[BTS FF Freelance] The Way I Love You – (Chapter 1)

nichan-the-way-i-love-you

Title : The Way I Love You

Author : Nichan

Maincast : ImWoomi, KimTaehyung, Park Jimin, Park Haebyul

Genre : Romance, school-life, drama

Rating : PG-15

Length : chaptered

Cover by  blackangel@PosterDesignART

Summary :

Dari awal aku hanya ingin berada dekat dengannya. sebagai sahabat baiknya, tentu akulah orang yang paling tau tentang dirinya. ini membuatku senang karna aku memang sangat menyayanginya. hingga aku sadar bahwa rasa sayang ini adalah cinta, kata persahabatan membuatku merasa jauh lebih menyedihkan. aku ingin berhenti jadi gadis baik yang selalu mendukung cintanya. mulai hari ini,aku akan menyatakan perasaanku terang-terangan. bagaimanapun juga, we’ve all changed. it’s not a friendship, but love.

“  there is no friendship between girl and boy, it’s just another name of love  “

 

***

“ Kim Taehyung!”

“ Kim Taehyung!”

“ Kim Taehyung!”

Sorakan untuk Kim Taehyung menggema di seluruh penjuru lapangan indoor sekolah ini. Puluhan murid perempuan bekumpul di tengah- tengah bangku penonton sambil membawa pernak-pernik pendukung, seperti; spanduk,pom-pom, poster— ah sudahlah. Tidak penting untuk menyebutkannya. Dan itu semua bertujuan untuk menyemangati satu orang. Orang yang kini tengah menggiring bola ditengah lapangan sana.

Kim Taehyung.

“KYAAAA!!”

Sorakan semakin riuh terdengar saat Dia, Kim Taehyung baru saja berhasil memasukkan bola ke dalam gawang. Murid- murid tadi semakin heboh menyorakinya. Tak pelak lagi, mereka memang penggemarnya Taehyung.

Pertandingan berakhir setengah jam kemudian. Dan seperti dugaan, mereka menang dengan skor 5-1. Seperti biasa, hampir seluruh gol dicetak oleh Taehyung. Yah, tak aneh lagi, karna sepak bola adalah satu- satunya keahlian yang dia miliki sejak dulu.

Sebenarnya yang tadi itu bukanlah pertadingan, tapi hanya latih tanding. Andai Kim Taehyung tidak main, pastilah tidak akan ada penontonnya. Dan Woomi juga tidak perlu repot- repot ikut menonton yang berakibat fatal pada telinganya karena teriakan- teriakan tadi.

Mata Woomi dapat menangkap sosok Taehyung yang kini berlari kecil menghampirinya dipinggir lapangan. Membuat beberapa mata sinis langsung terarah padanya. Yah,siapa lagi kalau bukan fans- fans Taehyung yang anarkis itu. Tapi tentu saja, selama ada Taehyung, mereka tak akan bisa berbuat apa-apa pada Woomi, meski hanya untuk menyentuhnya seujung jaripun.

Taehyung mengangkat sebelah tangannya ke udara, meminta high-five dari Woomi. Namun gadis itu buru-buru melipat tangan dan memasang ekspresi gondok.

“Kau tidak ingin memberi selamat padaku?” ia menurunkan tangannya sia-sia. Sebagai gantinya dia mengambil air mineral disamping Woomi dan menegaknya habis.

“Buat apa? gara-gara kau memaksaku untuk menonton,  aku harus kehilangan waktu untuk belajar.” Jawab Woomi sewot dan ikut duduk disamping Taehyung, masih dengan tangan terlipat.

“Aiissshh… dasar! Apa salahnya korbankan hal tidak penting itu buat teman kecil mu ini, hah?”

Woomi menatapnya sewot. Taehyung seakan tidak tau saja bagaimana pentingnya belajar buat gadis itu. Tapi jujur, ini bukanlah masalah bagi Woomi. Dia justru senang-senang saja jika diminta untuk menonton Taehyung bertanding. Yah, itu karna dia adalah sahabat Woomi sejak dulu.

