[BTS FF Freelance] FAIR – Ficlet

fair-bts

F A I R

jihyeonjee98 ©2016

AU, Gore, Psychology | Ficlet

Staring with BTS’s Kim Taehyung & Park Jimin

Rate: PG17

This fiction has some bad words and violence scene. I just own the plot. The casts belong to god and his agency. Don’t copas if you still want to breathe.

Lakukanlah dengan caramu. Tetapi ingat, jika kau sudah mendapatkannya, jangan tarik ulur hatinya.

—o—

Terkutuklah Taehyung yang kali ini memakan kata-katanya sendiri. Baru saja sepekan yang lalu dengan percaya dirinya pria jangkung itu berkata, ‘aku nggak akan suka gadis komplek sebelah itu. Terlalu anak-anak’ akan tetapi hari ini Taehyung sendiri tengah kebingungan lantaran tiap kali bertemu si ‘gadis’ kardionya berdegup tidak karuan. Oh—ini baru pertama kalinya bagi Taehyung, omong-omong.

Berhubung teman sebayanya—sebut saja Jimin, memiliki dua gadis pujaan yang entah mana yang akan selamanya bertengger dalam kalbu, Taehyung dengan gamblang membeberkan seluruh keluh dan kesahnya menyukai gadis yang jelas-jelas awalnya enggan Taehyung tilik. Huh, salahkan saja Taehyung yang terlebih dahulu mendusta nurani.

“Memangnya enak makan omongan sendiri?” ejek Jimin—meski saat ini Jimin tengah asik membaham semangkuk popcorn lantaran masih berfokus dengan film yang tengah diputar, bisa-bisanya lelaki itu melontarkan kalimat sarat ejekan.

Lantas Taehyung merajut, “I’m so done! Mengapa aku bisa menyukainya?”

“Begini, ya, Kim Taehyung-ssi, lakukanlah dengan caramu. Tetapi ingat, jika kau sudah mendapatkannya, jangan tarik ulur hatinya, get it?”

Taehyung tidak membuka mulutnya untuk menjawab, kendati saat ini kepalanya tengah mengangguk mengerti.

—o—

Sepekan sudah semenjak Taehyung yang mencurakan segala isi hati pada seorang Jimin. Meskipun, jangan hiraukan perihal Jimin yang sesekali merasa khawatir karena sejatinya, Taehyung bukanlah tipikal lelaki penyabar yang dengan gampang bisa mendapatkan hati wanita—yah, anggap aja itu alasan Taehyung masih menyandang status single seumur hidupnya. Memang, Taehyung tidaklah seperti Jimin yang dengan gampangnya melabuhkan hati pada dua wanita sekaligus. Tidak salah, ‘kan, jika Taehyung berguru pada Jimin?

Baru saja Jimin akan mendaratkan bokongnya di atas sofa lantas menyibukkan diri dengan film-film yang belum kandas disaksikan, bel flat terlebih dahulu menginterupsi tiada henti. Dengan malas, Jimin melangkahkan tungkainya gontai, memutar kenop pintu kekiri lantas membuka daun pintu tanpa menilik siapa yang berusaha menghancurkan tombol bel flatnya.

Iya, siapa lagi jika bukan Taehyung.

Lantas tanpa banyak berbincang, Jimin kembali pada aktivitasnya yang tertunda, menyetel film yang sudah tertimbun berkat tugas-tugas perkuliahan yang membuatnya jenuh. “Bagaimana? Sukses?”

“Sukses pantatmu,” Umpat Taehyung seraya mendaratkan bokong di atas sofa, menyesap batang rokok yang terselip di antara jemari, menghembuskan asapnya lamat-lamat dan terus begitu hingga Jimin terpaksa bangkit dan membuka jendela—untungnya, Jimin tidak memasang pendingin ruangan. “Dia menolakku, shit.”

“Gadis sepolos dia mana mau melirik lelaki berandalan sepertimu, don’t you know?” Ujar Jimin yang dengan spontan mendapat tilikan tajam dari si empunya manik—Taehyung. “Lantas bagaimana?”

Baru sedetik yang lalu Taehyung memberikan lirikan tajam teruntuk Jimin, namun saat ini indera pendengaran Jimin tidaklah tuli untuk mendengar cekikikan tawa yang Taehyung lontarkan. Ah, lagi-lagi Jimin dibuat berpikir seratus kali, apa yang lelaki ini perbuat kali ini?

“Ya, bagaimana ya. Aku tidak suka kekalahan jadi, ya, membunuhnya bukan hal yang sesulit itu.”

Nah, ‘kan. Jimin sudah bisa menebak akhir ceritanya akan menjadi seperti ini.

“Apa kau hanya membunuhnya saja?”

“Tentu tidak, aku juga membelah tubuhnya,” Taehyung memberi jeda disana, menyesap kembali rokok yang sedari tadi terapit di jemarinya, menghembuskan asapnya hingga memenuhi seluruh ruangan. “Aku menarik ulur hatinya juga, dan aku menghancurkan kepalanya. Ugh, itu membuat bajuku kotor kau tahu.”

Jimin bergeming sejenak. Katup bibirnya enggan membuka lantaran nalarnya masih berusaha mencerna. Namun sedetik berikutnya keadaan mulai berotasi dahsyat. Jimin tertawa lepas. Terkikik hingga terkapar di atas ubin yang dingin,

.

“Nah, itu baru namanya adil.”

Yes Park Jimin, memang itu sangat adil.”

 

fin

 

a.n;

Siapapun yang terdampar di fiksi ini, tolong beri saya obat supaya berhenti nulis gore-gorean. Trims.

-ji

Advertisements

One thought on “[BTS FF Freelance] FAIR – Ficlet

  1. Hing~ Lagi iseng buka genre gore dan bertemu ini…kupikir sudah sebaiknya inget umur dan jangan main sembarangan lagi /plak
    Kak ji, ini tae nya serem yeth… Jimin juga, kenapa malah ikut ketawa abis temennya bunuh orang /.\ Tapi aku suka kok ceritanya.. Aku sering liat kak ji nulis psycho dan aku suka alurnya jadi ya.. Kurasa kak ji memang ahlinya nulis beginian 😂😂 /dilempar

    Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s