[BTS FF Freelance] No Rain No Rainbow – (Chapter 1/ Threeshoot)

att_1469333779756_nr2cover

Author : Yemima Lorna

Title : “NO RAIN NO RAINBOW”

Length : Three Shoot

Genre : Romance

Main Cast : Min Yoongi (BTS Suga) , Lee Ahra

Support cast : Kim Namjoon (BTS), Dahyun (Twice), Bambam (Got7)

Rating : PG-17

Disclaimer : All the story is mine and made by me. Thankyou. Happy reading!

 

CHAPTER 1

 

          Di suatu sudut sekolah, seorang gadis tengah asyik memandangi sebuah kalung sambil tersenyum lebar di depan pintu kelasnya. Kalung tersebut berbentuk simbol musik dengan rwarna putih mengkilap. Gadis itu bernama Lee Ahra. Dia adalah siswi kelas 1-b yang tentu saja hari ini adalah hari pertamanya masuk SMA.

 

~♪- AHRA POV -♪~

 

Hari ini adalah hari yang sangaaat menyenangkan bagiku.

Karena hari ini adalah hari yang telah aku tunggu-tunggu sejak lama. It’s my D-day ! Hari ini ialah hari dimana aku bisa bertemu dengan My Prince of Happiness….

 

Kenapa aku menyebutnya Prince of Happiness ?

 

Selain karena aku memang belum tau nama aslinya, tapi juga karena kenanganku bersamanya dua tahun yang lalu…

 

Saat itu aku masih duduk di bangku SMP. Kala itu aku sedang pulang sekolah dengan mengendarai sepedaku. Karena kurang hati-hati, saat sepedaku melewati  kerikil tajam dan membuatnya oleng aku tidak bisa menjaga keseimbangan dan akhirnya terjatuh di jalanan dan  tertimpa sepeda tersebut. Hari yang sial untukku memang, dan tentu saja rasanya sangat sakit. Apalagi seluruh tangan dan kakiku dipenuhi dengan luka lecet maupun goresan karena terkena kerikil-kerikil tajam tersebut.

 

=>-F-L-A-S-H-B-A-C-K-<=

 

“Hiks.. Hikss… “ perlahan-lahan aku meniup luka di tanganku  sambil meringis menahan sakit.

 

“Hey, apa kau tidak apa-apa…??”  tanya seorang laki-laki yang tiba-tiba menghampiriku.

 

“Hikss…Hikss…”merespon pertanyaannya,  air mataku justru mengalir semakin deras tak terbendung.

 

“Tidak apa-apa bagaimana? Kakak tidak lihat tangan dan kakiku dipenuhi luka seperti ini?”

ucapku dalam hati.

 

“Sudah… jangan menangis lagi ya. Tersenyumlah…”  pintanya seraya mengusap rambutku dengan lembut.

 

“Tunggu dulu,  Ada apa sih dengan orang ini? Aku sedang terluka seperti ini tapi dia malah menyuruhku tersenyum? Aneh sekali….”  gumamku kebingungan.

 

“Kenapa? Kau bingung ya?” tanyanya lembut seraya tertawa kecil.

 

“Kuberitahu ya, percaya atau tidak, tersenyum akan membuatmu merasa lebih baik…”  ujarnya sambil mengumbar senyuman yang begitu indah dan aku rasa senyuman itu adalah senyuman terindah yang pernah kulihat selama hidupku.. Kedua matanya yang indah membentuk eyesmile yang sangat manis.  Membius jantung hingga aku tak mampu memalingkan pandanganku

 

           Tanpa sadar, karena melihat senyumannya aku juga jadi ikut tersenyum. Dan kata-katanya benar, sekarang aku merasa lebih baik. Perih dan sakit yang tadi kurasakan, kini tidak terasa lagi. Ini keajaiban. Bagaimana mungkin? Apa dia penyihir? Aku tak mampu menahan gejolak di dalam hatiku.

 

“Ini, ambilah….”  katanya sambil menyodorkan sebuah kalung berbentuk simbol musik padaku. Bentuknya itu sangat indah, belum pernah aku melihat seperti itu. Aku mencoba meraih dan menggenggamnya. Kedua mataku mengamatinya dengan seksama.

 

“Kenapa ini diberikan padaku…?” tanyaku tak percaya.

 

Apa ia yakin mau memberikan kalung seindah ini? Kepadaku? Orang yang bahkan tidak ia kenal?

 

“Ini adalah benda pemberian ibuku yang sangat kusukai. Waktu kecil, setiap saat aku bersedih dan menangis aku selalu menggenggam erat  kalung tersebut dan entah kenapa setiap aku melakukannya aku selalu bisa tersenyum kembali…. Hmm, Aku rasa aku lebih baik aku memberikan ini padamu…” ucapnya.

 

“Tapi bukankah kamu membutuhkannya…?” tanyaku ragu.

 

“Iya memang. Tapi aku rasa kau lebih membutuhkannya saat ini…” jawabnya seraya tersenyum.

 

“Fuhhh… padahal melihat senyumanmu saja sudah bisa membuat hatiku damai…” gumamku dalam hati.

 

“Terima kasih kak …”  pekikku senang.

