[Chapter 8] The Silver Age of Virgo: Spica and Auva

virgo-new
the Silver Age of Virgo

written by tsukiyamarisa

.

BTS’ Jin as Killian, Jimin as Alven, Suga as Fyre, iKON’s Jinhwan as Axel

and

OC’s Aleta, Rhea, Icy

Chaptered | Fantasy, Wizard!AU, Life, Friendship, Family, slight!Fluff | 15

.

previousIntro | #1: Obscured | #2: Presence | #3: Unidentified | #4: Face to Face | #5: After Effect | #6: Impulsive | #7: Unspoken

.

.

.

#8: SPICA AND AUVA

.

“Ini salahku.”

“Fyre, berhentilah menyalahkan diri sendiri. Dia akan—”

“Seharusnya aku lebih memerhatikan situasi yang ada,” lanjut Fyre, mengamati Killian yang sedang menggunakan sihir penyembuhnya pada Aleta. “Seharusnya aku bisa melindunginya, setelah apa yang sudah kuperbuat….”

“Dia akan baik-baik saja.” Killian menegaskan, bangkit berdiri untuk menepuk pundak kawannya. “Mungkin butuh satu atau dua hari untuk pulih, tapi aku yakin Aleta akan baik-baik saja. Kau percaya padaku, kan?”

“Aku….”

“Jaga dia,” lanjut Killian, mengedikkan kepala ke ranjang tempat sang gadis tengah berbaring. “Aku akan mengecek keadaan Axel dan Rhea. Walau sepertinya, mereka tidak benar-benar butuh bantuanku. Axel hanya berkata kalau ia lelah, itu saja.”

“Killian….”

“Kita bicarakan semuanya ketika Aleta sudah lebih baik.”

Membiarkan Killian untuk melangkah keluar dari kamar, Fyre lantas mengembalikan pandangnya ke arah Aleta. Menatap raut wajah yang terlihat sedikit pucat itu, sementara telinganya mendengar gumam-gumam percakapan di luar sana. Tampaknya Rhea tengah meminta maaf pada Alven, sementara sang lelaki di bawah naungan bintang Spica membalas dengan kata-kata yang kurang lebih serupa dengan ucapan Killian tadi. Sesuatu yang seharusnya bisa membuat Fyre lebih berlega hati, lantaran ia tahu bahwa Alven tak akan berkata demikian jika ia tak benar-benar yakin.

Tetapi….

“Maafkan aku, Al.”

Duduk di sisi ranjang yang kosong seraya mengulurkan tangannya untuk mengelus puncak kepala sang gadis, Fyre mendadak mengerti dari mana asal rasa bersalah di dalam benaknya. Sejak ia tertangkap oleh musuh sialan itu dan nyaris melukai Aleta serta Alven, Fyre tahu bahwa ia telah banyak merepotkan mereka. Ia telah melanggar janji yang dulu pernah ia buat, ia sudah gagal menjadi si bintang pelindung yang tangguh. Fyre tak akan pernah memaafkan dirinya sendiri jika sesuatu yang buruk terjadi pada Aleta atau Alven, dan menilik dari berbagai macam kejadian yang telah terjadi selama beberapa hari terakhir….

“Hei.”

“Bagaimana di luar sana?”

“Kurasa kau masih kesal?” Alven balik bertanya, ikut mendudukkan diri di sebelah Fyre agar ia bisa mengamati saudarinya. “Fyre, kau toh tahu kalau Aleta tidak akan—”

“Memang tidak.” Satu tarikan napas, selagi Fyre beralih menatap Alven. “Aku yang menyalahkan diriku sendiri, Alven. Selalu begitu karena….”

“Karena?”

Kali ini Fyre tak langsung menjawab. Sang bintang Auva memilih untuk bungkam, secara otomatis menautkan jemarinya dengan jemari Aleta. Tatap dan ekspresinya terlihat sendu, sehingga tanpa perlu melontarkan jawaban pun, Alven sudah paham.

“Fyre?”

