[BTS FF Freelance] I am Not STUPID – (Chapter 4)

poster-4

Title : I am Not STUPID

Author : Yuki yuki

Genre : Romance, Sad, School-Life

Maincast : Ahn Nami (OC) || Jeon Jungkook (BTS) || Lee Juhna (OC) || Kim Taehyung (BTS)

Rating : PG-15

Length : Chaptered

Desclaimer : BTS hanya milik Tuhan, agensi, dan orang tuanya kecuali OC milik author sendiri. Jika ada kesamaan tokoh, judul dan lain-lain adalah ketidaksengajaan. Warning! Typo bertebaran dimana-mana.

Summary

Tidakkah kalian berfikir jika menyatakan perasaan kepada seseorang yang sangat kita sukai di masa lalu kemudian ditolak itu sangat menyakitkan? Seiring berjalannya waktu, bagaimana jika orang itu kembali lagi di hadapan kalian?

 

Preview

“Kau!” ucapku menudingnya dengan telujuk tanganku didepan wajahnya.

“Bersainglah denganku!” sambungku kemudian.

 

//I am Not STUPID//

—OO—

 

Jungkook mendongakkan kepalanya ke atas menatapku. Ia melepaskan satu earphone di telinga kanannya lalu ia menaikkan satu alisnya.

“Bersaing denganmu?”

“Nde. Apa kau berani?”

Jungkook kembali memakai earphone di telinga kanannya lalu membaca bukunya lagi.

“Aku malas.” Ucapnya kemudian.

Aku langsung tertawa simpul lalu kembali menatapnya serius.

“Apa kau takut?” ucapku dengan nada mengejek.

“Ani. Hanya saja itu membuang-buang waktuku.” Ucapnya tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang dibacanya.

“Kau ini benar-benar takut? Hahaha ternyata dugaanku salah. Kukira kau berani bersaing dengank—“

“Baiklah. Aku terima.”

Aku menaikkan satu alisku dan menatapnya bingung. Kenapa ia langsung menerima tawaranku begitu saja. Aku tidak mau pikir panjang dan tersenyum menang. Kurasa ucapanku tadi membuatnya ingin menerima tantanganku.

“Baiklah bagaimana jika kita buat taruhan?” tanyaku dengan tersenyum.

“Kau ingin membuat taruhan?”

Aku mengangguk antusias.

“Taruhan apa yang kau inginkan?” tanyanya lagi tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang dibacanya.

“Jika aku menang, kau harus menuruti apapun yang kuinginkan.”

“Lalu apa yang kau lakukan jika kau kalah?”

Aku langsung terdiam mendengar pertanyaannya tadi.

“I-itu terserah kau. Kau ingin melakukan apapun kepadaku itu terserah kau.” Jawabku ragu-ragu.

Dia tersenyum miring penuh mengejek. Aku berfikir macam-macam takut saja jika ia menang  ia bisa melakukan sesuatu hal yang aneh kepadaku.

“Kenapa kau tertawa?” tanyaku penuh selidik.

“Ani. Aku hanya ragu saja kau bisa mengalahkanku.” Ucapnya tersenyum mengejek.

Aku mendengus kesal mendengar perkataannya tadi. Ia seperti benar-benar mengejekku. Aku langsung pergi dari hadapannya dan keluar dari kelasku ini.

 

KRINGGG….

Tiba-tiba bel masuk pun berbunyi. Satu persatu murid di sekolah ini menuju ke kelasnya masing-masing. Aku tidak peduli jika bel masuk telah berbunyi. Aku benar-benar kesal kepada semua orang hari ini. Ingin rasanya aku membentak semua orang yang berada disekitarku. Aku benar-benar ingin menenangkan pikiranku sekarang. Aku bingung harus kemana. Walaupun bel telah berbunyi, kuputuskan untuk bolos satu pelajaran saja pada hari ini.

Aku benar-benar ingin menikmati hembusan angin yang bisa menerpa wajahku. Aku memikirkan tempat mana yang bagus untuk menikmati hal itu. Setelah kupikir-pikir, kuputuskan untuk pergi ke atas atap sekolah. Aku berjalan menuju tangga dan berjalan menaikinya.

Aku berjalan terus ke atas tangga ini hingga aku berakhir di lantai gedung sekolah ini paling atas. Aku berdiri di depan pintu yang akan membawaku keluar dari hawa panas di gedung sekolah ini. Aku langsung membuka pintu ini dan angin langsung menerpa wajahku. Aku berjalan keluar dan tepat aku berdiri di tepi pagar pembatas. Aku menikmati hembusan angin yang benar-benar menerpa wajahku ini.

Seketika aku langsung teringat apa-apa saja yang terjadi padaku hari ini. Mulai dari Juhna yang marah karena pertanyaanku, teman sekolompokku Kim Daesung dan Kang Jayhan yang tidak mau bekerja sama mengerjakan soal bahasa Inggris tadi, Hana yang sekelompok denganku dan perkataannya membuatku kesal, hingga Jungkook yang meremehkanku karena aku menantangnya tadi.

“Argh….. kenapa semua orang hari ini benar-benar menyebalkan?” teriakku di atap ini sambil mengacak rambutku.

Aku menghembuskan nafasku berat dan menatap pemandangan di depanku dari atas atap sekolah ini. Sesaat setelah merasa pikiranku agak tenang, aku berbalik dan bersandar di pagar kawat pembatas ini. Aku menatap ke sekeliling lantai atas atap ini dan tiba-tiba mataku beralih menatap sesosok orang yang terbaring tidur di atas kursi itu. Aku memicingkan mataku agar aku bisa melihat jelas siapa sosok itu.

Karena tidak terlalu jelas melihat wajah sosok itu yang ia tutupi matanya sendiri dengan satu tangannya, aku bangkit dari dudukku dan berjalan ke arahnya. Saat ini aku berdiri disamping kursi tempat sosok ini tertidur diatasnya. Kupandangi wajah sosok itu yang ternyata ia adalah seorang namja. Aku masih tidak terlalu jelas melihat wajahnya. Aku menundukkan sedikit tubuhku dan menatap wajahnya yang masih ia tutupi dengan tangannya.

Aku berfikir apa namja ini tadi mendengar teriakanku. Tak lama ia menggeser tangannya dan membuka matanya lalu ia menatapku. Aku sedikit terkejut dengan namja ini. Seketika aku membeku melihat wajah namja ini.

“S-sunbae?” tanyaku gugup.

 

Ahn Nami POV End

 

—OO—

 

“Juhna-ya, Gwechana? Sepertinya daritadi kuperhatikan kau tidak bersama Nami. Apakah ada sesuatu yang terjadi diantara kalian?” tanya Soona sambil menyumpit dakgangjung makanannya.

“Ani. Tidak ada sesuatu yang terjadi diantara kami.” Ucap Juhna di sela-sela makanannya.

“Apa kau yakin?” tanya Jeera.

“Nde.” Jawab Juhna singkat.

“Jika kau memang ada masalah, kau bisa menceritakannya kepada kami.” Ucap Nara.

Juhna hanya tersenyum tipis dan melanjutkan lagi makannya. Ya, Soona, Jeera, dan Nara adalah teman dekat. Kebetulan mereka bertiga bisa satu kelompok bersama. Mereka berempat duduk di kursi kantin dengan pesanan mereka sendiri. Soona yang memakan dakgangjung, Jeera dan Nara memesan pesanan yang sama yaitu kangnamulbap, dan Juhna seperti biasa memesan Jjajangmyeon.

“Aku tidak percaya karena Jungkook kita bisa menang dan bisa memesan makanan apa saja yang kita inginkan.” Ucap Soona.

“Tentu. Sebelumnya aku juga tidak percaya jika kita bisa menang seperti ini. Jungkook benar-benar pintar. Bahkan ia bisa mengalahkan Nami.” Ucap Nara.

“Nde. Aku jadi kagum padanya. Menurutku semua yang ada pada diri Jungkook itu sempurna. Coba kalian pikir, bukankah dia sudah tampan, pintar, dan anak dari pemilik sekolah ini. Hhh…kurasa sebentar lagi ia akan menjadi populer di sekolah ini.” Ucap Jeera.

“Ya! Apa kalian lupa?” tanya Soona.

Jeera dan Nara saling memandang satu sama lain lalu menatap Soona kembali.

“Lupa? Lupa apa?” tanya Nara.

“Kurasa aku tidak melupakan apapun.” Sahut Jeera.

“Ck, kalian melupakan Taehyung sunbae. Bukankah kalian berdua juga mengangumi Taehyung sunbae?”

“Omo! Bagaimana bisa aku lupa? Aah… aku tidak akan berpaling lagi pada Taehyung sunbae.” Ucap Nara.

“Nde. Aku juga hampir lupa. Kita baru saja melupakan Taehyung sunbae. Aah… bagaimanapun juga Taehyung sunbae tetap lebih tampan daripada siapapun.” Ucap Jeera.

Juhna yang memakan Jjajangmyeonnya tadi hanya mendengarkan celotehan tiga teman sekelasnya itu.

KRINGGG…

Bel masuk pun berbunyi. Soona, Jeera, Nara, dan Juhna menyudahi makan mereka dan kembali ke kelas.

Saat di kelas, Juhna belum melihat adanya Nami di kursinya. Bagaimanapun ia juga merasa bersalah atas perilakunya yang berlebihan tadi kepada Nami.

Semoga saja ia tidak papa.’ Gumam Juhna.

Ya, pelajaran pada hari itu adalah pelajaran dari Han Ssaem. Pelajaran sejarah yang sangat disukai Nami. Namun sayang, Nami melewatkan pelajaran tersebut dan belum juga kembali ke kelasnya.

 

—OO—

 

“S-sunbae?” tanya Nami gugup.

Taehyung menatap Nami sekilas lalu menutup matanya kembali dengan tangan kanannya. Mungkin karena sinar matahari menyilaukan matanya jadi ia menghalangi sinar matahari itu dengan tangan kanannya. Nami hanya diam memandang Taehyung. Nami tampak memikirkan sesuatu.

‘Bukankah kemarin aku meminta Taehyung Sunbae untuk menemaniku kemarin? Astaga bagaimana bisa aku lupa. Bahkan aku belum minta maaf padanya.’ Pikir Nami.

“Sampai kapan kau memerhatikanku seperti itu?” ucap Taehyung yang sukses membuat Nami berhenti akan lamunannya.

“Sunbae, apa kau masih mengingatku?” tanya Nami yang menunjuk dirinya sendiri.

Taehyung menyingkirkan tangan kanannya yang menutupi matanya lalu menatap Nami lagi.