 

“Iya. Sekarang  segera usap air matamu dan pulanglah kerumah untuk mengobati lukamu…. Semoga cepat sembuh ya…” seusai dia mengatakan hal itu, ia  berlalu seraya melambaikan tangan kearahku.

 

“Dia benar-benar baik. Padahal kita tidak saling mengenal, tapi dia memberikan benda kesayangannya padaku?” aku geleng-geleng kepala.

 

“Aduh! Kenapa aku tidak menanyakan namanya? Aduhhh… dasar bodoh!” sesalku sambil memukul-mukul kepalaku sendiri.

 

=> E-N-D–O-F–F-L-A-S-H-B-A-C-K-<=

 

Dan sejak saat itulah tiap kali aku sedih ataupun menangis, aku acapkali menatap kalung ini. Karena hanya kalung ini yang bisa mengingatkan aku pada senyuman indah milik kakak baik hati itu. Entah mengapa, membayangkan senyumannya bisa membuat hatiku damai. Aku tidak tau pasti tentang ini, tapi apakah ini yang dinamakan jatuh cinta pada pandangan pertama?

 

Aku ingat kalau waktu itu dia memakai seragam Gyohyang-gog high school. Jadi aku memutuskan dan bertekad untuk bersekolah di sini setelah aku lulus SMP. Ini satu-satunya cara agar aku bisa bertemu dengannya lagi.

 

Namun, pagi ini aku belum juga melihatnya. Aku juga tidak tau dia berada di kelas apa.

 

Aku menghela nafas, “Fuhhh… bagaimana ini?” pikirku.

 

“Ahra, bagaimana? Apa kau sudah bertemu dengan laki-laki  yang ingin kau temui itu?” tanya Dahyun.

 

Aku menggeleng untuk menjawab pertanyaannya.

 

“Apa? Belum juga?” tanyanya lagi.

 

“Kalau belum kenapa diam saja? Ayo kita cari dia!” ajaknya sambil menarik tanganku dan berlari ke luar kelas.

 

.

.

.

.

.

.

.

.

.

 

“Aiishh… Kita sudah mencarinya ke mana-mana tapi tidak ketemu juga…” ucap Dahyun seraya menyeka dahinya yang mulai berkeringat.

 

“Aduh… bagaimana ini? Aku ingin sekali bertemu dengannya…. Apa yang harus kulakukan..??”  keluhku.

 

“Kau punya fotonya tidak? Apa perlu kita memasang fotonya di mading dengan tulisan “WANTED” agar lebih mudah ketemu…?” ujar Dahyun lagi.

 

“Hah?! Apa kau gila? Kita tidak mungkin melakukannya… Aissh” timpalku.

 

“Hahaha…! Iya iya aku cuma bercanda kok! Habisnya sekolah ini kan luas bagaimana caranya ketemu kalau kau bahkan tidak tau siapa nama laki-laki itu…” jawabnya.

 

“Eh, Ahra! Kau lihat disana itu ! Sepetinya sedang diadakan pertandingan basket ! Ayo kita kesana…”  ajak Dahyun.

 

“Aku tidak mau… Kau kesana sendiri saja ya….”  ujarku tak berselera.

 

“Lho?Memangnya kenapa?” tanya Dahyun yang kecewa dengan jawabanku.

 

“Aku tunggu disini saja ya…Lagipula sepertinya petandingannya sudah hampir selesai…”  tambahku.

 

“Oh… Baiklah. Aku segera kembali !”  ujarnya sembari berlari memasuki aula basket   tersebut.

 

“Sebenarnya kau dimana …???”  tanyaku sambil memandangi kalung tersebut. Aku masih ingat betul bentuk wajah dan senyumannya. Oh, betapa bahagiannya seandainya aku bisa memandang segalanya secara nyata, tidak hanya sekedar lewat bayangan.

 

Saat aku menunduk ke bawah, tak sengaja aku melihat suatu benda di dekat kakiku. Akupun mencoba untuk meraihnya.Benda ini terlihat seperti tanda pengenal. Milik siapa ini?

 

“Eh? Min Yoongi…??”  kataku mengeja nama yang tertera pada tanda pengenal tersebut.

Kulihat foto kecil yang terpampang disana. Setelah aku memperhatikannya baik-baik, aku merasa begitu mengenal wajah orang ini. Sontak ekspresi wajahku berubah menjadi kegirangan tatkala hatiku memastikan,

 

“YA! MIN YOONGI !!!, laki-laki ini…. DIALAH  YANG KUCARI SELAMA INI…!!!”

 

~♪- AUTHOR POV -♪~

 

Seusai diadakan pertandingan  basket, murid-murid kelas 1 dipanggil oleh ketua osis untuk segera berkumpul di lapangan lewat pengeras suara.

 

“Tes…tes…1-2-3..”  Im Jaebum mengetuk-ngetuk mic yang ada di depan wajahnya.

 

“Kepada seluruh murid kelas 1 Gyohyang high school diharapkan sekarang juga berkumpul   di lapangan sekolah karena akan ada pengumuman penting dari ketua osis…”  katanya lantang.

 

“SEKARANG JUGA…!!!”  teriaknya sampai-sampai satu sekolah gempa(?).

