[BTS FF Freelance] No Rain No Rainbow – (Chapter 2/Threeshoot)

att_1470541538893_nr2cover

Author : Yemima Lorna

Title : “NO RAIN NO RAINBOW”

Length : Three Shoot

Genre : Romance

Main Cast : Min Yoongi (BTS Suga) , Lee Ahra

Support cast : Kim Namjoon (BTS), Dahyun (Twice), Bambam (Got7)

Rating : PG-17

Disclaimer : All the story is mine and made by me. Thankyou. Happy reading!

CHAPTER 2

=>-F-L-A-S-H-B-A-C-K-<=

“Chagiya sudah malam.. ayo kita pulang…” ajak Haneul sembari menguap.

“Baiklah…” balas Yoongi sambil menggandeng tangan Haneul.

Mereka berduapun beranjak menaiki motor yang dikendarai oleh Yoongi.

Saat itu malam sudah agak larut. Jalanan sudah begitu sepi,hanya beberapa kendaraan saja yang masih hilir mudik melaluinya. Sehingga lalu lintas berjalan begitu lancar. Lampu jalanan yang agak remang redup menghiasi keadaan jalanan sepi malam itu.

Namun, saat Haneul dan Yoongi melewati jalan itu keadaan yang tadinya tenang dan sepi tersebut berubah dalam sekejap. Ya. Saat mereka melewati jalan tersebut secara tiba tiba sebuah truk besar melintas. Truk tersebut melaju ugal-ugalan dengan kecepatan yang sangat tidak terkendali.

Secara tak terduga truk tersebut melaju semakin lama semakin kencang. Sang pengemudi truk tersebut nampak telah kehilangan kesadarannya karena mengantuk atau bahkan mabuk. Sehingga kendaraan bermotor yang dikendarai oleh Yoongi tersebut pun tak sempat untuk menghindari truk yang kecepatannya telah melebihi batas kewajaran tersebut. Kecelakaan hebat pun tak terelakkan.

Saat kecelakaan itu terjadi, Yoongi sempat menyuruh Haneul menyelamatkan diri   dengan melompat dari motor namun saat ia berusaha untuk menyelamatkan diri truk tersebut terlanjur menyerempetnya. Truk tersebut menghantam Haneul dan Yoongi dari arah yang berlawanan. Motor Yoongi langsung menabrak truk tersebut hingga menyebabkan tubuh Haneul terpental jauh sampai beberapa meter. Motor Yoongi rusak parah begitu juga bagian depan dari truk naas tersebut.

Kecelakaan tragis itu terjadi secepat kilat. Yoongi sempat pingsan beberapa saat akibat hujaman benda benda keras yang melukai tubuhnya. Saat ia mencoba sekuat tenaga untuk membuka matanya, semuanya telah hancur. Darahnya berlumuran dimana-mana dan meninggalkan bercak di aspal tempat ia terbaring saat ini. Suasana jalanan sepi tersebut berubah mencekam. Dadanya nyeri menyaksikan segala apa yang ada didepan matanya saat ini.

Saat ia memaksakan diri untuk bangkit, ia merasakan kesakitan yang luar biasa di bagian kaki kanannya. Darah segar terus saja mengalir dari antara luka sobekan yang cukup besar. Luka parah terjadi pada pergelangan kakinya. Ya. Kakinya patah. Namun dia tidak mampu berdiam diri saja, dengan berusaha menahan kesakitan luar biasa yang dirasakan,  ia memaksakan dirinya untuk bangkit berdiri. Perih yang tak bisa dijelaskan dengan kata kata pada kakinya tersebut membuatnya terjatuh beberapa kali, namun ia tidak menyerah dan tetap mencoba untuk berdiri.Walau seakan mesti ribuan kali mencoba, dengan sekuat tenaga ia terus mengulangnya. Tak peduli seberapa sakit yang ia rasakan, ia terus saja berusaha untuk berdiri.

“Haneul…” rintihnya. Ia berusaha berjalan perlahan lahan sambil meringis pedih menahan kesakitan yang dideritanya. Ia terus saja mencari keberadaan Haneul, kekasihnya.

Iapun terhenyak tatkala menemukan sosok wanita yang sudah terkapar  tak berdaya dengan lumuran darah di sekujur tubuhnya. Rasa sakit yang ia rasakan barusan seakan tidak sebanding dengan rasa sakit yang melanda setiap sel tubuhnya kini setelah ia menyaksikan pemandangan itu. Dengan sekuat tenaga Yoongi tergopoh gopoh melangkah  kearah Haneul dan bergetar meraihnya.

“Haneul..” Yoongi tak kuasa menahan air matanya. Ia meledak dalam tangisannya.

  “Apa yang terjadi padamu? Kau tidak apa-apa kan…?”  tanya Yoongi pedih sambil menggenggam tangan Haneul erat erat.

“Haneul.. Jawablah aku… Jawab aku…” pinta Yoongi sembari mengguncang tubuh Haneul yang sudah lemas tak berdaya. Ia lebih lemah dibanding sehelai kertas. Matanya terus saja terpejam. Ia jelas tidak sadarkan diri.

“Ohhhh Ya Tuhann… Kenapa?Kenapa?Kenapa..?”  tangis Yoongi pecah seketika saat mendapati Haneul sudah tak bernafas lagi dan jantungnya pun sudah tak berdetak sedikitpun. Tidak ada tanda tanda kehidupan pada diri wanita yang dicintainya seluruh jiwa itu.

