[Oneshot] Mission Accomplished

bts-namjoon

mission accomplished

a vignette by tsukiyamarisa; part of An Unforgettable Party series

BTS’ Kim Namjoon and You

3k of words | Spy!AU, slight!Fluff | 15

.

.

“Kalau begitu, bagaimana jika kita berdansa untuk menutup pesta yang menyenangkan ini?”

.

.

.

Kubiarkan kakiku berderap cepat, masih dengan amarah yang membara.

Aku bahkan tak peduli pada tatap ingin tahu yang jelas-jelas ditujukan kepadaku, tak acuh ketika secara tak sengaja menabrak Agen Park dan membuatnya nyaris terjungkal. Pun pelototan dari Agen Min yang kuabaikan begitu saja, lantaran lelaki berkulit pucat itu sedang asyik berdiskusi dengan Agen Park mengenai misi mereka. Pokoknya, ini bukan hari di mana aku memiliki niatan untuk beramah-tamah, tidak ketika ada seorang pria ceroboh dan sok pintar yang baru saja membuatku ingin menggali lubang dalam-dalam.

Sialan kau, Kim Namjoon!

Oh ya, omong-omong, lubang yang ingin kugali itu untuk memendam dirinya, oke? Bukan aku yang saat ini sedang berdiri di depan pintu pusat database dari markas besar kami, mengetuk-ngetukkan kaki dengan tak sabaran sementara perangkat keamanan memindai retinaku. Masih dengan otak yang sibuk membayangkan berbagai jenis siksaan, memutuskan mana yang kiranya tepat untuk diberikan pada mantan partner-ku di misi yang baru saja selesai.

Tolong perhatikan bahwa aku menggunakan istilah mantan partner di sana.

Karena sungguh, aku tak habis pikir dengan fakta bahwa lelaki itu ditugaskan sebagai agen lapangan. Maksudku, yang benar saja?! Kim Seokjin—pimpinan kami—pasti sudah tak waras saat ia memutuskan bahwa Namjoon yang tadinya bekerja di bagian Riset dan Pengembangan Teknologi itu untuk bertugas di lapangan. Well, sebenarnya ada faktor kekurangan tenaga juga, sih, tapi kan—

.

.

Access granted.

 .

.

Mengembuskan napas, aku lekas melangkah masuk sementara pintu bergeser menutup di belakangku. Tatap secara otomatis terarah pada salah satu komputer yang kosong, piranti yang akan membantuku untuk mengembalikan harga diriku sebagai agen lapangan. Ah benar, aku belum sempat bercerita, bukan?

Yang pasti, aku tidak marah-marah seperti ini tanpa alasan. Karena seperti yang sudah kusebutkan berkali-kali, Kim Namjoon-lah penyebab semua ini. Si lelaki yang dengan bodohnya nyaris membuat misi kami gagal, lantas berujung dengan datangnya bantuan dari agen Jeon yang hanya mampu menggeleng-gelengkan kepala. Padahal, Jeon Jungkook adalah agen lapangan terbaru kami. Ia baru saja lulus dari pelatihan, tetapi ia jugalah yang membantu kami untuk kabur dari tempat kejadian. Yeah, yeah, semua terjadi karena Namjoon keburu panik saat dihadapkan dengan sekumpulan orang bersenjata—dengan dalih bahwa ia seharusnya sudah melumpuhkan mereka menggunakan bom berisi gas yang dapat membuat pingsan.

Intinya, begitulah kejadiannya.

Kejadian yang membuat nama baikku sebagai agen lapangan tercoreng, sementara Seokjin malah memberi teguran dan berkata kalau kami kurang bekerja sama. Kurang dari mana? Selama ini aku baik-baik saja bekerja sendirian, aku senantiasa bisa menuntaskan segala misi tanpa masalah berarti. Bukan sombong, tapi memang itulah faktanya. Dan kalau-kalau kalian masih butuh bukti soal kemampuanku, maka aku akan memberikannya dengan senang hati.

