[Vignette] Of Magazine Layout, Coffee, and Sudden Date

162030

of Magazine Layout, Coffee, and Sudden Date

a vignette and spin-off by tsukiyamarisa

based on The King’s Magazine!AU written by snqlxoals818:

Once Upon A Time At The King’s Magazine

BTS’ Min Yoongi and OC’s Park Minha

with SEVENTEEN’s Woozi, BTS’ Kim Taehyung, Park Jimin, Kim Namjoon, Jung Hoseok, and OC’s Lily

2400 words | Office!AU, slight!Fluff, Friendship | T

.

“Salahkan saja otaknya yang belum sepenuhnya terjaga, sampai-sampai ia refleks mengucapkan omelan tersebut padahal tangannya sibuk membuat coretan desain layout.”

.

.

.

.

Aku butuh kopi.

Min Yoongi membatin kata-kata itu seraya mengerjap, menatap layar komputer yang serasa mengejeknya. Ia punya deadline untuk menulis sebuah artikel astronomi—penemuan terbaru planet laik huni atau apalah itu—tetapi tubuhnya tidak mau diajak bekerja sama. Salahnya juga sih, yang semalam malah sibuk menonton film rekomendasi Seokjin. Sekarang ia mengantuk bukan main, padahal prinsipnya adalah “pantang mencari tempat tidur sebelum pekerjaan selesai”.

“Aku benar-benar butuh kopi.”

Mengucapkannya keras-keras tak akan memunculkan secangkir kopi di meja kerjanya, Yoongi tahu itu. Maka, kendati sesungguhnya malas, sang lelaki pun terpaksa bangkit. Menggerakkan tungkai menuju pantri, bermaksud untuk membuat secangkir kopi dan mencari sedikit kudapan. Apa pun untuk membuat matanya kembali terbuka, sehingga ia bisa—

“Pasti kau yang mengambil kotak makan di kulkas kan, Kim Taehyung?!”

—oh, tidak.

Yoongi memang butuh sesuatu untuk membuatnya terjaga, tapi bukan berarti sesuatu itu berupa teriakan kedua rekan kerjanya. Park Jimin dan Kim Taehyung. Mereka berdua tampaknya sedang berebut makanan, dan Yoongi sama sekali tak ingin menjadi saksi mata adegan itu. Bahkan mendengar suaranya saja sudah membuat kepalanya pening, makian dan omelan terpaksa ia tahan di ujung lidah, sampai….

“Kau menuduhku mencuri?!”

“Mengaku saja kalau kau mengambilnya!”

“Oke, aku memang mencicipinya sedikit, tapi aku tidak—”

“Nah, itu kau mengaku sudah menyentuh kotak makanku!”

“Heh, monyet-monyet kelaparan, bisa diam tidak?!”

…sampai akhirnya, Yoongi terpaksa membuka mulut dan mengeluarkan gerutuan tersebut. Sontak membuat Taehyung dan Jimin menoleh, ekspresi wajah terbagi antara ingin meminta maaf dan kesal.

“Yang monyet kan Taehyung! Aku bukan monyet!”

Namun, tampaknya Min Yoongi tak mendengar ucapan tersebut. Sang lelaki sudah keburu keluar dari pantri, membanting pintunya hingga menutup, dan berjalan cepat-cepat menuruni tangga. Ia bahkan sudah tak punya kesabaran untuk menunggu lift. Masa bodoh dengan kelanjutan perdebatan mereka, karena saat ini Yoongi hanya butuh kopi dan ketenangan. Dan untuk itu, Yoongi hanya bisa berharap agar bagian desain di lantai empat memiliki karyawan yang lebih waras.

“Permisi.”

Mendorong pintu pantri yang terletak satu lantai di bawah tempat kerjanya, Yoongi langsung mengembuskan napas lega. Keheningan menyambut, membuat emosinya perlahan-lahan surut. Ia bahkan bisa bernyanyi-nyanyi kecil sekarang, tangan langsung menjangkau cangkir dan sebungkus kopi yang ada. Menuangnya, lantas mengisi cangkir itu hingga penuh dengan air panas dan mulai mengaduk.