“Haneul..? Tidak mungkin… Ini tidak mungkin…”  ucap Yoongi tak percaya. Ia menggeleng hebat. Seakan tidak akan pernah mampu menerima kenyataan  yang mesti dihadapinya tersebut.

“Tidak.. Aku yakin kau masih hidup. Aku yakin… Kau baru saja berjanji kan tidak akan meninggalkanku kan..?”  tuturnya lirih. Ia tak pernah lelah mencoba mendekatkan telinganya pada dada Haneul, menanti nantikan andai sekali saja mendengar detak jantung disana.

Ia berusaha mengangkat jasad Haneuk, dengan berat hati direngkuhnya jasad malaikat penjaga hatinya itu dalam dalam. Hatinya tercabik-cabik. Yoongi ingin sekali berteriak sekencang mungkin dan memohon kepada Tuhan untuk mengembalikan nyawa Haneul dan ganti mencabut nyawanya saja.

Dengan sekuat tenaga ia mencoba menahan rasa sakit pada tulang kakinya yang jelas-jelas patah. Ia benar-benar tak bisa dan tak mau lagi mempedulikan rasa sakit yang ia rasakan pada fisiknya. Baginya, rasa sakit pada kakinya yang patah sungguh tak sebanding dengan hatinya yang kini luluh lantah.

Dengan tegar ia menggendong jasad kekasihnya tersebut dan melangkah bertumpu pada kaki kirinya karena kaki kanannya yang cidera parah menuju rumah sakit. Ia tetap bertahan meskipun hal itu membuat keadaan kakinya yang terluka semakin memburuk. Padahal jarak dari tempat itu menuju rumah sakit adalah 1 kilometer. Sungguh tidak bisa terbayangkan, seorang Yoongi yang kakinya sedang  terluka begitu parah justru rela mengorbankan dirinya untuk kesakitan demi kekasih yang sangat dicintainya. Derai air mata mewarnai perjalanannya. Berkali kali ia terjatuh, namun ia mengerahkan seluruh tenaganya yang tersisa untuk bangun dan bangkit lagi sampai akhir.

                                                    =>-F-L-A-S-H-B-A-C-K—E-N-D-<=

“Aku benar-benar tak percaya… Orang sebaik Min Yoongi bisa mengalami kejadian setragis itu..” tutur Ahra terharu.

“Ya. Aku juga berfikir seperti itu..” timpal Namjoon.

“Dan semenjak kejadian itulah.. Ia sudah tidak pernah terlihat tersenyum lagi. Yoongi  yang dulunya ramah, baik, dan periang kini tak ada lagi. Hilang ditelan bumi. Dan juga semenjak itulah dia mengundurkan diri dari klub basket karena ia harus memakai tongkat penyangga untuk berjalan.”  Papar Namjoon kecewa.

“Tapi bukankah kaki Yoongi-sunbae sekarang sudah sembuh? Kenapa ia tidak kembali ke klub basket?”  tanya Ahra.

“Entahlah. Bahkan aku dan dia yang dulunya teman akrab kini serasa bersama orang asing jika berada didekatnya. Dia benar- benar sudah berubah 180 derajat. Tapi aku memakluminya, karena  semua orang yang mengalami kejadian seperti itu pasti juga sangat terpukul, bahkan jika aku jadi Yoongi mungkin aku sudah tidak ada harapan untuk hidup lagi.”  Ucap Namjoon.

Ahra hanya bisa tertunduk lesu sambil sesekali mengusap air matanya. Ia terus saja memandangi kalung pemberian Yoongi.

“Ada apa? Kenapa kau diam saja..?” tanya Namjoon membuyarkan lamunan Ahra.

“Tidak. Seharusnya waktu itu dia tidak memberikan kalung ini padaku…Kini dialah yang jauh lebih membutuhkannya dari pada aku..” sesal Ahra dalam hati.

~♪- AHRA POV -♪~

Seusai mendengarkan sepenggal cerita Namjoon-sunbae mengenai sebab dan akibat yang dialami Min Yoongi yang kini sikapnya telah berubah hingga 180 derajat. Aku sesaat terdiam. Kembali mengulang cerita cerita itu sekilas di dalam pikiranku dan sejenak membandingkannya dengan apa yang aku pikirkan tentang laki-laki itu dari dulu hingga sekarang. Sungguh sesuatu hal yang bahkan tak mampu ku bayangkan sebelumnya. Kini yang ada dibenaknya hanyalah bagaimana mungkin pria sebaik itu mendapatkan beban yang benar-benar tidak pantas untuk dia dapatkan.

Seusai tersadar dari lamunanku, aku mengangguk dan beranjak dari tempat duduk. Aku pun segera mengucapkan salam kepada Namjoon-sunbae  untuk berpamitan dan melangkah pergi menjauh dari tempat itu.

 Sepanjang jalan aku terus saja menundukkan kepala, menatap langkah kakiku sendiri. Tak lama, aku terhenti. Mendongakkan kepala sejenak menatap gedung sekolah lama yang baru saja menciptakan suatu kenangan baru untukku beberapa waktu yang lalu. Tempat yang juga ternyata sangat berharga karena menyimpan kenangan milik seseorang, yaitu Min Yoongi dengan kekasihnya. Yang kini telah meninggal dunia.

“Sungguh miris. Aku tidak yakin ini benar-benar bukan mimpi…” gumamku seraya berjalan kembali menuju ke tempat kedua sahabatnya yang tentunya sudah kesal menunggunya sejak tadi.

“ Nah, itu Ahra !” teriak Bambam sambil mengarahkan jari telunjuknya kearahku.

“Ahra, kemana saja kau ???” omel Dahyun.

