[BTS FF FREELANCE] The Book (Oneshot)

The Book`s cover

Title : The Book

Author : Sinta Kurosaki

Cast         : Kim Taehyung (BTS); Dema (OC)

Genre : Romance, AU

Rate : PG15

Lenght : Oneshot

Disclaimer : Cerita ini hanya fiksi belaka, hasil kerja otak dan jari jemari saya. Saya              hanya meminjam nama tokoh tanpa ada maksud peng-klaim-an dan pelanggaran hukum lainnya.

Author note : Huish! Yosh!  Woke,  cerita ini pernah saya publish di Fb, sama di Wattpad.  Di wattpad yg @D041BU, itu saya.  Jadi ini bukan jiplakan.

TOLONG KOREKSI KARYA ECEK-ECEK DARI AMATIR INI. ☺ jebal jebal jebal!

Terakhir, happy reading! Kalo nggak happy, di-happy-in aja.  😀

Buku itu masih saja seperti tadi. Setiap lembar kertasnya masih bersih, belum satupun goresan di atasnya. Pemiliknya memandang menerawang ke arah jalanan di bawah balkon apartemennya. Begitu padat. Maklum jam kerja sudah berakhir satu jam yang lalu, lagi pula sekarang hujan. Secangkir teh jahe yang sempat panas, kini tersisa separuhnya saja. Udara dingin Bandung telah mengubah suhu dari minuman itu, pun pemiliknya. Hawa dingin itu memaksanya untuk meletakkan buku dan pena yang sedari tadi ada di pangkuannya. Dan ia pun meletakkannya di atas coffee table putih disamping cangkir kaca bening berisi teh dingin itu. Sekarang sedikit rasa hangat mulai ia rasakan dari pelukannya sendiri pada kedua kakinya yang kini naik ke atas kursi putih dengan alas duduk motif bunga itu.

Bunyi ponsel dari dalam kamar membuatnya terhenyak dari aktivitas ‘memandang-diam-bernapas’. Desah napas terdengar sebelum ia berdiri dan dengan malas mengambil benda tersebut. Sebuah video call, dan dengusan kecil terdengar sebelum sapaan dari orang di seberang sana menghangatkan ruangan  bernuansa dominasi putih itu. Ia tersenyum kecil membalas orang yang ada di seberang sana.

“Hanya itu?” pertanyaan yang membuat alis kanannya tertaut.

‘Hanya itu’apa?” desah napas terdengar dari si penelepon setelah mendapat balasan pertanyaan dari sang komunikan.

“Apa kau tidak merindukanku? Ini sudah tiga bulan, dan ini kali pertamanya kita berhubungan lagi. Apa kau tidak merindukanku?” pria itu mulai berapi-api.

“Tentu, aku sangat merindukanmu. Kau kesayanganku.”

“Kau bohong!”

“Aku tidak begitu!”

“Iya, kau begitu!”

“Tidak, aku bersungguh-sungguh. Kau satu-satunya kesayanganku.”

“Lalu kenapa ekspresimu seperti malas menemuiku? Hah!?”

“O.. aku tahu, disana kau sudah menemukan penggantiku. Benar kan!?” lanjut pria itu masih mengapi-api.

“Apa selama aku tidak ada kau tidak membersihkan telingamu? Sudah kubilang kau satu-satunya kesayanganku, tidak ada yang lain.”

“Ah.. baiklah. Aku melupakannya.”

“Lupa apa?”

“Ekspresimu seperti itu karena kau memang cacat otot wajah.”

“Sial! Ok, aku cacat otot wajah dan kau cacat mental. Kau  tidak selamanya bisa bermain Tuan Kim.. kau sudah dewasa, ah tidak, kau sudah tua dan kau…..”

“Ayolah.. jangan mulai lagi, telingaku sudah merasa damai tanpa ocehanmu tiga bulan ini, tolong jangan rusak itu.” Ekspresi pria itu kini berubah malas ketika memotong kalimatnya, dan itu lucu.

“Kalau begitu untuk apa kau menghubungiku? Kalau bukan merindukan suara indahku?”

“Hah? Kau gila!? Aku.. aku hanya ingin tahu apa kau dapat hidup dengan baik tanpaku,”

“Tentu saja. Memangnya kau siapa?”

