[Chapter 7] The Silver Age of Virgo: Unspoken

virgo-new
the Silver Age of Virgo

written by tsukiyamarisa

.

BTS’ Jin as Killian, Jimin as Alven, Suga as Fyre, iKON’s Jinhwan as Axel

and

OC’s Aleta, Rhea, Icy

Chaptered | Fantasy, Wizard!AU, Life, Friendship, Family, slight!Fluff | 15

.

previousIntro | #1: Obscured | #2: Presence | #3: Unidentified | #4: Face to Face | #5: After Effect | #6: Impulsive

.

.

.

#7: UNSPOKEN

.

 

“Apa kamu benar-benar tidak bisa diajak bicara, hah?!”

Lima menit memasuki pertarungan, dan Rhea sudah meluapkan segala kekesalannya dalam bentuk kata-kata. Lupakan fakta bahwa Axel-lah yang sedang berdiri di hadapannya kali ini, lantaran apa yang telah diperbuat lelaki itu adalah sesuatu yang bukan-Axel-sekali. Oke, Rhea tahu kalau dia sedang dikendalikan, tetapi—

.

.

.

BRAAAKK!!

.

.

.

“Apa kau—” Rhea melompat mundur, mencari sihir yang tak terlalu merusak sembari berusaha memindahkan arena pertarungan ke ruang tengah. “—benar-benar ingin menghancurkan apartemenmu sendiri?!”

Pertanyaan bodoh, Rhea tahu.

“Hei, Axel!”

Namun, melihat bagaimana sang lelaki berderap maju telah membuat Rhea panik. Ia tidak tahu harus melawan dengan cara apa, tidak tahu bagaimana caranya mendekati dan merengkuh Axel sebagaimana Aleta melakukannya beberapa hari lalu. Segala akal dan rencana yang telah ia susun melayang pergi, menyisakannya dengan ketakutan lantaran Rhea tak pernah membayangkan Axel akan melakukan hal semacam ini.

Itu bukan Axel!

Benak Rhea boleh saja berkata demikian, netranya boleh saja melihat perbedaan yang tersaji. Tapi, melawan tetap tidak akan menjadi sesuatu yang mudah. Tidak ada yang menyiapkan Rhea untuk ini, untuk melihat bagaimana lelaki yang ia sayangi berubah menjadi hampir tak bisa dikenali.

“Berengsek!” Manik Rhea kini membulat, mengikuti telapak tangan Axel yang tengah memendarkan cahaya dan memunculkan batu-batu tajam yang siap digunakan. “Shit, shit, siapa pun kau yang sudah berani-beraninya mengendalikan Axel, kau hanyalah seorang pengecut berengsek!!”

.

.

.

PRAAANG!!

.

.

.

Berkelit untuk menghindari serangan batu-batu tersebut, Rhea terpaksa mengorbankan kaca jendela yang ada untuk pecah berkeping-keping. Sisakan rongga lebar di antara birai yang ada, rongga yang kini juga tengah terbentuk di hati sang gadis. Biasanya, makian macam tadi akan diikuti dengan usapan menenangkan dari Axel di puncak kepalanya. Sang lelaki lantas akan tersenyum manis, tanpa permisi merangkul Rhea mendekat seraya menegurnya dalam bisikan. Axel senantiasa tahu cara meredam emosi Rhea, tapi sekarang…

…sekarang, apa yang bisa Rhea lakukan untuk menahan Axel tanpa melukainya?

Bakat utama Rhea jelas tak bisa digunakan, tidak karena Rhea tahu betapa berbahayanya sihir yang ia punya. Kemampuannya mendatangkan sang kegelapan tak akan berguna, mengingat hal itu malah akan memperburuk kondisi. Pun dengan bakatnya untuk melemahkan dan menghancurkan kekuatan lawan, karena Rhea tak akan pernah mampu melukai Axel sampai sejauh itu.

Jadi, sihir macam apa yang harus Rhea gunakan?

