[BTS FF Freelance] Life of Friends – (Chapter 3)

cjje0dbxaaaccit

Life of Friends (Chapter 3)

A story by ; coolbebh’s

Starring by ; Kim Namjoon [BTS’s], Oh Hani [OC’s]

PG-13 | Friendship | Chaptered

.

.

[“Han … kau tahu tidak aku menyukai kue sus karena apa?”]

 

Words : 1,439

 

Warning! Plot is very ugly. Don’t copy paste or plagiarism. Bahasa tak menggunakan Ejaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar!

 

.

.

 

Coolbebh’s mempersembahkan ** 2016

 

Siang ini, tepat pukul 02.00 PM. Namjoon mengayuhkan sepedanya dengan kuat, peluh dari pelipisnya mulai keluar secara berkala, tatkala dirinya mulai kehausan. Sepedanya itu mengantarkan dirinya kepada sebuah rumah yang sederhana namun sangat nyaman untuk ditempati. Siapa lagi kalau bukan rumah sahabatnya itu?

 

Jarak rumah mereka memang tak membutuhkan waktu yang lama. Namun, cuaca panas nan terik ini melebihi apa yang ditujukannya. Ia merasa bahwa rumah sahabatnya sepuluh kali lipat lebih jauh daripada sebelumnya. Sejemang, ia berhenti di belokan jalan baru itu. ia menatap kelapa muda yang menyegarkan tenggorokannya yang sangat kering, Namjoon menelan ludahnya dengan susah payah. Baru kali ini, menelan ludah pun penuh perjuangan sampai ke titik darah penghabisan. Tidak. Itu terlalu lebay.

 

Kini, Namjoon mengurungkan niatnya untuk mengayuhkan sepedanya lagi. Mungkin butuh dua menitan lagi untuk mencapai rumah sahabatnya itu, Hani. Sepeda merah mudanya itu telah berhasil mengalahkan sang mentari yang sangat cerah nan terik. Ia benar-benar beruntung dengan kekuatan dirinya yang masih menyisakan energi.

 

Tak membutuhkan waktu yang cukup lama memang, dirinya telah sampai di rumah yang memisah dengan toko sederhana itu. Ia memarkirkan sepedanya dekat penyangga pakaian. Kemudian, tungkainya itu secara tak sadar mengukir sandal birunya pada rumah yang bercat putih itu.

 

“Hani….” Serunya.

“Ya, tunggu sebentar!”

 

Ia berdiri di depan pintu bercat coklat itu menunggu sang pemilik membuka pintunya. Beberapa detik kemudian, suara kunci pintu terdengar sudah, kini pemilik rumah telah menampakkan batang hidungnya dengan wajah datarnya. Meski Namjoon membalasnya dengan senyuman.  Tak ragu-ragu, dirinya langsung melesat masuk ke dalam ruangan tanpa seizin si pemilik, Hani.

 

“Huh….”

“Selelah itukah?”

“Ya … cuacanya sangat panas. Aku haus, Han … Bolehkah aku menyuruhmu?”

“Cih! Ambil saja sendiri.”

 

Namjoon menggelang pelan melihat respon Hani yang acuh tak acuh. Sejenak, ia menyenderkan kepalanya pada penyangga kursi yang telah tersedia disana. Ia menghembuskan napasnya kasar yang sedikit terengah-engah itu.

 

“Kau … tak kasihan apa dengan sahabat tampanmu ini?” ujar Namjoon kembali tanpa menatap Hani disampingnya. Sedetik kemudian, Hani mendengus kesal. Tungkainya itu beranjak menuju dapurnya untuk menjamu Namjoon walau sama sekali tak niat.

 

Namjoon yang kini tengah memejamkan matanya itu merasakan bahwa dirinya tengah berkunang-kunang, ia merasa pandangan gelapnya yang seharusnya berwarna merah menjadi berubah warna kuning. Ada apa ini? Dia tak biasanya selemah ini.

 

“Nih….” Hani menyodorkan segelas air mineral pada Namjoon.

“Terimakasih, Han.” Ia meneguknya dengan cepat dengan sekali tegukan, kemudian meletakan gelas kaca tersebut di meja tamunya.

 

“Ada apa, Namjoon? Tak biasanya kau tak memberiku direct message.”

“Rindu.” Singkatnya.

“Gembel!”

“Gombal Hani, Sayang….” Hani menatap Namjoon kesal, ia memukul lengan Namjoon cukup keras, tak mempedulikan Namjoon tengah mengaduh kesakitan.

 

“Lebay!”

“Apaan, sih! Sakit tahu!”

