[BTS FF Freelance] Illusions – (Chapter 4)

Illusions2

Title: Illusions

Author : Maru

Main Cast:

Taehyung [BTS] | Jungkook [BTS] | Sujeong [Lovelyz] | Yoongi [BTS] | Baekhyun [EXO] | Daehyun [B.A.P] | Hoseok [BTS] | Namjoon [BTS] | reveal soon….

Support Cast:

Yein [Lovelyz] | Sungjae [BTOB] | Dongwoo [Infinite] | and others….

Genre: fantasy, family, friendship, action, school life, mystery, AU

Rating: PG -13

Leght: Chaptered

Disclaimer: Selain cerita dan OC bukan milikku. Semua perbuatan jelek di FF ini jangan ditiru. Maaf kalau bahasanya aneh, author gak pinter ngerangkai kata-kata.

.

Note: Aku mau minta maaf kepada readers. Sepertinya aku tidak menjelaskan keadaan illusion dan dunia mereka. Jadi kalau diantara readers ada yang belum paham, silahkan cek di

.

Happy reading~

.

.

.

~-~

Predator menyebalkan.”

Daehyun menyentuh luka di keningnya yang sudah mengering. Tidak parah memang, tapi yang menjadi masalah adalah apa yang akan dipikirkan murid lain saat melihat ia memiliki luka yang terlihat dengan jelas bahwa itu luka sayatan. Daehyun mengambil segulung perban, mengguntingnya, lalu menempelkannya di keningnya untuk menutupi luka itu.

“Kaupikir, kau tidak menyebalkan baginya?”

Daehyun melirik sekilas ke arah sosok yang tengah menyandarkan tubuhnya di daun pintu. “Setidaknya buka pintu menggunakan tanganmu, bukan kemampuanmu.”

Orang itu berdecih. “Tidak mau. Kau nanti bisa mendengar aku membuka pintu.”

Daehyun tidak terlalu menghiraukan balasan temannya itu. Tangannya sibuk merapihkan rambut bagian depannya agar menutupi perban di keningnya.

Mereka menunggumu.”

Daehyun sedikit menolehkan kepalanya. “Siapa?”

“Siapa lagi yang akan menunggumu untuk pergi ke sekolah? Cepatlah, nanti mereka mengamuk.” Orang itu berjalan meninggalkan pintu kamar Daehyun. Pintu kamarnya tiba-tiba menutup dengan sendirinya ketika sosok itu sudah tidak terlihat.

“Aish, menyebalkan. Hei, jangan gunakan kemampuanmu di sembarang tempat!” teriak Daehyun jengkel. Ia mengambil tasnya lalu berjalan keluar dari kamarnya. Sekilas ia mendengar suara tawa di dekatnya. “Baekhyun, berhenti tertawa! Apa aku terlihat lucu?”

Tawa itu malah semakin keras. Sosok temannya yang tadi mengganggunya muncul dari lorong kiri di depannya. “Sebaiknya kau periksa isi tasmu. Tapi jangan salahkan aku, mereka yang melakukannya.” Baekhyun langsung berlari pergi setelah mengatakan itu.

Daehyun mendesis pelan. Ia membuka tasnya dan mendapatkan isinya bukan buku-buku pelajaran, melainkan selusin komik yang masih tersegel. Ia pun menggertakkan giginya kesal. “Sepertinya mereka ingin mati.”

~-~

Suasana kelas 12-1 berubah menjadi sepi seketika -setelah murid-murid di dalamnya bercanda dengan sangat riang- saat Guru Kang, wali kelas mereka masuk dan berdiri di depan kelas. Murid-murid duduk mematung di tempat mereka sambil menatap Guru Kang, sementara sang guru menatap bangku muridnya satu persatu. Matanya berhenti pada bangku kosong yang berada paling belakang.

“Siapa yang seharusnya duduk di bangku itu?” Tangan Guru Kang menunjuk ke arah bangku paling belakang, tepat berada di belakang Sujeong. Semua murid menolehkan kepala mereka ke arah bangku itu, dan mulai bertanya-tanya siapa pemilik bangku itu.

“Itu tempat murid baru.” ucap seorang murid dengan lantang.

