[BTS FF Freelance] No Rain No Rainbow – (Chapter 3/Threeshoot)

att_1469333779756_nr2cover

Author : Yemima Lorna

Title : “NO RAIN NO RAINBOW”

Length : Three Shoot

Genre : Romance

Main Cast : Min Yoongi (BTS Suga) , Lee Ahra

Support cast : Kim Namjoon (BTS), Dahyun (Twice), Bambam (Got7)

Rating : PG-17

Disclaimer : All the story is mine and made by me. Thankyou. Happy reading!

 

CHAPTER 3

 

“Hey penguntit !” terdengar suara yang tidak asing ditelingaku.

Aku pun bergegas berdiri dan berpaling menuju asal suara tersebut. Tidak salah lagi, itu adalah suara Yoongi-sunbae. Ia sedang berdiri dihadapanku sekarang dengan sepasang mata tajamnya lagi.

 

“Dasar penguntit! Sebenarnya apa sih maumu ?!” kini nada suaranya lebih keras dari sebelumnya. Membuatku bergidik. Aku bahkan tak mampu menjawab sepatah katapun.

 

Dengan kedua tangannya ia mendorongku ke tembok dan mendekatkan wajahnya kearahku. Kedua tangannya menancap di sisi kanan dan kiriku sehingga aku terperangkap dan tidak dapat bergerak. Sepasang mata tajam itu masih terarah kepadaku dengan kuat.

 

“Kenapa kau selalu mengikutiku hah?! Kau pikir aku tidak tau apa?”tukasnya geram.

 

“Ma…Ma…Maafkan aku sunbae…. A…aku tidak bermaksud apa-apa…” lontarku terbata-bata.

 

“Tunggu dulu… sepertinya aku mengenal suara ini. Kau juga yang semalam mengerjaiku kan?!”pekiknya.

 

“Kenapa kau selalu mencampuri urusanku? Kau pikir kau siapa?”

 

Air mataku membuncah tak terbendung. Aku tidak tau lagi harus menjawab apa. Ini semua salahku. Aku telah membuatnya marah. Benar-benar marah. Sepertinya ia benar-benar tidak akan memaafkanku.

 

“Arggh!” keluhnya seraya mengacak-acak rambutnya sendiri. Sepertinya ia frustasi karena tidak bisa menghajarku karena aku wanita. Jika aku adalah pria mungkin aku sudah babak belur dihabisinya. Tiba-tiba ia meraih tanganku dan menggandengnya, kami berdua berlari dan berlari melewati setiap lorong malam itu. Jalan pulang. Ya aku tau ini adalah jalan pulang.

 

Sesampainya kami di jalan raya, ia menyegat sebuah taksi dan menyuruhku menaikinya. “Pulanglah, dan pastikan aku tidak akan melihat wajahmu lagi!” ucapnya sembari melenggang pergi.

Aku benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi padaku sekarang. Aku tidak layak menerima ini. Kenapa ia tidak meninggalkanku saja ditempat antah berantah itu? Aku tidak mengerti.  

 

♪-AUTHOR POV -♪~

 

Tanpa semangat Yoongi melangkah menuju lokernya, lagi lagi langkahnya terhenti melihat sebuah benda yang tertempel di depan lokernya tersebut. Ia mengerutkan kedua keningnya sesaat setelah melihat benda tersebut. Sebuah kalung berbentuk simbol musik berwarna hitam mengkilap dengan sebuah notes yang tertempel :

 

“Terima kasih sudah meminjamkan padaku benda yang berharga ini, sekarang sunbae yang jauh lebih membutuhkannya dari pada aku.”– Lee Ahra

 

Perlahan-lahan Yoongi meraih benda tersebut dan memandanginya lekat-lekat seakan ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Ia pun membelalakkan matanya tatkala berhasil mengingat sesuatu, ia pun bergegas pergi.

 

“Ahra kau kenapa sih? Kau terlihat lesu sekali, apa kau sakit..?”tanya Dahyun.

 

“Aku tidak apa-apa kok…” jawab Ahra singkat

 

“Oh iya sabtu besok aku dan Bambam akan nonton konser, kau ikut juga kan?” ajak Dahyun.

 

Ahra tidak menjawab dan hanya menggeleng.

 

“Ah… Ayolah masa kau tidak ikut…?” rengek Dahyun.

 

“ Iya, masa kau mau weekend di rumah saja? Ngga seru ah! Mendingan ikut kita nonton konser, dijamin asik!”imbuh Bambam.

 

“Aku tidak tertarik.” timpal Ahra sambil melengos keluar dari kelas meninggalkan kedua temannya yang tampak kebingungan.

 

“Sssstt… sepertinya ia sudah benar-benar menyerah…” bisik Dahyun.

 

“Wah benarkah? Baguslah akhirnya ia kembali ke jalan yang benar.” jawab Bambam lega.

 

Dengan langkah gontai tanpa semangat Ahra berjalan menuju toilet. Namun disepanjang perjalanan para murid terlihat sedang berhamburan menuju lapangan basket. Mereka terlihat antusias.

“Sebenarnya sedang ada pertandingan atau apa? Kenapa semuanya semangat sekali untuk menonton?”gumam Ahra bingung. Karena penasaran ia pun ikut bergegas menuju lapangan basket untuk memastikan apa yang terjadi.

 

Sesampainya di lapangan basket, ternyata tidak ada pertandingan. Yang ada hanya anak-anak klub basket yang sedang berlatih untuk bertanding di turnamen nasional. Itu saja. “Aish… Aku pikir ada apa…”sesal Ahra seraya melangkah pergi.

 

“YOONGI OPPA…!!!”