Melarikan jemari di atas keyboard, aku bergegas masuk ke dalam database misi yang masih belum tertuntaskan. Mengecek semua yang ada di dalam daftar satu-persatu, mencari misi yang belum diambil oleh agen lapangan lainnya. Butuh waktu memang, tapi aku sudah bersumpah bahwa aku akan menyelesaikan satu misi dengan sukses seorang diri dan meminta Seokjin untuk menyingkirkan partner-ku itu jauh-jauh. Lihat saja nanti. Lihat saja, Kim Namjoon, karena aku akan—

.

[Mission number: 9495

Date: 2016.09.12

Status: Available

.

loading for details….]

.

—ah, sepertinya Dewi Fortuna masih berada di pihakku, benar begitu?

Menanti hingga detail dari misi tersebut—alamat, tujuan, apa yang harus dicari, dan lain sebagainya—muncul di layar, aku tak mampu menyembunyikan senyum kemenanganku. Menit berlalu, dan ujung-ujung bibirku pun berjungkit makin lebar. Misi ini bisa dibilang cukup sederhana, mengambil sebuah dokumen rahasia mengenai sindikat peredaran obat-obatan terlarang. Menurut apa yang tercantum, misi ini harus dilaksanakan saat si Tuan Rumah mengadakan pesta besar-besaran—yang mana akan terjadi dua hari lagi. Klasik, dan seharusnya tidak sesusah itu untuk dilakukan.

Maka, masih dengan ekspresi puas terpampang di wajah, aku pun lekas mencatat semua detail yang diperlukan. Inilah yang kubutuhkan untuk membuat hidupku sebagai agen rahasia berjalan kembali seperti semula, inilah yang kuperlukan agar harga diriku tidak lagi terperosok ke dalam jurang.

Tunggu saja.

Karena dalam dua hari ke depan, aku akan membuktikan kalau bekerja seorang diri itu bukan sebuah masalah bagiku.

.

-o-

.

Aku memasang senyum semanis mungkin, menyebutkan namaku pada penjaga pintu yang sama sekali tak curiga.

Bukan hal susah untuk menyelundupkan namamu ke dalam daftar tamu, terima kasih pada Agen Jung yang jauh lebih cekatan dan mau melakukan permintaanku tanpa banyak tanya. Kalau sudah seperti ini, masuk ke dalam pesta pun akan menjadi hal yang teramat mudah. Aku cukup menunggu selama kurang lebih satu menit, sementara si lelaki penjaga pintu memberikan tanda centang di sebelah namaku dan mempersilakan diriku untuk masuk ke aula tempat pesta diadakan.

Berusaha memasang pose anggun, aku mengangguk dan membiarkan tungkaiku bergerak. Meluncur dengan pasti di sepanjang karpet merah, selagi manik dengan teliti mengawasi tiap sudut yang ada. Aula tempat pesta berlangsung sudah cukup penuh: meja-meja bulat berisi makanan di sisi kanan dan kiri, orkestra musik di sudut belakang sana, sebuah podium yang diperuntukkan bagi sang tuan rumah dan putrinya, serta tamu-tamu kehormatan yang mengenakan jas hitam mengilap atau gaun warna-warni berbahan satin. Obrolan sopan dan tawa manis menguar di udara, penuh basa-basi seraya mereka menunggu pesta resmi dimulai.

“Kudengar, Tuan Choi juga akan melangsungkan pertunangan putrinya malam ini.”

“Ah, benar. Mereka pasangan yang sangat serasi, bukan?”

“Minumnya, Nona?”

Mengalihkan fokus dari potongan-potongan percakapan yang tengah kucuri-dengar, aku membiarkan jemariku meraih segelas wine merah yang ditawarkan. Menyesapnya lambat-lambat, sementara pupilku bergulir untuk mengamati lorong-lorong yang ada di sisi kanan serta kiri aula. Di sanalah aku akan menjalankan misiku nanti, tepatnya pada satu-satunya lorong di sebelah kanan aula. Menurut denah yang sudah kupelajari, pintu masuk menuju tempat penyimpanan rahasia milik keluarga Choi ada di lorong tersebut.

