[BTS FF Freelance ] Dokumentasi Gila: Schrodinger Cat – Thyra Art! #1

dokum-schrodinger

Title: Dokumentasi Gila : Schrodinger Cat – Thyra Art! 1
Scriptwriter: Fuseliar
Main Cast: Jung Hoseok a.k.a J-Hope BTS and Thyra Rasmussen (OC)
Support Cast: member BTS dan OC
Genre: drama, psycology, life
Duration: twoshot

Disclaimer : ini hanya cerita fanfic doank…. mohon dimaklumi bahwa, J-Hope dan member BTS yang lain punya yang Maha Kuasa. Dan ini fanfic punya saya…

Summary :

Yang paling aneh adalah, aku seperti sangat mengenalnya walaupun aku tidak pernah bertemu dengannya di depan matanya dan berkenalan. Hoseok tidak mengenalku. OMG, tidak mungkin dia mengenaliku. Aku hanya berkutat dibelakang, yang aku pedulikan adalah segera selesaikan tugas dari dosen secepatnya, upgrade skill gambar dan crafting sebanyak mungkin.

Satu waktu ketika aku wisuda aku melihatnya lagi.

Author’s note:

Hai minna~ dokumentasi kali ini agak beda soalnya author lagi bosen tingkat dewa sama ‘Hoseok POV’ jadi aku ganti POV-nya jadi Thyra. oh iya, Dokumentasi ini jadi penutup akhir dari semua dokumentasi gila yang ada. Jadi sudah gak ada lanjutannya lagi (cuman nyelesein twoshot ini doank trus udah gak bikin dokumentasi gila lagi). Hehehe…. oh iya lupa, aku stagnant banget bingung gimana lanjutannya threeshot yang kemaren jadi sebagai gantinya aku bikin ini. awalnya mau aku bikin oneshot tapi kepanjangan. Jadi ya… hueheheh… aku pecah jadi 2. Jadi Thyra Art ini mbacanya enggak bisa pisah sama Thyra Art yang satunya… 

Seperti biasa aku peringatkan kepada anda-anda sekalian akan tipo yang bertebaran dan ejaan yang gak sesuai sama EYD ato sejenis itulah. Oh iya jangan lupa komen-komen ato like ya~ jika cerita ini berkesan untuk para pembaca sekalian~ :3 

/////////////////////////////////////////////////////

THYRA ART! (Part 1)

//////////////////////////////////////////////////////

Bintang selalu terlihat kala cahaya lampu menghilang dari pandangan mata. Alasan yang memisahkan antara Lereng Gunung Atas dengan Lereng Gunung Bawah adalah lampu yang bersinar dimalam hari. Ketika jam telah menunjukkan pukul 1 malam. Para pencari harapan dari lembah naik menuju lereng mengejar langit berbintang. Para orang tua yakin bahwa saat malam adalah waktu yang sakral bagi pencari harapan. Saat malam itulah bintang-bintang jatuh. Jangan biarkan jendela rumahmu tertutup. Biarkan angin memasuki kamarmu. Bersembunyilah dibalik selimut dan berdoalah sebelum engkau memejamkan matamu.

.

.

.

Thyra Art!

.

.

.

Ohayou! Namaku Thyra Rasmussen. Aku lahir di Aarhus, Denmark pada tanggal 18 Februari. Yap, itu hari yang sama dengan hari kelahirannya Hobi-chan. Aku akan bercerita tentang seseorang yang paling aku kagumi sejak pertama kali aku melihatnya. Namanya Jung Hoseok. (oh, sekarang dia jadi pacarku :3 dia lucu banget dan keliatan polos-polos gimana gitu~ hehhehehe).

