[Chapter 9] The Silver Age of Virgo: Prophecy

virgo-new
the Silver Age of Virgo

written by tsukiyamarisa

.

BTS’ Jin as Killian, Jimin as Alven, Suga as Fyre, iKON’s Jinhwan as Axel

and

OC’s Aleta, Rhea, Icy

Chaptered | Fantasy, Wizard!AU, Life, Friendship, Family, slight!Fluff | 15

.

previousIntro | #1: Obscured | #2: Presence | #3: Unidentified | #4: Face to Face | #5: After Effect | #6: Impulsive | #7: Unspoken | #8: Spica and Auva

.

.

.

#9: PROPHECY

.

“Lingkaran sihir ini memang berubah,” ujar Killian, suaranya terdengar tegang. “Dan aku baru sadar kalau perubahan pada posisi Auva… bukanlah satu-satunya perubahan yang terjadi.”

.

 

“Killian?”

“Beri aku waktu.”

Tak seorang pun dari anggota Virgo yang mengerti maksud di balik perkataan Killian, pun sempat untuk bertanya lantaran sang pemimpin sudah keburu berderap pergi. Meninggalkan lima orang lainnya dalam kebingungan, manik sama-sama bergulir ke arah lingkaran sihir yang masih bersinar di tempat Alven berpijak. Namun, kendati mereka sudah mengamati lingkaran keemasan itu lekat-lekat, mereka tetap tak bisa menemukan perubahan lain yang dimaksudkan oleh Killian tadi.

“Jadi, perubahan macam apa yang—“

“Tiga puluh menit!” seru Killian dari dalam kamarnya, tempat ia berada sekarang. “Tiga puluh menit, dan aku akan menjelaskannya pada kalian. Aku hanya perlu memastikan kalau dugaanku  benar!”

Axel, yang perkataannya sempat dipotong oleh Killian tadi, hanya mengangkat bahu. Netra memandang keempat kawannya yang kemudian meniru gerakannya, tahu bahwa mereka hanya bisa diam dan menunggu saat ini. Tidak ada yang bisa menebak pikiran Killian, pun memperkirakan apa kiranya yang akan terjadi setelah ini.

“Aku benci jika dia seperti itu,” gerutu Rhea, melipat kedua lengannya. “Hei, Killian! Apa pun yang tengah kamu lakukan sekarang, awas saja kalau kamu tidak menghasilkan informasi yang berguna!”

Seruan itu cukup keras, namun Killian memilih untuk mengabaikannya. Fokus lelaki itu tertuju pada tempat tidurnya yang kosong, tempat di mana ia pernah terbangun setelah mendapatkan sebuah mimpi ramalan yang buruk. Suatu kejadian yang sebenarnya ingin Killian lupakan, sampai sepenggal dari kisah Alven tadi menyadarkannya akan sesuatu.

Tak ada ramalan yang sia-sia.

Seharusnya Killian ingat itu; bahwa mimpi dan ramalan yang hadir ke benak seseorang dengan kekuatan sepertinya akan selalu memiliki makna. Termasuk mimpi malam itu, yang ia dapatkan tepat beberapa saat sebelum Icy menghilang. Mimpi yang sesungguhnya tak pernah pergi, yang terus terulang selama hari-hari pasca hilangnya separuh anggota Virgo.

Menarik napas dalam, sang lelaki pun mengulurkan tangannya. Membiarkan pendar kekuatannya muncul, menghadirkan kupu-kupu kebiruan itu tepat di depan matanya. Killian bermaksud untuk melihat ramalan itu sekali lagi. Dan kali ini, ia akan melakukannya tanpa rasa takut maupun sesal. Bagaimanapun juga, apa yang akan hadir ke dalam benaknya bukanlah sebuah mimpi buruk semata.

Ada petunjuk yang tersembunyi di sana.

Dan untuk itu…

“Tolong bantu aku. Perlihatkan mimpi itu padaku, sekali lagi.”

…ia pun membiarkan kelopaknya terpejam sementara sang kupu-kupu pembawa ramalan hinggap di bahunya.

.

.

.

Killian hanya bisa bergeming, berdiri tegap di tengah lingkaran sihirnya yang berpendar.