Guru Kang mengerutkan keningnya. Ia tidak datang pada minggu pertama tahun ajaran baru karena suatu urusan, jadi ia tidak tahu ada murid baru di kelasnya. “Siapa namanya?”

Murid-murid mulai berbisik-bisik. Murid-murid itu tidak mengingat namanya, sama sekali tidak ada yang ingat, bahkan sebagiannya mengaku kalau mereka lupa dengan wajahnya. Yang mereka tahu, murid baru itu tidak pernah bicara. Ia selalu duduk diam di bangkunya dengan headset yang menutupi kedua telinganya.

Sujeong mengembuskan napas pendek. Bagaimana bisa teman-temannya lupa dengan sosok yang biasa duduk di belakangnya itu? Apa hanya dia yang tahu namanya?

Sujeong hendak menjawab, tapi kelas langsung hening ketika mendengar suara pintu terbuka. Seorang murid yang berdiri di depan pintu terlihat ragu untuk melangkah masuk. Guru Kang memberi isyarat dengan tangannya agar murid itu masuk ke kelas. Murid-murid perempuan tercengang melihatnya. Ternyata murid baru di kelas mereka adalah murid yang bertengkar dengan Hoseok saat jam makan waktu itu.

“Kenapa kau terlambat?” Guru Kang memasang wajah tak suka sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Matanya melirik sekilas ke arah name tag murid itu.

“Ah ….” Murid itu membuka mulutnya perlahan. “Aku terluka, jadi aku harus mengobatinya.”

Guru Kang menatap Daehyun dari ujung kaki hingga kepalanya. Ia tidak menemukan tanda bahwa Daehyun terluka. “Tunjukkan lukamu.”

Daehyun mengembuskan napas pendek. “Guru, aku benar-benar terluka. Aku tidak berbohong.”

“Apa aku mengatakan kau berbohong? Jika kau mengatakan sesuatu, kau harus memiliki bukti. Tunjukan lukamu!”

Daehyun mengembuskan napas untuk kedua kalinya. Ia menggerakkan telunjuknya ke arah pelipisnya. “Di sini.”

Guru Kang menatapnya tajam. “Di sana? Kaupusing?”

“Ah, bukan. Tapi … haruskah aku menunjukkannya?”

“Tentu saja. Jika kau tidak mau, kau harus membayar denda.”

Daehyun memasukkan tangannya ke sakunya lalu memberikan sejumlah uang kepada Guru Kang. Guru Kang menerima uang itu kemudian menyuruh Daehyun untuk duduk di bangkunya. Daehyun membungkuk sekilas lalu berjalan menuju bangkunya. Guru Kang masih menghunjamnya dengan tatapan tajam hingga ia duduk di bangkunya. Selanjutnya Guru Kang menatap murid-muridnya.

“Apa tidak ada yang mengenalnya?”

Murid-murid menggeleng serempak, kecuali Sujeong tentunya. Guru Kang menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berdecih. “Menakjubkan. Dari tiga puluh dua murid di kelas ini tidak ada yang mengenalnya?”

“Aku mengenalnya.” Sujeong mengangkat tangannya. Murid-murid langsung menoleh ke arahnya sambil memandangnya heran.

“Hm …. Kalau begitu, sebaiknya kalian mulai berkenalan dengannya. Jangan membuatnya seperti hantu yang duduk di pojok kelas.” Daehyun melirik sedikit ke arah Guru Kang ketika menyelesaikan ucapannya. Oh, yang benar saja. Apa dia terlihat seperti hantu?

“Tidak ada pengumuman hari ini. Belajar dengan benar.”

Guru Kang berjalan keluar kelas. Setelah pintu tertutup rapat, kelas kembali ramai. Bukan, bukan karena mereka berkenalan dengan Daehyun. Bahkan beberapa murid malah menjauh dari bangkunya yang berdekatan dengan Daehyun dan mulai bergabung dengan murid lain. Daehyun sendiri tidak peduli dengan hal itu. Ia melemparkan pandangan ke lapangan di bawah, tertarik untuk memperhatikan dua murid yang tengah berlari mengelilingi lapangan.