“Woy, Kim Taehyung!!!”

Taehyung menoleh ke belakang. Seorang pria dengan seragam bola seperti Taehyung sedang berlari kearah mereka sambil menyeka keringatnya. Di belakangnya menyusul seorang lagi dengan wajah bosan dan seragam yang acak-acakan. “ Lagi- lagi kau yang jadi striker,huh? Tidak bisa bagi bakatmu sedikit apa?”

“ Hei, Hoseok! Itu salahmu sendiri pake kesandung segala!” jawab Taehyung dengan nada mengejek yang kemudian dibalas tonjokan oleh Hoseok. Yah, Hoseok tadi memang terjatuh saat akan menendang bola kegawang yang membuatnya gagal mencetak skor.

“Hoi, Jimin! Cepat bantu aku membunuh anak ini!” Teriak Hoseok sambil mencekik Taehyung yang masih saja tertawa.

Woomi menggeser pandangannya menatap cowok yang dari tadi hanya menonton Hoseok dan Taehyung sambil tersenyum kecil. Park Jimin, satu lagi sahabat Taehyung.

“Hoi, Jung Hoseok! Kalau kau membunuhnya sekarang, bagaimana dia akan mentraktir kita makan siang nanti. Setidaknya tunda dulu sampai kita sudah dibuat kenyang olehnya.” Ucapnya seraya menepuk pundak Hoseok.

“Kau Benar.” Hoseok menghentikan niatnya tadi dan kemudian menjulurkan tangannya pada Taehyung yang ternyata sudah sedikit terbatuk.

“Dasar gila! Kau tadi hampir saja membuat istriku jadi janda!” Taehyung menerima uluran tangan Hoseok dan segera berdiri.

“Istri? Apa kau mabuk? Seribu tahun lagi juga tidak akan ada yang mau jadi istrimu!” ejek Hoseok seraya memukul kepala Taehyung.

“ Cepatlah, aku sudah lapar!”

Jimin yang dari tadi hanya geleng- geleng kepala melihat tingkah mereka akhirnya tidak sabar dan jalan duluan. Kemudian Hoseok mengikuti nya sambil memutar- mutar bola dengan telunjuknya setelah beberapa kali sempat meneriaki Taehyung terlebih dahulu. Taehyung,walaupun sambil mengumpat dan mengelus kepalanya yang sakit, mulai berjalan mengikuti mereka.

Mendadak Taehyung berhenti dan menoleh kebelakang. “Hoi, Im Woomi! Kenapa diam? Ayo ikut!”

Nafas Woomi tertahan beberapa saat. Ketika akhirnya Dia bisa mengontrol suaranya, perlahan Ia menggeleng. “ Tidak. Aku harus belajar sekarang.”

Taehyung mencibir. Kemudian melangkah perlahan kearahnya.

“ Dasar tidak asik!” ujar Taehyung mengacak rambut Woomi pelan dan kemudian berbalik menuju kantin.

Deg!

Nafas Woomi lagi- lagi tercekat. Tangannya perlahan begerak untuk menyentuh kepalanya, merasakan tangan Taehyung yang baru saja berada disana. Diam- diam, Dia mulai dapat merasakan jantungnya berdetak lebih cepat di dalam sana.

 

**

Woomi menggengam erat lembar jawaban ujian Bahasa Inggris yang baru saja dibagikan. Angka 95 tertulis rapi dengan tinta merah di ujungnya.

“ Kerja bagus,Woomi.” Puji saem sambil tersenyum. Woomi menundukkan kepala sopan sebelum akhirnya kembali ke kursi.

“ Yang mendapatkan nilai sempurna kali ini adalah,” Saem menghentikan ucapannya, membuat anak- anak sekelas menahan nafas.

“Park Jimin.”

Seisi kelas menghela nafas. Menatap malas kearah Jimin yang kini maju mengambil kertas ujiannya. Beberapa anak melemparinya tisu yang hanya di balas cengiran olehnya.