 

Terdengar teriakan sejumlah siswi yang menyemangati Yoongi sunbae. Eh tunggu, Yoongi sunbae ? Ia kembali bermain basket ?! Ahra pun bergegas berlari ke pinggir lapangan untuk memastikan. Dan benar, Min Yoongi dan anak-anak klub basket sedang menunjukkan aksinya. Dan Yoongi sunbae terlihat berperan sebagai kapten. Ia benar-benar piawai dalam bermain basket. Kemampuannya yang diatas rata-rata jelas terlihat walaupun ia sudah lama tidak memainkannya. Tidak ada satupun bola yang meleset, semua shootingannya akurat tepat sasaran. Baru kali ini Ahra melihat MinYoongi bermain basket. Ia seakan memancarkan aura yang berbeda saat berada di lapangan. Seketika rona bahagia kembali menyelimuti hati Ahra, akhirnya Yoongi sunbae kembali bermain basket lagi setelah sekian lama vakum. Ini setidaknya membuktikan bahwa ia sedikit banyak kembali mendapatkan semangat hidupnya.

 

“Ahra!”panggil Namjoon dari kejauhan.

 

“Wah, Namjoon sunbae! Ada apa?” balas Ahra.

 

“Kau lihat itu kan? Aku sendiri tidak menyangka bisa bermain basket bersamanya lagi…”ujar Namjoon senang.

 

“Entah kenapa waktu aku memohon bantuannya untuk ikut maju ke turnamen nasional kemarin,  ia langsung menyanggupinya. Padahal awalnya aku pikir ia akan menolak lho.”paparnya lagi

 

“Wah benarkah? Syukurlah …”jawab Ahra dengan wajah berseri.

 

“Oh iya, kau harus nonton kami saat turnamen besok ya!” pinta Namjoon.

 

“Oh siap! Tenang saja aku pasti datang!”timpal Ahra.

 

♪-AHRA POV -♪~

Sebulan berlalu. Hidupku berjalan dan mengalir seperti biasa. Awal masa SMAku kulalui sesuai dengan bagaimana seharusnya. Menjalani hari demi hari dengan sukacita dan penuh semangat seperti Ahra yang biasa. Hati ini pun masih sama. Masih terpaut pada sosok yang sama. Bersenandung untuk hati yang sama. Entah akan sampai kapan atau tidak akan pernah berubah aku tidak tau. Walaupun setiap kali aku berpapasan dengannya aku harus bersembunyi atau menutupi wajahku dengan buku atau apapun yang ada disekitarku.

 

“Pulanglah, dan pastikan aku tidak akan melihat wajahmu lagi!” Kata-katanya malam itu masih terngiang jelas diotakku. Bagaikan alarm yang mengharuskan aku menghindar darinya sejauh mungkin.

 

“AHRA?! Sudah jam berapa ini? Kau bisa terlambat!” teriak Ibu dari dapur. Aku terperanjat dan tersadar dari lamunanku.

 

“Gawat! 10 Menit lagi gerbang sekolah akan ditutup !”ucapku panik seraya bergegas menuju sekolah.

 

“Aish! Sial… Gerbangnya sudah tertutup lagi…”gerutuku kesal sesampainya di depan pintu gerbang sekolah.

 

“Kau ini, ini sudah lewat 20 menit!” omel seorang guru yang melintas di depan gerbang.

 

“Iya maaf pak…. tapi bolehkah saya masuk?” pintaku.

 

“Boleh! Tapi sebelum masuk ke kelas kalian berdua harus menyapu halaman terlebih dahulu sebagai hukuman atas keterlambatan kalian!”ucapnya seraya membuka pintu gerbang.

 

“Aishh… eh tunggu, kalian berdua? Memangnya siapa lagi yang terlambat?” aku menoleh ke belakang, tampak seorang lelaki tengah berlari menuju pintu gerbang.

 

“Mati aku…”gumamku.

 

“Min Yoongi! Kau ini sudah kelas 3 harusnya kau memberi contoh yang baik pada adik-adik kelasmu! Eh ini malah terlambat!” omel sang guru.

 

“Maaf pak” jawabnya singkat.

 

Aku pun segera menutupi wajahku dengan tas punggungku. Gawat, bahkan setelah ini kami harus menyapu halaman sekolah bersama. Mimpi buruk apa aku semalam.

 

“Hey! Berhentilah menutupi wajahmu dengan tas itu! Bagaimana kau bisa menyapu dengan baik? Kapan kita akan selesai kalau begitu?” omel Yoongi sunbae.

 

“ Ta… ta.. tapi kan…. sunbae bilang….” aku mencoba menjelaskan.

 

“tidak mau melihat wajahku lagi…”

 

Ia terdiam sejenak mendengar perkataanku, “Lupakan.”ucapnya.

 

“Apa?” tanyaku memperjelas.

 

“Aku bilang lupakan saja. Anggap aku tidak pernah mengatakannya,

dan mulai sekarang kapanpun kau bertemu denganku, tidak usah menutupi wajahmu lagi”tambahnya.

 

“B..b..baik…”jawabku senang.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

 

“Apa ini?” ujarku bingung saat meraih sebuah sticky note yang tertempel di depan lokerku. Terdapat tulisan “2-H” disana. Entah apa maksudnya. Entah itu adalah perbuatan orang iseng atau disengaja. Hari-hari berikutnyapun sama. Aku terus menerima sticky note berisi kode angka dan huruf yang berbeda di depan lokerku. Aku terlalu bodoh untuk mengerti apa maksudnya. Mungkinkah ada yang sedang mengerjaiku?

 

“[2-H],[u8], [(5)K], [1t], [7~O], [A_3], [4*n],[6^Y]” aku mengeja semua kode yang aku peroleh.

 

“Mungkinkah ini semacam sebuah kode rahasia…?”selidik Dahyun.

 

“Seperti rumus kimia saja… aku tidak mengerti…”kata Bambam sambil menggaruk kepalanya.

 

“Aiisshh… apakah aku sedang diterror atau semacamnya seperti di film-film? Huaa aku tidak mau mati …”keluhku.