“Sujeong,” Hyunhee mengetuk pelan meja teman di sebelahnya. “Kau mengenalnya?”

Sujeong sedikit menggeser tubuhnya karena Hyunhee bertanya dengan suara kecil. “Ya, dia menyebalkan.”

“Ah, apa yang harus kita lakukan? Kenapa Guru Kang menyuruh kita berkenalan dengannya? Dia pernah mencengkram kerah Hoseok, dan itu membuatku kesal.” gerutu Hyunhee sambil sedikit memajukan bibirnya.

“Aku tidak peduli tentang hal itu. Tapi dia membuatku kesal.” Sujeong kembali ke posisinya dan menyiapkan buku pelajaran selanjutnya.

~-~

“Hei, kau sangat beruntung, ya?”

Daehyun mengangkat wajahnya. Suara itu terdengar bersamaan dengan bunyi dua piring besi yang menghantam pelan meja tempat ia menyantap bagian makan siangnya. Taehyung dan Jungkook duduk di hadapannya dan mulai memakan makanan mereka.

“Siapa yang menyuruh kalian untuk menungguku? Kalian bisa pergi lebih dulu.” Daehyun tidak terlalu menghiraukan kedua makhluk yang sering mengganggunya itu. Ia kembali memasukan nasi ke dalam mulutnya.

Taehyung mengerutkan keningnya. “Kami tidak menunggumu. Kak Bakhyun bilang, kakak meminta kami untuk menunggu.”

Daehyun terkekeh pelan. “Lalu kalian percaya? Hei, Jungkook. Bukannya kaubisa mengetahui isi pikirannya?”

Taehyung melemparkan pandangan tajam ke arah orang di sebelahnya yang sedang asik menyantap makannya. “Kenapa kau tidak bilang? Jika saja kaubilang ia hanya berniat mengerjai kita, kita tidak perlu berlari mengelilingi lapangan.”

“Kaupikir aku peduli? Aku juga berniat menjahilimu.” balas Jungkook yang kemudian langsung berpindah tempat ke sebelah Daehyun.

Taehyung mendengus kesal. Ia mengambil piringnya dan beranjak pergi dari tempat itu. Daehyun dan Jungkook hanya menatapnya tanpa berniat mengejarnya. Taehyung berjalan menuju meja kosong di pojok ruangan.

Tiba-tiba seseorang yang duduk pada kursi yang dilewatinya menghalangi langkahnya dengan kakinya. Taehyung menghentikan langkahnya dan melirik orang itu sejenak. Jung Ho Seok yang melakukan hal itu. Hoseok menyeringai tanpa menolehkan wajahnya. Taehyung memutar bola matanya malas lalu melangkahkan kakinya melompati kaki Hoseok, tapi Hoseok mengangkat kakinya hingga membuatnya tersandung dan terjungkal ke depan. Piring yang dipegangnya menghasilkan bunyi yang nyaring ketika jatuh menghantam lantai. Orang-orang langsung melihat ke arahnya karena suara itu.

Hoseok berdiri dari kursinya dan berjalan mendekati Taehyung yang hanya terdiam sambil menggeram. “Bukannya aku melarangmu untuk lewat?”

Taehyung melirik dengan malas ke arahnya. “Lalu apa?” Taehyung membalikkan tubuhnya dan langsung melangkah pergi. Hoseok berniat mengejarnya, tapi temannya menahan pundaknya.

“Bukannya sudah kukatakan, jangan membuat masalah?” tanya temannya sambil menatapnya tajam.

“Apa?” Orang itu mendecih pelan. “Kau berani melarangku sekarang?”

“Bukan.” Temannya menatap kedua manik matanya dengan tajam. “Aku hanya mencoba mengamankan diri.” Ia langsung melangkah pergi meninggalkan Hoseok.

Murid-murid kembali berbisik-bisik setelah orang itu pergi juga. Daehyun dan Jungkook yang menyaksikan kejadian itu hanya terdiam di bangku mereka.

“Temannya itu … dia orang itu, kan?”

Daehyun mengangguk pelan. “Ah, omong-omong, apa yang kalian lakukan dengan tasku?”

