[BTS FF Freelance] Dia Jelek – Oneshot

dia-jelek-cv

Dia Jelek

By

riria ly

BTS’s Jungkook | Jeon Yujeong (OC) | NCT’s Jaehyun a.k.a Jung Jaehyun

au, comedy,  family, slice of life  | G | Oneshot

Jungkook belong to God, his parents and his agency but the story of Jeon Sibling Series is mine. Warn: typo, gaje, OC

***

Kesimpulanku sih dia itu jelek

****

Jika bukan karena cewek itu, Jungkook ogah-ogahan menginjakan kakinya di tempat yang mungkin saja  bisa membuat hidupnya terganggu. Tapi ia berpikir dua kali untuk tidak melakukan hal tersebut, pasalnya hidupnya sedang ada di ujung tanduk sekarang.

Sekali lagi ia membenarkan outfit yang mendukung penampilannya bak ninja yang kesasar di siang bolong. Niatnya sih sedang menyamar tetapi samarannya itu justru mengundang perhatian banyak orang disekitarnya.

Dia memungut ponsel dari saku jaketnya, kemudian mendial nomer satu.

Satu menit, dua menit, tiga menit, dan Jungkook kembali memasukan ponselnya.

“Ah begitu ya sekarang, akan kubalas kapan-kapan,” sentaknya sebal, ia kemudian kembali melangkahkan kakinya, menghindari bertatapan dengan orang-orang yang berlalu lalang di salah satu kampus terkenal itu. Tapi masalahnya ia tidak tahu mau pergi kemana, sehingga ia hanya berputar-putar tak jelas sepuluh menit berikutnya.

Karena bolak-balik tak jelas—ditambah penyamaran super hot itu, tenggorokan Jungkook terasa kering. Jungkook memang tak tahu kemana tujuannya—tapi ia tak sebodoh itu untuk tak tahu dimana letak tempat yang bisa menghilangkan rasa hausnya.

Jungkook baru saja memasuki sebuah café kecil saat mata tajamnya menyadari kehadiran seseorang yang sangat sangat ia kenal. Dan rasa kesal membuncah menggeroti hatinya begitu mengetahui apa yang dilakukan orang itu.

Yakk Jeon Yujeong!” Untung Jungkook mengenakan masker, bisa-bisa dia akan diusir oleh pemilik café itu. Tapi itu tidak penting sekarang, yang terpenting adalah ekspresi yang ditampilkan oleh cewek itu—seolah dirinya adalah kecoa yang perlu di operasi?

“Kau kenal dia?” Sejenak Jungkook lupa akan kehadiran cowok itu—badannya jangkung dan kulitnya putih, jelek sekali.

“Sepertinya,” balas Yujeong membuat Jungkook menggumamkan sumpah serapah tak jelas karena maskernya. “Kenapa kau kemari? Sudah kubilang ‘kan aku ngga mau menuruti perintah konyolmu itu,” tambah cewek itu dengan suara pelan.

“Kaupikir aku bakal nyerah gitu aja?”

“Pokoknya tidak, sana pergi!” Dengan jahatnya Yujeong mengusir dirinya.

“Dia siapa?” Jungkook memandang cowok jelek itu tak suka, bisa tidak dia menutup mulutnya—syukur -syukur enyah dari tempat ini sekarang juga.

“Tetangga sebelah.” Jungkook menatap Kakak tercintanya itu tak percaya.

Tetangga sebelah? Oh yang benar saja. Dia menggeser kursi agar bisa duduk, kemudian meneguk habis jus jeruk di meja yang entah milik siapa—ia berharap bukan milik cowok itu, bisa-bisa ia ketularan jelek(?).

“Akan ku adukan pada Eomma kata-katamu tadi itu.”

“Kenapa kau tak pernah bilang jika adikmu salah satu member BTS?” Mata Jungkook membulat, ia baru sadar telah melepaskan maskernya. Kemudian cowok itu cepat-cepat memakainya lagi.

