[BTS FF Freelance] DREAM HIGH – (Chapter 3)

142b709bfb0bc832

(BTS FF FREELANCE)
Dream High (Chapter 3)

Tittle : Dream High (Chapter 3)
Author : Nagi & April

Main cast :

Jeon Jungkook (BTS)

Park Jimin (BTS)

Song Rae Bi (oc)

Kim Jurim (oc)

Support cast : All Member Got7, Choi Seung Cheol / S.Coups (Seventeen), Irene (Red Velvet), Choi Jun Hong / Zelo (B.A.P), Krystal Jung (F(x)), Koo Jun Hoe (Ikon), Lee Jae Hwan / Ken (Vixx), Hyuna (4Minute), Kim Namjoon / Rap Monster (BTS), Kim Taeyeon (SNSD)

 Genre : Romance, Comedy, Friendsip, Drama, AU
Length : Chapter
Rting : 15-lanjut usia

Disclaimer :

Bts punya orang tua mereka, agency dan ARMY tapi cerita dan oc punya author, cerita terinspirasi dari Dream High
atau bisa dibilang Dream High 3 versi author.
Hati – hati dengan typo..
Happy Reading.

Repeat :
“Itu bukan urusanmu, karena jika kau ikut dalam kehidupannya juga nanti kau akan beranasib sama seperti dia.”

****

Flashback

@ 5 Year Ago @

Seorang lelaki tengah berjalan dengan santai menyusuri daerah barunya, ini adalah pertama kalinya ia pindah kemari.
Dibesarkan di negara orang membuatnya tidak tau seperti apa tempatnya yang semestinya.

Orang tuanya meskipun membuatnya muak tapi ia tampak senang karena tidak harus hidup sendirian didunia ini.
Disebuah pagar rumah yang besar milik tetangganya, Jungkook dapat melihat sebuah nama pemilik rumah.

Yang bertuliskan ‘Song Jungho’ dan satunya lagi bertuliskan ‘Jung Han Seol’ lalu yang paling bawah bertuliskan ‘Song Han Bi’.

Dimusim semi adalah saat – saat dimana banyak buah pohon yang tumbuh dan salah satunya pohon apel di rumah tetangga barunya.
Pohon apel yang rindang dan tengah berbuah banyak sekali.

Pluk!

“Aish..”

Jungkook berhenti bergerak, nyaris saja sebuah apel yang jatuh mengenai kepalanya.
Ia mengangkat kepalanya, dan ia melihat seorang gadis tampak kesulitan turun setelah apel yang ia inginkan jatuh begitu saja ketanah.

Dan tampaknya gadis itupun tak merasakan kehadiran Jungkook disana.

“Apa kau baik – baik saja?” tanya Jungkook

Gadis itu mendengarnya, ia melihat kebawah dan melihat Jungkook yang berdiri disana dengan santai dan tenang.

“A-aku baik – baik saja, kau tidak perlu khawatir.” Jawab gadis itu seadanya

“Baiklah kalau begitu turunlah..” ucap Jungkook sambil tersenyum, ia sangat tau bahwa gadis itu sebenarnya tidak bisa turun.

Gadis kecil yang sebaya dengannya yakni berumur 13 tahun tersebut tampaknya kesulitan menjawab permintaan Jungkook ataupun menuruti permintaan Jungkook.

Jungkook tersenyum untuk kesekian kalinya.

“Aku tau kau tidak bisa turun. Mau kubantu? Lompatlah.. aku akan menangkapmu.”

Alih – alih menjawab gadis itu malah diam ditempat karena tidak yakin jika Jungkook bisa menangkapnya.
Lelaki itu mengulurkan kedua tangannya kedepan, seakan sudah siap untuk menangkapnya.

Anehnya gadis itu menganggukkan kepalanya, dengan wajah malu dan kurang yakin gadis tersebut melompat.
Buru – buru Jungkook menangkapnya.

Lelaki kuat nan tangguh itu berhasil menangkapnya.

“Hahaha rasanya seperti menangkap seorang malaikat jatuh dari langit.” Katanya dengan senyuman

Gadis itu melompat dari tangkapan Jungkook, berdiri dengan tegap didepannya sambil membuang muka kearah lain.

“Hai, aku tetangga baru, rumahku ada disana. Namaku Jeon Jungkook. Senang berkenalan denganmu.” Ujar Jungkook dengan ramah

Tampaknya gadis itu sedikit terkejut melihat Jungkook menunjuk rumah sebelahnya atau rumah tetangganya yang sudah tiga tahun pergi tanpa ia ketahui sama sekali.

