafe, kan? Bukankah biasanya noonamu membawa kue sisa dari kafe?” tanya Jimin sambil membuka lemari pendingin di dapur dan mendapatkan sepotong cheese cake di sana.

“Ahh, jangan diambil! Itu milik appaku. Nanti dia marah.” kata Taehyung sambil merebut cheese cake itu dari tangan Jimin.

Jimin memajukan bibirnya. “Tapi aku lapar.” ujarnya sambil menampakkan wajah memelasnya.

Taehyung menggeleng kuat. “Tidak akan kuberikan kepadamu. Gendang telingaku bisa pecah jika appa meneriakiku lagi.”

“Jimin, bukannya kita datang ke sini untuk bermain?” celetuk Jungkook yang sejak tadi hanya memperhatikan kedua temannya bertengkar.

“Ya, kau datang ke sini untuk bermain, kan? Cepatlah! Aku ingin melanjutkan menonton film lagi!” gerutu Taehyung.

“Baiklah …. Kami ikut menonton film, ya.” Jimin mengalah dan merelakan cheese cake yang memang bukan miliknya itu.

Taehyung mengajak kedua temannya itu ke kamarnya di lantai dua. Di kamarnya, Taehyung melompat ke atas kasur dan melanjutkan film yang ia pause tadi. Jungkook dan Jimin pun ikut menonton film yang bertema pembunuhan itu. Layar TV di kamar Taehyung kini menampakkan sebuah adegan kejar-kejaran di hutan pada malam hari.

Tiba-tiba Jungkook membulatkan matanya. Tubuhnya bergetar hebat. Jimin yang duduk di sebelahnya menyadari ada yang salah dengan temannya itu. Ia menoleh dengan cepat dan mendapati Jungkook meringkuk ketakutan.

“Jungkook, ada apa?”

Jungkook sama sekali tidak menjawab. Pandangannya masih menatap ke layar TV. Taehyung yang tadi asyik menonton mengalihkan perhatiannya ke arah kedua temannya dan menampakkan ekspresi bingungnya. Jimin mengikuti arah pandang Jungkook. Sesuatu terlintas di benaknya begitu saja. Hutan pada malam hari. Dokter bilang Yoongi menemukan Jungkook di sebuah tempat yang penuh dengan pepohonan pada malam hari. Apa memori itu masih tersimpan di otaknya?

Jimin langsung bangkit dari tempatnya dan mematikan TV itu.

“Yak, apa yang kau lakukan?” protes Taehyung.

Jimin tak menjawab pertanyaan Taehyung. Ia berjalan mendekati Jungkook dan menepuk pundaknya pelan.

“Apa kau baik-baik saja? Ada apa?”

Jungkook tidak merespon. Ia memeluk lututnya semakin erat. Sementara Taehyung memandang keduanya bingung.

“Um, bagaimana kalau kita pulang saja? Aku sudah lelah.” kata Jimin dengan nada memelas yang dibuat-buat.

Taehyung sudah ingin protes karena mereka baru tiba di rumahnya. Namun ia langsung membungkam mulutnya ketika Jimin memberi isyarat untuk diam.

“Y-ya, k-kurasa sebaiknya kita pulang.” sahut Jungkook dengan suara yang bergetar.

“Baiklah. Kalau begitu, ayo!” Jimin mencoba tersenyum walau sebenarnya ia khawatir. “Taehyung, kami pulang dulu, ya.”

“Um, ya …. Hati-hati.” ucap Taehyung sambil tetap menatap kedua temannya itu.

Jungkook dan Jimin berjalan keluar dari rumah Taehyung. Di jalan, mereka sama-sama terdiam. Jungkook memeluk tubuhnya sendiri erat-erat. Tatapannya terus ditundukkan. Jimin meliriknya dan menyadari jika Jungkook masih ketakutan.

“Kenapa? Apa ada yang salah?” tanya Jimin.

Jungkook menolehkan wajahnya sekilas. “Eung … tidak.”

“Tidak perlu takut. Katakan saja.” kata Jimin.

“Eum … a-aku rasa ada yang aneh. Hutan itu ….” Jungkook menggantungkan kalimatnya. Gambaran hutan pada film tadi kembali terbayang di benaknya.