Ia seakan mengambang di tengah ketiadaan, dikelilingi oleh kegelapan yang tak berujung. Suasana teramat sunyi, tanpa petunjuk maupun penjelasan yang hadir. Namun, alih-alih takut, Killian memutuskan untuk menunggu. Sang pemimpin konstelasi Virgo itu hanya menatap simbol Alaraph yang ada di lingkaran sihirnya, memandang bagaimana cahaya keemasan menyala di sana. Masih terang seperti biasanya, dan….

Berputarlah, Killian.

Menurut, Killian pun membalikkan badannya perlahan. Manik bergulir pada simbol-simbol yang lain, kemudian lekas terkesiap tatkala menyadari bahwa Auva, Heze, dan Porrima tidak lagi bercahaya. Ketiga bintang itu redup, tidak bersemangat maupun memercikkan tanda-tanda eksistensinya. Seolah memberi Killian pertanda bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi.

Sesuatu yang buruk memang telah terjadi.

Alam sadar Killian mulai mengambil alih, memberinya kesempatan untuk menangkap setiap detail yang ada dengan lebih jelas. Menundukkan kepala, iris Killian sekarang bergulir pada bagian terluar dari lingkaran sihir. Pada baris tempat simbol setiap konstelasi ditorehkan, baris yang menunjukkan dua belas konstelasi utama di angkasa sana. Sang Alaraph mengamati satu-persatu simbol dengan teliti, menggumamkan tiap namanya sampai ia tiba di satu tempat yang kosong.

Terletak di antara Scorpio dan Sagittarius, ruang kosong itu seolah balik menatapnya. Begitu kentara, seakan tengah mengejek Killian yang selama ini melewatkannya. Inilah perubahan yang tengah Killian cari, sesuatu yang baru ia sadari kala lingkaran sihir milik Alven muncul tadi. Memang tidak akan terlihat jika hanya dipandang sekilas; tetapi bagi Killian, perubahan pada ukuran lingkaran yang ada itu kini tampak jelas di kedua matanya.

Lingkaran ini bertambah besar, begitu batin Killian berkata, seraya ia menyadari penyebabnya. Ruang kosong itu hanya dapat berarti satu hal. Ada perubahan dalam jumlah konstelasi….

Killian memejamkan matanya sekarang, kemudian membuka sepasang kelopak itu tepat kala seberkas sinar keemasan muncul di ruang kosong yang ada. Seakan membenarkan, seolah memutuskan bahwa Killian berhak tahu lebih banyak. Menahan napas, sang lelaki kini memberanikan dirinya untuk berlutut dan mengamati lebih dekat. Ujung telunjuk terarah pada cahaya yang ada, mengikuti goresan simbol baru yang tercipta. Keningnya berkerut dalam, selagi ia mengamati garis bergelombang yang mulai terbentuk di sana.

dan aku benar.

Simbol itu tampak jelas sekarang, terbentuk sempurna sementara cahayanya mulai pudar. Simbol yang—Killian bisa ingat dengan jelas kini—sempat ia lihat saat dirinya sengaja memutar balik waktu kala itu. Ya, kedua simbol itu memiliki bentuk yang sama. Simbol yang sejujurnya masih tak bisa Killian kenali, kendati sekarang ia memiliki sedikit petunjuk mengenai nama dan makna di balik tiap goresan.

Karena jikalau simbol itu memilih untuk menyelusup di antara konstelasi-konstelasi yang sudah ada, maka jawabannya hanya satu.

Si konstelasi terbuang rupanya telah memilih untuk merebut haknya kembali.

.

-o-

.

“Aku tidak menyadarinya, tidak dengan semua kekacauan yang ada.”

Setengah jam lebih lima menit, dan Killian melangkah keluar dari kamarnya dengan sorot berapi-api. Sebelah tangan membawa sebuah buku yang tampak kuno, selagi ia berjalan mondar-mandir hingga membuat kawan-kawannya kebingungan. Namun, Killian tak peduli. Ia hanya sedang berusaha menepati janjinya: menjelaskan semua yang baru saja ia ketahui kepada lima orang lainnya.

“Killian—“

“Bukan bermaksud menyalahkan, Aleta,” potong Killian, diikuti dengan kedikan kepala ke arah Alven dan Rhea. “Aku juga tidak menyalahkan kalian berdua. Waktu itu kita panik, dan sudah pasti kalian akan menyambar semua kesempatan untuk menolong Fyre dan Axel. Selain itu, aku tidak mau mendengar perdebatan yang lain malam ini, jadi tolong izinkan aku berbicara.”

