[BTS FF Freelance] Suatu Hari di Jumat Pagi – (Ficlet)

poster-1

Suatu Hari di Jumat Pagi

by  Atikpiece (@atikranasa)

starring

Park Jimin [BTS] and OC

Genre : Fluff, slight!Comedy | Rated : PG | Length : Ficlet(±1000w)

©2016

.

Aku berani sumpah, Jimin itu tidak jelek, girls!

***

Rasa kagum dan jatuh cinta itu beda tipis, begitu kata salah seorang temanku ketika jam kuliah Kamis ini selesai.

Kamu tidak akan bisa berpaling dari seseorang yang selalu menjadi pusat perhatianmu jika kamu tengah mengidap keduanya. Hati dan isi kepalamu serasa memanggil-manggil namanya terus setiap saat, bahkan saat dirinya tidak ada di sekelilingmu. Cuma melihatnya sekadar lewat di depanmu saja sudah bisa bikin kamu bahagia setengah mati. Apalagi jika sudah satu kelas. Itung-itung hanya bersetatap beberapa detik, diajak ngobrol walau hanya sepatah kata pun mungkin kamu bakal menganggapnya sebagai kenangan paling indah yang pernah ada.

Aku tidak tahu perasaan ini lebih tepat disebut sebagai apa. Bisa saja aku mengaguminya, atau memang hari ini aku sedang jatuh cinta.

Namanya Park Jimin.

Koordinator kelas terpercaya, paling rajin, paling bawel dan hobi mengambil hati dosen demi menyelamatkan nilai akademik kita semua (hahaha).

Dia suka sekali berkeliling kampus terlebih dulu sebelum jam kuliah dimulai, atau paling mentok mampir di gazebo dekat gedung fakultas hukum sambil ngobrol dengan pak satpam yang gemar minum kopi di sana. Pribadinya ramah, lucu, sangat murah senyum. Aku menyukai semua hal apapun yang melekat pada dirinya, bahkan sejak kali pertama aku satu kelas dengannya.

Akan tetapi, menurut teman-temanku, dia sama sekali tidak ganteng.

Dia memiliki sepasang hidung yang pesek, kulitnya putih bersih, bermata kecil dan pipinya gemuk. Kalau tertawa matanya tinggal segaris, hidungnya jadi tambah pesek, lalu pipi chubby-nya yang agak kemerahan itu bakal semakin tumpah ruah di sana.

Park Jimin sebenarnya menggemaskan, tetapi bagi kaum hawa di fakultasku, dia termasuk kategori pria dengan wajah tidak ganteng sehingga tidak pantas untuk diteriaki. Dia juga sama sekali tidak terlalu terkenal di kampus, bahkan hanya memiliki beberapa orang penggemar saja.

Aku bingung dengan selera cewek jaman sekarang, maksudku—hello! Aku berani sumpah, Jimin itu tidak jelek, girls!

‘San, mukanya Jimin jelek banget, pasti banyak yang nggak mau sama dia, hahaha’—ugh, aku sakit sekali mendengarnya.

Memang sih, jika dibandingkan dengan kegantengan Kim Seokjin, Jeon Jungkook atau Kim Taehyung, Jimin sudah lima puluh lima persen kalah telak. Namun apalah arti kondisi fisik jika kamu sedang jatuh cinta. Bagiku, dia lelaki satu-satunya yang sangat-amat-kelewat-ganteng-banget!

Jumat pagi yang hangat. Jehan buru-buru memanggilku ketika aku berhasil menaiki  anak tangga terakhir (kelasku ada di lantai empat dan itu sangat menyiksa), lalu menunjuk ke arah pintu masuk aula.

Jimin tengah berdiri di sana, memantau kinerja anak buahnya yang sedang mempersiapkan salah satu acara program studi kami sambil bawel seperti biasa. Senyumku langsung mengembang kelewat drastis. Wow, pagi-pagi sekali aku sudah disuguhi dengan kehadiran cowok dengan setelan kemeja kotak-kotak merah dan jins putih itu. Ditambah dia lagi senyum, walaupun senyumnya bukan buat aku sih tapi itu sudah terlampau sukses bikin wajahku memanas dan jantungku berdebum keras. Gila. Dia ganteng banget.

