[BTS FF Freelance] DREAM HIGH – (chapter 2)

142b709bfb0bc832

(BTS FF FREELANCE)
Dream High (Chapter 2)

Tittle : Dream High (Chapter 2)
Author : Nagi & April

Main cast :

Jeon Jungkook (BTS)

Park Jimin (BTS)

Song Rae Bi (oc)

Kim Jurim (oc)

Support cast : All Member Got7, Choi Seung Cheol / S.Coups (Seventeen), Irene (Red Velvet), Choi Jun Hong / Zelo (B.A.P), Krystal Jung (F(x)), Koo Jun Hoe (Ikon), Lee Jae Hwan / Ken (Vixx), Hyuna (4Minute), Kim Namjoon / Rap Monster (BTS), Kim Taeyeon (SNSD)

Genre : Romance, Comedy, Friendsip, Drama, AU
Length : Chapter
Rting : 15-lanjut usia

Disclaimer :

Bts punya orang tua mereka, agency dan ARMY tapi cerita dan oc punya author, cerita terinspirasi dari Dream High
atau bisa dibilang Dream High 3 versi author.
Hati – hati dengan typo..
Happy Reading.

Repeat :
Seorang lelaki berjalan keluar dari sebuah Bandara, senyumnya merekah ketika ia melihat sebuah kota yang sudah lama tidak ia diami.
“Seoul, Korea Selatan aku kembali..” gumamnya dengan senang

….

****

Pengumuman menggema diseluruh pelosok sekolah, para murid mendengar bahwa pengumuman itu adalah akan diadakannya sebuah persaingan untuk mencari seorang artis.

Maka kelas akan dioper ulang sesuai bakat mereka.

Sementara seorang lelaki berdiri di kantor guru dengan tenang.

“Park Jimin..” gumam salah satu guru sambil menatap sebuah kertas ditangannya

Lelaki tersebut tersenyum dengan ramah pada guru yang membaca biodatanya serta berkas – berkas lainnya.

“Park Jimin awalnya sekolah di Amerika? Kenapa tiba – tiba pindah?” tanya guru tersebut

“Itu… karena aku sejak kecil disana, aku jadi rindu akan tempat kelahiranku jadi aku pulang kemari dan sekolah disini karena tertarik pada musik.”

Guru yang mendengar perkataan Jimin tersenyum dengan senang

“Kebetulan sekali, semua guru sudah siap ditempat tampil.”

Jimin mengangkat alisnya, ia menatap guru dihadapannya dengan pandangan tidak mengerti sama sekali.

“Begini Jimin-ssi.. karena ada perbaharuan pada siswa jadi kami melakukan sebuah penampilan untuk menentukan kelas atas dan kelas bawah. Karena akan ada kontes mencari idol di sekolah ini.”

Lelaki itu menganggukkan kepalanya, ia sudah menduga jika semua ini akan terjadi padanya.

Beberapa murid yang mendengarkan pengumuman segera pergi menuju tempat yang sudah ditunjukkan oleh para guru.
Begitu pula dengan Jimin, lelaki itu duduk dengan nyaman bersebelahan dengan lelaki yang tidak ia kenal.

Setelah acara pembuka yang berupa salam barulah acaranya dimulai, satu persatu murid dipanggil.

Hingga akhirnya giliwahit menarik napasnya, berjalan naik keatas panggung dengan gerakan kaku dan malu, mungkin karena ini pertama kalinya ia berdiri didepan banyak orang.

“Perkenalkan.. namaku Park Jimin. Aku murid baru disini.” Ucapnya dengan kaku

“Saya akan menyanyikan sebuah lagu, selamat mendengar.”

Para murid agaknya tertawa geli mendengar ucapan Jimin yang terlalu kaku dan tidak wajar untuk dikatakan saat diatas panggung untuk bernyanyi.

(Jung Il Woo – Scarecrow)

“Sonkkeute neoreul neukkyeoboryeo haedo, jakku itnenunda maebeon itneunda manjil sudo eopdangeol..”

          “Mencoba merasakanmu bahkan hingga diujung jari, tapi aku lupa. Aku selalu lupa aku tidak akan menyentuhmu.”

          “Algoinneunji nae mam sogen bang hana, niga saraso daruen nugudo andwae..”

          “Apa kau tau? Kau tinggal didalam ruangan dihatiku. Tidak ada seorangpun bisa”

Para murid berbisik dan menunjuk – nunjuk Jimin yang bernyanyi dengan berusaha tetap tenang.
Mereka bergumam bahwa suara Jimin sangat bagus dan enak didengar.

