[Vignette] A Different Feeling

a-different-feeling-eswg

A Different Feeling

by echaminswag~

[BTS’] Min Yoongi with [OC’s] Park Byeol (Belle) mentioned!KNY
| Genres: AU!, Friendship, Life | Length: ±1300 words | Rating: PG-15 |

I just own the plot and OC!

.

Entah ini sebuah perasaan biasa, ataukah sesuatu yang istimewa. Yang jelas, setelah ini Yoongi tak lagi sama.

.

.

Babak baru di kehidupan Min Yoongi dimulai dari sini.

Sudah bulan kelima Yoongi berada di perantauan. Menjalani profesi sebagai komposer dan penulis lirik dalam sebuah agensi musik di Negara Paman Sam. Keberadaannya di sini bukan tanpa alasan, ia memutuskan untuk mengakhiri kontrak kuliahnya sebagai mahasiswa jurusan teknik demi mengejar mimpinya menjadi seorang musisi.

Mendapat tawaran mengejutkan dari seorang lelaki paruh baya yang kebetulan ditemuinya saat melakukan pertunjukan jalanan setengah tahun silam, nampaknya menunjukkan jalan bagi Yoongi meraih mimpinya. Meski sebelumnya ia harus mendapat berbagai penolakan dari kedua orang tua dan beberapa orang terdekatnya saat memutuskan untuk mengambil jalan ini.

Keberangkatannya ke kota ini pun tanpa mendapat restu dari mereka. Namun, pemuda itu yakin, ia dapat meraih mimpi-mimpinya di sini. Yoongi masih memiliki seseorang yang terus mendukungnya, memberinya motivasi, menjadi teman dan satu-satunya yang memberi semangat―meski terkadang suka mencibir―apapun yang tengah dilakukan olehnya.

Seorang gadis yang kini tengah mengetuk pintu ruangannya dan menyembulkan kepala usai membuka knopnya.

“Belum pulang, Min Yoongi-ssi?”

Yoongi mengalihkan tatap dari layar komputer sejenak demi memastikan bahwa itu sungguh-sungguh orang yang dimaksud. Dan memang benar, gadis yang tengah tersenyum ke arahnya itu memang seseorang yang dibicarakan di atas.

“Oh, kau. Kenapa masih di sini?” tuturnya datar, lantas meraih mouse dalam tangan kanan. Jemarinya lincah menggerakkan tetikus itu kesana-kemari; memindai beberapa aransemen yang kiranya kurang sesuai dan mengubahnya berulang kali.

“Aku selalu pulang paling akhir sebelum kaudatang kemari, asal kautahu.” Terdengar pintu berayun tertutup dan sol sepatu yang mendekat―mengartikan bahwa gadis itu tengah berjalan ke arah Yoongi kini.

“Benarkah?” tanya Yoongi basa-basi.

“Hmm,” Gumamnya. Ia memerhatikan sekeliling ruangan Yoongi yang selalu berantakan dan kotor. Bergidik sebentar, si gadis kemudian mengambil posisi duduk di salah satu spot kosong yang cukup bersih. “Omong-omong, aku tidak melihatmu keluar seharian. Kautidak membutuhkan asupan gizi, Min Yoongi?”

“Aku sudah makan.” Tutur Yoongi seraya mengangkat beberapa bungkus makanan ringan tanpa mengalihkan pandangan dari layar komputernya.

“Camilan?” Pupil gadis itu melebar. “Yang benar saja. Dengan memakan ini kaubisa menghasilkan lagu-lagu bagus?”

“Tentu saja.” Bola kepala Yoongi bergerak, lantas memaku tatap sombong ke arah sang gadis. Ia meraup beberapa lembar kertas dari mejanya dan memberikan kepada gadis itu. “Coba lihat lirik yang telah kutulis.” Ujarnya.

Gadis pemilik rambut panjang sepunggung itu melirik tajam sebelum akhirnya menerima lembaran kertas yang diberikan oleh Yoongi. Alisnya bertaut tak lama kemudian. Terlebih usai membaca deretan huruf cakar ayam yang Yoongi sebut sebagai lirik lagu itu. Si gadis agaknya ingin memberi kepala Yoongi satu pukulan keras agar ia kembali ke jalan yang benar.