 

Dengan panik seluruh murid kelas satu yang tadinya berhamburan kesana kemari segera berbaris dengan tertib di lapangan sekolah. Bagaimana tidak tertib? Ketua osisnya saja sangat tegas dan disiplin seperti itu.

 

Dia memang memiliki wajah yang sangat tampan, dia juga karismatik dan otaknyapun pintar. Tubuhnya yang jenjang dan selalu rapih menambahkan kesan ‘charming’ pada dirinya. Ia benar-benar bijaksana dan tegas, namun ya begitulah… Dia terlalu galak! Sangat galak!

Kalau begitu terus mana ada perempuan yang berani dekat-dekat ? Laki-laki saja kadang kadang tak berminat berurusan dengannya.

 

“Aiissh.. Kenapa nasib kita jadi begini? Punya ketua osis segalak itu….ckckckck….”  keluh Bambam yang baru saja memasuki barisan kelas 1 – B.

 

“Sayang sekali ya… padahal dia sangat tampan…”  sambung Dahyun.

 

“Bukannya tampan tapi menakutkan …!!!”  balas Bambam setengah berteriak.

 

“Ahra, menurutmu bagaimana…??”  tanya Dahyun sembari mencolek punggung Ahra yang berdiri di depannya.

 

Namun Ahra tidak menoleh. Menjawab pertanyaan Dahyun saja tidak. Sejak tadi dia hanya sibuk memandangi tanda pengenal yang ditemukannya di dekat aula basket sesaat yang lalu. Pandangan matanya takpernah lepas dari tanda pengenal milik seorang lelaki bernama Min Yoongi tersebut. Sejak tadi bibirnya hanya merapalkan mantra,” Min Yoongi … Min Yoongi … Min Yoongi …” sambil tersenyum dan sesekali mencium tanda pengenal tersebut. Kebahagiaan yang membuncah di hatinya akan dengan mudah dilihat secara kasat mata oleh siapapun.

 

“Aku harapkan kalian semua berbaris dengan tertib dan jangan berbicara sendiri karena sebentar lagi saya akan menjelaskan beberapa hal penting yang harus kalian ketahui…” oceh Jaebum memecah suasana.

 

“Pertama-tama aku akan memperkenalkan beberapa senior kalian yang sudah berbaris di sebelahku ini… Mereka adalah ketua dari masing-masing klub yang ada di sekolah ini….”  paparnya.

 

“Yang berada tepat di sebelah kananku ini adalah Cho Kyuhyun, senior kalian ini merupakan ketua dari klub musik yang sekaligus menjabat sebagai wakil ketua osis …”

 

“Dan yang berada disebelahnya adalah Choi Minho, senior kalian yang satu ini adalah ketua klub sepak bola…”

 

“Selanjutnya Yesung yang merupakan ketua klub vocal…”

 

“Kim Seokjin ketua klub memasak…”

 

“Lee Taemin, ketua klub Modern dance…”

 

“Kim Namjoon ketua klub Basket….”

 

“Yoon Bomi ketua klub cheerleader…”

 

“Kim Jonghyun, ketua klub melukis…”

 

“Jung Eunji ketua klub drama…”

 

“Wang Jackson ketua klub beladiri”

 

“Song Joongki ketua klub Sains dan Matematika”

 

“Kim Soohyun ketua klub Bahasa”

 

“Seperti yang sudah tertulis pada formulir yang ada di tangan kalian, terdapat  berbagai macam jenis klub di sekolah ini…. Kalian dapat memilih salah satu diantaranya yang kalian minati… Setelah kalian menentukan pilihan, kalian bisa langsung menghubungi ketua klub yang sudah berdiri di depan kalian ini dan kalian bisa langsung mendaftarkan diri kalian…”

 

“Aku harap kalian semua mengerti dan aku tidak mau mendengar ada yang bertanya lagi…”

 

“Terima Kasih…”  Jaebum mengakhiri kata-katanya sambil menundukkan badan dan setelah itu melangkah menuruni panggung diikuti barisan para ketua klub.

 

“Hey, Dahyun… Kau pilih klub apa..??” tanya Bambam.

 

“Emmm…. Tentu saja klub Cheerleaders ! Dari dulu aku selalu berimpian masuk grup cheerleaders… Huhu Semoga aku diterima….  Oh, Kalau kau??” Dahyun balik bertanya.

 

“ Jangan ditanya lagi, tentu saja aku akan mendaftar di klub modern dance…” jawabnya mantap.

 

“Oh? Kenapa..??” tanya Dahyun.

 

“Ya jelas saja… Kau tau, ketua klub modern dance itu! Dia adalah kakakku…!!” sahutnya sambil menunjuk kearah Taemin.

 

“Apa.?? Benarkah?? Dia kakak kandungmu…???” tanya Dahyun terkejut.

 

“Ya! Masa kau tidak percaya sih..?? Dia itu kakakku ! Hebat bukan ? Haha” ucap Bambam bangga.

 

“Ah masa sih?? Kenapa tidak mirip ya…??”  canda Dahyun.

 

“Aiissshh, Kau ini..!!!” tutur Bambam geram.

 

~♪- AHRA POV -♪~

 

“Ahra, kau sudah menentukan pilihanmu atau belum…??”  tanya Dahyun.