“Aku? Aku Tuan Muda Kim dan kau orang yang selalu bersandar padaku.”

“Hei! Siapa yang menyandar pada siapa?! Kau lupa kau selalu datang ke apartemenku di tengah malam saat diusir ayahmu?”

“Jangan melebih-lebihkan!” Pria itu memberi jeda pada kalimatnya seolah ia mencari-cari apa yang bisa ia jadikan senjata.

“Kau sering kutraktir, entah itu makan siang, makan malam atau hanya minum. Ingat itu!” lanjut pria itu penuh percaya diri.

“Iya, aku ingat. Dan satu hal yang kau lupakan Tuan Muda Kim, aku  tidak pernah memintanya, bahkan biaya hidupmu di rumahku lebih tinggi dari traktiranmu itu. Ingat itu!” Ia meniru nada bicara pria itu, membuat wajah si pria terlihat seperti kepiting rebus siap saji.

“Seharusnya kau lihat wajah malumu sekarang! Aku hanya tinggal memberimu mayonnaise. ” lanjutnya, tawa mengejeknya mulai terdengar memenuhi apartemen.

“Ah! Ok, ok, kau menang! Iya, akulah orang yang bersandar padamu. Puas!?” pengakuan aneh dari pria bermarga Kim itu membuatnya harus merasakan sakit di perut karena rasa geli yang hebat, bahkan air matanya hampir saja menetes. Ia sangat puas.

“Sekarang giliranmu!” perasaan aneh mulai dirasakannya dan itu menginterupsi tawanya.

“Giliran apa?”

“Tunjukkan dirimu sekarang!”

“Maksudmu?”

“Dema, apa daya tanggapmu melemah?”

“Itu karena aku berbicara denganmu.”

“Sial! Maksudku kau tunjukkan penampilan dan apa yang sedang kau lakukan saat ini.”

“Kau membalasku.” Mimik dan intonasi datarnya mengundang cekikikan pria yang menjadi lawan bicaranya.

Ponsel hitam itu ia letakkan di atas nakas, menyandarkannya pada lampu duduk yang kap-nya bermotif senada dengan gorden kamar itu, motif paint brush. Hati-hati ia membenarkan posisi ponselnya agar tidak jatuh dan  dapat mengambil angle yang baik.

“Cepatlah! Aku mulai berkecambah!”

“Tak bisakah kau sedikit bersabar?”

“Ini panggilan luar negeri!”

“Bukankah kau kaya raya?”

“Kau pikir uang tumbuh di pohon!?”

“Ya, ya, tunggu sebentar, aku tak ingin poselku jatuh dan rusak hanya karena kekonyolanmu.”

“Hn.”

“Ya, siap.” Dema berdiri memperlihat kan dirinya.

“Bagaimana? Apa aku mengecewakanmu?” lanjutnya.

“Iya. Padahal kupikir kau akan berpakaian seperti bibi penjual Teokbokki karena berpisah denganku..”

“Kau kira aku sakit jiwa? Kau kira siapa dirimu?” Dema duduk kembali menghadap ponselnya.

“Kau curang! Hanya aku yang dipermalukan disini!”

“Childish!”

“Yes I am.”

“Aigoo..! kenapa aku harus kenal orang seperti ini?”

“Takdir Tuhan.”

“Takdir buruk.”

“Kau meragukan Tuhan? Siapa yang tahu jika kita mungkin… berjodoh?”

“Mengingat perilakumu, aku ragu akan itu.”

“Kau meragukan-Nya lagi.”

“Terserah apa katamu.” Cekikikan pria itu terdengar kembali.

“Dema..”

“Hn, apa!?”

“Ng? Apa disana nyaman?”

“Tentu saja, karena tidak ada makhluk bernama Kim Taehyung.”

“Ish, aku serius!”

“Untuk sekarang aku masih nyaman, aku tak tahu dengan besok lusa.”

“Berapa lama lagi kau akan pulang?” Pria bernama Kim Taehyung itu mulai terdengar serius.

“Aku sudah pulang, rumahku disini.”

“Maksudku Korea.”

