[Chapter 6] The Prince of Vesperia and His Aide

161158
The Prince of Vesperia and His Aide

.

BTS’s Kim Seokjin as Killian | BTS’s Min Yoongi as Fyre

BTS’s Park Jimin as Alven | SHINee’s Lee Taemin as Erden

OC’s Icy

.

Kingdom!AU, friendship, family, fantasy | chaptered | Teen

.

inspired by anime (Snow White with The Red Hair & The World is Still Beautiful)

.

PosterBySifixio@PosterChanel

.

“I’m a Hurton. But I’m not Stephan.”

.

Riuh gemuruh tepuk tangan dan sorak-sorai membahana mengawali pembukaan turnamen tahunan di kerajaan Meridies. Di arena terbuka itu semua peserta, pria maupun wanita, berkumpul menunggu aba-aba sang raja untuk memulai turnamen yang dibagi kedalam empat kategori: berkuda, panahan, pedang, dan bela diri.

Diiringi letupan meriam, turnamen pun dimulai.

Turnamen berkuda diadakan di luar istana. Para peserta diharuskan melalui segala halang rintang dari alam; aliran sungai cukup deras, hutan lebat, dan jalan-jalan berbatu nan licin. Pemenangnya adalah dia yang sampai lebih dulu di atas bukit dengan menancapkan bendera kerajaan utusannya. Dan bendera hijau milik Meridies berkibar di sana.

Panahan merupakan turnamen yang paling banyak diminati, meski tantangan yang diberikan terbilang cukup sulit. Pemanah harus melepaskan anak panah mereka, yang telah diberi bendera kecil sebagai penanda dari kerajaan mana mereka berasal beserta nama sang pemanah, ke arah lembar-lembar kertas yang diterbangkan dari atas menara kastel Meridies. Dua pemanah dari Norden dan Orient harus bertarung dibabak selanjutnya. Kali ini, mereka harus memanah tepat di tengah papan sasaran dengan mata tertutup. Dan anak panah yang disematkan bendera biru milik Orient menancap tepat sasaran.

Bela diri, artinya setiap dua peserta harus bertarung tanpa senjata. Para penonton sangat menantikan turnamen dalam kategori ini. Banyak pula dari mereka yang memasang taruhan untuk menentukan siapa pemenangnya. Mayoritas rakyat yang menonton memilih utusan dari Norden, yang memang cukup terkenal pula dengan para ahli bela dirinya, sebagai pemenang. Namun, di akhir pertandingan, petarung bertubuh kekar mengangkat tinggi-tinggi tangannya yang menggenggam bendera merah Vesperia.

Berbanding terbalik dengan panahan, turnamen pedang paling sedikit peminatnya. Memetik sebuah pelajaran dari pengamatan setiap tahunnya, pertarungan pedang selalu banyak memakan korban luka-luka, memang tak sampai adanya korban jiwa. Para ahli pedang memilih untuk tidak mengikutinya daripada harus menanggung luka berat. Hanya ada delapan peserta, dua utusan setiap kerajaan. Para tabib istana bersiap di pinggir arena. Seorang gadis dari Norden dan lelaki tinggi dari Meridies mengawali pertandingan. Gadis yang mulanya diremehkan pun ditertawakan lantaran teknik bermain pedangnya, berhasil sampai ke babak akhir. Gadis itu harus melawan seorang lelaki dari Orient, yang memang sangat terkenal dengan kehebatannya bermain pedang. Lelaki berwajah tampan juga ramah itu mengayunkan pedangnya cepat. Sang gadis terus saja berkelit, menghindari tiap hunusan yang dilayangkan. Beberapa menit berlalu dengan irama yang sama, sang lelaki perlahan geram. Ia ingin mendengar denting pedang yang saling bergesekkan. Ia ingin mendapat balas, bukan hanya gerak cepat gadis itu menghindar ataupun pukulan-pukulan yang diberikannya. Maka, melipatgandakan tempo ayunan pedangnya, lelaki itu terus mendesak sang gadis untuk mengeluarkan pedangnya. Menyudutkan hingga gores demi gores kecil tercipta di lengan juga kaki, gadis itu pasrah. Ia, mau tak mau, harus menggunakan pedangnya.

Lelaki Orient itu tersenyum.

Target terpasang, satu hunusan pedang dilayangkan.

Gadis Norden itu kehabisan waktu.

.

.

BRAK!

Seiring dengan suara pintu yang menjeblak terbuka, Icy sontak terbangun dari tidurnya. Mendapati Killian yang berdiri di ambang pintu dengan kemeja putih, celana hitam, dan sepatu berkudanya. Ah, ya, rutinitas pagi yang harus mereka lakukan bersama, berkuda ke hutan Hoogland.