Aku tersenyum simpul dengan melambaikan tanganku lemas kearah mereka berdua.

“Maaf.. Kalian pasti menunggu lama..” ucapku tertuduh sambil menundukkan badanku sedikit.

“Iya ! Lamaaa sekali…” balas Bambam menyindir.

“Iya iya. Baiklah ayo kita pulang !”  tutur Dahyun seraya menggandeng tanganku.

“Ya! Ahra, tidak bisa ! Pokoknya sebagai gantinya kau harus mentraktir kami ice cream !” ujar Bambam bak seorang hakim yang sedang mendakwa tersangkanya.

“Benar ! Itu hukuman untukmu !” timpal Dahyun dengan tersenyum puas.

“Aissh… baiklah baiklah~” dengan terpaksa aku  memang harus menyetujuinya.

Dalam perjalanan…

“Eh Ahra? Ada apa? Kuperhatikan sejak tadi kerjamu hanya melamun dan melamun saja.. memangnya apa yang kau pikirkan?” Tanya Dahyun setelah menepuk pundakku.

“Ah.. Ee.. Sebenarnya..” ucapku ragu.

“Apa? Jangan bilang kau tidak jadi mentraktir kami karena kau tidak bawa uang ! Aisshi ni tidak adil…” tebak Bambam dengan menunjukkan tampang yang begitu memelas. Seperti sedang kehilangan barang berharga saja.

“Apa? Ah bukan.. bukan seperti itu.. sebenarnya tadi…” aku menggeleng cepat.

“Oh iya, bagaimana tadi? Bukankah tadi kau pergi untuk menemui pujaan hatimu itu? Apa kau benar-benar sudah bertemu dengannya ..? Tanya Dahyun antusias.

Aku mengangguk pelan untuk menjawab pertanyaanya. Dan kemudian tertunduk untuk menyembunyikan ekspresi sedihku yang sudah tak terbendung sejak tadi.

“Kenapa? Bukankah seharusnya kau senang..? Tapi sepertinya kok tidak terlihat seperti itu…” kata Bambam sambil mendongak kebawah mencoba melihat wajahku yang memang sengaja kusembunyikan.

“Kenapa? Apa dia menolakmu?” Tanya Dahyun dengan nada bicaranya yang sedikit berubah.

“em.. Lebih dari itu. Ia bahkan tidak mengingatku sama sekali…” jawabku lirih.

“Itu kan sudah 2 tahun yang lalu, apalagi kalian baru bertemu sekali. Jadi wajar saja kalau dia tidak mengingatmu. Tapi kau masih punya banyak kesempatan untuk membuatnya mengingatmu kembali bukan?” hibur Bambam yang seketika kata-katanya berubah bagai orang dewasa.

“Hey, Taemin sejak kapan kau menjadi sebijak itu?” canda Dahyun sambil menyentuh dahi Bambam untuk memastikan suhu badannya.

“Tidak. Mungkin aku tidak membutuhkan dia untuk mengingatku kembali.”ucapku mantap

“Apa katamu? Tapi bukankan kau sangat menyukainya..?” tanya Dahyun terkejut.

Segera aku memaparkan kembali rentetan cerita yang telah Namjoon-sunbae ceritakan padaku beberapa waktu yang lalu kepada kedua sahabatku ini, Untuk menjelaskan keingin tahuan yang sejak tadi terpancar dari sorot mata mereka berdua semenjak melihat sikapku ini.

“Oke. Sekarang aku akan memberitahukan misi penting yang baru saja kuputuskan !” teriakku penuh semangat.

“Misi apa itu..?” mereka berdua terlihat begitu kebingungan kentara sekali ada dua tanda tanya yang muncul dari kepala mereka masing – masing.

“Mulai saat ini, aku Lee Ahra, misi terbesarku adalah membuat Min Yoongi tersenyum kembali dan melupakan semua kesedihannya di masa lalu. Dan aku berjanji aku tidak akan pernah menyerah sebelum misiku ini berhasil.” Ucapku lantang.

“Prok..prok..prok…” Spontan Bambam dan Dahyun bertepuk tangan bagaikan baru saja mendengar pidato kepala sekolah.

“Terima kasih… Terima kasih..” ujarku sambil sesekali melambaikan tangan.

“Oh iya, Kau Bambam dan Dahyun kelas 1-B. Kunobatkan kalian berdua sebagai asistenku dalam misi ini. Mohon kerjasamanya…” tambahku.

“APA?!” teriak mereka berdua.

“Kenapa kami harus diikutkan dalam mission impossible macam ini…” rengek mereka berdua sambil mencoba kabur.

“HEY? Mau kemana kalian…!?” teriakku sembari mengejar mereka berdua.

♪-AUTHOR POV -♪~

Beberapa minggu telah berlalu dan hari demi hari berjalan dengan baik seperti biasanya. Sebenarnya bukan hanya itu, suasana di Gyohyang-gog high school atau lebih dikenal dengan Symphony high school menjadi semakin berwarna di tahun ajaran baru ini. Peristiwa demi peristiwa bergulir bagaikan not yang naik turun Nada-nada kehidupan para siswa di sekolah seraya mengalun dengan petikan-petikan harmoni yang indah. Dapatkah senandung ini berlanjut dengan baik?

~♪-AHRA POV -♪~

“Hei! Ahra.. Berhentilah menatap laki-laki  itu ! Memangnya ada magnet apa sampai-sampai kau tidak pernah sedetikpun melepaskan pandangan matamu darinya,huh?” omel Dahyan sambil melambai-lambaikan tangannya di depan mataku.