Kini, aku hanya perlu menunggu.

Rencanaku adalah untuk menyelusup saat puncak acara diadakan—pertunangan putri Tuan Choi dengan lelaki pengusaha entah siapa. Tepat ketika semua perhatian sedang teralihkan, ketika tingkat pengamanan mungkin akan sedikit dikendorkan. Membosankan memang harus menunggu, tetapi setidaknya aku bisa memanfaatkan waktu untuk sedikit menikmati pesta, bukan?

Dengan lagak seperti tamu-tamu lainnya, aku pun mulai membaur. Mencicipi beberapa hidangan yang berjajar di atas piring, juga sedikit ikut berbasa-basi dalam beberapa konversasi. Namun, jangan anggap aku sedang bersikap ceroboh. Aku pandai berpura-pura—yah, setiap agen sudah seharusnya begitu, sih. Karena, kendati saat ini aku sedang tertawa-tawa, sebenarnya aku sedang mengamati dan menandai setiap orang yang kutemui. Mencari mana yang kiranya bisa kumanfaatkan, atau malah yang kemungkinan besar akan menyadari penyamaranku.

Sejauh ini, semuanya baik-baik saja.

Dan sungguh, tak ada yang membuatku lebih lega selain melihat Tuan Choi akhirnya naik ke podium, mengetuk mic, kemudian berujar:

“Tamu-tamuku yang terhormat, malam ini….”

.

-o-

.

Tepuk tangan membahana, dan aku tak lagi berada di dalam aula pesta.

Dugaanku, putri tunggal keluarga Choi pasti sedang menjadi pusat perhatian saat ini. Mungkin diikuti dengan acara menukar cincin atau apa, sementara aku masuk ke dalam salah satu ruangan yang ada di gedung megah ini. Tak ada yang mengikuti, pun memperhatikan. Semua terlalu sibuk bertepuk tangan untuk acara utama yang tengah berlangsung, termasuk para bodyguard bodoh itu.

“Oke, baiklah. Saatnya untuk pertunjukkan dariku.”

Memasang seringai singkat, aku mengikuti insting dan melangkah menghampiri dinding kayu yang ada di sisi kiri ruangan. Meraba-raba, sampai akhirnya menemukan sebuah tonjolan kecil yang dapat ditekan dan membuat papan kayu tersebut secara otomatis bergeser. Gotcha! Sebuah kotak penyimpanan kini sudah terpampang di depan mataku, selagi aku cepat-cepat meraih botol kecil dari dalam tas tanganku dan menyemprotkan isinya pada panel kontrol yang ada.

“Kali ini, aku akan berterima kasih padamu, Kim Namjoon.”

Sebagai orang yang bertahun-tahun bekerja di bagian Riset dan Pengembangan Teknologi, wajar jika semua alat-alat canggih yang kumiliki adalah buatan lelaki itu. Semprotan berisi cairan untuk menampakkan sidik jari ini adalah salah satunya, pun dengan aplikasi di ponsel yang berguna dalam memecahkan kode berupa kombinasi angka. Setidaknya, ini semua mempermudah tugasku. Empat angka yang paling sering ditekan pada panel tersebut adalah 1, 3, 6, dan 9. Kumasukkan keempatnya pada aplikasi buatan Namjoon, lantas menunggu sampai sejumlah kombinasi yang bisa kucoba muncul di layar.

Aku mulai memasukkannya satu-persatu.

Tiga kombinasi pertama menemui kegagalan, dan aku baru saja akan beralih ke kombinasi keempat. Menekan angka 3 pada panel, mengikutinya dengan angka 6, lantas—

“Apa yang kaulakukan di sini, Nona?”

Uh, oke.

Apa ini sudah saatnya melakukan sedikit perlawanan?

Mendongak dengan tatap sepolos mungkin, aku mendapati seorang lelaki bertubuh besar yang berdiri di ambang pintu. Sebelah tangan telah siap meraih pistol, namun aku beraksi lebih cepat. Melesat ke balik meja adalah hal yang kulakukan, seraya meraih pistolku sendiri dan menembakkan satu buah obat bius yang—

.