Aku pertama kali melihatnya saat di kampus. Waktu itu dia masih jadi mahasiswa pendidikan kedokteran hewan. Saat itu aku baru pindah dari Denmark. Setelah kelas studio ergonomi, aku biasa meluangkan waktuku ke studio tari di kampus sebelah. Aku sempat bertemu dengan beberapa orang disana dan mereka memperkenalkanku dengan sebuah grup dance dari anak Fakultas Kedokteran yang sedang latihan. Grup dance yang cukup unik. Mereka punya gerakan dance yang unik seakan memadukan hip-hop dan ballet kontemporer, tapi tidak ada satupun yang bisa dasar-dasar balet. Beberapa punya gerakan yang agak kaku tapi tempo dan staminanya bagus. Gerakan mereka bisa dibilang boleh juga, timingnya juga enggak jelek-jelek amat. Mungkin dia banyak nonton film-film tema dance macam Step-Up? Who knows? Tapi ada satu orang, dari caranya dia bergerak, dia bisa poppin kayaknya. Dia punya smooth body move yang bagus. Okay, bahasa apa yang sebenernya aku pakai? Apa itu smooth body move? Ah lupakan! Aku memang suka membuat istilah seenak hatiku. Aku senggol temanku dan mulai berbisik.

“itu yang jago poppin siapa?” tanyaku. Ia mengerjap sejenak.

“Hoseok, Jung Hoseok. Dia anak FKH, dia udah sering menang banyak kompetisi lhoh” katanya. Aku hanya bisa memandanginya yang sering nge-dance sambil senyum-senyum enggak jelas. Dia orang yang ceria, kah?

Kedua kalinya aku melihatnya adalah saat aku beli kopi di vending machine depan studio tari. Saat itu aku melirik kearahnya sambil melihatnya bercanda riang bersama seorang wanita dan seorang pria yang seumuran dengannya.  Mereka terlihat akrab sekali. Aku terus memperhatikan mereka sambil meminum kopiku hingga mereka masuk ke dalam studio tari. Lamunanku berhenti ketika teman sekelasku memanggiku.

“hai Thyra! Bagaimana harimu?” tanyanya.

“baik, bagaimana denganmu?” tanyaku balik. Ia mengangguk dan melirik kearah jendela pintu studio tari.

“baik, by the way apa itu Hoseok?” aku mengangguk mengiyakan. Kemudian ia menarik tanganku dan membawaku masuk kedalam studio.

“kita beruntung bisa melihatnya latihan hari ini!”

“latihan?”

“dia akan ikut kompetisi regional sabtu besok, kita beruntung bisa melihatnya latihan! Dia salah satu yang terbaik disini.” Aku biarkan ia menarikku ke dalam studio. Saat suara music mulai terdengar, beberapa orang di dalam studio mulai berkumpul melihat Hoseok latihan. Untuk pertama kalinya aku melihatnya menatap serius dirinya sendiri di depan kaca. Untuk pertama kalinya aku melihat wajahnya dengan jelas. Dia bukan orang yang ceria. Tapi ia orang yang terlihat ceria.

Setelah kedua kalinya aku melihat Hoseok, aku tidak bisa melepaskan hidupku darinya. Setiap kali aku ke studio tari aku selalu melihatnya, saat aku berada di kantor administrasi pusat kampus aku melihatnya, saat aku masuk ke UGD medical center kampus karena maag akut aku juga melihatnya. Tak hanya terlihat, aku juga sering mendengar namanya. Ia dijadikan perbincangan di kalangan pegiat tari di jurusanku, ia juga jadi buah bibir di kalangan wanita-wanita yang menyukainya. Lucunya, aku selalu bisa melihatnya disaat aku tidak ingin dan mendengar tentangnya saat aku tidak peduli. Yang paling aneh adalah, aku seperti sangat mengenalnya walaupun aku tidak pernah bertemu dengannya di depan matanya dan berkenalan. Hoseok tidak mengenalku. OMG, tidak mungkin dia mengenaliku. Aku hanya berkutat dibelakang, yang aku pedulikan adalah segera selesaikan tugas dari dosen secepatnya, upgrade skill gambar dan crafting sebanyak mungkin.

Satu waktu ketika aku wisuda aku melihatnya lagi.