Terima kasih Jehan. Aku pengin mati saja.

“San.”

“Hm?”

“Park Jimin lagi nganggur.”

“Maksudnya nganggur?

Jehan mendecak. “Nggak ada yang punya.” lantas menyikut lenganku.

Aku berkata ‘oh’ sambil tersenyum karena hanya kata itu yang sekiranya pantas muncul dari bibirku di samping aku sendiri tidak tahu harus jawab apa. Dari awal aku sudah yakin sekali kalau Jimin jomblo, mengingat anak-anak kampus banyak yang tidak tahu siapa Jimin, dan tidak sedikit juga yang tidak mau mengenal lebih dalam tentang cowok itu. Aku berakting pura-pura tidak tahu, dan kuharap akan berjalan sempurna. Tetapi Jehan malah mendesah keras karena ia tahu aku gagal memainkan peranku.

“Bodoh. Buru nyatain ke dia, dong,” desaknya. “aku nggak mau tahu kalau misal hatimu nanti tahu-tahu membusuk.”

Kata-kata Jehan ampuh sekali membuat senyumku memudar.

“Han, biar kujelaskan.” Aku berdeham.

“Pertama, aku nggak imut, dan yang kedua, aku nggak pendek.”

“Terus?”

Kesunyian menyapaku, disusul bahuku sedikit kuangkat.

“Yah, dia suka yang imut-imut sama yang pendek-pendek begitu, kan? Tinggiku kelebihan satu senti dari dia, Han, terus habis itu—“

“Heh,” Jehan menepuk jidatnya. “Mau aku tindih sampai kamu tinggal seratus senti doang, huh?” Nada bicaranya terdengar mengancam tapi konyol, mana mungkin aku takut kalau cuma dibegitukan.

“Toh, dia sendiri juga nggak ganteng.”

“Ganteng. Banget. Han. Serius.”

“Iya, fans berat Park Jimin. Melihat dia sedang ngupil pun kamu pasti juga bakal menganggapnya ganteng.”

Kebetulan sekali, di sela Jimin memerintah para staff untuk memindahkan barang-barang aula, dia sedang curi-curi kesempatan buat ngupil di ujung sana.

Ewh!

Aku agak ill feel sebenarnya.

Meskipun begitu, di mata orang yang sedang jatuh cinta sepertiku, dia malah terlihat semakin ganteng dengan kelingking menari-nari di dalam lubang hidungnya seperti itu. Apa saja yang dia lakukan selalu terlihat ganteng. Ganteng sekali. Ah, Jehan benar. Aku memang sudah gila.

“Aku harus nyatain? Sekarang?” Aku tiba-tiba gugup. Jehan mendekatkan bibirnya ke telingaku.

“Bilang saja padanya, ‘Jimin, I love you, aku benar-benar jatuh cinta padamu, apalagi waktu kamu ngupil. Jadilah pacarku, oke?’, begitu.”

Aku menatap Jehan sinis. “Plis, Han, itu jijik banget.”

Tapi dia malah tertawa. “Itu lucu tahu! Dia pasti senang mendengarnya,” lalu menambahkan. “kalau nggak kamu bilang begini, ‘Jimin, mau nggak jadi pacarku? Walaupun aku bukan cewek imut dan aku juga nggak pendek seperti tipe idealmu, tapi sungguh, aku cuma satu senti lebih tinggi dari kamu kok. Kita masih bisa berciuman dengan normal saat pacaran nanti dan-

Tolol.

Aku menggeleng pasrah.

Percuma saja mengharapkan solusi dari teman yang memang asalnya sudah gila sehingga aku sendiri menjadi gila. Jehan yang menyuruhku menyatakan perasaanku pada Jimin, namun kata-katanya sendiri sama sekali tidak membantuku, malah membuatku jadi semakin pusing.