“Kau… membeli rumah Jimin?” tanyanya

Alis Jungkook mengernyit, ia tidak mengenali siapa lelaki yang gadis itu ucapkan.

“Namamu Song Han Bi, kan?” ucap Jungkook memastikan.

Gadis itu menggelengkan kepalanya
“Namaku Song Rae Bi.. namaku sekarang Song Rae Bi, bukan Song Han Bi seperti dulu.”
“Kau suka apel?” tanya gadis itu pada Jungkook

Jungkook mengangkat alisnya, ia menatap pohon apel dibelakang mereka dan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan Rae Bi.

“Kau mau apelnya? Buahnya sangat manis, kau tidak akan menyesal jika memakannya.” Tukas Rae Bi

Jungkook menyungging senyum tipis, Rae Bi segera berbalik dan berniat memanjat pohon apel miliknya tersebut.

“Bolehkah aku yang memanjat? Melihatmu tidak bisa turun aku khawatir jika kau nantinya tidak bisa turun lagi.” Pinta Jungkook

Rae Bi menyingkir dari hadapan pohon tersebut, melipir perlahan kesamping memberi Jungkook jalan.
Jungkook berjalan mendekati pohon dan mulai memanjatnya dengan lancar dan lincah.

Ini mengingatkan Rae Bi akan tetangga lamanya yang tidak bisa memanjat namun memaksakan diri untuk memanjat.

Jungkook melompat turun dari pohon setelah mendapatkan dua buah apel, ia menyerahkan satu apel tersebut pada Rae Bi agar mereka bisa memakannya bersama – sama.

Mereka berdua duduk dibawah pohon dengan apel yang mereka makan hasil dari petikan tetangga baru tersebut.

Dan semenjak hari itu mereka menjadi sangat akrab hingga tanpa mereka sadari mereka jatuh cinta.
Jungkook menyatakan perasaannya tersebut.

Meskipun mereka masih berumur 13 tahun bukan berarti usia bisa menghentikan perasaan mereka.

“Kau mau kan jadi kekasih pertamaku?” ucap Jungkook dengan penuh pengharapan

Rae Bi memandang kearah lain, ia tidak mau menatap mata Jungkook yang duduk berlutut dihadapannya.

“Ta-tapi Jungkook-ah.. aku.. aku juga belum pernah memiliki seorang kekasih sebelumnya.” Gumam Rae Bi

“Kalau begitu jadilah kekasih pertamaku, dan kau akan menjadi kekasih pertamaku, walaupun ini bukan pertama kalinya aku dekat dengan seorang wanita tapi ini pertama kalinya bagiku menyatakan perasaanku pada seseorang,”

“Kau tidak perlu khawatir, aku pasti akan setia padamu, aku janji perasaanku ini hanya akan untukmu saja hingga nanti, atau hingga aku mati nanti.”

Jungkook berdiri dari berlututnya, menatap Rae Bi penuh arti

“Apa perlu kita menikah sekarang agar kita tidak akan terpisahkan selama – lamanya?”

Rae Bi tertawa mendengar ucapan Jungkook yang terkesan makin asal dan ngawur entah berentah tersebut.
Namun entah kenapa ia bahagia.

Satu anggukan menjadi jawaban atas permintaan Jungkook, lelaki itu tampak bahagia sekali.
Tersenyum dan tertawa bahagia dan untuk pertama kalinya ia memeluk Rae Bi begitu erat, dan inipun pertama kalinya Rae Bi merasakan perlukan seseorang.

Tetapi hubungan itu tidaklah bertahan lama, tiba – tiba saja Jungkook memutuskan hubungannya dengan Rae Bi.

“Aku ingin mengakhirinya saja Rae Bi-ya, jujur saja aku tidak bisa lagi mempertahankan semuanya, mungkin ini salahku karena terlalu memaksakan diri, maafkan aku.” Ucap Jungkook

Gadis itu rasanya amat terpukul, ia berdiri menunggu Jungkook setiap saat dibawah pohon apel yang tak lagi berbuah, meskipun Jungkook tidak pernah keluar dari rumahnya lagi.

Dan kesengsaraan itu disusul dua hari kemudian, yaitu kematian ayah Rae Bi yang menjadi satu – satunya keluarganya yang tersisa.

Setiap hari gadis itu selalu duduk dibawah pohon apel sendirian, tanpa siapapun menemaninya.
Tidak pernah lagi Jungkook mendengar suara dari gadis itu yang biasanya sering menyapa setiap orang yang ia kenal.

