[BTS FF Freelance] Run – (Chapter 9/END)

maru___run-copy-1

Title : Run

Author : Maru

Genre : friendship, family, crime

Cast :-Member BTS

-And others ….

Rating : PG -13

Leght : Chaptered

Disclaimer : Aku hanya memiliki cerita dan OC, selainnya bukan.

Credit : Poster by ChocoYeppeo @Indo Fanfictions Arts 

~-~

“Aku … Namjoon.”

Seokjin membulatkan matanya. “Kau …. Apa kau yang membawa Jungkook?”

“Ya, itu aku.” Namjoon tersenyum sinis. “Membunuh Kim Mi Joo, memukul Jungkook hingga ia hilang ingatan, itu aku.”

Napas Seokjin memburu karena kesal. Seokjin mencengkram kerah baju Namjoon dan memojokkannya ke dinding. “Kenapa?! Kenapa kau melakukan itu?!”

“Jangan bertanya padaku, ini perintah appamu.”

Seokjin mengepalkan tangannya dan bersiap meninju namja di hadapannya. Tapi tiba-tiba saja seseorang mendorongnya hingga ia terjatuh.

“Yak, apa yang kau lakukan?!”

Suara itu tidak terdengar asing. Seokjin mengangkat wajahnya. Benar dugaannya, itu Jungkook! Seokjin langsung bangkit dan bersiap merangkul adiknya. “Jungkook! Apa kau ….”

“Menjauh dariku, pembunuh!” seru Jungkook sambil menarik lengan Namjoon agar menjauh dari dekat Seokjin.

Seokjin terperanjat. “Pe-pembunuh? Apa maksudmu?”

“Kau sudah membunuh eomma, apa kau mau membunuhku juga? Setidaknya, jangan sakiti temanku.” Jungkook menatap Seokjin dengan tatapan tajam, tatapan yang belum pernah Seokjin lihat dari adiknya itu sebelumnya.

Kajja, kita pergi.” Namjoon menepuk pundak Jungkook dan mengajaknya pergi. Jungkook melayangkan sebuah tatapan mengancam ke arah Seokjin dan berlalu bersama Namjoon.

Seokjin terdiam di tempatnya. Ia terlambat. Orang-orang itu pasti sudah membuat ingatan baru untuk Jungkook hingga ia menganggap Seokjin sebagai pembunuh eomma-nya. Seokjin menundukkan kepalanya. Ia tidak tahu harus berbuat apa sekarang.

~-~

“Aish, orang itu kemana?”

Yoongi mengambil handphone-nya dari sakunya dan menekan nomor telepon Seokjin, mencoba menelepon Seokjin untuk kesepuluh kalinya. Suara yang ia dapatkan sama seperti ia menelepon untuk pertama kali, tidak aktif. Padahal langit sudah mulai gelap, tapi ia belum menemukan tanda-tanda keberadaan namja itu.

Yoongi berdecak kesal mendengarnya. Ia memasukkan ponselnya ke sakunya lagi. Jari-jarinya mengetuk-ngetuk kaca yang ada di motornya. Pandangannya terarah ke atas, memikirkan cara untuk mencari Seokjin di kota yang asing ini.

Disaat jarinya berhenti bergerak, handphone-nya bergetar membuat Yoongi kaget hingga ia hampir terjungkal dari motornya. Yoongi mengambil handphone-nya dengan cepat, berharap Seokjin meneleponnya. Tapi nama yang tertulis di sana bukan Kim Seok Jin, tapi Kang Myeong Soo. Dengan sedikit kecewa, Yoongi mengangkatnya.

“Apa?” Yoongi bertanya dengan sedikit ketus.

Kau di mana?

“Di jalan.”

Apa?! Kenapa kau mengangkat telepon saat sedang berkendara?!”

Yoongi menjauhkan handphone-nya dari telinganya karena teriakan Myeongsoo tadi memekakkan telinganya. “Bukan begitu. Aku di pinggir jalan.”

Oh, katakan dengan jelas. Kau sudah menemukan Seokjin?”

“Belum,”

Lalu bagaimana?

“Entahlah. Jika dia sudah menghilang selama dua-” Yoongi tidak melanjutkan ucapannya.

Dua apa? Yoongi, kau masih di sana?”

