[BTS FF Freelance] Run – (Chapter 8)

maru___run-copy

Title : Run

Author : Maru

Genre : friendship, family, crime

Cast :-Member BTS

-And others ….

Rating : PG -13

Leght : Chaptered

Disclaimer : Aku hanya memiliki cerita dan OC, selainnya bukan.

Credit : Poster by ChocoYeppeo @Indo Fanfictions Arts 

~-~

Tiga orang anak laki-laki tampak asyik bermain kejar-kejaran di sebuah taman. Salah satu diantara mereka berputar mengelilingi pohon yang berada di tengah taman itu. Temannya yang lain bersembunyi di balik kursi taman sambil tekekeh kala kedua temannya asyik berkejar-kejaran sembari tertawa riang. Tiba-tiba anak yang bersembunyi itu melihat seorang anak yang tengah berjalan menyusuri jalan di dekat taman itu.

“Hei, itu Jungkook!” Anak itu berseru membuat kedua temannya langsung berhenti bermain.

“Ingin pergi kemana anak itu?” tanya salah satu diantara mereka.

“Sepertinya membeli es krim, seperti biasa. Ayo!” Anak yang lain langsung berlari ke arah Jungkook, disusul anak yang mengejarnya tadi.

“Hei, Yoongi! Ikut, tidak?” Anak itu menghentikan langkahnya ketika menyadari temannya yang bersembunyi di balik kursi masih terdiam di sana.

“Eoh? Iya, tunggu aku.” Anak yang dipanggil Yoongi itu melompat dari balik kursi dan mengejar kedua temannya.

Kedua anak itu berlari ke arah depan Jungkook dan mencegatnya, sementara Yoongi berdiri di belakang Jungkook yang terkejut ketika mereka muncul di hadapannya. Tangannya yang menggenggam uang ia sembunyikan di balik punggungnya.

“Ingin pergi kemana?” tanya salah satu anak itu pura-pura ramah.

“Kau membawa uang, kan?” imbuh temannya.

Jungkook langsung menggeleng ketakutan. Diam-diam Yoongi yang berdiri di belakangnya menarik uang itu dari tangan Jungkook. Jungkook langsung berbalik ketika uang itu lenyap dari tanganya.

“Aku mendapatkannya!” Yoongi melompat girang. Ia mengangkat uang itu tinggi-tinggi agar Jungkook yang berumur 5 tahun itu tidak dapat menjangkaunya.

Kedua teman Yoongi tertawa senang. Salah satu diantara mereka mengambil uang itu dari Yoongi dan berlari ke taman. Anak yang satu lagi dan Yoongi mengikutinya sambil tertawa riang. Jungkook mengejar mereka untuk mendapatkan uangnya kembali. Ketika mereka berhenti, Jungkook langsung mendekat dan melompat-lompat untuk meraih uangnya yang diangkat tinggi-tinggi oleh anak itu. Saat kakinya mendarat, tanganya tidak sengaja menyentuh wajah anak yang lain sehingga pipinya tergores.

“Auw. Yak, apa yang kau lakukan!?” Anak itu mendorong Jungkook hingga ia terjatuh. Pipinya membentur kursi taman dan membuatnya meringis.

Ketiga anak itu tersentak ketika Jungkook meringis dan mulai menangis. Pipinya yang terbentur tadi mulai memerah.

“Yak, jangan sampai orangtua dan hyungmu tahu tentang ini. Kalau tidak, akan kubunuh kau!” ancam anak yang pipinya tergores oleh tangan Jungkook. “Ayo, kita pergi.”

Anak yang menggenggam uang itu mengikuti temannya yang berjalan pergi. Yoongi masih terdiam di tempatnya, menatap Jungkook iba.

Gwaenchana?” tanya Yoongi, berharap Jungkook mau menjawabnya, setidaknya dengan anggukan atau gelengan agar ia tahu keadaannya. Tapi Jungkook hanya menangis dan tidak menghiraukan pertanyaan Yoongi.

“Yoongi, kau mau ikut tidak?” Temannya sedikit berteriak karena jarak mereka sudah cukup jauh.