Waktu itu sedikit menjauh dari kerumunan manusia yang mengenakan toga dan menuju sebuah balkon sepi. Aku butuh udara untuk bernafas setelah berjubel diantara kerumunan orang. aku sudah hampir melangkahkan kakiku ke balkon tapi aku melihat Hoseok berdiri disana. Aku jadi mengulum langkahku dan beralih menyandarkan punggungku di dinding. Kami saling berbalik arah. Kami menatap keatas. Kami menghela nafas. Aku tundukkan kepalaku dan mulai mengatur nafasku.

“sial” aku bisa mendengar suaranya. Aku telan liurku sendiri dan memainkan rambut pirangku.

“sial, kenapa jadi seperti ini. nne? Kenapa Junhong? Kenapa kok gak yang lain aja? Emang gak ada yang lain apa? Sialan! Eunyi sialan! Demi apa cobak dia kayak gini? Nne?”

Dia patah hati kah? Oh, kasiannya Hoseok, dia patah hati.

“nne, Eunyi? Tau gak sih kamu? aku ini hancur sekarang. Oh shit! Hoseok, jangan jadi cowok lemah! Tapi, tapi, ini kejam.”

Dia aneh, sudah tau hancur tapi masih sok-sok kuat? Bukan berarti aku ngatain kamu lemah. Kadang kamu cuman butuh waktu untuk menerima kenyataan. Butuh sesi ‘cry out’ dan menumpahkan semuanya. Menjadi selemah-lemahnya hati manusia.

“hidoi, nne? Hidoi desu nne? Tapi aku juga yang bodoh. Maaf aku enggak peka. Maaf aku payah. Maaf aku hidup dan menghancurkan kehidupanmu.”

Aku genggam erat-erat rambutku.

INI SALAH!

Setiap makhluk yang hidup di dunia ini tidak seperti itu!

Aku merogoh saku bajuku dan mengambil kertas kecil dan bolpoin yang aku pakai untuk mencatat sambutan wisudawan tadi. Aku putuskan untuk membuat sebuah kata-kata penyemangat untuknya. Bukan hal yang lucu melihat seorang Jung Hoseok jadi depresi gara-gara patah hati. Setelah menulis di kertas, aku lipat kertas itu jadi pesawat. Kemudian aku lepas stiletto-ku (tau kan stiletto? Aku wisuda pakai stiletto yang lebih dari 7 centi. Mungkin tinggiku jadi 180 lebih waktu pakai stiletto) dan ku jinjing di tangan kananku. Tangan kiriku memegang pesawat kertas dan aku lemparkan pesawat kertas itu. Aku lihat pesawat itu sukses menabrak kepalanya. Aku segera berlari dan bersembunyi dibalik tiang besar di dekat sana. Aku sedikit melirik kearahnya dan melihatnya masuk ke dalam dan menoleh ke kanan dan ke kiri. Ia berdiri di depan pintu balkon dan membuka pesawat itu.

“astaga tulisan hangul-nya jelek banget” katanya

Oh maaf, tulisan jelek memang sudah mendarah daging di aku. Jadi maafkan aku.

Ia membaca tulisanku. Ia berdiam lama disana memandangi kertas itu. Kemudian ia memasukkannya kedalam saku celananya. Ia menghela nafas sambil menatap langit-langit sejenak kemudian ia mengangguk yakin dan pergi.

Sejujurnya aku tidak yakin dengan yang aku tulis di kertas itu. Semoga dia enggak salah paham.

Tapi kadang sesuatu dari masa lalu bisa muncul di masa datang. Dunia ini seperti daun gingseng lebarnya. Setelah bertahun-tahun sejak aku wisuda, aku melihatnya lagi. Aku melihatnya di tempat yang enggak pernah aku duga. Aku dan sahabat masa kecilku Yoongi merintis sebuah usaha salon kucing di kota Atas. Kami merintisnya sejak lama tapi ini pertama kalinya aku pergi menengoknya setelah bertahun-tahun pindah-pindah dari Daegu, Tokyo dan Aarhus. Hari pertama itu pula aku melihatnya berada di kandang – kandang kucing. Sejujurnya aku kaget bukan main dengan ini. Dunia memang sempit, sesempit daun gingseng. Kemudian aku jadi rutin melihatnya. Setiap akhir bulan, Hoseok datang membawa kucing-kucingnya. Dari 6 menjadi 9, dari 9 menjadi 12 dan dari 12 menjadi 15. Apa dia punya penangkaran kucing? Dia penggemar fanatik kucing? Relawan pecinta kucing yang suka memungut kucing kah? Entahlah, setiap kali aku bertanya kepada Yoongi, ia hanya tersenyum dan berkata “Hoseok itu sejenis Rachel yang jatuh cinta dengan kucing”.