“Oh… kau. Tentu saja aku masih ingat.” Jawab Taehyung yang kembali menutup matanya dengan tangan kanannya.

“Sunbae, kebetulan kita bertemu disini. Sedang apa kau di atas sini sunbae? Kenapa kau tidak mengikuti jam pelajaran?” tanya Nami yang sedikit penasaran itu.

“Bukankah kau juga tidak mengikuti pelajaran?” jawab Taehyung.

“Kau benar.” Ucap Nami yang menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena malu.

“Apa yang kau lakukan disini? Aku baru melihat jika murid terpintar di sekolah ini sedang bolos di atas atap bersamaku.”

“Aku hanya menenangkan pikiranku saja. Dan kau sunbae? Kau belum menjawab pertanyaanku. Kenapa kau juga ada disini?”

“Tidak papa. Setiap hari aku memang seperti ini. Jadi tak masalah.”

“Kau jarang mengikuti pelajaran? Bagaimana jika nilaimu nanti akan turun?”

Taehyung menyingkirkan tangan kanannya dari matanya lalu bangkit dari tidurnya. Ia masih duduk di kursi yang ia tiduri tadi dengan posisi kaki kanannya yang ia tekuk dan tangan kanannya yang ia taruh di atas tekukkan lututnya itu. Nami sempat terkejut sedikit saat Taehyung yang langsung bangkit dari duduknya setelah ia menanyakan pertanyaan tadi.

“Tidak ada yang akan peduli jika nilaiku akan turun atau tidak.” Ujar Taehyung sedikit menundukkan kepalanya.

“Sunbae! Kau tidak boleh seperti ini. Tentu pasti ada yang peduli dengan kau. Teman-temanmu, guru-guru disini, dan pasti keluargamu.” Ucap Nami yakin dengan memegang bahu Taehyung.

Taehyung sempat sedikit terkejut dengan perilaku Nami yang memegang bahunya. Taehyung melirik tangan Nami yang masih memegang bahunya itu. Nami yang sadar akan perilakunya langsung melepas kedua tangannya.

“Mian.” Ucap Nami yang  merasa sedikit bersalah kepada Taehyung.

“Gwechana. Kau benar jika temanku dan semua guru disini peduli padaku. Tetapi tidak dengan keluargaku.” Taehyung menghembuskan nafasnya berat. Ia mengubah posisi duduknya menjadi ke depan menghadap Nami.  Ia ingin menceritakan hal yang ia tutupi daridulu dengan orang disekitarnya kepada Nami.

“Sebenarnya aku tidak naik kelas setahun yang lalu. Tetapi keluargaku tetap tidak peduli padaku walaupun aku tidak naik kelas seperti ini.” Sambung Taehyung yang sedikit sedih saat menceritakan hal tersebut kepada Nami. Entah kenapa Taehyung hanya merasa ia ingin sekali menceritakan hal ini kepada Nami. Padahal ia baru saja kenal dengan Nami kemarin.

Nami yang merasa Taehyung menceritakan masalahnya kepadanya ikut duduk di samping Taehyung.

“Sunbae, aku tidak tau jika kau mempunyai masalah seperti ini. Kadang tak semua manusia beruntung di dunia ini. Pasti ada beruntung dan ada yang tidak. Setidaknya kau masih bisa melihat keluargamu yang utuh walaupun mereka sesibuk apapun untuk mencari nafkah buat kau dan juga mereka.” Ucap Nami yang menoleh kea rah Taehyung yang duduk di sampingnya.

Nami tersenyum kepada Taehyung saat Taehyung yang juga menoleh ke arahnya. Nami hanya berfikir saat ia mengatakan hal seperti itu kepada Taehyung, ia merasa Taehyung lebih beruntung dibandingkan dengan dirinya. Ia masih bisa melihat keluarganya yang pontang-panting mencari uang untuk kebutuhannya sehari-hari. Sedangkan Nami, ia tidak bisa melihat kembali ayahnya yang sudah meninggal 10 tahun yang lalu saat Nami masih kecil.

Secara tak sadar bulir air mata terjatuh dari pelupuk matanya. Nami sedih ketika ia akan mengingat ayahnya yang sudah tiada itu. Taehyung yang melihat Nami menangis, langsung  menghadap kea rah Nami dan mengusap air mata Nami dengan ibu jarinya.

“Kenapa malah kau yang menangis? Kau ini membuatku khawatir. Jika ada masalah yang sedang kau pikirkan, kau bisa bercerita kepadaku juga.”

Nami menatap Taehyung dan tak butuh waktu lama air mata yang jatuh dari pelupuk matanya semakin banyak.

“Ya! Kenapa kau tambah menangis? Jika orang lain melihat kau menangis seperti ini, orang lain akan berfikir jika aku melakukan hal yang mengerikan terhadapmu. Jadi berhentilah menangis.” Taehyung berhenti mengusap air mata Nami dan menatap Nami yang masih saja mengeluarkan air matanya.

Taehyung melihat Nami yang  mengusap air matanya sendiri dengan tangan kanannya. Taehyung sempat berfikir untuk membuat Nami berhenti dari kesedihannya itu. Walaupun ia tidak tau kenapa Nami bisa menangis seperti itu, pasti naluri pria jika melihat seorang wanita menangis di hadapannya, mereka akan berfikir bagaimana membuat wanita itu berhenti menangis dan bisa tersenyum kembali seperti semula hingga melupakan kesedihan yang sedang menimpanya itu.

“Kajja.” Taehyung langsung mengenggam tangan Nami dan menariknya untuk mengikutinya.

“S-sunbae? Kita ingin pergi kemana?” tanya Nami yang sempat terkejut saat Taehyung menarik tangannya tadi.

“Sudahlah. Kau cukup ikut denganku saja.” Ucap Taehyung tanpa menoleh ke arah Nami dibelakangnya.

Nami dan Taehyung berjalan menuruni tangga yang menghubungkan lantai atas atap itu dengan lantai satu di bawah. Sampai di lantai satu, ia melihat semua keadaan sekolah tampak sepi. Ya, itu karena semua kelas sekarang sedang dalam kegiatan pembelajaran. Taehyung mengajak Nami untuk mengikuti langkahnya itu.

Taehyung memutuskan untuk melewati pintu belakang sekolah daripada pintu depan sekolah. Bisa saja jika ia melewati pintu depan sekolah, ia bisa bertemu guru yang kebetulan juga lewat disana.

Taehyung tetap mengenggam tangan Nami dan mengajaknya ke area tempat parkir motor. Banyak motor murid di sekolah tersebut yang terparkir di tempat itu.

Taehyung melepas genggamannya pada tangan Nami dan menatap Nami.

“Kau tunggu disitu.” Ucap Taehyung kepada Nami yang sekarang sedang menatapnya bingung.

Taehyung berjalan kea rah motor sport besar berwarna merah.

‘Sebenarnya Taehyung Sunbae itu mau mengajakku kemana? Apa ia ingin membawaku ke tempat sepi dan melakukan sesuatu yang mengerikan kepadaku. Ani, ani. Tidak mungkin Taehyung Sunbae melakukan hal seperti itu kepadaku. Pikiranku terlalu berlebihan. Bisa saja dia—‘

“Apa yang sedang kau pikirkan? Jangan berfikir aneh-aneh. Aku tidak akan melakukan sesuatu apa-apa kepadamu yang sekarang sedang kau pikirkan itu. Naiklah!” ucap Taehyung yang sudah berada di atas motor sport miliknya.

“Naik motor ini? Kau ingin membawaku kemana Sunbae?” tanya Nami ragu-ragu.

“Kau cukup naik saja. Kau akan tau sendiri kemana aku akan membawamu  pergi.”

Nami berjalan kea rah motor sport milik Taehyung dan menaikinya dengan ragu.

“Kau siap?” tanya Taehyung yang menoleh ke belakang sedikit melihat Nami yang sudah duduk di belakangnya.

“N-nde. Kau ingin membawaku kemana sunbae?”

Taehyung tidak menggubris pertanyaan Nami.

“Pastikan kau memegangku dengan kuat.”

Nami tidak mengerti perkataan Taehyung.

 

BRUMMM

 

Dan secara spontan Nami berteriak ketika Taehyung menarik gas motornya dengan kencang. Nami sudah memegang pinggang Taehyung dengan kencang. Taehyung telah keluar dari area sekolah.

Taehyung tersenyum saat ia melirik tangan Nami yang sekarang sedang memeluknya. Nami membenamkan wajahnya di balik punggung Taehyung. Ia sekarang benar-benar takut karena Taehyung menyetir dengan kecepatan di luar batas normal.

“Sunbae? Apa kau gila? Kenapa kau menyetir secepat ini?” Nami tidak peduli lagi jika Taehyung adalah sunbaenya. Yang ia pikirkan sekarang adalah membuat Taehyung berhenti mengegas motornya dengan kecepatan di luar batas itu.

“Peganganlah dengan kuat.”

Nami benar-benar mengumpat Taehyung di dalam hatinya. Setelah ia turun nanti, ia akan mengomel kepada Taehyung karena sudah membuatnya hampir jantungan saat ia memboncengnya sekarang ini.

 

—OO—

 

GAME OVER

 

Itulah tulisan di layar PC game yang sekarang sedang Nami mainkan.

“Ah…. Ini tidak seru sekali. Bagaimana bisa aku kalah terus dengan game ini? Menyebalkan…!!” decak Nami.

Taehyung yang daritadi berdiri di samping Nami hanya terkekeh pelan. Ya, Taehyung membawa Nami ke pusat hiburan tempat bermain game. Kali ini Nami berjalan mendekati permainan jangkar yang berisi banyak boneka di dalamnya.

Ia memasukan dua koin lalu menggeser ke kanan kiri dan ke depan belakang untuk mencari boneka yang menjadi targetnya. Nami melihat ada boneka kelinci berwarna putih lucu. Langsung saja ia menggeser jangkarnya kea rah boneka itu lalu saat jangkar itu sudah tepat berada di atas boneka itu, ia langsung memencet tombol take. Jangkar tersebut pun turun. Nami berharap boneka itu bisa terambil. Nami menutup matanya dan memohon doa agar ia bisa mendapatkan boneka tersebut.

“Nami-ya. Kau mendapatkannya.” Ucap Taehyung.

Nami yang mendengar ucapan Taehyung, langsung membuka matanya dan benar saja, ia mendapatkan boneka kelinci putih itu. Nami langsung mengambil boneka tersebut dari dalam kotak berukuran sedang yang sudah tersedia jika orang bisa mendapatkan sebuah boneka. Nami memeluk boneka tersebut dan berjingkrak-jingkrak senang. Baru kali ini ia merasa sangat senang bisa bermain sepuas itu. Daritadi ia bermain di game lain hanya kekalahan sajalah yang ia dapatkan. Giliran ia bermain jangkar, ia langsung menang dan mendapatkan boneka kelinci putih yang sudah menjadi incarannya sejak tadi.