Yoongi menoleh ke arah temannya. “Ya.” Ia berlari meninggalkan Jungkook yang masih terduduk di sana. Kasihan sebenarnya. Tapi Jungkook bukan temannya. Temannya adalah dua orang yang selalu bermain bersamanya.

~-~

Seokjin mengernyitkan dahinya ketika dua orang berseragam polisi masuk ke selnya dan menyuruhnya untuk ikut dengan mereka. Terlebih saat mereka mengatakan terjadi kesalahan dan itu harus ditangani sekarang. Mau tak mau, Seokjin pun bangkit dan berjalan keluar dari dalam sana.

Kedua orang itu menyuruh Seokjin berjalan di depan mereka agar mereka dapat melihatnya. Baru beberapa langkah, seseorang menghentikan langkah mereka dengan mencegatnya. Seingatnya, orang itu yang pernah menjaganya ketika ia menemui penjenguk selama tiga hari berturut.

Orang itu terdiam sejenak, ia mengambil napas sebelum membuka mulutnya. “Aku minta maaf.” ucapnya sambil membungkuk dalam.

Seokjin menatapnya bingung. “Untuk apa?”

“Aku … aku sebenarnya hanya ingin menjadi teman Jungkook. Aku minta maaf.” Orang itu membungkuk sekali lagi.

“Teman Jungkook?” Seokjin bertanya-tanya apa maksudnya. “Kau siapa?”

“Aku Min Yoon Gi.”

Seokjin sedikit terkejut mendengarnya. Yoongi dan kedua temannya selalu mengganggu Jungkook semasa ia TK hingga SD. Tak jarang ia pulang ke rumah dengan sebuah luka akibat ulah ketiga anak itu.

Seokjin tersenyum. “Aku tahu. Caramu bermain dengan Jungkook berbeda dengan kedua temanmu.”

Yoongi membalas senyumannya. “Kamsahamnida. Tapi … hyung … kau harus ikut kami.”

Wae?

Yoongi sedikit ragu untuk memberi tahu Seokjin tentang hal ini, tapi ia harus. “Jungkook hilang ingatan, dan ia menghilang sekarang.”

Seokjin membulatkan matanya. Itukah alasannya Jungkook tidak menjenguknya lagi? Tapi bukankah appa-nya mengatakan Jungkook tidak apa-apa?

“Bagaimana bisa?”

“Kedua temanku itu … pembunuhnya. Mereka mengincar Jungkook, bukan eomma hyung. Aku akan menjelaskannya nanti. Sekarang kita harus pergi.”

Yoongi menyuruh Seungyeon dan Junyoung untuk membawa Seokjin ke mobil, sementara ia menaiki motornya. Mereka langsung pergi meninggalkan tempat itu setelahnya.

~-~

Yoongi menghela napas perlahan. Tangannya sudah memegang kenop pintu di hadapannya, tapi ia masih ragu untuk membuka dan masuk ke sana.

“Yoongi,” Seseorang menepuk pundaknya dan membuatnya langsung menoleh. “Kenapa tidak masuk?”

“Aku tidak mau masuk lebih dulu, ketua.” Yoongi mundur selangkah mempersilahkan orang itu untuk membuka pintu.

Ketua membuka pintu itu dan masuk bersama Yoongi. Ruangan kecil itu hanya diisi dua buah kursi dan meja di tengah ruangan. Youngjae yang duduk pada salah satu kursi itu langsung bangkit dan membungkuk kepada ketua, sementara namja yang duduk di kursi satunya hanya terdiam memperhatikan mereka. Ketua menarik kursi yang ditempati Youngjae tadi dan duduk di sana. Ia menatap namja di hadapannya dengan serius.

“Apa kau memerintahkan seseorang untuk membunuh Kim Mi Joo?” Ketua memulai pembicaraan dengan namja itu.

Namja itu memutar bola matanya malas. “Jika kau ingin menuduhku, kau harus memiliki bukti.”

“Ini, rekaman suara di sini.” Ketua meletakkan sebuah handphone di meja. “Rekaman pembicaraan di telepon, apa kau yang merekamnya sendiri?”