Aku penasaran.

Aku luangkan waktuku untuk bertemu dengan Jinhwa dan bertanya macam-macam (semenjak Jinhwa adalah psikopat yang sangat amat terlalu obsesi sekali dengan Min Yoongi). Aku ingin mengenal Hoseok. Aku ingin tau seluk beluknya. Aku ingin tau segalanya tentangnya. Aku jadikan dia sebuah obsesi yang membuatku ingin tau lebih tentangnya. Aku buat sebuah papan khusus di kamarku. Aku menjulukinya papan obsesi. Aku terbiasa membuatnya ketika aku masih Sekolah Dasar. Menempel dan mengumpulkan informasi sebanyak mungkin tentang obsesiku. Aku memulai obsesiku tentang Hoseok.

Aku mencari semua informasi tentangnya. Mulai dari mantan pacarnya, sahabatnya, orang tua angkatnya, saudara angkatnya, bahkan kedua orang tua kandungnya. Aku tau semua tentang dirinya. Makanan kesukaannya, warna kesukaannya, waifu yang dia inginkan, anime yang dia suka, lagu favoritnya, asal usul Daihatsu Taft-nya, kapan dia pindah ke Lereng Gunung Atas, dimana dia bekerja, teman-teman kerjanya, lingkungan kerjanya, sikat dan pasta gigi yang biasa ia beli, alergi-alergi khusus yang dimilikinya, phobia yang dia punya, manga yang dia ikuti, email masuk ke akunnya, akun-akun medsosnya, akun-akun sns-nya, akun-akun game yang dia punya, sampai film biru macam apa yang dia download pun aku tau.

Aku gila? Ya! aku gila!

Aku gila dengan Hoseok!

Aku benar-benar terobsesi dengannya.

Aku tidak pernah bosan dengannya.

Dia seperti manusia dengan banyak topeng dan tabir yang menyelimutinya. Itu selalu membuatku penasaran.

Semua hal ada konsekuensinya. Obsesiku terlalu berbenturan dengan kenyataan. Aku sudah bertunangan dengan Namjoon. Tapi itu sudah tidak penting lagi. Yang terpenting, aku harus mendapatkan Hoseok. Aku harus memilikinya. Jadi aku membuat sebuah rencana. Aku bicarakan rencanaku dengan Yoongi dan Alexie. Mereka setuju dan mereka mau membantuku. Yoongi membuat set up dan membuat Hoseok bertemu denganku. Kemudian kami bertemu saat ia mengambil kucing-kucingnya dari salon. Ini pertama kalinya kami berkenalan, saling berbicara satu sama lain. ia terlihat canggung dan malu-malu, tapi juga polos dan lucu. Sebuah percakapan panjang. Kami mengobrol tentang Yoongi si semi albino titisan John Travolta, tentang rasi bintang kesukaan, tentang penghasilan dan tentang perasaan.

“entahlah, aku hampir gila sekarang gara-gara mikirin cara biar bisa jadi pacarmu. Mungkin karena aku udah lama banget ngejomblo apalagi undangan nikah udah mulai numpuk. Aku… ah entah mungkin gengsi yang bikin aku jadi pingin kamu jadi pacarku. Tapi rasanya enggak adil dan akan menyakitkan kalo aku pada akhirnya cuman jadiin kamu batu loncatan. Seberapa bapernya aku, aku enggak pingin bikin orang lain sakit cuman gara-gara egoku” itu katanya.