Melangkah mundur, Rhea bisa merasakan embusan angin masuk dari jendela yang dipecahkan Axel tadi. Angin yang meniup helai-helai rambutnya dengan lembut, angin yang seketika memberi Rhea sebuah ide. Tentunya, jika dibandingkan dengan jenis sihir menyerang yang lain, angin tak akan menimbulkan banyak kerusakan, bukan?

Memusatkan fokusnya, sang gadis lekas berkonsentrasi pada rencana yang ada. Telapak tangan berpendar sementara pusaran angin mulai terbentuk, desirnya terdengar selagi Rhea membiarkan angin itu untuk menjangkau Axel.

“Ayolah, ayolah.”

Berharap; hanya itulah yang bisa Rhea lakukan kini. Sang bintang Vindemiatrix memandangi bagaimana pusaran angin buatannya mulai mencekal pergelangan kaki dan tangan Axel, menahannya sementara aliran angin yang lebih besar terbentuk. Rhea bermaksud untuk memerangkap Axel dalam bola angin tersebut, setidaknya menahan pergerakan sang lelaki dan memberinya waktu untuk berpikir.

Sayang, tepat kala lingkaran angin itu mulai mengelilingi tubuh Axel, Rhea tahu bahwa ia akan segera gagal. Berdiri di sana, Axel melempar tatap datar ke arah sang gadis sembari mengeluarkan sihirnya sendiri. Dalam beberapa detik saja menghalau pusaran angin yang terbentuk, sebagai gantinya memunculkan badai pasir sementara Rhea berteriak panik.

“A—”

Menyusul badai yang menghalau arah pandangnya, Rhea merasakan cengkeraman Axel di pangkal lehernya—lagi. Lelaki bersurai hitam itu mengangkat Rhea dengan sebelah tangan, lantas berjalan maju sebelum akhirnya—

.

.

.

“Dammit!”

.

.

.

Seakan sudah bisa menduga apa yang akan terjadi, Rhea berhasil menggunakan sihir dan memunculkan sayap-sayap keperakan itu tepat pada waktunya. Menyelamatkan diri dari Axel yang baru saja melemparnya keluar jendela, dengan susah-payah menjaga keseimbangan dan mengizinkan sayap di punggungnya untuk membantu ia mendarat. Peluh sekarang menghiasi pelipis gadis itu, pun dengan hawa dingin yang mendadak merayap di tengkuk kala ia mendongak untuk memandang Axel.

Apa Axel baru saja mencoba untuk membunuhnya?

Pemikiran itu membuatnya bergidik, membuatnya nyaris tak mampu berpikir. Yang bisa Rhea lakukan adalah diam, memandang Axel yang sekarang tengah meloncat turun dan kembali berhadap-hadapan dengannya. Siap untuk menyerang lagi, sementara Rhea hanya mampu mengerjap dan menahan air matanya yang nyaris meluruh.

Karena seegois apa pun dirinya, Rhea sama sekali tak ingin sendiri.

Ia tidak mampu melakukan ini.

Ia butuh teman-temannya.

Dan ia….

.

-o-

.

“Itu dia!”

Lekas berlari mendekat, Killian langsung mengeluarkan sihir perisainya tepat pada sasaran. Melindungi Rhea dari serangan badai pasir yang lain, pun dengan anggota Virgo lain yang berada di belakangnya. Sang pemimpin lantas mengubah perisainya menjadi serupa kubah, memastikan agar semuanya aman dari serangan selagi ia berbicara.

“Rhea? Kamu baik-baik saja? Astaga, untunglah kami berhasil melacakmu tepat pada waktunya!”

Kelegaan jelas sekali membanjir masuk ke benak yang ditanya, lantaran Rhea langsung saja mengangguk dan membiarkan Killian menepuk-nepuk punggungnya. Untuk sekali ini mengizinkan sang Alaraph untuk memengaruhi emosinya, untuk menenangkan segala macam hal yang tengah bergejolak di dalam benak.