“Kenapa tidak sekalian pakai karung saja.” Semenjak insiden ‘sms’ itu Yujeong memang selalu sensi padanya akhir-akhir ini, berlebihan sekali bukan? “Ya karena aku tak mau mendadak jadi tukang pos. Lagipula dia ini hanya tetangga sebelah kamarku,” tambah Yujeong sembari menatap cowok yang duduk di depannya.

Yakk jangan bilang kau masih merajuk soal sms itu, aku kan cuma bercanda,” kata Jungkook setelah menyisihkan sebagian harga dirinya.

“Kebetulan sekali orang itu adalah salah satu korban kebiadaban ‘sms’ mu, cepat minta maaf.” Yujeong menunjuk cowok itu dengan pandangan matanya.

“Aku sudah tidak mempermasalahkannya kok,” balas cowok itu kelewat ramah—Jungkook mau tak mau tersenyum sepintas mengingat ‘sms’ yang dikirimkan kepada beberapa orang teman Yujeong, kira-kira dia ini yang mana ya?

Tuh ‘kan dia saja sudah tak mempermasalahkannya, masa kau tidak sih,” Jungkook menuntut(?).

“Sayangnya aku tidak sebaik Jaehyun Sunbae.” Jika dia Jaehyun berarti—Jungkook menahan diri agar tak terbahak, kemudian menatap pria itu—tanpa tampang bersalah sama sekali.

“Hidup jangan terlalu dibuat serius, ‘kan?” kata member termuda BTS itu.

Jungkook ingin setidaknya cowok di depannya itu tersenyum sinis, tapi senyumnya benar-benar tulus, tipe Yujeong sekali.

“Bolehkah aku meminta tanda tanganmu, sepupu perempuanku sangat menyukaimu.”

“Ah tentu saja,” balas Jungkook sok. “Keluarkan selembar kertas dan pulpen,” suruhnya pada Yujeong, yang dengan ogah-ogahan menurutinya.

“Apa bagusnya sih dia, kenapa sepupumu bisa suka,” kata Yujeong jahat. Jungkook menghentikan sejenak acara tanda tangannya untuk memprotes cewek itu—dengan mengatakan betapa berbakatnya dia, tak ketinggalan soal gelar golden maknae yang ia dapat.

“Yeorin selalu mengatakan bahwa adikmu itu luar biasa.”

Cih.”

Jungkook menyerahkan kertas itu pada Jaehyun setelah selesai menulis nama Yeorin, cowok tampan itu menggumamkan terimakasih.

“Aku ada kelas sebentar lagi, jangan lupa untuk besok Yujeong-ah.”

“Besok?” Jungkook mengernyit bingung.

“Aku mengajak Kakakmu jalan, boleh ‘kan?”

Tidak boleh, tentu saja.

“Kau ada janji mengajariku Matematika besok Yujeong-ah”, seru Jungkook tiba-tiba.

“Kapan aku pernah berjanji seperti itu?” Yujeong menatap penuh selidik pada Jungkook.

“Kau jelas mengatakannya minggu kemarin,” Jungkook bersikeras, cowok itu menatap Jaehyun seolah dengan jelas berkata kau-harus-membatalkannya-kan?

“Kalau begitu bagaimana jika minggunya?” Jaehyun menawarkan opsi lain.

“Ada acara keluarga,” Jungkook membalas cepat, memutar otak untuk menemukan agenda keluarga yang cocok.

Eomma ngga pernah bilang begitu tuh.”

“Dia baru memberitahuku semalam dan  menyuruhku untuk pulang, acara 1000 harian kakek meninggal katanya.” Hanya itu yang terlintas di otak kecil Jungkook.

“Masa sih? Bukannya Harabeoji meninggal di musim semi ya? Jadi harusnya sekitar musim dingin.”

“Kau salah ingat mungkin, Eomma bilang begitu semalam.” Membodohi orang yang selalu dapat peringkat pertama di kelasnya memang sulit, terlebih orangnya macam Yujeong.