Duduk terdiam dibawah pohon dan tertidur disana tanpa peduli dinginnya cuaca malam ataupun siang hari sepulang sekolah.
Seolah – olah ia takut jika pohon miliknya tersebut akan meninggalkannya seperti sahabat masa kecilnya, ayahnya, ibunya, dan kekasih pertamanya.

Flashback End

****

Jungkook menatap sendu seorang gadis yang sedang membuang sampah pada lokernya dipagi hari.
Bau busuk dari makanan basi dan susu basi menyengat dari loker tersebut, namun gadis itu tampak tidak jijik menyentuh tiap sampah kotor dari dalam lokernya.

Dimonitor pada langit – langit lorong menunjukkan murid – murid yang masuk kelas atas dan masuk kelas bawah.
Jungkook melihat namanya ada pada urutan pertama dikelas atas, yang berarti ia akan berpisah kelas dari Rae Bi yang masuk kelas bawah.

Tak lama kemudian lelaki bernama Park Jimin terlihat berjalan menuju lokernya, lokernya yang tak jauh dari loker milik Rae Bi atau mungkin hanya berjarak tiga loker sebelah kiri Rae Bi.

Jimin agaknya kecewa melihat namanya berada pada daftar murid yang masuk kelas bawah.
Sesaat ia melirik kearah gadis disampingnya, sibuk membuang sampah didalam lokernya.

“Rae Bi-ssi, kita akan jadi teman satu kelas.. apakah kau tidak keberatan jika aku membantumu?”

Pergerakan pada tangan Rae Bi berhenti, ia menyadari siapa yang mengajaknya bicara dan seberapa berartinya ia bagi Rae Bi.
Buru – buru gadis itu memasukkan sampah – sampah tersebut kedalam kotak sampah ditangan kirinya.

Tanpa diminta Jimin mendekatinya dan membantunya mengambil sampah – sampah tersebut.
Perlahan pula tangan Rae Bi yang buru – buru kembali seperti semula.

Inilah sifat Jimin yang tidak pernah tega terhadap orang lain.
Penuh kasih sayang dan rasa peduli pada orang lain.

“Karena kita satu kelas, kau jangan sungkan – sungkan untuk meminta bantuanku.”

Jimin mendenguskan napasnya, ia berkali – kali memiringkan kepalanya mencoba melihat wajah Rae Bi yang tertutupi rambut, namun selalu gagal.

Tak lama kemudian Jungkook datang dengan gaya seperti biasa.

Lelaki itu membuka lokernya dengan kasar dan memasukkan buku ditangannya dengan paksa dan kasar.
Jimin menatapnya dengan bingung, Rae Bi masih sibuk memasukkan sampah ke kotak sampah tanpa peduli pada Jungkook.

Brak!

Lelaki itu bahkan menggunakan kaki untuk menutup lokernya, membanting pintu lokernya dengan keras dihadapan Jimin dan Rae Bi.
Sesaat ia menatap Jimin dengan dingin.

Buru – buru Jimin beralih menatap kotak sampah pada tangan kiri Rae Bi, terlihat jelas gelagat tidak suka dari Jungkook.

Brak!

Lagi – lagi Jungkook menendang lokernya sebelum berjalan pergi, Rae Bi yang sudah selesai membersihkan lokernya meletakkan kotak sampah ditangan kirinya ketempat semula.

Ia bahkan berjalan pergi tanpa berterima kasih pada Jimin yang sudah membantunya.

Ponsel dikantung seragam Jimin berbunyi, segera Jimin mengangkatnya.

“Iya.. Jung Ahjussi? Apakah kau sudah menemukan alamat yang kuminta?”

“…”

“Benarkah?! Dimana?”

Tampak semburat senyum mewarnai senyum dibibir Jimin, ia sangat senang mengetahui Jung Ahjussi menemukan alamat rumah yang ia cari.
Yakni alamat rumah miliknya dulu sekaligus alamat rumah sahabat lamanya.

“Han Bi-ya.. tunggu aku!” gumam Jimin dengan semangat.

****

Gerbang sekolah tampak ramai oleh para murid, cuaca musim dingin yang tidak bersahabat, terbukti dengan turunnya hujan dilangit yang sedari tadi pagi memang kurang cerah.

Rae Bi sedang diam menatap rintik hujan yang turun dari langit

“Hei minggir!”

Para murid yang berdesakan mendorong Rae Bi keluar dari tempat teduh, ia menatap kelangit.
Wajah putihnya yang tertutupi oleh rambut menjadi basah, begitu pula dengan seragamnya.

“Tetaplah disana, keberadaanmu disini hanya memenuhi tempat saja. Memuakkan sekali.” Ucap salah satu murid sambil mengibaskan tangannya untuk mengusir Rae Bi.