 

“Ya! Tentu saja………………………belum.” jawabku singkat.

 

Sampai saat ini aku masih belum menentukan pilihanku. Aku masih sangat bingung.

Inginnya sih bisa satu klub dengan Min Yoongi-sunbae, Tapi sampai detik ini saja aku belum bertemu dengannya, bagaimana aku bisa tau dia ada di klub apa??

 

“Woy, Ahra..!! Aissh, kau ini. Dari tadi kuperhatikan kerjaanmu hanya melamun saja sambil memandangi benda kecil  yang ada ditanganmu itu… Sebenarnya itu benda apa sih…? Aku jadi penasaran…” tutur Dahyun sambil berusaha merebut tanda pengenal yang kupegang.

 

“Dahyun… Kau belum tau ya? Ini itu tanda pengenal milik….” aku sengaja menghentikan kata-kataku untuk membuat dia penasaran.

 

“Siapa..?? Tanda pengenal milik siapa..?? Ahra, jangan buat aku penasaran, cepat katakan !” pinta Dahyun.

 

“Milik….”

 

“Siapa? Siapa?” Siapa?”

 

“Milik…”

 

“MIN YOONGI  ….!!!”  

 

“Oh.”  Ucap Dahyun singkat dan datar.

 

“Hah? Hanya  “O” saja kau bilang…???” sahutku bingung.

 

“Ya. Min Yoongi ..? Siapa? Aku tidak kenal.” balasnya.

 

“Aisshh… Kau ini bagaimana…” keluhku.

 

“Em? Kenapa memangnya?”  Tanyanya.

 

“Min Yoongi  ! Dia itu laki laki yang kucari selama in! Pria yang selalu ingin kutemui , yang memiliki senyuman paling indah, dialah my Prince of Happiness….!!” paparku panjang lebar.

 

“HAH ?! APA ?! BENARKAH???” Tanya Dahyun tak percaya.

 

Aku mengangguk cepat.

 

“Ahra, jadi kau sudah bertemu dengannya?? Wah, Selamat Ya… ! Pada akhirnya saat yang kau nanti-nantikan tiba juga…” ucap Dahyun sambil menyalamiku.

 

“Apa? Bertemu dengannya..? Belum… Aku belum bertemu dengannya…” jawabku lemas.

 

“Lho? Jadi kau belum bertemu dengannya? Lantas bagaimana bisa kartu pelajar itu sampai ditanganmu..??”  tanya Dahyun bingung.

 

“Iya. Aku menemukannya di dekat aula basket sesaat yang lalu. Mungkin dia tak sengaja menjatuhkannya…”  jelasku.

 

“Oh begitu…baiklah. Aku harap kau segera bertemu dengannya ya…Fighting!” kata Dahyun sambil menepuk bahuku.

 

“Bagaimana aku bisa mengembalikan kartu ini ya..??” aku berfikir sejenak.

 

“Ah! Oiya, Aku tanyakan saja pada ketua klub basket itu …. Siapa tau Min Yoongi  anggota klub basket juga… Haha iya benar! Ahra kau memang terlalu pintar!”  ujarku dan segera melangkah  untuk menemui Namjoon-sunbae, sang ketua klub.

 

“Permisi sunbae …”  ucapku sopan.

 

“Ya. Ada apa? Eh tunggu dulu, Kau kan perempuan, apa kau yakin mau mendaftar di basket..??”  ia membelalak kaget menyadari kehadiranku.

 

“APA? Oh, bukan… Aku bukannya mau mendaftar ke klub basket. Aku hanya mau menanyakan sesuatu…” jawabku sambil sedikit tertawa.

 

“Ohh… Haha Padahal jika benar, kau adalah gadis pertama yang mendaftar di klub ini…” balasnya sambil ikut tertawa.

 

“Hehe Tidak kok…” sahutku

 

“Oiya, memangnya apa yang mau kau tanyakan..??”  tanya Namjoon-sunbae.

 

“Anu… Aku mencari pemilik tanda pengenal ini…. Apa kau mengenalnya??”  tanyaku sembari menyodorkan kartu milik Yoongi-sunbae  tersebut.

 

“Oh! Ini milik Yoongi? Ya, tentu saja aku mengenalnya. Dia dulu adalah teman satu klubku, Tapi itu dulu, sekarang tidak lagi..” ucapnya.

 

“Wah kalian berteman? Kalau begitu bisakah kau mengantarku untuk bertemu dengannya..??”  sahutku senang.

 

“Wahh… aku sedang sibuk sekarang…. Atau kau bisa menitipkan benda ini padaku, nanti biar  aku yang mengembalikan ini padanya. Kebetulan aku satu kelas dengannya…Bagaimana?”  katanya menawarkan.

 

“Ahh… Jangan. Aku ingin memberikan benda ini langsung kepada Yoongi-sunbae…”  ujarku.

 

“Emm… Baiklah kalau begitu. Maaf aku tidak bisa mengantarmu karena aku masih harus mengurus adik-adik kelas yang mau mendaftar di klub ku… Mungkin kau bisa menemuinya sendiri. Cari saja dia di rooftop gedung sekolah lama…”

 

“Rooftop gedung sekolah lama? Gedung itu kan sudah lama tidak dipakai, untuk apa Yoongi-sunbae berada di sana??” tanyaku.