“Hm?”

“Aku dan Aleta tidak pernah merasa direpotkan oleh kehadiranmu. Kautahu itu, kan?”

.

-o-

.

“Sama seperti Fyre, kurasa Axel juga tidak memiliki informasi apa pun tentang identitas musuh kita, kan?”

Tiga hari berlalu semenjak Axel kembali, dan Killian memutuskan bahwa hari ini adalah saat yang tepat untuk membicarakan semuanya. Berkumpul di ruang tengah apartemennya, sang Alaraph menatap kelima kawannya dengan sorot serius sebelum melanjutkan, “Masih ada Icy, tetapi setelah semua yang terjadi, bertindak gegabah tidak akan menjadi jawaban yang tepat.”

“Aku tidak—”

“Aku tidak sedang menyindirmu, Rhea,” sahut Killian cepat. “Aku berbicara fakta, setelah melihat bagaimana musuh kita memanfaatkan Axel. Apa yang terjadi saat itu adalah sesuatu yang—jikalau bisa—ingin kuhindari. Kamu atau Aleta bisa saja terluka lebih parah—”

“Tidak menyindirku, ya?” Rhea memotong, menyilangkan kedua lengannya. “Aku tidak bodoh, Killian. Aku tahu jika kamu sedang menegurku. Dan ya, selagi kita berada di topik ini, bagaimana jika kita bicarakan saja semuanya?”

“Rhea….”

“Aku melakukan apa yang perlu kulakukan,” ucap Rhea langsung, tampak siap membela diri. “Aleta dan Alven berpikir bahwa mereka bisa menyelamatkan Fyre, jadi aku pun berpikir serupa. Kalau ada yang bisa menyelamatkan Axel, orang itu seharusnya adalah diriku, kan?”

“Itu memang benar.” Killian lekas mengiakan, melirik Axel yang kini sedang menepuk pundak Rhea dan berusaha menenangkan gadisnya. “Tapi, yang jadi masalah….”

“Aku tahu, aku langsung pergi mencarinya tanpa petunjuk. Tanpa menggunakan sihirku untuk mendatangkan ramalan, tanpa memberitahu kalian sehingga kita bisa menyusun rencana, kemudian membiarkan diriku diserang begitu saja.” Jeda sebentar, sementara Rhea menatap Killian tajam. “Lantas, bagaimana dengan Alven dan Aleta? Yang kabur begitu saja tanpa memberitahu kita? Kamu… kamu tidak menyalahkan mereka? Karena apa? Karena mereka kembali dengan selamat?”

“Kamu tidak mengerti,” jawab Alven, membuka mulut sebelum Killian bisa mengutarakan pendapatnya. “Baik, kami juga akan mengaku bahwa kami salah. Namun, menyelamatkan Fyre adalah sesuatu yang harus dilakukan sesegera mungkin. Bahkan, seandainya hal itu harus dilakukan tanpa rencana sekalipun.”

“Dan menyelamatkan Axel—atau Icy—adalah sesuatu yang bisa ditunda?” Rhea kembali memprotes, amarah yang beberapa hari ini berusaha ia tahan menyeruak kembali. “Jadi, menurutmu, tidak apa-apa jika kita membuat rencana lebih dulu dan membiarkan Axel ditahan sedikit lebih lama?”

“Menyelamatkan kawan-kawan kita adalah hal penting,” balas Alven, masih tidak mengizinkan Killian untuk berbicara. “Tapi, seperti kata Killian tadi, kita juga harus memastikan tak ada satu pun dari kita yang ikut tertangkap. Aku percaya jika Axel dan Icy pasti bisa bertahan, sementara kita memutuskan yang terbaik untuk dilakukan. Lagi pula—”

“Karena bagi Spica, hanya sang bintang Auva yang penting, kan?”