“Kami mendengarkan,” ucap Axel langsung, meletakkan sebelah tangan di bahu Rhea agar gadis itu tak terpancing emosinya. “Apa yang kautemukan?”

“Ingat waktu aku memutuskan untuk kembali ke masa lalu? Ke malam penculikan Icy? Waktu itu, aku melihat sebuah simbol yang tidak kukenali. Simbol yang benar-benar asing, sampai-sampai aku terlalu terpaku dan tidak menyadari keanehan yang lain.”

“Keanehan seperti apa?”

“Pertanyaan yang bagus sekali, Alven.” Killian mengangguk, menunjukkan tanda terima kasihnya. “Pertama—dan aku baru menyadari ini saat mendengar cerita Alven—ada perubahan lain pada lingkaran sihir kita. Perubahan kecil yang selama ini tidak kita sadari, karena kita terlalu berfokus pada cahaya yang dimiliki simbol para Virgo.”

Yang lain memilih bungkam, menanti Killian untuk melanjutkan lebih dulu.

“Kedua, seperti yang sudah kusebutkan tadi, aku sempat tidak menyadari keanehan yang ada.” Satu helaan napas sebagai jeda, tanda bahwa sang pemimpin sedang menyesali kecerobohannya. “Pada saat aku memutar balik waktu, aku sama sekali tidak sadar bahwa lawan kita ini memiliki lingkaran sihir yang nyaris serupa dengan milik kita. Aku baru menyadarinya beberapa menit yang lalu, saat aku melihat ulang sebuah mimpi ramalan yang sudah menghantuiku belakangan ini.”

“Intinya?”

“Intinya, ada simbol baru yang muncul. Tapi, Killian sempat menyangka bahwa simbol itu terukir di dalam lingkaran sihir yang lain, lingkaran yang tak ada mirip-miripnya dengan milik kita. Dan ia….” Alven melirik Killian, memastikan bahwa ia sudah membuat konklusi yang tepat sebelum melanjutkan, “…baru menyadari hal itu beberapa menit yang lalu.”

“Aku harus mengakui bahwa aku bersalah.” Killian akhirnya mendudukkan diri, meletakkan buku yang ia bawa ke atas pangkuannya seraya melanjutkan, “Ini hal mendasar, tapi kurasa kalian semua tahu soal sejarah lingkaran sihir milik kita, bukan?”

Fyre-lah yang pertama mengiakan, mengeluarkan jawaban sebelum yang lain sempat berbicara.

“Lingkaran kita menggambarkan dua belas konstelasi utama di langit,” ucap sang lelaki, jemari saling bertautan sembari ia menceritakan ulang kisah kuno tersebut. “Menurut apa yang kubaca, lingkaran sihir ini kita dapatkan karena kita memakai kekuatan bintang-bintang Virgo. Di bagian dalam lingkaran, kita memang bisa melihat simbol untuk setiap bintang Virgo—Spica, Alaraph, Porrima, Videmiatrix, Auva, dan Heze. Namun, di bagian terluar, simbol-simbol dari kedua belas konstelasi juga tercantum. Sederhana saja, karena sihir kita berasal dari bintang-bintang.

“Namun, lingkaran ini bukanlah satu-satunya jenis lingkaran. Ada orang-orang lain, manusia yang juga berbakat seperti kita, tetapi mendapat anugerah serta kekuatan dari sumber yang lain pula. Mereka yang berada di bawah naungan bulan, matahari, atau apa pun yang memungkinkan. Dan bagi mereka… well, mereka tidak akan memiliki simbol kedua belas konstelasi pada lingkaran sihir mereka. Di sanalah Killian melakukan kesalahan.”

“Aku tidak akan menyangkal,” sahut Killian, sementara atensi keempat orang yang lain berpindah pada dirinya. “Awalnya, ketika melihat simbol yang asing itu, aku berpikir bahwa sang musuh pastilah mendapatkan kekuatannya dari sumber yang tak terduga. Dunia bawah atau kegelapan adalah tebakanku pada mulanya, sehingga wajar jika aku mengira bahwa lawan kita pasti memiliki lingkaran sihir yang berbeda.”