“Ah, aku sudah ketahuan, ya?” Namja itu terkekeh pelan seakan ia tidak berada dalam masalah, sekarang. “Ya, itu aku. Tapi aku tidak memerintahkan mereka membunuh Mijoo terlebih dahulu. Seharusnya kau tahu siapa targetku jika kau sudah mendengar rekaman itu.”

Yoongi menajamkan pendengarannya agar telinganya tidak salah menangkap perkataan namja itu. Ia belum mendengar rekaman suara yang ada pada handphone yang diberikan anak kecil itu.

“Jeon Jung Kook, Kim Seok Jin, lalu Kim Mi Joo. Itu yang ingin kau bunuh?”

“Benar. Tapi mereka tidak melakukannya dengan benar.”

Ketua menyilangkan kedua tangannya di atas meja dan bertumpu padanya. “Kenapa kau ingin membunuh mereka?”

“Karena aku membenci mereka. Wanita itu, dia tidak pernah menyapaku, bahkan ia tidak menganggapku ada selama kami masih tinggal satu atap. Anak itu, dia juga tidak menganggapku sebagai ayah.” Nada bicara namja itu terdengar sangat serius sekarang. “Hanya karena … aku tidak suka melihat mereka bahagia.”

“Apa aku bisa mempercayaimu?”

Namja itu terkekeh pelan. “Aku sudah tertangkap sekarang, tidak ada gunanya untuk menutupi kejadian ini. Aku tidak akan berbohong.”

“Kalau begitu, siapa mereka?”

“Aku tidak tahu nama mereka. Tapi yang kutahu ….” Namja itu menjeda kalimatnya. Matanya bergerak ke arah Yoongi yang menatapnya, penasaran dengan kalimat selanjutnya. “Mereka berteman dengan polisi bernama Min Yoon Gi.”

Ketua yang mendengar itu hanya sedikit melirikkan matanya ke arah Yoongi. Youngjae langsung menoleh ke arah Yoongi setelah mendengar penuturan namja itu. Yoongi yang sudah yakin akan mendapat respon tak percaya dari temannya itu menghela napas pendek.

“Itu dulu. Aku seharusnya tidak berteman dengan mereka.”

“Kalian berdua, keluarlah.” perintah ketua tanpa menoleh ke arah Yoongi dan Youngjae sedikitpun. “Biar aku yang mengurus namja ini.”

Yoongi dan Youngjae saling menatap sekilas, kemudian mereka membungkuk bersamaan dan berjalan keluar dari ruangan itu.

“Teman? Bagaimana bisa?” Youngjae langsung melontarkan pertanyaan ketika Yoongi sudah menutup pintu ruangan itu.

“Saat SD, aku tidak mudah bergaul. Mereka mulai mengajakku bermain saat aku sendirian.” Yoongi menghentikan kalimatnya sejenak. “Maaf, aku membohongimu waktu itu. Aku … aku mengenal Jungkook, sebenarnya.”

Youngjae membulatkan matanya. “Kau? Yang benar saja?” Youngjae mencengkram kedua pundak Yoongi sambil mengguncangkannya saat bertanya.

“Aish, lepaskan tanganmu.” Yoongi menurunkan kedua tangan Youngjae yang dirasa sangat mengganggunya itu. “Hanya mengenal. Kedua temanku itu selalu mengganggunya, jadi aku hanya mengikuti mereka tanpa mengetahui alasan mereka melakukan itu. Mereka sering mengancam, jika hyung atau eomma mu tahu tentang ini, kau akan kubunuh. Saat melihat rekaman itu, aku sudah curiga itu mereka.”

“Siapa nama mereka?” Youngjae menatap Yoongi dengan tatapan serius.

Yoongi menyuruh Youngjae untuk mendekatkan telinganya. Walaupun saat ini hanya ada mereka berdua, Yoongi tidak ingin mengucapkannya dengan suara keras, karena mungkin saja ada yang mendengarkan mereka dari ruangan-ruangan yang berada di sisi koridor itu.

Youngjae mendengarkan dua nama yang disebutkan Yoongi barusan. Ia tidak pernah mendnegarnya sebelum ini. “Apa ketua sudah tahu?”

Yoongi menggeleng. “Mungkin belum. Kau beritahu pada ketua nanti, aku harus mengurus masalah Jimin dan Jungkook. Aku pergi.” Yoongi langsung berlari pergi setelah mengatakan hal itu.

