[FICLET-MIX] IRIS

Processed with VSCO with hb2 preset

IRIS

a fanfic special for a c u’s birthday
by tsukiyamarisa, l18hee, darkchocobee, echaminswag~

BTS’ Kim Namjoon with OC’s Kim Reyna

genres FAMILY; Dark, Fluff, Fantasy, School Life | length 4 Ficlets | rating PG

.

.

1st IRIS

Demi Tuhan bukan Reyna yang menginginkan tangannya gemetar. Untung hanya gemetar kecil, jadi mungkin Namjoon tidak akan sadar. Sosok lelaki di sampingnya itu masih merapatkan tubuh ke dinding, sama dengannya.

Tahu persis bahwa degub jantungnya semakin keras, Reyna tak tahan juga, “Ayo lari. Kita tidak bisa terus di sini.” Bisikan ini memancing Namjoon untuk menoleh, “Tidak bisa. Kita harus maju, Rey.”

“Benar-benar, deh!” Reyna seakan menahan tangis kesal, “Sudah kubilang aku tidak mau ikut campur. Kenapa kamu membawaku dalam permainan bodoh ini?”

“Ssst,” desisan Namjoon tunjukkan. Dia menggenggam lebih erat pistol di tangan kanannya, “Pelankan suaramu. Mereka bisa menemukan kita.” Titik keringat mulai muncul di keningnya, bibirnya mengatup demi memerlihatlan dua lesung manis di pipi. Untuk sekarang sama sekali tidak terlihat manis, Reyna terlanjur kesal setengah mati. Tahu begini gadis itu lebih memilih duduk di depan televisi untuk menonton drama komedi, dengan misi yang paling mentok hanya menghabiskan beberapa bungkus kripik ubi di lemari penyimpanan. Tidak perlu memikirkan masalah Namjoon dengan Taehyung yang entah bermanfaat atau tidak untuk ia ikut campuri. Reyna hanya tahu kedu lelaki itu sedang berada dalam pertarungan aneh. Memperebutkan kuali yang biasanya berada di ujung pelangi. Huh, pantas saja selama dua minggu ini pelangi jarang muncul, rupanya ulah dua lelaki aneh yang kelihatannya hanya mencari sensasi.

Pasalnya, di dunia mereka semakin jarang mendapat sinar matahari akibat meningkatnya polusi. Jadi dalam pemikiran orang seperti Namjoon dan Taehyung, kuali penghasil pelangi merupakan hal yang perlu diperebutkan keberadaannya.

Baru saja Reyna akan membuka suara, bunyi serok sepatu menginterupsi. Tanpa aba-aba keduanya terdiam. Reyna hampir terlonjak ketika merasakn tangannya digenggam erat. Tadinya akan melayang protes, namun Namjoon lebih dulu memberi pelototan serius.

O, lihat siapa yang takut di sini.

Namjoon mengangkat tangannya yang memegang pistol sampai sejajar dengan bahu. Mengatur napas untuk bergeser pelan ke ujung tembok gelap yang mereka gunakan untuk sembunyi. Bagaimanapun juga ia tak bisa menahan diri untuk tidak mengintip. Beruntung ada salah satu benda yang dapat memantulkan bayangan buram si pemilik suara sepatu tadi. Masih jauh.

“Aku mau pulang saja.” Reyna sudah masa bodoh nanti Namjoon akan mengejeknya habis-habisan jika mereka dapat kembali ke rumah. Dia tidak suka dikejar begini. Pokoknya benci sekali.

“Biarkan aku selesaikan ini. Janji, deh, setelah itu langsung pulang.” Sebisa mungkin Namjoon menahan suaranya, “Kita bisa mampir untuk beli es krim juga.”

“Aku tidak suka dikejar, Kim Namjoon. Maumu apa, sih?”

Untung saja barusan Namjoon melihat sosok lawannya melangkah semakin jauh. Jadi ia tak perlu khawatir suara sang sepupu barusan akan menarik perhatian.

Masih tak meninggalkan rasa siaga, Namjoon membuka suara, “Mauku kau itu sedikit melihat dunia. Tidak cuek di depan televisi seharian dengan totonan garing-mu itu. Coba lihat betapa menyenangkannya permainan ini. Memperebutkan penghasil pelangi tidak seburuk yang kau kira.”

“Bagian mana yang kau maksud dengan menyenangkan? Sama sekali tidak menyenggol kotak bahagiaku.” Ejekan terang-terangan ini dibalas Namjoon dengan desisan, “Setidaknya temani aku sampai ini selesai. Aku tidak mau mati sendiri.”