“Gieokjocha irheo ongimajeo eobseo ijen..”

          “Bahkan aku kehilangan ingatanku, kehangatan menjauh sekarang.”

          “Nan hamballo seo inneun heosuabi~ neo eobsi mam jeoneun seupeun heosuabi~ geochin baram sogeseo jakku heundeullyeo nae momi heuteojindedo, eonjenga niga ondamyeon, nae dupal beollyeo neoreul ango sipeo I will wait for you~”

          “Aku orang – orangan sawah yang berdiri dengan satu kaki, aku orang – orangan sawah yang sedih, hatiku sakit tanpamu dalam angin yang keras terus bergoyang, bahkan jika tubuh saya menyebar jika suatu hari kau kembali padaku, aku ingin membuka tangan dan memelukmu, aku selalu menunggumu~”

Semua murid bersorak mendengar, Jimin tersenyum cerah senang karena mendapatkan sambutan yang baik dari semua orang termasuk juri.
Ia turun dari panggung dengan perasaan senang.

“Jimin-ssi, suaramu sangat indah. Aku suka..”

Jimin tersenyum malu ketika seorang gadis mengatakan seperti itu padanya.

“Aku akan jadi pendukungmu.” Ucapya lagi

Lelaki itu hanya menggaruk tengkuknya dan tersenyum malu sambil berjalan kembali duduk dibangkunya.
Kini nama seorang gadis yang tidak diinginkan yang dipanggil.

Para murid duduk diam dengan memasang wajah ‘ter’ tidak suka pada gadis yang berjalan santai keatas panggung.

Jimin menatap gadis diatas panggung tersebut dengan bingung, perihal penampilan gadis tersebut yang tampak membuatnya seperti hantu kekinian yang menggunakan seragam sekolah.

“Hei cepatlah bernyanyi!” seru para murid

Musik sudah berbunyi sejak tadi, tetapi gadis tersebut tidak bernyanyi, padahal lagu ini sangat mudah, yaitu lagu milik Girls Day – I Miss You.
Semua murid pasti tau lagu itu.

Pluk!

Seorang lelaki melempar sebuah kaleng pada penyok pada gadis diatas panggung, sorakan senang serta hinaan terdengar menggema, apa yang terjadi? para guru pun tampak terlalu lelah untuk menasehati gadis diatas panggung tersebut dan murid – murid yang ingin gadis itu bersuara.

Gadis diatas panggung tersebut masih enggan untuk turun.

“Tidak tau diri. Harus berapa kali kau mempermalukan sekolah kita dengan diam diatas panggung!”

“Iya! Apa perlu kita jejali mulutmu dengan botol dan kaleng ini agar kau bisa bicara?!”

Jimin harus merasa iba melihat gadis yang berdiri diatas panggung dengan tangan terkulai dan mick ditangannya yang bahkan tak sama sekali ia angkat untuk bernyanyi.

“Apa yang gadis itu lakukan?” gumam Jimin

“Jangan difikirkan, gadis itu sudah 10 kali naik keatas panggung dan tidak pernah bernyanyi sama sekali, seakan membiarkan pertunjukkan darinya untuk juri adalah menerima timpukan dari orang – orang.” Ujar seorang lelaki yang duduk disebelah Jimin

Jimin menolehkan kepalanya dengan tatapan bingung.

“Namaku Lee Jaehwan, kau boleh panggil aku Ken. Namamu Park Jimin kan?”

Jimin tersenyum ramah menerima uluran tangan dari Jaehwan atau biasa dipanggil Ken.

“Aku merinding mendengar suaramu, suaramu sangat bagus. Mungkin kau bisa menjadi murid kelas atas.” Ucap Ken

“Ah.. itu bukan apa – apa kok. Suaraku belum tentu lebih bagus dari suaramu.”

Dirasa mereka akan mudah akrab lebih cepat.

“Jangan kau fikirkan soal Rae Bi, dia memang tidak pernah bicara, tidak pernah bernyanyi ataupun menari selama setahun ia sekolah disini.” Ujar Ken pada Jimin

“Jadi gadis itu namanya Rae Bi?” tanya Jimin sambil menunjuk gadis yang sibuk dilempari botol dari bawah panggung

Ken menganggukkan kepalanya.