Setiap orang yang berhubungan dengan Hoseok selalu menggambarkannya dengan 2 hal. Pertama, Hoseok orang yang terlalu jujur. Kedua, Hoseok orang yang terlalu baik. Apa yang mereka katakan sama sekali tidak salah. Lelaki mana yang mau mengakui dirinya sendiri ingin menjadikan seorang wanita menjadi batu loncatan? (setidaknya itu yang aku pahami) Tapi ia tetap tidak ingin menyakiti orang lain. Demi Thor sang Dewa petir! dia masih memikirkan orang lain saat ia ingin egois.

“hehehe, thats beautiful y’know? You really have such a cute and honest heart. Pantes kamu enggak pacaran selama 3 tahun terakhir Hoseok. Kau, benar-benar terlalu baik Hoseok. Kau tau, saat Yoongi mengenalkanmu lewat foto. Aku merasa familiar dengan wajahmu, jadi jiwa stalkerku muncul. Aku menstalker semua medsos yang kau punya. Bodohnya aku dan kau. Kau tau, kita ini masih satu angkatan di universitas yang sama. Kau orang cukup terkenal dikampus. Ya, bagaimana tidak? kau pacar si primadona fakultas hukum. Tidak ada junior dan senior apalagi seangkatan yang tidak mengenalmu dan pacarmu itu. Hampir semua cewek FKH (Fakultas Kedokteran Hewan) membicarakan bagaimana romantisnya dirimu. Bahkan anak fakultas seni juga banyak yang memujimu Hoseok. Dulu, aku juga membicarakanmu seperti cewek cewek lain dan aku juga mengagumi kehebatanmu saat kau masih jadi ketua komunitas dance FKH. Kau orang yang mudah akrab dengan siapapun, aku tau kau mengikuti setidaknya 5 organisasi kampus, belum termasuk yang diluar bukan? Tapi kau tidak pernah punya masalah dengan kuliahmu bahkan saat wisuda kau adalah lulusan terbaik, padahal kau berada di Universitas paling top di negara ini. Aku saja harus puas dengan IPK hampir nasakom (nasib satu koma => yang kuliah pasti ngerti rasanya kan?). aku rasa aku panjang sekali ya mengatakannya?”

Ia tersenyum kecil dan pipinya memerah. Oh dia seperti paprika yang memerah sekarang.

“ya, kau memang menjelaskannya dengan sangat panjang”katanya lembut

“kau tau Hoseok, aku sering melihatmu dari jauh. Aku tidak menyukaimu atau pun mencintaimu. Aku sendiri tidak merasa berdebar-debar seperti waktu aku pertama kali bertemu dengan RapMon. Tapi aku sering melihatmu dan mengagumimu dari jauh. Aku sama sekali tidak tau kenapa pada akhirnya kita ketemu. Aku bahkan tidak pernah menyangka kita bisa bertemu. Dalam sejarahku aku orang yang mudah sekali bosan, tapi entah kenapa aku sama sekali tidak bosan mendengar tentang beritamu di medsos. Kau tau? Kau masih jadi topik pembicaraan di grup chat angkatan. Aku sering senyum-senyum sendiri bacanya, but i’m never get bored on you. Never… not even once. Sangat jarang bagiku bisa mengatakan yang sejujur ini. Biasanya aku mengatakannya pada Alexie, Albino (baca: Yoongi), dan RapMon. Tapi aku baru aja putus dengan RapMon 3 hari lalu. Jadi kupikir dia harusnya dihapus dari list kepercayaan”

“kau bukan orang yang mudah percaya dengan orang berarti?”

“lebih tepatnya sulit untuk bercerita. Tapi aku merasa lega sudah mengatakannya.”

“oh ya, mantanmu namanya RapMon?”

“iya, kenapa?”

“weird name…”

“I know”

“Thyra, Kamu mau gak jadi pacarku?”

Its like dream comes true. Akhirnya aku bisa mendapatkannya, mendapatkan Jung Hoseok.