“Bagaimana? Apakah kau senang?” tanya Taehyung tersenyum kepada Nami.

“Nde. Gomawo sunbae, aku sudah sedikit lega sekarang.”

“Aku senang jika kau juga senang. Baiklah, ayo pergi….” Taehyung menarik tangan Nami untuk keluar dari pusat hiburan itu.

“Kita akan kemana lagi sunbae?”

“Ikut saja. Kau akan tau nanti.”

Nami hanya mengerucutkan bibirnya. Ia tau jika ia bertanya kemana mereka akan pergi,  pasti Taehyung akan menjawabnya seperti itu lagi. Taehyung membonceng Nami lagi dan membawanya ke tempat kedai ice cream. Taehyung berhenti di depan kedai itu lalu mengajak Nami untuk ikut masuk bersamanya.

Saat masuk ke dalam kedai tersebut, bunyi bel di atas pintu menandakan jika ada pembeli yang baru masuk.

“Selamat datang di ‘Kedai Rainbow’ kalian ingin memesan ice cream apa?”

“Tolong satu ice cream vanilla dan kau?” tanya Taehyung menoleh kea rah Nami yang berada di sampingnya.

“Aku juga sama seperti sunbae.” Jawab Nami.

“Kau yakin?”

“Nde.” Nami mengangguk setuju meyakinkan Taehyung.

Taehyung kembali menatap pelayan tersebut.

“Pesan ice cream vanillanya dua.”

“Baiklah.” Jawab pelayan tersebut.

Tak sampai 2 menit menunggu, dua ice cream vanilla tersebut sudah jadi. Taehyung memberikan satu ice cream vanilla tersebut kepada Nami lalu membayar dua ice cream yang dibelinya dengan uangnya. Saat Taehyung ingin memberikan uang kepada pelayan tersebut, Nami menahannya.

“Tidak usah sunbae. Biar aku saja yang membayarnya.”

“Tidak usah. Biar aku saja.” Taehyung langsung menyerahkan uang 5000 won kepada pelayan tersebut.

Pelayan tersebut menerima uang Taehyung dan memberikan angsulan 1000 won kepada Taehyung.

“Gamsahamnida. Silahkan datang kembali.”

Taehyung tersenyum kepada pelayan tersebut dan segera keluar dari kedai tersebut diikuti dengan Nami. Sampai di luar, Taehyung menyuruh Nami untuk naik ke motornya lagi. Taehyung menyetir motornya menuju tempat sungai Han. Mereka berdua duduk di tepi sungai Han sambil memakan ice cream mereka.

“Sunbae, gomawo.” Nami menoleh ke Taehyung di samping kanannya dan tersenyum.

“Untuk?”

”Semuanya. Kau telah membawaku ke pusat hiburan dan membelikanku ice cream ini.” Ucap Nami sambil menjilat ice creamnya.

“Tentu. Tak masalah. Apa kau sudah merasa baikan?”

“Nde. Aku sudah merasa baikan sekarang.”

Taehyung menatap Nami lama yang sedang menjilati ice creamnya.

“Kalau boleh tau kenapa saat di atas atap tadi kau menangis?” tanya Taehyung yang menjilati ice creamnya juga namun pandangannya tetap menatap Nami.

Nami sempat terkejut saat Taehyung bertanya kepadanya tentang itu. Ia menoleh ke samping dan mendapati Taehyung yang tengah menatapnya. Nami menjilat lagi ice creamnya lalu mulai bercerita kenapa ia tadi menangis.

“Aku menangis karena aku teringat lagi dengan appaku…” Nami menghembuskan nafasnya berat.

“Appaku telah meninggal 10 tahun yang lalu karena sebuah kecelakaan yang menimpanya. Hhh… tapi aku tidak boleh terus sedih seperti ini. Jika aku terus sedih seperti ini, bisa saja ia tidak akan tenang disana.” Nami kembali menjilat ice creamnya. Sesaat ia tidak mendengar Taehyung berbicara daritadi. Nami langsung menoleh ke sampingnya dan mendapati Taehyung tengah menatapnya.

“Hahahaha…. Sunbae, ada ice cream yang menempel di hidungmu.” Tawa Nami sambil menunjuk hidungnya sendiri untuk menunjukkan Taehyung  dimana letak ice cream itu yang menempel di hidungnya.

Taehyung yang daritadi menatap Nami langsung tersadar saat Nami menertawakannya. Taehyung langsung mengusap ice cream tersebut yang menempel di hidungnya. Nami masih tertawa terbahak-bahak karena tadi.

“Hem. Teruslah tertawa.” Ujar Taehyung sedikit cemberut.

Nami langsung berhenti tertawa dan menatap Taehyung.

“Mian, sunbae. Bukan maksudku begitu.”

“Gwechana. Aku senang jika kau tertawa seperti ini. Kau lebih terlihat cantik.”

Nami hanya tersenyum mendengar pujian dari Taehyung.

“Jam berapa ini sunbae?”

Taehyung melihat di jam tangan kirinya.

“Sekarang jam 3 sore.”

“Aigoo…. Bagaimana ini sunbae? Bukankah jam pulang sekolah sudah lewat satu jam yang lalu?”

Taehyung tersenyum kepada Nami.

“Gwechana. Sekali-sekali kau bolos satu hari saja untuk menenangkan pikiran tidak papa kan.”

“Tapi…”

“Sudahlah. Tidak perlu takut. Murid teladan sepertimu butuh istirahat juga.”

“Hhh…” Nami menghela nafas pelan.

Mereka telah menghabiskan masing-masing ice cream mereka. Nami tampak berfikir sesuatu. Lalu ia teringat lagi jika ia belum minta maaf kepada Taehyung saat mengajaknya kemarin di perpustakaan kota.

“Sunbae, aku ingin minta maaf soal kemarin saat aku langsung mengajakmu ke perpustakaan kota. Mianhe, sunbae.”

“Soal kemarin? Soal kemarin aku benar-benar tidak mempermasalahkannya. Tidak papa. Aku juga tidak keberatan waktu itu.”

“Gomawo, sunbae. Sunbae, sepertinya kita benar-benar harus balik ke sekolah sekarang.”

“Baiklah kalau begitu. Kau ini sangat khawatir sekali.” Taehyung bangkit dari duduknya dan berjalan kea rah motornya yang tidak jauh terparkir dari tempat ia duduk tadi bersama Nami.

Taehyung menaiki motor sportnya lalu ia menyuruh Nami lagi untuk segera naik. Nami pun naik ke atas motor sport milik Taehyung sambil memegang boneka kelinci yang ia dapatkan tadi sewaktu di pusat hiburan. Setelah Nami duduk dengan posisi yang benar, Taehyung menarik gas motornya dengan sedang. Mereka kembali lagi  menuju ke sekolah mereka.

 

—OO—

 

Semenjak tadi Juhna benar-benar khawatir memikirkan Nami. Setelah pelajaran Han Ssaem berakhir, semua murid telah pulang. Untung saja hari itu bukan jadwalnya Hyeon Ssaem untuk mengajar di kelas tambahannya. Juhna masih menunggu Nami di dalam kelasnya. Ia  melihat tas Nami yang masih tergeletak utuh di atas kursinya. Ia masih menunggu Nami di kelas dengan sabar.

 

10 menit

.

.

.

25 menit

.

.

.

30 menit

.

.

.

40 menit

.

.

.

1 jam

“Argh…. Aku bisa gila berlama-lama menunggunya disini.” Gerutu Juhna sambil mengacak rambutnya.

Juhna memutuskan untuk menelpon Nami. Namun saat menelponnya berulang kali, Nami tidak menjawab panggilan darinya.

“Ck, kemana sih anak itu? Apa ia marah juga padaku? Hhh… aku harus minta maaf padanya nanti.”

Juhna langsung berjalan kea rah kursi Nami lalu mengambil tas Nami dan membawanya pergi. Juhna mencoba mengirimya pesan.

 

To : 안나미

‘Sebenarnya dimana kau? Apa yang sedang kau lakukan saat ini? Jangan membuatku khawatir. Cepatlah kembali dan jangan membuatku menunggu di sekolah karenamu.’

From : 이주나

 

Juhna memencet tombol send dan pesan itu telah terkirim di HP Nami.

 

—OO—

 

Drrrrrrt….

Nami merasa ada yang bergetar dari dalam saku kantong bajunya. Ia mengambil HP tersebut dari sakunya lalu membuka layar HP tersebut. Ia melihat ada 5 panggilan tak terjawab dan satu pesan masuk dari Juhna. Nami membuka pesan itu dan membacanya.

 

From : 이주나

‘Sebenarnya dimana kau? Apa yang sedang kau lakukan saat ini? Jangan membuatku khawatir. Cepatlah kembali dan jangan membuatku menunggu  di sekolah karenamu.’

 

Nami tersenyum membaca pesan tersebut dari Juhna. Ia merasa senang jika Juhna masih mengkhawatirkan dirinya. Nami membalas pesan tersebut.

 

To : 이주나

‘Apa kau sekarang benar-benar mengkhawatirkanku? Aku sedang dalam perjalanan kesana. Tunggu saja. Sebentar lagi aku akan sampai.’

From : 안나미

 

Nami memencet tombol send dan pesan telah terkirim kepada Juhna.

“Sunbae? Apa sebentar lagi kita sampai?” tanya Nami yang berbicara sedikit ke depan agar Taehyung bisa mendengarnya.

“Nde. 10 menit lagi kita akan sampai. Ada apa?” tanya Taehyung.

“Bisakah kau percepat sedikit? Sahabatku sekarang sedang menungguku di sekolah.”

“Benarkah? Baiklah.”

Taehyung menambahkan kecepatan gasnya yang awalnya 40 km menjadi 60 km. Nami sedikit terkejut dan spontan ia langsung memeluk pinggang Taehyung lagi agar ia bisa berpegangan.

 

—OO—

 

Juhna menunggu Nami di depan gerbang pintu sekolah. Sekali-sekali ia melirik jam yang ada di tangannya.

“Ck, kemana sih anak itu?”

Drrrrrt…….

Satu pesan masuk di HP Juhna. Segera Juhna membuka pesan itu lalu membacanya.

 

From : 안나미

‘Apa kau sekarang benar-benar mengkhawatirkanku? Aku sedang dalam perjalanan kesana. Tunggu saja. Sebentar lagi aku akan sampai.’

 

Juhna hanya tersenyum malas membaca isi pesan itu.