“Entahlah, kupikir akan lama. Disana terlalu banyak kenangan buruk dan indah yang bercampur, membuatku tidak nyaman.”

“Maaf. Tapi, berjanjilah ketika kau siap pulanglah kemari.”

“Entahlah..”

“Dema..!”

“Baiklah.”

“Kutunggu janjimu itu.” Taehyung tersenyum, senyumnya tulus, berbeda dengan ekspresinya tadi.

“Taetae, bagaimana kabar Jangmi? Apa persiapan pernikahan kalian sudah selesai? Aku minta maaf tidak bisa membantu..” mimik wajah Taehyung berubah mendengar pertanyaan tersebut.

“Mm.. Jangmi? Entah, kuharap ia baik.”

“Kenapa begitu? Seharusnya kau tahu.”

“Dema, kami berpisah.”

“Kenapa? Kenapa bisa? Bulan depan kalian menikah bukan?”

“Ia hamil.”

“Lalu, apa masalahnya?”

“Ia lari bersama ayah bayi itu.”

“A-aku turut berduka.” Penyesalan nampak jelas di wajah Dema.

“Tidak apa-apa. Bukan jodohku. Mungkin juga ini karmaku.” Dema tahu Taehyung berusaha keras agar bisa nampak tegar seperti itu.

“Untungnya undangan belum disebar, kau tahu, Ayahku pasti akan mati berdiri jika hal itu sampai terjadi, dan aku akan dihantui arwahnya sampai ke pemakamanku.” Kelakar yang terdengar memaksa itu Dema tanggapi dengan tertawa, membantu menguatkan Taehyung.

“By the way, apa Paman baik-baik saja?”

“Sebelumnya ia tidak baik-baik saja, kau tahu sendiri kan bagaimana Ayahku? Tapi jangan khawatir, sekarang ia sudah bisa meneriakiku.” Taehyung menjawab sambil tersenyum.

Dema mengangguk mengerti.

“Itu artinya beliau sudah kembali seperti semula.” Ia kemudian ikut tersenyum.

“Lalu bagaimana dengan Bibi?”

“Ia akan selalu dalam keadaan baik, selama di dunia ini masih ada fenomena bernama fashion.”

“Ah, iya, beliau God of the Fashion. Kadang ibumu membuatku iri.” Dema kembali mengangguk-angguk.

“Jangan menyimpan perasaan seperti itu terhadap ibuku. Aku khawatir kau akan menjadi segila ibuku terhadap fashion. Itu sangat sangat sangat buruk.”

“Oh.. kau tahu sekarang aku terbayang ketika ibumu datang ke acara kelulusan sekolah menengah kita.” keduanya mulai tertawa-tawa.

“Itu awal dari kegilaan Ibuku terhadap pakaian.”

“Ia datang dengan menggunakan pakaian panggung penyanyi. Maaf, tapi itu lucu, bahkan semua orang mengiranya seorang penyanyi dan memintanya berfoto bersama.”

“Ibuku sama sekali tidak bisa menyesuaikan situasi. Aku sangat malu saat itu.”

“Aku masih ingat wajahmu sudah sangat merah, tapi ibumu malah menarik-narikmu untuk ikut berfoto bersama. Ahh.. aku rindu masa-masa aneh seperti itu.”

“Tapi kenangan konyol itu begitu indah bukan?” Dema mengangguk setuju.

“Itu tak akan bisa terulang kembali.” Ujarnya.

“Yah, begitu indah karena saat itu aku terlibat di dalamnya.” Taehyung mulai bertingkah bak seorang photo model.

“Yak! Hentikan wajah mengerikan itu!” Taehyung langsung merengut mendengarnya.

 “Ya, harus kuakui kau terlibat, karena setiap kali ada kau  kekonyolan pasti akan terjadi. Tapi untuk kata indah, aku sama sekali tidak setuju.” Lanjut Dema

“Terserah apa katamu. Tapi aku ada dalam kenangan indahmu.” Taehyung menampakkan percaya dirinya.

“Tapi, kau juga ada dalam kenangan burukku.” Mimik wajah Dema terlihat datar, begitu pun nada bicaranya.