 

“Entahlah.  Jalannya mudah kok, kau hanya pergi saja ke halaman belakang sekolah ini, nah disana ada sebuah pintu gerbang untuk masuk ke sekolah lama…” Namjoon-sunbae mencoba memaparkan.

 

“Oke. Baiklah aku akan kesana… Terima kasih banyak sunbae …”  ucapku sembari membungkukan badanku dan segera berlari menuju halaman belakang sekolah.

 

.

.

.

.

.

.

.

.

.

 

“Tap.. Tap..Tap…”

 

Kuberanikan diri untuk melangkahkan kakiku satu persatu menaiki setiap anak tangga menuju lantai atas tersebut. Tubuhku bergidik,bulukudukku meremang sesaat sejak aku memasuki gedung yang nampak begitu luas ini. Hmmm… entah mengapa aku merasa suasana disini agak sedikit mencekam. Lebih tepatnya begitu sunyi dan sepi tak ada seorangpun. Apalagi bangunan ini terlihat sudah begitu renta dimakan usia.

 

Gedung ini terlihat begitu tak terawat, sepertinya telah lama sekali tak tersentuh tangan manusia. Di beberapa lorong terdapat beberapa bangku dan meja kayu bekas yang terbengkalai. Berantakkan dan carut marut. Aku menengok ke barisan kelas kelas kosong di sisi kiriku. Hanya siluet silet hitam dari papan tulis dan rak buku yang kulihat. Tanpa biasan sinar matahari dari jendela, sudah pastilah ruangan ruangan tua itu akan begitu gelap.  Jantungku berdegup tak karuan sekali lagi. Aku coba memejamkan mataku tuk menenangkan diri.

 

“Tidak apa-apa, setidaknya ini masih siang. Tidak akan ada hal buruk terjadi padaku…”  Aku menghela nafas panjang dan melepaskannya perlahan.

 

Kulanjutkan langkahku kembali dengan penuh keyakinan atas siapa yang akan kutemui setelah ini. Aku terheran-heran, untuk apa Yoongi-sunbae  menyendiri di tempat seseram ini? Memangnya  tidak ada tempat yang lebih bagus ya?

 

Ruang demi ruang sudah kulewati begitu juga aku sudah menaiki puluhan anak tangga. Semakin aku hampir sampai menuju lantai atas, jantungku rasanya berdetak semakin keras. Mungkin ini pertanda karena sebentar lagi aku akan bertemu dengan pujaan hatiku yang aku nantikan selama ini…


Aku tersenyum  sesampainya di tempat tujuanku tersebut. Lantai teratas dari gedung sekolah lama ini adalah ruangan terbuka. Bisa disebut rooftop yang sangat luas. Aku melihat sekeliling mencari sesosok laki-laki yang merupakan satu-satunya alasan mengapa aku sampai ke tempat seperti ini. Pandanganku terhenti saat aku menatap sesosok pria yang sedang duduk bersandar  pada sebuah tembok. Kelihatannya dia sedang tertidur pulas.

 

“Yoongi-ssi ..?” gumamku senang.

 

Aku melangkahkan kakiku sedikit demi sedikit mendekatinya dan berusaha  sebisa mungkin untuk tidak mengeluarkan suara agar dia tidak terbangun.

 

“Ya Tuhan…. Dia begitu tampan…” kataku dalam hati saat jarak wajahku hanya tinggal beberapa senti dengan wajahnya. Aku mencoba mengamati setiap guratan di wajah itu lekat lekat. Hatiku berseri karena  aku tau pasti bahwa laki-laki ini memang dia. Pangeran impianku yang kini hadir tepat didepan mataku.

 

“’Wae nae mameul heundeuneun geonde ♪~
~♪Wae nae mameul heundeuneun geonde”

 

Aduh… Gawat!

Tiba-tiba saja nada dering ponselku berbunyi. Otomatis Yoongi-sunbae terbangun dan membuka KEDUA matanya. Tentu saja dia sangat terkejut saat melihatku. Aku benar-benar salah tingkah. Bibirku bahkan tidak mampu mengatakan sepatah katapun.

 

“HEY ! SIAPA KAU..? KENAPA KAU ADA DISINI..?”  bentaknya geram.

 

“Ma… ma… Maafkan a… ku….” ujarku terbata-bata sambil menundukkan wajahku karena aku tidak berani menatap wajahnya.

 

“Aku tidak bermaksud mengganggumu….. Aku hanya….”  ucapku pelan.

 

“Apa maumu..? Kau sadar tidak? KAU ITU SUDAH MENGGANGGUKU !”  setiap kata demi kata yang keluar dari mulutnya terdengar jelas diselimuti dengan amarah. Tubuhku menegang, lagi lagi aku tak sanggup menatap wajahnya. Dilema hebat terjadi saat aku tak berani menentukan untuk memilih kabur atau tetap disini.

 

“Aku benar-benar minta maaf …. Aku… sebenarnya…. Aku hanya ingin memberikan ini….” ucapku yang masih gemetar ketakutan sambil menyodorkan kartu pelajar miliknya. Yang kuambil dari dalam sakuku.