“Oke, aku bisa hidup sekarang.”

Sembari menyeruput kopinya, Yoongi membalikkan badan. Setengah bersandar pada meja pantri yang ada, seraya sebelah tangan memegang cangkir berisi kopi. Tatap bergulir ke seluruh penjuru ruangan, membuatnya mendadak sadar bahwa ia tidak sendirian di dalam pantri ini.

Duduk dalam posisi setengah bergelung seperti kucing, manik Yoongi langsung terarah pada seorang gadis yang sedang tertidur di sofa biru pantri. Gadis bersurai cokelat tua sebahu yang mengenakan celana pendek selutut dan sweter kebesaran, membuat penampilannya lebih terlihat seperti seseorang yang hendak bersantai di rumah alih-alih bekerja. Namun, The King’s Magazine toh memang membebaskan karyawannya dalam berpakaian. Yoongi saja hari ini hanya memakai kaus putih polos, jaket, dan jeans dengan robekan di lutut—bukan dalam posisi yang pantas untuk mengomentari busana orang lain.

Tapi, sesungguhnya, bukan pakaiannyalah yang menarik atensi Yoongi.

“Kukira hanya aku saja yang hobi tidur di kantor.”

Terkekeh, Yoongi menggeleng-gelengkan kepala dan lanjut menyesap kopinya. Bagaimanapun juga, ia masih punya pekerjaan yang menunggu di atas sana. Namjoon pasti akan mengomel kalau ia—selaku redaktur pelaksana—sampai terlambat mengumpulkan artikel. Oh, itu tidak boleh terjadi. Walau terkenal suka tidur di kantor, namun Min Yoongi tetap punya reputasi sebagai seorang karyawan teladan. Hasil kerjanya serta rubrik bertajuk “The Genius Mr. Min” adalah sesuatu yang selalu ia banggakan—well, setidaknya ia punya nama rubrik yang lebih baik dibandingkan “Ask Mr. MonTae”, bukan?

Baiklah, ini artinya Yoongi harus segera kembali bekerja.

Selamat tinggal pantri lantai empat yang tenang dan—

“Jihoon-a, sisakan kopinya, oke? Aku akan kembali mendesain setelah ini.”

Eh?

Mendongak dari cangkir kopinya, Yoongi bisa melihat sang gadis sibuk mengusap-usap mata. Kedua lengan lantas diregangkan, sebelum akhirnya ia benar-benar tersadar. Tatap langsung tertuju ke arah Yoongi, yang kini sedang menggaruk tengkuk dan berusaha memasang senyum.

“Oh.” Gadis itu bergumam, tahu-tahu saja menutupi wajah dengan kedua tangan. “Maaf, kukira tadi Jihoon ada di sini.”

Uh, tidak apa. Pantri di lantai lima penuh, jadi—“ Yoongi mengedikkan bahu, tidak mengerti mengapa ia harus repot-repot menjelaskan segala. Merasa canggung, ia pun bergegas meneguk kopinya hingga tandas. Bermaksud untuk segera meletakkan cangkir di bak cuci, kemudian kembali ke kubikel kerjanya sendiri. Namun, tepat saat ia hendak menaruh cangkirnya, sang gadis sekonyong-konyong melangkah mendekat.

“Kopinya masih, kan?”

Yoongi hanya diam. Membiarkan gadis itu untuk membuka lemari di atas pantri, mencari-cari sebelum akhirnya mengeluarkan desahan panjang. Ekspresi wajah mendadak cemberut, selagi ia kembali menutup lemari hingga menghasilkan bunyi debam pelan.

“Kurasa aku telah meminum kopi terakhir di pantri ini, ya?”

Gadis itu—Yoongi memanfaatkan kesempatan ini untuk memicingkan mata dan membaca nama yang tertera di kartu pegawainya—kembali menghela napas. Pipi digembungkan, berpikir sejenak, kemudian dilanjutkan dengan kedikan bahu singkat. Ia terlihat kecewa, tetapi tampaknya telah memutuskan untuk merelakan jatah kopinya hari ini.

“Sudahlah. Aku akan kembali bekerja saja.”