“Mau menjerumuskan sepupu sendiri, hah?” Reyna sudah tidak peduli dengan permainan apalah itu namanya, pokoknya dia ingin segera enyah dari sana. Permainan yang terlahir dari pemikiran Namjoon atau Taehyung selalu gila, kendati tidak main-main risikonya. Reyna sudah menyerah menyadarkan keduanya akan dunia nyata sesungguhnya.  “Singkirkan tanganmu, sekarang,” lanjutnya. Namjoon bergeming. Mungkin telinganya perlu ditiup dengan angin topan supaya kotorannya penyumbatnya hilang.

Dan suara sepatu yang sama kembali terdengar. Kali ini mampu menghentikn Reyna memberontak. Degub jantungnya makin mengeras. Sedang Namjoon sendiri mengatupkan bibir rapat. Mengatur strategi yang bagus untuk melawan atau bahkan menyelamatkan diri. Diam-diam Namjoon khawatir juga. Bagaimana caranya melindungi Reyna?

“Lari jika kubilang lari.”

“Apa?”

Genggaman Namjioon mandadak mengerat, otomatis Reyna menahan napas.

“Sepertinya aku mencium baumu, Joon.”

Selesai sudah. Keberadaan mereka sudah diketahui. Namjoon langsung memberi pelototan serius yang lantas diterjemahkan sebagai ‘bersiaplah’ oleh Reyna. Dan tepat sepersekian detik selanjutnya Reyna bisa merasakan sepercik cairan menerpa wajahnya.

“Nah, mati kalian!”

“Rey, lari!” Namjoon menarik Reyna, sementara ia mengarahkan pistol di tangannya ke arah sang lawan, “Kami tidak akan mati semudah itu, Kim Taehyung!”

Segera Taehyung melotot marah, “Curang! Kalian sudah terkena tembakan airku!” Walau begitu bocah sepuluh tahun itu tetap mengerahkan tenaga untuk mengejar kedua temannya di depan sana, seraya menodongkan pistol air setengah penuhnya dengan semangat.

Beda halnya dengan Namjoon yang tertawa senang, Reyna justru menebar umpatan.

“Pokoknya aku benci kamu selama seminggu kalau baju baruku basah!”

Reyna serius tidak suka main tembak-tembakan air. Dan lain kali dia tidak akan lagi mau diajak bermain oleh dua orang idiot yang sepertinya punya dunia sendiri.

.

.

2nd IRIS

Kim Reyna sedang sibuk menggerutu, ketika Namjoon akhirnya muncul dan membawa kabar yang membuatnya makin menggerutu.

“Bawa payung?”

Namjoon ragu sejenak, lantas menggeleng cepat. “Tunggu saja hujannya reda.”

Sang gadis memberikan pelototan pada sepupunya, bermaksud untuk berlari menembus hujan alih-alih menunggu di beranda sekolah seperti ini. Suasana hatinya sedang buruk, dan berada di sekolah lebih lama jelas tak membantu. Namun, belum sempat ia melangkahkan kaki, tangan Namjoon sudah keburu mencekal pergelangan tangannya. Lengkap dengan senyum lebar, seraya ia mengedikkan kepala pada tempat kosong di sampingnya.

“Tunggu hujannya berhenti saja, Rey,” ulang Namjoon. “Percayalah padaku.”

“Percaya soal apa?”

“Kalau suasana hatimu akan lebih baik saat hujannya reda.”

“Teori dari mana itu?” Reyna mengerutkan kening, sementara Namjoon memasang cengiran. Sang lelaki kini membuat ekspresi layaknya ia tahu segalanya, tanda-tanda bahwa sebuah ceramah berbau filosofis akan segera keluar dari kedua belah bibirnya.

“Kamu tahu, Rey—“

Reyna cepat-cepat meraih sisa roti yang ada di dalam tasnya dan menyumpalkan benda itu ke mulut Namjoon. “Lupakan. Anggap aku memilih untuk menunggu karena aku terlalu malas hujan-hujanan.”

Namjoon menggumamkan sesuatu yang tak jelas, tetapi konversasi di antara mereka tak berlanjut. Keduanya memilih untuk menunggu dalam diam—Reyna masih dengan rupa bersungut-sungut sementara Namjoon tampak penuh harap. Entah apa yang ada di pikiran lelaki itu, Reyna tak mau tahu. Mungkin saja Namjoon sedang memikirkan hal yang tidak-tidak, seperti koleksi majalah rahasianya di bawah tempat tidur atau—

“Ah, sepertinya hujan akan segera reda.”