“Dia memang paling sering dibully atau selalu jadi bahan bully di sekolah ini, bahkan para guru pun lelah harus membelanya. Dia sangat misterius, bahkan aku yakin di sekolah ini pun hanya satu atau dua anak saja yang pernah melihat wajahnya tanpa tertutupi poni.”

Jimin mengalihkan pandangannya menuju panggung, tepatnya pada gadis yang mematung ditempat tanpa bergerak.

“Tampaknya ia gadis yang baik. Seberapa misteriusnya dia?” tanya Jimin

Ken tampak berfikir sejenak, ia mendesis dan menatap Jimin dengan bingung sebelum menjawab pertanyaan.

“Dia tidak pernah bicara, tersenyum, memperlihatkan wajahnya, tidak pernah bernyanyi, menari, dan aku yakin ia belum pernah memiliki seorang kekasih ataupun seorang teman.”

Gadis itu seakan merasa terpanggil, tiba – tiba saja ia menolehkan kepalanya kearah Jimin.
Jimin terbelalak, walaupun matanya yang tertutupi oleh poni tetapi Jimin dapat merasakan bahwa gadis itu menatapnya.

“Hei… ia menatapmu, sepertinya ia tertarik padamu.” Canda Ken sembari menyenggol pundak Jimin

Jimin tersenyum kecut, ia membuang tatapannya untuk menatap kearah lain, yakni kearah seorang lelaki yang duduk diam dengan tatapan mata serius dan dingin.

Kedua tangannya yang ia lipat didepan dada membuatnya terkesan angkuh namun juga terlihat keren dan tampan.

Tapi anehnya dari sekian banyak murid hanya lelaki itu saja yang tidak melakukan apapun.
Lelaki itu tampaknya memperhatikan gadis diatas panggung, dan saat ia merasakan gadis itu menatap Jimin barulah lelaki itu menoleh juga menatap Jimin.

Jimin jadi kaku, ia lagi – lagi membuang muka karena lelaki itu melihatnya dengan tatapan kurang bersahabat.

****

Setelah semuanya selesai Jimin berjalan menuju sebuah kelas yang ramai dengan murid – murid berbagai pribadian dan salah satunya lelaki yang Jimin lihat dipertunjukan, gadis yang dilempari botol dan Ken.

Ken melambaikan tangannya pada Jimin, Jimin tersenyum senang dan memilih duduk didekat Ken dengan bangkunya yang kosong.

“Aku bingung kenapa acaranya cepat sekali?” tanya Jimin

Ken tertawa mendengar pertanyaan aneh dari Jimin seolah – olah ingin melihat acaranya lebih lama.

“Disini tidak hanya murid yang ingin jadi penyanyi atau pembuat lagu atau yang berhubungan dengan musik saja, disini ada jurusan yang berhubungan dengan pelajaran juga,”

“Dan yang ada dikelas ini semuanya adalah anak yang dari jurusan musik.” Jelas Ken dengan panjang lebar

Jimin menganggukkan kepalanya sebagai tanda bahwa ia sudah mengerti.

“Apakah anak musik itu termasuk lelaki itu juga?” ucap Jimin sambil menunjuk lelaki yang ia lihat ke kontes tadi.

Ken menoleh, melihat kearah yang Jimin tunjuk, dan disitu ia melihat Jimin menunjuk Jungkook.

“Oh.. maksudmu Jungkook. Dia itu murid yang paling terkenal disini, mungkin ia bisa jadi sainganmu.. dia itu memiliki suara yang bagus, pandai menari, dan multi talenta.”

Jimin menyipitkan matanya, ia menatap Ken dengan tatapan seolah – olah ingin memberi tau sesuatu.

“Apakah si Jungkook itu.. memiliki hubungan spesial dengan Rae Bi?” tanya Jimin

Ken tersedak, ia membelalakkan matanya saat Jimin mengatakan bahwa Rae Bi dan Jungkook memiliki hubungan spesial atau yang lain – lain.

“Hahaha kurasa kau bercanda.. fans Jungkook selalu ada dimana tempat, selain itu ia pun dirumorkan berpacaran dengan Jurim.”

Kali ini Jimin kehilangan fokus tertutama mendengar nama ‘Jurim’ yang mungkin asing ditelinganya.

“Jurim? Jurim yang mana?”

Ken menunjuk seorang gadis yang duduk dengan wajah masam

“Wajahnya cantik, tapi dia sedikit sombong. Yah.. cocok sekali dengan si Jungkook yang memang sok jago dan memang menyebalkan.”