Lagi- lagi dia. Minggu lalu ketika ujian Fisika pun dia yang mendapatkan nilai tertinggi. Park Jimin, ranking pertama kelas 10-1.

Woomi menghela nafasnya berat. Dengan malas Ia kemudian memasukkan lembar ujiannya kedalam tas. Moodnya hancur berat hari ini. Dan itu semua karena ujian Bahasa Inggris. Ah, tidak. Tepatnya karna Park Jimin.

“Pak, kepalaku sakit. Boleh aku istirahat di ruang kesehatan?”

Semua mata sontak tertuju kepadanya. Seperti biasa, Park Jimin.

“Ah, iya. Istirahatlah yag cukup agar nilaimu tidak turun”

Terdengar decakan dari seluruh anak kelas, merasa sebal dengan kelakuan Jimin. Bukannya mereka tidak tau kalau Jimin hanya ingin membolos pelajaran dan merokok entah dimana. Tapi selalu saja para guru memberikan kartu as kepada bocah itu untuk berlaku bebas, karna nilainya yang selalu menjejaki posisi tertinggi seangkatan,  padahal dia tak pernah terlihat belajar dan sangat sering membolos. Namun semua orang juga tau, kalau Park Jimin memiliki daya ingat dalam sekali lihat.

Woomi geleng-geleng kepala melihat Jimin yang sudah menyandang tasnya dan berjalan keluar kelas sambil tersenyum puas dan dengan gaya yang sangat menyebalkan. Tapi Woomi tau, kalau dia tak boleh membenci Jimin. Karna Jimin adalah salah satu teman baik Taehyung, dan teman Taehyung adalah temannya juga.

 

**

Woomi memegangi kepalanya yang mulai terasa berat. Dipijatnya pelan agar rasa pusing yang dari- tadi dirasakannya dapat segera mereda. Dia belum boleh berhenti sekarang. Masih banyak materi Biologi yang harus dipelajarinya untuk ujian mingguan besok. Kali ini dia tidak boleh mendapatkan nilai rendah lagi.

 

Brak!

Pintu kamar Woomi terhempas keras, membuat gadis itu sempat terlonjak dari kursinya.

“ Im Woomi! Ini sudah jam 9 malam dan Kau masih belum menyentuh makan malammu?! Kau mau mati, huh?”

Mata gadis itu membulat mendapati Taehyung baru saja mendobrak masuk ke kamarnya sambil membawa nampan dengan mangkok- mangkok yang diisi bermacam makanan. Dengan sekali lihat juga Woomi langsung sadar kalau itu adalah makan malamnya yang tadi sempat ditawarkan pelayan rumahnya.

“ Kenapa kau ada disini?”

Pertanyaan bodoh. KimTaehyung kan memang selalu keluar masuk rumahnya dengan seenak jidat.

“ Makan sekarang juga atau aku akan menyobek buku- bukumu itu!” ancam Taehyung seraya menyingkirkan buku-buku yang ada diatas meja belajar Woomi dan menyodorkan makanan tadi sebagai gantinya.

Woomi mendecak pelan melihat Taehyung yang buru-buru melompat ke kasurnya dan menyalakan televisi untuk menonton pertadingan sepak bola yang entah siapa melawan siapa. Bocah itu juga mulai berteriak-teriak heboh mendukung tim andalannya. Melihat tingkah Taehyung, Woomi hanya bisa memutar bola matanya bosan dan kembali menatap meja belajarnya.

“ Oke. Sepertinya tidak ada pilihan selain makan.” Gumam Woomi pelan dan mulai menyendokkan makanan kedalam mulutnya.

“ Kau tidak kerja?” Tanya Woomi setelah menelan sesendok besar nasi.

Taehyung menatapnya sekilas dan kemudian kembali focus kearah televisi, “Sudah selesai sejam yag lalu.”

Woomi menganggukkan kepalanya pelan dan kembali melanjutkan makannya. Dia harus buru-buru menyelesaikan makannya agar dapat kembali belajar.