~-~

Seokjin membuka pintu kamar Jungkook -di rumah Jimin- perlahan. Matanya langsung menelusuri setiap sisi ruangan itu, melihat barang-barang yang ada di sana. Seokjin membuka pintunya lebih lebar dan masuk ke dalam. Semua barang yang ada di sini tampak asing. Seokjin tidak pernah melihatnya sebelumnya, kecuali sebuah jaket yang tergantung di balik pintu.

“Ini kamarnya.” ucap seorang wanita paruh baya yang berdiri di belakangnya. Matanya terlihat sembab akibat terlalu banyak menangis.

“Apa bibi yang membelikan semua barang di sini?”

Wanita itu menggeleng. “Ayahnya yang membelikannya.”

Seorang laki-laki paruh baya mendekati mereka. Ia mengajak wanita itu -istrinya dan Seokjin untuk ke mobil karena mereka berniat mencari Jungkook dan Jimin. Seokjin menutup pintu kamar itu sebelum keluar mengikuti wanita dan laki-laki itu.

Saat mereka berada di halaman, sebuah motor menghentikan lajunya di depan pagar. Pengemudi motor itu turun dari kendaraanya lalu melepas helmnya. Ia berjalan mendekati ketiga orang itu lalu sedikit membungkuk.

“Yoongi, apa anakku sudah ditemukan?” tanya wanita itu penuh harap.

Yoongi menggeleng. “Beritanya sudah disebarkan, tapi belum ada yang melapor kalau melihatnya.”

Wanita itu menghela napas pasrah. Matanya yang tadi sudah berhenti mengeluarkan air mulai basah hingga tetesan air meluncur turun. Laki-laki yang berdiri di sampingnya merangkulnya dan mengelus punggungnya lembut. Seokjin menghela napas panjang. Jika Jimin belum ditemukan, kemungkinan Jungkook juga belum ditemukan.

Tiba-tiba ponsel Yoongi berdering. Ia meminta izin untuk mengangkat telepon sejenak, kemudian berjalan keluar dari halaman. Tak lama kemudian ia kembali ke halaman dengan sambungan telepon yang masih menyala.

“Bibi Park, apa terakhir terlihat Jimin mengenakan kaus putih dan celana hitam?” tanyanya.

Wanita itu mengangguk. “Apa anakku ditemukan?”

“Oh,” Yoongi meletakkan ponselnya ke telinganya lagi. “Iya, itu dia. Tapi … haruskah aku ke sana?”

Yoongi terdiam mendengarkan lawan bicaranya yang tengah berbicara. Bibi Park menatapnya penuh harap.

“Yoongi, apa Jimin ditemukan?” tanya Seokjin setelah Yoongi meletakkan ponselnya ke saku celananya.

Yoongi mengangguk. “Tapi di Incheon.”

“Incheon?”

“Iya. Seorang polisi menemukannya tertidur di dekat lokasi pembunuhan. Dia mengira Jimin pembunuhnya, jadi dia membawa Jimin ke kantor polisi. Beruntung temanku melihatnya. Kita harus ke sana sekarang.” Yoongi berjalan mendekati motornya.

Bibi Park langsung berjalan cepat menuju mobilnya, ia sudah tidak sabar ingin melihat anaknya. Suaminya mengajak Seokjin untuk ikut, barangkali Jungkook juga ada di sana. Seokjin hanya mengiyakan, karena ia juga tidak tahu ingin melakukan apa sekarang.

~-~

Jimin menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi hitam yang didudukinya. Pandangannya terarah ke bawah dengan tatapan kosong. Seorang polisi berdiri di depannya sambil berjalan mondar-mandir. Terdengar sesekali ia mengeluh karena temannya tak kunjung datang. Polisi itu akhirnya duduk di sebelah Jimin dan menatapnya.

“Kenapa kau ke Incheon?” tanyanya sambil menatap Jimin yang masih menundukkan wajahnya.

Jimin tidak memberi respon sama sekali. Ia masih tetap terdiam.

“Yak, setidaknya jawab pertanyaanku. Apa kau bisu, huh?”