“Perjalanan? Sebenarnya  kemana ia pergi? Ck, dia itu membuatku bingung saja.”

Setelah 10 menit ia menunggu, tak lama ia mendengar  suara motor yang tak jauh datang mengarah ke arahnya. Juhna menyipitkan matanya melihat motor tersebut. Ia tahu jika motor tersebut milik Taehyung—murid terpopuler di sekolah tersebut sekaligus kapten basket yang menjadi leader bagi timnya. Tapi bukan Taehyung  yang ingin Juhna lihat melainkan siapa yeoja yang dibonceng oleh Taehyung.

Akhirnya motor tersebut berhenti di dekat Juhna. Juhna membulatkan matanya tak percaya. Ia sangat terkejut bagaimana bisa Nami dengan Taehyung pergi bersama.

“Juhna-ya, Mianhe. Apa kau lama menungguku tadi?” tanya Nami yang turun dari motor Taehyung.

Taehyung melepaskan helm yang terpakai di kepalanya lalu menatap Juhna sekilas dan kembali menatap Nami.

“Apa ia sahabatmu?” tanya Taehyung kepada Nami.

“Nde. Ia yang kumaksud tadi. Ia yang menungguku di sekolah ini.” Jawab Nami.

“Oh… Apa kau sahabat Nami? Mian karena telah membuatmu menunggu Nami disini. Apa kau baik-baik saja?” tanya Taehyung menatap Juhna.

Juhna mengangguk tersenyum lalu tak lama Juhna membawa Nami sedikit menjauh dari Taehyung yang masih di atas motor sportnya.

“Ya! Kenapa kau bisa bersama Taehyung sunbae? Apa yang kau lakukan dengannya?” bisik Juhna sesekali melirik Taehyung yang masih menunggu di atas motor sportnya.

“Kenapa kau jadi berbisik-bisik seperti ini? Nanti akan kujelaskan.” Ucap Nami dengan suara yang sedikit pelan.

“Sunbae, kau bisa pulang duluan. Aku pulang bersama dengannya. Apa kau tidak papa pulang sendiri?” Ucap Nami lagi yang menatap Taehyung.

“Nde. Kau duluan saja. Ada barangku yang masih tertinggal di sekolah ini. Kalian duluan saja.” Jawab Taehyung.

“Nde. Kami pergi dulu. Sampai jumpa sunbae.” Nami melambaikan tangannya kepada Taehyung sambil menarik-narik lengan Juhna untuk mengikuti langkahnya.

“Nde. Kalian berdua hati-hati.” Balas Taehyung melambaikan tangannya kepada Nami dan Juhna.

Nami tersenyum dan ia telah menghilang dari hadapan Taehyung. Taehyung yang tidak melihat Nami dan Juhna lagi, kembali menyalakan motornya dan menarik gasnya masuk ke dalam sekolah. Barang yang ia tinggalkan adalah tas sekolahnya yang masih berada di dalam kelasnya.

 

—OO—

 

“Apa yang kau lakukan tadi bersama Taehyung sunbae?”

Nami menutup kedua telinganya karena Juhna yang sangat berisik menanyakan hal itu berulang kali.

“Ya! Kau belum menjawabku daritadi. Kenapa kau bisa bersama Taehyung sunbae?”

“Apakah aku harus memberitahumu?”

“Tentu. Beritahu aku kenapa kau bisa bersamanya? Apa yang kau lakukan dengannya?”

Nami memutar bola matanya malas lalu menatap Juhna yang berjalan di sampingnya.

“Apa aku harus memberitahumu tentang hal ini setelah pagi tadi kau mencuekiku begitu saja,eoh?”

Juhna langsung terdiam mendengar perkataan Nami. Tiba-tiba Juhna berjalan cepat dan menghadang Nami dan membuat langkah Nami terhenti. Juhna langsung memohon kepada Nami dengan kedua tangannya sambil mengedip-ngedipkan kedua matanya.

“Mianhe, Nami-ya. Aku benar-benar tersiksa jika tidak bersamamu. Aku minta maaf soal tadi jika tiba-tiba aku mencuekimu begitu saja. Mian.”

Nami mengangkat satu alisnya dan tersenyum.

“Apa kau benar-benar minta maaf padaku? Kurasa saat kau bersama Soona, Jeera, dan Nara kulihat kau baik-baik saja bersama mereka.”

“Kau salah. Aku benar-benar menderita tadi jika aku tidak bersamamu. Sungguh.”

Nami tersenyum dan langsung merangkul Juhna. Mereka kembali berjalan.

“Gwechana. Aku minta maaf juga padamu jika pertanyaanku pagi tadi menyinggungmu.”

“Nde. Gwechana. Aku juga tidak mempermasalahkanku tentang itu. Ngomong-ngomong kau belum menjawab pertanyaanku tadi. Kenapa kau bisa bersama Taehyung sunbae? Dan kemana saja kau daritadi setelah bel masuk berbunyi?”

Nami melepas rangkulannya di pundak Juhna dan berjalan menatap ke depan sambil mengingat kejadian tadi.

“Aku benar-benar kesal dengan Jungkook si kunyuk itu.” Ucap Nami kemudian tangannya mulai mengepal jika ia mengingat perkataan Jungkook tadi. Juhna terlihat bingung dengan pembicaraan Nami yang tiba-tiba kea rah Jungkook.

“Nami? Kau ini bicara apa? Aku bertanya tentang Taehyung sunbae kenapa kau malah jadi beralih ke Jungkook?”

“Aku belum selesai bicara. Dengarkan aku dulu. Aku kesal dengan Jungkook karena ia benar-benar merendahkanku. Ia merasa bahwa dirinya itu lebih pintar dariku. Dia menganggapku bodoh dan aku tidak mungkin bisa menandinginya.”

“Menandingi? Kau menandingi apa dengannya?”

“Aku bilang kepadanya jika aku ingin bertanding tentang kepintaran kami. Jika salah satu dari kami yang kalah, orang itu harus menuruti keinginan dari yang menang. Dan Jungkook mengejekku karena ia ragu jika aku sanggup bertanding dengannya. Aish… si kunyuk itu telah membuatku kesal.” Geram Nami.

“Tunggu-tunggu. Kau benar-benar yakin jika ingin bertanding dengannya? Kapan kau akan bertanding dengannya?”

“Nde. Mulai besok kami akan bertanding. Lihat saja si kunyuk itu. Aku akan membuatnya berlutut dihadapanku. Hahaha…”

Juhna melihat sahabatnya yang mulai tidak waras itu tertawa-tawa sendiri. Juhna menempelkan punggung tangannya di dahi Nami dan memeriksa apakah Nami sakit atau tidak.

“Ya! Apa yang kau lakukan? Kau kira aku itu sakit apa?’ tepis Nami dari tangan Juhna.

“Habisnya kau tertawa-tawa sendiri seperti itu. Jika orang lain lihat melihatmu seperti ini, orang lain akan berfikir jika kau itu gila.”

Nami langsung menjitak kepala  Juhna.

“Apa kau bilang? Aish… kau ini sama menyebalkannya dengan si kunyuk itu.”

Juhna memegang kepalanya yang sakit karena jitakan dari Nami. Ia mempoutkan bibirnya kesal.

“Kau belum menjawabku tadi tentang Taehyung sunbae.”

“Hhh…kau masih saja penasaran tentang hal itu? Baiklah. Setelah aku menantang si kunyuk itu, aku kesal dan pergi dari kelas. Aku bertemu Taehyung sunbae di atas atap dan tiba-tiba ia mengajakku pergi dari sekolah. Ia membawaku ke pusat hiburan bermain game.”

“Oh….” Ada rasa sedikit iri di dalam hati Juhna melihat Nami bisa bersama dengan Taehyung. Bagaimana tidak iri, Juhna menyukai Taehyung semenjak kelas X. Ia mengagumi sosok Taehyung yang sangat keren dan terkenal di antara para kalangan yeoja. Juhna melirik boneka kelinci putih berukuran sedang yang Nami bawa dalam genggaman tangan kanannya sejak tadi.

“Apa boneka itu juga pemberian dari Taehyung sunbae?”

“Ini?” Nami mengangkat boneka itu dan menoleh ke Juhna.

“Nde. Apa itu pemberian dari Taehyung sunbae?”

“Ah….ani. Aku mendapatkannya sendiri dari jangkar game yang kumainkan tadi.”

Juhna mengangguk mengerti. Ada perasaan lega dihatinya jika boneka itu bukan pemberian dari Taehyung. Nami melihat Juhna yang daritadi menatap boneka kelinci yang dipegangnya.

“Apa kau mau boneka ini?”

“Jinjja? Kau akan memberikannya padaku?”

Nami menjitak kepala Juhna lagi.

“Tentu saja tidak. Aku mendapatkan boneka ini dengan susah payah.”

Juhna mempoutkan bibirnya. Nami hanya menggeleng-geleng kepala melihat Juhna seperti itu. Juhna kembali melamun memikirkan Nami yang beruntung bisa berjalan bersama Taehyung. Nami melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Juhna yang semenjak tadi melamun.

“Ya! Juhna-ya?”

Nami yang terlihat kesal jika Juhna belum sadar, langsung menepuk pipi Juhna.

“Aww… appo!”

“Kenapa kau melamun?”

“Ani. Ya! Kau itu beruntung bisa dekat dengan Taehyung sunbae. Jika semua yeoja tahu kalau kau tadi berboncengan dengannya, kau pasti akan habis dengan mereka.”

“Itu bukan salahku. Taehyung sunbae sendiri yang tadi membawaku pergi. Lagian aku juga baru mengenal Taehyung sunbae. Jadi tak masalah.”

Juhna hanya mendengus kesal mendengar jawaban Nami yang begitu mudah menjawabnya. Setelah banyak berbincang-bincang selama di perjalanan, seperti biasa mereka akan berpisah di pertigaan jalan itu.

“Sampai jumpa, Juhna-ya. hati-hati di jalan.” Nami melambaikan tangannya.

“Nde. Kau juga.” Balas Juhna datar yang juga melambaikan tangannya.

Di sepanjang perjalanan, Juhna memikirkan perkataan Nami jika mereka baru saja dari pusat bermain game. Juhna meyakinkan dirinya sendiri dan mengangguk jika Nami baru saja mengenal Taehyung.  Tidak mungkin Nami menyukai Taehyung karena mereka baru saja saling mengenal. Juhna mengangguk tersenyum dengan dugaannya itu.

 

—OO—

 

5 Februari 2015

Semua murid tampak begitu malas mendengarkan penjelasan dari Han Ssaem tentang sejarah yang diterangkannya. Ada yang berpura-pura mendengar penjelasan Han Ssaem tapi sebenarnya mereka mendegarkan musik di headset mereka, ada yang berbincang-bincang dengan temannya, dan bahkan sampai ada yang tertidur di atas meja mereka.