Banyak murid yang tertawa dan tersenyum senang melihatnya kehujanan.
Rae Bi hanya dapat menundukkan kepalanya, tiba – tiba menjadi redup.

Hujan seakan berhenti, Rae Bi mengangkat wajahnya keatas, ia melihat sebuah payung merah menutupi angkasa yang seharusnya ia lihat.
Pada gagang pegangan payung merah tersebut ia melihat sebuah tangan memegang payung tersebut.

“Pulanglah denganku, jangan lupa kalau rumah kita bersebelahan.”

Suara yang Rae Bi dengar serta sosok yang ia lihat, tak mungkin jika lelaki disampingnya bukan Jungkook.
Sesaat Rae Bi mendengar para siswi dibelakang terkesiap dan tercekat kaget serta memakinya dengan suara pelan.

Rae Bi menggeser jarak antara ia dan Jungkook, namun Jungkook mendekatinya dan meneduhkannya dibawah payung merah bersamanya.
Membiarkan gadis itu mendapatkan tempat berteduh lebih besar membuat bahu Jungkook yang tidak terkena payung menjadi basah karena hujan.

“Harus kukatakan berapa kali, pulanglah denganku.”

Rae Bi menggelengkan kepalanya

“Aku tidak peduli apa jawabmu, kau harus pulang denganku. HARUS! Aku tidak peduli jika harus menyeretmu.” Tukas Jungkook dengan dingin

Jimin yang sudah berada jauh di gerbang sekolah dan masuk kedalam mobil pribadi miliknya melihat Jungkook dan Rae Bi didepan bangunan sekolah dengan murid – murid lain yang berteduh sementara mereka berdua berada dibawah payung merah ditengah hujan.

“Apa yang mereka lakukan..” gumam Jimin

“Jung Ahjussi, ayo kita pergi ke alamat yang kau temukan tadi.”

Jung Ahjussi mengangguk dan menyalakan mesin mobilnya, melaju dengan kecepatan sedang melintasi jalanan Seoul.

Rae Bi semakin dicaci dan dimaki, meskipun ditengah hujan ia dapat mendengar apa yang fans Jungkook katakan dan yang murid lain katakan.
Tidak peduli seberapa Jungkook marah padanya ia mendorong Jungkook menjauh darinya dan berjalan mendahului Jungkook.

Jungkook menoleh kebelakang, menatap para murid yang berteduh dengan tatapan tajam menusuk.
Ia mendecak kesal dan berlari mengejar Rae Bi.

“Rae Bi-ya. Tunggu!”

Jungkook menarik lengan Rae Bi, menarik lengannya dengan kuat hingga kening Rae Bi menabrak Jungkook dengan lumayan kuat.

“Kau boleh membenciku, kau boleh memakiku, tapi kau harus pulang denganku. Kau bisa sakit jika hujan – hujanan seperti ini. Kau fikir ini bagus untuk kesehatanmu? Kenapa kau tidak pernah mengurus dirimu sendiri.”

Gadis itu bersikeras untuk tidak mau pulang bersama Jungkook membuat Jungkook geram dan mencengkeram pergelangan tangannya yang mungkin akan berbekas.

“Jungkook-ssi..” gumam Rae Bi begitu pelan

“Andwae! Kau harus pulang denganku, takkan kubiarkan kau sendirian seperti ini, takkan pernah! Ayo.”

Rumah mereka tak terlalu jauh dari sekolah, inilah yang memudahkan Rae Bi untuk pulang dengan berjalan kaki.

“Kau sudah makan siang? Kulihat kau memberikan kartu makanmu pada mereka lagi. Sudah kukatakan berkali – kali kenapa kau selalu memberikan kartu makanmu kepada mereka?! Kau bisa kelaparan.”

“Aku tidak lapar..” gumam Rae Bi

Dengan berani gadis itu lagi – lagi berjalan mendahului Jungkook, dengan terburu – buru lelaki itu menghampiri dan memayunginya dari belakang.
Membiarkan dirinya kehujanan sementara gadis didepannya terpayungi olehnya.

****

@ Jungkook House @

“Sudah pulang.”

Jungkook mengangguk, ia menutup payungnya yang terbuka lebar dan mengucap salam pada ayahnya yang menunggunya tepat didepan pintu rumah dengan pandangan dingin.

“Senin yang akan datang kau pindah sekolah.”

Jungkook menoleh, ia menatap ayahnya dengan tatapan terkejut.
“Apa?” tanyanya

“Kau harusnya mengerti, kau anak yang genius! Kau harus pindah dari sekolah itu, ayah sudah mencarikan sekolah yang cocok untukmu, minggu depan kau harus pindah!”

