[Vignette] Of Songwriter Block and Random Talk

cfk3-nqvaaahxdc

Of Songwriter Block and Random Talk

a vignette by tsukiyamarisa

BTS’ Namjoon, OC

1100+ words | AU, Life, Friendship | T

.

“Kau sedang berbicara dengan seorang pesimis sejati di sini, Kim Namjoon.”

.

.

.

“Kukira kau sedang bersama Yoongi Hyung.

Kim Namjoon sama sekali tak menyangka akan mendapatkan seorang teman, tidak saat ia berpikir bisa menikmati suasana malam di rooftop studio seorang diri. Sang lelaki pikir, tidak akan ada orang yang mau keluar malam-malam begini, tepat di awal musim gugur ketika udara mulai mendingin dan angin berembus kencang. Tidak selain dirinya, yang memang sudah terlampau penat memelototi kertas kosong dan butuh perubahan suasana.

Lagi pula, ini sudah jam sebelas malam.

“Katanya dia butuh waktu sendiri.” Gadis itu menjawab, menoleh sedikit untuk menatap Namjoon dan menawarkan seulas senyum simpul. “Jadi, kubiarkan saja. Meskipun mungkin… ia akan mengomeliku setelah ini.”

“Mengomeli?” Namjoon mengambil tempat di samping Minha, sang gadis bersurai cokelat. Ia menopangkan kedua lengan di atas pagar pembatas dengan alis terangkat. “Kenapa?”

“Alergi dingin,” jawab Minha, sedikit tertawa seraya ia menunjuk hidungnya yang mulai memerah. Baru Namjoon sadari, teman bicaranya malam ini terbenam dalam hoodie milik Yoongi, tampak kedinginan tapi memilih untuk tetap berada di rooftop. “Malam ini bulan purnama. Membantuku mencari inspirasi.”

Namjoon mengangguk-angguk. Ini bukan kali pertama ia mendapati Park Minha berada di studio hingga larut. Kendati gadis itu berkuliah di jurusan literatur, namun ia kerap menyumbangkan ide-idenya dan membantu menulis lirik lagu. Namjoon juga pernah melihat hasil lirik buatannya, dan bisa dikatakan kalau ia terkesan.

“Ajari aku bagaimana caranya melakukan itu,” ucap Namjoon tiba-tiba, mendongakkan kepala untuk menatap langit malam. “Kau membantu Yoongi dan Jimin, kan? Lalu, kau juga masih bisa menulis berbagai cerita untuk tugas kuliahmu. Dari mana tepatnya semua ide itu datang?”

Writer block?”

Songwriter block mungkin lebih tepat.” Namjoon mendengus, lantas mengacak-acak rambutnya dengan frustasi. “Aku sudah mendapatkan idenya, aku tahu apa yang aku mau. Tapi, tepat di tengah-tengah menulis, tiba-tiba saja semuanya buyar. Argh, Yoongi Hyung akan membunuhku jika bagianku tidak kunjung selesai!”

“Memang kau mau membuat lirik macam apa?”

“Aku bermaksud untuk membuat lagu yang penuh harapan,” gumam Namjoon. “Bukan yang membuat pendengarnya makin depresi.”

“Mungkin kau butuh teman bicara,” usul Minha, sekaligus menawarkan dirinya untuk mengisi peran tersebut. “Itulah yang Yoongi lakukan. Menyeretku kemari, meminta pendapat macam-macam, kemudian menyuruhku untuk tidak menganggu sampai lagunya selesai.”

Minha lantas menutup kata-katanya dengan gelak tawa ringan, sementara Namjoon menahan diri untuk tak memberi komentar. Pada umumnya, gadis-gadis pasti akan mengucapkan kalimat macam tadi dengan nada bersungut-sungut. Tapi, tidak dengan Minha. Sejak dulu Namjoon juga sudah menganggap hubungan mereka berdua—Yoongi dan Minha—itu aneh. Sungguh sangat aneh, malah. Sayang, komentarnya itu malah mendapat pelototan dari kedua belah pihak, disertai dengan penegasan, “Kalau tidak mengerti, diam saja, oke?”

Oke, Namjoon memang tidak akan menyatakan pendapatnya untuk perihal yang satu itu.

Tapi, bukan berarti ia bisa mengabaikan tawaran Minha tadi.

“Kau percaya dengan harapan?”

Namjoon memulai topik itu dengan satu tanya, kepala tak lagi menatap langit. Alih-alih, lelaki itu menundukkan kepalanya untuk menatap jalanan yang terbentang di depan studio—tak terlalu besar dan dipenuhi kendaraan yang diparkir. Beberapa orang juga masih berlalu-lalang di sana, membuat Namjoon berpikir apa kiranya jawaban yang akan mereka berikan atas pertanyaannya barusan.

Tentu saja, ia tak akan pernah tahu.

Satu-satunya jawaban yang Namjoon dapat adalah dari Minha, yang kini menopangkan kepala pada sebelah tangan seraya menatap Namjoon. “Sejujurnya?”

“Tentu saja.”

“Kalau begitu, jawabannya tidak.”

“Tidak,” ulang Namjoon.

“Kau sedang berbicara dengan seorang pesimis sejati di sini, Kim Namjoon.”

“Kalau begitu, bisa-bisa lirikku terdengar makin depresi nanti.”