Woomi Tersenyum puas setelah suapan terakhir baru saja masuk kemulutnya. Dia memutar kepalanya menatap Taehyung sambil memasang senyum bangga. Jarang-jarang dia bisa meghabiskan makanannya.

Woomi tertawa kecil saat mendapati Taehyung kini tengah tidur tengkurap di tengah kasurnya. Masih dengan Televisi yang menyala. Alisnya berkerut, apa tadi dia makan terlalu lama?

Woomi bangkit dari kursinya dan berjalan menuju tempat tidur. Perlahan dia menjatuhkan dirinya kelantai dan menyandarkan tangannya kekasur, sebisa mungkin berusaha agar Taehyung tidak terbangun. Karna kalau anak itu bangun, dia tak akan  bisa melakukan ini.

Wajah Taehyung tampak begitu pulas. Kening Woomi bekerut saat melihat beberapa noda hitam di wajah Taehyung. Terdapat semacam coretan hitam disekitar pipi dan hidung Taehyung. Sedetik kemudian Woomi sadar menghela nafas, “ Kau bahkan belum cuci muka, huh?”

Wajahnya jadi kotor seperti itu tentu karna bekerja. Sejujurnya Woomi tidak terlalu suka keputusan Taehyung bekerja sebagai montir beberapa bulan yang lalu. Tapi Taehyung tetap bersikeras ingin melakukannya. Yah, Woomi mengerti kenapa Taehyung melakukannya. Karena dia tidak punya pilihan lain.

Perlahan tangan Woomi bergerak menyentuh ujung rambut Taehyung. Rambutnya yang berwarna kecoklatan agak panjang hingga sedikit menutupi matanya. Woomi tertawa kecil membayangkan rambut botak Taehyung ketika mereka kelas tiga sekolah dasar dulu. Saat itu Taehyung bersikeras menggunduli rambutnya untuk mengikuti model rambut pemain bola kesukaannya. Alhasil, dia diolok-olok dan ditertawakan oleh anak sekelas. Tapi dia tetap saja dengan pedenya berkeliaran bebas disekolah untuk memamerkan kepalanya yang licin.

Kelopak mata Taehyung tampak bergerak,membuat Woomi buru-buru berdiri dan kembali ke meja belajarnya. Gadis itu menghembuskan nafas lega. Hampir saja dia ketahuan sedang memperhatikan Taehyung diam-diam. Dan bisa saja hal itu ujung-ujungnya akan membuat Taehyung menyadari perasaannya.

Woomi menoleh kearah Taehyung. Bocah itu tampak tertidur sangat pulas, tidak bergerak sedikitpun.Woomi buru- buru mengambil buku biologinya dan mulai belajar. Setidaknya dia harus mencoba belajar walaupun dia tau tidak akan mudah baginya untuk konsentrasi menghafal disaat Taehyung ada didekatnya.

**

Taehyung membuka matanya perlahan dan mengedip beberapa kali. Ah, ternyata dia ketiduran. Dia bangkit seraya meregangkan tangannya sambil menguap lebar. Sejenak dia sadar, ini bukanlah kamarnya.

Dia beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju meja belajar. Dia menggelengkan kepalanya pelan saat melihat Woomi yang ketiduran diatas meja masih dengan  buku yang terbuka sabil memegang pensil. Kebiasaan!

Taehyung mengangkat sebelah alisnya, bimbang apakah dia harus mengangkat dan memindahkan Woomi kekasur atau tidak. Gadis itu tentu akan merasa pegal jika tidur dalam keadaan seperti itu. Tapi Taehyung juga takut gadis itu terbangun jika Taehyung memindahkannya nanti. Dan kalau gadis itu terbangun, Taehyung yakin dia justru akan kembali belajar dan bukannya tidur.

Taehyung menghembuskan nafasnya pelan kemudian mengambil selimut dan bantal dari atas kasur. Diselipkannya bantal di bawah kepala Woomi dan di selimutkannya tubuh gadis itu. Yah, setidaknya begini akan lebih baik.