Perkataan Rhea itu jelas sudah keterlaluan. Sontak memaksa hening untuk datang merayap, sementara Alven hanya mampu terdiam. Tak yakin bagaimana harus menjelaskan, terlebih karena Aleta baru saja bangkit dari sofa sembari mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Saudarinya itu jelas marah, emosi jelas tergambar di raut wajahnya ketika ia bergumam:

“Kalau begitu, tidak apa-apa bagimu seandainya Auva lenyap dari konstelasi kita?”

“Apa?”

“M-menurutmu….” Aleta berkata dengan suara sedikit gemetaran, mengabaikan Fyre yang kini ikut berdiri dan meletakkan kedua tangannya di pundak sang gadis. “Menurutmu… a-apa penyebab Fyre sampai tidak sadarkan diri dan… dan butuh waktu lebih lama untuk pulih? Axel… Axel tidak seperti itu, k-kan? Ia… i-ia baik-baik saja. Ia akan baik-baik saja, dan aku tahu… aku tahu soal itu. T-tapi Fyre….” Sang gadis menggelengkan kepalanya perlahan, membiarkan setetes air jatuh menghiasi lengkung pipi. “Fyre t-tidak akan bertahan, sehingga aku dan Kak Alven… k-kami harus menolongnya secepat mungkin.”

Baik Killian maupun Axel hanya bisa tertegun, tak tahu harus membalas apa. Keduanya saling bertukar pandang dalam diam, seakan menunggu, sampai suara Rhea kembali terdengar.

“Apa kamu yakin bahwa itu alasannya?” Rhea menelengkan kepala, berdecak pelan. “Karena kalau memang seperti itu, kenapa hal yang sama tak berlaku bagiku dan Axel? Tidak mungkin kan, seseorang menjadi lemah hanya karena terlalu lama bersama—”

“Cukup!”

Menghentikan semua ocehan Rhea dengan satu bentakan keras, Fyre menatap gadis bersurai kelam tersebut dengan sorot tajam. Kedua lengan lantas bergerak untuk menarik Aleta mendekat, membiarkan saudari kembar Alven itu untuk terisak dalam dekapannya. Rasa kesal muncul begitu saja, sesuatu yang wajar terjadi kala seseorang mulai berkomentar sok tahu tentang kehidupannya.

“Apa kamu tahu kenapa Aleta menyelamatkanmu kemarin? Apa kamu tahu jika dialah yang melacak keberadaanmu dan berusaha menemukanmu sebelum semuanya terlambat?” lanjut Fyre, masih tak berniat untuk menurunkan nada suaranya. “Setidaknya, berterima kasihlah! Aleta melakukan itu karena ia sudah memperkirakan ini! Bahwa kamu akan kabur mencari Axel setelah mendengar cerita kami, bahwa kamu bisa saja terluka karena sikap cerobohmu itu! Aleta merasa bertanggung jawab atas itu, jadi—”

“Kurasa…” Alven menengahi, berdeham pelan sebelum melanjutkan, “…sudah saatnya mereka tahu alasan di balik perbuatanku dan Aleta.”

Beralih menatap Alven yang sedang menundukkan kepala dan memainkan jemarinya, Rhea pun lekas menjungkitkan alis. Penasaran, tetapi juga tak tahu harus merespons apa. Luapan emosinya barusan telah mengubah suasana menjadi tegang, menjadi sesuatu yang nyaris menghancurkan. Rhea tahu itu, dan…

“Hei….”

Merasakan tangan Axel menggapai dan menggenggam jemarinya, gelombang ketenangan itu seketika menyelusup masuk. Memaksa Rhea untuk menarik napas, lantas menggumamkan permintaan maafnya dalam bisikan rendah. Kepala dianggukkan, tanda bahwa ia akan memberi kesempatan bagi Alven untuk menjelaskan.

“Baiklah, jelaskan pada kami, Al.”

Menarik sudut-sudut bibirnya, Alven mengulum senyum lega. Lelaki itu menunggu hingga Aleta dan Fyre kembali duduk di sampingnya; tangan lekas terulur untuk merangkul saudarinya seraya ia memulai:

“Kalau begitu, kurasa sudah saatnya mendengar cerita tentang masa lalu kami.”