Ngga mungkin,“ kekeh Yujeong.

“Kalau tidak bisa tak apa Yujeong-ah, mungkin lain kali.”

Aniya Sunbae—“ Jungkook memotong lagi, “Tuh ‘kan Jaehyun Hyung sama sekali ngga keberatan.” Cowok itu menatap senior Yujeong untuk meminta persetujuan.

“Yah mau bagaimana lagi, sepertinya kau selalu sibuk akhir-akhir ini.” Jaehyun tampak mengusap belakang lehernya canggung.

“Lagian kalian ini kan satu kampus, ngga perlu kencan segala macamlah, kan sudah ketemu hampir setiap hari.” Yujeong memberikan pelototan pada adik semata wayangnya itu. Jungkook mengartikan pelototan itu seperti kau-ingin-noona-mu-menjomblo-selamanya-ya?

“Kalau begitu kami duluan ya Hyung, Eomma menyuruh kami untuk cepat pulang.”

“Sejak kapan kamu nurut kalo Eomma suruh pulang?”

“Baru saja.” Jungkook menarik tangan Yujeong agar cewek itu berdiri, kemudian menepuk punggung Jaehyun sok akrab—sembari tersenyum jahat penuh kemenangan, dan ‘menyeret’ Yujeong ke tempat mobilnya terparkir.

**

“Kau cuma mengarang yang tadi, ‘kan? Kau ingin menghancurkan kencanku,” geram Yujeong setelah 15 menit perjalanan yang dipenuhi monolog Jungkook.

“Tepat sekali!”

Yakk, apa maumu sih?”

“Turuti permintaanku dan masalah selesai.” Wajah Jungkook makin cerah, ia sudah semakin percaya diri sekarang bahwa kakaknya itu akan menuruti permintaannya.

Yujeong mendengus. “Bohong banget, kau ngga akan pernah membiarkan hidupku tenang.”

Lagian apa bagusnya sih dia, tampang biasa begitu.”

“Biasa?”

“Dilihat dari mukanya, otaknya pasti ngga jauh beda dari aku,”

Ngga jauh beda?”

“Memang sih tadi dia ramah, tapi menurutku dia lagi cari perhatian.” Jungkook terlalu fokus pada jalanan Seoul sehingga tak menyadari kakaknya yang sudah panas.

“Cari perhatian?” Ada sesuatu yang tertahan di kalimat tanya itu.

“Kesimpulanku sih dia itu jelek.” Saat itulah Jungkook melirik kearah Yujeong, ia sepertinya cukup kaget menyadari wajah cewek itu yang merah padam. Ia cepat-cepat membuang muka, senista apapun niat Jungkook menjahili Yujeong—pria itu masih punya rasa takut pada kakaknya—terutama di saat-saat seperti ini.

“Jelek kau bilang?” Yujeong mendengus keras, jika telinganya tak salah dengar—cewek itu sudah menghancurkan botol bekas air mineral yang dibeli Jungkook pagi tadi, membuat nyali member termuda BTS itu makin ciut.

“I..ya… dia jelek,” gagapnya.

“JIKA DIA JELEK LALU KAU INI APA? BURUK RUPA? KESALAHAN EOMMA DAN APPA? ATAU KELAHIRAN YANG GAGAL?”

Demi Dewa, sekonyong-konyongnya Jungkook langsung lari terbirit-birit ke dalam rumah—untungnya mereka sudah sampai. Kalau tidak mungkin cowok itu akan menderita cedera ‘fatal’ yang menyebabkannya semakin buruk rupa dimata Kakaknya, tentu saja.

“EOMMA! NOONA MAU MENYERANGKU, TOLONG!” Gelagaran cowok itu bahkan bisa didengar tentangga sebelah.

***FIN***

Jeon sibling again wkwk

Makasih yang udah komen di seri sebelumnya, jangan lupa buat ninggalin jejak lagi ya ☺

/bow/

 

Advertisements

One thought on “[BTS FF Freelance] Dia Jelek – Oneshot

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s