Yoongi mematikan sambungan telepon tanpa menjawab pertanyaan Myeongsoo. Ia melompat turun dari motornya dan mengejar namja yang baru saja melintas di depannya. Yoongi menarik lengannya dan berdiri di depannya.

Hyung, kau kemana saja?” tanya Yoongi sambil menatap Seokjin yang menundukkan wajahnya. “Apa hyung sudah menemukan Jungkook?”

Seokjin mengangkat wajahnya. Ia menghela napas pendek sebelum berbicara. “Aku sudah melihatnya.”

“Benarkah? Di mana dia?” Yoongi mengedarkan pandangannya, barangkali Jungkook ada di dekat sana.

“Dengan Namjoon.”

“Namjoon?” Yoongi terperangah. Tiba-tiba saja handphone-nya kembali bergetar. Yoongi mengambil handphone-nya dengan malas dan mengangkatnya. “Ada apa?”

Seenaknya memutuskan sambungan. Apa ada sesuatu yang terjadi?”

“Eum, aku ….” Yoongi melirik sedikit ke arah Seokjin yang tampaknya tidak terusik dengan perbincangannya dengan Myeongsoo. “Aku bertemu Seokjin Hyung.

Benarkah? Apa ia sudah menemukan Jungkook?

Yoongi melirik Seokjin sekali lagi. Pasti namja itu sedang sedih karena mengetahui adiknya bersama dengan pembunuh eomma-nya. “Ah, Myeongsoo, hubungi aku lagi, nanti. Aku ingin bicara sebentar dengan hyung.

Apa? Yak, Yoon-”

Yoongi mematikan sambungan telepon lalu memasukan handphone-nya ke sakunya. “Hyung, sebaiknya kita duduk dulu. Kajja.”

Yoongi mengajak Seokjin untuk duduk di kursi yang ada di halaman sebuah kafe. Seokjin masih menundukkan kepalanya tanpa berniat memulai pembicaraan. Yoongi mengalah dan memilih untuk bicara lebih dulu.

“Apa yang dia katakan?”

Seokjin terdiam, kemudian ia mengangkat kepalanya. “Sejak kapan Jungkook hilang ingatan?”

“Um, sejak terakhir kali Jungkook menjenguk hyung di gedung tahanan. Malam itu, mereka memukul Jungkook.”

“Apa yang kalian katakan padanya tentang masa lalunya?”

Yoongi terdiam sejenak, mencoba mengingat apa saja yang kemungkinan sudah diketahui Jungkook. “Aku tidak tahu banyak tentang itu. Tapi, Tuan Jeon meminta kami untuk mengatakan kepadanya kalau orang tuanya tinggal di luar negeri, bahkan Tuan Jeon tidak mengatakan kalau dia appa-nya. Tapi seingatku, Jungkook tidak tahu kalau dia memiliki kakak.”

Seokjin mengehela napas panjang. “Sepertinya mereka membuat Jungkook percaya kalau aku membunuh eomma.

Yoongi mengangguk mengerti. Sedetik kemudian, sebuah getaran kembali terasa dari sakunya. Yoongi berdecak malas sambil mengeluarkan handphone-nya dan bersiap menolaknya. “Aish, seharusnya aku mematikan ponselku.”

“Tunggu,” Seokjin menghentikan tangan Yoongi yang hendak menolak panggilan itu. “Mungkin ada hal penting yang ingin disampaikannya.”

Yoongi terdiam. Ah, mungkin benar. Yoongi menjawab panggilan itu, dan suara teriakan langsung menyambutnya.

Yak, kenapa selalu mematikan tiba-tiba?! Kau ingin mati, huh?!”

“Aish, berisik. Ada apa sebenarnya?”

Kau bersama Seokjin?

“Ya,”

Dia mengatakan apa?

Yoongi melirik sedikit ke arah Seokjin yang memperhatikannya. “Dia melihat Jungkook bersama Namjoon.”

Benarkah?!”

Yoongi menjauhkan handphone-nya dari telinganya karena suara Myeongsoo benar-benar keras, bahkan Seokjin dapat mendengar suara seruan Myeongsoo tadi. “Bisakah kau berhenti berteriak? Kau ingin membuat gendang telingaku pecah?”