“Ayo, kita—”

“Kita tidak akan ke mana-mana pagi ini.” Icy memijat pelipisnya dan mengembuskan napas panjang. Ia harus memastikan agar Killian tetap di dalam istana, apa pun alasannya. Kabar mengenai kematian Stephan Hurton tidak menjadikan Icy bisa bernapas lega. Alih-alih, ia merasa harus lebih melindungi sang pangeran.

“Kenapa?” tanya Kilian yang perlahan berjalan mendekat.

Karena di luar sana berbahaya.

Icy ingin menyuarakan pemikirannya, mengatakan dengan tegas kepada Killian bahwa di dalam istana jauh lebih aman untuknya. Namun, Icy memilih diam. Lima belas tahun sudah Killian ‘dikurung’ di dalam kastel putih gading ini dengan alasan seperti itu. Dan sekarang, memiliki seorang pengawal pribadi tak menjadikan alasan itu lenyap begitu saja. Atau mungkin, kehadiran Icy sebagai aide seorang Pangeran Vesperia malah memperburuk situasi yang ada?

Jikalau memang benar seperti itu, Icy harus lekas melepas jabatannya sekarang juga. Menyerahkannya pada Erden, meskipun lelaki itu belum memenangkan turnamen pedang, atau pada siapa pun kecuali Icy. Tapi nyatanya, menanggalkan tugas sebagai pengawal pribadi tak semudah yang dibayangkan. Tugas ini terlampau berat, butuh sebuah tanggung jawab yang amat besar. Sesungguhnya, untuk saat ini, Icy tak keberatan dengan itu semua. Ia bahkan rela menukar nyawanya demi keselamatan sang pangeran—jika keadaan mengharuskannya berbuat demikian.

Aku telah berjanji untuk melindungimu, bagaimanapun caranya. Jadi….

“Jangan bergerak.” Melihat Icy yang ingin turun dari tempat tidurnya, Killian menyentuh pundak sang gadis dan mendorongnya untuk tetap berbaring. “Aku tahu alasannya kenapa kau tidak mau berkuda.”

Icy menjungkitkan sebelah alisnya. “Apa alasannya?”

“Kau pasti kelelahan, kan?” Killian menjentikkan jarinya dan tersenyum. “Ditambah lagi, nanti malam kita akan sangat sibuk. Jadi, kau mau me—“

“—membantu prajurit istana memeriksa keadaan,” ujar Icy memangkas ocehan Killian. Kembali menyingkap selimutnya, gadis itu bangkit berdiri. Berbalik mendorong Killian agar lelaki itu berdiri cukup jauh darinya. “Aku akan pergi ke gerbang utara. Jadi pastikan kau tetap di dalam istana.”

Mendengus, Killian menyilangkan lengannya di depan dada. Berpolah berpura-pura marah guna menarik perhatian sang gadis, namun pengawal pribadinya itu lebih dulu menghilang di balik pintu kamar mandi. “Dasar menyebalkan!”

Maafkan aku. Ini semua demi keselamatanmu, Killian.

.

.

Satu per satu tamu mulai berdatangan. Mereka memakai gaun dan pakaian mewah beraneka ragam warnanya. Langkah-langkah kaki berjalan perlahan di sepajang koridor utama menuju balairung yang disulap menjadi ruang pesta. Semua pasang mata disuguhkan oleh dekorasi berwarna merah marun yang mendominasi, khas kerajaan Vesperia. Lampu kristal besar menggantung dari langit-langit. Tirai beledu merah marun terikat di sisi-sisi jendela yang separuhnya dibiarkan terbuka. Di tiap sudut ruang diletakkan meja berkaki tiga sebagai tempat vas bunga. Dua meja panjang terisi berbagai makanan dan minuman, berada di sisi kanan dan kiri dengan dilapisi kain berornamen emas. Sekumpulan pemain musik berada di sisi kiri singgasana Raja dan Ratu. Mulai memainkan musik mendayu kala semua tamu undangan memenuhi ruang.

Di tengah balairung dibiarkan kosong untuk para tamu berdansa. Kesempatan inilah yang biasanya dipakai pejabat-pejabat istana secara tidak langsung mendesak putra maupun putri mereka berdansa satu sama lain. Yeah, sebut saja ajang pencarian jodoh. Namun, bagi tiga tamu istimewa—Pangeran Fyre, Putri Lucy, dan Pangeran Ken—termasuk Killian—sebisa mungkin mereka menghindari momen itu.