 

“Atau jangan-jangan kau punya pengagum rahasia ya? Ciee Ahraaa…”goda Bambam dengan mengedipkan sebelah matanya.

 

“Ah itu tidak mungkin…” balasku.

 

“Tunggu dulu… mungkinkah angka-angka disini merupakan sebuah urutan…?”tutur Dahyun yang sedari tadi paling serius berusaha memecahkan kode-kode itu.

 

“Karena terdapat semua angka dari satu sampai delapan…”

“Maka ada kemungkinan ini bisa diurutkan..”paparnya.

 

“[1t]-[2-H]-[A_3]-[4*n]-[(5)K]-[6^Y]-[7~O]-[u8]” Dahyun berusaha mengurutkannya satu persatu.

 

“Yes! Aku menemukannya !” pekiknya.

“Ahra, apa kau baru saja menolong seseorang…?” tanya Dahyun.

 

“Ya! Tadi aku baru saja membantu menempel pengumuman di mading, oh iya tadi pagi aku juga membantu ibuku memasak!”jawabku.

 

“Aish,  Bukan yang seperti itu! Maksudku adalah sesuatu yang besar…”sahut Dahyun.

 

“Sesuatu yang besar? Hmm… sepertinya belum pernah. Memangnya kenapa?”tanyaku penasaran.

 

“Hmm… lalu kenapa sepertinya orang ini sangat berterima kasih padamu ya…?”selidik Dahyun.

 

“Ahra, Ia mengirimkan pesan T-h-a-n-k-y-o-u padamu dibalik kodenya” ujarnya.

 

“Thankyou???” aku menjadi semakin bingung.

 

“Wah Dahyun, kau benar-benar jenius!” sahut Bambam sambil melukakan hi-five dengan Dahyun. “Tapi kira-kira siapa ya yang mengirimkannya?”

 

“Entahlah, aku benar-benar tidak tau…”keluhku.

 

“Eh ngomong-ngomong aku dapat gosip baru nih…” oceh Bambam.

 

“Gosip apa? Tentang idol favoritmu ya?” balas Dahyun antusias.

 

“Eits bukan! Tapi tentang sekolah ini! Kalian sudah dengar belum? Katanya gedung sekolah lama akan dibongkar dan dibangun lagi menjadi gedung serbaguna yang sangaaat besar! Wah sekolah kita benar benar keren ya!” celoteh Bambam.

 

“APA?!” teriakku.

 

“Gedung sekolah lama akan dibongkar ?! Ah tidak.. itu tidak boleh terjadi!”pekikku seraya berlari menuju gedung sekolah lama. Aku berlari secepat mungkin menaiki tangga demi tangga. Telah lama aku tidak berkunjung ke tempat ini, namun entah kenapa hari ini langkahku terbawa hingga kemari.

 

Dan benar. Seseorang yang menjadi alasan aku berlari kemari sedang berada disana. Rooftop tempat ia biasa beristirahat melepas penatnya. Namun kali ini ia tidak terlihat sedang tertidur. Ia justru tengah berdiri di sudut rooftop dengan wajahnya yang mendongak ke atas. Aku memperhatikannya dari kejauhan seperti apa yang biasanya aku lakukan. Hatiku rasanya sakit saat mengetahui bahwa gedung ini akan segera dibongkar. Lalu bagaimana dengan Yoongi-sunbae?

 

Aku tidak yakin pasti apakah ia sudah mendengar kabar buruk itu atau tidak, namun aku tau betul gedung ini adalah satu-satu tempat yang menyimpan seribu kenangan Yoongi-sunbae dengan Haneul kekasihnya. Di tempat ini juga momen terakhir kali mereka bertemu. Gedung ini pasti sangat berharga bagi Yoongi-sunbae dan karena itulah ia selalu kesini setiap hari. Aku tidak bisa membayangkan apa jadinya dia tanpa tempat ini nantinya.

 

“Tunggu dulu….Apa aku tidak salah lihat? Min Yoongi……. tersenyum?!”

Aku mengusap mataku berkali-kali untuk mencoba memastikan apa yang aku lihat. Dan benar saja, ia benar-benar sedang tersenyum. Ini benar-benar momen bersejarah! Pertama kalinya aku melihat Yoongi sunbae tersenyum lagi setelah 1 tahun yang lalu. Ya. Senyuman yang sama seperti saat aku pertama kali bertemu dengannya, saat ia mencuri hatiku tanpa sengaja. Senyuman indah itu membuatku serasa ingin melompat kegirangan dibuatnya, namun aku tidak bisa karena aku akan ketahuan jika begitu. Aku sampai kewalahan menahan rasa bahagiaku untuk sementara waktu.

 

Tapi bagaimana bisa ia justru tersenyum disaat-saat seperti ini?Apa ia tidak merasa sedih sama sekali bahwa gedung ini akan dibongkar?” pikirku dalam hati.

 

“Keluarlah, aku tau kau disana…”ujarnya seraya menengok kearah tempat persembunyianku.

 

“Apa? Bagaimana ia bisa tau aku ada disini? Ah sial!”gumamku sambil menampakkan diri.

 

“Anu… aku… hanya…” aku mencoba menjelaskan sambil tertunduk.

 

Yoongi-sunbae melangkah semakin dekat kearahku namun aku tidak berani menatap wajahnya.

“kenapa kau kemari?” tanyanya.

 

“Apa karena….” kata-katanya terhenti sesaat dan ia melangkah semakin dekat.

 

“……………..”

 

“Kau masih menyukaiku….?”bisiknya di telingaku.

 

Deg!

Jantungku berhenti sesaat ketika aku mendengar hal itu. Sontak aku langsung salah tingkah dibuatnya. Aku yakin wajahku sudah memerah bagaikan tomat saat ini. Aku berusaha menutupi wajahku oleh karena rasa malu yang tak terbendung. Tanpa menjawab sepatah katapun, aku memutuskan untuk mengambil langkah seribu dan pergi dari tempat itu sangking malunya. Dasar! Bagaimana bisa ia menanyakan hal semacam itu!