“Iya.. memangnya dia televisi apa sampai ditonton terus seperti itu..” timpal Bambam tatkala melahap ice cream vanilla favoritnya.

“Aiissh… Kalian ini bagaimana, Aku ini sedang mengadakan penelitian. Jangan ganggu aku!”  balasku seraya mengeluarkan teropong untuk melihat Min yoongi yang sedang duduk di bawah pohon dari kejauhan. Ia terlihat seperti sedang tertidur pulas.Kemudian aku menulisnya dibuku catatanku.

“YA! AHRA! Semakin lama tingkahmu semakin konyol saja..!”  teriak Dahyun sambil mencubit pipiku gemas. “Segitu besarkah rasa cintamu padanya?” Tanyanya sambil menatapku.

Aku terdiam sejenak dan mengangguk mengiyakan. “Ya..” jawabku singkat.

“Tapi apa kau yakin misi konyolmu itu akan berhasil..?” Tanya Bambam ragu.

“Iya. Apalagi kemungkinan kau berhasil hanya 1: 100, ah tidak. 1 : 1000! Sudahlah, menyerah saja ya?” bujuk Dahyun. Bambam pun ikut menggangguk tanda menyetujui.

“Tidak..” Aku menggeleng dengan pandanganku yang tetap terarah pada Min Yoongi.

“Kau ini benar-benar keras kepala…” Dahyun dan Bambam menatapku seperti sedang menatap seorang guru yang sedang memberi ulangan dadakan.

“Ada apa kalian ini? Aku kan sudah bilang, kalau aku tidak akan berhenti sebelum misiku ini berhasil.. Apa kalian lupa?” Aku tersenyum dan beranjak dari tempat dudukku.

“Sampai jumpa !” ucapku.

“Hey!? Kau mau kemana..?” Tanya mereka berdua serempak.

Aku tersenyum dan menunjuk kearah Yoongi-sunbae  yang terlihat sudah beranjak dari tempatnya tertidur pulas barusan. Ia memakai kembali jas seragamnya, menenteng tas hitamnya dan melangkah pergi dengan santai.

“Doakan aku ya..! ” seruku seraya melambaikan tanganku kearah kedua sahabatku tersebut.

Aku segera berlari mengikuti kemana Yoongi pergi. Tak lupa aku mengenakan kacamata dan maskerku sebagai bentuk penyamaran agar dia tidak mengenaliku. Jadi aku bisa dengan bebas membuntutinya. Sesekali aku melangkah dengan mengendap-ngendap dan bersembunyi di belakang pohon untuk menghindari kalau saja ia menengok kebelakang.

Jauh sekali aku mengikutinya. Aku juga tidak tahu sebenarnya kemana dia akan pergi namun ia tidak terlihat seperti seseorang yang sedang terburu-buru. Langkahnya benar-benar santai, bahkan  terkesan lambat.

“Sebenarnya kau mau kemana…?” pikirku.

Cukup lama aku mengikutinya. Masih belum terpikirkan olehku kemana sebenarnya tujuannya lelaki ini pergi. Ia terus saja berjalan bahkan tanpa menoleh kekanan, kekiri, ataupun kebelakang sedikitpun. Tapi hal itu juga melegakkanku karena aku bisa dengan mudah mengikutinya tanpa harus takut ketahuan. Tunggu sebentar, langkahnya mulai melambat. Aku rasa dia sudah sampai ditempat tujuannya.

Tapi bukankah itu sebuah… Toko bunga? Untuk apa dia pergi kesana? Membeli bunga?

Tapi untuk apa seorang lelaki membeli bunga? Untuk seseorangkah ?

Hmm… Aku terus saja berfikir sampai hingga akhirnya aku melihat sosoknya melangkah keluar dari toko bunga yang berada di sudut kota tersebut. Ia terlihat membawa seikat mawar putih. Iapun melanjutkan kembali perjalanannya. Sepeninggal dari toko bunga tersebut, ia terus saja memandangi seikat mawar putih yan baru saja dibelinya tersebut. Ia terlihat sesekali menghirup aroma dari bunga tersebut.

Waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore. Tepatnya 3 jam sudah ia atau kami berjalan. Sungguh perjalanan yang jauh. Aku sendiri tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh pria ini,

“Perjalanan sejauh ini kenapa dia tidak memutuskan untuk naik motor, sepeda atau kendaraan umum saja?” gumamku seraya memijat betisku yang rasanya sudah mulai bengkak karena terlalu lama berjalan kaki.

“Tap..tap..” kedua kaki beralaskan sepatu nike berwarna kombinasi antara abu-abu dan hitam tersebut akhirnya terhenti. Aku menautkan kedua alisku. “Tempat apa ini?”  tanyaku dalam hati.

Tempat itu dihiasi oleh banyak pepohonan besar nan rindang. Rumput rumputnya begitu hijau dan asri,namun terlihat begitu sunyi disana. Tak terdengar apapun selain semilir angin dan suara dedaunan kering yang tersapu oleh angin sore yang cukup kencang tersebut. Aku rasa suasana ini lebih pantas  disebut mencekam. Apalagi diimbuhi dengan adanya sederet batu nisan yang tertera rapi di sepanjang jalan tersebut. Tunggu, jadi ini pemakaman? Untuk apa Yoongi-sunbae kemari?

Lelaki itu masih saja terlihat melangkahkan kakinya dengan pasti. Dan aku masih saja disini menanti dan terus memperhatikan tingkah lakunya dari balik pohon yang cukup besar untuk menutupi seluruh lebar badanku ini. Akhirnya tibalah ia dihadapan sebuah nisan berbentuk salib berwarna putih. Dari jarak sejauh inipun aku masih bisa melihat raut wajahnya yang berubah seketika.