“Myeongsoo!”

Polisi itu langsung menoleh ketika mendengar seseorang memanggilnya dari arah pintu masuk. “Oh, Yoongi! Kau sudah datang?”

Jimin mengangkat sedikit kepalanya mendengar nama itu. Ia melihat polisi itu sedang berjalan ke arahnya. Oh, Yoongi tidak datang sendiri. Eomma-nya yang datang bersamaan langsung berlari ke arahnya dan memeluknya. Appa-nya juga ada di sana, tapi … Seokjin?

“Jimin … kenapa kau tidak kembali?” tanya eomma di sela tangisnya.

“M-maaf, eomma. Aku tidak mau kembali sebelum menemukan Jungkook. Ini salahku, seharusnya aku tidak meninggalkannya.” Jimin membalas pelukan eomma-nya. Appa-nya berjalan mendekati mereka dan menenangkan eomma-nya.

Jimin mengalihkan perhatiannya ke arah Seokjin. “Hyung? Bagaimana hyung ada di sini?”

Seokjin tersenyum. “Aku sudah keluar, untuk mencari Jungkook.”

“Dia membuatku kesal. Diam saja, tanpa memberi respon sedikitpun.” gerutu Myeongsoo. “Yoongi, bukannya kau masih mencari satu orang lagi?”

Yoongi mengangguk. “Jeon Jung Kook. Itu kakaknya.” Yoongi memberi isyarat menggunakan matanya untuk menunjuk Seokjin yang berdiri terdiam menatap keluarga Park.

“Apa kau memiliki fotonya? Aku belum melihat wajahnya.”

Yoongi mengeluarkan ponselnya. Ia memiliki beberapa foto Jungkook dari Tuan Jeon sebelum ia disuruh mengawasi anak itu. Myeongsoo melihat beberapa foto yang dimiliki Yoongi. Keningnya mengerut ketika ia megingat sesuatu.

“Anak ini … bukannya dia orang itu?”

“Kau melihatnya?” Yoongi terlihat antusias.

Myeongsoo mengangguk. “Tadi pagi, saat aku baru membeli kopi di kafe, tiga orang berlari melewatiku dan hampir membuatku terjatuh. Kedua diantara mereka langsung pergi begitu saja, tapi yang satu lagi berhenti sejenak kemudian meminta maaf. Sepertinya ia terlihat seperti anak ini.”

Seokjin yang mendengarkan cerita Myeongsoo menolehkan wajahnya dengan cepat. “Jungkook di sini?” Tanpa pikir panjang, ia langsung berlari keluar dari kantor polisi.

Hyung!” Yoongi berniat mengejar, tapi ia mengurungkan niatnya karena ia tahu Seokjin pasti akan tetap mencari Jungkook walaupun ia mencegahnya.

Eomma, ayo, kita cari Jungkook.” pinta Jimin sambil menarik-narik lengan eomma-nya. Padahal tubuhnya sangat lemas karena ia belum memakan apapun sejak pergi malam itu.

Eomma menolak ajakan Jimin dan mengajaknya untuk pulang. Tapi Jimin bersikeras kalau ia tidak akan pulang sebelum Jungkook ditemukan. Appa akhirnya mengajak mereka untuk istirahat terlebih dahulu baru mencari Jungkook.

“Tidak mau. Bagaimana dengan Jungkook? Mungkin dia juga belum makan.” Jimin masih menolak ajakan kedua orangtuanya.

Yoongi mendekati Jimin dan menepuk pundaknya. “Tenang saja. Kami akan mencarinya selagi kau beristirahat. Benar, kan, Myeongsoo?”

“Ah? Ya, tentu saja. Aku tidak ada jadwal saat ini.” jawab Myeongsoo sambil mencoba tersenyum. Ia masih merasa kesal setiap melihat Jimin.

Jimin terdiam sejenak, namun kemudian ia mengiyakannya. “Tapi janji, hyung-deul jangan duduk bersantai selama aku istirahat.”

“Ya, ya. Makanlah. Wajahmu terlihat pucat.”