“Lupakan saja, Han,” kataku. “Jimin tidak akan melihatku meskipun itu hanya se-“

Langkahku ingin menuju kelas terhenti ketika melihat eksistensi Park Jimin yang tiba-tiba saja sudah berdiri di hadapanku dan Jehan. Kedua tangannya tergenggam di belakang punggungnya sementara kepalanya agak condong ke arahku sambil menarik kedua sudut bibirnya perlahan-lahan.

Dia senyum.

Dia senyum.

Dia senyum padaku.

Tolong garis bawahi.

DIA SENYUM PADAKU!

Berengsek!

Pemandangan langka di hadapanku ini sungguh memesona sekali. Aku berani sumpah dia lebih ganteng dari cowok manapun yang pernah kutemui!

Bagian bawah bibirku kugigit pelan. Pipiku kembali memanas. Jantungku serasa mau meledak lalu jatuh berceceran ke perut. Ah, ambyar sudah, bagaimana ini? Aku tak habis pikir apakah otakku masih bisa bekerja dengan normal begitu melihat iris kelabunya kini benar-benar memperhatikan bola mataku. Oke, dari semua yang aku katakan tadi sepertinya agak alay, tapi aku berusaha untuk membuatnya sedramatis mungkin.

“Hai. Kalian nggak ke kelas? Sudah lewat jam pertama, lho.”

Jim, jangan bicara padaku, biarkan aku menikmati wajahmu du—

“Jim, San suka padamu.”

DYAR!

Bunyi halilintar seperti menerobos masuk ke kepalaku. Aku hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar. Aku melirik cewek di sebelahku sekilas. Kim Jehan berengsek. Umpatan demi umpatan bergumul menjadi satu di mulutku dan ingin rasanya segera kumuntahkan jika saja tidak ada Jimin yang perawakannya sekarang seperti habis terkena alat kejut.

“Dia suka lihat kamu senyum, Jim.”

“Han,”

“Dia suka dengar kamu bawel.”

“Han, plis,”

“Dari seluruh penghuni kelas cuma dia satu-satunya yang suka padamu, di samping kamu juga nggak eksis banget, sih. Oh iya, dia juga suka lihat kamu ngupil.”

Oh my God!

Bola mata Jimin hampir keluar. “Tu-tunggu, jadi dari tadi kalian memperhatikan a-“

“Jehan, stop!

“Apapun yang kamu lakukan, San selalu suka. Dia benar-benar tulus mencintaimu, Jim. Dia ragu karena dia nggak imut dan nggak pendek. Dia bukan tipikal cewek yang kamu inginkan tapi dia ingin sekali jadi pacarmu. Dia mencintai apa adanya kamu. Meskipun dia sendiri merasa mungkin dia tidak pantas untukmu karena kamu begitu sempurna di matanya, dan, dan…”

Jehan berhenti.

Dan aku menyesal dia baru berhenti sekarang.

Perasaanku campur aduk, bingung bagaimana aku harus menatap Jimin. Aku lebih memilih menunduk demi menyembunyikan wajahku meskipun kenyataannya masih kelihatan agak jelas karena efek pertumbuhanku yang cenderung lebih cepat dibanding Jimin. Aku malu, merasa bodoh, terlebih mungkin saat ini Jimin ingin mengumpat karena aku dan Jehan menangkap basah dirinya sedang ngupil. Tidak, mungkin nanti aku yang bakal diumpat lebih parah karena dengan seenak jidat mengungkapkan perasaanku menggunakan Jehan sebagai perantara (dadakan).

Alih-alih aku mencoba mengangkat wajah, Jimin justru tidak mau berhenti menatapku sedari tadi. Merasakan dari auranya saja aku sampai bergidik. Oke, dia pasti marah, iya kan?

Ah, aku bodoh sekali.

“Maaf Jim, aku tidak bermaksud…”

Jimin membuang napasnya dalam-dalam, kemudian berdecak.