Mendongakkan kepala, netra mereka terarah pada titik-titik gerimis yang turun dengan intensitas makin jarang. Cahaya mentari sore mulai tampak di kejauhan, diikuti dengan desah kelegaan beberapa murid lain yang juga tengah menunggu hujan reda. Mereka kini mulai berani berjalan pulang, langkah sedikit tergesa sembari berharap agar hujan tak kembali turun.

“Ayo, Joon.”

Tapi, Namjoon tak bergerak. Lelaki itu masih tetap diam di tempatnya berdiri, kepala terdongak dengan ekspresi seakan sedang menunggu sesuatu.

“Joon?”

“Tunggu sebentar.”

“Joon, aku lapar.”

“Lima—ah, atau sepuluh menit saja.”

“Kim Namjoon!”

Menaikkan nada suaranya, Reyna sempat mempertimbangkan untuk melempar isi tasnya ke kepala Namjoon. Biar saja lelaki itu gegar otak, kemudian menjadi sedikit bodoh sehingga ia tak lagi bisa memamerkan nilai-nilai ujiannya. Reyna tak peduli. Suasana hatinya kini malah makin buruk, berlawanan dengan prediksi Namjoon di awal percakapan mereka tadi.

“Aku hanya mau menunjukkan sesuatu, Kim Reyna.” Namjoon akhirnya berkata-kata, menunjuk langit yang masih sedikit kelabu. “Tunggu sebentar lagi sampai pelanginya muncul—“

“ASTAGA! PELANGI TIDAK AKAN MEMBUAT SUASANA HATIKU JADI BERWARNA-WARNI, JOON!!”

Ledakan kemarahan sontak itu menarik atensi beberapa murid lain, yang terkekeh sementara mereka melintasi sepasang saudara sepupu tersebut.

“Tapi, salah seorang temanku berkata kalau gadisnya suka sekali melihat pelangi—“

“Ayo kita pulang.”

“—dan aku belum pernah melihat pelangi sebelumnya.”

Reyna memutar bola matanya, tak sabar. Gadis itu kini memilih untuk menarik paksa tangan Namjoon, menyumpah-nyumpah dan mengomel dengan kata-kata yang membuat pendengarnya mengernyit. Lupakan pelangi di langit, karena hal macam itu sama sekali tak akan menghiburnya. Alih-alih, kalau bisa Reyna malah ingin melempar Namjoon ke ujung pelangi terjauh sana.

“Hei, Reyna.”

“Diam.”

“Rey ….”

“Jangan gunakan nada memelas, tidak mempan.”

“Baiklah, baiklah. Kalau kamu tidak terhibur, apa yang bisa menghiburmu?”

Reyna spontan menghentikan langkah, entah bagaimana keduanya bisa berhenti tepat di depan sebuah bakery. Bakery yang memajang berbagai macam kue, termasuk kue setinggi tujuh lapis dengan aneka warna pelangi.

Oh ya, omong-omong, Reyna sempat mendengar curhatan Namjoon, soal jatah uang bulanan lelaki itu yang sudah amat menipis.

Jadi ….

“Joon.”

Yeah?”

Reyna menunjuk ke dalam bakery, memasang senyum selebar dan sepolos mungkin.

“Kalau pelangi yang itu bisa membuat mood-ku lebih baik. Kau akan membelikannya untukku, kan?”

.

.

3rd IRIS

Aroma hujan bercampur tanah masih tercium lantaran sehabis hujan. Reyna tengah membaca novel ketika Namjoon tiba-tiba datang ke rumahnya, berpenampilan necis dengan parfum maskulin yang membuatnya terlihat seperti akan menggaet hati wanita. Terang saja, Reyna mengernyit heran.

Memangnya ada urusan apa dia di sini?

Yang membuatnya kaget adalah ketika pemuda itu malah menghampirinya dan secara implisit mengajaknya untuk pergi.

Ayo, keluar. Cepat siap-siap.”

Sepupunya satu itu tidak menjelaskan apapun, hanya menunggu di ruang tamu tanpa berniat mengutarakan tujuannya. Meski malas, Reyna akhirnya memutuskan untuk menutup bukunya, kemudian berganti baju.

Siapa yang tahu, kan, kalau Namjoon sebenarnya punya urusan mendesak yang melibatkan dirinya?

Namun, sampai Reyna duduk di jok mobil Volkswagen kesayangan Namjoon, gadis itu masih tidak tahu apa yang akan mereka lakukan.

(Yah, salahnya juga tidak bertanya, sih. Mungkin saking terkejutnya sang gadis atas ajakan Namjoon, jadi ia tidak sempat bertanya apapun.)