.

-o-

.

Waktu itu, umur mereka masih dua belas tahun.

Hidup terpisah dari orangtua, sepasang saudara itu tumbuh besar bersama sang nenek. Waktu itu, keduanya masih terlalu kecil untuk tahu bahwa ayah dan ibu mereka memang sengaja berbuat demikian. Sengaja tidak mau membesarkan kedua anaknya sendiri, lantaran kekuatan yang terpendam di dalam diri Alven dan Aleta dianggap sebagai sesuatu yang tak wajar.

Kendati begitu, mereka berdua baik-baik saja.

Keduanya senantiasa menghabiskan waktu berdua, diam-diam menggunakan sihir yang dimiliki untuk saling menghibur dan melindungi. Tak masalah jika teman-teman di sekolah menganggap mereka aneh—lantaran bagi Alven maupun Aleta, keduanya toh memiliki satu sama lain sebagai tempat bersandar.

Sampai suatu malam, segalanya berubah.

Keduanya baru saja pulang membeli jajanan, membawa sekantung plastik penuh dengan makanan hangat. Langkah kaki berjalan menelusuri jalan setapak yang ada, melewati rumah demi rumah sampai keduanya dihadapkan dengan sirine yang meraung-raung serta kepanikan di mana-mana.

“Apa yang terjadi?”

Menggumamkan tanya, Aleta tak lantas menemui jawabnya semudah itu. Yang ada hanya teriakan orang-orang dewasa, selagi keduanya berjalan mendekat dengan manik melebar. Netra tertuju pada sebuah rumah yang sedang dilalap api, yang tampaknya tak akan bisa diselamatkan kendati para pemadam kebakaran terus-menerus menyemprotkan air. Alih-alih, api tersebut tampaknya malah bertambah ganas. Menyambar-nyambar, dan nyaris saja mengenai seorang anak lelaki yang—

“Awas!”

Tanpa sadar, sihir Aleta bekerja begitu saja. Membentuk sebuah bola air raksasa, yang lantas ia jatuhkan tepat di atas lidah-lidah api tersebut. Tanpa sengaja ikut mengenai lelaki yang tadi hampir saja tersambar, membuatnya basah kuyup sementara Alven dan Aleta berlari ke sisi kiri rumah—tempat lelaki itu masih berdiri dalam geming.

“Kamu tidak apa-apa?”

Untunglah tak ada seorang pun pemadam kebakaran yang memerhatikan mereka saat itu—bagaimana sihir Aleta bekerja dan bagaimana api di sisi kiri rumah perlahan-lahan padam. Semua orang terlalu berfokus pada bagian depan dan kanan rumah, tempat di mana pusat kebakaran diperkirakan terjadi. Sayang, sebagaimana atensi mereka tertuju pada bagian itu, tak ada seorang pun dari mereka yang menyadari bahwa salah seorang penghuni rumah yang selamat baru saja jatuh terduduk dan meneteskan air mata dalam diam.

“Hei, kamu terluka? Maaf, aku dan adikku tidak bermaksud untuk….”

Kalimat Alven terhenti begitu saja, tepat ketika salah seorang pemadam kebakaran akhirnya menyadari keberadaan tiga orang anak di sana. Melangkah mendekat, pria berwajah kebapakan itu lantas menggiring ketiganya untuk segera menjauh. Meminta mereka untuk menunggu sampai api selesai dipadamkan, berkata bahwa paramedis dan bantuan lain akan segera datang.

Namun, bocah lelaki itu malah menggeleng.

“Aku tidak terluka,” bisiknya dalam suara serak. “T-tapi, Finn sudah pasti tidak akan selamat d-dan….”

Menggelengkan kepala, anak lelaki itu tahu-tahu berlari menjauh. Meninggalkan para pemadam kebakaran yang sudah kembali sibuk, serta Alven dan Aleta yang hanya mampu berpandangan. Sorot mata terlihat ragu sejenak, sebelum akhirnya mereka pun bertukar anggukan setuju dan memutuskan untuk mengejar lelaki tadi.