“Jadi…” Rhea kini angkat suara, mengetuk-ngetuk dagu dengan telunjuk sembari ia mencerna penjelasan yang baru diberikan. “…kalian hendak mengatakan bahwa musuh kita ini mendapatkan kekuatan dari bintang-bintang? Sama seperti kita?”

“Dan memiliki lingkaran yang nyaris sama pula,” imbuh Axel, tangan terkepal kala ia sepenuhnya memahami arah pembicaraan ini. “Baiklah, kalau begitu, konstelasi mana yang memutuskan untuk membuat onar dengan kita?”

“Sayangnya, bukan kesebelas konstelasi lainlah pelakunya,” sahut sang Alaraph, selagi lengannya terulur untuk meletakkan buku yang ia bawa ke atas meja. “Simbol baru yang tak kita kenal, semua perubahan yang ada… menurut kalian, apa artinya itu?”

Senyap menyapa seraya lima pasang netra yang lain tertuju pada buku bersampul cokelat kemerahan tersebut. Buku yang memuat sejarah serta kisah bintang-bintang, buku yang mencantumkan semua penjelasan Fyre tadi dalam versi jauh lebih terinci. Killian-lah yang dulu menemukan buku itu di gudang rumahnya, lantas menjadikannya sebuah pedoman untuk mencari anggota Virgo lainnya. Buku itulah yang menjadi benang merah sekaligus awal mula dari takdir mereka semua, dan kini….

“Ada sebuah kisah yang tertulis di buku ini,” ucap Killian dengan nada rendah, tangannya membuka halaman yang dimaksud agar kawan-kawannya bisa melihat. “Dan menurutku, kisah itu adalah awal mula dari semua kekacauan ini.”

“Killian….”

“Bacalah,” perintah sang lelaki langsung, sementara ia bangkit berdiri dan menggerakkan tungkai menuju kamarnya. “Beritahu aku kalau kalian sudah selesai, oke?”

“Tapi—“

“Kita tak bisa membuang waktu.” Killian bergumam, tak menerima argumen barang sedikit pun. “Karena kurasa, sudah saatnya aku memikirkan cara untuk membawa Icy kembali.”

.

-o-

.

Icy.

Sesuai dengan namanya, Killian ingat benar bagaimana kisah pertemuan pertama mereka terajut. Icy yang seperti es, yang waktu itu duduk sendirian di taman seraya memutar-mutar telunjuknya yang terarah ke langit. Membuat hujan salju turun, menari-nari dengan indah bagaikan konfeti yang berjatuhan. Dialah sang gadis Porrima, yang menurut buku kuno di tangan Killian, memiliki posisi yang cukup dekat dengannya di dalam konstelasi.

“Indah sekali, Nona.”

Sang gadis bersurai panjang nyaris saja terlonjak kaget kala itu, sampai Killian mengulurkan tangan dan menciptakan titik-titik cahaya keemasan. Membuat ilusi layaknya ada puluhan kunang-kunang yang tengah bertebaran, berpadu dengan butir-butir salju yang seputih kapas. Killian sama sekali tak ragu untuk menunjukkan sihirnya di hadapan Icy, tidak karena ia tahu bahwa gadis itu adalah orang yang dicarinya.

“Namaku Killian. Maaf jika aku mengejutkanmu, Nona—“

“Icy,” potong sang gadis, melirik Killian sekilas sebelum membuang muka. “Jangan panggil dengan sebutan ‘Nona’.”

“Icy,” ulang Killian, membiarkan nama itu meluncur seraya ia tersenyum lebar. “Sebelumnya, aku ingin minta maaf. Maaf kalau aku lancang—“

“Karena sudah bergabung tanpa permisi?”

“Karena sebenarnya, aku sudah mengikuti dirimu selama dua minggu terakhir.”

Tatap datar Killian dapatkan selama beberapa sekon berikutnya, selagi sang lelaki menggaruk tengkuk dan berusaha memasang cengiran. Bingung apakah ia harus menjelaskan alasan di balik perbuatannya lebih dulu, atau malah menunggu sampai Icy merespons. Bagaimanapun juga, ia kan tidak bermaksud jahat. Killian hanya ingin—

 

“Ouch!”

