[BTS FF FREELANCE] Jungkook Series : Problem (Chapter 8 – END)

ir-req-jungkook-series-2-e1466503162886

Jungkook Series : Problem (Chapter 8 – END)

A story by : coolbebh’s

Starring by : Jeon Jungkook [BTS’s], Nam Heewon [OC’s]

Married Life – Slice of Life | PG-17 | Chaptered

 

.

.

Word ; 2,045

Warning! Plot is mine >,,<

 

.

.

 

Coolbebh’s Present **

 

Pagi hari yang masih dingin, menyelinapkan beberapa tetes embun pada daun-daun yang berayun disana dengan beberapa hembusan angin halus. Mentari pun belum memunculkan kilauan indah yang pastinya akan menghangatkan bumi. Dan memang, semua makhluk di permukaan bumi ini masih enggan beranjak pada tempat persembunyian yang hangat dan nyaman.

 

Berbeda dengan perempuan yang tengah hamil tujuh bulan itu, ia beranjak dari kasurnya berniat untuk mengawali aktifitas ringannya yang tak akan mengkhawatirkan kandungannya itu. Kini, ia melirik ke sisi samping tepat suaminya terlelap dengan tenangnya disertai dengkurannya. Wanita ini tersenyum sejenak, kemudian mengecup pipinya pelan, takut bahwa suaminya itu terbangun akan istirahatnya.

 

Baik, suaminya sangat-sangat sibuk akhir-akhir ini.Yang menyembabkan dirinya terbengkalai di rumah, yang suaminya lakukan di saat kerja adalah hanya menghubunginya lewat telfon atau pun video call.Tak henti-hentinya suaminya itu mengabarinya dengan jeli, sebuah pekerjaan yang tak penting pun suaminya itu menginformasinya dengan senang hati.

 

Sebenarnya … Heewon sangat-sangat khawatir dengan kesehatan Jungkook akhir-akhir ini.Suami tercintanya itu jarang makan dan hanya memakan cemilan ringan yang hanya bisa mengganjalkan perut sesaat.Apalagi, suaminya kini jarang pulang.Hanya seminggu tiga kali, itu pun jika tak kelelahan di kantornya.Mungkin, ini factor Heewon mengkhawatirkan Jungkook yang tak bisa menjaga tubuhnya itu dan beralih mementingkan pekerjaan proyek besarnya. Mungkin, jika ia mempunyai nyali, Heewon akan memarahi Jungkook tanpa ampun, dan takkan bisa mengulanginya lagi.

 

Apalah daya, ia tak mampu. Meski itu untuk kebaikan Jungkook juga.

 

Kini, Heewon telah beranjak dari kasur hangatnya dan beralih memungut baju kemeja Jungkook yang tergeleak di sofa kamar. Saat ini, ia akan mencuci pakaiannya agar lebih mengefektifkan waktunya. Bisa saja kebersamaan bersama Jungkook lebih lama dibandingkan hari-hari yang lalu, meski ia tahu beberapa saat kemudian Jungkook akan segera mendapatkan sebuah panggilan dari perusahaan. Menyebalkan!

 

Segera Heewon membersihkan tubuhnya itu dan melepaskan semua helaian pakaiannya.Dilemparnya pakaian itu pada tempat pencucian tanpa memperdulikan bentuk kekusutan bajunya itu bersama pakaian Jungkook.

 

Selang beberapa saat setelah selesai, ia membuka lemarinya mencari pakaian yang cocok di hari ini. Sejenak, ia menatap Jungkook yang masih meringkuk memeluk selimutnya itu. Perlahan, senyumannya itu mengembang pada saat Jungkook tengah melenguh akan kenikmatan tidurnya. Beberapa saat kemudian, Heewon mengerjapkan matanya beberapa kali menyadarkan dirinya pada lamunan yang dibuatnya.