Pertemuan singkat mereka lantas berakhir kala Park Minha melangkah keluar dari pantri dengan lesu. Meninggalkan Yoongi yang hanya bisa diam, memandangi punggung yang terlihat lelah itu sementara benaknya dipenuhi sekelumit perasaan bersalah. Yah, ia sendiri tidak pernah suka jika seseorang mengambil jatah kopinya, jadi….

Aish, kenapa aku jadi kepikiran begini, sih?”

.

-o-

.

Nuna, rapat hari ini dimajukan menjadi pukul dua belas.”

“Hm.”

“Minha Nuna?”

“Aku mengantuk sekali, Jihoon-a,” balas Minha, menopangkan kepala di atas kedua lengannya yang terlipat. “Tidak ada kopi, jadi aku tidak bisa berfungsi dengan baik.”

Yang diajak berbicara hanya memutar bola mata, kemudian kembali berfokus pada desain majalah di layar komputer. Kim Taehyung, si penanggung jawab “Ask Mr. MonTae”, telah meminta logo baru untuk ditampilkan di rubrik tersebut. Sebuah permintaan yang membuat Jihoon terpaksa memelototi gambar berbagai macam pose monyet selama berjam-jam, tetapi tak kunjung mendapatkan ide hingga saat ini.

“Mungkin kamu bisa membantu memberiku ide?” Jihoon berujar penuh harap, melirik kubikel yang terletak di sampingnya. “Karena sepertinya, Nuna tidak akan menyentuh mouse itu sampai mendapatkan kopi—“

“Buat saja gambar monyet mengantuk,” ujar Minha asal, lantas melirik jam yang terletak di atas mejanya. “Kamu bilang rapatnya akan mulai jam dua belas?”

Yeah.”

“Itu sepuluh menit lagi, omong-omong.” Minha memutar bola matanya, bangkit berdiri seraya mengambil buku catatan kecil yang dihiasi gambar galaksi pada sampulnya. “Aku mau ke sana sekarang saja.”

Tanpa memedulikan Jihoon yang lekas-lekas mengumpulkan printout desain serta mencari-cari buku catatannya sendiri, ia pun bergegas menuju lift. Menekan tombol naik, kemudian menunggu dengan kedua lengan tersilang di depan dada. Bohong kalau ia tidak merasa kesal, tetapi ia juga sedang tidak ingin marah-marah. Sebenarnya, ia bahkan bisa membeli kopi di kafe yang ada di sebelah kantor, tetapi….

“Apa Nuna akan kembali menggarap desain untuk rubrik sains itu?” Jihoon tahu-tahu muncul, ikut melangkah masuk ke dalam lift yang terbuka sementara Minha menekan angka lima. “Dengar-dengar, topik minggu ini adalah astronomi. Itu favoritmu, kan?”

“Kurasa begitu,” jawab Minha sembari mengangguk, memandangi sampul bukunya sebelum mengimbuhkan, “Apa pun, asal aku tidak perlu menggarap desain untuk rubrik ramalan bintang. Habisnya—“

Denting pelan terdengar sebelum Minha sempat menyelesaikan kata-katanya, diikuti pintu yang terbuka serta pemandangan kantor bagian redaksi. Jam menunjukkan pukul dua belas kurang lima, tetapi seluruh kubikel di ruangan itu sudah kosong-melompong. Para redaktur pasti sudah berkumpul di ruang rapat, sebuah tebakan yang terbukti tidak meleset kala keduanya membuka pintu menuju ruang tersebut. Memandangi para penulis di The King’s Magazine yang sedang sibuk berdebat, sementara Namjoon selaku pemimpin tampak kebingungan.

“Hei.”

“Baguslah.” Namjoon langsung menghela napas lega, tampak senang melihat kehadiran tim desain di tengah perdebatan yang ada. “Nah, daripada kalian ribut, bagaimana jika kita biarkan mereka saja yang memutuskan?”

“Memutuskan apa?”

“Pokoknya, aku tidak mau jika rubrik ‘Ask Mr. MonTae’ diletakkan bersebelahan dengan ramalan bintang murahan milik Jimin. Itu menurunkan tingkat kekerenanku, tahu!”