Tangan Taehyung mengelus rambut Woomi pelan seraya tesenyum tipis, “Kau berjuang terlalu keras, Im Woomi.”

 

**

 

Kepala Haebyul sedikit meneleng, menatap dirinya dari balik cermin. Sedetik kemudian gadis itu menghela nafas panjang. “Aku harus mengganti model rambutku.”

Dirapikannya lagi rambut panjangnya yang sedikit ikal. Menurutnya, model rambut ini sudah tidak begitu cocok dengannya. Sudah bertahun-tahun dia tidak mengganti model rambutnya, dan dia sudah bosan sekarang.

“Hei, Park Haebyul! Kau tidak lelah dari- tadi bercermin? Aku yang melihatnya saja capek” sindir gadis di sebelahnya.

Haebyul menyipitkan matanya, menatap gadis yang sedari tadi memperhatikannya dengan tampang bosan. Dia Jung Hyomi. Teman sebangku Haebul beberapa bulan belakangan dan juga orang yang sudah dianggapnya sahabat belakangan ini.

“Berisik!”

“Aishh, memangnya kau mau memikat siapa lagi, huh?” cibir Hyomi sebelum memperbaiki posisi duduknya dan bersiap untuk tidur.

Haebyul menatap ke sekeliling kelas. Kelas begitu rusuh karena guru yang harusnya mengajar mereka saat ini ternyata tidak masuk dan tadi mereka hanya diberi tugas untuk belajar sendiri. Tapi tentunya, tidak akan ada yang mengindahkan tugas itu.

“Woi, Hoseok! Cepat turun!!”

“ Dasar gila! Mejanya bisa patah karna kau, bodoh!”

Suara berisik anak-anak cowok itu membuat Haebyul mau tak mau memutar badannya kebelakang. Haebyul mendecak sebal saat melihat di barisan belakang sana, teman sekelasnya yang bernama Jung Hoseok tengah berjoget diatas meja sambil sesekali memukul pantatnya menghadap jendela.

“ Hei yang dikuncir dua! Lihat sini, dong!”

“Yang matanya belo noleh sedikit boleh, lah? Ada oppa ganteng disini!!”

“ Yang gak pake rok coba lihat sini!!”

Haebyul memutar bola matanya melihat tingkah kekanak-kanakan mereka. Tidak hanya berteriak tidak jelas, anak-anak itu juga bersiul dan tertawa heboh tidak tau malu. Haebyul bisa menduga kalau mereka pasti tengah menggoda cewek-cewek kelas sebelah yang tengah jam olahraga di lapangan.

“Taehyung kau mau kemana?” teriak Hoseok saat anak yang dari- tadi tidur disampingnya mendadak bangkit dan nyelonong pergi.

Krek!

 

Haebyul terdiam.

Dia baru saja akan mengambil bolpoin nya yang jatuh saat kini dia melihat nasib naas bolpoinnya yang pecah menjadi beberapa bagian. Perlahan Haebyul mengangkat kepalanya seraya menelan ludah. Yep, Bolpoinnya patah karena diinjak oleh Taehyung yang melewati mejanya untuk keluar kelas.

Untuk sejenak, kelas terasa hening.

Taehyung memungut bolpoin yang telah dihancurkannya dan meletakkannya diatas meja Haebyul saat tiba-tiba suara tawa Hoseok memenuhi ruangan kelas.

“Kau kingkong sekali Kim Taehyung! Sampai-sampai bolpoin pun hancur hanya kau injak.” Ejek Hoseok tertawa puas. Sedangkan seisi kelas hanya diam, tak berani bergeming melihat Taehyung yang kini menatap Haebyul garang.

“ Kau yang salah, jadi aku tak akan ganti rugi, mengerti?”

Haebyul mengangguk cepat mendengar hardikan Taehyung. Akhirnya dia bisa bernafas lega saat taehyung sudah berjalan keluar meninggalkan kelas yang sempat tak bergeming dibuatnya.