Benar-benar ekspresi wajah yang belum pernah kulihat sebelumnya. Mata yang tajam dan sinis itu menghilang dan seakan tersihir menjadi sayu dan sendu. Bahkan lama kelamaan kilatan bening itu semakin nyata terlihat dimatanya. Ia terlihat berhusaha menghela nafas sembari memejamkan mata selama beberapa detik. Mulutnya komat kamit seakan sedang merapalkan sesuatu. Bisa dipastikan bahwa ia sedang berdoa karena kedua tangannya terlipat.

Selepas itu, ia pun melangkah mendekati batu nisan tersebut. Langkahnya terlihat seperti tak berdaya bahkan bisa dibilang seperti langkah seseorang yang tidak berniat untuk hidup. Itulah pemandangan yang ada didepan mataku sekarang.

Ia menekuk kedua kakinya dan bertelut. Tatapan matanya tak pernah lepas dari batu nisan tersebut. Mungkin lebih tepatnya nama yang tertera pada batu nisan tersebut. Ia melepaskan genggamannya dari seikat mawar putih yang sengaja dibawanya tadi dan meletakkannya tepat di depan batu nisan itu. Bibirnya bergetar bagaikan menahan sesuatu. Ia mengerjapkan mata itu berulang kali. Terlihat seperti ingin mencurahkan air matanya tetapi tidak ada sebutirpun yang kulihat menetes. Ia pun merengkuh batu nisan tersebut dalam-dalam, terlarut dalam kesedihan yang tak terbendung.

Tanpa sadar air mataku pun ikut menetes. Aku berfikir betapa egoisnya aku saat itu. Memikirkan kebahagiaanku sendiri dan menginginkan semua orang untuk membuatku bahagia apapun caranya.Padahal bukan hanya aku yang seharusnya bahagia di dunia ini, untuk apa aku bahagia kalau orang yang kucintai pun hidupnya penuh dengan duka dan lara seperti ini.

Sungguh tidak adil. Lama kelamaan aku semakin terlarut dalam tangisanku dan tanpa kusadari, kini aku sudah benar-benar seorang diri pada pemakaman tersebut. Saat aku menolehkan kepalaku, Min Yoongi sudah tidak ada. Hanya seikat mawar putih yang masih menghiasi batu nisan tersebut.

“Kemana dia? Kemana Yoongi-sunbae?” aku semakin linglung. Akhirnya aku memutuskan untuk berlari mendekati batu nisan itu.

Han Haneul

Aku mengeja nama yang tertera pada batu nisan tersebut. Han Haneul? Bukankah dia kekasih Yoongi-sunbae…?

Kembali aku memperhatikan sebongkah batu nisan yang tertanam kokoh di depanku tersebut. Saat aku melihat tanggal yang terukir pada benda tersebut, aku baru mulai menyadarinya. Hari ini, tepat peringatan satu tahun kepergian Naeun. Tidak diragukan lagi itulah alasan Min Yoongi berkunjung kemari.

“Dia memang sudah pergi…” gumamku sambil melayangkan mataku kesekeliling. Akhirnya aku memutuskan untuk beranjak dari tempat itu.

“Baiklah..aku rasa misi mengikuti Yoongi-sunbae untuk hari ini berakhir disini saja. Aku akan melanjutkannya esok.”  Tuturku pada dirku sendiri. Aku berlari meninggalkan pemakaman tersebut. Cukup menakutkan berada di tempat itu seorang diri. 

.

.

.

.

.

.

.

.

.

-AUTHOR POV –~

Pagi ini dengan langkah gontainya, seperti biasa Yoongi berjalan menuju lokernya untuk mengambil beberapa buku pelajaran. Dengan cuek ditentengnya tas punggung berwarna hitamnya diatas bahu kanan dan tangan kirinya diselipkan pada kantong celananya. Langkahnya terhenti seketika seraya mendengus kesal sesampainya Yoongi di depan lokernya. Pandangan tajamnya tertuju ke arah sebuah permen coklat yang tertempel di depan lokernya lengkap dengan sebuah notes : 

“Kata orang memakan coklat saat bersedih akan membuatmu merasa lebih baik. Selamat mencoba Yoongi-sunbae ! :)”

Tanpa ba bi bu, Yoongi yang terlihat semakin kesal menyambar coklat tersebut dan melemparkannya ke tempat sampah, membuka loker, mengambil sembarang buku, menutupnya kembali dengan kasar dan melengos pergi. 

Dari tempat yang tersembunyi,  Lee Ahra yang sejak tadi memperhatikan kejadian tersebut terduduk lesu. Dengan wajah yang cemberut dan wajah yang tertunduk, ia membuka buku catatanya :

Permen : gagal

Bunga : gagal

Gambar lucu : gagal

Quotes : gagal

Origami : gagal

Coklat : 

“Aiishhh… sudah hampir seminggu aku selalu memberi barang-barang yang mungkin saja bisa membuatnya tersenyum, tapi hasilnya? Nihil! Semuanya selalu berakhir di tempat sampah…” keluh Ahra sembari mengimbuhkan kata “gagal” disebelah tulisan coklat pada buku catatannya.