“Apa ini? Kausedang marah dengan seseorang atau bagaimana?”

“Kenapa memangnya?”

“Berisi umpatan semua, Yoongi! Kauingin menciptakan lagu atau membuat kamus besar umpatan sedunia?” cibir sang gadis.

“Itu namanya diss rap, Belle. Kupikir kaujuga mengetahui hal-hal semacam ini.”

Belle―gadis itu―menghela napasnya keras-keras. “Iya aku tahu, tapi tidak seluruh liriknya terselip kata umpatan juga, ‘kan, Yoon?”

“Ini style-ku.” Ujar Yoongi masih bersikukuh, lantas menempatkan fokus kembali ke layar komputer.

“Sudahlah terserah.” Belle melemparkan lembaran kertas itu ke si pemilik. “Aku harus pulang.” Tuturnya kemudian.

“Kurasa itu lebih baik daripada kau menggangguku di sini. Pulanglah sana!”

“Benar. Aku juga akan gila lama-lama jika bersamamu.” Berdiri dari tempat duduknya, gadis itu berjalan menjauhi meja kerja Yoongi. “Aku pergi dulu.” Pamitnya.

“Eoh.”

Tangan gadis itu mengepal seolah hendak melayangkan tinju ke arah Yoongi karena merasa kesal dengan pemuda itu. Tetapi saat Yoongi berbalik, ia justru menyelipkan tangannya di sekitar tengkuk kemudian melambai dengan aksen kaku. Belle pun meniti langkah keluar dari ruangan rekannya itu, namun ia buru-buru kembali tatkala mengingat sesuatu.

“Ah, ada satu lagi.”

“Kenapa?”

Gadis itu berkacak pinggang, meski si lawan bicara tidak melihat tindakannya karena lagi-lagi Min Yoongi telah memalingkan wajahnya. “Tolong bereskan benda pipih berwarna hitam yang kautitipkan di mejaku itu sebelum aku melemparnya dari atap gedung, Min Yoongi-ssi.”

Mendengar itu, Yoongi lekas memutar kursinya demi menatap Belle yang tengah bersungut marah karena suatu hal yang tak Yoongi mengerti. Gadis itu masih mendengus disertai airmuka marah yang―sepertinya―dibuat-buat. Melihatnya seperti ini, ada sesuatu dalam diri Yoongi yang berdentum hebat. Saat marah saja, gadis ini begitu menarik baginya.

“Apa maksudmu?”

“Ponselmu, Yoon. Aku bisa gila karena benda itu terus berdering dari pagi dan kaubilang tidak bisa diganggu. Jika memang kau sibuk, sebaiknya kaumatikan saja ponselmu! Jangan dititipkan sembarangan.”

“Ada apa dengan ponselku?”

Belle mengangkat telunjuknya ke belakang; menunjuk ruang kerjanya yang berhadapan dengan milik Yoongi―tempat di mana ponsel Yoongi masih tergeletak rapi di atas mejanya yang seharian ini telah membuat mood Belle berantakan.

“Kekasihmu menelepon terus, tuh!” ungkapnya tegas.

“Kekasihku?”

“Di sana tertulis ‘Kim Nayeon’ dengan emoji hati, bukankah dia kekasihmu?”

Min Yoongi tidak tahu apa yang terjadi dengan hatinya. Tetapi, ketika mendengar nama Kim Nayeon disebut, ia merasa asing dengan nama itu. Bahkan tidak terjadi reaksi apa-apa, pemuda itu hanya diam sambil memandangi Belle dalam. Sebaliknya, sosok cerewet yang suka menghina gaya bermusiknya ini justru terngiang sepanjang malam menjelang tidurnya.

Entah bagaimana menyebutnya, tetapi kisah Min Yoongi ini layaknya remaja belasan tahun; seorang lelaki yang telah memiliki kekasih jatuh cinta dengan gadis lain yang merupakan tipe idealnya selama ini. Gadis yang memiliki hobi serupa dengan dirinya ini―yang bertemu secara kebetulan sebagai rekan dalam sebuah agensi musik―menjadi salah satu objek yang sulit dihiraukan eksistensinya.