 

“Eh … Nak Namjoon, apa kabar?” mereka berdua yang sedang bertatap sinis itu kini atensinya teralihkan sudah. Suara wanita paruh baya itu berhasil membuyarkan omongan mereka yang menyulutkan emosi. Namjoon tengah menatap ibu Hani yang kini memberikan senyuman manisnya. Refleks, Namjoon berdiri membungkukkan badan untuk sebagai penghormatannya kepada sang pemilik rumah asli. Hani ‘kan cuma numpang.

 

“Baik, Bu. Maaf merepotkan ibu atas kedatangan saya.”

“Tidak apa-apa, kok. Sudah makan?”

“Belum, hehe.” Ibu Hani mengulum senyum kemudian menuntun Namjoon ke dapurnya tak memperdulikan sang anak asli semata wayangnya yang tengah mematung disana.

 

‘Mentang-mentang Namjoon tampan, ibuku melupakanku. Cih!’ katanya dalam hati. Ia mengikuti pergerakan tungkai mereka berdua yang tengah berjalan meuju dapur minimalisnya.

 

“Silakan makan, nak Namjoon. Maaf hanya ini yang ibu punya. Hanya kimbab tidak apa-apa, ya? Ditambah kue sus.”

“Ibu … jangan terlalu menjamuku. Aku kesini hanya bermain, kok. Tak lebih.”

“Tidak apa-apa. Mau ibu siapkan?”

“Cih! Manja sekali kau, Namjoon.” Cibirnya. Hani menatap tajam Namjoon yang kini tengah meledeknya. Meledek dalam artian tak diperhatikan oleh orangtuanya sama sekali. Menyedihkan.

 

“Hush! Jangan begitu, Hani!”

“Saya saja yang mempersiapkan, Bu….”

 

“Ya sudah. Omong-omong, kenapa sekarang tak pernah menginap lagi disini, Joon?” Tanya ibu Hani.

“Kami sudah dewasa, Bu. Takutnya terjadi sesuatu yang tak mengenakan. Maaf, ya, Bu.”

“Sok bijak!” sergah Hani sembari memalingkan wajahnya kesembarangan arah. Namjoon hanya menggelengkan kepalanya tak menyangka apa yang diucapkan Hani.

“Hani….” Protes ibu. Ibunya menghela napas sebentar sembari menggelengkan kepalanya, “Ya sudah tidak apa-apa, ibu ke depan lagi, ya?” Namjoon mengangguk cepat. Ia memberikan senyuman terbaiknya pada ibu Hani itu, takut-takut jika dirinya disebut anak tak sopan. Selenggang kemudian, ibu Hani meninggalkan mereka berdua menyisakan tatapan yang masih berkobar-kobar.

 

“Cemburu, ya?”

“Tidak.”

“Mengaku saja….”

“Hmm,” sedetik kemudian Namjoon menguarkan tawanya yang memekikkan suasana. Entah mengapa Hani bisa cemburu padanya akan sikap ibunya itu. Bukankah ibu Hani selalu baik kepada semua orang? Termasuk kepada dirinya.

 

“Ya Tuhan … kau ada-ada saja, Han.”

Hani hanya melipatkan tangannya di depan dadanya itu sembari mengerucutkan bibirnya kesal. Namun, dimata Namjoon jauh berbeda. ia terlihat imut.

 

“Han, aku ingin ini, ya?” ucapnya kembali sambil menunjukkan ke arah kue sus.

“Silakan. Joon, kita ke ruang tengah, yuk? Bawa kuenya kalau mau.”

Namjoon mengangguk paham. Ia membawa setoples kue sus itu dengan melahapnya tanpa menjeda waktunya. Kini mereka tengah duduk yang hanya beralaskan karpet sederhananya.

 

“Joon….”

“Hmm?”

“Aku—“

“Menyukaiku?”

“Ish … bukan!”

“Lalu?” Namjoon menatap Hani lekat yang tengah menundukkan kepalanya. Ia merasa bahwa Hani merahasiakan masalahnya saat ini. Sepintar-pintarnya Hani menutupi semua kebohongannya itu tetap saja Namjoon tahu semuanya. Meski tak terlalu mendalami.

 

“Tidak jadi.”

“Hani, Sayang….”

“Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Aku lupa lagi.”

“Bohong!” Hani berdecih, tatapannya kini menghunuskan ketajaman meski Namjoon tak memperdulikan itu semua. Namjoon lebih memberikan atensi pusatnya pada kue sus buatan ibu Hani.

 

“Han….”