“Jujur, sebenarnya aku mau marah karena aku ketahuan ngupil. Tapi—“

Oke, sudah kuduga. Mana mungkin orang tidak marah jika dia sudah tertangkap basah melakukan hal yang memang ingin dilakukan diam-diam.

Dan yang membuatku terkejut, tangan besarnya tetiba saja merayap di puncak kepalaku, mengusapnya pelan sambil tersenyum. Bola matanya kembali bersirobok dengan mataku. Semenit, dua menit, kami terdiam. Jimin mulai tidak tahu diri. Aku tidak tahu untuk apa Jimin melihatku seperti itu hingga pipiku nyaris semerah tomat ditambah jantungku nyaris mati rasa. Seharusnya dia marah. Seharusnya dia marah besar sekarang, tapi dia malah memasang senyum menyebalkan seperti itu, melepas tangannya dari kepalaku lalu menempelkan kedua telapak tangannya begitu saja di kedua pipiku.

“Apa wajah orang yang lagi jatuh cinta itu seperti ini?”

Aku cemberut.

Bukannya merasa bersalah, dia malah tertawa kecil.

“Sumpah. Kamu manis sekali, San. Aku suka.”

Eh.

Kampret.

Aku mau pingsan.

Aku pengin ambyar lagi.

Dan aku tidak pernah mengira jika senyuman yang ada di depanku kini menjadi senyum paling manis yang pernah kulihat sepanjang aku bernapas.

Oh, my!” Jehan memekik. “Barusan kamu bilang Yoon San manis?”

Jimin hanya merespons dengan mengendikkan bahu.

“Cewek jaman sekarang suka gengsi kalau mau bilang. Nggak asik banget.” Jimin melihat ke arah lain sambil mendesah, lantas kembali menatapku dan mengusap kepalaku lagi.

“Tapi, sayang sekali kamu nggak pendek.”

Aku tidak tahu harus jawab apa kalau sudah dibilang begitu.

“O—oke, kamu bisa menolakku.”

“Siapa yang mau menolakmu, manis?”

Jimin mengedipkan sebelah matanya padaku.

Kelopak mataku membulat.

Oh.

Apa dia menerimaku?

“Aku nggak perlu mencemaskan perasaanku lagi,” katanya.

“Terima kasih sudah menyukaiku, San.”

Aku bisu mendadak.

“Kita selesai kuliah sampai jam makan siang saja, kan? Aku masih ada urusan. Jangan pulang duluan. Nanti pulang bareng aku, oke?”

Satu kecupan mendarat di pipi kananku. “Sampai nanti.”

Kemudian berlalu kembali menuju aula sambil memasang senyum termanisnya.

Sementara kami berdua melongo beberapa saat, di samping debaran jantungku makin menjadi-jadi lagi.

“Jehan,”

“Oh?”

“Jadi, dia menerimaku atau nggak?”

Jehan mendesah keras sambil berbalik hendak meninggalkanku.

“Belum apa-apa sudah main cium, sudah jelas, kan?”

-fin

NB :

  • Fic ini terinspirasi waktu ngurusin adek-adek maba dan sebagian besar dari mereka bilang kalo mereka suka sama temenku soalnya dia ganteng. LOL. nggak nyambung banget ya sama ceritanya HAHAHA XD
  • Ini sebenernya fic apa ya abal banget aku nggak ngerti._. T^T Anggap aja ini fic comeback setelah terkena WB setahun jadi maaf kalo bahasanya masih kaku dan nggak ada feel AHAHAHA /cry/
  • Terima kasih buat yang sudah meluangkan waktunya untuk baca ❤ ❤
Advertisements

5 thoughts on “[BTS FF Freelance] Suatu Hari di Jumat Pagi – (Ficlet)

  1. Elisa park

    Senyum senyum sendiri keinget temenku yg kasusnya sama kayak gitu , buat kita cowo yg dia suka itu jelek buat dia ganteng bgt wkwkwk jam set 12 mlm baca ini senyum2 gaje mau teriak adek lagi tidur diebelas
    Pokoknya bestlah ffnya…….😊😂😂🙆🙅🙇

    Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s