“Ahh, sudah! Kau tidak perlu membayangkannya.” sela Jimin sebelum hal yang buruk terjadi.

Mereka kembali terdiam. Jimin memilih untuk diam karena ia takut Jungkook akan mengingat kejadian yang membuatnya seperti ini.

“Jimin,”

Jimin menolehkan wajahnya. “Ya?”

“Apa aku pernah ke hutan sebelumnya?” tanya Jungkook.

“I-itu ….” Jimin terdiam sejenak. “Ya, kau pernah. Saat itu kelas kita pergi bersama ke hutan untuk rekreasi. Saat itu kita pergi dari pagi hingga siang. Apa kau mengingatnya?”

Jungkook menundukkan kepalanya lalu menggeleng. “Aku tidak ingat tentang itu.”

Jimin mengangguk mengerti. “Ah, aku lapar. Sebaiknya kita cepat pulang. Yang sampai halte lebih dulu, dia pemenangnya. Satu, dua, tiga!” Jimin langsung berlari menuju halte di ujung jalan.

“Yak, Park Ji Min! Tunggu aku!”

~-~

Yoongi menghela nafas panjang dengan malas. Rasanya belakangan ini hari-hari terasa begitu membosankan. Ketua tidak memberikan tugas lain selain berpatroli dan itu sangat membosankan baginya. Dan Youngjae tiba-tiba menghilang dari pandangannya setelah kejadian di rumah Kim Mi Joo waktu itu.

Yoongi menyandarkan kepalanya ke kaca di sebelahnya.

“Hei, Yoongi!”

Suara itu tidak asing di telinganya. Suara namja yang menuduhnya sebagai pembunuh beberapa hari yang lalu itu kini duduk di sebelahnya. Yoongi menghela nafas kesal kemudian bangkit dan hendak beranjak pergi. Namun namja itu langsung menarik lengan Yoongi dan membuatnya terduduk di kursinya lagi.

“Yak, apa kau masih kesal denganku?” tanya namja itu yang tak lain adalah Youngjae. “Aku tidak akan menuduhmu lagi. Ada yang inginku sampaikan kepadamu.”

“Apa?” balas Yoongi malas.

“Aku ….” Youngjae menggantungkan kalimatnya sejenak. “Aku sudah berkenalan dengan Jihyeon.”

“Lalu?”

Youngjae malah tersenyum misterius. “Aku sekarang percaya kalau kau bukan pelakunya. Tapi … itu tidak menutup kemungkinan kau berhubungan dengan pembunuhan Kim Mi Joo.”

“Memangnya ada apa?”

Youngjae mengambil handphone-nya dan menunjukan sebuah foto. Foto Yoongi yang tengah berdiri di depan kasir sebuah mini market. Yoongi mengerutkan keningnya. Ia baru ingat kalau pada malam itu -saat Kim Mi Joo dibunuh, ia sempat pergi ke mini market. Saat pulang, ia melihat Jungkook yang berlari ke rumah Jimin yang tidak jauh dari rumahnya.

“Apa? Siapa yang mengambil fotoku?” tanya Yoongi.

“Jihyeon. Dia penggemar rahasiamu. Dia sering mengikutimu dan mengambil fotomu secara diam-diam. Karena tidak mengetahui namamu, dia menyebutmu Suga.” terang Youngjae. “Ah, rasanya berkenalan dengan Jihyeon itu seperti pribahasa ‘sekali medayung, dua tiga pulau terlampaui’. Kau tahu? Dia juga mengenal Kim Seok Jin.”

“Bernarkah? Lalu apa lagi yang kau dapat?” Kini nada bicara Yoongi terdengar lebih bersemangat.

“Dia bilang kalau awalnya dia sangat tidak percaya jika pembunuh Kim Mi Joo itu Kim Seok Jin. Tapi seseorang bisa berubah dalam sekejap, bukan? Dia sudah tahu jika aku seorang polisi. Dia bertanya kepadaku, kenapa kita langsung menutup kasus setelah menemukan sidik jari Kim Seok Jin di pisau itu, seharusnya kita masih mencari bukti lain dan tidak langsung menuduhnya.” kata Youngjae.