“Terima kasih, Killian. Aku—“

“Tidak berhasil?”

Suara itu milik Fyre, yang tengah menyilangkan kedua lengan di depan dada dan menelengkan kepala. Seolah menilai, sebelum akhirnya ia mengangguk dan memasang ekspresi serius. Sesuatu yang membuat amarah Rhea nyaris terpancing lagi—kalau bukan karena tangan Killian yang masih bertahan di pundaknya.

“Aku mencoba, tetapi—“

“Kami akan membantu,” potong Fyre lagi. “Kami bisa menahan Axel untuk—“

.

.

.

“AWAS!!”

.

.

.

Mengobrol telah membuat mereka lengah, membuat mereka lupa bahwa perisai milik Killian tak lantas bisa melindungi semua serangan. Badai pasir mungkin bukanlah sesuatu yang besar, tetapi guncangan pada tanah tempat mereka berpijak adalah sesuatu yang lain. Retakan-retakan kini mulai terbentuk, disusul patahan yang tampak di beberapa tempat dan mulai saling berbenturan. Aleta-lah yang menyadari semua itu tepat pada waktunya, mendorong Rhea menjauh tepat kala Axel menggunakan kekuatannya untuk membuat tonjolan bebatuan yang langsung menghantam tubuh sang gadis.

.

.

.

“ALETA!!”

.

.

.

Fyre adalah yang pertama bereaksi, dengan tangkas melompati bebatuan raksasa yang menghalangi dan mendekati Aleta. Begitu pula halnya dengan Alven, yang segera menyusul seraya mengeluarkan sihir perisainya sendiri. Netra memicing waspada ke segala penjuru, bersiap untuk melawan kalau-kalau Axel memutuskan menyerang lagi.

Tahu bahwa perhatian Alven dan Fyre sudah sepenuhnya teralih, Rhea pun hanya mampu bertukar pandang dengan Killian. Seolah meminta bantuan, seakan berharap bahwa sang pemimpin memiliki rencana yang dapat diandalkan. Bagaimanapun, Rhea hanya ingin segera mengakhiri semua ini. Tetapi….

“Akan kualihkan perhatiannya!” seru Killian tiba-tiba, sudah siap dengan pendar kehijauan di telapak yang lantas menjelma menjadi sulur-sulur pepohonan. “Kita belum boleh menyerah, Rhea!”

Tanpa menunggu persetujuan, Killian langsung membiarkan sulur itu untuk bergerak maju. Melewati setiap bebatuan yang ada, merambat perlahan ke arah Axel. Dalam hati, Rhea hanya bisa berdoa agar kekuatan Killian itu mampu digunakan untuk menangkap Axel. Menahannya agar ia tak membuat kerusakan makin parah, kerusakan yang pastinya akan disesali Axel saat ia sadar nanti.

Maka, memutuskan untuk membantu, Rhea pun bergegas mengikuti arah pergerakan sulur-sulur pepohonan tersebut. Melihat bagaimana Killian mulai menggerakkannya dengan terampil, perlahan-lahan membelit pergelangan kaki Axel dengan erat. Anehnya, Axel sama sekali tak berkutik. Ia hanya menunduk dan memandangi sihir Killian yang tengah bekerja, mengamatinya dengan saksama, sebelum akhirnya mendongak dan langsung mengarahkan tatapnya ke arah Rhea.

“Axel?” Rhea menggumam, melangkah makin dekat dengan harapan ia bisa mengajak Axel berbicara dan mengenyahkan kekuatan pengaruh si lawan. “Axel, ini aku. Aku akan menolongmu, aku akan mengeluarkanmu dari dalam sana dan—“

Ucapan Rhea terhenti saat itu juga.