.

BRUK!

 .

.

“Wow, aku tidak menyangka dia akan pingsan dalam satu hantaman.”

Hah?

Memunculkan kepala dari balik meja, aku bisa melihat bahwa pengawal yang memergokiku tadi sudah tergeletak. Sebagai gantinya, seorang lelaki berpostur lebih ramping dalam balutan pakaian serba hitam berdiri di sana. Ekspresi wajah sedikit terkagum-kagum, kontras denganku yang terkejut dan nyaris ingin merutuk.

“Apa yang kaulakukan di sini, Kim Namjoon?!”

Yang kupanggil mendongak, bertukar tatap sejemang denganku sebelum menyilangkan kedua lengannya di depan dada. “Misi ini diberikan padaku, Nona.”

“Tapi, aku sudah—“

“Tepatnya, Seokjin menyuruhku menyusul dirimu.” Namjoon mengedikkan bahu, lantas memandang si penjaga yang masih terkapar dan bergerak menutup pintu. Tak lupa menyeret penjaga tadi ke balik sebuah sofa, kemudian menambahkan, “Omong-omong, orang ini juga tidak akan pingsan tanpaku, tahu.”

“Hei, yang menembakkan obat bius itu a—“

“Tembakanmu meleset,” sahut Namjoon santai, menunduk untuk memungut sebuah jarum yang menancap pada sofa. “Berterimakasihlah karena aku sudah susah-payah berlatih dan berhasil menghantam tengkuknya dengan ujung pistolku—“

Namun, aku tak peduli.

Berderap keluar dari persembunyianku, kubiarkan amarahku meluap begitu saja. Sebelah lengan terulur untuk mendorong Namjoon dengan sebal, tak mengerti mengapa ia—lagi-lagi—harus menjalankan sebuah misi yang sama denganku. Terima kasih apanya? Tanpa dibantu pun, aku pasti bisa meloloskan tembakan kedua yang tidak meleset dan melumpuhkan penjaga itu! Tak lupa dengan menyelesaikan tugasku membuka brankas, lantas membawa dokumen yang diperlukan dan menunjukkan kemampuanku pada pemimpin kami! Tapi, bukannya berjalan sesuai rencana, aku malah bisa mencium bau-bau kegagalan di sini! Semua gara-gara si lelaki yang sok mengaku-ngaku sebagai partner itu, yang sekarang sedang merogoh sesuatu dari balik jasnya dan….

“Ini yang kaucari, kan?”

Oh, shit!

Dammit, dari mana ia mendapatkan itu?!

“Kuhargai usahamu, Agen Lee. Tapi, asal kautahu saja, pesta ini adalah—“

.

.

Tok, tok, tok!!

 .

.

Cklek!

 .

.

“Maaf, tapi para tamu dilarang—“

Ucapan si penjaga yang baru datang itu spontan terhenti. Dan tidak, hal itu tidak terjadi karena aku atau Namjoon menodongkan pistol ke arahnya. Sebaliknya, Namjoon malah langsung meraih pinggangku. Memutar tubuh kami untuk menghalangi pandangan si pendatang dari brankas yang terpampang, mengalihkan fokus orang berbadan besar itu dengan cara….

Sumpah, aku harus menghajar Namjoon setelah ini! Berani-beraninya dia—

“Berhentilah mencoba kabur dariku, Sayang.”

“Ng—“

Satu ciuman Namjoon daratkan lagi pada bibirku, menyusul aksi pertama yang sudah dilakukannya tanpa izin tadi. Sontak mengubah niatku dari ‘menghajar’ menjadi ‘membunuh’, memaksaku untuk mati-matian menahan diri agar tak mengayunkan kepalan tangan pada detik ini juga. Bagaimanapun, aku masih ingat jika kami sedang menyamar dan berusaha menjauhkan penjaga itu dari ruangan ini.

“M-maaf. Er, tolong kembali ke aula utama setelah kalian… em, selesai.”

Selesai apanya?!