“Bukankah sudahku katakan, eoh? Aku memang sudah curiga dari awal.” gerutu Yoongi. “Apa ada hal lain yang kau dapat?”

“Ya. Jihyeon bilang saat pertama kali mendengar berita Kim Mi Joo dibunuh, pikirannya langsung tertuju kepada Kim Dong Hyun, ayah kandung Kim Seok Jin. Katanya setelah bercerai, Kim Dong Hyun jadi membenci anak dan mantan istrinya itu.” balas Youngjae.

“Kim Dong Hyun? Rumahnya tidak terlalu jauh dari rumah Kim Mi Joo, bukan?”

“Ya, sepertinya kita harus menyelidikinya.” gumam Youngjae.

“Tapi kita tidak memiliki bukti yang menunjukkan Kim Seok Jin bukan pembunuhnya. Dan … apa kau yakin Kim Dong Hyun bisa jadi tersangka?” tanya Yoongi.

“Hei, Yoongi. Semua orang bisa menjadi tersangka. Bahkan jika kau mau, kau boleh saja mencurigai semua orang di kafe ini. Seorang pembunuh tidak hanya orang yang mengenal korban, bukan? Jika kau mencurigaiku, boleh saja.”

Yoongi memicingkan matanya ke arah Youngjae. “Apa kau pelakunya?”

“Apa? Bukan itu maksudku. Itu hanya contoh. Aku punya alibi, mengerti? Tanyakan pada ketua, aku ada di kantor saat pembunuhan itu terjadi.” elak Youngjae.

“Baiklah.” Yoongi bersikap normal lagi. “Kalau begitu, kapan kita akan menyelidiki Kim Dong Hyun?”

“Hm. Bagaimana jika besok kita ke rumahnya?” usul Youngjae.

“Ya, aku rasa sebaiknya besok saja.” gumam Yoongi. “Ah, tapi waktu istirahatku sudah habis. Sampai jumpa!” Yoongi bangkit dari kursinya dan melangkah pergi. Youngjae ikut pergi juga karena ia juga harus berpatroli.

Diam-diam, dua orang yang duduk pada bangku di belakang mereka mendengarkan perincangan Yoongi dan Youngjae tadi. Keduanya tersenyum sinis.

“Cih, mereka pintar tapi bodoh,” ucap salah satu dari mereka.

“Ya, tapi kurasa kebodohan mereka melebihi kepintarannya.” Orang itu terkekeh. “Tapi … apa itu benar-benar Min Yoon Gi?”

“Aku rasa begitu. Dia benar-benar berubah semenjak ia kembali dari Daegu.” balas temannya.

“Bagaimana dengan Jungkook? Kukira dia benar-benar sudah mati saat kau memukulnya.” kata orang itu.

“Dia hanya sedang beruntung. Jika saja Yoongi tidak mengikutinya, ia pasti sudah tidak berada di dunia ini lagi.” sahut temannya sambil memainkan handphone-nya.

“Lalu sekarang apa yang harus kita lakukan? Bukannya orang itu meminta kita membunuh Kim Mi Joo dan kedua anaknya itu?”

Orang itu menyeringai. “Kita lupakan tentang Seokjin. Dia pasti sudah sengsara berada di penjara. Sekarang kita hanya perlu mengurus Jungkook.”

“Oh. Kapan kita akan membunuhnya?”

“Tidak, kita tidak akan membunuhnya.” kata orang itu sambil menggeleng. “Kita akan memainkan ingatannya yang sudah menghilang itu. Pasti menyenangkan.”

Kedua orang itu bangkit dari kursi mereka lalu berjalan keluar dari kafe. Mereka melirik Yoongi yang masih menyalakan motornya. Salah satu diantara mereka menyeringai kemudian terkekeh pelan. Setelah Yoongi pergi, orang itu bergumam pelan.

“Apa kau masih mengingat kami, Yoongi? Jika kau mengingat janji kami, aku yakin kau akan menjadikan kami tersangka. Bodoh.”