Jungkook menampakkan senyuman innocent-nya. Ia menyuapkan suapan terakhirnya sebelum berkata. “Kudengar kakak akan bermain ke rumahku malam ini. Jadi aku ingin kakak membawa semua komik baru kami.” Jungkook langsung beranjak pergi secepat mungkin sebelum Daehyun mulai menyerangnya.

Daehyun hanya bisa mengeraskan rahangnya, lantaran Jungkook sudah berlari menjauh sebelum sempat ia cegah. “Awas saja, kalian berdua.”

~-~

Baekhyun berjalan menyusuri lorong sambil bersenandung pelan. Cahaya matahari yang masuk lewat jendela di sebelah kanannya membuat bayangan dirinya terlihat jelas mengikuti gerakannya. Bayangan itu berhenti bergerak ketika pemiliknya tiba-tiba berdiri mematung. Samar-samar terdengar suara dua orang tengah berbincang di lorong sebelah kiri di depannya.

“Belakangan ini kita kehilangan beberapa senior, ya.”

“Ya. Mereka membunuh dengan diam-diam dan langsung membantai semua yang ditemuinya.”

“Tapi kenapa Namjoon bergabung dengan mereka? Bukankah dia teman dekat Senior Baekhyun?”

“Ya, aku juga bingung. Ah, kasus Seokjin juga membuatku bingung. Kenapa dia menghilang tiba-tiba? Dia bunuh diri atau dibunuh?”

“Dibunuh seperti-”

Orang itu memotong ucapannya ketika melihat Baekhyun berdiri di lorong. Kedua orang itu terlihat kaget, kemudian membungkuk bersamaan.

Senior, apa yang senior lakukan di sini?” tanya salah satu diantara mereka.
Baekhyun yang seakan tidak menyadari kehadiran dua orang itu tersentak. “Ah… tidak, aku…. Aku mencari Dongwoo.” Baekhyun meraba-raba tengkuknya, gugup.

“Dongwoo? Aku melihat dia di dekat gerbang utama tadi.”

“Ah, benarkah? Kalau begitu, terima kasih.” Baekhyun langsung berjalan pergi ke lorong itu di depannya.

Kedua orang itu menatap Baekhyun aneh lalu saling berpandangan. “Hei, bukannya jalan menuju gerbang utama ke sana?” tanya salah satu diantara mereka sambil menunjuk lorong yang dilalui Baekhyun sebelum bertemu mereka.

Temannya mengangguk. “Aku rasa dia sedang banyak pikiran.”

~-~

Yein memasukkan buku-buku di mejanya ke dalam tasnya. Ia melirik sekilas ke luar jendela, melihat langit yang sudah berwarna oranye dan ia menyukai itu. Yein menutup tasnya, kemudian menggantungkan tasnya di pundakya dan bersiap pergi.

“Yein.”

Yein berbalik dengan cepat ketika Taehyung memanggilnya. Taehyung dan Jungkook masih duduk di bangku mereka dengan tas yang sudah menggantung di pundak mereka. Sungjae yang masih sibuk memasukkan bukunya menghentikan kegiatannya sejenak dan memperhatikan ketiga temannya.

“Kau… ada urusan, malam ini?”

Sungjae mengerutkan keningnya. Jangan bilang kalau….

“Ada. Aku akan pergi bersama beberapa temanku ke kafe. Ada apa? Kauingin ikut?”

Jungkook menautkan alisnya kemudian menggeleng cepat. “Tentu saja tidak. Untuk apa aku ikut? Temanmu perempuan semua, kan?”

Yein tersenyum. “Baguslah, kalau kaumengerti. Aku pulang duluan.” Yein bangkit dari bangkunya dan segera berjalan keluar dari kelas bersama murid-murid yang lain.

“Kau menyukainya?” tanya Sungjae setelah Yein benar-benar tidak terlihat lagi.

“Apa?” Jungkook melebarkan matanya, tidak percaya. Sementara Taehyung mencoba menahan kekehannya sambil melirik ke arah Jungkook. “Bu-bukan begitu. Aku tidak menyukainya. Apa jangan-jangan… kau yang menyukainya?”

“Hei, yang benar saja.” Sungjae mengambil tasnya, lalu bangkit dari kursinya. Sebelum melangkah menjauh, Sungjae menoleh ke meja mereka sambil menjulurkan lidahnya, kemudian berlari keluar kelas.