Aish, kau ini. Hei, aku punya berita bagus.”

“Apa?”

Rekanku menemukan markas kelompok pembunuh bayaran itu.”

“Benarkah?” Yoongi terlihat antusias sekarang.

Ya. Dia mengikuti salah satu anggotanya yang tengah berkeliaran di kota, tadi siang. Setelah memberi laporan tetang lokasinya, ketua meminta kami untuk menyerbu malam ini. Kau ingin ikut?”

“Aku ikut. Tapi … bagaimana dengan Seokjin Hyung?

Hm, aku akan bicarakan itu dengan ketua nanti. Tapi yang pasti, jangan sampai bocah bernama Park Ji Min itu mengetahuinya, ia pasti memaksa untuk ikut. Kalau begitu, cepat kemari.”

“Ya, aku akan ke sana.” Yoongi memutuskan sambungan dan memasukkan handphone-nya ke sakunya, kemudian ia berdiri dari kursinya. “Hyung, kajja, kita selamatkan Jungkook.”

Seokjin mengangkat wajahnya. “Apa?”

Yoongi langsung menarik paksa lengan Seokjin agar ia bangkit dan menariknya menuju motornya yang terparkir tak jauh dari sana.

~-~

Jungkook menyandarkan tubuhnya ke dinding. Tubuhnya perlahan turun ke bawah hingga ia terduduk di lantai. Matanya terarah lurus ke depan tanpa ada titik fokus yang diperhatikannya. Pikirannya melayang memikirkan kejadian tadi sore.

“Jungkook,” Seseorang menepuk pundaknya pelan. Jungkook langsung menoleh ke arah orang yang kini duduk di sebelahnya. “Hyungmu keluar dari penjara. Apa yang kau pikirkan?”

“Mungkinkah … dia akan membunuhku?”

Ne, aku juga berpikir begitu.” Orang itu mengambil sesuatu dari sakunya dan menyodorkannya ke Jungkook. “Pegang ini, untukberjaga-jaga jika dia mencoba membunuhmu.”

Jungkook menatap benda itu. “Pisau?”

Orang itu mengangguk untuk meyakinkan Jungkook agar menyimpannya. Jungkook masih terdiam tanpa menerima benda itu. Orang itu akhirnya menarik lengan Jungkook dan menaruhnya di telapak tangannya. “Tidak ada yang tahu, apa yang akan terjadi nanti. Kau simpan saja.”

“Namjoon!”

Orang itu menoleh ketika seseorang memanggilnya, lalu memberi isyarat untuk mendekatinya. Namjoon segera bangkit dari posisinya dan berjalan mengikuti orang itu keluar bangunan. Ada Chanwoo yang tengah merokok di luar.

“Bagaimana dengan Jungkook?”

“Aku sudah memberikan pisau itu.”

“Sekarang apa?” tanya Hoseok sambil melipat kedua tangannya di depan dada. “Apa kita akan membunuhnya?”

“Tidak,” Chanwoo menghisap rokornya kemudian menghembuskan asap dari dalam mulutnya. “Kita hanya perlu mempertemukan Jungkook dengan kakaknya itu. Tapi sebaiknya kita harus membuat Jungkook benar-benar dendam dengannya, dengan begitu, dia akan membunuh kakaknya.”

“Tapi, apa Jungkook tidak akan mengingat masa lalunya?” Namjoon sedikit ragu tentang hal itu, karena ia sempat mendengar kalau ada kemungkinan Jungkook mengingat masa lalunya.

“Aku rasa tidak. Dia sudah tahu tentang hyung dan eomma-nya, tapi dia tidak ingat apa-apa.” ujar Hoseok.

“Jika Seokjin sudah mati, apa yang akan kita lakukan dengan Jungkook?”

“Biarkan dia bergabung dengan kita. Bukankah jika begitu, Jungkook sudah menjadi pembunuh?” Chanwoo menjatuhkan putung rokoknya ke tanah lalu menginjaknya. “Kajja, kita masuk.”

Ketiga namja itu berbalik hendak masuk ke dalam. Tapi tiba-tiba terdengar suara teman mereka berteriak dari jalan menuju jalan raya.

“Yak, ada polisi!”