 

♪-AUTHOR POV -♪~

=>-F-L-A-S-H-B-A-C-K-<=

“Pergi dari sini… dasar gila !”omel Yoongi sembari mendorong tubuh Ahra  menjauh darinya.

 

“Ini aku….”

 

“…….”

 

“Haneul….”

 

Ucap Ahra sambil menatap mata lelaki tersebut dalam-dalam. Ekspresi Yoongi  berubah seketika ketika aku mengucapkan nama itu. Ia terlihat terkejut bukan kepalang. Bola matanya membesar dan ia menatapku semakin tajam. Tidak ada kata-kata lagi yang keluar dari mulutnya. Seakan ia membeku seketika dibuatnya.

 

Sudah begitu lama sejak ia tidak pernah mendengar siapapun menyebutkan nama itu lagi di depannya. Hal itu membuatnya terdiam terpaku. Bagaimana mungkin gadis ini bisa tau tentang Haneul? Apa benar yang dikatakannya?

 

“Ya…. ini aku…..”

 

“Han Haneul kekasihmu….”

 

“Aku sengaja merasuki gadis ini dan datang padamu…” imbuh Ahra.

 

“Omong kosong” timpal Yoongi sembari membalikkan badannya dan hendak masuk ke rumah. Ia berusaha untuk menahan gejolak rasa ingin tahunya dan menghindar pergi.

 

“Tunggu dulu…”Ahra menahannya langkahnya dengan memeluknya dari belakang.

 

“Oppa… Aku sangat merindukanmu….”air mata Ahra membuncah seketika sesaat setelah ia mengatakan kalimat itu. Yoongi kembali terpaku mendengar pecahan tangisan gadis itu. Ia tidak bisa bergerak. Suasana ini sangat janggal baginya.

 

“Ada sesuatu yang ingin sekali kukatakan padamu…”

 

“Aku mohon….”

 

“Sebentar saja….”

 

Keinginan Yoongi untuk menghindarpun sirna , berganti dengan dirinya yang secara spontan membalikkan badan mempersilahkan gadis yang mengaku kerasukan Haneul tersebut untuk berbicara. Entah ia memutuskan untuk percaya atau tidak, ia tak mampu menahan diri untuk tetap disana. Ingatan tentang mendiang kekasihnya perlahan melintas membanjiri benaknya yang kini luluh lantah.

 

“Aku mencintamu, bahkan sampai aku mati….”ujar Ahra  terbata-bata.

 

“Tapi lihat, apa yang terjadi padamu sekarang….”

 

“Karena aku kau jadi seperti ini….”

 

“Karena aku kau kehilangan kebahagianmu…”

 

“Bagaimana mungkin aku bisa tenang dialam sana…?”

 

“Kau membuatku merasa bersalah…”

 

“Tidak bisakah kau melanjutkan hidupmu?”

 

“Aku mohon…….Aku mohon tersenyumlah lagi seperti dulu….”

 

“Hanya itu yang kuminta…”

 

Suasana menjadi hening sejenak. Hanya ada suara isakkan tangis Ahra dan Yoongi yang terdiam tanpa kata. Yoongi membalikkan badan untuk menghapus air matanya yang sempat  jatuh tanpa sepengatuhan gadis itu. Ia tidak habis pikir dengan dirinya sendiri. Akhirnya, dengan sekuat tenaga Yoongi mencoba menyadarkan dirinya bahwa itu tidak nyata dan hanya akal-akalan gadis itu semata.

 

“Menjengkelkan…” tutur Yoongi

 

“Kau pikir aku akan tertipu oleh air mata buaya mu hah?!” katanya sembari kembali menatap tajam kearah Ahra.

 

“Ta… tapi… a.. aku…” Ahra mencoba mengelak.

 

“Dasar perempuan gila! Mengerjai orang malam-malam begini…. kau pikir itu lucu hah?!” omel Yoongi.

 

“Tetap disini! Aku akan memberimu pelajaran!”tukasnya sambil mengenggam tangan Ahra erat-erat Ia pun meraih telpon genggamnya seolah hendak menghubungi seseorang. Tentu saja sesungguhnya ia tidak benar-benar sedang menelpon. Itu hanya pura-pura agar gadis itu segera pergi.

 

“Halo? Rumah sakit jiwa? Iya, ini ada orang gila yang datang mengganggu kerumah saya malam-malam begini, mohon segera diurus ya! Oh, atau lebih baik aku membawanya ke kantor polisi terlebih dahulu?” ucapnya.

 

“HEY! APA YANG KAU LAKUKAN! AKU TIDAK GILA!” teriak Ahra panik.

 

“Aww Aduh! HEY JANGAN KABUR! AWAS SAJA YA AKU AKAN MENANGKAPMU !!”teriak Yoongi sesaat setelah Ahra menggigit tangannya dan berhasil kabur. Tanpa ba bi bu ia langsung segera mengambil langkah seribu dan menyelamatkan diri. Beruntung saat itu ada taksi yang sedang lewat sehingga ia bisa pergi dengan cepat tanpa meninggalkan jejak.

 

Yoongi tertawa terpingkal-pingkal menyaksikan pemandangan malam itu. Gadis itu lari tunggang langgang bagaikan dikejar hantu dengan berteriak-teriak tidak jelas. Namun seketika Yoongi menyadari, baru hari itu ia bisa tertawa sepuas itu setelah sekian lama larut dalam keterpurukan.

 

Akhirnya Yoongi pun masuk ke rumah dan berjalan menuju kamarnya, sesampainya di kamar langsung dihampirinya meja belajarnya dan membuka salah satu laci yang ada disana. Diraihnya sebuah kotak yang berisi beberapa macam benda yaitu Permen lolipop, bunga, ,Gambar lucu, Quotes,Origami, dan coklat serta beberapa notes. Ya. Semua itu adalah barang-barang pemberian dari Ahra yang di taruh di depan lokernya. Memang sema ini Yoongi selalu membuangnya ke tempat sampah. Namun itu karena ia tahu bahwa Ahra sedang mengawasinya dari jauh. Setelah Ahra pergi, Yoongi selalu mengambil barang-barang itu kembali dan menyimpanya.