.

.

.

“Fyre.”

“Ya?”

“Namaku Fyre,” gumam lelaki itu, menyandarkan badan pada kursi taman sembari memejamkan matanya rapat-rapat. “Terima kasih untuk—”

“Alven,” sahut Alven cepat, memperkenalkan dirinya sendiri seraya mencari-cari makanan di kantung plastik yang ia bawa. Mengeluarkan sebungkus roti pada detik berikutnya, kemudian mengulurkannya pada Fyre sambil menambahkan, “Dan yang membantumu tadi adalah adikku, Aleta. Kamu… benar baik-baik saja, kan?”

Tidak ada jawaban. Fyre memilih momen itu untuk memainkan sebungkus roti yang baru saja diberikan Alven, membolak-baliknya dengan tatap kosong. Air mata kembali menggenang di pelupuknya, membuat sepasang saudara yang ada kembali tertegun dan tak mampu berkata-kata. Tidak ketika Fyre tahu-tahu menggeleng, lantas mengubah posisi duduknya menjadi meringkuk sambil berkemam, “Aku tidak bisa menolong Finn; dia adikku.”

“Eum—”

“Aku tidak baik-baik saja.”

“Maaf.”

Akhirnya, hanya itulah yang bisa digumamkan oleh Aleta. Ketiganya lantas terdiam, biarkan hening serta desau angin malam menggantikan segala jenis percakapan. Tak ada yang berbicara, tak ada pula yang berniat untuk melontarkan penghiburan. Mereka hanyalah anak berusia belasan tahun, masih terlalu muda untuk mengerti bagaimana cara menghibur seseorang dengan baik dan benar.

Barulah ketika malam semakin larut dan Fyre menggigil kedinginan, Aleta memberanikan diri untuk mengulurkan jemarinya dan menggapai lengan lelaki itu.

“Bagaimana… bagaimana kalau kamu ke rumah kami saja? Aku sudah membuat bajumu basah dan—” Aleta mengarahkan pandang pada Alven, yang mengangguk setuju mendengar kata-katanya. “Kurasa, nenek kami tak akan keberatan.”

“A-aku….”

“Anggap saja kami adalah teman baikmu. Teman akan saling membantu saat dibutuhkan, bukan?”

Membuka matanya, netra Fyre bertemu tatap dengan pandangan yakin milik Aleta. Sesuatu yang entah mengapa membuat ia akhirnya mengangguk setuju, terlebih ketika Alven mengulurkan tangan untuk menepuk pundaknya dan memberinya semangat. Fyre memang kehilangan segalanya malam itu, tetapi entah mengapa kesedihannya perlahan-lahan berkurang kala ia merasakan perhatian Alven dan Aleta kepadanya.

“Terima kasih… teman-teman.”

.

.

.

“Kalian mengingatkanku akan adikku.”

Sebulan berlalu semenjak kejadian itu, dan ketiganya menjadi dekat layaknya mereka sudah berteman sejak lahir. Untunglah nenek Alven dan Aleta sama sekali tidak berkeberatan untuk mengurus Fyre, menunjukkan simpatinya sembari berujar bahwa ia senang melihat kedua cucunya memiliki kawan baru. Kesedihan Fyre pun lambat laun berkurang, kendati Aleta maupun Alven terkadang masih sering mendengarnya diam-diam menangis saat malam menjelang.

Setidaknya, lelaki itu mau bersikap sedikit lebih terbuka.

Fyre sudah menceritakan berbagai macam hal tentang ia dan adik lelakinya. Bahwa mereka amat dekat layaknya kembar kendati terpaut jarak tiga tahun, bahwa mereka memiliki rupa yang mirip serta sifat yang nyaris serupa. Semua itu ia ceritakan dengan senyum sendu, diikuti pernyataan bahwa ia amat merindukan sang adik yang selama ini berperan sebagai satu-satunya teman dalam hidup Fyre.

