[BTS FF Freelance] 나의 지구 – (BAB I)

Destiny by Springsabila

나의지구

BAB I [The Story Begun]

A fanfict originally written by BabyChim

BTS’ Jeon Jungkook || OC’s Oh Jungsoo || BTS’ Kim Taehyung

Bangtan and OC’s Kwon Reina are support cast!

Teen || Happy, Sad, Hurt, Angst, Friendship, etc. || Chaptered

Thanks a lot buat kak Dewi (dewiathena) atas kata-kata bijak tentang cinta yang sesungguhnya di fanfict ‘The Red Bullet’. Aku terinspirasi agar sedikit nyelipin kata bijak di cerita. Makasih buat fanfict-fanfict kerennya yang selalu bikin aku nangis kejer dan jadiin referensi aku untuk buat cerita ini.

Amazing Poster by Springsabila

Backsound

Lovelyz – Destiny, BTS – Dead Leaves, Hug Me or EXO’s Chanyeol and Chen – If We Love Again

.

.

^o^

.

.

“Apakah kau tahu, cinta dan benci hanya dipisahkan oleh sebuah garis tipis?”.

“Jungsoo!” Rei menghampiri Jungsoo yang sedang membaca di kelas. “Kau sudah belajar untuk ujian nanti?”.

“Tentu saja,” Jungsoo tersenyum lebar.

“Baguslah, kukira kau sudah lupa karena terus mengingat Jung―”.

“Sudahlah Rei,” Jungsoo mendesah pelan. “Aku memikirkan perkataanmu semalam. Dan ternyata kau benar. Perlahan, aku akan melupakannya..”.

Rei tersenyum lebar lalu memeluk erat Jungsoo. “Ini baru sahabatku!”.

Jungsoo terkekeh. “Iya..”.

.

.

“Jeon Jungkook …,” seorang pria tua duduk di sofa dengan raut wajah kesal menatap pria muda yang sedang duduk dengan santai. “Kau berulah lagi?”.

“Berulah apa lagi, Harabeoji?” Jungkook menautkan alisnya. “Tampaknya aku banyak sekali berulah..” Jungkook terkekeh pelan seraya sedikit berdecih.

Jeon Jinyoung, pria itu berdiri perlahan. “Hari ini kau tidak masuk sekolah lagi?”.

Jungkook hanya berdehem. “Hmm, benar.”.

Jinyoung menarik nafas. “Apa kau gila, Jungkook?” tanyanya dengan suara keras. “Ini sudah kelima kalinya kau tidak masuk sekolah!”.

Jungkook terkekeh, terkesan meremehkan. “Tumben sekali Harabeoji peduli padaku. Biasanya, Harabeoji hanya peduli pada bisnis Harabeoji saja―”.

Jinyoung berjalan ke arah Jungkook lalu menamparnya. Seketika, keheningan menyelimuti mereka. Jungkook berdecih dengan wajah tak peduli. “Harabeoji berbisnis bukan untuk Harabeoji, tetapi untukmu.”.

Jungkook menatap Jinyoung dengan wajah kesal bercampur sedih. “Aku tidak perlu harta atau apapun, Harabeoji! Aku hanya perlu diperhatikan! Abeoji dan Eomma tak peduli padaku sejak kecil. Dan selama itupula Harabeoji yang selalu memperhatikanku. Tapi, semenjak Abeoji dan Eomma bercerai, tidak ada yang mau merawatku, terkecuali Harabeoji. Dan saat itupula … Harabeoji sudah tak peduli padaku lagi!!” Jungkook menyambar jaketnya dan berlalu.

Jinyoung menjadi lemas. Apa yang dikatakan cucunya itu benar. Nanar matanya menjadi sendu seketika.

“Aku membutuhkan ‘Soo’-nya kembali..” gumamnya pelan penuh harap.

.

.

“Eomma mau ke mana?” tanya Jungkook kecil.

Wanita berambut cokelat itu menoleh ke bawah dan tersenyum seraya berlutut. “Eomma mau pergi. Kau baik-baik ya, dengan Harabeoji?”.

“Tapi kenapa..?” Jungkook menangis.

Ny. Jeon merengkuh putranya ke dalam pelukannya. “Maaf, Eomma tidak bisa memberitahumu. Kau harus baik pada Harabeoji ya? Jangan nakal! Dengar selalu perkataan Harabeoji. Oke?”.

Ny. Jeon menarik kopernya dan memasuki mobil. Perlahan, mobil itu pergi. Meninggalkan Jungkook sendirian.