 

“Aku tidak habis pikir… Sebegitu inginnyakah ia melihatku tersenyum lagi..?” gumam Yoongi heran. Ia memandangi benda-benda tersebut sekali lagi. Membayangkan caranya membuang benda-benda itu dengan kasar ke tempat sampah. Ia bingung dengan kenyataan bahwa Ahra melihat semuanya itu dan ia masih saja tidak menyerah. Ia bahkan seakan tak pernah kehilangan akal.

 

“Tapi kenapa….?” pikirnya.

 

Memorinya melayang mengingat kejadian yang baru saja terjadi. Semua kata-kata gadis itu masih terngiang betul diotakknya. Bagaikan tidak mau pergi. Ia tau betul bahwa itu adalah sandiwara, tapi iapun tak bisa memungkiri perkataan gadis itu kini menggugah hatinya dengan hebat.

 

“Ia benar….”ujar Yoongi.

 

“Maafkan aku Haneul… aku tau tidak seharusnya hidup seperti ini. Benarkah aku membuatmu merasa begitu bersalah…?” isak Yoongi seraya memandangi foto mendiang kekasihnya itu.

 

(Keesokan harinya)

Hari ini Yoongi tidak melakukan kebiasannya di sekolah saat istirahat. Ia ingin sekali melakukannya namun tidak bisa. Karena hatinya berkata lain. Sejak malam tadi, ia terus saja tidak bisa berhenti memikirkan gadis itu. Ya. Gadis bernama Lee Ahra yang seketika muncul dan hadir dihidupnya bagai meteor. Yoongi bahkan tidak habis pikir dengan dirinya sendiri. Seharian ini kerjaannya hanya memandangi gadis itu dari kejauhan. Yoongi tidak mengerti mengapa namun, ia seakan tidak bosan-bosan memandangi gadis berlesung pipi itu. Tawanya yang begitu lepas saat bersenda gurau dengan teman-temannya, Rambutnya yang lurus dan hitam, caranya berjalan…..

 

“Apa aku sudah gila? Apa yang kulakukan?” Yoongi menyadari bahwa detak jantungnya kini berdegup lebih kencang. Ia pun menampar pipinya sendiri seolah sedang menyadarkan diri. Ia pun melangkah keluar dari tempat persembunyian untuk pergi.

 

“Yoongi!”teriak Namjoon dari lapangan basket.

 

Yoongi hanya menengok untuk memastikan dan kemudian melangkah lagi tanpa memperdulikannya.

 

“Hey tunggu!” teriak Namjoon seraya berlari mendekati Yoongi untuk mencegahnya pergi.

 

“Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu…” ujarnya.

 

“Aku tidak ada waktu…” jawab Yoongi singkat.

 

“Sebentar saja…” pinta Namjoon.

 

“Pekan depan sekolah kita akan mengikuti turnamen basket nasional, dan aku berharap kau mau ikut bergabung bersamaa kami.Aku mohon Yoongi, kami benar-benar membutuhkanmu. Di tim kami belum ada yang bisa melakukannya sebaik dirimu. Aku mohon, kali ini saja demi sekolah kita…”

 

ujar Namjoon.

 

“Oke.. baiklah…”jawab Yoongi singkat.

“Ayolah Yoongi, sekali ini saja…”pinta Namjoon.

 

“Aish Kau tidak dengar ya? Aku bilang iya,  Oke aku ikut”Yoongi melengos pergi.

 

“Eh? Oh? Kau bilang iya ya? Wah? Benarkah? Terima kasih !!! Kalau begitu sampai jumpa besok saat latihan ya!”pekik Namjoon senang.

 

“Wah apakah dia sudah berubah? Ini keajaiban!” gumam Namjoon yang masih keheranan.

 

Tadinya Yoongi tentu saja hendak menolaknya seratus persen, namun seketika ia mengingat perkataan Ahra semalam,

 

Tidak bisakah kau melanjutkan hidupmu?”

 

“Aku mohon…….Aku mohon tersenyumlah lagi seperti dulu….”

 

Hal itu membuatnya tersadar bahwa bermain basket adalah passion-nya, memang dahulu ia berhenti melakukannya karena kakinya sempat patah. Namun kini ia sudah sembuh total dan ia tau ia harus melanjutkan mimpinya. Ini pertama kalinya ia bersemangat lagi melakukan sesuatu setelah sekian lama.

 

=> E-N-D – O-F– F-L-A-S-H-B-A-C-K <=

 

.

.

.

.

.

.

.

.

.

♪-AHRA POV -♪~

“Ding Dong”

 

Seketika suara bel menyeruak dari luar rumah. Bukan hal biasa karena saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Entah siapa yang hendak bertamu malam-malam begini. Tanpa mengacuhkannya aku yang saat ini sedang menonton televisi di ruang tamu memutuskan untuk berlalu menuju ke kamar.

 

“Ahra, cepat bukakan pintunya. Ibu sedang sibuk nih…” pekik Ibu dari kamarnya.

 

“Aissh… merepotkan saja” keluhku seraya berbalik dan melangkah  menuju pintu utama dengan terpaksa.

 

Namun saat aku menarik gagang pintu dan membukanya, aku tidak menemukan adanya siapa-siapa disana. Aneh sekali. Padahal bel baru saja berbunyi tapi orang tersebut sudah menghilangkan jejak dengan begitu cepat. Tidak diragukan lagi aku bisa memastikan ini adalah tingkah laku orang iseng yang mencoba mempermainkan penghuni rumahku. Aku mencoba menoleh ke kanan dan kekiri untuk memastikan bahwa benar tidak ada siapa-siapa disana. Tetapi saat aku tanpa sengaja menoleh ke bawah. Aku dikejutkan dengan sebuah kotak bingkisan yang berukuran cukup besar dengan pita abu-abu diatasnya.

