[BTS FF Freelance] Can’t We? – (Ficlet)

1465549827451

Can’t We?

A story by Lighty, strarring with BTS Park Jimin and Feyrefly  OC Kim Nao.

Romance, Hurt / Comfort || PG-13 || Only plot belong to me.

…..

Semilir lembut angin mencium pucuk kepalaku, menerbangkan helaian-helaian tipis rambut yang berada di ujung kening. Aku suka suasana ini, seolah alam mengajakku bersantai dan melupakan sejenak masalah yang tertimbun dalam sel-sel otakku. Menurutku, membaca novel dengan genre romansa adalah hal yang paling cocok untuk saat ini. Pikiranku dengan bebasnya terbang ke dunia fantasi bersama semilir angin yang menari.

Membuang tiga puluh menit sampai berjam-jam tak masalah untukku demi menjelajah dunia fiksi, toh memang aku suka melakukannya setiap hari. Bait demi bait kalimat yang digambarkan sang penulis jika memang puitis akan kutenggak sekali habis. Dunia fiksi itu terlalu indah, walau terkadang sang tokoh utama harus terpisah.  Mungkin dengan berlandasakan pikiran sempit itu, nantinya kami–ia dan aku–akan bersatu.

Baru saja kusebutkan, sosoknya sudah tertangkap dalam pandangan. Sejauh apa pun aku tenggelam dalam dunia fiksi, jikalau dia mendekat aku pasti akan mengambil jeda sejenak. Menggerakkan otot mataku untuk terus merekam tingkah lakunya.

Biasanya ia hanya sekadar memalingkan wajahnya padaku lalu menarik simpul manis yang selalu diiringi oleh dua sampul manis lainnya di ujung matanya. Tapi kali ini ada yang berbeda tatkala ia mulai menentukan langkah ke tempatku berada.

Bisakah kau hanya diam di sana Park Jimin? Kau tahu kita tidak bisa menunjukkannya.

Sial, ia terus mendekat dan napasku semakin tercekat. Tidakkah ia tahu apa yang telah dilakukannnya ini telah berhasil membuat kupu-kupu yang berada di perutku kembali terbang dengan cepat.

Sekali lagi wajah tenang itu menghipnotisku, membawa pikiranku ke sisi lain dari dunia fantasi selain fiksi romansa yaitu dunia kami berdu—bagian favoritku dari berbagai dunia fantasi yang kubangun.

Tubuh tegapnya berdiri di hadapanku, dan sekon berikutnya ia telah sejajar dengan tubuhku. Semakin menghapus jarak, kepalanya telah mendarat sempurna di pundakku. Aku membatu berharap kejadian ini tak ada satu pun yang tahu.

“Kenapa kau hanya diam begitu?” Suara khas miliknya menyapa telingaku. Bukannya memberikan jawaban aku hanya memandanginya yang tengah bergelayut manja  padaku. “Apa kau tak suka? Apa kau tak merindukanku? Coba kau ingat kapan terakhir kali kita bisa sedekat ini?”

“Aku tak tahu, tapi aku harap kau tidak melakukan ini sekarang. Kau tahu akan sangat bahaya jika kita sampai ketahuan.” Kusuarakan kalimat yang mengusik batinku sebagai jawaban dari beberapa pertanyaannya.

Kepalanya terangat, menoleh tepat ke wajahku–yang mungkin sudah berubah warna menjadi kemerahan–lalu mendekat untuk menyampaikan sesuatu.

“Kau tenang saja, tak akan ada yang tahu, Kim Nao.” Kalimatnya persis meluncur tepat di samping telingaku, serta membuat jantungku kembali menggebu-gebu.

Ia kembali menarik wajahnya lalu seperti biasa hanya menarik simpul di ujung bibirnya. Seolah senyumnya adalah virus yang mudah menyebar, tanpa kusadari senyumku pun ikut merekah.  Menyusuri mata kelamnya membuatku kembali menemukan titik ketentraman yang mampu menghapus rasa gelisah dalam hati yang membuncah.

Jemari miliknya telah bertaut dengan milikku. Menghapus rongga yang ada untuk menjadi satu.