 

Dia menatapku sinis  sambil menyambar kartu tersebut. Tak ada lagi kata yang diucapkannya. Ia hanya memalingkan pandangannya dan melangkah pergi meninggalkanku sendirian di tempat tersebut.

 

“Ya Tuhan.. Bahkan ia tidak mengucapkan terima kasih padaku….” Aku benar-benar sedih dan tak menyangka semuanya akan menjadi seperti ini.

 

Dia benar-benar berubah… Dia bukan lagi Yoongi yang dulu,  yang dia berikan bukannya senyuman indah seperti yang kuharapkan tapi justru bentakan dan tatapan tajam bagaikan taring yang menusuk jantungku dan mencabiknya. Kenapa? Apa dia sudah tidak ingat lagi padaku?

Air mata membanjiri pipiku. Pertemuan kembali dengan pangeran impianku sama sekali tidak membawa kebahagian seperti yang kuharapkan. Ekspektasiku hancur lebur bersamaan dengan hati dan perasaanku. Entah kenapa semuanya justru berakhir seperti ini.  

 

Dengan langkah gontai aku melangkah menuruni  tangga demi tangga sambil sesekali mengusap air mataku yang sampai saat ini belum berhenti menetes. Kugenggam erat kalung pemberian seseorang yang membuatku menangis tersedu-sedu ini. Namun kurasa kali ini kalung ini sedang kehilangan kemampuannya untuk membuatku kembali tersenyum. Percuma saja, Aku bahkan tak tau aku bisa tersenyum lagi atau tidak nantinya….

 

~♪- AUTHOR POV -♪~

 

“Hey Yoongi! Kenapa wajahmu kesal seperti itu?”  tanya Namjoon.

 

Yoongi diam saja. Tak menjawab apa-apa.

 

“Oiya, tadi ada junior yang mencarimu… Apa kau sudah bertemu dengannya..?”  ujar Namjoon.

 

Yoongi menjawab pertanyaan tersebut dengan memperlihatkan kartu pelajar miliknya.

 

“Lain kali… Jangan suruh pengganggu seperti itu datang ke tempatku… Aku tidak suka…”  ucap Yoongi sambil melengos pergi.

 

“Hahh…. dasar! Semua perempuan selalu saja dianggapnya pengganggu….” Namjoon menggeleng heran.

 

“ Ahra !”  teriak Namjoon.

 

Ahra hanya diam saja. Tak memperdulikan panggilan Namjoon yang entah didengarnya atau tidak, ia hanya berjalan gontai entah kemana. Wajahnya begitu sendu. Tentu saja.

 

“Ahra?”  tanya Namjoon bingung. Ia berjalan mendekati Ahra yang kini nampak mengkhawatirkan.

 

“Ahra? Kau menangis ya? Pasti karena dimarahi Yoongi. Maafkan aku ya. Harusnya aku tidak menyuruhmu kesana tadi.”  Sesal Namjoon.

 

“Tidak. Ini bukan salah sunbae kok. Ini memang salahku…” ucap Ahra pilu.

 

“Apa?” tanya Namjoon.

 

“Yoongi-sunbae membenciku…”  isak Ahra.

 

“Aku yakin pasti dia tadi bersikap kasar padamu. Sudahlah Ahra, kau ini gadis yang baik. Yoongi tidak mungkin membencimu. Mungkin ia hanya tidak suka diganggu..” hibur Namjoon.

 

“Emm… Apa perlu aku menceritakan padamu apa yang sebenarnya membuat sikap Yoongi berubah menjadi seperti itu…?” Namjoon terlihat berfikir.

 

“Apa? Apa maksudmu..?” tanya Ahra bingung.

 

“Em. Kau pikir sikapnya berubah begitu saja? Tentu  saja tidak. Dulu dia memang tidak seperti itu. Dia berubah karena suatu alasan…” Namjoon menghela nafas sejenak. “Baiklah.. Aku akan menceritakannya….”

 

.

.

.

.

.

.

.

.

.

 

Kegiatan di sekolah kali ini sudah berakhir. Para siswa siswi sudah berhamburan untuk pulang kerumah masing-masing. Namun masih banyak pula yang masih berada di sekitar sekolah karena alasan tertentu. Ada yang bermain basket, menunggu kekasihnya, belajar kelompok, membersihkan halaman sekolah(?) oh, mungkin karena sedang dihukum, dan ada juga dua orang yang sudah ingin sekali pulang tapi tidak bisa karena ada salah satu temannya yang menghilang entah kemana. Ya. Bambam dan Dahyun. Biasanya mereka selalu bertiga. Tapi dimana Ahra?

 

“Aisshh… Kemana dia? Sudah jam segini tapi belum kelihatan juga…”  keluh Dahyun sambil memandang jam tangannya.

 

“Iya. Sudah siang begini nih. Aku ingin pulang… Aku sudah lapar, aku ingin makan masakan ibuku…” rengek Bambam sambil memegangi perutnya yang sudah keroncongan.

 

“Dasar… kau pikir hanya kau yang lapar? Aku jugaaa…. Aku ingin Ice Cream…”  Dahyun ikut-ikutan merengek sambil mengelus-elus perutnya yang keroncongan.