Minha membalasnya dengan gumam ‘maaf’, membiarkan hening datang sejemang sebelum akhirnya ia mengimbuhkan, “Ingin tahu alasannya?”

Yang ditanya mengangguk cepat.

“Aku percaya jika dunia ini tidak adil,” sahut Minha, memulai penjelasannya. “Sejak dulu seperti itu, maksudku… kautahu betapa susahnya bagiku, bagi kakakku, bagi Yoongi, untuk hidup seperti orang-orang normal lainnya.”

Yeah, tentu.”

“Semua orang mengharapkan hidup yang bahagia dan normal, bukan?” Minha meneruskan. “Tidak ada gunanya berbohong, karena pada satu titik di kehidupan, kita pasti pernah berharap seperti itu. Namun, apakah semua orang mendapatkan kesempatan? Apakah semua perjuangan mendapat akhir yang bahagia? Apakah semua orang memiliki cukup waktu untuk mencapai apa yang mereka inginkan? Tidak. They say that hardwork won’t betray, I say that it’s a total bullshit.”

Wow.

Sang lelaki meresapinya dengan mulut ternganga, tak yakin harus menjawab apa lantaran ia tak pernah memiliki cara pandang seperti itu sebelumnya.

“Selain itu, beberapa orang yang tak beruntung akan berakhir memiliki kehidupan yang buruk dan bisa saja menjadi orang yang buruk pula. Tapi, bagaimana seandainya jika mereka ingin berubah? Bagaimana jika mereka mau, namun mereka tak punya cukup kesempatan atau waktu?”

“Kau mencoba melihat dunia ini dari sisi negatif,” balas Namjoon pada akhirnya, meskipun ia sama sekali tak menyelipkan nada menuduh di sana. “Mengingatkanku jika hitam pasti masih ada di balik putih.”

Minha mengedikkan bahu, mengeluarkan sebungkus cokelat dari dalam saku hoodie, lantas menggigitnya sedikit sebelum melanjutkan, “Aku terbiasa mencemaskan segala sesuatu, bahkan yang belum terjadi. Terkadang aku berharap agar kebiasaan ini hilang, tapi setelah kupikir-pikir, hobi mencemaskan segalanya tidak buruk-buruk amat. Aku selalu membayangkan kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi, dan itu….” Satu tarikan napas dalam sebagai jeda. “Itu… membantuku untuk menjadi lebih siap ketika hal buruk benar-benar terjadi.”

“Semacam… harapan dari sisi negatif.”

“Hei, aku tidak selamanya negatif, tahu,” balas Minha tanpa jeda, memberikan sorot kesal kepada Namjoon. “Dan sebelum kau salah mengartikan, aku juga masih memiliki harapan yang positif.”

“Katanya tadi kau tidak percaya?”

“Aku memilih untuk tidak percaya….” Minha menghela napas, tampak lelah. “Tapi, bukan berarti aku tidak bisa berharap, kan? Itu manusiawi, Kim Namjoon. Kau memiliki harapan yang baik, lalu di lain waktu kau mulai berpikir jika semua akan berakhir buruk. Apa yang salah dari itu?”

“Tidak ada yang salah,” sahut Namjoon. Lelaki itu lantas memikirkan kata-kata Minha selama beberapa detik, merangkai kata untuk menyalurkan pendapatnya sendiri. “Hanya menurutku, kau mungkin harus mulai percaya dengan harapan baik. Itu juga membantumu untuk bertahan, tahu?”

“Persis seperti kata-kata Kak Jimin.” Minha mengulum senyum. “Yah, itu bukan saran buruk dan bukan kali pertama aku mendengarnya. Jadi, sebelum aku mendengar ceramah, aku hanya akan berkata bahwa aku sudah mencobanya. Well, masih mencobanya.”

Pernyataan tersebut agaknya menutup topik konversasi mereka, selagi keduanya kembali sibuk dengan pikiran masing-masing. Namjoon sendiri kini sudah beralih mengetuk-ngetukkan jemarinya pada pagar besi di rooftop, membentuk irama yang serupa dengan lagu buatannya, selagi otak berusaha menyematkan lirik-lirik yang kini mulai muncul di dalam benak.

“Kurasa aku akan kembali pada pekerjaanku,” ucap Namjoon setelah sepuluh menit berlalu, tampak puas dengan apa yang ia peroleh. “Terima kasih untuk obrolan barusan, Park Minha.”

Minha membalasnya dengan anggukan dan lambaian tangan, membiarkan Namjoon melangkah pergi lebih dulu. Namun, belum sampai lelaki itu tiba di tangga, Minha kembali membuka mulutnya. Bermaksud untuk membuktikan bahwa ia memang masih mencoba untuk percaya pada harapan, setidaknya meskipun harapan itu ditujukan untuk hal-hal yang kecil.

Hal-hal kecil seperti….

.

“Hei, Kim Namjoon! Kalau begitu, aku akan berharap agar kau lancar mengerjakan lirikmu! Fighting!”

.

.

fin.

sebelum ada yang tanya apa ngejekin (?):

Nggak, Park Minha nggak berniat melirik Kim Namjoon, kok. Itu cuma ngobrol aja, serius u,u

((dan tbh, saya juga nggak tahu kenapa tiba-tiba nulis beginian))

Advertisements

One thought on “[Vignette] Of Songwriter Block and Random Talk

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s