 

Aku meraih kotak bingkisan tersebut dan membawanya masuk ke dalam rumah dengan hati-hati. Aku menelitinya dengan seksama. Bisa saja ini adalah sebuah bom atau semacamnya sehingga aku belum berani untuk membukannya. Aku mencoba mengguncang-guncang kotak tersebut untuk menebak apa isinya. Namun aku justru menjadi semakin penasaran.

 

Akhirnya dengan berusaha mengumpulkan segenap keberanian, aku mencoba membuka kotak tersebut sedikit demi sedikit. Jantungku berdegup kencang dan itu membuat tanganku pun ikut bergetar. Saat kotak tersebut telah terbuka dengan sempurna, aku terperanjat dibuatnya.

 

Bingkisan tersebut berisikan sebuah gaun yang sangat indah. Gaun tersebut berwarna gradasi antara biru dan putih. Semakin cantik dengan adanya detail renda dibagian bawahnya. Pada bagian dada gaun tersebut dihiasi dengan accecories berbentuk bunga mawar yang begitu jelita. Seluruh permukaan dress tersebut berlapiskan glitter sehingga nampak kesan cermelang pada setiap helainya. Di bagian pinggul belakang terdapat pita berwarna biru yang semakin menambah kesan anggun pada siapapun yang memakainya.

 

“Wah cantik sekali…” seruku sembari mengangkat dress tersebut. Mataku yang kini begitu berbinar tak bisa lepas darinya. Belum pernah selama hidupku aku memakai gaun seindah ini. Rasanya ingin sekali aku mencoba mengenakannya.

 

“Eh, apa itu?” ujarku saat menyadari adanya sebuah surat kecil di dalam bingkisan tersebut.

Dengan buru-buru aku segera membuka surat tersebut dan membacanya.

 

“Untuk Lee Ahra : Pakailah gaun ini esok saat aku menjemputmu jam 7 malam.” – Suga

 

Aku mengeja satu-persatu kata yang tertera pada surat tersebut. Aku bahkan membacanya lebih dari dua kali untuk memastikan.

 

“Suga..? Siapa itu? Perasaan aku tidak pernah kenal yang namanya Suga.” gumamku.

 

“Apa jangan-jangan dia salah alamat? Eh tapi ada tulisan untuk Lee Ahra kok”

 

“Ahh… Entahlah.” ujarku seraya kembali memalingkan pandanganku pada gaun yang indah tersebut. Aku segera berlari secepat mungkin menuju kamarku karena aku sudah tidak sabar lagi untuk mencobanya. Aku sedang terlalu senang sehingga malas untuk berfikir.

 

(Keesokan harinya)

 

“Ding Dong”

Lagi-lagi bel berbunyi. Namun kali ini berbeda. Rasanya ini pertama kalinya jantungku berdegup kencang setelah mendengar bel rumahku berbunyi. Ya. Itu karena saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Itu artinya seseorang yang hendak menjemputku sudah tiba. Tidak lain dan tidak bukan ia sudah berada di depan pintu sekarang. Aku mencoba memantapkan langkahku menuju pintu utama namun saat aku sudah berada di depannya, aku masih ragu untuk membuka pintu tersebut. Aku belum siap untuk terkejut melihat siapa yang akan muncul dihadapanku nantinya.

Aku menarik nafasku dalam dalam dan  mengehembuskannya. Dengan mengumpulkan segenap keberanian aku perlahan-lahan membuka pintu tersebut dengan mata terpejam. Jantungku berdetak makin dasyat seraya pintu benar-benar terbuka.

 

Saat aku membuka mataku nampaklah sesosok pria yang tengah memunggungiku. Ia mengenakan setelan jas berwarna hitam dengan kedua tangannya yang dengan nyaman dimasukkan ke dalam kantong celananya. Sepertinya ia menyadari bahwa aku telah membukakan pintu untuknya sehingga ia lekas membalikkan badanya.

 

Deg!

Aku hampir melonjak kaget melihat siapa yang ada dihadapanku sekarang. Rasanya jantung hampir lepas atau sepertinya aku akan pingsan beberapa saat lagi.

 

“Min Yoongi-sunbae…” tuturku kaget dengan bibir yang bergetar.

 

“Oh, kau sudah siap? Kalau begitu ayo kita berangkat..” ujarnya tenang sembari meraih tanganku dan menggandengnya.

 

“Ta…ta…tapi…” cegahku seraya menahan tangannya.

 

“Aku sedang menunggu seseorang ….” ucapku.

 

“Siapa?” tanyanya.

 

“Seseorang bernama Suga. Ia bilang akan menjemputku…” jawabku.

 

“Hahaha….” tawanya pelan.

 

“Kau bercanda ya? Itu aku!” ucap Yoongi-sunbae sambil menggandeng tanganku kembali dan kami bersama menaiki sebuah mobil dengan tujuan yang masih aku belum ketahui sama sekali. Suasana menjadi cukup canggung karena kami hanya berdua di dalam mobil. Dalam perjalanan aku mencoba untuk mengutarakan rasa penasaranku akan apa yang sedang terjadi saat ini.

 

“Tapi bagaimana bisa Suga adalah Yoongi sunbae…? Aku masih tidak mengerti.” tanyaku bingung.

 

Sembari menyetir ia pun menjelaskan, “Sebenarnya Suga adalah nama julukanku. Tadinya semua orang memanggilku dengan nama itu karena kata mereka aku memiliki kulit yang sangat putih dan senyum yang sangat manis seperti gula.”