“Yah, kami sama sepertimu, kok. Tidak ada yang benar-benar mau berteman dengan kami,” sahut Alven, sementara Aleta mengangguk penuh semangat. “Mereka bilang kami aneh….”

“Aku juga sering diejek seperti itu.”

“Setidaknya, kita bertiga berteman sekarang.” Aleta mengedikkan bahu, mengawasi Alven yang sedang memainkan sebatang ranting. Kakak lelakinya itu sedang memutar-mutar ranting di tangannya, berlagak bahwa benda itu adalah sebuah tongkat ketika tiba-tiba….

“Whoa! Kak Alven!”

Tanpa sadar, Alven telah membiarkan sepercik api menyala di ujung rantingnya. Membentuk sebuah bola kecil, yang kemudian melayang di udara sebelum lenyap tanpa bekas.

“Apa yang—”

“Kak Alven!” Aleta langsung menegur, sementara Alven buru-buru meminta maaf. Berucap bahwa ia tidak sengaja, sebelum menoleh untuk menatap Fyre yang diam tertegun. Manik dilebarkan, ekspresi kaget kentara di wajahnya, dan….

“Fyre, maaf, yang tadi itu—”

“Finn juga bisa melakukan itu.”

Mengungkapkannya dalam bisikan, pernyataan itu menghadirkan keheningan yang nyaris absolut. Tak ada yang tahu harus berkata apa; terlebih karena Alven dan Aleta sama sekali tak menduga bahwa ada orang lain yang memiliki kekuatan seperti mereka. Bahwa mereka tidak sendiri di dunia ini, bahwa apa yang tersimpan di dalam diri mereka itu….

“Aku… aku pun bisa melakukannya,” lanjut Fyre setelah hampir lima menit berlalu, memecah kesenyapan. “Dulu. M-maksudku… aku tidak bisa melakukannya lagi setelah Finn meninggal.”

“Fyre….”

“Malam itu, kamu menolongku, kan?” Fyre menggulirkan bola mata untuk memandang Aleta, membuat sang gadis mengangguk pelan. “Bola air itu… seharusnya aku juga bisa menciptakannya.”

Alven dan Aleta tetap bungkam, merasa bahwa mereka tidak seharusnya berkata-kata hingga Fyre selesai bercerita.

“Tapi, malam itu…” Fyre menelan saliva, genangan air tahu-tahu mengumpul di kelopak matanya. “Aku dan adikku… sejujurnya kami tidak pernah bahagia. Orangtuaku membenci kekuatan kami. Mereka akan mengurung kami, memarahi kami jika sampai ada yang kelepasan kendali atau melakukan sesuatu yang tak wajar. D-dan malam itu… malam itu, Ayah tiba-tiba mengamuk tanpa alasan. Ia mengurung Finn di kamarnya. Ia yang bersalah, memancingnya sampai-sampai….”

Aleta mengulurkan tangan, menautkannya dengan jemari Fyre seolah hendak memberi kekuatan.

“Sampai-sampai… Finn kehilangan kendali sepenuhnya. Memunculkan api yang membakar segalanya, api yang tak bisa dihentikan karena ia terlalu marah untuk mengendalikannya. Seisi rumah terbakar. Adikku sengaja memerangkap ayah dan ibu dalam api, tak mengizinkan mereka kabur. Tapi, aku selamat. Aku selamat dan… dan aku tidak bisa melakukan apa-apa.”

“Kamu sudah mencoba.”

“Aku sudah gagal,” imbuh Fyre, dengan nada seolah ia sedang mengoreksi pernyataan Alven barusan. “Sesuatu di dalam diriku tahu bahwa Finn sudah tiada, dan detik itu pula, kemampuanku tak mau digunakan. Lihat…” Fyre mengulurkan tangan, mengerutkan kening tanda konsentrasi, tapi tak mampu menghasilkan apa-apa. “Aku hanya ingin membantu. T-tapi… aku tidak bisa. Aku tidak lagi berguna, Al.”