Mengalihkan pandang, Rhea bisa melihat bagaimana sulur buatan Killian tak lagi berada di sekitar kaki Axel. Alih-alih, tumbuhan itu seakan tak lagi menurut pada tuan mereka. Sihir Killian telah dipatahkan, sesuatu yang baru Rhea sadari kala ia menoleh ke belakang dan melihat sang pemimpin Virgo telah terbelit sulur-sulur pepohonannya sendiri. Praktis membuatnya tak mampu bergerak, lantaran Axel telah memanipulasi pergerakan sulur-sulur itu menjadi lebih agresif.

“A-axel….”

Terbata, Rhea benar-benar bergeming di tempatnya berdiri. Atau lebih tepatnya, ia memang tak bisa bergerak. Bukan hanya Killian, Axel juga telah menggunakan sulur-sulur kehijauan itu untuk mengikat Rhea erat-erat. Memaksanya untuk diam di tempat, sementara sang lelaki mengulurkan sebelah lengan dan melingkarkan jemarinya di leher Rhea.

Detik itu juga, Rhea merasa dunianya diruntuhkan.

Ialah yang telah bersikap impulsif, lagi-lagi bertindak tanpa berpikir dan hanya mengandalkan emosi. Ialah yang telah membuat semua kerusakan ini, yang telah mengundang para anggota Virgo lainnya dan menempatkan mereka dalam bahaya. Alven dan Fyre mungkin memang belum terluka, tetapi setelah apa yang Axel lakukan pada Aleta, Rhea ragu jika kedua orang itu masih mau menolongnya. Mereka mungkin hanya akan kembali demi Killian, membiarkan Rhea mati di tangan Axel yang kini terlihat haus darah.

Axel yang telah gagal ia selamatkan.

Axel yang tidak lagi menatapnya penuh kasih sayang.

Axel-nya…

“Axel…” Rhea terbatuk sekilas; Axel sudah mulai menekan pangkal lehernya. “A-Axel… a—uhuk—aku…” Jeda lagi, sementara Rhea memejamkan matanya dan mengingat-ingat. Mengingat bagaimana hubungan dirinya dengan Axel selama ini berjalan, bagaimana ia selalu menggantungkan hidup pada lelaki itu dan nyaris tidak pernah berbuat sebaliknya. Axel bahkan belum pernah mendengar isi hati Rhea secara langsung, lantaran gadis itu selalu mengelak dan berlagak memarahi Axel setelahnya.

Rhea menyesal sekarang.

Ia menyesal, sehingga seandainya ia mati pada hari ini pun….

“A-aku… aku m-mencintaimu, A… xel….”

Kamu tahu itu, kan?

 .

.

.

“Rhea?”

.

.

.

Suara itu, suara yang sudah amat Rhea kenal, menyapanya lagi dengan hangat dan lembut. Sontak membuatnya membuka mata, menatap lurus ke depan pada Axel yang kini tak lagi mencekiknya. Lelaki itu berdiri diam, pandangan masih kosong, tetapi tanpa ada niatan untuk menyerang.

“Axel?”

Memanggilnya entah untuk kali keberapa hari ini, Rhea mendadak sadar bahwa ia bisa bergerak lagi. Tak ada sulur yang mengikatnya, tak ada rintangan apa pun yang menghadang. Yang ada hanya Axel, bergeming seakan ia sedang berperang dengan batinnya sendiri, seakan ia sedang menunggu….

Dan Rhea pun membiarkan dirinya bergerak.

Memeluk Axel erat-erat, Rhea mendekap tubuh yang selama ini telah melindunginya dan melakukan berbagai hal untuknya. Membiarkan detak waktu berlalu, sampai ia akhirnya memutuskan untuk menarik diri dan memandangi rupa Axel lekat. Lantas, tanpa pikir panjang, ia pun mendaratkan kecupan di bibir sang lelaki. Membiarkan kehangatan itu muncul, menghilangkan semua aura permusuhan yang ada, dan juga—

“Rhea? Rhea, apa yang terjadi?”

—dan juga, membiarkan Axel untuk balik merengkuh dirinya sementara lelaki itu mulai meneteskan air mata.

.

.

.

“Maafkan aku, Rhea.”

.

tbc.

.

.