“Arrrgghhh! Kenapa sulit sekali membuatnya tersenyum….? Apa lagi yang harus aku lakukan …? Huaaa…” rengek Ahra yang terlihat sudah kehilangan akal dan cara untuk membuat Yoongi tersenyum. Ia terlihat begitu frustasi dengan kedua tangannya yang mengacak-acak rambutnya sendiri. Sudah seminggu ia menjalankan misi yang tidak masuk akal ini, bukanya ada kemajuan, justru semakin hari rasanya semakin tidak mungkin saja. 

“Astaga… Astaga… Lihat anak ini! Ia baru saja masuk SMA tapi penampilannya sudah menyedihkan begini… ckckckck” Ujar Dahyun.

“Huaaa… Dahyun-ah !! Lama-lama aku bisa gilaaa….. Kenapa jatuh cinta bisa serumit ini sih?” keluh Ahra pada sahabatnya itu. Tangisannya semakin menjadi-jadi. 

“Kan kita sudah berkali-kali bilang padamu, misimu itu terlalu mustahil! Gak percaya sih! Udah move on aja, kan masih banyak sunbae-sunbae yang lebih tampan !”ujar Bambam sambil menunjuk ke arah kakak-kakak kelas yang bersliweran di lorong sekolah. 

“Betuulll sekali! Hey Ahra, umurmu itu baru 16 tahun, jangan disia-siakan untuk laki-laki suram semacam itu!” timpal Dahyun sambil menowel kepala sahabatnya itu.

“Aisssh kalian ini! Bukannya menyemangatiku malah menyuruhku untuk menyerah! No no no! Aku tidak akan menyerah sampai titik darah penghabisan!” pekik Ahra diikuti dengan tatapan heran kedua temannya. 

“Ih dasar keras kepala! Udah ah kami ke kelas duluan, bel nya udah bunyi tuh. Kalau terlambat bisa-bisa dihukum, Bye!”Dahyun dan Bambam pun bergegas berlari menuju kelas.

“Hey kalian! Tunggu aku…!!!” teriak Ahra yang sudah tertinggal jauh oleh teman-temannya. 

-AHRA POV –~

Hari ini seperti biasa di jam istirahat sekolah aku memandangi aktivitas Yoongi-sunbae dari kejauhan lewat jendela kelasku. Berdasarkan pengamatanku sejauh ini, aktivitas yang dilakukannya tidak pernah berubah. Setiap jam istirahat pertama berlangsung ia selalu tidur di kursi yang berada di sebelah lapangan basket. Ya, tempat di mana aku menemukan tanda pengenalnya yang tidak sengaja terjatuh. Di istirahat kedua ia akan beranjak ke rooftop gedung sekolah lama. Untuk apa? Tentu saja lagi-lagi tidur. Aku bertanya-tanya apakah orang ini sejenis kelelawar yang bangun di malam hari dan tidur di siang hari atau semacamnya. Sungguh, hidup orang ini benar-benar monoton. 

“Hmm…. pasti ada cara lain yang bisa aku coba”gumamku seraya berpikir. 

Aku memalingkan pandanganku ke arah Dahyun, Bambam dan beberapa teman lainnya yang tengah asyik menonton drama di laptop. Mereka terlihat sangat antusias dan berisik sekali. Tunggu dulu, drama? Wah sepertinya aku menemukan ide baru!

.

.

.

.

.

.

.

“APA?! HANTU?!” Dahyun dan Bambam terperanjat kaget secara bersamaan sesaat setelah aku melontarkan ideku. Teriakan mereka bahkan membuat orang-orang sekitar menoleh mengira mereka benar-benar baru saja melihat hantu mungkin. 

“Ya! Bagaimana ideku keren kan? Hehehe… Kalian pasti pernah menonton drama 49 Days atau Master Sun kan? Nah semacam itulah kira-kira! Bagaimana kalian mau membantuku kan?”ucapku percaya diri.

“Ah, tidak tidak! Idemu itu terlalu gila untuk dilakukan! Apalagi aku takut sekali dengan hantu! Nggak mau!”omel Bambam.

“Iya, memangnya tidak ada cara lain apa yang lebih normal dari pada pura-pura kerasukan seperti itu? Aku juga nggak mau ikut ikutan ah” imbuh Dahyun.

“Aish kalian! Aku kan hanya akan berakting, tidak benar-benar kerasukan! Lagian ini satu-satunya cara yang terpikirkan olehku agar Yoongi-sunbae bisa tersenyum lagi..” ujarku. 

“Ahra…”ucap Dahyun sambil mendekat kearahku dengan tatapan tajam.

“Ya?” jawabku kaget.

“Sepertinya kami harus membawamu ke dokter…”tukasnya sambil memeriksa suhu badanku. 

.

.

.

.

.

.

.

.

(Seminggu kemudian)

Aku melangkahkan kakiku dengan hati-hati seraya memandang sekelilingku. Tempat ini cukup asing bagiku karena aku belum pernah kesini sebelumnya. Hari sudah larut malam sehingga suasana cukup sepi dan remang. Hanya da beberapa kendaraan yang bersliweran di jalan. 

“Benar ini bukan ya alamatnya?”gumamku sembari memandang sederet alamat di layar handphoneku.

“Semoga saja benar…” tuturku. 

Aku memantapkan langkahku ke pintu gerbang rumah yang cocok dengan alamat tersebut. Aku menghela nafas panjang dan bergegas menekan bel. Tak lupa aku mengenakan masker dan kacamataku sebagai penyamaran agar Yoongi-sunbae tidak mengenaliku. Ya. Ini adalah rumah Yoongi-sunbae. Aku mendapatkan alamatnya dari hasil perjuanganku mengendap-endap ke ruang guru. Tidak peduli seberapa gilanya ide ini, aku rasa tidak ada salahnya untuk mencoba. Aku bahkan sudah berlatih dengan klub teater selama seminggu ini demi dapat berakting dengan baik. Semoga saja perjuanganku ini tidak sia-sia.