Jadi, yang dilakukannya saat ini hanyalah mengernyitkan dahi, berpikir keras untuk mendapatkan suatu jawaban atas pertanyaannya–yang mana malah semakin memusingkan ketika ia melihat Namjoon mengantarkannya ke suatu tempat yang tidak ia ketahui.

(Reyna sempat memikirkan kemungkinan bahwa ia akan dibuang di suatu tempat, tetapi dibuangnya jauh-jauh pemikiran itu–karena ia selalu bisa memukul Namjoon dengan novelnya.)

Mobilnya berhenti di sebuah taman yang sepi, nyaris tidak ada seorang pun yang terlihat kecuali mereka berdua.

Melihat bagaimana Reyna tengah meragukannya, Namjoon menarik pergelangan tangannya, membuatnya terduduk di bangku taman–yang ternyata masih basah.

“Namjoon!” pekik Reyna tatkala merasakan basahnya bangku tersebut.

Namjoon hanya mengeluarkan cengirannya. “My bad.”

Reyna menggerutu kesal, sementara Namjoon malah ikut mendudukkan diri di bangku basah itu. Meski Reyna merasa heran, ia menggunakan kesempatan itu untuk bertanya tujuannya membawa dirinya ke sini.

“Jadi, mau apa kita ke sini?” tanya Reyna.

Namjoon malah meletakkan jari telunjuknya di depan bibir. “Tunggu sebentar, Rey.”

Pemuda itu sempat terdiam beberapa saat, membuar Reyna bertanya-tanya apakah Namjoon kerasukan sesuatu yang membuatnya melakukan tingkah seabsurd ini.

Akhirnya, Namjoon memecah keheningan dengan menunjuk sesuatu dan berkata, “Lihat ke sana.”

Sontak, gadis itu menatap ke arah yang ditunjuk Namjoon, hanya untuk menemukan spektrum cahaya indah yang menghiasi langit. Untuk sesaat, Reyna terpaku menatap lengkungan cahaya berwarna-warni tersebut.

Sebuah senyuman terukir tipis di bibir sang gadis.

“Jadi, dalam rangka apa kau menunjukkanku ini?” tanya Reyna heran.

“Apa lagi?” Namjoon ikut menatap pelangi yang kini masih menghiasi langit sore, kemudian menyunggingkan senyum untuk membalas milik Reyna.

“Selamat ulang tahun, Rey.”

Dan Reyna berpikir, untuk hari itu saja, Namjoon adalah sepupu terbaik yang ia miliki.

.

.

4th IRIS

“Sebenarnya apa yang sudah terjadi?”

“Aku mendapat kutukan.”

Kim Namjoon menggelengkan kepala tidak percaya. Ia baru saja kembali dari perjalanan panjangnya ke Bloomsbury untuk mengambil beberapa kantung serbuk sari ketika mendapati saudari sepupunya―Kim Reyna―telah berubah jauh. Berubah yang dimaksud adalah tubuh Reyna menjadi sangat kecil dari ukuran normal para peri. Sayapnya menghilang, justru rambut gadis itu menjadi berwana pelangi.

Hal ini tentu tidak pernah terjadi di Biggin Hill, mengingat para peri di negeri tersebut tidak pernah melanggar aturan. Pun Reyna, gadis bermata lebar ini memang suka sekali mencuri buah persik dari kebun paman Galton, namun pemilik kebun hanya memarahinya tanpa pernah mengutuk Reyna seperti ini.

“Bagaimana bisa?” Namjoon berseru, masih keheranan. Ia memandangi sepupunya tersebut seraya memeriksa rambut Reyna menggunakan jemarinya. Rambut gadis itu terbagi menjadi tujuh bagian, dengan seluruh bagiannya tercoreng warna-warna pada pelangi.

“Aku tidak tahu, Joon. Aku hanya sedang bermain di danau belakang bukit sembari menunggumu pulang.”

“Danau belakang bukit?”

“Ya,” Reyna terdiam sejenak. Sedikit mengingat-ingat kejadian beberapa minggu silam. “Saat itu, cuaca sedang cerah, sangat cerah bahkan. Tetapi, tiba-tiba gerimis turun dan membuat rambutku basah. Tak lama setelah itu, muncul pelangi di ujung danau. Para peri bilang, jika muncul pelangi, maka tujuh permintaanmu akan dikabulkan.”

“Lalu kamu membuat permohonan?”

“Ya. Aku meminta agar aku memiliki sayap yang indah, hanya satu permohonan itu saja. Namun, petir menyambar dan saat terbangun aku sudah seperti ini. Kurasa mitos itu tidak berlaku untuk para peri.”