Fyre memilih berdiam diri di kamar meskipun pengawal istana juga Alven telah menyuruhnya ke balairung. Ken, pangeran dari Norden yang baru tiba pagi tadi, meghabiskan waktunya bersantai di balkon istana seorang diri. Sedangkan Lucy masih bersiap-siap di kamarnya. Lalu Killian….

“Erden, di mana Killian?”

“Bukankah tadi ada di—”

“Killian tidak ada di balairung.”

Beberapa menit lalu, Killian dan Lachlant masih terlihat berbincang dengan salah satu pejabat istana beserta istrinya. Icy beralih untuk menghampiri Erden yang ditugaskan sebagai penjaga pintu. Mereka membicarakan Stephan Hurton dan Erden terus berusaha meyakinkan sang kakak bahwa tak perlu lagi mengkhawatirkan lelaki itu. Pun Erden mengatakan agar Icy tetap fokus menjaga Killian dan biarkan ia juga Trevor yang menjaga keadaan di luar istana.

“Aku akan mencari di kamarnya.” Setelah menepuk pundak sang adik, Icy berlari cepat menuju lantai dua.

Pikirannya terus berkelana akan kejadian-kejadian buruk yang mungkin menimpa Killian. Ia tahu, Stephan telah tiada. Lelaki itu tak mungkin membalaskan dendamnya atas peristiwa satu tahun silam padanya, ataupun Killian. Killian memang tidak ada sangkut pautnya dengan itu, tapi entah mengapa, Icy merasa ia harus menjauhkan Killian dari segala sesuatu yang menyangkut Hurton.

Bagaimana jika kau yang pergi dari sisinya?

Tertegun dengan selintas pemikiran itu, Icy berhenti. Memejamkan mata sejenak dan jemari mencengkeram susuran kuat-kuat, selagi ia meredam emosinya. Betapa ia ingin meluapkan amarah juga kekesalan akan kebodohan yang telah ia perbuat. Semua ini—kekhawatiran akan keselamatan Killian, kematian Stephan, rasa bersalah yang kerap bercokol di dadanya—takkan terjadi jika ia mau mengeluarkan pedangnya sedikit lebih awal sebelum—

Terima kasih sudah menungguku, Killian.”

Lekas mendongak, manik Icy disuguhkan oleh Lucy dan Killian yang sedang berjalan menuruni anak tangga. Kedua tangan saling bertaut dan senyum terkembang di wajah. Mereka… benar-benar serasi.

Seperti biasa, Lucy mengenakan gaun sederhana berwarna putih. Rambut hitam bergelombangnya dibiarkan terurai dan dihiasi mahkota dari rangkaian bunga putih. Di sisinya Killian pun memakai pakaian dengan warna senada. Dominasi putih membalut tubuhnya, tanpa melupakan warna merah marun khas Vesperia di bagian jubah.

“Icy?”

Tersentak dengan panggilan itu dan tepukan di bahunya, sang gadis hampir saja tergelincir. Buru-buru kembali menggenggam susuran sebelum berdeham meredakan gugup. Maniknya bersirobok dengan milik Killian yang menatapnya curiga.

“Apa yang kaulakukan di sini?”

Icy bersedekap. “Mencarimu. Memangnya apa lgi, huh?”

“Baiklah. Kau sudah menemukanku,” ujar Killian. Mengedikkan dagu, ia memberi isyarat kepada Icy untuk menggeser tungkainya sementar ia beralih menghadap Lucy. “Maaf, bisakah kau ke balairung sendiri? Aku ingin berbicara sejenak dengan pengawal pribadiku.”

Sedikit menelengkan kepalanya, Lucy menatap Icy yang berada di belakang sang pangeran. Berikan sebuah senyum dan satu anggukkan sebelum kembali bersitatap dengan Killian. “Tentu saja, Yang Mulia.”

“Jadi, apa yang ingin kaubicarakan?” tanya Icy setelah Lucy pergi.

Killian bergumam sembari maniknya turun-naik mengamati bagaimana penampilan Icy. Penampilan yang selalu ia lihat setiap harinya dan tak berubah meski semua wanita di pesta ini memakai gaun indah. “Ganti pakainmu.”

Hah?”

“Kembali ke kamarmu dan ganti seragam itu dengan pakaian yang telah aku siapkan. Lalu—”

“T-Tunggu dulu!” Icy mengangkat kedua tangannya. “Apa maksudmu? Untuk apa aku mengganti pakaianku? Bukankah aku sudah mengatakan padamu kalau aku—”

“—tidak suka pesta dan tidak mau berkumpul dengan banyak orang.”