 

Tungkainya kini mengajaknya pada kamar mandi yang dikhususkan untuk mencuci baju saja, ia kembali memungut bajunya dan suami tercinta itu yang memang masih disimpan pada ember. Tangannya mengambil satu per satu bajunya kemudian mengambil kemeja putih milik suaminya.Sesaat, Heewon mengelus kain kemeja itu dengan perlahan tanpa menghilangkan senyuman manisnya.

 

Ia terkikik pelan, kemudian membalikkan kemeja itu pada area belakangnya. Heewon menatap lekat pada kemeja belakang suaminya.Entah kenapa, senyuman itu memudar perlahan-lahan —menyiratkan sisi kekecewaan yang amat dalam. Matanya kini tertuju pada objek yang dicurigainya, yang selalu dikhawatirkannya sejak dulu, ia merasa matanya kini sangat terasa panas. Dan berakhir meluncurkan linangan air matanya.

 

Ia mengusap objek itu dengan perasaan campur aduknya perlahan, dadanya kini terasa sesak tak bisa dikatakan lagi oleh kata-kata.

 

Sebuah stempel kecupan lipstick telah mengotori kemeja putih Jungkook di belakang kerah dan pundaknya. Lantas, apa yang terjadi? Apa yang dilakukan Jungkook selama ini dibelakangnya?

 

“Apa ini?” gumamnya pelan.Ia mengusap seluruh air matanya dengan kasar dan meniatkan tubuhnya itu kembali pada kamarnya yang tak jauh dari tempat asalnya. Perasaannya semakin menggebu-gebu, sakit dan kecewa telah ia rasakan saat ini. Yang dibutuhkan dirinya saat ini adalah sebuah penjelasan yang sangat jelas dan detil.

 

BRUK

 

Heewon melemparkan baju Jungkook itu dengan kasar pada si empunya yang masih menikmati aksi tidurnya.

 

“Jungkook!” panggilnya tegas.

 

Merasa terpanggil, kini Jungkook mulai mengusikkan tubuhnya perlahan dan menyesuaikan cahaya yang masuk pada iris matanya.Perlahan, objeknya itu menatap Heewon yang kini menghunuskan tatapan tajamnya yang tak Jungkook sukai.Ia segera beranjak pada tidurnya dan beralih mengusak rambutnya.

 

“Ada apa, sayang?”

“Apa benda di perutmu saat ini, Jungkook?!” Jungkook melirik pada perutnya itu dan menatapnya sejenak, “Baju?”

 

“Menurutmu apa isinya?”

“Tentu saja keringat.”

“Apa? Kau tak—“

“Heewon, aku lelah… Ku mohon pedulilah padaku….” Jungkook menatap sang istri teduh, yang selalu ia berikan ketika Heewon marah atau pun disaat bercumbu rayu, berniat meredakan manik matanya yang seperti akan menerkamnya.

 

“Kau benar-benar lelaki buaya, Jungkook!Aku tahu aku sangat-sangat tak sempurna untukmu.Dan selalu berkhayal memilikimu seutuhnya, mempunyai anak darimu dengan lembaran hidup yang bahagia.Nyatanya?Salah!”

“Apa maksudmu, Sayang? Ini masih pagi, jadi, jangan memancing emosi.” Tanya Jungkook tak mengerti.

 

Jungkook beranjak pada kasurnya dan menghampiri Heewon yang tengah terisak pelan sembari mengepalkan tangannya.Langkahnya kini semakin jauh, karena semakin Jungkook melangkah semakin Heewon menghindar.

 

Jungkook menghela napasnya sebentar, yang membuatnya kesal dalam hatinya itu, “Sayang … kemarilah. Jelaskan padaku apa yang terjadi.” Ucapnya masih tenang.

 

“Aku yang harus bertanya padamu!Apa yang terjadi di belakangku!”

“Aku tak mengerti.Sungguh.”

“Kau tak mengerti atau berpura-pura bodoh? Lantas ini apa?!”