Diikuti dengan suara pintu yang ditutup, penjaga itu pun lenyap dari hadapan kami. Meninggalkanku yang kini sibuk mendorong Namjoon menjauh, lengkap dengan pelototan selagi lelaki itu malah memasang senyum menggoda ke arahku.

“Jadi, sudah selesai, nih? Tidak mau dilanjutkan?”

“Kau—“

“Aku menyelamatkanmu, Nona. Tadi itu adalah teknik pengalihan perhatian yang paling ampuh, tahu.”

“Aku tidak minta diselamatkan.”

“Kalau begitu, anggap saja aku sudah membantumu menyelesaikan misi,” sahut Namjoon santai. “Aku sudah mendapatkan dokumennya dan—“

“Di mana kau menemukannya?”

Satu helaan napas dalam Namjoon keluarkan. Lelaki itu membiarkanku menyambar amplop di tangannya, membukanya untuk memastikan bahwa isi dari dokumen itu adalah daftar nama-nama pengedar yang kami cari. Agaknya ia memang sengaja menungguku selesai mengomel, mendorongku untuk memberi anggukan tanda bahwa aku mengakui hasil kerjanya, sebelum bergumam rendah:

“Aku menemukannya di bawah salah satu meja. Ketidaksengajaan, yang menurutku, cukup mencurigakan. Tidakkah kau merasa ada sesuatu yang aneh?”

Alih-alih mendebat, kali ini aku memberi perhatian sepenuhnya pada kata-kata Namjoon barusan. Kening berkerut, seraya aku sibuk memikirkannya. Pupil bergerak-gerak, sebuah kebiasaaan yang pasti muncul jika aku sedang gelisah. Pasalnya, aku mendapatkan info bahwa dokumen itu akan disimpan di dalam brankas. Sementara Namjoon malah menemukannya dengan mudah di atas meja. Kecuali ini adalah candaan yang sangat lucu, aku bisa mencium adanya ketidakberesan di sini. Misi ini terlalu mudah, sesuatu yang baru sekarang aku sadari.

“Agen Kim—“

Namun, ucapanku terpotong kala suara yang serupa dengan bunyi beker di pagi hari terdengar. Menggema keras di dalam ruangan, sementara Namjoon sibuk meraba-raba jas yang ia kenakan. Dengan panik mengeluarkan sebuah perangkat berbentuk segi empat, lantas menekan tombol di atasnya agar bunyi berisik itu mereda.

“Apa-apaan itu?! Kau membawa jam beker portabel atau apa?”

“Ini…” Namjoon mengembalikan benda itu ke sakunya sebelum menjawab, “perangkat baru buatanku. Fungsinya untuk mendeteksi bom, meskipun aku belum sempat menguji cobanya dan—“

.

.

“Baiklah, hadirin sekalian! Sebentar lagi, acara puncak yang berupa pertunjukan sederhana akan kami tampilkan! Mohon untuk tidak meninggalkan lokasi, sementara kami mempersiapkan semuanya! Sepuluh menit tentu bukan waktu yang lama, bukan?”

.

.

Tepukan terdengar di sana-sini.

Dan aku sontak mencengkeram lengan Namjoon dengan ngeri.

“Agen Lee?”

“Ini jebakan. Dokumen itu adalah jebakan. Menurutku, kita bahkan tak akan menemukan dokumen itu di sini.”

“Apa maksudmu?”

Seolah berhasil menangkap semua hal yang tadi kulewatkan, aku bergerak menuju meja yang ada di ruangan ini. Tangan meraih sebuah map yang terpampang di sana, membukanya hanya untuk mendapati bahwa dugaanku memang tepat. Di dalamnya, terdapat kertas berisi daftar nama-nama—sama persis seperti yang ada di tangan Namjoon.

“Kaubilang yang tadi itu alat pendeteksi bom?” Aku berujar cepat, menghubungkan fakta itu dengan pengumuman yang baru saja terdengar semudah menambahkan satu dengan satu. “Kalau begitu, kurasa si Choi berengsek ini memang berniat meledakkan satu gedung.”