Kisah Fyre itu ditutup dengan isakan lainnya, selagi Aleta beringsut mendekat untuk merengkuh sang lelaki. Menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut, sementara Alven berusaha sebaik mungkin menggumamkan kata-kata penghiburan. Memangnya, apa lagi yang bisa mereka lakukan selain berbuat demikian?

Tidak ada.

Karena bagi ketiganya waktu itu, dunia adalah sesuatu yang kejam dan penuh dengan kejutan.

.

-o-

.

“Lalu, kekuatan sihir Fyre….”

“Kekuatanku baru kembali saat kami duduk di bangku SMA,” ucap Fyre, melanjutkan cerita Alven mengenai masa lalu mereka. “Aku tidak pernah mengharapkannya untuk kembali, sampai hari itu tiba dan tanpa sadar aku mendapatkannya lagi.”

“Hari itu?”

“Alven sedang sakit hari itu. Aleta pulang malam, dan aku memutuskan untuk menjemputnya.” Fyre memulai, merasakan otot-ototnya menegang kala ia teringat kejadian mengerikan tersebut. “Tapi, ia tidak kunjung muncul. Aku memutuskan untuk mencarinya, dan menemukan beberapa orang lelaki berengsek sedang menyudutkannya di belakang sekolah. Kalian bisa menebak apa yang terjadi berikutnya.”

“Kau menyerang mereka?” Killian bertanya, yang disambut anggukan oleh Fyre. “Dengan sihir?”

“Tentu saja.” Fyre menegaskan, irisnya sedikit menggelap saat ia berbicara. “Saat itu, bola sihir keemasan tahu-tahu muncul di sekitarku. Aku mengikuti insting, mengarahkan bola-bola itu pada mereka. Untunglah itu cukup, untuk melukai dan membuat mereka ketakutan. Tapi….”

“Tapi?”

“Seluruh energiku terkuras habis saat itu,” gumam Fyre. “Aku tidak… aku tak punya cukup energi untuk melakukan sihir seorang diri. Dan Aleta-lah yang ganti menyelamatkanku saat itu.”

“Maksudmu… dengan sihir penyembuh?”

Aleta menggeleng cepat, menatap Fyre sebelum akhirnya memeluk lengan sang lelaki erat-erat dan berkemam, “Seperti ini.”

“Ap—” Rhea hendak bertanya lagi, namun maniknya melebar kala ia melihat sinar keemasan mengelilingi tubuh kedua kawannya. Pemahaman pun seketika merambat masuk, kendati ia masih terlalu terpana untuk mengucapkannya keras-keras.

“Kalian berbagi energi. Spica dan Auva.”

Axel-lah yang akhirnya menyuarakan konklusi itu, sementara sinar yang melingkupi tubuh kedua anggota Virgo di hadapannya perlahan memudar.

“Tepat,” balas Alven, kembali mengambil alih cerita. “Well, tidak harus berpelukan atau semacamnya, sih. Waktu itu Aleta memang melakukannya dengan cara seperti tadi, namun seiring berjalannya waktu, kedekatan di antara kami saja sudah cukup. Dan kalau kalian ingin tahu mengapa….” Alven menghela napas, memunculkan lingkaran sihirnya agar ia bisa menjelaskan. “Auva adalah bintang kembar, sama seperti Spica. Ketika adik Fyre meninggal, separuh energi dari Auva menghilang. Nah, tidakkah kalian sadar, bahwa posisi Auva dan Spica di lingkaran ini saling bersebelahan? Itu aneh, bukan?”

“Sejujurnya, aku tidak pernah memperhatikan,” gumam Axel, diikuti persetujuan dari Rhea di sampingnya.

“Spica—Alpha Virginis,” lanjut Alven tanpa memedulikan perkataan Axel tadi, menunjuk ke simbol alpha yang ada di lingkaran. “Setelah kami, urutan yang seharusnya adalah Alaraph, si Beta Virginis. Lalu Gamma Virginis—itu Porrima, baru Auva—Delta Virginis. Tapi, aturan itu tidak berlaku di sini.”