“EOMMA…!!!”.

“Jungkook..?”.

“Eo? Ada apa Hyung?” Jungkook menoleh pada Yoongi yang sedang memegang pundaknya.

Yoongi terkekeh. “Kau kenapa?”.

“Eo, tidak apa-apa..” Jungkook menggeleng.

Ya, hari ini, Bangtan bolos bersamaan. Memang mereka sangat nakal, walau begitu, penggemar mereka sangat banyak.

“Mau ikut kami ke pertandingan basket di lapangan?” Taehyung datang.

Jungkook menggeleng. “Tidak,”.

“Ah, ayolah!” Taehyung menarik tangan Jungkook, dibantu Yoongi.

Jungkook berdecih. “Ya sudah, ayo..”.

.

.

Jungsoo dan Rei duduk di sebuah bangku di dekat taman. Jungsoo membaca novel dan Rei bermain ponsel. Walaupun begitu, Jungsoo sedikit resah. Ia terus melirik Rei, lalu membuang pandangannya kembali. “Rei, rasanya aku tidak bisa..” Jungsoo mendesah pelan.

Rei yang sedang bermain dengan ponselnya itu menoleh. “Tidak bisa apa?”.

“Melupakan Jungkook..” Jungsoo memalingkan pandangannya.

Sontak, mata Rei membulat. “Apa kau bilang? Ayo, coba ulangi lagi! Kau pasti bisa, Soo! Pasti bisa!”.

“Rei …,” Jungsoo mendesah, “kau belum pernah merasakan jatuh cinta, jadi kau tidak tahu bagaimana rasanya. Aku bukan kau, Rei. Aku bukan Reina yang kuat dan tangguh. Aku Jungsoo yang lemah.”.

Rei terdiam sesaat dan memandang Jungsoo, lalu menunduk. “Ya, kau benar, Soo. Aku tidak pernah merasakan jatuh cinta, dan aku dengan mudahnya menyuruh seseorang untuk melupakan. Aku hanya tidak ingin kau terus menangis setiap saat karena tidak pernah dianggap ada oleh Jungkook..” matanya berkaca-kaca. “Aku hanya ingin yang terbaik untukmu, Soo … maaf sudah memaksakan kehendakmu ….”.

Jungsoo menuntun Rei ke dalam pelukannya. “Baiklah, baiklah. Aku tidak akan sering menangis karena Jungkook.”.

Rei tersenyum dan mendongakkan wajahnya. “Benarkah?”.

Jungsoo mengangguk. “Ya, tapi … sesekali boleh ‘kan..?”.

“Dasar!!” geram Rei.

“Hehe,” Jungsoo menyengir.

Rei memeluk Jungsoo erat dan Jungsoo membalas pelukan Rei. “Aku sayang dengan temanku yang satu ini!!” kata Rei yang dibalas anggukan dari Jungsoo.

.

.

“Apa kau kenal Oh Jungsoo?” tanya Taehyung pada Bangtan yang sedang berkumpul. Bangtan yang awalnya hening karena mereka larut dalam tidur mereka menjadi sedikit ramai. Siapa itu Oh Jungsoo?

“Siapa dia?” tanya Jimin. “Aku baru pertama kali mendengarnya.”.

“Aku tahu,” Jungkook yang fokus bermain dengan ponselnya itu menghela nafas. “Seorang perempuan gila yang tampaknya terobsesi padaku..”.

“Itu maksudmu?” tanya Jin pada Taehyung.

Taehyung menggeleng. “Bukan! Aku saja baru tahu namanya, tapi … sebenarnya dia tidak begitu, Kook.”.

Jungkook menoleh pada Taehyung. “Maksudnya?”.

Taehyung berdesis. “Dari yang kudengar dari anak-anak, dia hanya wanita baik-baik. Bukan perempuan gila seperti yang kau katakan. Kalaupun dia gila, dia pasti sudah masuk rumah sakit jiwa,”.

“Tidak Hyung!” Jungkook menggeleng. “Dia memang tidak seperti perempuan lain yang selalu meneriaki namaku dan mengejarku, tetapi, dia selalu menyatakan perasaannya padaku. Apakah itu tidak gila?”.

Sorot mata Taehyung yang awalnya bahagia, sirna seketika, tergantikan dengan sorot mata tajam yang membuat Bangtan selalu takut akan sorot mata tajam Taehyung. “Jangan berani lagi kau mengatainya gila, Jeon Jungkook..”.