 

Heewon meraih kemeja putih Jungkook itu dan melemparkannya tepat pada wajah Jungkook dengan kasar.Dada Heewon kian naik turun dan saat ini ia meraskan kepeningan di area kepalanya. Tidak, ia harus kuat. Sebelum Jungkook menjelaskan semuanya.

 

Kini, Jungkook mengerti, sebuah kain putih itulah yang membuat Heewon marah.Perlahan, jarinya itu membalikkan kemejanya dan menatapnya sebuah objek dengan raut keterkejutan dan keheranan.Sejak kapan noda merah berstempel lipstick itu di area kerah dan punggungnya?Sangat jelas dan nyata.

 

“Heewon, aku….”

“Selingkuh?Selingkuh dibelakangku?”

“Tidak. Aku tak pernah melakukannya, sayang….” Jungkook meraih pergelangan Heewon lembut, namun nyatanya wanita ini menepisnya secara kasar.

 

“Jangan panggil aku sayang lagi, Jungkook.Aku muak sandiwaramu, Jungkook.Dari dulu aku selalu bilang padamu, jika kau bosan padaku katakanlah yang sebenarnya.Jangan menyembunyikan perasaanmu, aku bersedia di ceraikan olehmu jika itu yang terbaik.”Ucap Heewon tegas.

 

“Ti-tidak.Jangan lakukan itu, Heewon-ku. Aku sangat menyayangimu….” Lirih Jungkook.

 

Jungkook semakin menghampiri Heewon yang memang hanya berjarak beberapa senti, ia sangat ingin memeluknya erat dan menjelaskan semuanya. Apa yang di duga Heewon itu salah, semuanya sangat-sangat salah.

 

“Heewon….”

 

PLAK!

 

Sebuah tamparan panas yang menusukkan beberapa pisau tajam pada hatinya itu membuat dirinya memejamkan matanya erat.Sebulir air matanya berhasil keluar dari pelupuk manisnya. Jungkook tak menyangka Heewon akan menamparnya.

 

“Aku benci padamu, Jungkook.”

“Dengarkanlah aku dulu, sayang… Ini semua bukanlah yang sebenarnya.”

“Bohong!Semua lelaki di dunia ini hanya memanfaatkan wanita. Jika sudah dimanfaatkan dibuang begitu saja.” Balasnya sinis.

 

“Cukup! Aku tak seperti itu, Heewon! Aku benar-benar mencintaimu, menyanyangimu seutuhnya. Kau adalah separuh serpihan hatiku, Sayang….”

“Sayangnya aku tak percaya lagi dengan ucapanmu!”Heewon mengacungkan jari telunjuknya tegas tepat dihadapan muka Jungkook sekarang.

 

Jungkook merasa bahwa istrinya itu berubah drastis tak biasa seperti dulu.Kasar dan pemarah.Sebenarnya, Jungkook juga tak tahu darimana noda lipstick itu berada pada bajunya itu tanpa izin. Sungguh, ia tak melakukan hal apa pun, termasuk berselingkuh. Ia lebih focus pada kesehatan bayi yang dikandung Heewon termasuk ibunya juga. Dan juga beberapa proyek besar yang menguntungkan kelangsungan hidupnya.

 

“Heewon, ku mohon dengarkanlah aku dulu….”

 

Heewon melangkahkan kakinya tergesa-gesa, membuka lemarinya dan meraih baju-bajunya itu dengan kasar. Sebuah koper besar itu ia buka dan memasukan semua pakaiannya itu tanpa memperdulikan ocehan Jugnkook yang terasa menyayat hati.

 

“Apa yang kau lakukan, istriku?!”

“Pergi dari rumah ini dan menggugat perceraian.Aku tak kuat lagi.”

 

Jungkook terlonjak kaget, hatinya terhenyak mendengar penuturan Heewon yang tak ingin dirinya dengar seumur hidupnya.Ia tak ingin merasakan pahitnya rumah tangga di kehidupannya, yang dirinya inginkan adalah rajutan cinta tanpa ada halangan. Meski, ia tahu bahwa Tuhan akan menguji umatnya agar selalu mendekatkan diri.