“Benar.”

“Aku tidak menyuruhmu ke balairung dan berdansa di sana. Aku hanya menyuruhmu ganti pakaian.”

“Dan?” tanya Icy menyipitkan matanya.

“Dan tunggu aku di perpustakaan,” jawab Killian sembari menepuk puncak kepala aide-nya. “Berjanjilah kau akan datang.”

“Aku tidak—Killian! M-Maksudku, Yang Mulia.”

Mengulum senyum, Killian pergi meninggalkan Icy yang luar biasa kesal di belakangnya. Ini balasanmu karena kita tidak berkuda pagi tadi.

.

Beberapa pasangan menempati area dansa di tengah ruang ketika Killian sampai di depan pintu. Sejenak menyapa Erden di dekatnya, kemudian melangkah masuk. Menebar pandang, Killian menemukan Lucy yang tengah berbincang bersama kedua orang tuanya.

Sejak awal Lucy tiba, tak ada seorang pun yang mengajaknya berdansa. Lantaran mereka tahu bahwa Lachlant telah menjalin sebuah aliansi dengan Raja Meridies melalui perjodohan kedua putra dan putri mereka. Seluruh pasang mata sontak tertuju pada Killian dan Lucy yang melangkah bergandengan tangan ke arah area dansa. Seketika musik berubah jauh lebih lembut dengan denting piano memimpin—satu alat musik yang disukai Lucy.

“Kau membuat kita seolah benar-benar sepasang kekasih.”

“Apa peranku sangat meyakinkan?”

Lucy mengangguk dan tersenyum. Dalam waktu satu bulan lagi, semua sandiwara ini akan berakhir. Di mana Killian menjemput wanita yang dicintainya, sementara Lucy harus kehilangan lelaki yang mulai ia cintai.

.

.

“Kenapa perasaanku tidak enak, ya?”

Hati-hati Icy membuka pintu kamarnya sendiri. Mengintip ke dalam dan mendapati baju yang paling tak ingin ia kenakan tergeletak di atas kasurnya. Sebuah gaun berwarna biru (warna yag disukai Icy) dan sepatu berhak tinggi!

“Oh, shit!” Icy membanting pintunya menutup. Mengacak rambutnya sembari berjalan mondar-mandir di depan pintu dan merutuki juga memaki Killian yang melakukan ini semua. “Ini pasti upaya balas dendamnya. Ugh, dasar kekanakan!”

Menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya kasar, Icy memasuki kamar. Masih sambil mengumpat, gadis itu lamat-lamat mendekati kasur di mana gaun biru itu berada dan menyentuh permukaannya. Terasa halus dan ia akui meski sederhana, gaun ini tampak cantik. Sekalipun, Icy tak pernah mengenakan gaun. Hanya ada blus dan jubah berwarna gelap di lemari pakaiannya.

“Sesekali mencoba, tak apa, kan?”

Beberapa menit berlalu, akhirnya Icy selesai mengenakan gaun birunya. Tepat ketika ia melangkah ke hadapan cermin, suara pecahan kaca yang disusul kelontang keras menggema di sepanjang koridor dan menyelusup masuk ke dalam kamar. Bergegas Icy membuka pintu. Melihat sekitar koridor yang sepi dan pandangan matanya terhenti di sebuah pintu di ujung koridor. Pintu yang sejak awal dilarang Killian untuk ia masuki.

Yakin dengan firasat buruknya, Icy mengabaikan larangan itu. Ragu mencoba memutar kenop, dan pintu itu terbuka dengan mudahnya. Gelap dan sunyi menyambut sang gadis. Berhati-hati melangkah dan meraba sekitar dinding, Icy menemukan kandil di atas sebuah meja. Kandil bercabang tiga dengan lilin panjang yang menancap di tiap cabangnya. Ada kotak korek kayu, Icy menyalakan ketiga lilinnya dan membawa kandil berwarna perak itu untuk menelusuri kamar asing ini.

Dan hal pertama yang menarik perhatian sang gadis bukanlah pecahan kaca berserakan di lantai juga sebuah anak panah, melainkan lukisan besar seorang pria berbingkai kotak disepuh pewarna perak tanpa ukiran. Mendekat, Icy mengangkat tinggi kandil di tangannya, mengarahkan agar cahaya lilin menyinari rupa pria itu.