“Sepuluh menit,” tambah Namjoon, berpandangan denganku dan bertukar anggukan. Tanpa mengulur waktu, kami pun bergegas bergerak. Dengan sigap menjatuhkan dua pengawal yang berada di depan pintu—sepertinya mereka mendengar suara alarm bom Namjoon dan berharap dapat diam-diam menyergap kami—lantas menegakkan diri dalam waktu nyaris bersamaan. Kami berdua kini berdiri di lorong seraya memutuskan jalan keluar terbaik, sampai aku teringat bahwa seluruh tamu di pesta ini masih berkumpul di aula sana, jelas tidak tahu nasib macam apa yang menanti mereka.

“Agen Kim, tamunya….”

“Kita tidak bisa menyelamatkan semua orang,” balas Namjoon tanpa jeda. “Mana mungkin kita membuat pengumuman di depan semuanya, seperti ‘Para hadirin, sepuluh menit lagi akan ada bom meledak dan kalian semua telah ditipu oleh tuan rumah—

“Serahkan saja padaku, idiot.”

Seraya mengeluarkan lipstik—maksudku, bentuknya saja yang seperti itu—dari dalam tas, aku meraih tangan Namjoon dan mengajaknya melangkah dengan tenang ke aula. Tangan yang lain berpolah menyelipkan anak-anak rambut ke balik telinga, meskipun sesungguhnya aku sedang menekan tombol kecil di bagian dasar lipstik tersebut. Biarkan bunyi mendesis terdengar, sebuah tanda bagiku untuk cepat-cepat menjatuhkan benda itu dan membiarkannya bergulir ke bawah meja. Enam puluh detik berlalu, aku dan Namjoon sudah separuh jalan melintasi ruangan, kemudian terdengar suara ledakan kecil yang disertai asap cukup pekat.

“Siapa yang punya ide menciptakan bom mini tak berbahaya dan dapat digunakan untuk mengalihkan perhatian, tapi tidak tahu kapan harus menggunakannya, huh?”

Namjoon hanya nyengir lebar.

Di belakang sana, kepanikan terjadi. Untunglah aku memilih untuk menggulirkan lipstik tadi ke bawah meja, sehingga satu-satunya kerusakan yang ada terjadi pada meja itu dan tumpukan makanan di atasnya. Beberapa tamu yang berdiri di dekatnya tentu terkejut, tetapi kurasa mereka tak akan terluka—atau setidaknya, bukan luka yang fatal. Satu atau dua goresan adalah pengorbanan kecil yang harus dilakukan, bukan sesuatu yang harus dipikirkan karena rencanaku toh berhasil.

.

.

“SEMUANYA!! KELUAR DARI SINI SEBELUM ADA LEDAKAN LAINNYA!!”

.

.

Namjoon-lah yang kemudian meneriakkan kata-kata tadi, membiarkan rasa takut menyebar makin luas dan memicu semuanya untuk berlari keluar. Kerusuhan terjadi, dan pada saat itulah Namjoon kembali mengaitkan jemari kami seraya menarikku keluar. Mengajakku menyusuri lorong yang ada di sebelah kiri, telunjuk terarah pada pintu yang akan membawa kami keluar dengan lebih cepat.

“Pergilah.”

“Apa yang—“

“Pergilah. Ada sesuatu yang harus kulakukan.”

“Ini bukan saatnya bersikap sok keren, Agen Kim.”

Tapi, Namjoon hanya tersenyum. Mendorongku, lantas dengan sengaja memanggil tamu-tamu lainnya agar keluar melewati jalan ini. Praktis membuat sebagian dari mereka—yang memang sudah putus asa mencoba menembus kerumunan—langsung berbelok. Derap kaki terdengar, mendorong dan menarikku yang berusaha mencari Namjoon. Tapi, nihil. Lelaki itu sudah menghilang, entah bagaimana berhasil menyelusup pergi dan meninggalkanku seorang diri.

“Nona, ayo! Jangan melamun di sana!”