“ya, aku mau” jawabku. Kemudian dia tersenyum lebar walaupun wajahnya merah seperti paprika.

Hari itu kami pacaran. Untuk merayakannya, Hoseok membawaku ke sebuah tebing dekat perternakannya dia kerja jadi kami bisa melihat dengan jelas deretan atap putih yang berjajar. Kami berfoto dan banyak bercerita hingga Namjoon datang. Malamnya Namjoon meneleponku dan mengancamku. Ia bilang aku harus mutusin Hoseok kalo enggak Hoseok akan dipecat dari pekerjaannya. Aku memilih untuk diam dan bertekad akan membuat Namjoon benar-benar menderita jika ia tetap seperti itu.  Tapi keadaan berubah dengan tidak disangka. Hoseok resign dan mencari pekerjaan baru. Dengan senang hati peternakan pesaing (pesaingnya peternakannya Namjoon) menerimanya dan memberinya jabatan yang bagus. Setidaknya dia enggak jadi kere sekarang.

Kenalan  dengan keluarga Hoseok secara langsung benar-benar menyenangkan. Mereka terbuka dan tidak canggung saat bertemu denganku. Biasanya orang tua begitu melihatku, mereka langsung canggung. Mungkin karena aku Danish. Saat Hoseok pergi membeli barang belanjaan, Nyonya Jung menunjukkan foto-foto masa kecilnya Hoseok. Ia menunjukan sebuah album foto berwarna hijau dan mulai membuka lembarannya.

“ini foto waktu Hoseok baru diadopsi dari panti” Nyonya Jung menunjuk foto seorang anak kecil bermuka super datar lebih datar dari Yoongi.

“aku kira Hoseok lebih ceria?” tanyaku. Nyonya Jung hanya diam kemudian ia membalik halaman album. Ada banyak foto sekeluarga. Ada Tuan dan Nyonya Jung dan juga ada Hoseok dan kakaknya.

“ini foto kami sekeluarga, waktu itu Jungkook masih belum lahir.” Aku melirik setiap foto, sungguh aku enggak bergurau, kenapa wajahnya Hoseok cemberut sok serius gitu?

“tante, ini kenapa Hoseok cemberut sok serius gini mukanya?” tanyaku lagi. Nyonya Jung hanya diam memandangiku. Kami saling memandang dan tidak ada kata kata yang keluar dari bibir kami. Sampai akhirnya Jin datang dan mengusap lembut pundak Nyonya Jung.

“eomma, dipanggil appa di kamar.” Katanya lembut. Nyonya Jung mengangguk pelan dan pergi keluar menuju kamar. Jin tersenyum aneh kepadaku kemudian ia duduk di dekatku.

“maaf, eomma emang enggak suka kalo harus nyeritain masa kecilnya Hoseok.” Katanya.

“memangnya kenapa masa kecilnya Hoseok?” Jin menghela nafasnya dan membenarkan duduknya.

“berat, kira-kira begitu gambarannya. Dulu dia enggak bisa senyum ato ketawa. Dia semacam korban kekerasan rumah tangga. Dia enggak pernah cerita tentang masa kecilnya. Apa yang dia alami waktu kecil. dia cuman diem, mengalihkkan pembicaraan atau yang lebih ekstrem, dia sudah pasang muka enggak enak mengacuhkan pandangan dan pergi.” Aku cuman bisa ngangguk. Apapun yang terjadi waktu itu, biar Hobi aja yang tau. Bukannya cuek dan enggak mau tau, tapi menurutku Hobi punya alasan tersendiri kenapa dia enggak mau cerita.

Ada satu waktu Hoseok bertemu dengan mantan pacarnya. Dusta rasanya kalo aku bilang, aku enggak lihat Hobi disapa mantannya. Eunyi namanya. Mereka dulu pacaran sudah sangat lama, entah berapa tahun. Cemburu itu wajar. Ya aku takut Hobi kembali melirik mantannya. Aku cepat-cepat melangkah mendatangi mereka.