Icy terkesiap ketika wajah itu tampak jelas. Sekilas, wajahnya serupa dengan Killian. Namun, semakin lama menatapnya, kentara beberapa perbedaan di antara keduanya. Pria itu bukan Killian. Pria itu memiliki pipi yang sedikit tirus dan rahang yang kokoh. Sorot matanya tajam dan penuh ketegasan, tetapi tetap memancarkan aura menenangkan layaknya Killian. Menurunkan sedikit pandangnya, segaris senyum teduh itu membawa pengaruh besar bagi ingatan sang gadis.

.

Kenapa kamu selalu tertawa melihatku tersenyum?

Itu karena ada ceruk kecil di pipimu. Namanya apa?

Oh, ini namanya lesung pipit.

.

Menampik rasa pening di kepalanya, Icy memilih untuk terus memandangi lukisan itu. Terlebih ketika ia melihat kalung berbandul dengan pahatan sebuah huruf yang dipakai sang pria. Bandul yang sama seperti yang dikenakan Icy.

.

Ini untukku?

Jaga kalung itu baik-baik, hm? Janji?

Tapi nanti Killian marah.

Tidak akan. Kemarilah, biar kupakaikan.

.

“Jadi, kalung ini….”

Tak berhenti sampai di sana, kini manik Icy terpaku pada jemari pria itu. Lama ia mengamati hingga bulir-bulir air matanya perlahan luruh. Rasa sesak menyelimuti seolah kenangan yang kian menyeruak keluar dari persembunyian yang terpendam selama lima belas tahun mengambil alih udara yang ada.

.

Kita harus lari, Icy.

Aku takut.

Ada aku di sini. Apa pun yang terjadi, jangan lepaskan genggaman tangan kita. Jangan pernah.

.

“Tapi kamu yang melepasnya, Jill.”

Jatuh terduduk, sang gadis yang kini telah merengkuh kembali seluruh ingatannya, membiarkan air matanya turun mengalir deras. Ia mengingat Jillian sebagaimana ia mengingat peristiwa di malam bersalju lima belas tahun lalu. Icy ingat ia menggantung di pinggir jurang, terus menggenggam erat tangan Jillian seperti yang ia perintahkan. Namun, tak lama berselang, sebongkah tanah keras menghantam kepalanya dan segalanya berubah gelap.

Sejak saat itu, ia tak tahu bagaimana nasib Jillian. Icy ingin meyakini dirinya sendiri bahwa Jillian masih hidup, mendiami kastel ini, dan bersembunyi di suatu tempat. Tetapi fakta yang tersuguhkan tak sesuai kehendak hati. Sebuah papan yang menempel di bawah lukisan sosok Jillian menjelaskan semuanya.

Bahwa sang pangeran pertama Vesperia, sekaligus lelaki yang pernah ia kagumi dan sayangi, telah tiada.

.

PRANG!

.

Sebuah anak panah kembali memecahkan salah satu kaca jendela. Menancap di dinding dengan secarik kertas yang melilit. Tersadar akan tujuannya ke kamar ini, Icy cepat-cepat bangkit. Baginya, kini bukanlah waktunya bersedih mengenang masa lalu. Meski rasa sesak itu tetap ada, ia harus fokus pada apa yang akan ia hadapi.

Menarik kertas yang melilit anak panah tadi, perlahan Icy membukanya. Dua kalimat tertoreh di sana dan tanpa berpikir dua kali, gadis itu bergegas pergi. Menuju hutan Hoogland, tempat di mana anak panah itu diluncurkan.

.

.

I’m a Hurton.

But I’m not Stephan.

.

.

tbc.

Advertisements

2 thoughts on “[Chapter 6] The Prince of Vesperia and His Aide

  1. KYAAAKKKK BANYAK ICY-KILLIAN MOMENT ><

    Akhirnya kak Icy inget juga soal Killian aduh kak :") dan aku tiba2 membayangkan Icy dengan gaun biru juga hak tinggi, terus bersanding sama Killian …

    Dan itu endingnya … Makin bikin penasaran siapa si Hurton itu dan dia kenapa sama Icy ada masalah pa ugh kzl sama pak Hurton misterius begini T-T

    Wiiii kakyen pagi2 sudah update aja, baru bangun aku langsung baca XD mangatze buat chp selanjutnya kakyennn!!! Keren XD

    Like

    1. Icy inget jillian btw 😅 tapi iya dia juga inget sama killian dulu gimana 😁
      Awawaw icy bersanding sama killian ya /.\
      Chapter depan ada hurton ko, nanti bakal dijelasin 😋
      Semangaaaatt ^^)9 makasih ya ji udah setiaaaa banget baca dan komen 😘

      Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s