Jung Songsaengnim dengan pembawaannya yang tegas memasuki ruangan kelas dengan lagak superior yang biasa ia perlihatkan pada muridnya

“Jeon Jungkook, kau dipanggil ke kantor.” Ujarnya acuh tak acuh

Jungkook tampak tidak terkejut dan tidak merasakan apapun, ia berdiri dengan tenang dan berjalan mengikuti Jung Songsaengnim ke kantor.

Sesampainya di kantor ia melihat seorang lelaki yang kemarin ia pukul di Kantin sekolah sedang mengucapkan kata – kata yang membuktikan jika Jungkook memukulnya.

Tak lupa pula lelaki itu menunjukkan wajahnya yang memerah dan lebam karena pukulan kemarin.

“Nah, Jungkook masuklah.” Park Songsaengnim memanggil Jungkook yang berdiri didepan pintu

Lelaki itu sontak berhenti bicara dan mengakhirinya dengan deheman keras.
Jungkook masuk dengan santai dan duduk tepat disamping lelaki tersebut.

“Jungkook-ssi, kau adalah murid dengan popularitas paling tinggi di sekolah, serta kau menjadi sorot perhatian para murid, tapi kenapa kau memukul orang di kantin?” tanya Park Songsaengnim

Jungkook memandang Park Songsaengnim dengan pandangan dingin seperti biasa.

“Aku bukan sampah.” Ujarnya dengan dingin

“Tapi peraturan tetaplah peraturan.”

Jungkook terkekeh pelan
“Aku tidak peduli jika melanggar aturan, dia sudah membuat seragamku kotor dan ia mengataiku sampah.”

Jungkook menatap dengan tajam lelaki yang duduk disebelahnya, ia benar – benar kesal sekarang.

“Jungkook-ssi, peraturan sekolah tetap harus kau patuhi seberapa beratnya peraturan itu. Jadi.. untuk hukumanmu kau bisa lakukan di Perpustakaan. Bersihkan perpustakaan.”

Jungkook mendengus
“Setelah ini selesai aku akan meremukkan tulangmu.” Ujarnya dengan dingin pada lelaki disebelahnya

Tanpa basa – basi ataupun salam penghormatan Jungkook berlalu dari kantor guru untuk mulai menjalankan hukuamnnya.

****

Membersihkan Perpustakaan tampaknya membuat Jungkook merasa tidak suka, tetapi saat ia melihat Rae Bi berjalan masuk kedalam Perpustakaan dengan sebuah buku bersampulkan biru bergambar kupu – kupu tampak membuatnya sedikit lebih bersemangat.

Gadis itu berjalan dengan santai dan duduk ditempat biasa, dengan kedua obsidian hitamnya Jungkook menatap gadis tersebut dan tak fokus pada kegiatan menyapunya.

Mengingat seberkas memori lama yang belum rusak dalam fikirannya, mengingat seorang gadis yang 5 tahun lalu menjadi sangat berarti baginya.
Gadis yang secerah matahari dan seindah bunga, seakan ia mampu menggenggam dunia dalam telapak tangannya.

Seorang gadis yang mampu membuat Jungkook merasa bahagia, meskipun gadis itu kini tidak menjadi sosok yang dulu lagi tetapi masih terasa, perasaan kasih sayang yang tidak dapat dihapus.

Gadis disana, adalah orang yang ia cintai dan yang ia tinggalkan 5 tahun lalu, gadis berwajah manis yang pantas mendapatkan cinta dari banyak orang berubah ketika semua orang meninggalkannya.

Tanpa ragu Jungkook mendekat kearahnya.

“Rae Bi-ya.” Panggilnya

Gadis yang sedang sibuk menulis sesuatu kini menoleh kearahnya.
Masih sama.. tatapan kosong tanpa perasaan dan hati terpasang dimatanya dan melukiskan wajahnya.

“Katakan sesuatu.” Pinta Jungkook

“Pergilah, selesaikan tugasmu.” Gumam Rae Bi

Ia menutup bukunya, ia menyimpan pena miliknya, mungkinkah ia berniat meninggalkan Jungkook.
Rae Bi berdiri dari duduknya, berjalan melewati Jungkook dengan begitu mudah.

“Jangan pergi! Duduklah lagi.. aku ingin kita bicara seperti dulu lagi. Kau sudah berubah Rae Bi-ya, kau… mencampakkanku.” Ucap Jungkook

Kaki Rae Bi seakan terikat, ia berhenti berjalan.