Taehyung menolehkan kepalanya ke kiri kemudian menghela napas dalam. Ia nampak berpikir atau mungkin juga mengenang.

“Dema, apa kau masih menyimpan buku yang kuberikan waktu itu?”

“Buku yang mana? Kapan kau memberikannya? Ada banyak buku yang kau beri.”

“Buku bergambar mawar putih di sampulnya, buku yang kuberikan saat…” Taehyung nampak menimbang-nimbang apa yang akan dikatakannya.

“Saat kau memutuskan hubungan kita dan memintaku untuk tetap bersamamu… sebagai teman baik.” Dema melanjutkan kalimat Taehyung untuknya sendiri.

Taehyung kembali menarik napas.

“Ya, yang itu.”

“Aku masih menyimpannya.” Dema tersenyum tipis, benar-benar tipis.

“Simpanlah dengan baik. Buku itu kuberikan sebagai harapan untukmu.”

“Harapan?” Dema sama sekali tidak menampakkan ekspresi bingung yang berlebihan, ia hanya diam. Taehyung terdiam karena respon yang ia dapat, kemudian ia tersenyum dan mengangguk kecil.

“Buku itu kupilih karena sampulnya.”

“Karena sama dengan nama kekasih barumu, Jangmi?ˮ

“Bukan sama sekali. Mawar putih itu lambang kasih sayang, persahabatan dan cinta yang suci. Dan warna putih itu simbol dari kemurnian. Aku tahu kasih sayangmu padaku begitu tulus, namun dengan egoisnya aku malah melepasmu. Aku berharap masih bisa mendapat kasih sayangmu itu sebagai sahabat. Kasih sayang seorang sahabat tidak didasari nafsu, kasih sayang seorang sahabat itu murni dan kuharap kau bisa memberikannya padaku.”

Dema kembali tersenyum tipis, ia mengangguk.

“Aku memang si Brengsek yang egois. Itulah sebabnya aku memintamu untuk menuliskan apapun yang kau inginkan pada buku itu. Maksudku kau bisa mencaciku, memakiku, menyumpahiku, atau apapun itu. Kuharap dengan menuliskannya pada buku itu, perasaanmu akan lebih baik.”

“Terima kasih untuk perhatianmu, dan terima kasih lagi karena kau baru saja memberiku sebuah ide akan kuapakan buku itu.ˮ Senyum tipis Dema lagi-lagi nampak dan membuat napas Taehyung terhenti untuk sepersekian detik.

Ya, senyuman Dema tidak membuat perasaannya menjadi lebih baik, ia malah merasa semakin buruk. Senyum teramat tipis itu menampakkan luka hati yang dibuat olehnya. Ia bukan pria berjiwa ayam yang tidak mengakui kesalahan, tapi waktu tak bisa diputar kembali bukan? Ia tak bisa berbuat apa-apa untuk mengubah kenyataan itu. Ini bukan seperti ketika kau menonton video, jika kau tidak suka, kau bisa menghentikannya ditengah-tengah dan beralih pada video lain.

Ia tahu bahwa Dema tahu dirinya benar-benar menyesali kesalahan buruk itu. Ia tahu dirinya adalah penjahat dalam kisah Dema, tapi tak bisakah penjahat ini mencoba memperbaiki apa yang telah ia perbuat? Taehyung sendiri tahu bahwa ia seperti bajingan gila yang telah mencampakkan seorang gadis dan dengan egoisnya menyeret gadis terluka itu untuk tetap berada di sisinya. Membiarkan gadis terluka itu melihat dirinya bersama wanita lain. Membuat gadis terluka itu memaksa tersenyum kala tangis membanjiri hatinya.

Keduanya masih dalam posisi yang sama, kecuali bibir bawah Taehyung yang kini tengah digigit-gigit kecil pemiliknya. Ia nampak berpikir, matanya menatap tepat ke lensa kamera membuatnya secara tidak langsung menatap mata Dema. Dema menyadari Taehyung tengah menimbang-nimbang sesuatu.

“Ada apa? Jika ada yang ingin kau sampaikan, katakanlah!ˮ Dema bermaksud mengakhiri rasa penasarannnya.