 

Menyuarakan keterkejutannya, lamunan Killian terpotong kala sebuah bola salju menghantam tengkuknya. Sontak membuat ia menoleh, hanya untuk mendapati lemparan-lemparan bola salju lainnya yang tak kunjung berhenti. Namun, menilik dari fakta bahwa tak seorang pun tengah berdiri di sana….

“Icy, hentikan! Hei, hei, aku tidak bermaksud buruk, oke? Aku hanya… hanya mau memastikan bahwa kita ini berada dalam satu konstelasi! Dan eum, mungkin kita bisa jadi teman?”

Serangan dari Icy seketika berhenti, sementara sang gadis menyipitkan matanya. Separuh tertarik dengan kata-kata Killian, tetapi juga masih menimbang-nimbang apa yang harus ia perbuat berikutnya. Butuh waktu sekitar satu menit sampai gadis itu akhirnya mengembuskan napas panjang, sebelah tangan masih memancarkan sihirnya untuk membentuk pusaran salju mini seraya ia berkemam, “Ceritakan. Tapi, kalau kamu sampai berani macam-macam….”

Icy tak melanjutkan ancamannya, namun Killian tahu benar apa yang mampu dilakukan gadis itu kepadanya. Icy si bintang Porrima, si gadis yang sudah ditakdirkan memiliki kekuatan yang dapat dibilang menakjubkan. Maka, seraya membuka buku kuno di tangannya, Killian pun menyodorkan gambar-gambar konstelasi yang ada di sana.

Ia menjelaskan, ia bercerita, ia menyuarakan niatannya untuk mencari anggota Virgo lainnya. Pertemuan Killian dengan Icy pada hari itu menjadi sesuatu yang berlanjut, semakin lama dengan intensitas yang semakin sering dan keakraban yang makin kentara. Sang gadis bersurai sepunggung itu memang kadang galak dan tak mudah memasang senyum, pun dengan perangainya yang cenderung tak menyukai hal-hal picisan seperti gadis kebanyakan. Kendati begitu, setelah sekian tahun mengenal, Killian pun mendapati bahwa dirinya sama sekali tak berkeberatan dengan hal tersebut.

Sebaliknya, ia malah menyukainya.

Ia suka menggoda Icy, membuatnya mengomel tak perlu dengan pipi sedikit memerah. Ia suka memberikan kejutan secara tiba-tiba, membelikan gadis itu jus stroberi dingin favoritnya atau sekadar membuatkan kukis cokelat-vanilla. Ia suka mengamatinya membaca, duduk bergelung di atas sofa sementara dirinya menyampirkan selimut di pundak sang gadis dan tak mendapat omelan. Membuat Icy senang atau meluluhkan hatinya memang bukan perkara mudah, sehingga terkadang Killian ingin sekali bersikap sombong dan menyatakan bahwa hanya ia saja yang bisa melakukannya.

Tanpa ia ketahui, bahwa kenyataan tak berjalan semudah harapannya.

.

.

.

“Apa yang harus kulakukan?”

Duduk di atas kasurnya seraya mengaitkan kedua tangan, Killian pun mulai berpikir. Mengingat bagaimana cara Aleta dan Rhea mengembalikan kesadaran Fyre dan Axel, memahami bahwa hanya perasaan tuluslah yang dapat melakukan semua itu. Well, bagi Aleta atau Rhea, mungkin perasaan macam itu bukanlah sesuatu yang asing. Killian tahu betapa dekatnya Rhea dan Axel, pun ia telah mendengar kisah masa lalu sang Spica dan Auva. Namun, bagi dirinya dan Icy….

“Bagaimana caraku membawamu kembali, Icy?”

Memejamkan mata, Killian lantas teringat perkataan Aleta beberapa bulan lalu. Bagaimana gadis itu tahu-tahu menyuruhnya untuk menyatakan perasaan pada Icy, disertai dengan jungkitan alis dan sebuah pernyataan, “Kamu suka dengan Icy, kan? Kenapa tidak bilang langsung padanya?”

Jawaban Killian waktu itu adalah gelengan cepat, tatap bergerak was-was untuk memastikan Icy sedang tidak berada di dekat mereka sebelum ia bergumam, “Aku tidak merasa perlu melakukan itu. Maksudku… kami toh memang dekat dan diam-diam sudah tahu soal perasaan satu sama lain. Begini saja sudah nyaman, kok.”

Namun, benarkah itu?