Ketiga namja itu kaget bukan main. Sekilas terdengar suara sirine dari kejauhan. Bukan hanya satu, tapi ada banyak. Chanwoo langsung berlari ke dalam dan memerintahkan teman-temannya untuk pergi. Orang-orang yang berada di dalam bangunan itu langsung berhamburan keluar ketika mendengar ada polisi. Chanwoo sendiri langsung berlari keluar melewati pintu belakang. Namjoon dan Hoseok mengajak Jungkook untuk ikut dengan mereka.

Jungkook menatap keduanya bingung. “Kenapa kita harus kabur dari polisi?”

Hyung-mu mengatakan kau juga membantunya membunuh eommamu. Sebaiknya, kita cepat pergi.” Namjoon mencoba mencari alasan agar Jungkook mau ikut dengan mereka.

Jinjja?”

Namjoon mengangguk cepat. “Palli!

Jungkook akhirnya mau mengikuti Namjoon dan Hosoek. Mereka berlari melewati pintu belakang dan melewati jalan yang berbelok-belok. Terdengar suara tembakan beberapa kali dari arah bangunan tadi. Jungkook menoleh sekilas ke belakang, memastikan polisi tidak mengikuti mereka. Ketiga namja itu sudah hampir sampai menuju tikungan yang menghubungkan ke jalan raya, tapi sayangnya Namjoon yang memperkirakan jalan itu kosong tidak mendapatkan sesuai apa yang ia harapkan. Mobil-mobil polisi sudah mengepung di sana, bahkan terlihat beberapa polisi tengah mencoba menangkap Chanwoo yang berniat kabur melalui jalan itu.

Namjoon memberi isyarat untuk kembali ke jalan tadi sebelum polisi menyadari keberadaan mereka. Tapi seseorang telah melihat mereka dan langsung berlari mengejar.

“Jungkook!”

Salah seorang polisi yang menyadari hal itu langsung mengikutinya. Temannya yang berdiri di sebelahnya ikut berlari mengejar ketiga namja itu.

Namjoon menyuruh Jungkook untuk berlari di depannya. Mereka berbelok memasuki sebuah banguan bertingkat empat yang belum rampung. Jungkook berlari menaiki anak tangga menuju lantai dua, lalu ia berlari lagi menuju lantai tiga. Polisi-polisi itu masih terus mengejar, tapi satu orang tampak menghilang ketika Jungkook melirik sekilas.

Jungkook menghentikan langkahnya secara mendadak ketika seorang polisi menghadangnya dari tangga di sisi lain. Rupanya polisi itu hendak mencegat mereka dari arah berlawanan. Jungkook langsung berbelok menuju ruangan di sampingnya, diikuti Hoseok dan Namjoon. Tapi tampaknya Namjoon kalah cepat dengan salah satu polisi itu. Ia berhasil menarik lengannya dan memborgolnya dalam sekejap. Jungkook berlari menuju sudut ruangan, sementara Hosoek berdiri di depannya sambil menodongkan pisau yang dimilikinya. Kedua orang yang masih mengejar mereka akhirnya berhenti.

Hoseok menyeringai ketika melihat salah satu polisi itu. “Oh, Yoongi. Lama tidak bertemu.”

Yoongi menggertakkan giginya. “Ne, ini sudah cukup lama.”

Polisi yang berhasil menangkap Namjoon tadi menyeret tubuh Namjoon masuk ke ruangan tadi. “Yak, kenapa kalian diam saja? Cepat tangkap orang itu!”

Napas Yoongi terengah-engah akibat berlari tadi, tapi ia belum boleh berhenti sekarang. Yoongi berlari ke arah Hosoek dan menarik lengan Hosoek yang menggenggam pisau ke atas agar pisau itu tidak melukainya. Lengannya yang satu lagi menarik tangan kiri Hoseok ke belakang. Yoongi sedikit memuntir tangan kanan Hosoek agar ia melepaskan pisaunya. Hoseok meringis kesakitan, bersamaan dengan bunyi dentingan pisaunya yang menghantam lantai. Yoongi menarik lengan Hoseok ke belakang lalu membawanya mendekati Myeongsoo. Yoongi memegang kedua tangan Hoseok dengan erat karena ia tidak membawa borgol saat ini.