 

Jungkook melangkahkan kakinya; menghampiri Heewon yang tengah berbenah diri.Ia meraih pergelangan tangan Heewon yang membuatnya berdiri secara langsung.

 

“Lepaskan, Jungkook!”

“Tidak.Kau tak boleh pergi.Kau milikku seorang, tak ada yang bisa menghalangiku. Dengar! Kau milikku!”

“Dan kau milik orang lain begitu?”

“Jeon Heewon!”

 

Heewon berdecih kasar, “Cih!Masih berani mengganti margaku?Sebentar lagi aku takkan menjadi istrimu lagi, Jungkook!”

 

BRUGGHH

 

Hempasan kuat pada tubuh Heewon yang dilakukan Jungkook itu membuat dirinya terjatuh pada kasurnya.Ia terbaring sembari menatap Jungkook yang tengah menyiratkan rasa marah. Perlahan, rasanya telah dirundungi khawatir, ia menatap tangan Jungkook yang tengah mengepalnya dengan kuat dan menimbulkan putih kemerah-merahan disana. Heewon menggigit bibirnya pelan sembari menatap Jungkook bengis.

 

“Kau milikku, Heewon!Tidak ada satu orang pun yang bisa memilikimu kecuali aku. Akan ku pastikan orang terdekatmu akan mati ditanganku jika berani melawanku. Kau—milikku!”

 

Segila inikah Jungkook?Atau … apakah ini asli sifatnya?Atau karena dibutakan cinta?

 

“Jung—mmpphh….”

Benda kenyal itu melumatnya dengan kasar seolah-seolah menyalurkan rasa kemarahannya pada dirinya.Jungkook memagutnya tanpa henti walau dirinya tak membalasnya sedikit pun.Ia memukul dada Jungkook kuat untuk melepaskan semua tautan secara paksa yang di lakukan Jungkook, mulai dari mendorong tengkuknya kuat dan meremas dadanya kasar. Jujur, ini baru pertama kalinya Jungkook melakukannya tanpa ada unsur kelembutan dan hanya kekasaran saja yang mendominasi.

 

Sebuah gigitan yang dibuat Jungkook membuat Heewon melenguh sakit, dan saat inilah Jungkook melesakkan lidahnya ke dalam untuk menikmati semua incian rongga mulutnya.Decakan bibirnya yang membenturkan area rongga dan salivanya itu membuat pikirannya teralihkan seketika.Ia merasa bahwa dirinya mulai menikmati meski tetap saja Jungkook masih memberikan kekasarannya namun tak sekasar tadi.Entah kenapa, Heewon membalas semua perlakuan Jungkook, perlahan mengikuti semua permainannya dengan seksama.Kini, semua jamahan yang dilakukan Jungkook melembut perlahan tak ada unsur kekerasan darinya lagi.

 

Usapan punggung yang di utarakan Jungkook membuatnya melenguh sesaat dan berhasil membuat tangannya mengalungkan pada leher putih Jungkook.Suaminya itu mulai melesakkan tangannya ke dalam bajunya itu dan mengelus perut buncitnya dengan penuh cinta. Jungkook benar-benar ingin menjelaskan semuanya dengan cara sikapnya terhadap istrinya. Kini, tautan mereka terlepas. Menyisakan benang saliva yang samar.

 

Jungkook mengusap bibir Heewon perlahan yang mengeluarkan aksen warna kemerah-merahan hasil perbuatannya.Ia tersenyum samar kemudian menatap Heewon nanar.

 

“Percayalah padaku, Sayang.” Ucapnya.Jungkook mulai meletakkan tangannya di kepala Heewon yang memberikan usapan lembut pada pucuk rambutnya sampai akhir rambutnya. Heewon tertunduk, menahan semua isak tangisnya yang akan keluar sebentar lagi.

 

“Sayang….” Jemari Jungkook menyentuh dagunya yang tengah tertunduk ke bawah, ia meraih dagunya itu dan kembali mengecupnya sesaat.