Benarkah kalau ia bisa melunakkan hati Icy semudah itu, melunturkan entah sihir jahat macam apa yang digunakan sang lawan? Dihadapkan dengan ketidakpastian, Killian merasa bahwa apa yang ia miliki saat ini tidaklah cukup. Kalau Axel saja nyaris membuat kerusakan yang fatal kemarin, bagaimana dengan Icy nanti? Bagaimana jika Killian tidak akan pernah bisa membawanya kembali?

Bagaimana cara ia menyelamatkan sang gadis tanpa melukainya barang sedikit pun?

Killian bukannya tak punya solusi. Hanya saja, rencana yang diam-diam telah ia susun di dalam benak sejak beberapa hari lalu adalah sesuatu yang kalau bisa tak ingin ia lakukan. Risikonya terlampau besar, terlalu banyak yang harus dikorbankan untuk itu. Terlebih untuk Icy, untuk gadis yang selama ini telah ia anggap lebih dari sekadar kawan dan keluarga, mana mungkin Killian melakukannya?

Tapi, pilihan apa lagi yang ia punya?

Jalan macam apa lagi yang bisa ia tempuh?

Karena seandainya ia gagal menarik kesadaran Icy untuk kembali lewat kata-kata dan perasaan tulus, maka rencananya itu akan menjadi sesuatu yang harus ia—

Tunggu sebentar.

Menghentikan proses berpikirnya, Killian menoleh untuk menatap bingkai foto yang terletak di atas nakas. Manik dengan cepat tertuju pada figur Icy yang sedang tersenyum simpul, ditemani oleh butir-butir salju sementara Killian bertugas sebagai tukang foto. Ada sesuatu yang menarik atensi Killian di dalam foto itu, bandul berupa kepingan bunga es yang tergantung di leher Icy. Itu adalah benda favorit sang gadis, sesuatu yang mendadak muncul di dalam benak Killian sementara sebuah rencana lain mulai tersusun perlahan.

“Kalau aku memang harus membahayakan dirimu, maka mungkin aku juga harus berkorban, bukan?”

Killian berucap dalam bisikan, dengan sigap kembali bangkit dan memusatkan konsentrasinya. Biarkan lingkaran sihir untuk muncul di bawah kakinya, kening berkerut seraya ia berjuang untuk mengerahkan energinya dan kembali memutar balik waktu. Ia tak punya waktu untuk merasa ragu, ia harus melakukan ini sebelum segalanya terlambat.

Ini memang bukan rencana yang mudah.

Namun, demi Porrima yang harus tetap bersinar terang….

.

.

.

“Kamu tak perlu khawatir, Icy. Aku pasti bisa melakukan ini untukmu.”

.

.

tbc.

[!!!] untuk semua readers Virgo

Mulai dari chapter depan (chapter 10) sampai tamat nanti, TSAoV akan di-protect. Bagi yang butuh password, syaratnya adalah:

(1) minimal ada tiga komentar di tiga chapter terakhir yang sudah di-post (termasuk chapter ini)

(2) komentar isinya bermutu (alias bukan semata-mata demi password saja)

Mengingat ini udah mau selesai, mohon bantuan feedback-nya semisal ada pertanyaan yang belum terjawab atau ada petunjuk-petunjuk (?) yang dirasa kurang di dalam cerita, ya!

Password bisa didapat via twitter (@tsuki016) atau via e-mail (minhapark016@gmail.com). Jangan lupa sebutkan username kalian saat komentar, dan nanti password akan langsung diberikan. Oh, dan bagi yang sudah dapat password, mohon jangan disebar + diharap feedback di chapter berikut karena password tiap chapter akan berbeda.

Okay, see you soon, then!