“Hmm,”

Namjoon menghela napas sebentar, memberikan ruang waktu dikalimatnya, “Sebenarnya aku rindu momen tempo dulu. Kita sering melakukan aktifitas yang menyenangkan, seperti bermain layangan, berjalan-jalan di padang ilalang, tidur bersama, mandi bersama.”

“What?” kejut Hani.

“Iya, terutama mandi bersama. Sampai saat ini … aku sangat ingat lekuk tubuhmu yang kerempeng itu. Seperti kekurangan gizi saja, tapi sekarang kamu gendut.”

“Heh! Bibir dower! Sebenarnya kamu itu muji, bernostalgia, atau menghina, sih?”

“Semuanya. Komplit.”

“Sinting!”

Seperti biasanya, Namjoon tak memperdulikan sebuah cibiran dari ucapan Hani itu. Yang saat ini adalah ia tengah mengingat dahulu kala sembari melahap beberapa kue sus tanpa henti. Itung-itung gratis, dirumah orang lagi. Tanpa modal.

 

“Yang pastinya sekarang ini tubuhmu itu berubah, buah dadamu juga sudah jadi, bokongmu juga.”

“Diam, mesum!”

“Tapi, kau suka ‘kan?”

“TIdak sama sekali! Sudahlah, otakmu harus dicuci dengan deterjen, Joon. Akan ku bawakan sekardus deterjen untukmu, Joon. Agar bersih total.” Balasnya kesal.

 

“Bersih total atau ingin aku mati? Nanti kalau aku mati hidupmu tak berwarna lagi seperti ini.”

“Tak butuh!”

“Beneran?” Namjoon mencolek dagu Hani sembari memberikan tatapan anehnya.

 

“Diamlah, Joon.” Balasnya sembari mengibaskan tangannya.

“Iya-iya, maaf, ya, sahabatku.”

 

Kini, Namjoon tengah membaringkan tubuhnya pada karpet tipisnya itu. ia menyampingkan tubuhnya ke kiri; menghadap Hani yang masih berduduk ria.

“Han, kemarilah, disampingku.” Suruhnya sembari menepuk-nepuk karpet.

“Tidak. Bagaimana jika ibuku melihatku bahwa kita seperti pasangan mesum? Itu bencana besar, Joon.”

Namjoon memutar bola matanya malas, ia tak menyangka sahabatnya itu mempunyai pikiran pendek, “Oh, ayolah … kita itu bukan dikamar berdua, kita di ruang tengah. Toh, kita tak melakukan apa pun ‘kan? Jika ada yang memfitnah kita, biarkan saja, Tuhan akan membalaskan semuanya.”

“Sok bijak!” balas Hani sambil membaringkan tubuhnya dekat tembok. Kini mereka saling berhadapan, menatap manik indah sang lawan jenis.

 

“Han … kau tahu tidak aku menyukai kue sus karena apa?”

“Tidak.”

“Kue sus itu keras diluar namun terdapat tekstur renyah, di dalamnya mempunyai saus vla yang enak. Dan itu mirip dengan kehidupan persahabatan kita,” Namjoon menghela napas sebentar, “Kita sering keras kepala, tak ingin mengalah, namun dengan sebuah candaan tawa yang renyah bisa membangkitkan suasana yang manis lagi. Bukankah begitu?”

“Ya … kurasa mirip, Joon.” Mereka tertawa bersama-sama mengingat semua kejadian tadi yang memang dirundungi kesal dicampuri rasa cemburu.

 

“Han.”

“Ya?”

“Ayo, kita kencan besok! Bukankah kau ingin ke car free day? Tapi … yang pastinya kita tak akan merasakan suasana car free day, seperti biasa aku menjemputmu di sore hari. Namun, besok ada yang berbeda, aku takkan membawa sepeda merah mudaku. Tidak apa-apa, ya?”

 

Kencan? Sebuah kata yang keramat bagi Hani. Pasalnya kencan lebih identic dengan sepasang kekasih. Bukan sahabat. Apa Namjoon gila?

 

“Mau tidak?”

“Kau serius?”

“Yaiyalah. Sebuah kencan sahabat yang penuh akan rasa manis. Bukankah itu seru, Hani-ku, sayang?”

“Ya … tentu saja.”

Namjoon terkekeh pelan, secara tak sadar mereka menyatukan dahi mereka masing-masing sembari menguar tawa disana.  Entah sampai kapan mereka terus seperti ini.

 

Kencan? Lihat saja besok.

 

TBC

Review, bebeb :*

 –Gina–

 

Advertisements

One thought on “[BTS FF Freelance] Life of Friends – (Chapter 3)

  1. Pingback: [BTS FF Freelance] Life of Friends – (Chapter 3) Klik and komentar! – The Ocean 화양연화

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s