The Porrima
Icy

icy

Porrima atau Gamma Virginis, salah satu dari tiga bintang paling terang di konstelasi Virgo. Terletak berdekatan dengan sang bintang Alaraph, sang gadis yang berada di bawah naungan bintang ini nyatanya memang paling akrab dengan Killian. Kendati begitu, Porrima memiliki sinar yang jauh melampaui terangnya sinar sang pemimpin.

Icy, sang gadis yang juga mendapat sebutan goddess of prophecy, adalah pemilik simbol ini. Bakatnya adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan waktu; baik itu untuk memutarbalikkan, memanipulasi, hingga menghentikan pergerakan jarum jam. Namun, Icy tidak terlalu sering menggunakan sihirnya ini; lantaran memainkan waktu adalah sesuatu yang akan menghabiskan banyak energi.

Selain itu, serupa dengan namanya, Icy pun lihai dalam mengendalikan es dan salju. Dua jenis elemen yang lebih kerap ia gunakan untuk menyerang, elemen yang memiliki karakter hampir serupa dengan kepribadian dirinya. Icy memang bukan seseorang yang akan memaki secara langsung seperti halnya Rhea atau Aleta. Sang gadis lebih memilih untuk bungkam dan memendamnya; meskipun sekali waktu, ia akan menggunakan sihirnya demi memastikan agar orang-orang tidak menganggap remeh dirinya.

.

.

Special Section
Q & A

Q: Gimana para bintang Virgo bisa ketemu?

A: Untuk Rhea x Axel udah ya di chapter 6 kemarin. Sedangkan buat Alven x Aleta x Fyre dan Icy x Killian akan dijelaskan di chapter selanjutnya jadi ditunggu saja! Lalu, kalau tentang gimana mereka secara keseluruhan bisa ketemu, kurang lebih kaya yang ada di flashback-nya Rhea. Gampangnya, mereka saling melacak keberadaan satu sama lain sebelum akhirnya gabung jadi keluarga (?)

Q: Kenapa musuhnya nggak dikasih tau namanya?

A: Karena belum saatnya ((dilempar)). Sebenernya sih, sampe sekarang nama musuhnya juga masih dipikir ((krik)). Emang udah ada bayangan soal identitasnya sih, tapi untuk rincinya mungkin di chapter… eum… sembilan atau sepuluh? ((nyengir))

Q: Icy munculnya masih lama, ya?

A: ((memasang cengiran lebar lagi)) Bukannya nggak sayang sama Icy, bukan. Tapi Icy kan pernah dibilang kalau kekuatannya paling berfokus sama waktu, dan waktu itu berbahaya. Si musuh tahu soal itu, makanya mereka nggak make Icy buat nyerang di awal. Save the best for the last deh ya 😀

Q: Kenapa yang diculik Fyre, Axel, Icy?

A: Kalau berdasar deskripsi per tokoh yang ada di akhir cerita, Fyre, Axel, Icy memang bukan yang paling terang kaya para Spica dan bukan pemimpin juga. Tapi, mereka bertiga bisa dibilang yang paling dibutuhkan si musuh untuk ngelawan anggota Virgo—alias si musuh butuh untuk make kekuatannya mereka.

Selain itu sih alasannya karena suka-suka authornya sih ((krik)) ((itu alasan baru dipikirkan saat ada pertanyaan))

Q: Virgo bakal sampai chapter berapa?

A: Sampai saat ini, yang ada di plot ada 13 chapter, sudah termasuk epilog. Doakan saja nggak melenceng dari rencana, karena 13 itu sudah panjang ((menangis)). Oh iya, untuk minggu ini, diusahakan akan ada dua chapter yang terbit. Cheers!

.

.

Thanks to Kak Yeni (snqlxoals818) dan Kak Riris (Rizuki) yang sudah memberikan pertanyaan untuk special section tidak penting ini.

Thanks juga untuk Kak Yeni (lagi) yang sudah meminjamkan OC-nya untuk dinistai di sini.