~-~

Matahari sudah mulai terbenam. Jimin mencoba menahan kantuknya sejak jam pelajaran terakhir ini dimulai. Bukan hanya Jimin, melainkan sebagian besar murid di kelasnya. Tak ada yang telihat antusias dengan pelajaran matematika yang diajarkan Guru Seo, kecuali murid yang duduk di sebelah Jimin. Namja itu melihat ke arah papan tulis sambil mendengarkan penjelasan Guru Seo. Tangannya menggenggam sebuah pulpen dan menggoreskannya ke atas buku di mejanya. Tapi raut wajah namja itu terlihat kebingungan.

Tiba-tiba bel pulang berbunyi. Murid-murid di kelas itu langsung memasukkan buku-buku mereka ke dalam tas dan bangkit dari bangku mereka. Dalam sekejap ruangan itu sudah hampir kosong. Guru Seo menggeleng-gelengkan kepalanya, ‘kagum’ dengan sikap murid-muridnya.

“Jangan lupa, minggu depan akan ada ulangan!” seru Guru Seo sebelum kelasnya kosong.

Jungkook yang masih duduk di bangkunya menghela napas pelan. Ia ketinggalan banyak pelajaran sehingga ia tidak mengerti dengan apa yang diajarkan Guru Seo tadi.

“Jungkook, ayo kita pulang!” ajak Jimin yang sudah berdiri sambil meneteng tasnya.

“Jeon Jung Kook.”

Jungkook menoleh ke arah Guru Seo yang memanggilnya. “Ya?”

“Kau ketinggalan banyak pelajaran. Karena ulangannya sebentar lagi, aku ingin mengadakan kelas tambahan untukmu sore ini. Kau tidak ada urusan, kan?” tanya Guru Seo.

Jungkook menggeleng. “Tidak.”

“Baiklah. Kau tunggu di sini sebentar.” Guru Seo berjalan keluar kelas meninggalkan Jimin dan Jungkook.

Jimin memajukan bibirnya. “Haruskah aku menunggumu?”

“Apa? Tidak perlu. Kalau kau ingin pulang, kau pulang saja.” kata Jungkook.

“Lalu bagaimana kau pulang?”

“Aku sudah hafal jalan pulang. Tenang saja. Kau pikir aku anak balita, huh?”

Jimin terdiam sejenak. “Huft. Baiklah. Hubungi aku kalau kelas tambahanmu sudah selesai. Sampai bertemu nanti!”

Jimin langsung berjalan keluar kelas meninggalkan Jungkook yang masih duduk di kursinya. Sedangkan Jungkook menatap langkah Jimin yang mulai menghilang.

~-~

“Argh. Seharusnya aku pulang dengan Jimin tadi.” gerutu Jungkook.

Jungkook terus melangkahkan kakinya tanpa tujuan yang pasti. Ia tersesat sekarang. Padahal seingatnya ia sudah turun di halte yang biasa dan ia juga menelusuri jalan seperti biasa, tapi ia tidak mendapati rumah Jimin di jalan itu. Bahkan sekarang ia lupa jalan untuk kembali, apalagi hari sudah mulai gelap.

Jungkook menghentikan langkahnya sejenak, memandang sebuah rumah di sisi jalan. Sebuah rumah yang dikelilingi garis polisi.

“Apa yang terjadi di sini?” ucap Jungkook pada dirinya sendiri.

Perhatian Jungkook tertuju pada bunga-bunga lily di halaman rumah itu. Ia langsung teringat dengan bunga lily yang selalu ada di ruangannya saat ia di rumah sakit. Jimin bilang itu dari eomma-nya. Tapi sejauh apapun Jungkook mencoba mengingat eomma-nya, ia tidak bisa mengingat seperti apa eomma-nya itu.

“Sekarang aku harus kemana?” tanya Jungkook pada dirinya sendiri. “Hm. Mungkin sebaiknya aku mengikuti jalan ini.”

Jungkook melangkahkan kakinya menelusuri jalanan. Suasananya benar-benar sepi, seakan-akan saat ini sudah tengah malam. Jungkook menghentikan langkah kakinya ketika mendapati lahan yang penuh dengan pohon di depannya. Jungkook terpaku melihat pepohonan itu. Mengerikan, pikirnya. Ia berbalik dan berniat kembali melewati jalan yang tadi. Namun ia tersentak ketika mendapati dua namja bermasker telah berdiri tepat di belakangnya.