“Oh.”

“Hanya itu?”

“Lantas, mau apa?”

“Sudahlah, aku benar-benar harus pulang. Sampai bertemu besok.” Baru tiga langkah berjalan, Belle kembali memutar tubuhnya. “Oh, dan jangan lupa urusi ponselmu itu! Bye.”

Yoongi menatap gadis itu berjalan pergi seraya mengibaskan tangan di udara sebagai tanda sampai jumpa. Setiap gerakan yang diciptakan oleh Belle selalu membuat Yoongi tidak mampu menahan diri. Nyaris setengah tahun bersama si gadis, agaknya merubah pendiriannya selama ini. Ada banyak hal yang Yoongi rindukan di kota asalnya, namun ada lebih banyak hal yang harus Yoongi capai di sini. Salah satunya, gadis ini.

“Bel, tunggu.” Cegah Yoongi. Gadis itu berhenti di ambang pintu, berbalik sembari menautkan alisnya. “Ini sudah malam dan kau seorang perempuan. Kuantar pulang, oke?”

“Tumben kauingat jika aku seorang perempuan.” Terkekeh sebentar, Belle kemudian melipat kedua tangannya di depan dada. “Baiklah. Mobilku juga sedang di bengkel karena ringsek tempo hari. Menumpang padamu sesekali boleh, ‘kan?”

Min Yoongi yang tengah memunguti sampah dan membuangnya ke tempat sampah pun harus menghentikan pergerakannya usai mendengar penuturan dari Belle barusan. Ia mengambil tas dengan tergesa dan segera berjalan sembari memindai gadis itu dari ujung rambut hingga kaki.

“Ringsek? Kau baru mengalami kecelakaan?”

Belle menggeleng. Ia tersenyum guna memudarkan kekhawatiran rekannya ini. “Tidak, bukan aku. Tetapi kakakku.” Tuturnya.

“Gara-gara badai kemarin?”

“U- oh, ya, benar karena itu.” Si gadis mengangguk-angguk sambil berjalan keluar ruangan Yoongi.

“Sebentar, kuambil ponselku dulu.”

 “Baiklah.”

Yoongi segera berlari masuk ke ruangan Belle usai menuntaskan kalimatnya dan mendapat balasan demikian. Cukup beberapa detik saja, ia sudah melesat keluar dan kembali menutup pintu lantas mengajak Belle berjalan ke area parkir.

“Bagaimana keadaan kakakmu sekarang?” tanyanya kemudian.

“Sudah membaik setelah tiga hari di rumah sakit.”

“Pantas kautidak masuk kerja. Harus menemani kakakmu?”

Alis gadis itu kembali bertaut. Garis senyumnya terangkat sebelah seolah sedang menggoda rekannya ini. “Kau memerhatikannya, Yoon?” tanyanya.

“A- ah, teman-teman bergosip dan aku tidak sengaja mendengarkannya. Seperti itu.” Jawabnya terbata yang justru membuat Belle terbahak sebentar. Merasa sedikit salah tingkah, pemuda itu segera melangkah masuk ke dalam mobil dan mengisyaratkan untuk Belle masuk ke sana. Ia mengemudikan mobilnya tak lama kemudian.

“Tapi kupikir kautidak sepandai itu mengerti apa yang mereka bicarakan, Min Yoongi. Kausendiri yang bilang, Bahasa Inggrismu sedikit, eum, bermasalah.”

“Wah, apa ini? Mengejekku lagi?” Yoongi berdecak. “Yang kubilang saat itu, aku tidak pandai merangkai katanya, tetapi aku dapat mengerti maksudnya. Aku dapat berbahasa Inggris meski tidak lancar sepertimu, Park Byeol.”

Masih tertawa, Belle menepuk-nepuk pundak Yoongi. “Ahaha, aku tahu, Min Yoongi. Tidak usah marah-marah seperti itu.”

“Kau yang memulainya―”

“Berhenti!”

Yoongi segera menginjak pedal remnya. Matanya mengerjap beberapa kali karena terkejut sebelum akhirnya menatap Belle dengan sorot marah.