“Kau masih mengingat masa lalu? Ketahuilah jika kau masih mengingat masa lalu maka kau tidak dapat melihat masa depan. Jangan kau ingat lagi.. kau yang mencampakkanku, tepat 5 tahun yang lalu.”

Jungkook terdiam, entah mengapa ingatannya yang masih sangat bagus membawanya kembali pada saat – saat dimana ia meninggalkan Rae Bi, tepat 2 hari sebelum orang tua Rae Bi meninggal dunia.

Tepat 2 tahun setelah Jimin pergi.

Rae Bi adalah gadis yang ditinggalkan oleh banyak orang, dan semua itu akan membuatnya merasa sakit hingga merubah gadis secerah matahari kini berubah menjadi kabut bagai embun pagi.

“Rae Bi-ya, kau masih membenciku?” tanya Jungkook

Rae Bi menundukkan kepalanya

“Bukankah kau harusnya sudah tau? Aku benci semua yang ada pada hidupku termasuk diriku sendiri.”

“Kumohon Rae Bi-ya, kembalilah jadi dirimu yang dulu.” suara Jungkook mulai terdengar pelan ditelinga Rae Bi

“Apa kau ingin aku kembali seperti dulu agar kau bisa meninggalkanku lagi? Kurasa kau bukan orang yang bisa merangkai kata dengan baik.” Jawab Rae Bi

“Aku meninggalkanmu bukan berarti aku tidak mencintaimu lagi.” Ucap Jungook

Rae Bi mengangkat kepalanya, ia menatap Jungkook dengan sedikit berekspresi dari yang biasanya.

“Kalau begitu buang semua rasa cintamu itu.”

Kedua mata Jungkook terbelalak, tidak percaya dengan apa yang ia dengar dari sosok gadis yang amat berarti baginya.

Rae Bi yang sudah melangkah keluar dari dalam Perpustakaan membuat Jungkook semakin tidak terkendali.
Diluar sana Rae Bi melihat orang – orang yang memenuhi lokernya lagi dengan sampah, padahal baru pagi ini Rae Bi membersihkannya.

Dan ia pun melihat mereka menginjak – injak semua barang – barang miliknya.

“Song Rae Bi.”

Brak!

Kini seragam Rae Bi menjadi kotor ketika mereka melempar sebungkus tepung dengan air dan telur kearahnya.
Rae Bi membisu, ia sama sekali tidak bergerak ketika mereka menertawakannya.

“Hei, kuramalkan bahwa kau nantinya akan terpuruk dikelas bawah.” Ucap salah satu murid

“Ya, gadis sampah. Kalau kau tidak mau bernyanyi sekarang juga maka kau akan tau apa akibatnya.”

Jimin berjalan dengan santai dengan roti ditangannya, mulutnya yang masih penuh terasa mual ketika ia melihat Rae Bi yang mengeluarkan bau amis menyengat.

Tak disangka Jimin tersedak, ia terkejut melihat gadis itu masih dibully dibawah panggung.
Jimin ingin menghampiri keramaian tersebut, ia merasa kasihan melihat Rae Bi yang diperlakukan dengan tidak adil.

“Ya, apa yang kalian lakukan, kalian bisa melukainya.” Ujar Jimin pada mereka sambil menarik Rae Bi kebelakang punggungnya

Ken yang baru keluar dari kelas melihat Jimin melindungi Rae Bi, buru – buru Ken berlari dan menarik Jimin menjauh dari khalayak ramai.

“Apa yang kau lakukan!”

Lelaki yang memiliki sifat periang tersebut tampak kurang baik dengan apa yang Jimin lakukan barusan.

“Kau ini bagaimana, dia akan terluka tapi kenapa kau tidak menolongnya.” Jawab Jimin dengan suara meninggi

“Itu bukan urusanmu, karena jika kau ikut dalam kehidupannya juga nanti kau akan beranasib sama seperti dia.”

Jimin bergidik ngeri, ia menatap Rae Bi yang masih jadi bahan tontonan dan tawaan banyak murid, dan disitu pula atau lebih tepatnya didepan Perpustakaan Jimin dapat melihat seorang lelaki yang berdiri disana dan menatapnya dengan tidak suka.

TBC

Advertisements

One thought on “[BTS FF Freelance] DREAM HIGH – (chapter 2)

  1. Fanny

    Wah, mereka terlalu jahat pada rae Bi… aku yakin pasti diluar penampilannya yang wajahnya tertutup poni itu dia pasti punya talenta yang hebat.. fighting!!

    Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s