“Itu sih, rubrikmu yang memang tak bermutu!”

“Sialan kau!”

“Aku tidak peduli dengan artikel-artikel bodoh kalian, pokoknya jangan tempatkan dua rubrik itu berdekatan dengan milikku—‘The Genius Mr. Min’. Ck, sama sekali tidak pantas, ta—“

“Diam saja kau, Min Yoongi!”

“Iya, diam saja kau!” Taehyung membeo, lalu menambahkan, “Lebih baik, rubrikku diletakkan tepat setelah rubrik ‘The Fabulous Lily (Little Story)’!”

“Tidak perlu membawa-bawa urusan romansamu di sini, Kim Taehyung,” tegur Namjoon, sementara gadis yang duduk tepat di seberang Minha terbatuk-batuk kecil. “Oke, kalian sudah dengar apa masalahnya, kan? Pokoknya, kalian saja yang memutuskan urutan rubriknya dan jangan pedulikan mereka.”

Baik Minha maupun Jihoon hanya bisa melongo, sebelum akhirnya mengangguk dan membiarkan tiap redaktur memulai presentasi mereka. Masing-masing menjelaskan garis besar dari isi artikel yang menjadi tanggung jawab setiap orang, terkadang disertai dengan ide-ide soal desain layout yang diinginkan. Minha mencatat itu semua dengan cermat, sampai seorang lelaki berdiri dan mulai menjelaskan isi artikel untuk rubrik sains yang menjadi tanggung jawabnya.

“Aku akan menulis tentang penemuan planet laik huni yang baru-baru ini menjadi bahan omongan. Eum, intinya hanya itu, sih. Tapi, aku ingin menyarankan agar desain yang dibuat tampak minimalis namun menarik. Mengingat topiknya sedikit berat—“

Yeah, aku akan buatkan desain yang menarik kalau saja jatah kopiku sudah kembali.”

Oops!

Bukan maksud Minha untuk menggerutu, pun mengucapkan kalimat itu keras-keras. Ia tidak sengaja, sungguh! Salahkan saja otaknya yang belum sepenuhnya terjaga, sampai-sampai ia refleks mengucapkan omelan tersebut padahal tangannya sibuk membuat coretan desain layout. Minha bahkan sempat tidak sadar kalau sang lelaki penulis rubrik sudah berhenti berbicara, memandanginya dengan kerut tercipta di kening.

Er—kamu….”

“Ada apa?”

Seolah tidak menyadari bahwa ia sudah mengucapkan gerutuan itu keras-keras, Minha mengedarkan pandang dengan bingung ke seluruh penjuru ruangan. Tidak mengerti mengapa suasana menjadi canggung, sampai Jihoon menyenggolnya dan menjelaskan apa yang baru saja terjadi kepada dirinya.

“Ah…” Menggunakan kedua telapak untuk menutupi rona malu yang tercipta di pipi, Minha sadar bahwa seisi ruangan itu tengah memandanginya. Pun dengan sang lelaki yang masih belum melanjutkan presentasinya, yang baru sekarang Minha kenali sebagai lelaki-di-pantri-yang-mengambil-jatah-kopi-terakhir-miliknya. Oh, ya ampun…

“M-maaf… em, aku sedang berbicara sendiri, silakan lanjutkan.”

Keheningan kembali hadir selama beberapa sekon, memaksa Namjoon untuk berdeham dan meminta Yoongi untuk melanjutkan. Namun, bukannya melontarkan ide-ide, yang diminta malah menggeleng. Berkata bahwa presentasinya untuk hari ini sudah cukup, dan ia akan segera mengumpulkan artikelnya esok hari. Ia tak lagi peduli dengan bagaimana hasil akhir dari layout rubriknya nanti, tidak karena…

yah, apa masih pantas kalau ia menuntut macam-macam dari gadis yang tampaknya belum memaafkannya?

.

-o-

.

Tapi, ia peduli.