“Lingkaran sihir milik Virgo berubah saat para Spica memutuskan untuk membagi cahaya mereka dengan Auva.” Aleta akhirnya buka suara. “Tapi, lawan kita tidak tahu itu. Ketika mereka mengendalikan Fyre, mereka memaksanya untuk menggunakan energinya sendiri. Dan layaknya para bintang… menurutmu, apa yang akan terjadi ketika sebuah bintang kehabisan semua energi dan dayanya untuk bersinar?”

Sang pemilik kekuatan akan mati.

Jawaban itu bergema di dalam benak mereka semua, digemakan dalam nada yang mencekam. Terlebih bagi Rhea, yang kini hanya mampu menunduk dan memasang raut menyesal. Ia kini mengerti, ia paham mengapa Alven dan Aleta begitu mencemaskan Fyre. Kalau saja mereka sampai terlambat, maka bukan tidak mungkin jika lambang Auva akan selamanya meredup. Mati, tak lagi bersinar di dalam konstelasi, dan….

.

.

.

“Maafkan a—”

.

.

.

“Tunggu sebentar.”

Memotong permintaan maaf Rhea, suara Killian tiba-tiba saja terdengar. Sontak membuat mereka semua mendongak, terkejut mendengar nada serius yang ada dalam suara pemimpin mereka tersebut. Killian kini tengah mengamati lingkaran sihir yang masih terbentuk di bawah kaki Alven, kening dikerutkan, bibirnya mengucap kata-kata tanpa suara.

“Killian, ada apa…?”

“Lingkaran sihir ini memang berubah,” ujar Killian, suaranya terdengar tegang. “Dan aku baru sadar kalau perubahan pada posisi Auva…”

.

.

.

“…bukanlah satu-satunya perubahan yang terjadi.”

.

tbc.

.

.

Special Section
The Other Star of Auva

160517233756.25 copy

(SEVENTEEN’s Woozi as Finn)

.

.

Terlahir tiga tahun lebih muda, Finn adalah si pemilik keahlian api dan pedang yang sebenarnya. Ia jauh lebih lihai dalam kedua hal tersebut; berkebalikan dengan sang kakak yang lebih pendiam dan cenderung memilih elemen air, petir, serta menyerang dengan busur panah. Kendati demikian, setelah ia meninggal akibat tidak mampu mengendalikan kekuatannya sendiri, semua bakat utamanya pun beralih menjadi milik Fyre. Menyebabkan sang kakak menjadi bintang yang nyaris serba bisa, meskipun itu berarti ia harus bertahan dengan sinar Auva yang tak lagi seterang dulu.

Advertisements

7 thoughts on “[Chapter 8] The Silver Age of Virgo: Spica and Auva

  1. Hyungiee

    Ternyata bukan cuma aku yg berfikiran kalo bang uji sama bang agus mirip…kita satu pemikiran, thor!!
    #terhura

    Nyesel bgt baru nemu FF ini jd maraton bacanya…keep writing, kak!

    Like

  2. Anisa A

    Wow, ada apa dengan spica? apa dia akan bernasib sama seperti auva?

    Ayolah Killian, masa mau diem aja liat icy di tawan..hehe

    Fighting author-nim!

    ps. maafkan daku dengan comment cepat ini 😂

    Like

  3. Pingback: [Chapter 9] The Silver Age of Virgo: Prophecy – BTS Fanfiction Indonesia

  4. NAHLOOO kakamer kenapa mendadak tbc di sana kenapa kenapaaaa T-T apakah itu ada kaitannya dengan Icy? Ataukah Killian menyadari sesuatu yang bisa menyelamatkan Icy? T-T

    Dan btw itu si Finn sekali nongol tapi ternyata itu mas uji kangmasss :”) aku masih penasaran sama Icy nih kakamer semangatttttt!!!! XD

    Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s