Bangtan menoleh pada Taehyung. Apa ini? Taehyung mereka tidak pernah seperti itu sebelumnya. Dan ke arah manakah pertanyaan Taehyung ini? Kenapa tiba-tiba ia bertanya soal Jungsoo? Jungkook sendiri hanya bertanya. “Maksudnya?”.

“Kau pasti mengerti maksudku, Jungkook..” Taehyung menautkan alisnya. Tatapan mata sinisnya membuat Jungkook sedikit merasa curiga.

“Ya, ya, aku paham maksud Hyung. Hyung menyukainya, sementara aku terus meledeknya gila. Hyung tidak ingin orang yang Hyung taksir itu kukatakan gila, benar bukan?” Jungkook tertawa.

Taehyung mengepal kedua tangannya. Ia sungguh merasa kesal sekarang. Jungkook sudah kelewatan.

“Jungkook!” Jimin sedikit berteriak. “Jangan membuat suasana memburuk! Kau tahu ‘kan, jika Taehyung sedang marah, ia tak segan-segan akan menghabisi orang tersebut! Ini tidak lucu, Kook!”.

“Tenang saja, Hyung..” Jungkook menautkan alisnya pada Taehyung. “Hyung di depanku ini tahu batasannya,”.

Sorot mata Taehyung yang awalnya tajam menjadi sendu seketika. Batasan. Selalu saja Taehyung melunak ketika mendengar Jungkook mengatakan batasannya.

“Kau kumaafkan sekarang, Jungkook. Tetapi lain kali, kau tidak akan kumaafkan.” Taehyung menatap kesal Jungkook.

“Aku siap saja, Hyung..” Jungkook tersenyum meremehkan. “Tetapi, batasanmu akan selalu menghantuimu!”.

Taehyung menatap kesal Jungkook lalu pergi dari Basecamp Bangtan. Ia melajukan motornya secepat mungkin. Dari dalam, Bangtan hanya mendesah.

“Aku ingin sekali melerai, tetapi … mengingat batasanku, aku tak berdaya..” Jin menghela nafas.

“Jungkook selalu saja mengingatkan kita tentang batasan kita masing-masing. Dan seolah-olah dia tak mempunyai batasan. Dia Tuhan atau manusia yang mengatur batasan kita sebenarnya?” Namjoon mengeluh.

“Sabar Hyung. Aku tahu kau kesal, aku juga kesal, tetapi … sudahlah..” Hoseok menyabarkan Namjoon.

.

.

Taehyung menendang kerikil batu di sungai. Ia berteriak.

“ARGHH!!” teriaknya penuh amarah. “Kenapa dunia ini tidak pernah adil padaku?!!”.

Bangtan berdiri karena 7 orang pendiri yayasan. Orangtua Jin, Yoongi, Hoseok, Namjoon, Jimin dan Taehyung juga Harabeoji Jungkook. Karena Harabeoji Jungkook adalah pemberi donasi terbanyak, maka kekuasaan terbanyak dipegang oleh Harabeoji Jungkook―yang kemudian diwariskan kepada Jungkook. Karena hal itulah, membuat Jungkook menjadi berlaku sesuka hatinya. Dengan mengandalkan gelar sebagai pewaris, Jungkook memberitahu para Bangtan tentang batasan mereka masing-masing dan mengatakan bahwa ia tak mempunyai batasan apapun.

Sejak itulah, Jungkook menjadi seperti ini. Seorang yang ketus dan dingin, kasar, suka berlaku sesuka hatinya, suka memerintah dan tak pernah hormat pada Hyung dan Harabeojinya.

Hanya Taehyung seorang yang awalnya menolak adanya batasan bagi mereka, tetapi tak ada batasan bagi Jungkook, tapi mengingat bahwa Jungkook seorang yang keras kepala, membuat Taehyung terpaksa menerima segalanya.

Tetapi, tunggu … kenapa ia bisa seperti ini ketika Jungkook menjelek-jelekkan Jungsoo? Taehyung tentu kenal Jungsoo, begitupula sebaliknya. Tetapi, untuk mengobrol, mereka belum pernah. Sekalipun bertatap muka saja tidak pernah. Lalu, bagaimana Taehyung bisa mengenali Jungsoo?

Tiba-tiba, seorang perempuan datang dan duduk di bangku yang tepat berada di depan Taehyung. Ia terduduk lemas di bangku tersebut. Tunggu, Taehyung kenal wanita itu.

“Itu … Jungsoo ‘kan?” gumamnya pelan.

“Dunia jahat sekali padaku!!” teriak Jungsoo kesal.