“OI! Hobie-Chan~” sapaku dengan keras-keras. Dalam keluarga serigala, saat pasanganmu direbut oleh yang lain, kamu harus menunjukkan aura dominasi Alpha sehingga si pengganggu pergi. Aku hampiri Hobi dan tersenyum lebar menekan emosiku.

“hai, kamu lagi reunian sama temen lamamu kah?” tanyaku dengan gaya super polos dan enggak tau ada apa. Yap, inilah keahlianku, topeng cuek dan topeng kepolosan. Dalam situasi tertentu dua topeng ini berguna untuk membalikkan keadaan dan membuat orang lain menurut atau setidaknya melakukan sesuatu yang kita inginkan tanpa paksaan. Menggunakannya dengan benar dan tepat bisa membuat atasanmu luluh dan berbaik hati kepadamu.

“kamu enggak taukah?” tanya Hobi sambil menahan suaranya. Aku segera memasang muka sok curiga dan menyelidik. Aku lanjutkan dengan menepuk tanganku dan tersenyum lebar seakan-akan baru ingat kalau dia mantannya Hobi.

“oh! Gomen aku enggak sadar kalo dia mantanmu Hoseok” kataku dengan nada gembira. Aku tau, aku akan terlihat seperti gadis manja yang sedang mempermainkannya. Bodohnya pengacara satu ini menampakkannya dengan jelas dengan wajahnya. Apa dia benar-benar pengacara?

“hai Eun Yi, kenalin aku Thyra pacarnya Hoseok” kataku sambil menyodorkan tanganku dan mulai mengubah garis senyumku. Bukankah menyenangkan melihatnya marah-marah begini?

“get out from my way you B****” Eunyi mengatakannya dengan kasar dan menatapku tajam. Hmn… belum-belum sudah nyumpah-nyumpahin orang.

“auw, aku enggak nyangka orang sekalem dirimu bisa ngomong kayak gitu” pancingku lagi. Menyenangkan melihat ikan menggelepar di daratan.

“menjauhlah dari Hoseok, kau itu sama sekali enggak pantes buat dia okay” Eunyi kembali menyerangku. Oh, enggak pantes? Emang siapa dia ngomong seenaknya sendiri. Fuh…

Akan aku buktikan siapa yang enggak pantes. Akan aku buktikan, Hoseok adalah milikku dan ia mencintaiku dan aku mencintainya. Pertama membuat Hoseok dan Eunyi enggak fokus dan teralihkan perhatiannya. Bagaimanapun aku tidak bisa memperlihatkan seperti apa Thyra yag suka menghancurkan hati orang.

“whooaaa…. hobie-chan, ini kenyataan kan? Aku bertengkar sama Eun Yi memperebutkanmu~ uwwaaaah~ kenapa kamu enggak bilang kalo Eun Yi dateng kemari kalo kamu bilang kan aku bisa cosplay jadi Bismarck ato Lightning jadi aku biar keliatan lebih keren dan gak keliatan kekanak-kanakan gini. Uh~ aku jadi kelebihan endorfin nih Hobie-chan~ ini bukan mimpi kan? Bukan kan? Bukan mimpi iya kan?” aku berjingkat-jingkat gembira.

“ehehe, gomen aku menghancurkan suasana serius ini menjadi aneh. Tapi sejujurnya aku enggak peduli dan enggak terlalu peduli denganmu Eun Yi.” Gomen Hobi-chan, aku ini bukan orang yang jujur dan baik sebenarnya. Aku cuman selalu terlihat baik dan indah.

“kau boleh mengatakan aku apa saja, tapi Hoseok akan menikah denganku dan aku bisa memastikan hal itu.” Tapi satu hal yang aku ingin kamu tau Hobi-chan. Aku mencintaimu Jung Hoseok

“karena sejak pertama…”

Aku mencintaimu Hoseok

“Hoseok mau ditendang sama bosnya dari tempat kerjanya gara-gara pacaran sama aku~ jadi sekarang dia cowok kere yang lagi nunggu bayaran tanggal  1 besok~”

Aku benar-benar mencintaimu 

“tolong ya garis bawahi, Hoseok sekarang adalah cowok kere yang nunggu bayaran tanggal satu soalnya di kulkasnya udah kosong melompong gak ada isinya~…”

“hei! Aku gak se-kere itu ya!” hobi mulai protes.