Kelas benar-benar sepi sekarang, hanya ada Taehyung dan Jungkook, bersama meja-meja, bangku-bangku, dan peralatan lainnya.

“Hei,” Taehyung menoleh sedikit ketika Jungkook bersuara. Ia yakin panggilan itu untuknya, karena setahunya Jungkook memang bisa membaca pikiran dengan melihat tulisan di atas kepala mereka, tapi ia tidak bisa melihat hantu atau membaca pikiran mereka. “Apa kita harus mengikutinya juga?”

“Mau bagaimana lagi? Itu tugas kita, terlebih Kuro Clan lebih senang menyerang pada malam hari.” Taehyung mendorong kursinya ke belakang dan bangkit dari posisinya. Ia mulai melangkah pergi meninggalkan Jungkook.

“Kau meninggalkanku?” tanya Jungkook setengah berteriak karena Taehyung sudah berada di ambang pintu. Sebelum melangkah lagi, Taehyung mengucapkan dua kalimat yang membuat Jungkook bertanya-tanya.

“Pulanglah sendiri. Aku ingin kembali.”

~-~

Taehyung menyandarkan tubuhnya ke terali balkon barat istana klannya, Shiro Clan. Matanya memandangi taman bunga yang berada di belakang istana. Angin sore yang menggerakkan rambutnya diabaikannya, pikirannya leih sibuk memikirkan tanggal hari ini, tanggal yang sama dengan hari saat ibunya lahir.

Ibunya menyukai bunga. Itulah alasan kenapa ia selalu datang ke tampat ini jika teringat dengan ibunya. Tapi jujur saja, Taehyung tidak tahu apakah ibunya benar-benar menyukai bunga dan bunga apa yang disukainya. Yang ia tahu, ibunya sering mendatangi halaman belakang istana pada sore hari, itupun karena pamannya yang memberi tahu.

Taehyung tidak pernah melihat ibunya secara langsung. Paman bilang, ibu dan ayahnya meninggal saat ia masih bayi. Karena itu Taehyung tinggal bersama Jungkook, sekarang. Taehyung sempat mendengar dari ibunya Jungkook kalau orangtuanya bukan meninggal karena sakit atau kecelakaan, tapi karena dibunuh.

Taehyung memang sering terlihat ceria, seakan tidak ada masalah dalam kehidupannya. Tapi sebenarnya ia melakukan itu untuk menutupi perasaannya terhadap kematian orangtuanya. Jika saja kalian bisa membaca pikiran seperti Jungkook, kalian akan mendapati pikiran Taehyung dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan tentang kematian mereka.

“Hei,”

Taehyung tersadar dari lamunannya saat seseorang menepuk pundaknya. Seseorang sudah berdiri di sebelahnya sambil tersenyum. “Kak Baekhyun?”

“Sedang apa?” tanyanya.

“Hanya… bermain sebentar.”

Baekhyun melihat ke arah taman bunga di bawah mereka. “Hm… kau teringat dengan ibumu, ya?”

Taehyung hanya terdiam. Ia kembali memperhatikan taman bunga di bawahnya, bersikap seakan Baekhyun tidak melontarkan pertanyaan padanya. Baekhyun tersenyum tipis. Ia mengerti kalau Taehyung tidak ingin membahas hal itu sama sekali.

“Taehyung, aku memiliki sebuah benda yang keren.” Baekhyun mencoba membuat Taehyung mengarahkan atensinya kepadanya. Tampaknya itu berhasil karena Taehyung langsung menoleh dan menatap Baekhyun seakan bertanya benda-apa-itu. Baekhyun tersenyum misterius, kemudian ia memberikan sebuah benda setipis kertas kepada Taehyung.

Taehyung menerima benda itu dan memandanginya. Oh, ini benar-benar menarik. Sebuah foto berisi 9 orang yang terlihat bahagia, mereka tersenyum cerah. Yang membuatnya menarik adalah orang-orang yang ada di sana. Ada Taehyung, Jungkook, Daehyun, Hoseok, Sungjae, Yein, dua temannya, dan satu orang lagi. Tapi rasanya foto itu sedikit janggal. Di sana tampak seakan-akan ada tempat untuk tiga orang lagi pada sebelah kiri, tapi tidak ada apa-apa di sana.