Namjoon menghela napas berat. “Hal paling bodoh yang telah kamu lakukan adalah membuat permohonan itu, Reyna.”

“Apa maksudmu?”

“Bersiaplah, kuantar menuju danau itu sebentar lagi.”

Kepala kecil Reyna masih dipenuhi berbagai pertanyaan ketika Namjoon memilih untuk tidak menjelaskan apa-apa dan melenggang pergi demi mengisi tenaganya. Gadis mungil itu terduduk di depan cermin seraya menyisir rambut panjangnya yang berwarna pelangi. Sempat terpikir olehnya, bagaimana jika ia memotong rambutnya saja? Atau meminta Bibi Jacee mewarnainya kembali menggunakan olahan biji kedelai―

“Jangan berpikir bahwa kamu ingin memotong atau mewarnai rambutmu, Reyna. Itu tidak akan membantu sama sekali.”

―namun, suara itu memupuskan keinginannya tersebut. Kim Namjoon adalah orang yang paling mengetahui tentangnya. Bahkan pikiran Reyna pun, ia dapat menebaknya dengan tepat.

“Masalahnya, aku tidak tahu bagaimana mengusir kutukan ini, Joon.”

“Aku tahu.” Namjoon tersenyum sekilas, seolah tengah membantu Reyna mengusir kekhawatirannya. “Jadi, jangan banyak bicara dan ayo segera pergi ke sana!”

Reyna menurut. Ia beranjak, lantas naik ke atas punggung Namjoon. Pemuda itu segera terbang menuju danau yang berada di belakang Biggin Hill ketika gerimis mendadak turun. Banyak pertanyaan yang dilontarkan oleh para peri ketika mereka berpapasan, namun Namjoon lagi-lagi memilih untuk diam dan tidak berkata apa-apa.

Dari kejauhan, keduanya dapat melihat pelangi tergambar di ujung danau. Reyna merekahkan senyuman, pun dengan Namjoon. Usai kaki keduanya menjejak di tepi danau, Namjoon segera menyeret tangan Reyna untuk lebih mendekat ke sana.

“Batalkan permintaanmu, dan berendamlah di danau selama sepuluh menit.”

Tanpa mau bertanya lebih dalam, Reyna segera melaksanakan perintah Namjoon. Ia mengeratkan kedua tangan di bawah dagu dan mengucapkan pembatalan permohonan tersebut dalam hati. Gadis itu pun berjalan maju dan merendam tubuhnya―hingga ujung kepala―ke dalam air danau tersebut. Usai sepuluh menit berlalu, Reyna mengangkat tubuhnya dari dalam air. Segala keajaiban lain pun terjadi dengannya; tubuhnya kembali ke bentuk normal, rambutnya yang panjang berubah menjadi kecokelatan, pun sayapnya yang berwarna jingga kembali ke sebalik punggungnya.

Reyna segera berlari menghampiri Namjoon, lantas memeluknya dengan erat. “Joon, aku kembali! Terimakasih.” Ujarnya dengan bersemangat, nyaris membuat Namjoon terjungkal karena kelakuannya tersebut. “Tapi, dari mana kamu tahu hal-hal semacam ini?”

Namjoon tertawa sejenak. “Aku membacanya dari buku peninggalan ayah. Peri tidak boleh membuat permohonan, Reyna.”

“Kenapa begitu?”

“Karena tugas mereka adalah mengabulkan permohonan.”

.

.

.

fin.

SELAMAT ULANG TAHUN MBA ACU!! ❤

Advertisements

2 thoughts on “[FICLET-MIX] IRIS

  1. 1st iris, aku dagdigdug ser, bayangin mereka di istana yg terbuat dari Batu untuk berlindung dari Taehyung, pas mereka ketangkap basah, aku makin dagdigdug, terus njleb, bocah 10tahun knapa menggemaskan, lalu kenapa kumerasa Reyna so lenjeh, wakakakak

    2nd iris, emng namjoon yg menyebalkan, tapi bikin sayang, duhduh, ayo Joon bayarin reyna rainbow cake

    3rd iris, namjoon kaya, gak sia2 Reyna jadi sepupunya, duh gusti, namjoon so sweet banget awuwuwuwu 😘😘😘😍😍😍

    4th iris, aw, aku gk tau mau ngoment apalagi, tapi hubungan saudara sepupu ini bikin aku gemas,

    Makasih ya semuanya, mwah mwah mwah

    😘😘😘😍😍😘😘😘😍😍

    /pulang

    Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s