 

“Namun, semenjak kejadian setahun yang lalu. Aku melarang semua orang untuk memanggilku dengan nama itu lagi. Karena aku memutuskan untuk…….tidak akan pernah tersenyum lagi….”paparnya ia pun sedikit tertunduk saat menceritakannya. Entah benar atau tidak tapi ia terlihat seakan sangat menyesal dengan keputusannya itu.

 

“Tapi mulai hari ini. Aku rasa siapapun boleh memanggilku dengan nama itu lagi…” imbuhnya.

 

“Karena….”  ia menghentikan kata-katanya sembari melirik kearahku.

 

Entah kenapa ia membiarkan kata-katanya menggantung begitu saja. Apa maksudnya karena ia akan tersenyum kembali mulai sekarang? Ah sejujurnya aku merasa sangat penasaran dengan kelanjutan ceritanya namun aku tau aku tidak sedang berada dalam posisi mampu untuk memaksanya meneruskan. Karena itu aku hanya bisa menahan diri seraya menanti tibanya kami di tempat tujuan yang entah dimana dan seperti apa. Aku memandangi jalanan lewat kaca bening yang berada di sampingku, pikiranku melayang menantikan apa yang akan terjadi setelah ini.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

“Kita sudah sampai” katanya seraya memarkirkan mobil dan turun membukakan pintu untukku. Aku mencoba menerawang tempat apa yang sedang kami datangi ini. Tanpa diduga kami berada pada sebuah gedung teater bioskop. Sembari melangkah mengikuti Yoongi-sunbae, aku memperhatikan tempat yang cukup luas tersebut. Ratusan kursi tertata rapi menghadap pada sebuah layar besar yang ada di depannya. Gedung bioskop tersebut terlihat sedang akan memainkan sebuah film, namun anehnya benar-benar hanya ada kami berdua disana. Kamipun duduk bersebelahan dan bersiap menyaksikan film tersebut.

 

Di awal scene film tersebut nampak sebuah pemandangan lingkungan dengan suasana yang begitu mendung dan suram. Bunyi guntur dari langit menyambar dengan keras berkali-kali. Angin kencang berhembus menyebabkan pepohonan terombang-ambing kian kemari. Semua orang berlarian mencari tempat berlindung. Semua orang terlihat panik karena adanya kabut yang menghalangi pandangan mereka sehingga sulit untuk melihat. Awan semakin gelap dan semakin gelap gulita. Tak berapa lama hujan yang sangat deras pun turun membasahi bumi. Semakin lama semakin lebat dan tak terelakkan. Petir pun seakan tak mau kalah menyambar dengan kuat. Bahkan ada salah satu pohon yang tumbang karena tidak kuat menahan dorongan angin yang begitu dasyat. Hal itu merupakan pemandangan yang menakutkan karena seolah-olah hujan lebat tersebut tidak akan pernah berakhir.

 

Namun nyatanya setelah belasan menit berlalu  hujan lebat tersebut pun kian lama kian surut. Dan tidak berapa lama hujan tersebut pun mereda dengan sendirinya. Perlahan tapi pasti awan kelam kelabu yang tadinya menutupi langit makin tersamar, hilang, dan pergi. Angin yang mengamuk hebat sedari tadi mulai melembut dan kembali seperti semula. Semua pepohonan tidak lagi bergejolak hebat sehingga para burung yang tadinya kesulitan mencari tempat berlindung dapat  kembali padanya dengan damai. Suara petir yang menakutkan tergantikan dengan kicauan burung yang berceloteh riang tiada henti. Satu persatu orang-orang keluar dari tempatnya berteduh dengan senyum merekah dan melanjutkan aktivitas mereka dengan bahagia. Namun saat mereka semua memandang ke langit, semuanya seolah terperanjat melihat keajaiban alam yang hadir di hadapan mereka. Tak sedikit dari mereka yang berusaha mengabadikannya potretnya lewat kamera. Ya. Sebuah pelangi melengkung indah bertahta diatas langit bagaikan sebuah bingkai. Sungguh keajaiban yang tak ternilai. Semua ketakutan, kelelahan, kepanikan, kekelaman yang tadinya menyeliuti terganti sudah oleh sebuah karya Tuhan yang sempurna.

 

Film tersebut pun berakhir. Aku agak terkejut menyadari tiba-tiba seseorang menggenggam tanganku dan kini menatap kedua mataku dengan lembut tanpa melepaskannya sedetikpun.

 

“Ahra….. pelangi itu adalah kamu….” bisiknya.

 

“Sebenarnya aku ingin mengatakan bahwa kedaaan saat hujan lebat itu adalah hidupku saat semua kejadian buruk dan menyakitkan itu menimpaku tanpa ampun. Bagaikan petir, bagai hujan, dan bagai puting beliung yang meluluh lantahkan semuanya. Hati, perasaan, dan harapanku semuanya hancur dalam waktu yang bersamaan. Kau tau, pada saat itu aku pikir hidupku sudah berakhir…..” ujarnya.

 

“Tapi kamu hadir Ahra, dan kamu mengubah segalanya……. Kau membuatku sadar bahwa semuanya belum berakhir. Aku masih memiliki harapan dan masa depan,

 

“Kau adalah pelangi bagi hidupku karena kehadiranmu membuat hidupku kembali cerah dan berwarna……. “

 

“Ahra, kau memampukanku tersenyum lagi seperti dulu dan melupakan masa laluku…”

 

“Terima kasih…” ucapnya seraya tersenyum manis. Kedua mata indahnya masih memandangku dengan begitu dalam bersirat ribuan makna dan ketulusan.  Aku tak mampu menahan air mataku lagi untuk mengalir. Luapan kebahagiaan ini seakan tak terbendung. Sejujurnya bagiku ini seperti sebuah mimpi. Tanpa aku sadari, diluar dugaanku semua usahaku selama ini untuk membuat orang yang aku cintai menemukan semangat hidupnya kembali ternyata tidaklah sia-sia. Walau aku tidak tau pasti bagaimana ini bisa terjadi tapi yang jelas kini aku percaya bahwa yang namanya keajaiban itu ada.