“Apa ini?”

“Aku mengambil itu saat aku ditugaskan ke bumi.” kata Baekhyun.

Baekhyun adalah senior yang ditugaskan untuk melihat keadaan bumi untuk pertama kalinya bersama dua senior lainnya, Mijoo dan Namjoon.

Namjoon dulunya bergabung dengan Shiro Clan. Tapi tiba-tiba ia membelot setelah tugasnya memantau keadaan di bumi sudah selesai. Taehyung dan Jungkook cukup dekat dengan Namjoon, sebenarnya. Karena itu mereka menyebutnya Pengkhianat.

“Kau tahu, kan, illusion seperti sebuah duplikat dari manusia yang ada di bumi. Jika illusion pergi ke bumi, maka manusia yang memiliki rupa yang sama dengannya akan menghilang. Benar-benar menghilang, seakan-akan ia tidak pernah hidup di bumi.” Baekhyun menjelaskan sambil memperhatikan beberapa burung yang berlalu lalang di depannya.

Taehyung menatap seniornya itu. Ia tidak tahu tentang itu, sebenarnya. Tapi, jika versi manusia dari illusion yang pergi ke bumi menghilang, kenapa di foto ini ada dirinya dan illusion lainnya?

“Kebetulan, saat aku sedang berjalan-jalan, aku melihat 9 anak sedang bermain basket. Wajah mereka tampak familiar, jadi aku memperhatikan mereka hingga aku menyadari kalau aku mengenal wajah-wajah itu. Aku mengikuti anak bernama Kim Tae Hyung ke rumahnya, lalu aku masuk diam-diam dan mengambil foto itu.”

Taehyung tersenyum masam. Kenapa Baekhyun mengikuti manusia yang sama dengannya?

“Dan lihat di sini.” Baekhyun menarik foto itu dan menunjuk bagian yang menurut Taehyung janggal. “Seperti ada tiga orang di sana, kan? Kurasa itu tempatku, Mijoo dan Namjoon.”

Taehyung memperhatikan foto itu lagi. Bisa jadi. Berarti versi manusia mereka juga berteman? Bahkan dengan Hoseok juga?

“Menyedihkan.”

Baekhyun menoleh ke arah Taehyung. Ia mendengar Taehyung mengucapkan sesuatu. Terdengar jelas, tapi Baekhyun tidak mengerti maksudnya.

Taehyung menghela napas sebelum melanjutkan perkataannya. “Rasanya seperti mengambil kehidupan seseorang. Sungjae dan Yein, tidak ada illusion yang seperti mereka, bukan?”

“Yein? Thiensmu, ya? Entahlah. Mungkin ada diantara penduduk-penduduk di sini, atau mungkin ada di Kuro Clan. Tapi… bisa juga tidak ada illusion yang seperti mereka. Tidak semua manusia memiliki ‘kembaran’-nya di Dunia Illusion.

Taehyung mengangguk mengerti. “Kak Baekhyun, kenapa kita disebut ilusi?”

“Hm?” Baekhyun menautkan alisnya. “Aku juga tidak tahu. Setahuku, dulu kita tidak disebut seperti itu. Tapi beberapa tahun setelah kita terbelah menjadi dua, kita mulai disebut seperti itu.”

Dulu, Shiro Clan dan Kuro Clan adalah satu klan yang makmur. Tapi sekitar 25 tahun yang lalu, sekelompok orang membelot dan membuat klan sendiri. Tentu saja klan itu diisi oleh orang yang lebih sedikit dibanding klan awalnya. Seiring berjalannya waktu, beberapa orang ikut keluar dan bergabung dengan klan itu. Kendati begitu, tetap saja klan utama, Shiro Clan, memiliki penduduk yang lebih banyak. Yeah, setidaknya itu yang Taehyung ketahui dari pelajaran sejarah saat ia masih bersekolah di dunianya.