 

“Eh Jangan-jangan Ahra sudah pulang duluan meninggalkan kita…” ucap Bambam curiga.

 

“Apa? Ah mana mungkin?” tanya Dahyun terkejut.

 

“Ya. Bisa saja kan ?”  ujar Bambam sok tau.

 

“Aishh.. Kau ini. Itu tidak mungkin !”  kata Dahyun sambil menowel kepala Bambam.

 

“Yasudah… kita cari saja dia, dari pada menunggu terus disini…” usul Bambam.

 

“Oke Baiklah. Ayo!”  

 

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

 

Namjoon menghela nafas panjang. Ia duduk disamping Ahra dan menatapnya seolah ingin bertanya sekali lagi apakah Ahra benar-benar  yakin untuk mendengar cerita darinya.

Kemudian ia mulai bercerita.

 

“Kau tau… Sebenarnya dulu Yoongi adalah sahabatku. Kami begitu akrab. Kami sama-sama menyukai olahraga basket dan kami selalu bermain basket bersama. Dulunya, dia adalah kapten tim basket di sekolah ini.”

 

Emm… Dulu dia punya kekasih. Namanya Han Haneul. Dia adalah salah satu gadis yang paling cantik dan populer di Gyohyang-gog high school. Dan Yoongi sangatlah mencintainya. Mereka benar-benar pasangan yang serasi.

 

“Ohh…. Jadi dia sudah punya pacar…pantas saja…” Ahra tertunduk lesu.

 

“Kenapa ? Kau menyukai Yoongi ya..?”  tanya Namjoon menyelidik.

 

Ahra mengangguk sedih. “Aku menyukainya sejak pertama kali aku melihatnya. Namun dulu dia sangat berbeda, tidak seperti sekarang ini.”

 

“Dulu kau pernah bertemu dengannya? Kapan?”  tanya Namjoon ingin tau.

 

“Ya. Dua tahun yang lalu saat aku masih duduk di bangku SMP. Saat itu dia yang begitu baik menolongku saat aku terjatuh dari sepeda.” Papar Ahra.

 

“Dua tahun lalu? Berarti itu saat kejadian itu belum terjadi… Saat Yoongi belum berubah menjadi seperti ini…” ucap Namjoon.

 

“ Kejadian apa? Apa maksud sunbae?”  tanya Ahra terkejut.

 

“Ya.. Kejadian itu terjadi 1 tahun yang lalu…”  jawab Namjoon.

 

=>-F-L-A-S-H-B-A-C-K-<=

 

Valentine Day, 14 Febuary 2011….

 

“Kau sangat cantik…”  puji Yoongi saat melihat kekasihnya yang baru saja melangkah dengan anggun keluar dari pintu gerbang rumahnya dengan menggunakan gaun putih yang indah.

 

Haneul tersenyum kearahnya. “Benarkah..?” ujarnya sambil menaikkan salah satu alis.

 

“Apa aku terlihat sedang membual…?” ucap Yoongi meyakinkan.

 

“Thank You…”  ujar Haneul senang sambil merangkul kekasihnya.

 

Yoongi sedikit menunduk dan menyodorkan sekuntum mawar putih kesukaan kekasih pujaannya itu.

 

“Sekuntum bunga yang indah kuserahkan kepada Haneulku yang cantik…”  ucapnya lembut.

 

“Aa.. Terima Kasih! Aku mencintaimu…”  ucap Haneul  bahagia sambil mengecup pipi Yoongi.

 

“Iya, sama-sama sayang. Ayo kita berangkat…”  jawab Yoongi sambil menyerahkan sebuah helm kepada Haneul dan mereka berduapun berangkat  dengan motor yang dikendarai Yoongi.Mereka sedang dalam perjalanan menuju ke sekolah mereka untuk mengikuti perayaan hari Valentine yang diadakan disana hari itu. Selama acara berlangsung mereka bahkan dinobatkan sebagai pasangan yang paling serasi di Gyohyang-gog high school.

 

“Kemarilah… aku akan mengajakmu ke suatu tempat…”  ajak Yoongi sembari menggandeng tangan Haneul.

 

“Kita mau kemana …?”  tanya Haneul.

 

“Ikut lah… aku punya kejutan untukmu…” ujar Yoongi sambil tersenyum penuh arti.

 

“Benarkah?” Haneul tak mampu lagi menyembunyikan rasa bahagia yang membuncah di hatinya, ia pun tersenyum lebar.

 

“Tunggu. Kau harus pakai ini dulu…” kata Yoongi sambil memakaikan penutup mata pada Haneul.

 

“Kenapa mataku harus ditutup? Kalau begini aku jadi tambah penasaran…” rengek Haneul.

 

Yoongi hanya tertawa dan menggandeng Haneul lagi. Menuntunnya dengan penuh hati-hati seakan takkan pernah rela membiarkan kekasih hatinya itu untuk tersandung sedikitpun. Mereka berdua berjalan memasuki gedung sekolah lama. Menaiki tangga demi tangga menuju lantai teratas.  

 

“Kenapa jauh sekali? Sampai harus naik tangga segala…”  tanya Haneul  yang sudah tidak sabar.

 

“Tenang.. Kita hampir sampai…”  jawabnya.