“Yak, lepaskan aku!” Hoseok mencoba memberontak. “Yak, Jungkook! Lakukan sesuatu!”

Tubuh Jungkook bergetar ketakutan. Tangannya perlahan bergerak menyentuh gagang pisau di sakunya, ia masih ragu untuk mengambilnya.

“Jungkook, kau baik-baik saja?” Seokjin mencoba mendekati adiknya itu.

Jungkook yang ketakutan menarik pisaunya lalu menodongkannya ke arah Seokjin. Seokjin mundur beberapa langkah melihatnya. “Menjauh! Apa kau ingin membunuhku juga?”

“Bukan, Jungkook. Aku tidak akan membunuhmu, dan aku bukan yang membunuh eomma. Mereka yang membunuh eomma.” kata Seokjin.

“Apa aku bisa mempercayaimu? Apa kau punya bukti?”

Seokjin terdiam seketika, kemudian ia menundukkan wajahnya dalam-dalam. Mereka pasti membuat Jungkook yakin kalau ia yang membunuh eomma.

“Jungkook! Kenapa diam saja? Cepat bunuh dia!” seru Namjoon.

Jungkook menggenggam pisaunya dengan erat. Ia bingung harus melakukan apa. Ingin sebenarnya ia membunuh hyung-nya sekarang. Tapi rasanya sebagian hatinya menolak hal itu.

“Kookie,” Seokjin memanggil Jungkook dengan panggilan yang biasa ia gunakan, berharap itu membuat Jungkook mengingat masa lalunya. “Apa mereka mengancammu? Katakan saja, hyung akan menjagamu.”

Jungkook terdiam mendengar itu. Rasanya ia pernah mendengar kalimat itu sebelumnya.

“Apa mereka mengancammu? Katakan saja, hyung akan menjagamu.”

“Hyung! Mereka mengambil uang yang diberikan eomma.”

Seperti ada sebuah rekaman yang terputar di otaknya. Apa itu masa lalunya?

“Apa? Kim Jung Kook? Namamu, kan, Jeon Jung Kook.”

Ya, namaku memang Jeon Jung Kook. Tapi aku ingin teman-teman memanggilku Kim Jung Kook.”

Jangan!”

“Eomma!”

“Kookie, kau pergi ke rumah Jimin, ya. Nanti hyung akan menyusul.”

“Kookie, kau tidak akan meninggalkanku, kan?”

“Tidak, aku akan meninggalkan hyung.”

“Apa maksudmu?”

“Aku akan pergi jika waktu kunjungannya sudah habis. Itu artinya aku meninggalkan hyung, kan?”

Mata Jungkook membulat seketika. Pisau yang tadi berada di genggamannya kini terjatuh membentur lantai. Kakinya perlahan melangkah ke belakang. “A-apa yang aku lakukan?”

Tiba-tiba Jungkook terhuyung ke belakang. Seokjin langsung berlari kebelakangnya dan menahan tubuh Jungkook sebelum menyentuh lantai. “Kookie, gwaenchana?

Jungkook memandang kedua tanganya. Ia tadi sudah berniat membunuh hyung-nya. “Aaargh!” Jungkook berteriak sambil menutup kedua matanya menggunakan tangannya.

“Yak, Jungkook, gwaenchana?” Seokjin mengguncangkan tubuh Jungkook pelan.

Napas Jungkook terengah-engah. Ia menurunkan tangannya dan menoleh ke belakang perlahan. “H-hyung?

Seokjin tersenyum mendengarnya. Itu artinya ingatan Jungkook sudah kembali, terdengar dari nada bicaranya yang berbeda. Yoongi yang melihatnya ikut tersenyum.

Namjoon menggeram kesal. Rencana mereka gagal. Hosoek menggertakkan giginya. Tidak adakah hal yang bisa ia lakukan sekarang? Oh, tunggu. Pegangan Yoongi pada tanganya melonggar, pasti perhatiannya sedikit teralihkan sekarang. Dengan cepat Hosoek menarik tangannya. Ia berlari mendekati Myeongsoo dan mengambil pistol yang betengger di sisi kanan tubuhnya. Hosoek mengarahkannya ke Jungkook dan langsung menembakkan timah panas ke arahnya.

DORR

“Jungkook!”