Advertisements

13 thoughts on “[Chapter 9] The Silver Age of Virgo: Prophecy

  1. Hyungiee

    Aku hanya bisa berkata
    “WOW…Jin disini terlihat keren syeekkallee,”
    Terus entah kenapa aku curiga dalang di balik semua ini itu Woozi yg hidup kembali?/
    Haha cuma perspektif sih…

    Omong-omong… ini keren sekali kak! Hwaiting pokoknya!! 😄

    Like

  2. Anisa A

    Akhirnya, Killian beraksi..!!! *tepuktangandipojokanbarengIcy* 😂👏

    Ah, kalo kenapa” ntar ada Icy yang selamatin Killian kan? Mungkin bisa jadi kalo Killian kenapa” ntar nya Ici bakal ngelakuin hal yg sama kaya si Axel di kisseu sama Rhea *eh
    *kaburr*

    Fighting Author-nim!!

    ps. penasaran banget gimana cara Killian nyelamatin Icy

    Like

  3. Fadhilah Septi

    Ophiuchus?? Bner gk itu si biang onar?? Soal.na prnah bca rasi bintang skrg nmbah jd 13 n naahhh- bca ini jd keingeet.. huuaaa
    Klau sblm.na aleta n rhea yg jinakin axel n fyre… aq mkin gk ykin ma icy.. d hitung n d lht jg hbungan mrka yg gk trlalu dlm…
    Ntar bkan cma d timpuk bola salju, yg da killian d timpuk gunung salju!!!!

    Like

  4. Wiiii itu jadinya Killian mau ngelakuin hal yang sama seperti Rhea dan Aleta? Ya beda sih secara gender(?) Aleta dan Rhea kan cewek sedangkan Killian cowok, pasti Killian harus berfikir juga supaya bisa nyelamatin Icy.
    Jadi, intinya, ini musuhnya sudah sedikit demi sedikit terdeteksi kalau dia adalah bagian dari konstelasi(?) bisa tolong dijelaskan padaku kak amer karena dibagian Killian menjelaskan isi buku kuno itu aku agak kurang paham. XD

    Yah, jadi ini selanjutnya di password? Aku sudah setia menunggu dari awal chp dan selalu feedback disetiap chpnya kak amer XD semangat untuk kelanjutan chpnya kak amer, perkiraan sampe chp 13 kan? Semangatttt! XD

    Like

    1. ((((beda secara gender)))) tolong aku ketawa dulu pas baca ini XD
      yep, musuhnya sudah mulai bisa terdeteksi, yeay!

      duh bingung ya… aku juga bingung pas nulis ((dilempar))
      jadi intinya sih, kan konstelasi itu ada banyak… nah musuhnya ini juga punya konstelasi sendiri tapi bukan berarti dia anggota Virgo. dan setiap orang yg kekuatannya dari bintang-bintang tuh punya lingkaran sihir yg hampir sama gituu… jadi si musuh sama para Virgo ini lingkarannya serupa tapi tak sama (?)
      eumm kalo masih bingung besok aku buat special section lagi deh jelasin buku kunonya /disapu/

      yep sampe chapter 13 nih kalau nggak ada niat nambah2 ((krik))
      anyway makasih atas kesetiaannya (?) ya jihyeooon ❤

      Liked by 1 person

  5. ErucChi

    Berapa chapter lagi ini kak mer, ga kerasa uda mau akhir2an

    Btw aku ngikutin cerita ini udah dr awal release n selalu nungguin apdetannya. Tp bingung mau komen gimana, ga tau ga bgusnya dari mana. *maapin

    Semangatin Killian n anak2 Virgo aja lah. Yey

    Like

  6. Dari jumat aku bolak-balik mulu ke sini buat ngecek TSAoV udah update apa blum, dan akhirnya kyaaaa…..
    Aku seneng bgt Killian akhirnya dpt part yg banyak. Killian lgi2 mau balik ke masa lalu yaa buat nyelametin Icy, pasti nguras energi bgt kan ya ituu.

    Suka bgt baca part Killian sama Icy waktu pertama kali interaksi, salju sama titik2 cahaya yg mereka bikin bener2 romantis ngebayanginnya, hehe

    semoga Killian bisa cepet2 bawa Icy pulang, asli aku deg2an bgt

    Like

  7. Icy masih nunggu nih *maenan bola salju*
    Gapapa kalo nyelametinnya kudu ngelukain atau bahayain icy. Gapapa serius. Mati juga sebenernya gapapa *lalu dikeplak* 😂
    Pokoknya semangat buat killian yg mau nyelametin icy! Cepetan ya keburu icy nya bulukan 😄

    Like

    1. ini lagi diculik malah mainan bola salju -_-
      masalahnya ini bukan ngelukain yg bikin mati kak icy…… makanya killian ndak mau /krik

      nanti killian dateng bawa kemoceng deh buat bersihin debunya icy /krikkrik

      makasih kayeeen ❤

      Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s