“Jung—“

“Percaya padaku.”

 

Heewon menatap Jungkook kembali yang menyiratkan penyesalan atas insiden pagi ini.Ia menatap lekat dwimanik Jungkook dan mencari sebuah kebohongan disana. Nihil, sayangnya… tak ada sedikit pun yang di sembunyikan oleh Jungkook di penglihatannya kini.

 

“Lantas, apa yang menyembabkan noda lipstick itu ada di bajumu?”

“Aku tidak tahu.Mungkin… penyebabnya kemarin malam sebelum aku pulang kesini wanita itu yang melakukannya.”

“Wanita?Siapa?”

 

Jungkook menghela napas sebentar, “Sekretarisku.”

“Ap-apa?”

“Dengarkan aku dulu, Sayang.Ini baru dugaan, kita harus berpikiran positif dulu.”

“Jadi… apa yang terjadi?”

 

Jungkook meremas bahu Heewon, tatapannya kini menyiratkan keseriusan.Namun, perlahan Jungkook mendekapkan istrinya ke dalam dadanya kini, memberikan sebuah kehangatan dan memulihkan kepercayaan Heewon terhadapnya.

 

“Sebelum aku pulang, aku… menolongnya yang akan terjatuh.Otomatis aku memeluknya sesaat.Dan itu… aku tak menyadarinya, semua karyawanku melihatku dengan dia yang sedang berpelukan.Mereka menatapku tak senang, mungkin karena statusku sudah menjadi suami, jadi mereka berpikir bahwa aku sedang berselingkuh di belakangmu.Dan tentunya, itu membuat diriku melepaskan pelukannya secara kasar.”

“Kau memeluknya?”

“Ya.Jangan berpikir ke arah negative dulu, aku benar-benar tak melakukannya dengan perasaan.Percaya padaku.”

 

Hembusan napas berat Heewon keluarkan, ia semakin mengeratkan pelukan Jungkook dan mengusap dadanya perlahan. Mengerti akan sikap Heewon, Jungkook mengecup puncak rambutnya dan menghembuskan napasnya pelan.

 

“Lanjutkan….”

“Aku tak tahu jika dia menaruh noda lipstick disana, namun aku merasakan hawa panas di leherku sejenak.Munkin saat itu dia mengecupku tanpa sepengetahuanku.”

“Kau percaya?”Lanjutnya.

“Aku percaya.Berhati-hatilah dengan sekretarismu. Aku takut dia menggodamu.” Lirihnya.

Suara kekehan yang di keluarkan Jungkook membuat Heewon mengerutkan dahinya.Ia benar-benar tak mengerti jalan pikiran Jungkook yang membuat dia tertawa akan balasannya.

 

“Kenapa? Mengapa tertawa?”

“Hey—“ Jungkook megelus pipinya lembut, “—aku tak bisa tergoda dengan siapapun, kecuali kau. Buktinya ini… adikku akan mengeras hanya karena kau mengelusku saja, jadi itu mustahil.”

“Jungkook!”

“Hahahahaha.Tapi kau menikmatinya ‘kan?”

“Apa? A-aku….”

“Ayo lakukan di pagi hari ini.” ajaknya sembari meraih tubunya ke arah letaknya bantal.

 

“Jungkook!Ya!”

“Sedikit saja.”

 

THE END

 

Haii~ aku kembali.Fyuhhh~ rasanya seneng bgt ini FF kelar juga >.< Gimana?Gimana? Nggak bagus yaa L maaf yaaa, agak lambat juga huhuhuh L oh iya, yuk visit juga di blog abal-abalku :v coolbebh.wordpress.com

 

Advertisements

2 thoughts on “[BTS FF FREELANCE] Jungkook Series : Problem (Chapter 8 – END)

  1. Pingback: [BTS FF FREELANCE] Jungkook Series : Problem (Chapter 8 – END) – Hey You!

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s