Jimin mengajak eomma dan appa-nya untuk makan, dan itu membuat eomma-nya senang. Keluarga kecil itu berjalan keluar dan masuk ke mobil mereka. Yoongi dan Myeongsoo hanya memperhatikan mobil itu hingga menghilang di tikungan.

“Sekarang bagaimana?” Myeongsoo melipat kedua tangannya di depan dada. “Aku tidak tahu di mana anak itu. Incheon itu luas, tidak mungkin kita hanya mencarinya berdua saja.”

“Kau pikir aku sebodoh itu? Sekarang, sebaiknya kau mencari keberadaan kedua pembunuh itu beserta kelompoknya. Aku akan mencari Seokjin Hyung.” Yoongi sudah bersiap pergi, tapi Myeongsoo menarik lengannya sebelum Yoongi sempat melangkah.

“Pembunuh? Apa maksudmu?”

Yoongi mengerutkan keningnya. “Apa ketua belum memberi tahumu?”

“Ketuamu atau ketuaku?”

“Ketuamu, tentu saja. Pembunuh eomma Jungkook adalah pembunuh bayaran yang tinggal di Incheon. Dan bukan dua orang, mereka berjumlah belasan. Kau belum mendengarnya?”

Myeongsoo menggeleng. “Tadi, saat aku baru datang, aku melihat Jimin bersama salah satu rekanku. Aku mengatakan kalau itu namja yang kau cari, jadi dia menyuruhku menemaninya. Aku belum bertemu ketua.”

“Kalau begitu, masuklah. Aku harus mencari Seokjin Hyung.” Yoongi berjalan mendekati motornya dan bersiap pergi. Myeongsoo masih berdiri di tempatnya. Ia menggaruk rambutnya yang tidak gatal karena ia tidak mengerti dengan apa yang dimaksud Yoongi tadi.

~-~

Seokjin memanjangkan langkahnya menyusuri trotoar. Matanya berkeliaran mencari sosok Jungkook di tempat yang asing ini. Matahari sudah mulai tergelincir ke arah barat, padahal ia mulai mencari sejak sinar matahari masih hangat. Kakinya sekarang sudah mulai terasa sakit, tapi ia mencoba mengabaikannya dan terus berjalan.

Seokjin menghentikan langkahnya ketika ia sadar bahwa ia sudah kembali ke depan sebuah kafe yang ia lewati siang tadi. Seokjin mendudukkan tubuhnya pada salah satu kursi yang ada di luar. Ia memejamkan matanya sambil mencoba mengatur napasnya yang tidak beraturan.

Kookie, kau di mana?”

Seokjin berniat untuk istirahat sejenak, tapi suara klakson mobil yang saling bersahutan di persimpangan di depannya membuatnya tidak bisa tenang. Seokjin bangkit dari posisinya dan kembali berjalan. Sebuah gang kecil di samping kanannya terlihat sepi, dan mungkin ada sebuah tempat untuk beristirahat di sana.

Seokjin memilih untuk masuk ke gang itu. Tiba-tiba bahunya bertabrakan dengan seseorang yang tengah berlari keluar dari gang itu. Seokjin tidak mempedulikannya dan terus berjalan, tapi tampaknya tidak dengan orang itu. Ia menghentikan langkahnya dan berbalik memandangi Seokjin.

“Yak, apa kau Kim Seok Jin?”

Seokjin mengehentikan langkahnya. Ia berbalik dan menatap orang itu. Rasanya ia belum pernah melihatnya sebelumnya.

“Oh, kau sudah keluar dari penjara? Menyenangkan, ya?” Orang itu menyeringai ke arahnya.

Seokjin mengerutkan keningnya. “Kau siapa?”

“Kau tidak mengenaliku?” Orang itu terkekeh pelan. “Aku.”

Seokjin menatap orang itu dalam, menunggu kalimat selanjutnya. Matanya langsung membulat ketika orang itu melanjutkan ucapannya.

“Namjoon.

~To Be Continue~

Advertisements

4 thoughts on “[BTS FF Freelance] Run – (Chapter 8)

  1. diniA

    jadi namjoon sm hoseok yg sering ngerjain jungkook waktu kecil, bener nggak dugaanku??

    teka-teki mulai terungkap, nggak sabar pengen baca yg chap 9

    fighting..

    Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s