 

“Setelah aku hitung sampai tiga.. kau buka penutup matanya ya…”  ucap Yoongi.

 

“1,….2,……….3 ..!” Haneul dengan segera membuka penutup matanya.

 

“TADA….”  Ucap Yoongi yang tersenyum lebar sembari membentangkan kedua tangannya.

 

“Ya Tuhan… ini indah sekali ..”  pekik Haneul terperanjat.

 

Mereka berdua berada di tempat yang sangat romantis. Setiap sudut rooftop tersebut dipenuhi dengan lampu-lampu yang indah. Lampu lampu kecil berwarna warni tersebut seakan menjadi aksesori yang apik di malam itu. Di lantai terdapat begitu banyak  lilin yang tersusun rapi membentuk formasi hati. Atmosfir tempat terbuka  di malam yang cukup dingin itu seakan tersulap dalam sekejap menjadi atmosfir  yang begitu hangat di bawah cahaya temaram malam ini.  Ditengah tempat tersebut ada sebuah piano dan didepannya telah duduk seseorang yang sudah siap memainkannya yaitu Yoongi.

 

Yoongi mulai menyentuh tuts piano tersebut dengan penuh perasaan perlahan-lahan dan mulai memainkan lagunya….

 

Like a child seeing fireworks spread accros the sky…..♪

This is what I feel for you inside…..♪

 

You’re beautiful to me…..♪

So beautiful to me…..♪

It may be so simple but I’ll say it anyway…..♪

You’re beautiful to me…..♪

 

As the sun reflects upon the sea…..♪

You smile so unxpectedly…..♪

And here I am trying to catch every moment…..♪

 

You shine wherever place you’re in…..♪

You’re presence changes everything…..♪

Nothing in this world could mean…..♪

Anymore to me than you…..♪

 

You’re beautiful to me…..♪

So beautiful to me…..♪

It may be so simple but I’ll say it anyway…..♪

You’re beautiful to me…..♪

*(Christian Bautista-Beautiful to me)

“Lagu ini kupersembahkan untukmu Haneul..”  ucap Yoongi sambil tersenyum kearah Haneul. Ia melantunkan dendang tersebut dengan begitu tulus dari sudut hatinya yang terdalam.  Siapapun yang mendengarnya pasti mengetahui hal itu.

“Astaga..Kau memainkannya dengan sangat baik. Aku benar-benar terharu…. Terima kasih banyak…” ucap Haneul sambil memeluk Yoongi dari belakang. Tubuhnya bergetar, matanya panas dan  air mata penuh kebahagiaan itupun jatuh. Ia berjanji akan membingkai seluruh kenangan malam ini di lubuk terisitimewa di hatinya.

“Tunggu sebentar….”  ucap Yoongi sembari berlari kecil ke suatu tempat.

Setelah beberapa saat ia kembali dengan membawa sebuah bingkisan yang sudah terbungkus rapi dengan kertas berwarna magenta emas dan pita berwarna merah jambu di atasnya.  

“Ini untukmu. Kuharap kau menyukainya ya sayang..”  kata Yoongi sambil menyerahkan bingkisan tersebut.

“Thank you… Apa isinya ini ? Bolehkah aku membukanya?”  pinta  Haneul.

Yoongi menggangguk. Dan Haneul pun segera membuka bingkisan tersebut dengan penuh hati-hati.

“Aih. Bagus sekali! Aku sangat sangat menyukainya….”  ia tersenyum berseri saat mengetahui bingkisan tersebut berisi sebuah kotak musik nan cantik.

“Kau suka?”  tanya Yoongi. “Ya. Aku sangat menyukainya. Maafkan aku , aku tidak memberimu kado apapun….” Naeun tertunduk merasa begitu bersalah.

“Aish.. it’s okay. Kau tak perlu memberiku apapun aku hanya ingin…”  ucapan Yoongi terhenti sejenak.

“Apa ? Apapun itu aku akan berusaha untuk memberikannya…” balas Haneul penasaran.

“Tidak. Aku hanya ingin kau ada disampingku selamanya. Aku hanya ingin kau mencintaiku sampai akhir. Apa  kau bersedia?”  tanya Yoongi sambil berlutut dan mencium tangan Haneul.

“Apa? Haha… Tentu saja, Aku berjanji takkan meninggalkanmu… Tentu saja. Aku akan mencintaimu sampai akhir hidupku. Aku mencintaimu selama-lamanya…” janji Haneul.

“Benarkah? Kau berjanji? Mana jari kelingkingmu?”  kata Yoongi sambil menyodorkan janji kelingkingnya.

“Yap. Aku berjanji.” Ucap Haneul sambil melingkarkan jari kelingkingnya di jari kelingking milik Yoongi.

 

=>-F-L-A-S-H-B-A-C-K—E-N-D-<=

 

“Mereka berdua benar-benar pasangan yang sangat romantis….”  puji Ahra.

 

“Iya. Membuatmu iri kan?” tanya Namjoon.

 

Ahra mengangguk lemas.

 

“Kau tidak tau saja bagaimana cerita selanjutnya….” ujar Namjoon.

 

“Memangnya bagaimana cerita selanjutnya…?”  

 

TO BE CONTINUED….

Advertisements

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s