Taehyung tersenyum miring. Rupanya dia juga sedang kesal sama seperti denganku―batin Taehyung.

.

.

Jungsoo menghentakkan kakinya ke tanah. Hari ini ia kesal sekali. Rei tidak ada, wanita itu bilang, ia mendadak harus pulang duluan. Jungsoo butuh seseorang untuk mengobrol. Tiba-tiba saja, tangan seseorang mengulurkan sebuah minuman float. Jungsoo menoleh, rupanya Taehyung. Tunggu … apa? Taehyung?

“Ambillah,” Taehyung tersenyum.

Jungsoo tergagap. Kim Taehyung? Anggota Bangtan? Pria yang dikenal akan keramahannya … menawarinya minuman?

“Kenapa? Ambillah! Aku mentraktirmu.” Taehyung terkekeh.

Jungsoo mengangguk. “T–terimakasih..” Jungsoo meneguk minuman itu.

Taehyung yang berdiri itu kemudian duduk di sebelah Jungsoo. “Kau selalu pergi ke tempat ini?”.

Jungsoo menoleh ke arah Taehyung sesaat. “Tidak selalu, disaat aku sedang kesal dan ketika Rei tidak ada.”.

“Rei?” Taehyung menautkan alisnya. “Apa maksudmu Kwon Reina? Rei yang pandai dan pemegang sabuk hitam taekwondo itu?”.

Jungsoo mendesah. “Sepertinya semua orang di sekolah tahu Rei. Ahh, untuk apa menanyakan pertanyaan bodoh seperti itu. Rei memang pandai, cantik, kuat, baik … dia sempurna. Tidak seperti diriku.”.

Taehyung terkekeh. “Siapa bilang? Kau juga terkenal, kok.” hibur Taehyung.

“Terimakasih atas hiburanmu. Aku terkenal karena menyatakan suka pada pria es di Sekolah. Gila bukan?”.

Taehyung terdiam. “Jungkook pasti pernah bercerita tentang kegilaanku pada kalian, bukan?”.

“Tidak,” Taehyung menggeleng, sehingga membuat Jungsoo menoleh. “Jungkook sebenarnya orang yang tertutup. Untuk mengetahui apa yang terjadi padanya, kami harus mencaritahu sendiri.”.

“Sebenarnya dia orang baik, aku tahu itu. Di dalam Jungkook yang tangguh, terdapat seorang Jungkook kecil yang rapuh. Orang menjadi dewasa untuk melindungi anak kecil yang ada di dalam diri mereka.” Taehyung tersenyum kecil. “Jungkook sebenarnya rapuh … hanya saja, ia sudah berlatih untuk tidak memperlihatkan kerapuhannya..”.

Jungsoo menoleh pada Taehyung, ia lalu menatap lurus. “Kau benar, terimakasih untuk motivasinya. Terimakasih juga untuk informasi Jungkook yang tidak pernah kuketahui sebelumnya. Aku menghargai itu. Omong-omong, kita belum berkenalan. Aku Oh Jungsoo.” Jungsoo mengulurkan tangannya.

Taehyung mengulas senyuman dan menjabat tangan Jungsoo, “Kim Taehyung.”.

“Kalau kau butuh teman mengobrol ketika Rei tidak ada, kau bisa menemuiku. Kelas 2-1. Aku akan membantumu,” tawar Taehyung.

Jungsoo menatap tak percaya. “Benarkah?”.

Taehyung mengangguk. “Tentu saja,”.

“T–terimakasih, Taehyung.” Jungsoo tersenyum.

Taehyung terkekeh. “Ya, sama-sama..”.

.

.

“Taehyung … darimana saja kau? Kami mencarimu tahu!” Jin menjewer telinga Taehyung keesokan harinya di kelas.

“Ahh, ma–maaf Hyung … kemarin aku ke sungai, ya sekedar melepas kekesalan..” Taehyung menyengir.

“Jangan diulangi lagi, Tae … kami lelah mencarimu, tahu!” geram Yoongi.

Taehyung menyengir lebar. “Iya, iya. Baik. Oh ya, dimana Jungkook?”.

Yoongi menghela nafas. “Anak itu … entahlah, ke mana dia aku pun tak tahu..”.

“Apa dia membolos lagi?” gumam Taehyung pelan. “Oh ya, Hyung … kemarin, aku bertemu Jungsoo….” seru Taehyung bahagia.

Bangtan menautkan alisnya. “Jungsoo? Jungsoo yang kemarin itu?” tanya Jimin.