“Kau ini gila atau bagaimana? Mengapa menyuruhku berhenti mendadak dan―”

“Mengomelnya nanti saja. Beruntunglah dirimu masih ada restoran yang buka jam segini.” Ujar Belle sembari melepas seat belt-nya.

“Apa maksudmu?”

“Turun!”

“Ap―”

“Kauharus makan, Yoongi!”

Min Yoongi tertegun. Sorotnya mengikuti langkah gadis itu mengitari bagian depan mobil menuju pintu kemudi. Ia mengetuk-ngetuk kaca mobilnya sambil meminta Yoongi untuk cepat turun sebelum restoran tutup.

Melihat gadis itu berkacak pinggang seraya menunggunya keluar, Yoongi kemudian menyadari suatu hal. Begitu banyak yang telah berubah setelah dirinya datang kemari. Hal yang paling Yoongi rasakan perubahannya adalah… perasaannya.

Entah ini sebuah perasaan biasa, ataukah sesuatu yang istimewa. Yang jelas, setelah ini Yoongi tak lagi sama.

 

 

 

 

fin.

A/N:

  1. Setelah menjalani masa wamil (re: KKN) yang melelahkan (tapi menyenangkan), akhirnya echaminswag~ kembali ke BTSFF tercinta ❤
  2. Bawa kapel baru (sebenernya cuma manas-manasin hubungan YooNay biar ngga datar-datar aja sih). Kenalin Park Byeol a.k.a Belle adiknya Park Kyung (Block B), 93L, bekerja di agensi musik bareng Yoongi, lahir dan tinggal di NYC tapi sesekali main-main ke Korea buat nengokin nenek-kakeknya, bisa memainkan alat musik (terutama gitar dan piano). (Visual: Izumi Haru)

belle

  1. Yang nggak sengaja ngeklik dan baca sampai akhir, tinggalkan jejak juseyooo 🙂

Regards,
echaminswag~

Advertisements

18 thoughts on “[Vignette] A Different Feeling

  1. Andwaeeeee….

    Kok, baca ini aku nyesek yaa… inget hub Nayeon sama Yoongi yg sweet itu dan skrng Yoongi mulai berpaling
    😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭

    Like

    1. jangan nyesek kaaaak huhuhu mending bantuin nayon lemparin minyoongi pake pancinya kaseok wkwk XD
      makasih sudah mampir baca yaa kak ❤

      Like

  2. O JADI FF INI YG NANYA NANYA DISS RAP KEMAREN O

    Sik aku sepeceles.
    ASTAGA IPIN KENAPA BENERAN MASUKIN ORANG KETIGA DIHUBUNGAN YOONAY? AKU ANTARA MAU NGEKEK SAMA
    KASIHAN DENGAN MBANAY😂😭😂 etapi gapapa sih sesekali mbanay di selingkuhin gapapa, ditinggalin sekalian, kalau perlu ditinggal nikah /digebuk/ biar entar mbanay nyari yg lain juga, siap siap lirik 28 bulir kelereng di blog sebelah ya mbanay /plak

    Dah ah, lama lama ntar makin ngawur yg ada hahaha bhay yyh syg jsh😘😘

    Like

    1. WAKAKA YO GOSAH DIBILANGIN DI SINI JUGA MBA /balangin upin/

      NAYON NGGA LENJEH KAYA YOONGI TOLONG /dibalang/ dia setia meskipun yoongi di sana nyari cewe baru, nayon tetep setia sama minyoongi pd-nim /.\ getau tapi kalo tar dia ketemu ojin ya wkwkwk

      mamacih sudah mampir baca upincuu~ ❤

      Like

  3. Kok saya mewek bacanya ㅠㅠ
    Jujur aku baru pernah baca sesekali aja fic nya YoonNay but kenapa rasanya ikut sedih pas tau Yoongi berpaling /ngambil tisu/ /ga

    Fix ini mesti ada lanjutannya, mungkin entar Nay nyusul Yoongi ke NY trus kaget pas tau Yoon yg diajak ldr ga angkat teleponnya gegara yeoja baru /nahyo/ (malah bikin plot sendiri /plak)

    Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s