“Kudengar, kakak dan Kak Daehyun akan pergi ke rumah kami, malam ini.” Taehyung mengalihkan topik pembicaraan sambil memasukkan foto itu ke sakunya. Langit sudah mulai berubah menjadi ungu, Taehyung harus segera kembali ke rumahnya di bumi.

“Hm… ya. Besok kalian libur, kan?”

Taehyung mengangguk. “Aku tunggu, ya.” Taehyung kemudian hendak pergi ke bumi, tapi Baekhyun langsung mencegahnya.

“Ah, jangan pergi dulu. Kau tidak boleh membawa foto itu ke bumi, atau gambar orang-orang di sana akan menghilang.” kata Baekhyun.

“Oh, begitu?” Taehyung berbalik dan masuk ke dalam istana, sementara Baekhyun masih terdiam di balkon, memperhatikan langkah Taehyung hingga ia tidak terlihat lagi.

Baekhyun terdiam. Keningnya berkerut, memikirkan sesuatu. Satu orang yang ada di foto itu tampak tidak asing.

Dia…. Bukankah dia keturunan Choi?

~-~

Malam ini bulan tampak bulat sempurna di langit, ditemani titik-titik kecil yang terlihat mengeluarkan sinar. Angin malam berembus cukup kencang dan cukup dingin. Orang-orang mungkin akan memilih untuk menghangatkan diri di rumah. Tapi berhubung besok hari Minggu, beberapa orang tetap pergi keluar, menggunakan jaket yang cukup tebal tentunya.

Salah satu orang itu adalah Yein. Gadis itu tengah memakai jaketnya sambil menatap pantulan tubuhnya di cermin kamarnya. Tanpa ia sadari, empat orang tengah memperhatikan kegiatannya itu dari rumah di sebelahnya, dari ruangan di lantai dua lebih tepatnya.

“Wah, gadis itu imut juga.” gumam Baekhyun. Ia sengaja bergumam dengan suara yang cukup keras agar gumamannya dapat didengar ketiga temannya. “Apa kalian menyukainya?”

“Apa?” Taehyung dan Jungkook menatap Baekhyun aneh.

“Yang benar saja. Dia berbeda dengan kita.” kata Taehyung sedikit ketus. Jungkook mengangguk-angguk menyetujui perkataan sepupunya.

Baekhyun mencibir kedua laki-laki itu. “Aku hanya bertanya. Atau mungkin… dia menyukai salah satu diantara kalian?”

“Hei, Baekhyun, berhenti membicarakan hal itu.” lerai Daehyun. Jika ia tidak melerainya sekarang, mungkin kedua anak itu akan mengusir dirinya dan Baekhyun dari rumah ini. “Atau kau yang menyukainya?”

“Aish, yang benar saja.” Baekhyun berpindah dari posisinya mendekati Daehyun, hendak melayangkan sebuah jitakan ke kepalanya. Tapi Daehyun lebih dulu berpindah dari tempatnya mendekati pintu kamar.

Daehyun memutar kenop pintu dan membukanya. Sebelum keluar, Daehyun menjulurkan lidahnya sambil memberikan tatapan mengejek ke arah temannya. Baekhyun menggeram kesal, kemudian ia mengejar Daehyun keluar, meninggalkan Taehyung dan Jungkook di ruangan itu.

Yein tampak tersenyum ke arah cermin. Gadis itu mengambil tas kecil dari kasurnya kemudian berjalan keluar dari kamarnya.

Taehyung mengembuskan napas panjang. “Hei, apa kita harus mengikutinya?”

“Mau bagaimana lagi? Itu memang tugas kita.” Nada bicara Jungkook terdengar pasrah. “Sebaiknya kita ajak dua makhluk itu.”

“Hm….” Taehyung mengangguk sambil bergumam pelan. “Omong-omong, kenapa kau membiarkan mereka berdua keluar? Terlebih mereka sedang bertengkar. Apa rumah ini tidak akan berubah menjadi kapal pecah?”

Jungkook hanya mengangkat bahu. “Kaupikir aku peduli? Biarkan saja. Kalau rumah ini berantakan, ayah pasti akan menghukum mereka. Sebaiknya kita pergi sekarang, atau kita akan kehilangan jejak Yein.”

~To Be Continue~

Advertisements

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s