“T-temanku—“ Aku mencoba berbicara, namun beberapa orang tamu—terutama para wanita—sudah memegang lenganku dengan penuh simpati dan mengajakku keluar. Kucoba untuk mengatakan bahwa temanku masih ada di dalam sana, tapi mereka tak mendengarkan. Arus manusia membawaku keluar, memaksaku untuk menuruni tangga yang berbatasan langsung dengan halaman samping dengan langkah-langkah limbung. Semuanya terjadi begitu cepat, disusul dengan suara dentuman dan getaran yang mengguncangkan bangunan mewah di belakangku.

Jeritan dan kepanikan makin menguar, sementara bagian tengah dari bangunan mulai terbakar. Asap membubung tinggi, serpih-serpih bangunan bertebaran sementara orang-orang melindungi diri. Mereka yang sudah lebih dulu keluar kini sibuk meracau di ponsel masing-masing, menghubungi polisi, pemadam kebakaran, serta paramedis. Tak ada yang berani mendekat, semua terlalu takut jikalau ada ledakan susulan yang terjadi.

“Si ceroboh itu….”

Tanpa sadar aku menelan saliva, menahan air mata yang entah dari kapan menggenang di pelupuk. Berakhirlah sudah. Aku bukan hanya gagal menjalankan misi, tapi juga gagal dalam menjaga rekanku dari bahaya. Orang bodoh pun pasti tahu, bahwa tak akan ada yang bisa selamat dari ledakan dan kebakaran macam itu. Namjoon pasti sudah… sudah…..

“Bodoh!” Aku mengentakkan kaki ke atas tanah, mengabaikan semua yang berlalu-lalang di sekelilingku. Pun dengan keharusanku untuk mengirimkan laporan ke markas besar, lantaran saat ini otakku tak lagi bisa berfungsi dengan benar. Astaga, apa yang sudah kulakukan? Meskipun aku sebal dengan Namjoon, tapi bukan berarti aku berharap agar lelaki itu tewas dalam misi, kan?

Ini tidak… ini….

“Nona?”

“Maafkan aku, Agen Kim.” Kupeluk tubuhku sendiri, tatap masih terarah pada api yang membara. “Sejujurnya, aku tidak pernah benar-benar membencimu.”

“Benarkah itu?”

“Aku tidak mungkin membencimu, Kim Namjoon. Tidak setelah yang kaulakukan malam ini—“

.

.

“Kalau begitu, bagaimana jika kita berdansa untuk menutup pesta yang menyenangkan ini?”

.

.

“Ap—“

Sekonyong-konyong, tangan seseorang terulur untuk menangkup pipiku. Memaksaku untuk mengerakkan netra, lantas memberikan atensi pada….

Shall we dance?”

“Namjoon?!”

Dua kali ia bertanya tanpa jawaban, maka sang lelaki pun memilih untuk meraih pinggangku begitu saja. Sebelah tangan secara spontan meraih jemariku, menggenggamnya erat-erat seraya ia dengan canggung melakukan beberapa langkah-langkah dansa. Keterkejutan yang masih membayangiku juga tak membantu, mengingat saat ini aku hanya mampu membeku dan membiarkan Namjoon memimpin pergerakan kami.

“Kau… k-kau….”

“Tuan Choi sudah berhasil ditangkap, aku membuntutinya dan mendapati ia hampir kabur dari pintu belakang. Tepat—“ Namjoon mengambil jeda, mungkin bermaksud untuk memberi efek dramatis, “—sebelum ledakan terjadi.”

“Kau….”

“Aku kembali, Agen Lee. Tidak kusangka kau sampai akan menangis begi—OUCH!!”

Sumpah, aku sama sekali tidak merasa terkesan.

Masa bodoh dengan fakta bahwa Namjoon berhasil menangkap Tuan Choi, masa bodoh dengan dirinya yang sekarang mengaduh akibat kupukuli. Setengah mati aku mengkhawatirkannya, dan dia malah menanggapi semua ini dengan candaan? Sesenang itukah ia menggodaku, meremas-remas jantungku dengan berbagai macam kejutan yang ada?