 

“Jangan-jangan…. yang mengirimkan pesan di depan lokerku itu…. sunbae?” tanyaku.

 

Ia mengangguk cepat. “Ayo ikut aku….” ajaknya seraya membantuku berdiri dan beranjak dari bioskop tersebut menuju sebuah ruangan yang terbuka.

 

“Aku punya sebuah kejutan untukmu…. Bersiap ya, 1….2….3….” Yoongi-sunbae menjentikkan jarinya dan seketika itu pula semua pohon-pohon yang ada di sekeliling kami menyala. Saat ini ia bagaikan pesulap yang tengah melakukan atraksinya. Pohon-pohon tersebut ternyata sudah dilengkapi lampu dengan warna-warni yang indah. Suasana malam ini yang tadinya gelap gulita seketika berganti dengan kemerlap lampu dari puluhan pohon yang ada di sekeliling saat ini. Aku bagaikan sedang berada di negeri dongeng.

 

“Wahh…. indah sekali…!” seruku.

 

Namun pandanganku tiba-tiba tertuju pada salah satu pohon yang memiliki lampu yang berbeda sendiri dengan lampu pada pohon-pohon yang lainnya. Lampu pada pohon tesebut membentuk sebuah simbol musik. Simbol yang tidak asing bagiku karena mengingatkanku pada sesuatu. Aku memandangi Yoongi-sunbae dengan pandangan penuh tanda tanya. Ia pun hanya membalasnya dengan tersenyum simpul dan mengambil sesuatu dari kantong celananya.

 

“Tada…!”  ucapnya sembari menunjukkan dua buah kalung. Yang satu adalah kalung berbentuk simbol musik yang pernah ia berikan padaku, dan yang lainnya lagi adalah pasangan dari kalung tersebut yang berbentuk hati namun memiliki lubang dengan bentuk simbol musik. Menjadi seperti sepasang puzzle.

 

“Wah? Jadi kalung ini ada pasangannya…?” tanyaku terkejut.

 

“Sejujurnya pada awalnya aku tidak percaya… tapi ternyata apa kata ibuku memang benar…” jawab Yoongi sunbae.

 

“Tentang apa….?” tanyaku lagi.

 

“Sebenarnya kedua kalung ini adalah milik ayah dan ibuku. Mereka membeli kalung ini saat mereka masih remaja. Ayahku memberikan kalung ini pada ibuku saat mereka harus berpisah karena berkuliah di kota yang berbeda. Ayahku bilang asal ibuku selalu menyimpan kalung ini, suatu saat takdir akan mempertemukan mereka kembali. Dan benar saja, 5 tahun kemudian mereka bertemu kembali tanpa sengaja dan akhirnya menikah.” paparnya.

 

“Sewaktu aku kecil ibuku memberikan kedua kalung ini kepadaku. Katanya aku boleh memberikan salah satu dari kalung ini pada cinta pertamaku. Dengan begitu takdir akan mempertemukan kami lagi.” ujar Yoongi sunbae.

 

“Ja….ja-di…?” aku menyadari sesuatu.

 

“Ya…. Kau adalah cinta pertamaku. Waktu itu aku memberikan kalung ini padamu karena aku ingin kita bisa bertemu lagi.” jawabnya mantap.

 

“Maaf ya… aku terlambat mengenalimu.Maafkan aku juga yang selalu membuatmu menangis….” sesalnya. Ia pun memakai kalung itu dan mengenakan pasangannya pada leherku.

 

“Aiishhh! Kau sadar tidak sudah ke berapa kalinya kau membuatku terkejut hari ini?! Kalau aku jantungan memangnya mau tanggung jawab ?!” omelku sambil memukuli punggungnya.

 

“Karena hari ini adalah D-day ku! Karena itu aku harus mengungkapkan semuanya…” balasnya seraya terkekeh.

 

“Oh iya! Masih ada satu lagi yang belum kukatakan….” ucapnya tatkala mengingat sesuatu.

 

“Apa lagi….?  Ah sudah ah aku tidak mau dengar!” candaku sembari menutupi kedua telingaku.

 

“Kau sangat cantik…” tuturnya.

 

“Apa?” tanyaku berpura-pura tidak mendengar.

 

“LEE AHRA KAU BENAR-BENAR CANTIK !!” teriaknya.

 

“Aishh… paling-paling hanya karena aku memakai gaun indah ini kan?” tukasku.

 

“Bukan… Maksudku bukan hari ini! Tapi setiap hari! Sejak pertama kali aku melihatmu, dan berapa kalipun aku melihatmu kau selalu cantik, dan aku selalu jatuh cinta padamu lagi dan lagi…” tuturnya seraya menatap mataku dalam dan membuatku membeku sesaat.

 

“Ya.. Aku mencintaimu Lee Ahra. Dan aku tidak akan pernah menyembunyikannya lagi mulai hari ini…” ucapnya sembari mengecup keningku dan kemudian memelukku dengan erat.

 

“Aku…… juga mencintaimu. Berjanjilah untuk menjadi Suga yang terus tertawa dan tersenyum seperti ini…” pintaku seraya menyodorkan jari kelingkingku.

 

“Aku janji…. pelangiku….” kami pun mengaitkan jari kelingking kami.

 

THE END

 

Everything will be okay in the end.

If it’s not okay it’s not the end.

Kenapa No rain no rainbow?

Karena tidak akan ada pelangi kalau tidak ada hujan.

Jika kamu mengalami hujan lebat, bahkan badai yang dasyat di hidupmu,

Berbahagialah karena itu artinya sebentar lagi pelangi yang indah akan datang di hidupmu

When life gives you a hundred reasons to cry,

show life that you have a hundred reasons to smile

 

Advertisements

One thought on “[BTS FF Freelance] No Rain No Rainbow – (Chapter 3/Threeshoot)

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s