“Eh tunggu dulu, mana ada hantu yang memencet bel? Ah aku langsung masuk saja deh…” ucapku seraya memasuki rumah tersebut tanpa permisi.

“Yoongi-sunbae ada dimana ya..? Ah itu dia!” pekikku saat melihat lelaki itu dengn langkah gontainya membuka pintu sambil mengusap matanya. Sepertinya ia baru saja terbangun dari tidurnya karena mendengar bel berbunyi. 

“Yoongi oppa!”teriakku memanggilnya. Sontak lelaki itu terkejut dan berpaling kearahku.

“Siapa kau? Bagaimana kau bisa masuk kemari?” tanyanya.

Aku hanya menjawab pertanyaannya dengan tersenyum, menggeleng dan melangkah semakin dekat kearahnya.

“Kau pencuri ya? Tunggu dulu…. kau baru saja memanggilku ….oppa? Kau pikir kau siapa?!” ia terlihat mulai kesal. 

“Yoongi sayang…” tuturku sekali lagi.

“Pergi dari sini… dasar gila !”omelnya sembari mendorong tubuhku menjauh darinya.

“Ini aku….”

“…….”

“Haneul….”

Ucapku sambil menatap mata lelaki tersebut dalam-dalam. Ekspresi Yoongi-sunbae berubah seketika ketika aku mengucapkan nama itu. Ia terlihat terkejut bukan kepalang. Bola matanya membesar dan ia menatapku semakin tajam. Tidak ada kata-kata lagi yang keluar dari mulutnya. Seakan ia membeku seketika dibuatnya. 

“Ya…. ini aku…..”

“Han Haneul kekasihmu….”

Aku menghela nafasku sejenak. Ternyata melakukan akting benar-benar tidak mudah. Walaupun saat aku berlatih terasa gampang, tetapi hari ini terasa sulit sekali. Apalagi aku harus berakting dihadapan orang yang ada didepanku saat ini. Kedua matanya benar-benar tidak berpaling sedetikpun dariku dan itu membuatku nervous.

“Aku sengaja merasuki gadis ini dan datang padamu…” imbuhku.

“Omong kosong” timpal Yoongi-sunbae sembari membalikkan badannya dan hendak masuk ke rumah. 

“Tunggu dulu…”Aku menahannya langkahnya dengan memeluknya dari belakang.

“Oppa… Aku sangat merindukanmu….”air mataku membuncah seketika sesaat setelah aku mengatakan kalimat itu. Entah mengapa.

“Ada sesuatu yang ingin sekali kukatakan padamu…”

“Aku mohon….”

“Sebentar saja….” 

Pintaku diiringi dengan tangisanku yang semakin menjadi-jadi. 

Tanpa diduga, Yoongi-sunbae melepaskan pelukanku seraya membalikan badannya kearahku kembali. Ia menatapku seakan akan mempersilahkanku untuk mengatakan apa yang akan kukatakan karena ia siap mendengarnya. Aku terhenyak, karena mampu kulihat dengan jelas kilatan bening dikedua matanya. 

“Aku mencintamu, bahkan sampai aku mati….”ujarku terbata-bata.

“Tapi lihat, apa yang terjadi padamu sekarang….”

“Karena aku kau jadi seperti ini….”

“Karena aku kau kehilangan kebahagianmu…”

“Bagaimana mungkin aku bisa tenang dialam sana…?”

“Kau membuatku merasa bersalah…”

“Tidak bisakah kau melanjutkan hidupmu?”

“Aku mohon…….Aku mohon tersenyumlah lagi seperti dulu….”

“Hanya itu yang kuminta…”

Aku tak mampu melanjutkan kata-kataku lagi. Aku semakin terlarut dalam tangisanku. Aku tak tau apa yang terjadi. Tapi aku benar-benar ingin dia tersenyum kembali entah bagaimanapun caranya. Aku tau ini memang cinta sepihak, cinta yang bertepuk sebelah tangan. Aku tidak apa-apa. Asalkan aku bisa melihat Yoongi-sunbae tersenyum sekali saja. Itu sudah cukup bagiku. Yang aku tau, aku terlanjur mengasihinya dan memperdulikannya lebih dari diriku sendiri.

Suasana menjadi hening sejenak. Hanya ada suara isakkan tangisku dan Yoongi-sunbae yang terdiam tanpa kata. 

“Menjengkelkan…” kata-kata lelaki itu sontak menyadarkanku. Tidak. Bukan kata itu yang aku inginkan darinya. Bukankah harusnya dia bilang “ Baiklah aku akan tersenyum kembali” atau “oke aku akan melanjutkan hidupku mulai sekarang” atau semacamnya? Kenapa dia malah…

“Kau pikir aku akan tertipu oleh air mata buaya mu hah?!” tuturnya sembari kembali menatap tajam kearahku. Ah sial. Padahal aku hampir saja berhasil.

“Ta… tapi… a.. aku…” aku mencoba mengelak.

“Dasar perempuan gila! Mengerjai orang malam-malam begini…. kau pikir itu lucu hah?!” omelnya di depan wajahku. Nampaknya ia benar-benar marah. Oh tidak, aku rasa aku dalam bahaya sekarang. 

“Tetap disini! Aku akan memberimu pelajaran!”tukasnya sambil mengenggam tanganku erat-erat seolah tidak mengizinkanku untuk kabur. Ia pun meraih telpon genggamnya dan lekas menghubungi seseorang. 

