[Ficlet] Comfort Zone

56d474559b1757d74ad1eb1abd4e0cca

comfort zone

.

BTS’ Min Yoongi and OC’s Park Minha

.

560 words | heavy!Fluff | 15

.

Over my galaxy that’s dyed with you completely

We call each other like gravity

(VIXX – Butterfly Effect)

.

.

.

 

Yoongi mendapatinya sedang duduk bersila di atas kasur, telinga tersumpal earphone sementara tatap lekat pada layar laptop yang ada.

Lelaki itu tak repot-repot mengetuk, pun mengeluarkan sapa. Kalau gadisnya sedang asyik menarikan jemari di atas keyboard, itu tandanya ia tak akan memberi perhatian pada hal-hal di sekitarnya. Persis sekali seperti Yoongi jika sedang bekerja di depan komputernya, kendati untuk hari ini, ia ingin sedikit berbuat nakal.

Mendudukkan diri di samping Minha, ia bergerak untuk meletakkan dagunya di pundak sang gadis. Membiarkan hidungnya mencium aroma karamel yang khas, wangi sampo Minha yang tak pernah diganti sejak dulu. Sebelah tangan lantas terangkat untuk memainkan helai-helai rambut Minha yang dicat cokelat almond, tahu bahwa sebentar lagi ia pasti akan mendengar suara gadis itu mengudara.

Omong-omong, yang Yoongi maksud dengan nakal adalah menganggu pekerjaan Minha. Mengingat gadis itu nyaris tak pernah menginterupsi Yoongi saat bekerja, maka….

“Hai juga, Min Yoongi. Aku masih punya ribuan kata untuk ditulis di lembar putih ini, asal kamu tahu saja.”

Yoongi menggerak-gerakkan kepalanya, bermaksud untuk mengangguk dan menunjukkan bahwa ia mengerti. Namun, mengerti bukan berarti bahwa ia akan mengalah. Oh, tidak semudah itu, Nona Park.

“Aku lelah,” ucap Yoongi akhirnya, menarik kedua earphone Minha sampai terlepas. Tubuh lantas bergeser sedikit, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk merebahkan diri dan meletakkan kepala di pangkuan sang gadis. Lengkap dengan senyum yang dipasang di wajah, sementara Minha meliriknya dengan sorot datar (dan sedikit rona di pipi).

“Kenapa?” balas Minha, mengetikkan beberapa kata lagi seraya pura-pura tak acuh. “Ada masalah?”

Kalau saja Yoongi menjawab iya, maka Minha pasti akan langsung memberikan atensinya. Kerut itu akan tercipta di keningnya, seraya ia mengelus pundak Yoongi dengan penuh kekhawatiran. Siap mendengar semua cerita yang dicurahkan, mungkin memberikan satu atau dua tanggapan agar sang lelaki merasa lebih baik.

Tapi, kali ini berbeda.

Min Yoongi merasa kalau ia sudah terlalu sering membuat Minha cemas. Hampir seluruh pertemuan mereka selalu diwarnai dengan acara berbagi cerita, kendati keduanya juga bisa saling menghibur dan menutup hari dengan hal-hal menyenangkan. Namun, bagaimana jika kali ini ia tak punya alasan?

Ia hanya ingin menghabiskan waktu dengan Minha, itu saja.

“Sesungguhnya … tidak ada apa-apa,” ujar Yoongi setelah sekian detik berlalu, meraih sebelah tangan Minha dan meletakkannya di atas dada. “Tuh, kamu bisa merasakannya, kan? Detak jantungku tidak terdengar seperti orang yang sedang punya masalah atau dikejar kekhawatiran.”

“Yoongi-ya.”

“Mau beristirahat sejenak?”

“Kamu sedang menggodaku, ya?”

“Kamu tidak mau?” Yoongi malah balas bertanya, kembali menjungkitkan ujung-ujung bibir. “Aku benar-benar capek, tahu. Itu saja, tanpa alasan. Tidak harus ada alasannya, bukan?”

Minha tak menjawab, tetapi ia sudah berhenti mengetik dan berganti mengetuk-ngetukkan jemarinya di atas laptop.

“Jadi, bagaimana? Ayolah, Minha-ya….”

Respons sang gadis adalah decakan, diikuti bunyi laptop yang ditutup. Minha lantas mendorong kepala Yoongi menjauh dari pangkuannya, menyilangkan kedua lengan di depan dada seraya berkata, “Kamu menyebalkan sekali, Tuan Min. Untung saja aku….”

“Kamu juga menginginkannya, kan? Merindukanku?”

“Berhenti senyum-senyum atau kubatalkan saja niatku untuk beristirahat,” Minha menjawab cepat, kendati ia tetap membiarkan dirinya untuk berbaring dan menggunakan lengan Yoongi sebagai bantal. Selama sejemang bertukar tatap, sebelum akhirnya ia beringsut mendekat lebih dulu dan melingkarkan sebelah lengannya untuk memeluk sang lelaki.

Sleep tight, Sunshine.”

Minha mengulum senyum, tak mengizinkan Yoongi untuk melihat rona di pipinya. Sebagai ganti, ia pun memberikan cubitan kecil pada pinggang Yoongi. Mengisyaratkan bahwa percakapan mereka telah berakhir, digantikan dengan suara embusan napas yang teratur serta kehangatan yang menjalar.

Yah, beristirahat sejenak tak ada salahnya, kan?

.

.

.

salahkan Kak Yeni yang malem-malem share imagine bangtan terus efeknya bertahan sampai sejam kemudian dan ff ini jadi /.\

pointless tapi sesekali dosis fluff berlebih nggak apa-apa lah ya XD

 

Advertisements

3 thoughts on “[Ficlet] Comfort Zone

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s