“Oh, maaf.” Jungkook membungkuk seadanya.

“Untuk apa minta maaf?” balas namja itu.

“Eh?”

Namja itu mengangkat tangannya yang menggenggam sebilah pisau dan mengarahkannya ke Jungkook. Jungkook yang kaget segera berbalik dan berniat kabur. Namun langkahnya terhenti ketika menyadari di belakangnya adalah lahan yang penuh dengan pohon. Tubuhnya menjadi kaku seketika bersamaan dengan matanya yang membulat

Tiba-tiba mulut dan hidungnya ditutup dengan sebuah kain. Jungkook mencoba mengelak sekuat tenaga. Kepalanya mulai terasa pusing. Pandangannya mulai buram hingga akhirnya semuanya berubah menjadi hitam.

~-~

“Kau ingin pergi kemana?”

Pertanyaan itu terlontar dari mulut seorang namja ketika melihat rekannya bangkit dari kursinya dan mengenakan jaket hitamnya. Namja itu menaikkan resleting jaketnya dan mengambil kunci motornya yang berada di meja. Seakan tidak mendengar pertanyaan temannya, namja itu berjalan ke arah pintu dan bersiap memutar kenopnya.

“Hei, aku bertanya padamu, Yoongi!” seru namja itu sebelum rekannya itu menghilang di balik pintu.

“Ke rumah Jungkook.” jawab Yoongi pendek.

“Rumah Jungkook? Rumah Kim Mi Joo atau Park Ji Min?”

Yoongi tidak mempedulikan pertanyaan temannya itu. Ia melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu dan mengabaikan teriakan temannya. Ia berjalan menuju tempat parkir dan menaiki motornya.

Motornya melaju kencang melewati jalanan yang sepi. Kecepatannya mulai melambat ketika sudah memasuki jalan yang di kedua sisinya berjejer rumah-rumah. Namun ia membelokkan motornya ke jalan lain, bukan ke rumah yang menjadi tujuannya itu. Sebenarnya ia masih penasaran dengan kasus pembunuhan Kim Mi Joo itu. Tapi tampaknya rumah itu sudah tidak memiliki petunjuk lagi.

Yoongi menghentikan laju motornya di depan sebuah taman kecil. Beberapa anak tampak asyik bermain di taman itu. Pohon yang berada di tengah taman itu terlihat lebih besar dari yang diingatnya. Yoongi perkirakan umurnya sudah berpuluh-puluh tahun. Ah, tidak. Yoongi bisa memastikan pohon itu lebih tua dari umurnya sendiri. Kursi taman yang terletak di bawah pohon yang rindang itu terlihat masih baru. Yoongi yakin kursi-kursi di taman ini pasti sudah diganti karena sepertinya kursi seperti itu tidak akan bertahan dalam jangka waktu 20 tahun.

Empat anak yang sedang bermain bersama itu membuat Yoongi teringat masa lalunya. Ingin rasanya ia kembali ke masa lalu dan memperbaiki apa yang telah dilakukannya.

~ToBeContinue~

Advertisements

2 thoughts on “[BTS FF Freelance] Run (Chapter 6)

  1. I know! I know! I know! 😀
    Itu Jhope (Jung Hoseok) & RapMon (Kim Namjoon) kan?? 😉 Bener gak?? Bener gak??
    Ah, sepertinya benar 😀 haha. Tapi kalau benar, ya ampun Jhope & Rapmon jahat banget sampe mau ngebunuh Jin & Jungkook 😥

    Like

  2. annyeong aku reader baru disini.. sebenarnya aku sdh baca chapter 1-5. maaf baru comment di chapter ini.
    ceritanya kerenn seru menegangkan lucu juga, pokoknya the best..

    itu jungkook gimana?? kok nggak telpon jimin aja sih,
    siap baca lanjutannya, aku harap dewi fortuna ada di pihak jungkook..

    keep writing 🙂

    Liked by 1 person

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s