“Halo? Rumah sakit jiwa? Iya, ini ada orang gila yang datang mengganggu kerumah saya malam-malam begini, mohon segera diurus ya! Oh, atau lebih baik aku membawanya ke kantor polisi terlebih dahulu?” ucapnya.

“HEY! APA YANG KAU LAKUKAN! AKU TIDAK GILA!” teriakku panik. Bisa panjang urusannya kalau dia benar-benar membawaku ke rumah sakit jiwa. Bagaimana ini? Aku harus mencari cara agar dapat kabur dari sini.

“Aww Aduh! HEY JANGAN KABUR! AWAS SAJA YA AKU AKAN MENANGKAPMU !!”teriak Yoongi-sunbae sesaat setelah aku menggigit tangannya dan berhasil kabur. Tanpa ba bi bu aku langsung segera mengambil langkah seribu dan menyelamatkan diri. Beruntung saat itu ada taksi yang sedang lewat sehingga aku bisa pergi dengan cepat tanpa meninggalkan jejak. 

Oke baiklah. Aku akui rencana malam ini GAGAL TOTAL. Untung saja aku berhasil kabur, jika tidak aku benar-benar bisa mati. Aishh padahal aku sudah berakting dengan sangat baik. Wah, laki-laki itu ternyata tidak mudah tertipu. Dahyun dan Bambam pasti akan puas mengejekku kalau aku menceritakan kejadian malam ini. Ah sial. 

.

.

.

.

.

.

.

.

(Keesokan harinya)

“BWAHAHAHAHAHAHA…!!!!!” 

“Yayaya! Tertawalah sepuas kalian ! Dasar kalian ini sebenarnya sahabatku atau bukan sih?! Sahabatnya lagi susah malah diketawain!”omelku pada Bambam dn Dahyun yang sedang tertawa terpingkal-pingkal mendengar ceritaku. 

“Sorry… Sorry… hahahaaha… ah…aduh, perutku sampai sakit…” lontar Bambam ditengah tawanya.

“Aku tidak bisa membayangkan kalau ia benar-benar mengirimu ke rumah sakit jiwa… hahaha Aduh temanku yang satu ini ada-ada saja ya hidupnya….hahaha” tambah Dahyun.

“Makanya sekarang bantu aku cari ide baru dong… Aku udah nggak bisa mikir lagi nih” ucapku.

“Tunggu dulu… jadi kau masih belum menyerah juga ?!” tanya Dahyun. 

“Ih ya belum lah! Aku kan sudah bilang ….”

“Aku tidak akan menyerah sampai titik darah penghabisan !” ujar Bambam dan Dahyun serentak. Ternyata mereka sudah tau apa yang akan kukatakan. 

“Kau sudah mengulang kata itu ribuan kali Ahra..” tukas Bambam. 

“Hehehehe…. Makanya bantu aku dong!” rengekku. 

.

.

.

.

.

.

.

.

Hari ini tidak seperti biasanya, aku tidak melihat Yoongi-sunbae di sudut sekolah manapun. Bahkan saat istrirahatpun ia tidak melakukan kebiasaan tidurnya di dekat lapangan basket maupun di rooftop gedung sekolah lama. “Aneh… kemana dia ya? Apa jangan-jangan dia tidak masuk?” pikirku.

“Oh bukankah itu dia?” pekikku saat melihat Yoongi dan Namjoon sunbae sedang berbincang di ujung lapangan basket sepulang sekolah. Ini pemandangan yang sangat langka. Jarang sekali aku melihat Yoongi sunbae berbincang dengan siapapun. Benar-benar baru kali ini. Kira-kira apa ya yang sedang mereka bicarakan?

Akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti Yoongi sunbae. Lagi-lagi tidak seperti biasanya, hari ini ia tidak berjalan dengan langkah gontai melainkan sangat cepat. Itu membuat aku sangat kewalahan mengikutinya bagaikan sedang mengikuti perlombaan jalan cepat. Apalagi ia berjalan sangat lama dan jauh entah kemana arah dan tujuan. Dari tadi ia tidak berjalan lurus, melain berbelok memasuki gang dan lorong. Entah kemana hendak perginya orang ini.

“Ah.. kakiku pegal. Aku sudah tidak kuat lagi…”keluhku seraya memegangi kedua kakiku yang     mulai mati rasa. 

“Lho? Kemana perginya Yoongi sunbae….? Ah kenapa ia berjalan cepat sekali? Aku sampai kehilangan jejaknya…”Aku memandang ke sekeliling mencari keberadaan laki-laki itu namun tidak kutemukan.

“Aishh.. padahal tadi aku hanya istirahat sebentar…. Mana hari sudah mulai malam lagi. Oh, bagaimana ini? Aku bahkan tidak tau ini dimana. Bagaimana caranya aku pulang…? isakku. 

Jalanan tersebut dipenuhi dengan lorong-lorong dan belokkan, aku tidak mampu melihat dengan jelas karena hari sudah sore menjelang malam dan pencahayaan di jalan itu sangat minim. Disekitar tempat itu hanya ada beberapa rumah kosong dan taman yang terbengkalai. Aku mencoba merogoh kantong dan meraih ponselku.

“Aish! Tidak ada sinyal sama sekali! Bagaimana ini..! Aku tidak mau terjebak sendirian disini…”ujarku panik. Aku menangis tersedu sedu seraya berlutut dan membenamkan wajahku. Apakah  aku sedang berada dalam bahaya sekarang?

TO BE CONTINUED….

Advertisements

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s