Di kelas itu semua murid tampak malas mendengarkan pejelasan Han Ssaem yang itu-itu saja. Berbeda dari murid yang lain, Nami tampak begitu serius mendengarkan penjelasan Han Ssaem. Sesekali ia melirik ke arah Jungkook yang duduk berada tidak jauh di seberang kirinya. Jungkook juga serius mendengarkan penjelasan Han Ssaem.

Inilah yang ditunggu-tunggu Nami daritadi. Han Ssaem bertanya tentang sejarah-sejarah kepada semua murid yang ditunjuknya. Han Ssaem menunjuk Nami dan segera ia menjawab pertanyaan Han Ssaem.

“Apa yang melatarbelakangi pembunuhan yang terjadi pada keluarga kerajaan Jung dan siapa nama pelaku yang membunuh keluarga kerajaan tersebut?”

“Keluarga kerajaan Jung berkelahi dengan sanak saudaranya. Sanak saudaranya lah yang membunuh keluarga kerajaan tersebut. Nama sanak saudaranya adalah Jung Damin.”

Han Ssaem tersenyum karena jawaban Nami yang betul menjawabnya. Semua murid bertepuk tangan malas. Tetapi Han Ssaem tiba-tiba tersadar jika nama yang membunuh saudaranya tersebut buka Jung Damin. Jawaban Nami kurang tepat. Han Ssaem beralih ke Jungkook. Han Ssaem langsung menanyakan pertanyaan yang sama kepada Jungkook. Ia meminta Jungkook untuk menjawabnya. Jungkook menutup matanya setelah Han Ssaem memberikan pertanyaan tersebut.

Nami tersenyum senang karena Jungkook belum menjawab-jawab pertanyaan dari Han Ssaem tersebut. Jungkook menutup matanya lama, semua murid yang awalnya tampak malas, menjadi penasaran. Mereka melihat Jungkook yang sedang menutup matanya setelah Han Ssaem memberikan pertanyaan yang sangat sulit menurut Nami untuk dijawab.

Ya, Han Ssaem selalu bertanya sejarah kepada Nami. Han Ssaem  jarang bertanya kepada murid lainnya karena jika murid lain yang diberi pertanyaan dengan Han Ssaem, pasti tidak akan ada yang bisa menjawabnya. Untung saja Han Ssaem adalah guru yang sabar jika mengajar semua muridnya yang tampak malas itu jika ia menerangkan tentang sejarah-sejarah masa lampau yang diterangkannya.

“Apa Jungkook tidur?’

“Apa yang ia lakukan?”

“Kenapa ia malah menutup matanya setelah Han Ssaem bertanya kepadanya?”

“Apa mungkin ia tidak bisa menjawab?”

Bisikan-bisikan mulai terdengar di seluruh penjuru kelas. Jungkook yang masih menutup matanya hanya tersenyum mendengar bisikan-bisikan tersebut. Han Ssaem masih sabar  menunggu Jungkook yang belum menjawab pertanyaannya sejak tadi.

“Jungkook-ah, jika kau tidak bisa menjawab pertanyaanku aku tidak kebera—“

“Kejadian tersebut berawal dari adanya pertikaian antara keluarga dengan sanak saudaranya. Keluarga dan sanak saudaranya tersebut saling memperebutkan harta warisan yang dititipkan dari kakek mereka. Sanak saudara dari keluarga kerajaan tersebut marah membabi buta dan ia membunuh semua keluarga kerajaan karena merasa keluarga kerajaan yang tidak mau menyerahkan harta warisan tersebut kepadanya. Sanak saudara ingin mewarisi harta dari kakek mereka dan ingin mengambil alih dari kerajaan tersebut. Ia membawa semua saudaranya menuju ke istana dan mengambil alih seluruh tahta di kerajaan tersebut. Sanak saudara menutupi pembunuhan tersebut kepada semua masyarakat di daerah itu bahwa seluruh kerajaan mati karena kecelakaan yang menimpa mereka. Sanak saudara tersebut bernama Jung Hamin dan kejadian pembunuhan itu terjadi tepat pada tanggal 21 Agustus 1574 M.”

Semua murid di kelas itu terperangah mendengar penjelasan jawaban dari Jungkook. Han Ssaem tersenyum karena kejadian yang diceritakan Jungkook benar adanya mengenai keluarga kerajaan tersebut. Bahkan Jungkook menjawabnya sama dengan yang ada di buku milik Han Ssaem. Semua murid bertepuk tangan meriah. Bahkan Han Ssaem juga ikut bertepuk tangan.

Jungkook menoleh kea rah Nami dan tersenyum menyeringai. Nami mendengus kesal tidak terima. Munurutnya, Nami juga menjawab seperti Jungkook tadi.

“Ssaem, bukankah jawabanku tadi benar? Menurutku yang membunuh keluarga kerajaan tersebut bernama Jung Damin bukan Jung Hamin.” Protes Nami.

“Nde. Kau benar mengenai jika keluarga kerajaan dibunuh oleh sanak saudara mereka sendiri. Tetapi yang membunuh keluarga kerajaan itu bukan Jung Damin melainkan Jung Hamin, Nami-ya.”

Nami menundukkan wajahnya malu. Bagaimana bisa ia melupakan sedikit nama pembunuh kerajaan tersebut. Nami menoleh kea rah Jungkook dan ia melihat Jungkook memperhatikan Han Ssaem lagi. Nami juga ikut kembali memperhatikan Han Ssaem.

Tak lama satu gumpalan kertas terjatuh di atas mejanya. Nami mengambil kertas gumpalan tersebut dan membukanya.

 

‘Aku menang. Teruslah berusaha di lain waktu agar kau bisa mengalahkanku.’

전정국

 

Nami menoleh kea rah Jungkook dan ia melihat Jungkook tersenyum meyeringai lagi kepadanya. Nami merobek-robek kertas gumpalan tersebut dengan kesal dan membuangnya ke lantai lalu menginjaknya dengan sepatunya. Nami benar-benar kesal untuk hari itu. Juhna yang melihatnya hanya menggeleng pelan dan kembali memperhatikan Han Ssaem.

 

—OO—  

 

Bel pulang telah berbunyi. Semua murid di kelas 2-3 telah pulang duluan semenjak bel tadi berbunyi. Di kelas, hanya tersisa Jungkook dan Nami. Juhna sedang mengikuti kelas tambahan Hyeon Ssaem di perpustakaan bersama murid-murid lainnya yang juga mengikuti kelas tambahan matematika itu. Nami berjalan ke meja Jungkook dan menggebrakkan tangan di atas mejanya. Jungkook hanya menatap Nami datar.

“Bersainglah bola basket denganku besok!” ucap Nami ketus.

“Hem. Tentu.” Jawab Jungkook yang berdiri dari kursinya dan meninggalkan Nami sendiri di kelas.

Nami mengacak rambutnya kesal dan mengambil tasnya juga lalu keluar dari kelas tersebut.  Ia begitu bodoh. Bagaimana bisa ia menantang Jungkook untuk bermain bola basket jika dirinya saja tidak pandai dalam hal olahraga. Nami mengutuk dirinya sendiri.

Pulang sekolah itu, ia memutuskan untuk menuju lapangan boa basket dan berlatih disana. Untung saja lapangan bola basket itu sepi jadi ia bisa berlatih sepuasnya tanpa ada yang mengganggu. Nami meletakkan tasnya di bangku pinggir lapangan basket itu dan berjalan kea rah bola basket yang terletak di dekat ring lalu mengambilnya.

Nami memegang bola basket itu dan menatap ring di hadapannya. Ia mencoba fokus ke arah ring agar bola basket yang ia lempar nanti tepat masuk ke dalam ring itu. Nami mulai mencoba untuk memasukkannya tetapi ia selalu gagal. Berulang kali ia mencoba tetapi tetap saja selalu gagal. Nami menghela nafas panjang.

“Bagaimana tidak bisa masuk? Ini sudah ke-20 kalinya aku mencoba memasukkannya tapi tetap saja tidak ada yang masuk. Aish… menyebalkan sekali bola ini.” Nami melemparkan bola basket itu ke lantai semen lapangan dengan kuat hingga bola basket itu memantul ke atas dan saat bola itu jatuh, bola basket itu tepat mengenai kepalanya.

“Aww… appo.” Ringis Nami sambil memegangi kepalanya yang terkena pantulan bola basket tadi yang dilemparnya sendiri. Nami terduduk di lapangan itu sambil memegang kepalanya yang masih sakit itu.

“Sedang apa kau disini?”

Nami langsung mendongakkan kepalanya ke atas melihat Taeyung yang sedang berdiri di hadapannya.

“Ah… sunbae? Aku sedang berlatih bermain bola basket. Dan kau sunbae? Kenapa kau belum pulang?” tanya Nami yang tangannya masih memegang kepalanya.

“Aku ditugaskan oleh Park Ssaem untuk mengecek keadaan lapangan ini. Apa kau baik-baik saja? Sepertinya kau sedang kesusahan.” Taehyung mengulurkan tangannya ke Nami untuk membantunya berdiri. Nami tersenyum kepada Taehyung dan menyambut uluran itu lalu ia langsung berdiri di bantu oleh tarikan Taehyung.

“Nde. Aku tidak habis pikir. Bagaimana bisa aku memasukkan 20 kali bola basket ini ke dalam ring itu tetapi tidak ada yang masuk sama sekali. Ini benar-benar membuatku muak.” Nami mengambil bola basket itu lagi dan mencoba memasukkan bola basket itu ke dalam ring lagi. Namun tetap saja lemparannya tidak bisa masuk ke dalam ring dan itu membuatnya semakin frustasi.

Taehyung tersenyum kecil melihat Nami seperti itu. Ia tau letak kesalahan Nami saat melemparkan bola basket itu. Taehyung mendekati Nami  dari belakang. Nami  masih mencoba untuk melempar bola basket itu ke dalam ring.

“Fokuskan pandanganmu ke depan dan lemparlah dengan yakin jika posisimu sudah merasa benar.” Ucap Taehyung pelan di telinga kanan Nami.

“Sunbae?” Nami menoleh sedikit ke belakang dan mendapati Taehyung yang kini tepat dibelakangnya.

“Kau tunggu sebentar.” Taehyung mengambil bola basket bekas Nami lempar tadi yang berada dekat di ring.

Taehyung berjalan lagi kea rah Nami yang masih berdiri ditempatnya.