~-~

Jungkook hanya bergumam pelan ketika seseorang mengguncangkan tubuhnya. Selimut yang tadi menutupi sebagian tubuhnya ditarik oleh orang itu hingga jatuh ke lantai. Jungkook tidak peduli dengan selimutnya dan memilih untuk memeluk guling di sebelahnya. Orang itu menggerutu pelan karena Jungkook tidak segera bangun. Ia menarik guling Jungkook dan menjatuhkannya ke lantai.

“Ergh, Jimin, aku masih mengantuk. Lima menit lagi.” ucap Jungkook tanpa membuka matanya.

Orang itu berdecak pelan. “Jimin? Sejak kapan dia bangun lebih awal dari kau?”

Jungkook membuka matanya lebar-lebar ketika ia sadar yang membangunkannya bukan Jimin. Ia langsung bangkit dan duduk di sisi kasurnya. Kedua sudut bibirnya ia tarik membentuk senyuman polos.

Orang itu menyilangkan kedua tangannya di depan dada. “Lihat jam!”

Jungkook melihat ke arah jam yang tergantung di dinding sebelah kanannya. “Ah, kenapa hyung tidak membangunkanku sejak tadi? Aku bisa terlambat kalau seperti ini.”

“Kau menyalahkanku? Yak, aku sudah membangunkanmu sejak pukul enam. Cepat bangun dan bersiap ke sekolah.” Seokjin berbalik hendak keluar dari kamar Jungkook.

Hyung,” Seokjin menghentikan langkahnya dan menoleh sekilas. “Bolehkah aku membolos saja hari ini?”

“Yak, kau sudah tidak masuk selama beberapa hari. Tidak boleh!”

Jungkook memasang wajah masam sambil menggerutu. “Aish, menyebalkan. Padahal aku lelah.”

“Setidaknya kau tidak terluka.” sela Seokjin sebelum Jungkook mengeluarkan kata-kata lain.

Jungkook terdiam sejenak. Ah, benar. Setidaknya ia tidak terluka. “Benar. Omong-omong, terima kasih, hyung.” Jungkook menepuk bahu kanan Seokjin sedikit keras.

“Akh. Yak! Kau ingin mati, eoh?” Seokjin langsung menghindar sebelum Jungkook memukulnya lagi.

Jungkook menjulurkan lidahnya. “Lakukan saja, kalau hyung bisa.” Jungkook berlari menuju kamar mandi dan menguncinya dari dalam. Lalu ia tertawa puas di dalam sana.

Seokjin yang mendengarnya hanya mencibirnya. Ia mengelus-elus bahunya yang terasa sakit setelah dipukul Jungkook tadi. Yah, wajar saja. Luka akibat peluru yang ditembakkan Hoseok kemarin yang gagal dihindarinya masih terasa sakit, dan kini Jungkook malah memukulnya. Seokjin akhirnya memilih untuk pergi keluar dari kamar Jungkook dan melanjutkan pekerjaannya.

Sementara itu di tempat lain, Jimin baru saja selesai memakai seragamnya. Ia berjalan keluar dari kamarnya menuju ruang makan sambil menenteng tasnya. Di ruang makan sudah ada eomma yang tengah sibuk dengan handphone-nya dan appa yang tengah membaca koran, tapi tidak ada makanan di meja makan. Jimin menarik kursi yang berhadapan dengan eomma dan duduk di sana.

Eomma tidak memasak?”

Eomma menggeleng pelan. “Tidak,”

“Lalu aku makan apa?”

Eomma tidak menjawab pertanyaan Jimin dan tetap fokus dengan handphone-nya. Jimin menghela napas pendek. Ia sedikit mendorong kursinya ke belakang agar ia dapat berdiri. Tiba-tiba kursi di sebelahnya ditarik oleh seseorang. Orang itu juga terdiam tatkala matanya mendapati meja makan yang kosong.

“Tidak ada makanan?”

“Baru saja datang.”

Seseorang lagi datang sambil membawa dua buah mangkuk sup. Ia meletakkan mangkuk itu di hadapan eomma dan appa. Orang itu berjalan ke dapur dan kembali sambil membawa dua mangkuk sup lagi.

“Sejak kapan hyung bisa memasak?” Jimin sedikit memiringkan kepalanya.