“Ng, aku tak yakin kau mau mendengarnya..ˮ

“Katakanlah! Jika tidak, akan kuakhiri panggilan ini.ˮ

“Ja-jangan! Ng.. baiklah..ˮ Taehyung menarik napas dalam-dalam.

“Dema, aku pikir aku ingin mengakhiri persahabatan kita..ˮ

“Kenapa? Kau sendiri yang menarikku, kenapa harus diakhiri?ˮ

“Dema, aku tahu aku keterlaluan, aku tahu aku bajingan egois, tapi.. aku ingin kita memulai kembali dari awal.ˮ Tehyung masih menatap kamera.

“Memulai kembali apanya?ˮ

“Hubungan kita. Aku tahu ini agak… ya… kita sama-sama tahu. Tapi, bisakah aku mengganti tujuh tahun yang buruk ini? Aku ingin menghapus kisah-kisah buruk itu. Tidak, aku bukan ingin menghapus kenyataan bahwa aku pernah menyakitimu. Aku hanya… hanya ingin memperbaikinya. Itu maksudku, kuharap kau mengerti.ˮ

Dema menarik napas, kemudian tersenyum dan mengangguk. Senyumnya kini terlihat jelas, namun entah mengapa malah membuat dada Taehyung terasa ditikam sembilu.

“Aku mengerti maksudmu. Hanya saja…ˮ

“Jangan dijawab dulu, kau bisa memikirkannya lagi. Satu hal yang harus kau tahu: aku tidak akan lari dengan wanita lain lagi. Itu benar, aku bersumpah!ˮ Dema menanggapi candaan Taehyung dengan tawa renyahnya membuat jantung pria itu berpacu, ia merutuki dirinya sendiri yang pergi meninggalkan anugerah seindah ini.

“Tidak usah dipikirkan lagi, aku sudah yakin. Bolehkah aku menjawabnya sekarang?ˮ

“Tentu saja, silakan, aku siap.ˮ

“Taehyung, maaf aku belum bisa seperti maumu. Kurasa sekarang akan lebih baik jika kita lanjutkan hubungan kita yang sekarang ini.ˮ

“Apa aku boleh menunggumu?ˮ

“Boleh saja, hanya… jangan terlalu bergantung, kita tidak tahu apa yang sedang menunggu kita di masa depan.ˮ Taehyung tersenyum dan mengangguk kecil.

“Apa kau kecewa dengan jawabanku?ˮ

“Tentu saja. Tapi, aku menghargai keputusanmu. Aku cukup tahu diri..ˮ

“Oh… tapi kau tetap Taetae kesayanganku.ˮ wajah Dema berubah gemas.

“Mm, terima kasih hiburannya..!ˮ keduanya saling melempar senyum.

“Hei! Ini sudah terlalu lama! Berapa uang yang kuhabiskan untuk ini!? Dema kita harus mengakhiri ini, aku tak mau bangkrut hanya karena ini.ˮ Taehyung mulai bertingkah konyol dengan berpura-pura menjadi chaebol pelit. Dema tahu Taehyung ingin mengubah suasana canggung ini dengan tingkah konyolnya, pria itu sering melakukannya, dan ia suka itu.

“Baiklah, sampaikan salamku pada Paman dan Bibi.ˮ

“Akan kusampaikan kalau mereka mendapat kiriman salam dari calon menantu di luar negeri.ˮ

“Kau!!ˮ

“Baiklah, sampai jumpa!ˮ

“Sampai jumpa!ˮ

“Dema, jangan berlari terlalu kencang, aku akan mengejarmu!ˮ tangan kiri Taehyung ia tempatkan di sisi mulutnya untuk memperbesar volume suaranya seolah ia benar-benar meneriaki seseorang yang jauh di depannya.

Sambungan video call pun terputus. Dema berdiri dan melangkah kembali ke balkon. Hujan telah reda. Ia duduk dan meraih buku yang terbuka di atas meja di hadapannya. Dema menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia kemudian mengambil pena yang dijepitkan pada lembar kertas buku itu. Ia membuka tutup pena itu dan menuliskan sebuah judul di lembar awal buku itu: ‘The Stained White Rose’. Bunga mawar putih yang ternoda.

Tamat 

Advertisements

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s