Kututup mata rapat-rapat membiarkan tubuhku mulai menghangat sembari memutar beberapa memori indah untuk diingat. Karena aku tahu bahwa aku akan mencintainya, sangat. Dan ia mencintaiku tanpa penat. Meski saudaraku–kakak tersayangku Kim Namjoon–tak akan pernah sependapat bahwa cinta kami memang kuat.

Perlahan kubuka kelopak mataku, menyesuaikan retina dari bias cahaya. Kupalingkan wajah ke samping ternyata tak ada siapa-siapa.

Apa aku baru saja bermimpi? Apa semua yang kulewatkan tadi hanya ilusi? Namun, mengapa aku merasa bahwa semua itu memang terjadi?

Mustahil bila detik lalu ia menggenggam tanganku erat dan detik ini menghilang dalam sekejap.

Segala arah mata angin kuedarkan pandangan hingga akhirnya ia berhasil kutemukan. Bersama seorang pemuda yang sedang merangkul pundaknya ia terus berjalan–menghilang dari hadapan.

Langkahnya belum terhenti dan aku masih ingin tahu apa yang akan dilakukannya nanti.

Punggung yang terus kuamati itu akhirnya berhenti, berbalik sembari mengembangkan simpul cerah itu, lagi. Hanya beberapa detik yang ia beri kemudian ia kembali berjalan pergi.

Melihat ayunan tangannya yang kosong membuatku ingin meraihnya. Menggenggam erat, dan berbagi rasa hangat walau hanya sesaat.

Namun mengapa kami tak bisa melakukannya?

Mengapa kami harus menyimpan semuanya menjadi rahasia?

Apa perasaan ini sebuah kesalahan?

Andai Kim Namjoon bersedia melapangkan hati, sudah pasti hubungan ini tak perlu ditutupi. Bahkan tak ada yang perlu tersakiti. Karena sedikit demi sedikit perasasaan ini membuatku mati.

Namun sayang hatinya sekeras batu yang sulit untuk dipecahkan, egonya terlalu tinggi untuk dicapai dan sialnya aku tak mampu untuk membangkang.

Hanya dengan berlandaskan sebuah asumsi bahwa ayah Jimin—yang notabene adalah sahabat ayah—menjadi dalang dari meninggalnya orang tua kami, kak Namjoon melarangku untuk berhubungan dengan Jimin lagi.

Jika semua ini memang akibat dari ayah Jimin, aku akan tetap mempertahankan hubungan yang terjalin. Karena apapun alasannya Jimin tak ada hubungannya dengan semua ini.

Aku ingat kala Jimin datang untuk menenangkanku yang menangis tatkala kedua orang tuaku telah tiada. Ia rela kedua lengannya menjadi selimut penghangat, dan dada bidangnya menjadi sandaran penguat.

Ia hanya menutup mulut rapat-rapat membiarkanku terus menangis agar rasa sedihku dapat menguap. Namun bukan tenang yang kudapat ketika detik itu juga kak Namjoon menggeretku kuat sembari melayangkan kata penuh umpat.

Kulirik kak Namjoon yang berdiri tegap, dengan amarah yang tersirat dalam tatap. Aku pun langsung menangkap, tatapan itu penuh peringatan.

“Mulai saat ini kau tak perlu menemuinya lagi, Kim Nao. Jangan tanyakan alasannya, kupikir kau sudah tahu dengan jelas.”

Mulai saat itu aku mengerti bahwa kak Namjoon tak akan merestui. Meski ia tahu sudah banyak hal bersama yang telah aku dan Jimin lalui.

Mungkin kini aku harus mengalah, menjadi adik yang patuh pada sang kakak. Walau semua terasa salah, namun aku hanya bisa pasrah.

Aku maupun Jimin tak memiliki kehendak untuk mengatur segalanya menjadi sempurna. Tapi aku percaya bahwa akan ada akhir bahagia yang datang menyapa. Dan pengorbanan untuk itu adalah perasaan yang tertahan di dalam dada.

 

-fin-

 

Advertisements

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s