“Eh, apa kau tidak tahu? Aku bekerja di restoran.” kata orang itu.

“Tapi hyung sudah beberapa bulan tidak memasak. Apa ini masih enak?” Jungkook mencicipi sedikit sup yang ada di hadapannya. “Hm, tidak buruk. Setidaknya aku bisa kenyang dengan memakan ini.”

Jimin mulai memakan bagiannya. “Ah, ya, tidak buruk.”

Suara ketukan pintu tiba-tiba terdengar mengusik kedua namja yang mencoba memakan makanan mereka dengan tenang. Seokjin yang tadi hendak berjalan ke dapur berbalik dan segera berjalan menuju pintu depan. Tak lama kemudian ia kembali bersama seseorang yang mengenakan jaket hitam.

“Tunggu di sini. Aku bersiap sebentar.” Seokjin berlari kecil menuju kamar Jungkook -yang menjadi kamarnya juga.

“Selamat pagi, keluarga Park.” Orang itu sedikit membungkukkan tubuhnya. “Dan Jungkook.”

“Selamat pagi, Yoongi. Ada apa?” Appa mengalihkan perhatiannya dari sup yang tengah dimakannya.

“Menjemput Seokjin. Kami ada urusan.” Yoongi sedikit tertarik dengan sup yang ada di meja itu. Ia belum memakan apapun sejak ia bangun karena -jujur saja- ia memang jarang -bahkan hampir tidak pernah memasak.

Hyung, urusan apa?” tanya Jimin.

Yoongi tersenyum misterius. “Sesuatu. Tapi yang pasti, kalian tidak akan dapat melakukan hal semau kalian.”

Jungkook menghentikan kegiatannya sejenak, mencoba menyimpulkan maksud Yoongi. “Mungkin … hyung ingin menjadi polisi?”

“Benar,” Yoongi menjentikkan jarinya. “Ah, sepertinya kalian harus melihat jam, sekarang.” ujarnya sambil menunjuk ke arah jam.

Jungkook dan Jimin saling memandang satu sama lain, lalu mereka menoleh ke belakang mereka tempat jam menggantung. Jam tujuh lebih lima puluh lima menit. Jungkook dan Jimin tersentak melihatnya. Mereka langsung menghabiskan sup mereka secepat mungkin dan langsung berlarian keluar rumah tanpa berpamitan.

“Cepatlah! Kita bisa dihukum Guru Cha lagi!” Jimin berlari lebih dulu meninggalkan Jungkook yang masih sibuk dengan sepatunya. Jungkook yang tak ingin ditinggal membiarkan tali sepatu kirinya terlepas dan berlari mengejar Jimin.

Sebuah bis terlihat berhenti di depan halte. Jimin dan Jungkook berlari sekuat tenaga untuk mendekati halte dan menaiki bis itu. Tapi sayangnya, bis itu sudah melaju sebelum mereka sampai di halte.

“Aish, menyebalkan sekali!” Jimin menghentikan langkahnya dan beristirahat sejenak.

Jungkook membungkukkan tubuhnya untuk mengikat tali sepatunya. “Tidak ada pilihan lain.”

“Apa?” Napas Jimin masih terengah-engah. “Kau ingin mengajakku berlari lagi?”

Jungkook mengangguk. “Aku harap Taehyung terlambat juga. Kajja!” Jungkook langsung berlari meninggalkan Jimin.

“Yak, Kim Jung Kook!”

~Fin.~

Author’s Note:

Yeah, akhirnya selesai juga FF ini. Bagaimana readers? Apa kurang memuaskan?

Jangan lupa isi komen, ya. Aku tunggu, lho.

Terima kasih sudah membaca FF gaje ini. Sampai jumpa di FF gajeku yang lainnya ….

Advertisements

3 thoughts on “[BTS FF Freelance] Run – (Chapter 9/END)

  1. seneng banget akhirnya happy ending..
    meskipun ff nya genre crime, komedinya kerasa.. keren deh pokoknya. gomawo udah bikin ff ini terutama di chapter end nya, sukses buat aku yg pertama was” trus ketawa, takut, was” lagi.
    pokoknya daebak daebak daebak ff nya.
    aku tunggu karya lainnya ya..

    Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s