Semua orang tau, tidak akan ada yang bisa hidup tenang disekolah ini jika berurusan dengan Kim Taehyung, apalagi jika berani membuat masalah dengannya.

**

Haebyul berjalan cepat kearah toilet. Dia lupa membenarkan riasannya saat istirahat siang tadi, alhasil dia harus izin ke toilet pada pelajaran ke-empat untuk merapikan wajahnya.

Bukannya apa, tapi wajah inilah yang sangat diandalkan oleh Haebyul. Sejak kecil Haebyul sudah sadar pandangan orang-orang yang selalu menatapnya kagum. Anak-anak cowok yang selalu bepaling untuk terus-terus memperhatikan wajahnya yang cantik. Kata kebanyakan orang, Haebyul memiliki wajah sangat mungil dan babyface sehingga kalau dia tersenyum akan menyerupai boneka perempuan yang manis. Dan Haebyul yang paling sadar akan hal itu.

Karna itu, Haebyul yakin bahwa wajahnya ini adalah satu-satunya karunia Tuhan untuknya agar dia bisa keluar dari kehidupannya yang miskin. Dengan wajah cantik seperti itu, tentu Haebyul akan dengan mudah menggaet pria manapun yang dia inginkan. Dan Haebyul suda bertekad akan menikah dengan pria kaya yang bisa memberi semua yang dia inginkan. Dia sudah tidak ingin hidup serba kekurangan dan berhemat lagi.

Kaki Haebyul terhenti, tepat di depan lorong kecil yang berada disamping toilet. Haebyul membulatkan matanya dan kemudian sedikit terbatuk saat kepulan asap berbau tidak enak masuk kehidungnya. Haebyul melangkahkan kakinya, bersiap untuk pergi dari sana. namun ia justru ditarik masuk kedalam lorong dan tiba-tiba saja badan mungilnya di dempetkan ke tembok dengan cukup keras.

“Aw!” ringis Haebyul saat punggunya sedikit terasa nyeri.

“Wah, wah… Rupanya Tuan puteri alergi asap ya.”

Bola mata Haebyul melebar, melihat orang yang kini tengah menguncinya yang tak bisa bergerak sama sekali. Haebyul terbatuk lagi saat orang itu menghembuskan asap rokoknya tepat di wajah Haebyul.

“Sayang sekali, padahal wajah Tuan puteri jadi jauh lebih cantik jika tertutup asap, lho.”

“pfftt, Kim Taehyung, gombalan macam apa itu?”

Haebyul menoleh ke kanan, mendapati Hoseok, teman sekelasnya, yang baru behenti tertawa dan melambaikan tangannya ke arah Haebyul, “Hai, Park Haebyul!”

“Lepaskan dia, Taehyung.” Disamping kiri Haebyul, ada park Jimin si cowok tepintar seangkatan. Haebyul seketika gemetaran menyadari bahwa dia tengah dikelilingi anak-anak berbahaya. Ya, kelompok yang paling ditakuti disekolah. Kim Taehyung, Park Jimin, dan Jung Hoseok.

Taehyung tersenyum kecil tanpa mengalihkan tatapannya dari Haebyul, membuat Haebyul setengah mati menahan napas.

“ Ah, Tuan Puteri tidak boleh disentuh sembarang orang, kan? Apalagi oleh rakyat jelata sepertiku. Benar, kan?”

 

Tobecontinued…

 

Hai!

Ini fanfic pertama setelah setahun off. Alhasil jadilah fanfic amburedul begini. Semoga gak mengecewakan bagi yang udah baca yah. Komentar yang membangun sangat dibutuhkan><

-Nichan

 

 

Advertisements

2 thoughts on “[BTS FF Freelance] The Way I Love You – (Chapter 1)

  1. Lisa Thouw

    Asli,.keren nie ffnya. Suka sama ceritanya.
    Nextnya dh ada blm, thor?
    Klw blm, mohon dilanjut yaa… jgn berhenti ditengah jalan. Aku menunggu kelanjutannya *Kedip2UnyuBrngJin* hohoh

    Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s