“Jika kau ingin melempar bola ini untuk bisa masuk ke dalam ring, kau harus memfokuskan di pegelangan tanganmu lalu saat ingin melemparkannya, melompatlah sedikit agar bola ini bisa menjangkau tinggi ring ini.” Taehyung memperagakan apa yang dikatakannya tadi dengan gerakan tubuhnya lalu ia melemparkan bola itu ke ring. Dengan mudah bola itu masuk ke dalam ring. Tentu saja itu karena Taehyung kapten tim basket di sekolahnya. Tentu juga banyak yeoja yang menyukainya.

Nami mengangguk-angguk mengerti apa yang diajarkan oleh Taehyung kepadanya. Nami mulai mencoba melempar bola itu. Taehyung mendekati Nami dari belakang dan menyentuh tangan Nami untuk membenarkan posisi tangannya yang sedikit salah saat memegang bola itu. Nami sedikit malu kepada Taehyung. Bagaimana tidak, saat ini Taehyung  berada tepat dibelakangnya. Nami merasakan adanya hembusan nafas Taehyung di sebelah pipi kanannya.

“Nah, sekarang sudah benar. Coba kau lempar lagi bolanya.” Ucap Taehyung yang membuyarkan pikiran Nami saat itu.

Nami mengangguk dan mulai melemparkan bola itu ke dalam ring. Bola itu hampir masuk ke dalam ring.

“Sunbae, kau lihat itu. Bolanya hampir saja masuk.” Ucap Nami sedikit senang.

Taehyung tersenyum melihat Nami yang begitu senang melihat bola pertamanya yang hampir masuk ke dalam ring itu. Pasalnya Nami tak pernah bisa masuk ke dalam ring saat bermain bola basket.

“Kau coba lagi, nde.” Taehyung mengambil bola basket itu lagi dan memberikannya ke Nami.

Nami mengangguk lalu mulai membenarkan posisinya tepat di depan ring itu. Nami melempar bola itu dengan sedikit melompat hingga bola itu berhasil masuk ke dalam ring dan membuat Nami berteriak kegirangan. Lagi-lagi Taehyung hanya tersenyum kea rah Nami dan Nami melihat Taehyung tersenyum kepadanya. Nami mengacungkan jempol kepada Taehyung lalu mulai mencoba melempar bola basket itu berulang kali hingga terus menerus bola itu masuk. Tidak akan ada yang tahu jika sifat Nami sewaktu-waktu bisa berubah begitu saja kecuali Taehyung yang sudah melihat sisi Nami yang periang. Taehyung tidak tahu jika Nami juga mempunyai sifat cueknya. Terkadang ia terlihat cuek dan kadang ia terlihat periang.

Setelah banyak memasukkan bola ke ring, ia sempat berfikir. Nami tersenyum licik membayangkan bagaimana Jungkook nanti akan kalah di tangannya. Pasti Jungkook akan sangat malu jika benar itu terjadi. Bayangan-bayangan Nami mulai bermunculan untuk mengerjai Jungkook jika dirinya menang dalam tantangan ini.

“Gomawo, sunbae. Kau telah mengajariku bermain basket untuk hari ini.” Ucap Nami tersenyum kepada Taehyung.

“Gwechana senang bisa membantu, Nami-ya.” Ucap Taehyung tersenyum.

Dibalik keakraban Nami dan Tehyung, ada seseorang yang memandang mereka dengan iri.

 

—OO—

 

6 Februari 2015

Hari itu semua murid kelas 2-3 sedang berbaris di lapangan mendengar penjelasan Park Ssaem—guru olahraga mereka. Park Ssaem menjelaskan jika mereka akan bermain bola basket dengan memasukkan bola ke dalam ring sebanyak yang mereka bisa selama satu menit. Semua murid mengangguk-angguk ngerti dengan penjelasan yang diberikan oleh Park Ssaem.

Satu persatu nama setiap murid dipanggil oleh Park Ssaem. Hingga giliran nama Nami yang dipanggil oleh Park Ssaem. Banyak murid menatap Nami tidak yakin. Mereka tau jika kelemahan Nami ada pada bidang olahraga. Apalagi kelemahannya pada permainan bola basket. Nami tersenyum penuh percaya diri dan mengindahkan tatapan-tatapan temannya yang tidak yakin itu. Ia mengingat-ingat lagi bagaimana Taehyung mengajarinya kemarin. Nami berharap hasil usahanya kemarin dengan Taehyung tidak sia-sia. Ia segera membenarkan posisinya lalu melempar bola itu dengan sedikit melompat. Dan benar saja, bola itu masuk ke dalam ring. Semua murid kelas 2-3 tampak terperangah melihat Nami yang berhasil memasukkan bola basketnya ke dalam ring. Mungkin mereka pikir, itu hanya kebetulan saja. Lalu Nami mencobanya berulang kali hingga ia mencetak shoot sebanyak 12 kali. Semua murid tampak begitu tak percaya dan kemudian mereka bertepuk tangan. Nami menatap Jungkook tersenyum miring dan berjalan ke arah Juhna dengan begitu percaya diri.

“Bagaimana? Apakah kau terkejut. Lihat aku bisa memasukkan bola itu dengan mudah.” Ucap Nami senang kepada Juhna.

“Tentu. Kau sangat hebat.” Jawab Juhna datar.

“Ya! Apa-apaan ekspresi datarmu itu. Senanglah karena sahabatmu ini sudah bisa bermain basket.” Ucap Nami sambil merangkul Juhna. Juhna hanya tersenyum sebentar lalu memasang wajah datar lagi. Bagaimana tidak, sikap Juhna seperti itu karena kemarin ia melihat Nami yang sedang tertawa-tawa akrab dengan Taehyung.

Kini giliran Jungkook yang dipanggil oleh Park Ssaem. Jungkook memasukkan bola ke ring dengan mudah. Banyak yeoja kelas 2-3 tampak berseri-seri memandang Jungkook seperti itu. Bagaimana tidak, Jungkook memasukkan bola basket dengan gaya coolnya hingga banyak keringat yang menetes di wajah dan lehernya. Rambutnya yang terlihat basah menambah kesan coolnya. Nami memandang Jungkook yang sekarang tengah memasukkan bolanya berulang kali ke dalam ring.

‘Hem. Aku yakin jika ia hanya sedikit memasukkan bolanya itu.’ Gumam Nami sombong.

Setelah semua murid satu persatu memasukkan bola mereka ke dalam ring, Park Ssaem membariskan semua muridnya lagi dan membacakan satu persatu shoot bola basket setiap murid.

“Ah Junna menshoot sebanyak 5 kali.”

“Ah Sonna sebanyak 7 kali.”

“Ahn Nami sebanyak 12 kali.”

Nami tersenyum mendengar hal itu.

“Baek Nara sebanyak 3 kali.”

“Chan Dongmin sebanyak 9 kali.”

“Cha Eonji sebanyak 5 kali.”

“Dae Jungmin sebanyak 7 kali.”

“Goo Yeobum sebanyak 8 kali.”

“Heo Seoyan sebanyak 4 kali.”

“Jeon Jungkook sebanyak 20 kali.”

Semua murid langsung menoleh kea rah Jungkook dan memandang Jungkook tak percaya. Nami tidak habis pikir, bagaimana bisa ia kalah lagi dengan Jungkook. Nami mendengus kesal. Padahal ia sudah belajar dan berusaha keras kemarin.

 

“Jung Hana sebanyak 2 kali.”

“Kang Jayhan sebanyak 10 kali.”

“Kim Daesung sebanyak 9 kali.”

“Kim Nara sebanyak 3 kali.”

“Kim Soona sebanyak 7 kali.”

“Kim Sora sebanyak 8 kali.”

“Lee Juhna sebanyak 7 kali.”

“Oh Serin sebanyak 6 kali.”

“Park Juhan sebanyak 9 kali.”

“Dan Shin Yonghee sebanyak 10 kali. Sudah, hanya itu saja yang bisa aku sampaikan.”

Kali ini Nami tertinggi yang kedua. Ia kalah lagi dari Jungkook.

‘Lihat saja kau kunyuk. Besok aku akan mengalahkanmu lagi.’ Gumam Nami.

 

—OO—

 

7 Februari 2015

Hari itu adalah hari dimana semua murid kelas 2-3 melakukan praktek di lab IPA. Mereka mempunyai kelompok yang masing-masing berjumlah dua orang. Dua orang dikelompok tersebut mempunyai tugas masing-masing. Satu yang melakukan penelitian dan satu yang bertugas mencatat hasil penelitian tersebut. Mereka semua diberi tugas oleh Jung Ssaem—guru Biologi di kelas itu—untuk melakukan penelitian terhadap makhluk kecil lengket dan sangat menempel itu. Ya, mereka semua melakukan penelitian yang sama yaitu ulat hijau yang besarnya sebesar ibu jari orang dewasa.

Semenjak tadi, Nami terus menerus menggerutu. Bagaimana tidak, ia berpasangan dengan Jungkook. Jungkook terus menerus melakukan penelitiannya. Sedangkan Nami, ia hanya berdiri memandang Jungkook yang sedang berdiri melakukan penelitiannya itu.

Nami terus menerus mengeluh dan memandang Jungkook sinis. Nami melihat kelompok lain yang sedang asik mendiskusikan dengan temannya sendiri. Ia memandang iri dengan kelompok lainnya. Di mata Nami, mereka terlihat begitu asik mendiskusikan dengan temannya. Sedangkan ia sendiri, ia hanya diam berdiri termangu sambil memegang pulpen dan juga buku catatannya.

Jungkook masih meneliti dengan mikroskopnya itu. Sesekali ia menjepit ulat hijau itu dengan penjepitnya lalu membolak-balikan badan ulat itu di dalam kotak kaca kecil. Nami yang melihat itu memandang jijik sekaligus geli melihat ulat itu yang terus menggeliat jika dijepit oleh penjepit besi kecil tersebut.

“Ya! Jungkook-ah? Apa laporan kali ini? Bahkan kita sama sekali belum menulis laporannya.” Dengus Nami kesal.

“Duduk dan diamlah.” Jawab Jungkook singkat.         

Nami memutar bola matanya malas. Untuk apa ia duduk dan hanya berdiam memandangnya yang sedang meneliti ulat itu. Huh… membosankan sekali jika ia seperti itu, pikir Nami. Nami masih tetap ingin berdiri dan melihat Jungkook yang masih meneliti ulat itu. Nami melihat kelompok lain dan kelompok lain melakukan penelitian sambil duduk di kursi mereka. Nami melihat mereka saling tertawa dan mendiskusikan itu bersama pasangannya.