“habisnya kapan hari isi kulkasmu bisa sampek habis-bis-bis kosong melompong. Itu sudah tanda kalo dirimu ini kere” tuduhku. Hoseok, tau gak kalo kamu punya wajah paling konyol sedunia?

“terus kamu tau kalo aku ditendang sama bosku dari mana?!” aku tau kamu punya respon apaling alay sedunia, aku yakin Eunyi juga radak ilfil sama kamu sebenernya.

“kan bosmu Namjoon, dia bilang ke aku kalo aku enggak mutusin kamu gajimu bakal di cut off. Tapi kamu malah resign trus ngelamar kerja di tempat lain. yaudah terus aku mau apa?” kamu itu salah satu cowok antara baka, alay, keren, gentle, cute yang di mixer jadi satu. Diberi pengembang orang-orang yang baik. Diberi mentega yang pas dari orang tua angkatmu. Kemudian dioven dengan panasnya kehidupan.

“well, intinya kamu milih aku sejak pertama iya kan? Jung Hoseok?” tanyaku.

“well, Eun Yi maafkan aku sudah punya pilihan. Meskipun aku tau kalo Thyra bisa dikatakan hampir enggak waras dan aku yakin kami akan jadi pasangan paling bodoh sejagad raya. Tetep aku akan memilih Thyra.”

Hoseok, kamu itu udah kayak Mad Hatter’s riddle. 

Why is a raven like a writing desk?

“kenapa? Kenapa kamu tetep pilih dia?” Eun Yi bertanya

Apa yang dikatakan Mad Hatter itu sebenarnya bukan teka-teki. Tapi secara tidak langsung ia berkata, diantara semua pertanyaan, yang membuat segala sesuatu menjadi pertanyaan adalah keadaan itulah yang membuat sebuat pertanyaan membutuhkan jawaban namun ada beberapa pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu jawaban karena tidak ada jawabannya bukan karena itu adalah sesuatu yang asal tapi pertanyaan itu tidak bisa dijawab.

“karena dia Thyra Rasmussen gak kurang dan gak lebih dari itu”

Oh, okay, thanks sudah memberiku jawaban.

.

.

.

Satu kebetulan saat aku tidak sengaja salah mengambil buku dan membuka buku harian Hoseok. Oh, bukankah dia imut sekali menulis buku harian? Aku dengan lancangnya membolak balik isinya dan menemukan sebuah kertas dengan tulisan hangul yang jelek. Percaya atau tidak, itu tulisanku waktu aku wisuda.

“Thyra, kamu kok ngeliatin buku itu?” Hoseok sudah berdiri di depanku dan mengambil bukunya dengan paksa. Aku cukup cepat untuk mengambil kertas itu dan menunjukkannya di depan Hoseok.

“Hobi-chan, apa kamu percaya kalo ini tulisanku waktu aku wisuda?” tanyaku. Hoseok diam sejenak dan matanya membesar.

“jangan bilang kamu yang ngelempar pesawat-pesawatan itu Thyra!” katanya panik.

“iya, emang kenapa?” Hoseok tersenyum.

“makasih, kalo kamu enggak bikin itu aku enggak bakal move on dari Eunyi.”

“Hobi, inget gak kamu pernah tanyak ke aku kayak gini ‘apa kita ini jodoh?’ inget gak?”

“inget, kenapa?”

“kita ini berjodoh lho Hoseok, percaya enggak?”

“enggak.”

“heh?! Kok gitu?!” tanyaku penasaran.

“kan kita Soulmate” katanya dengan diiringi winkeu dan gummy smile-nya

“alay” jawabku datar

“yah! Aku lagi nyobak romantis!” bantahnya

“alay” balasku sambil berjalan meninggalkannya

“yah, Honey plis ya!”

Advertisements

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s