Bukan pada layout majalah serta nasib dari tampilan rubrik yang amat ia banggakan, tetapi pada sang gadis yang ekspresi cemberutnya masih terbayang di ingatan seorang Min Yoongi. Sekelebat pikiran buruk bahkan hadir di dalam benak, kemungkinan-kemungkinan seperti gadis itu akan menghasilkan layout yang benar-benar buruk, memasang foto Yoongi yang sudah diedit menjadi jelek, atau mungkin memberikan hiasan-hiasan lain yang dapat menjatuhkan citranya. Tidak profesional memang, namun apa saja bisa terjadi, bukan?

Namjoon bahkan sampai mengundang ia ke kantornya, menegur Yoongi yang sudah melanggar janji untuk segera mengumpulkan artikelnya. Jimin dan Taehyung dibuat keheranan, lantaran candaan serta tingkah polah ribut mereka tak lagi mendapat tanggapan. Pun dengan Hoseok yang pada akhirnya merasa bosan, karena usahanya untuk membuat Yoongi sadar dari lamunan—lelaki itu melempari rekannya dengan bola-bola kertas, omong-omong—gagal total.

Yoongi tahu bahwa ia bersalah.

Oke, ini memang masalah kecil. Sepele malah. Tapi, sebagai seorang lelaki, sudah seharusnya jika ia meminta maaf lebih dulu, bukan? Nasib rubriknya sedang dipertaruhkan di sini—oke, sebenarnya ia masih sedikit peduli pada rubrik kebanggaannya itu. Dan lagi, ia tidak mau jika nama baiknya sampai tercoreng.

Ia bukan pencuri kopi, oke?

Itu hanya sebuah ketidaksengajaan.

Ketidaksengajaan yang kembali terjadi; tepatnya pada siang itu, ketika Min Yoongi berpapasan dengan Park Minha di depan lift.

“Oh, kamu—“

Yoongi seketika berhenti melangkah, tatap dengan sigap terarah pada Minha yang sedang menudingkan jemari ke arahnya.

“Y-ya?”

“Desain untuk rubrikmu sudah jadi, mau lihat?”

“Apa?”

Bukan itu yang diharapkan Yoongi, lantaran dirinya sudah setengah berharap akan menerima omelan yang lain. Namun, alih-alih, Minha malah sibuk mengeluarkan ponsel dari dalam tas selempang kecilnya. Membuka galeri, sebelum menyodorkan foto sebuah desain yang lekas membuat Yoongi terpana.

Sebuah ilustrasi planet berwarna hijau kebiruan tampak di sudut kiri bawah, mengisi separuh halaman dan siap ditulisi dengan judul. Bagian kanannya masih kosong, namun Yoongi tahu bahwa itu akan menjadi tempat artikelnya diletakkan. Kemudian, pada sisi atas, Yoongi bisa melihat angkasa yang bertaburan bintang serta pemandangan galaksi yang tampak misterius. Sungguh hasil yang berada di luar ekspektasinya, mengingat….

“Aku tidak sabar membaca artikelmu,” ucap Minha, menarik atensi Yoongi kembali. “Aku suka sekali dengan segala hal yang berhubungan dengan astronomi. Jadi…”

“Itu…” Yoongi berdeham, menujuk layar ponsel Minha seraya melanjutkan, “…bagus sekali. Kukira kamu akan membuat layout yang buruk karena insiden kopi—“

“Oh.” Minha lekas menarik ponselnya, memasukkan benda itu ke dalam tas sebelum mengangkat tangan. Menggunakannya untuk mengetuk kepalanya sendiri, selagi ia mengomel dan berakhir menyembunyikan wajahnya. Yoongi kini paham bahwa itu adalah kebiasaan sang gadis jika ia sedang merasa malu, sesuatu yang membuatnya sadar bahwa Minha tak pernah benar-benar kesal padanya.

“Aku minta maaf.”

“Tidak usah,” sambar Minha tanpa jeda. “Itu konyol sekali.”

“Bagaimana kopi di pantri lantai empat? Aku tidak perlu mengganti, kan?”

“Sudah kubilang ini konyol,” gumam Minha, lamat-lamat mengintip Yoongi dari sela-sela jemari. “Memang kamu mau membelikanku kopi?”