Sialan, sialan, sial—

“Terima kasih sudah mengkhawatirkanku, Agen Lee. Walau kita tidak bisa mengatakan bahwa tujuan misi ini tercapai sepenuhnya—“

“Kita bahkan tak menemukan dokumen apa-apa.”

“Kita menangkap Tuan Choi. Kurasa itu cukup berguna. Dia pasti memiliki segudang informasi, kan?”

“Kau yang menangkapnya.” Aku mengakui dengan enggan, membuang muka kendati Namjoon masih mempertahankan rengkuhannya di pinggangku. “Shit, lagi-lagi aku gagal karena—“

“Aku menangkapnya karena dirimu juga,” potong Namjoon, tatapannya tajam saat memandangku lekat. “Semua yang terjadi malam ini… well, kurasa kita tak akan selamat jika kita tak bekerja sama. Maaf jika aku adalah partner yang buruk.”

Hanya heninglah yang bisa kuberikan sebagai tanggapan, semata-mata karena aku merasa tak pantas menghadiahi Namjoon dengan kata-kata makian lagi. Bahkan, kalau dipikir-pikir, sesungguhnya aku tak pernah membenci Namjoon hingga sebesar itu. Ia cukup berguna, ia memberikan sedikit hiburan di tengah keseriusan tiap misi, ia mencoba membantu meski kadang hasilnya tak keruan. Bisa dibilang aku cukup senang dengan itu—meskipun bukan berarti aku bisa menerima aksinya yang telah mencuri ciuman dariku dan seenaknya berbuat ‘kotor’.

Intinya….

“Kalau begitu, kau tidak keberatan menjadi partner-ku lagi, kan?”

“Terserah.”

Namjoon tertawa renyah, melepaskan tangannya dari pinggangku dan mengambil satu langkah mundur. Seulas senyum berlesung pipi tampak di wajah, selagi ia mencondongkan kepala dan bergumam, “Kalau begitu, bisa dibilang misiku untuk malam ini—“

Tanpa meminta izin atau bahkan mengingat reaksiku saat di dalam gedung pesta tadi, sang lelaki membiarkan bibirnya menyentuh pipiku. Mendaratkan kecupan singkat, sebelum akhirnya menarik diri sambil memasang cengiran. Ia tampak bangga dengan dirinya sendiri, mengabaikan sepenuhnya rasa panas di wajahku sembari melanjutkan, “—mission accomplished.

Dan sekon berikutnya, ia sudah melangkah pergi. Sebelah tangan memutar-mutar kunci mobil yang diambilnya dari saku, tungkai terajut lamat-lamat sementara aku masih bergeming. Biarkan waktu berlalu sebentar, sebelum kesadaran akhirnya mengambil alih dan mendorongku untuk mengejar Namjoon yang malah terbahak seraya memacu kaki menuju sedan hitam di tepi jalan.

“Menjadi partner bukan berarti kau bisa seenaknya menciumku! Hei, Agen Kim! Kau mendengarkan ti—“

“Terima kasih juga, Cantik!”

.

.

.

“KIM NAMJOON!!!”

.

fin.

happy 23rd birthday, leader Kim! ❤

Advertisements

3 thoughts on “[Oneshot] Mission Accomplished

  1. leez

    Aaaaaaaaaaaa gua melting ><
    Namjoon 😍😍 Aaaaaaaasdkkfkgkflkdd Namjoon nya keren unyu sweet astagaaaaa. Sukaaaaaaaaaaaaaa, apalagi genre nya spy. Astaga padahal ff nya bukan fluff 😄 Sayang sama author nya deh 😄😄

    Like

  2. Kya manis banget ><

    Itu Namjoon seenak jidat yeth curi2 ciuman orang /bhaks/
    Trus serasa plot twist pas tiba2 ada bom, ngaduk bgt kak.. 😂😂
    Kirain mereka bakal gmn gt/??/ eh endingnya malah…..au ah, walau rate nya nyampe, aku bacanya ttp gemes sendiri /plak/

    Ah selalu aja enak baca ff kak tsuki ㅋㅋㅋ
    Bahasanya ringan tapi ttp dapet sisi berat ceritanya
    Nice fic kak!

    Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s