Jungkook menggelengkan kepalanya dengan keras, ia benar – benar menolak permintaan ayahnya.

“Tidak, aku tidak mau pindah.. aku tidak akan pindah. Rae Bi-ya, aku tidak mau meninggalkannya aku harus-“

Buak!

Jungkook terhuyung dan jatuh terduduk dilantai, bibirnya yang berdarah terasa ngilu dan sakit.

“Bermusik adalah cita – citamu? Menjadi seorang penyanyi? Kau bercanda?!” bentak ayahnya

“Apakah kakakmu tidak bisa kau jadikan contoh! Dia yang sudah gagal dengan keinginannya, meninggalkan kita karena keinginannya kau fikir itu bagus?!”

Jungkook mendongak, menatap ayahnya dengan tatapan tidak suka.

“Sudah cukup kakakmu apa kau ingin seperti dia juga?! Lalu apa lagi alasanmu, setelah menjadikan musik sebagai cita – citamu lalu kau jadikan gadis bernama Song Rae Bi sebagai hidupmu? Kau fikir itu lucu!” bentaknya untuk kesekian kalinya

Ibu Jungkook berlarian dari dapur dan melihat anaknya dengan wajah kasihan namun tidak bisa berbuat apa – apa.

“Terserah.. kau boleh mengurungku disini, kau boleh melakukan apapun yang kau mau, asalkan kau tidak ikut campur dengan urusanku dengan cita – citaku ataupun Rae Bi.” Jawab Jungkook dengan bahasa informal

Ayah Jungkook tampak semakin marah, ia menendangi Jungkook yang masih tergeletak dilantai dan menginjaknya berkali – kali.

Ibu Jungkook berteriak dan mencegah suaminya agar tidak memukuli Jungkook lagi ataupun memarahinya lagi.

“Kau.. kau yang sudah membuatku harus melepaskan Rae Bi! Tapi kau tidak punya hak untuk menjauhkan aku darinya ataupun dari musik yang sudah menjadi sebagian dari hidupku.” Ucap Jungkook sambil berusaha berdiri

“Anak ini!”

Lagi – lagi ayah Jungkook memukuli Jungkook, menendangnya, menamparinya ataupun menginjaknya berkali – kali hingga lelaki itu tidak bisa bergerak.

“Dari pada kau hidup seperti kakakmu, lebih baik kau mati ditanganku..” ucap sang ayah.

****

Jimin berjalan memasuki pekarangan sebuah rumah yang tampak sederhana namun besar, disebelah rumah tersebut ia dapat melihat bekas rumahnya dulu yang kini berubah bak istana yang besar.

Jimin memandangi pekarangannya begitu pula dengan pohon apel yang belum berbuah dengan daunnya yang lebat.

“Han Bi-ya..” gumam Jimin

Lelaki itu mendekat kearah pintu rumah, rumah ini tidak ada perubahan sama sekali sejak terakhir kali Jimin melihat terkecuali cat rumahnya.

Diketuklah pintu rumah tersebut dengan punggung tangannya.

Tak lama kemudian gagang pintu rumah tersebut bergerak, perlahan Jimin sedikit mundur dari depan pintu.

Dibalik pintu yang terbuka ia melihat seorang gadis yang sangat ia kenal.

“Song Rae Bi, ke-kenapa kau ada disini?” tanya Jimin

Jimin menatap Rae Bi lekat – lekat dengan bingung.
Bahkan ketika di rumah, Rae Bi tetap tidak menyingkirkan poni tersebut dari wajahnya.

“Apa aku salah alamat.. tapi.. ini benar – benar alamatnya dan aku sangat yakin.” Gumam Jimin sambil menatap sekitar

“Kau tidak salah Jimin-ssi..”

Jimin menoleh, kalau tidak salah barusan ia mendengar Rae Bi memanggilnya dan ia pun tidak yakin jika Rae Bi mengenalinya.

“Kau mencari siapa?” tanya Rae Bi dengan pelan

“Be-begini.. kukira ini adalah rumah sahabat masa kecilku, namanya Song Han Bi, apakah dulu ia tinggal disini?” tanya Jimin

Rae Bi tampak kurang baik, ia menjadi pucat dan semakin tampak menyeramkan seperti hantu dimata Jimin.

“Kau tidak salah Jiminie..”

Jimin terbelalak, bagaimana bisa Rae Bi memanggilnya seperti itu sementara mereka belum saling mengenal.

“Aku Song Han Bi.”

TBC

Advertisements

3 thoughts on “[BTS FF Freelance] DREAM HIGH – (Chapter 3)

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s