Mata Nami beralih kea rah Juhna yang berpasangan dengan Hana. Sekarang giliran Nami yang menertawakan Juhna di dalam hatinya. Pasti Juhna merasa tidak nyaman satu kelompok dengan Hana—mantan sahabatnya itu. Sekali-kali Juhna membentak Hana dan Hana juga tidak terima jika ia dibentak seperti itu. Nami melihat dua orang itu yang saling beradu mulut. Dan Jung Ssaem tidak bisa diam saja melihat pertikaian kecil itu dan berjalan kea rah kelompok pasangan itu lalu memarahinya. Nami hanya terkekeh kecil melihat itu.

‘Kau sama denganku Juhna. Kita sama-sama tidak beruntung untuk hari ini. Bagaimana bisa kita berpasangan dengan orang yang salah? Aku bersama Jungkook si kunyuk itu dan kau bersama Hana si pembuat masalah itu. Huh.. menyebalkan. Kenapa kita tidak pernah satu kelompok?’ pikir Nami.                                  

“Hei kau! Apa kau dengar apa yang baru saja kukatakan?”

Nami menoleh ke arah sumber suara itu dan melihat Jungkook yang sedang menatapnya tajam.

“Mian. Aku tidak dengar apa yang baru saja kau katakan. Memangnya tadi kau bicara apa?” Tanya Nami enteng.

“Ck, tulis laporan yang kukatakan tadi. Aku malas mengulangnya lagi.” Ucap Jungkook kesal.

Nami membulatkan matanya mendengar hal itu.

“Ya! Apa kau bilang? Menulis laporan yang kau katakan tadi? Bagaimana bisa aku menulisnya? Aku saja tidak tau apa yang kau katakan tadi.” Ujar Nami sedikit membentak.

“Itu salahmu. Siapa suruh kau tidak mendengarkannya.” Balas Jungkook sinis.

Sekarang Nami benar-benar ingin mengacak wajah Jungkook itu sampai tidak berbentuk lagi.  Bagaimana bisa Jungkook mengatakan semudah itu. Menyuruhnya menulis laporan yang bahkan ia belum tau seperti apa. Tidak ada pilihan lain lagi selain menulis laporan itu menurut pendapatnya sendiri.

“Baiklah. Akan kutulis laporan itu sendiri.” Ucap Nami yang berbalik menatap Jungkook sinis.

Jungkook yang awalnya berdiri menjadi duduk. Ia memandang Nami yang sedang meneliti ulat itu di mikroskop. Jungkook hanya tersenyum kecil melihat Nami yang sesekali berteriak geli saat menjepit ulat itu.

Setelah satu jam meneliti ulat hijau berukuran sedang itu, semua murid telah selesai melakukan penelitian mereka. Mereka menyerahkan laporan mereka masing-masing kepada Jung Ssaem termasuk Nami yang juga menyerahkan hasil laporan menurut pendapatnya sendiri. Setelah semua murid kelas 2-3 mengumpulkan laporan mereka, Jung Ssaem menyuruh satu persatu setiap murid untuk maju dan membacakan hasil laporan mereka sendiri.

“Song Jeera.”

Jeera maju setelah Jung Ssaem menyebutkan namanya. Ia mulai membacakan laporannya itu hingga selesai. Semua murid bertepuk tangan setelah Jeera selesai membacakan laporannya.

“Kang Jayhan.”

“Kim Soona.”

Begitulah seterusnya hingga giliran nama Nami yang disebut.

“Ahn Nami.”

Nami maju setelah namanya dipanggil oleh Jung Ssaem. Ia maju dengan begitu penuh percaya diri. Sebelum maju tadi, Nami menatap Jungkook sinis dan tersenyum sesaat namanya dipanggil oleh Jung Ssaem.

Sekarang Nami berdiri di depan semua temannya yang memandang ke arahnya. Nami melihat seluruh temannya di lab IPA ini. Mata Nami beralih ke Jungkook yang sedang duduk memandangnya sambil melipat kedua tangan di depan dadanya. Nami tersenyum miring kea rah Jungkook lalu menatap laporannya kembali yang sedang dipegangnya.

“Laporan ini berasal dari penelitian dari hasil kerja kerasku. Kita meneliti ulat hijau berukuran sedang itu. Seperti yang kita tau bahwa ulat hijau ini memakan daun atau tumbuhan hijau lainnya. Ulat hijau ini mempunyai semacam perekat…” Nami menghentikan bacaannya. Ia terlihat bingung bagaimana bisa kalimatnya seperti ini. Ia merasa ada kalimat yang berbeda dari yang ia tulis tadi. Ia mengangkat bahu tidak mau pikir panjang dan melanjutkan bacaannya kembali.

“Ulat hijau ini mempunyai semacam perekat di bawah perutnya yang berfungsi untuk ia bisa memanjat apapun disekitarnya dengan cara menempel pada benda itu agar ulat hijau ini tidak jatuh saat menempel di benda itu. Ulat hijau ini akan menjadi kepompong jika sudah masuk tahap usianya. Ia akan berubah menjadi kupu-kupu selama kurang lebih satu minggu. Kupu-kupu yang berasal dari ulat ini mempunyai lubang khusus untuk mengeluarkan telur-telurnya dari hasil perkawinannya. Jika ia bertelur, ia akan mengeluarkan sekitar 5 butir telur. Telur yang akan ia keluarkan akan ia taruh di tempat yang paling aman. Telur itu akan menetas kembali menjadi ulat kembali. dan begitulah seterusnya.”

Semua murid kelas 2-3 tampak hening. Kemudian mereka semua bertepuk tangan. Jung Ssaem juga ikut bertepuk tangan.

“Bagus sekali laporan itu. Apa kau yang membuatnya laporan itu sendiri, Ahn Nami?” Tanya Jung Ssaem.

“Hah? Em… n-nde. Saya yang membuatnya sendiri.” Jawab Nami ragu.

“Laporanmu itu bagus sekali. Aku sangat suka dengan gaya bahasamu yang menjelaskannya dengan detail. Kau boleh kembali ke tempat dudukmu.”

Nami tersenyum kepada Jung Ssaem dan menyerahkan laporannya itu kepada Jung Ssaem lalu berjalan kembali ke kursinya.

Nami duduk di kursinya dan memandang Jungkook.

“Mwo? Kenapa kau memandangku seperti itu?” ucap Nami sinis.

“Tidak ada. Lagi-lagi kau terlalu percaya diri sekali jika aku menatapmu.”

Sejenak Nami memikirkan laporan tadi. Ia berfikir bagaimana bisa laporan yang ia tulis berbeda dengan apa yang ia tulis. Sekilas ia mengingat kejadian tadi. Saat ia telah selesai menulis laporan itu, Jungkook merebut laporannya. Nami baru mengerti kenapa laporan itu bisa berubah. Itu karena Jungkook yang mengubahnya.

“Apa kau yang mengubah laporanku itu?” tatap Nami penuh selidik.

Jungkook tersenyum miring dan menatap Nami.

“Berterimakasihlah kepadaku. Karena aku, kita bisa mendapat nilai tinggi dari Jung ssaem.” Jawab Jungkook santai.

Nami mendengus kesal. Ia berfikir juga. Sebelum-sebelumnya Jung Ssaem tidak pernah memujinya seperti tadi. Baru kali ini ia mendapat pujian dari Jung Ssaem. Walaupun sebelumnya nilai laporannya paling tinggi mendapat 80, itupun ia tidak pernah mendapat pujian dari Jung Ssaem.

Nami mendengus kesal. Ia langsung memalingkan wajahnya dari Jungkook dan memerhatikan siapa yang giliran maju ke depan. Seketika Nami langsung memerhatikan yeoja yang sedang maju sekarang. Ya, ia adalah Hana. Nami begitu semangat mendengar laporannya kali ini. Walaupun Nami tidak begitu suka dengan Hana, tapi yang ia lihat sekarang bukan Hana melainkan ia penasaran dengan hasil laporan yang Hana dan Juhna buat.

“Kali ini aku akan melaporkan laporanku dengan Juhna…” terdengar malas saat Hana menyebutkan nama Juhna.

“Aku dan dengannya meneliti ulat hijau menjijikan itu. Betapa susahnya kita meneliti ulat itu. Ia terus menerus menggeliat-geliatkan badannya yang lembek itu. Ihh… menjiikan sekali.”

Banyak tawaan dari semua murid termasuk Nami.

“Ulat itu berasal dari telur dan telur itu berasal dari kupu-kupu dan kupu-kupu berasal dari ulat dan ulat itu… ahh… iya kenapa aku mengulangnya lagi. Intinya ulat itu makan daun dan daun adalah makanannya. Sekian laporan dariku. Terima kasih.” Banyak tawaan dari semua murid mendengar laporan dari Hana. Hana malah memasang tampang malas lalu mata Hana beralih ke Nami dan ia tersenyum miring saat melihat Nami. Nami yang awalnya tertawa langsung berhenti tertawa dan menatap Hana bingung.

Jung Ssaem sejak tadi menggeleng-gelengkan kepalanya saja mendengar laporan milik Hana dan Juhna. Saat Hana disuruh kembali ke tempat duduknya, ia mengangguk lalu berjalan melewati meja Nami dan Jungkook. Sesaat Hana menyenggolkan cairan kimia di atas meja Nami dan cairan itu menetes ke tangan Nami dan juga kaki Nami. Nami meringis kesakitan karena cairan itu terasa panas di kulitnya.

“Oh? Name-ya? gwechana. Mianhe, aku tidak sengaja menyenggol botol kimia itu.”

Seketika semua murid memandang kea rah Nami. Hana berjalan santai menuju ke tempat duduknya kembali.

Semua murid tampak khawatir melihat tangan Nami yang begitu merah. Jung Ssaem pun juga berjalan kea rah Nami dan menanyakan keadaan Nami.

“Nami-ya? Apa kau tidak papa?”

Juhna juga mendatangi meja Nami dan ia langsung memegang lengan Nami dan melihat jari-jari Nami  juga kaki Nami yang begitu merah.

“Ya! Apa kau tidak papa? Aku akan membawamu ke UKS sekarang.” Juhna membantu Nami berdiri. Nami berjalan tertatih-tatih. Tiba-tiba Jungkook langsung menepis tangan Juhna di pundak Nami.

“Biar aku saja yang membawanya.” Jungkook langsung menggedong Nami dengan kedua tangannya.

“Ya! Apa yang kau lakukan? Turunkan aku!” teriak Nami.

“Diam saja kau bodoh.” Jungkook berjalan ke pintu keluar lab IPA dan menggeser pintu itu dengan kaki kirinya. Kedua tangannya tidak bisa membuka pintu itu karena kedua tangannya sedang menggedong Nami di depan tubuhnya.