Bagi yang masih punya pertanyaan, silakan ditulis di kotak komentar. Kalau tidak menjurus ke spoiler akan dijawab di Q & A chapter berikut, kalau nggak ada pertanyaan ya…. syukurlah XD

See ya!

Advertisements

7 thoughts on “[Chapter 7] The Silver Age of Virgo: Unspoken

  1. Hai, salam kenal aku reader baru disini..
    *Ga sih, sebenernya udah lama*

    Curhat dulu ah~
    Awal” baca ff ini aku ga terlalu tertarik karena kurang paham sama astronomi, trus lama kelama-lamaan baca chapter selanjutnya, eh seru juga *ApalagidisiniadaJin* 😂😂 Jalan cerita yang ga pasaran dan banyak kejutannya.

    Jadilah aku mulai membaca ff ini sampai chapter sekian *aku minta maaf banget karena udh jd silent reader 😢😢😅*
    Nah, d chapter-chapter selanjutnya, aku mulai pngin comment” eh tau nya tiap mau comment malah ga ke kirim terus, tau kenapa.
    *semoga commet chapter ini ga gagal, amin*

    Oke, balik ke chapter ini..
    Daebakk! penyelamatan axel emang ga semudah yg dibayangkan. Kekuatan fyre dan axel yg d kuasai sm musuh emg bener” sulit d taklukkan.
    Untung aja teman” Rhea bantu hoho, ga tau deh apa yg trjadi kalo Rhea ga dpt bntuan dr Killian cs.

    Jadi inget pas penyelamatan fyre, eh pas nyadarin s axel harus di kisseu dulu ya? Cieee axel kaya lagi di negeri dongeng mesti d cium baru sadar *eh 😂😂

    Fighting, author-nim!

    Like

  2. Cie mb Rhea sudah berpelukan bersama bpk Axel cie cieeee XD

    Aku membayangkan bagaimana Killian terikat oleh sulur tanamannya sendiri … Mukaknya seokjin yang panik itu lucu kakamer aku jadi ngakak pas part itu XD (cuma aku yang anggap seokjin panik itu lucu, cuma aku, hanya aku)(plak)

    Pertanyaanku soal Icy sudah di jawab akhirnya XD Nyelametin Icy pasti lebih sulit dari yang di bayangkan ‘-‘)9 mangatze kakamer buat chp selanjutnya XD seharian ini ketemu Killian bikin aku jadi semangat XD

    Like

  3. RHEA BAPER YHA ANJAAY SAMPE KISSEU SEGALA. MBA AUTHOR ITU KISSEUNYA KURANG LAMA AUUWW /digiling/
    laaahh kalo rheaxel dibikin mati kayanya seru deh yha seru banget anjay ko jadi pengin mereka mati sih wakakakaka. laluu mau komen apa lagi…. oiyaa rhea pankapan rilis mixtape juga sanah biar bisa kaya minsyuga anjiir mulutnya rhea dah ahli umpat sekali yaampuun /.\ obisa nih nanti axel lalu brb bungkam bibir rhea lagi kalo lg ngumpat……….bungkam pake bibir uwuwuw /dosa anjay/

    dah ah gitu ajaa waks. ditunggu mba icy-nya sama mas killian yha. penasaran kalo mereka ngapain aja hmm kan kudu skinship juga /digebuk/

    Like

  4. Save the best for the last katanya. Wanjay icy emang spesial bener ya? *ngakak guling2* *masih subuh woy!*

    Intinya ampe ending ch ini aku mikir “kumaha killian bikin icy sadarnya kalo waktu fyre sama axel aja pake skinship gitu????” *hening lama sampe ada The Golden Age of Virgo* *krik*
    Plis plis jangan ada skinship di antara killian-icy 🙏 nah itu bisa masuk pertanyaan ya tsuki-nim 😁

    Terakhir, selamat sehat kembali, Axel-ssi. And good job, Rhea buat kisseu nya 😆

    Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s