Taehyung tersenyum seraya mengangguk. “Ya, kemarin kami bertemu dan mengobrol sebentar di sungai. Dia ternyata tidak seperti yang Jungkook katakan,”.

“Apa kau tertarik padanya, Tae?” Hoseok bertanya.

Taehyung terdiam. “Tidak, hanya saja, dia … ahh, sudahlah..”.

Jin menepuk punggung Taehyung. “Cerita padaku jika ada sesuatu, ya?”.

Taehyung mengangguk. Apa ini? Kenapa aku tampak takut dan terus mengingat Jungsoo? ―batin Taehyung.

.

.

Jungsoo menjulurkan kepalanya ke dalam kelas 2-1. Dimana Taehyung?Oh Tuhan, hari ini Rei tidak masuk dan aku harus bercerita pada Taehyung!!― batin Jungsoo.

“Kau..” seseorang mencolek kasar pundak Jungsoo, sehingga membuat Jungsoo menoleh. “Sedang apa kau di sini?” tanya wanita tersebut.

“Harusnya aku yang bertanya padamu. Sedang apa kau di sini?” Jungsoo berkacak pinggang.

Wanita itu mengibaskan rambutnya. “Aku sedang membuntutimu. Kau mau apa di sini? Apa kau mau menyatakan rasamu pada Jungkook?”.

“Apa?!” Jungsoo terkejut. “Bagaimana kau bisa ….”.

“Dasar bodoh,” kekeh wanita itu. “Satu sekolah ini sudah tahu jika kau wanita gila yang menyatakan rasa sukamu pada pangeran es di sekolah ini ….”.

Ahh, Jungsoo bodoh! Akhirnya satu sekolah tahu juga ‘kan? ―batin Jungsoo.

“Oke, kau boleh marah akan hal itu, tapi aku ke sini bukan untuk bertemu Jungkook. Aku hanya ingin bertemu Tae―”.

“Hai, Soo..” seseorang menggandeng tangan Jungsoo. Jungsoo menoleh. Tae–Taehyung..?

“Taehyung?” wanita itu tak percaya. “Kau … kau kenal wanita ini..?!”.

Taehyung, pria berambut cokelat itu mengangguk. “Tentu saja, dia temanku. Ayo Jungsoo, kita ke taman.”.

Jungsoo mengangguk pelan, ragu dan mengikuti langkah Taehyung.

Wanita itu melongo tak percaya. “Bagaimana bisa hal seperti itu terjadi, hah?”.

.

.

“Jadi, kenapa kau mencariku?” Taehyung memecahkan kesunyian di antara ia dan Jungsoo. Jungsoo sontak menoleh.

“A–aku … ingin bercerita ….” gumam Jungsoo pelan.

“Tentang?”.

Jungsoo berhenti berjalan dan menggembungkan pipinya. “Rei hari ini tidak masuk! Padahal aku ingin memperkenalkan kalian,”.

Taehyung menautkan alisnya. “Apa kau tahu alasan kenapa Rei tidak masuk?”.

“Tidak,” Jungsoo menggeleng, “sama sekali! Dia tidak menelfonku, atau memberiku pesan. Dia jahat!”.

Taehyung tersenyum kecil. “Kau sudah memberinya pesan?”.

“Sudah, tapi tak ada balasan!” gerutu Jungsoo. “Ahh! Aku jadi ingin permen kapas!!”.

“Permen kapas?” Taehyung mengernyitkan dahinya. “Kenapa jadi ke permen kapas?”.

Jungsoo menyengir. “Biasanya, kalau sedang kesal, aku beli permen kapas. Hehe,”.

Taehyung terkekeh. “Dasar..” geramnya. “Ya sudah, pulang nanti, kutraktir kau permen kapas dan ice cream untuk menghilangkan kekesalanmu.”.

Kedua mata Jungsoo berbinar. “Benarkah?!”.

Taehyung mengangguk mantap. “Tentu saja! Mau?”.

“Mau!!”.

“Ya sudah, nanti kita pergi.”.

“Yaay! Terimakasih, Taehyung!!!”.

Taehyung hanya tertawa, sementara Jungsoo terus bersorak. Tetapi, tanpa mereka ketahui, sebuah siluet berdiri tepat di belakang mereka sedang bersembunyi di balik pilar. Ia menunjukkan smirknya lalu secepat kilat ia berlalu.

~ TBC ~

P.S. “Orang menjadi dewasa untuk melindungi anak kecil yang ada di dalam diri mereka”itu kutipan dari webtoon 304th Study Room..

Advertisements

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s