Sesaat Jungkook pergi, semua murid menatap tidak percaya apa yang dilakukan Jungkook tadi. Sikap Jungkook tadi seperti berubah saja. Dibalik itu, Hana malah terlihat kesal. Hana melakukan itu karena ia merasa iri melihat Nami yang bisa satu kelompok dengan Jungkook. Juhna hanya mendengus saja ketika Jungkook tiba-tiba menepis tangannya tadi. Sesaat Juhna berpikir bahwa Hanalah yang menyebabkan kekacauan ini. Juhna berjalan mendatangi Hana dan menggebrakkan tangannya di atas meja.

“YA! Apa yang kau lakukan tadi dengan Nami, hah? Apa kau sengaja menyenggol cairan itu agar Nami terluka?” teriak Juhna menahan marah. Sontak semua murid menatap kea rah mereka.

“Apa kau bilang? Aku hanya tidak sengaja menyenggolnya.” Balas Hana marah.

“Kau jangan berbohong. Aku melihatnya sendiri kalau kau yang menyenggolnya.”

“Nde. Memang aku yang menyenggolnya tapi aku tidak sengaja. Apa kau tau itu, hah?” teriak Hana.

Jung Ssaem memisahkan Juhna dan juga Hana. Juhna mendengus kesal dan ia ingin menyusul Nami namun dicegah oleh Jung Ssaem.

“Berhenti Juhna. Ini masih jam pelajaranku.”

“Tapi Ssaem, Nami sedang—“

“Aku tau. Ia sedang terluka. Tapi kau bisa menjenguknya nanti setelah selesai jam pelajaranku. Tenang saja, ada Jungkook yang telah membawanya tadi ke UKS. Sekarang, kita lanjutkan lagi. Sampai dimana tadi?”

Juhna duduk di kursinya kembali. Bagaimana ia bisa tenang jika Nami sedang bersama Jungkook—orang yang Nami benci—sekarang. Juhna kembali memerhatikan murid selanjutnya yang sekarang maju di depan.

 

—OO—

 

Wajah Nami sekarang benar-benar seperti kepiting rebus. Ia menyembunyikan wajahnya di dada bidang Jungkook untuk menyembunyikan wajahnya itu. Jungkook hanya tersenyum melihat Nami seperti itu dan kembali menatap ke depan. Sebentar lagi mereka akan sampai di UKS sekolah. Jantung Nami berdegup kencang tak karuan. Ia mencoba menormalkan detak jantungnya itu namun tak bisa. Ia sangat takut jika Jungkook mendengar jantungnya yang tak bisa diajak kompromi itu.

Tak lama mereka telah sampai di UKS. Melihat Jungkook yang datang, guru petugas yang menjaga UKS itu langsung menyuruhnya untuk menempatkan Nami di atas keranjang tempat tidur paling ujung. Jungkook mengangguk tersenyum kepada guru itu lalu berjalan kea rah keranjang tidur yang ditunjuk guru tadi. Jungkook langsung menempatkan Nami di atas keranjang itu lalu menatap Nami sekilas.

“Kau tunggu disini dulu.” Ucap Jungkook berlalu pergi.

Nami memposisikan duduknya senyaman mungkin di atas keranjang tidur itu. Ia memegang tangan kanannya yang terluka itu dengan tangan kirinya dan memandang tangannya yang terluka itu. Nami sempat berfikir, apakah Hana yang dengan sengaja menyenggol cairan itu hingga jatuh dan mengenai tangan dan kakinya. Nami tidak mau berfikir menuduh orang lain tanpa bukti.

Sesaat Jungkook kembali dengan membawa obat luka bakar di tangannya. Ia menghampiri Nami dan duduk di kursi samping keranjang tidur itu. Jungkook membuka obat itu. Mereka berdua saling berhadapan.

“Biar kuobati tanganmu itu.”

Nami menyerahkan tangan kanannya yang terluka itu. Entah kenapa ia menuruti perkataan Jungkook begitu saja. Jungkook langsung memegang tangan kanan Nami yang terluka dan mengoleskan obat luka bakar itu ke tangan Nami di kulitnya yang berwarna merah itu. Nami hanya diam mendapat perlakuan seperti itu dari Jungkook. Ia memandang wajah Jungkook yang begitu serius mengoleskan obat itu di lukanya. Jungkook beralih ke luka yang ada di lutut Nami dan mengoleskan obat itu lagi di lutut Nami tersebut.

“Jangan memandangku seperti itu.” Ucap Jungkook yang sukses membuat Nami terlonjak kaget. Tatapannya langsung beralih kea rah luar jendela UKS menghilangkan keterkejutannya tadi saat ia ketahuan oleh Jungkook jika ia sedang menatapnya.

Setelah selesai mengobati luka Nami, Jungkook menatap Nami.

“Apakah sakit?”

“Em. Tidak terlalu.” Jawab Nami singkat tanpa mengalihkan tatapannya di jendela.

“Apa sekarang kau mengaku kalah?” tanya Jungkook yang mulai tersenyum miring.

Nami sedikit terkejut mendengar penuturan Jungkook tadi. Ia menelan salivanya berat dan menatap Jungkook.

“Maksud kau?” tanya Nami yang berpura-pura tidak tau.

“Aku menang untuk ketiga kalinya ini. Dan kau kalah dalam hal ini.”

“Jadi?” tanya Nami yang mulai tahu kemana arah pembicaraan itu.

“Kau bilang jika orang itu menang, ia akan menyuruh apapun kepada yang kalah.”

“Nde. Aku mengaku kalah. Cepat katakan sekarang apa maumu?” Ucap Nami mendengus kesal dan melipat kedua tangan di depan dadanya.

“Jadilah asistenku selama satu bulan.” Ucap Jungkook tersenyum miring.

“Mwo?” teriak Nami terlonjak kaget dengan penuturan Jungkook.

 

-To Be Continued-

Anyyeong, annyeong, anyyeong~…… >.< apa masih ada yang membaca ff ini? Aku benar-benar berterimakasih kepada kalian yang masih mau membaca kelanjutan ff ini. Aku berterimakasih kepada para readers yang sudah mau meninggalkan comment kalian disini dan juga kepada bloggers yang mau like ff ini. Huuuuu T_T maafkan aku jika cerita ff ini kurang menarik bagi kalian. Aku benar-benar berusaha untuk melanjutkan ff ini sampai begadang tengah malam dari jam 1 hingga selesai untuk membuat chap 4 ini benar-benar jadi. //lohkokmalahcurhat//.    {Readers : “Salah sendiri begadang, kan gak ada yang nyuruh”} Hehehe iya, memang gak ada yang nyuruh. Tapi kalau tengah malam buat ff ini, rasanya sunyi jadi bisa lebih fokus buatnya. Hhh…. Mungkin chap selanjutnya akan datang terlambat, soalnya aku benar-benar sibuk mempersiapkan masuk SMA pertamaku. Sibuk test ini itu bingung mau masuk jurusan yang mana. Jadi maafkan aku  jika kalian agak kecewa dengan datangnya chap 5 yang datang terlambat nanti {Readers : “emang kita nungguin?”}. Sepertinya gak ya? Oh ya apa chap 4 ini kepanjangan? Mian kalau terlalu panjang. Aku bisa mengurangi halamannya nanti. Takutnya kalian terlalu bosan jika terlalu panjang kaya gini. Mungkin segitu saja yang bisa kuungkapkan. Saya pamit undur diri. Sampai jumpa semuanya. Anyyeong…..

Advertisements

11 thoughts on “[BTS FF Freelance] I am Not STUPID – (Chapter 4)

    1. Aduh… Maaf baru balas ni, soalnya baru ada kuota… Aku gak nyangka ternyata masih ada yang mau nunggu klanjutannya ya, chap 5 nya bentar lgi di publis, bisa lihat di jadwalnya… Makasih ya sdh mau nunggu dan baca ff ini…😊☺
      *lompatbarengTaehyung*

      Like

  1. Chinggu-yaa!!! sumpah ni ff jeongmal daebak!! >…< /tebakan ku harus benar!!-.- *maksa/
    Yuki… kalau bisa bikinin dong flashback nya Nami waktu dia suka sama Jungkook dulu:3:3:v
    Setujuu!!! gak papa ff nya panjang2:3, asal jangan terlalu cepat end nya-.-:3
    Yuki2 fighting ya lanjutin ff nya:3:3 semoga dapat ide daebak buat ff ini:3
    Nb: mian telat baca:( jangan marah nde?!:3:3 Yuki2 kita jarang ketemu nah-.- Kangenn ._. oke chapter 5 nya jangan lama2!! awas lama?!/ngancem-.-/
    Anyeong:3

    Like

    1. Anyyeong Nadellia, iya insyallah dibuatin flashbackny Nami wktu dlu dia sk sm Jungkook, aku setuju!!! Kkkkk~ kalo bisa…. 😀
      Benaran klo pnjg2 gpp, syukurlah klo bleh pnjg2…. hihi
      Gpp telat baca, yg pnting km dh bc aj aku senang… >.<
      Aku jg kangen km Nadel….^^ makasih ya sdh bc dan comment ff ini. Ditunggu aj klnjutannya /pyong/
      *JungkirbalikbrengTaehyung

      Like

  2. annyeong thor.. mian bru komen dichap ini soalnya ffnya bagus jadi ga sempet ningalin komen ..haha whaiting tor ceritanya seru ditungu bnget next chapternya

    Like

    1. Anyyeong…. Iy gpp, km comment aj aku dh snang….😂😂😂

      Makasih y sdh menyempatkan dri untuk bc dan comment di ff ini… Ditunggu aj klnjutannya😊😊
      *jungkirbalikbrengTaehyung*

      Like

  3. Akhirrnyaaaa,, chapter 4 nya dipost jugaaa.. Daebak thor,, kepanjangan? gak juga thor.. Gpp telat chapt.5 nya,, aku bakal nungguin deh.. cie yg mau masuk SMA,,
    Fighting thor,,🙆

    Like

    1. Iya makasih y sdh semangatin, iyanih yg bru msuk SMA cieee, loh knp muji diri sendiri? Wkwk, klo panjang gpp, btulan? Okeee >.<, tunggu aja y chap 5nya yg bkal dtng trlambat hehe ini karena aku stiap hari plng jm 5 sore trus klo skolah jd klo nulis sdikit2 setiap hari hikz (lohkokcurhat?) Hehe. Makasih sdh bc dan comment ff ini
      *lompatbrengTaehyung* 😀

      Like

    1. Oke, klo pnjang gpp ya hehe, aku emang suka klo nulis panjang2 jd cpt selesai, makasih y sdh bc dan comment ff ini….
      *lompatbrengtaehyung*

      Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s