Pertanyaan itu membuat Yoongi nyaris tersedak, bertanya-tanya apakah gadis di hadapannya ini sedang berpura-pura malu kemudian mengajaknya berkencan. Tapi, imajinasi liar (dan bodoh) itu langsung menguap tepat kala Minha akhirnya menurunkan kedua tangan dan menambahkan:

“M-maksudku… memang kamu mau membelikan sekotak kopi untuk pantri lantai empat?”

“Ah, itu. Well, tadinya aku benar-benar merasa bersalah dan mau—“

.

.

“Wah, apa Min Yoongi baru saja mengajak seorang gadis berkencan? Apa kalian akan pergi menikmati kopi di kafe dekat sini?”

.

.

Entah dari mana konklusi tersebut berasal, yang jelas keduanya sama sekali tak terkejut kala mengetahui bahwa Kim Taehyung-lah pelakunya. Rekan kerja Yoongi di lantai lima itu kini memasang cengiran penuh arti, berganti-ganti menatap Yoongi dan Minha dengan rupa puas.

“Kim Taehyung….”

“Memang siapa yang mau berkencan dengan Min Yoongi?”

Menimpali, Jimin yang baru saja datang memandangi ketiga orang di hadapannya dengan alis terangkat. Netra menatap Minha sedikit lebih lama, sementara ia berusaha menghubungkan titik-titik yang ada. Taehyung berkata bahwa Yoongi baru saja mengajak seorang gadis berkencan. Nah, hanya ada seorang gadis yang berdiri bersama mereka saat ini. Dan gadis itu adalah Park Minha, yang—seperti seisi kantor ketahui—adalah….

“Sejak kapan kau dan adikku berkencan?!!”

Berderap maju, Jimin lekas berdiri di hadapan Minha dengan lengan terentang. Bersikap seolah ia sedang menghalangi Yoongi untuk menatap saudarinya, sementara Yoongi hanya mampu terbengong. Selama sesaat tampak kebingungan, tak mengerti mengapa ia malah terjebak di dalam situasi macam ini.

Dan lagi….

“Sejak kapan adikmu bekerja di kantor yang sama seperti kita?”

Astaga!

Jimin tampak kesal sekarang, sementara Minha malah tergelak. Pun dengan Taehyung yang terpaksa menahan kekeh tawa, selagi Yoongi memasang ekspresi sepolos mungkin dan terpaksa menerima teriakan Jimin yang menggema dan memekakkan telinga.

 .

.

“KAU BAHKAN TIDAK TAHU KALAU DIA INI ADIKKU?! JANGAN HARAP AKU SUDI MENERIMAMU SEBAGAI ADIK IPAR, MIN YOONGI!!

.

.

fin.

ditulis setelah ngobrol kesana-kemari sama Kak Yeni selaku pemilik AU, dalam waktu kurang dari tiga jam.

sudah lama nggak nulis fic yang nggak berseri ataupun chapter, jadi maaf kalau ini kaku apa receh sekali.

review dipersilakan! ❤

 

 

Advertisements

6 thoughts on “[Vignette] Of Magazine Layout, Coffee, and Sudden Date

  1. Pingback: When Chaos Ensues | the fallen petals.

  2. Pingback: [Vignette] It’s Not A Date (Maybe) – BTS Fanfiction Indonesia

  3. Pingback: [Vignette] An Advice to Proper Date – BTS Fanfiction Indonesia

  4. Minha ucul yeth, nutup muka mulu kalo malu wkwk… 😂😂
    Baca ff yg berhubungan sma redaksi gini langsung konek ama eskul di sekolah /plak/ #ganyambung

    Okelah ya, kapan sih Minha-Yoongi ga bikin senyum2 sendiri bacanya /uhuy/ Tiap baca ff mereka meski intinya ga bener2 ngarah ke hal2 yg manis tapi ttp aja fluffy fluffy gt /apaseh tih/
    Btw itu Jim saking marahnya banmal nya langsung keluar ㅋㅋㅋㅋㅋ Yah bang aguS sih dari waktu itu tidur mulu kan ga tau ada cecan adiknya enchim /krik

    Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s