[BTS FF Freelance] Sambal Kacang – (Ficlet)

bnw-moodboard

SAMBAL KACANG

.

Author Nadyaputri | Cast Park Jimin (BTS), Khatarina Jung (OC), slight!Jung Hoseok (BTS) | Length Ficlet | Genre Friendship, Comedy, School life, slight!Romance

.

Ia baru saja mengalami ‘pelecehan’, tapi oknum yang mendeklarasikan diri sebagai sahabatnya malah tertawa heboh.

.

“Edan! Jung Hoseok edan!”

Menerobos pintu kelas dengan menghentakkan kaki bak penari leak dari Bali sana sembari merapal keras-keras mantra bermuatan tiga kata (‘Jung’, ‘Hoseok’, dan ‘edan’), Khatrin sukses menyerap atensi seisi kelas. Menilik kelakuannya, agaknya yang lebih layak dilabeli predikat ‘edan’ adalah Khatrin sendiri. Beruntung tidak banyak orang di kelas, mengingat pada jam istirahat seperti sekarang popularitas kantin mengalahkan sudut mana pun di sekolah.

Tanpa mengindahkan berpasang-pasang manik yang bergulir ke arahnya, Khatrin merajut langkah menuju bangkunya di deretan belakang dan menghempaskan diri di sana dengan brutal. Yah, silakan bayangkan bunyi tidak mengenakkan yang timbul saat tubuh kurus beradu dengan kursi kayu.

What the hell is going on?” Sepotong kalimat tanya mengudara dari katup bibir teman sebangkunya, Jimin—yang kemungkinan besar masuk ke spesies kue mochi hidup karena bulat, putih, dan bisa bicara. “Dan mana batagor pesananku?” Ya, Park Jimin memang kadang suka tidak tahu diri.

Disambut kebisuan, Jimin menjadi siaga. Ini pertanda buruk; beberapa menit lalu Khatrin masih memekik penuh histeria seperti orang kesurupan, namun sekarang tak satu silabel pun lolos dari bibirnya untuk menjawab pertanyaan Jimin.

“Hei, Khat, ada apa? Apakah batagorku tumpah dalam perjalananmu dari kantin ke sini?”

“Jung Hoseok edan!”

Mantra itu merebak lagi, menyadarkan Jimin bahwa penyebab semua kehebohan ini adalah Hoseok—kekasih Khatrin. Well, secara teknis, Hoseok dan Khatrin memang sepasang kekasih. Namun realitanya, tak seharipun keduanya lalui tanpa keonaran. Selalu saja ada problema remeh—macam kaus hijau milik Hoseok yang menurut Khatrin warnanya merusak mata—yang berpotensi meledak menjadi pertikaian.

Biasanya perselisihan-perselisihan itu akan pudar dengan sendirinya seiring dengan tawa yang kembali mengalir. Dengan kata lain, mereka tidak pernah tahan bertengkar lama-lama. Namun berkaitan dengan yang satu ini, Jimin agak ragu.

“Kali ini kenapa?” Nada khawatir tersirat dalam pertanyaan Jimin. “Hoseok tidak menghamilimu, ‘kan?”

Mulut Jimin memang kekurangan sesuatu yang dinamakan ‘filter’. Maka jangan salahkan Khatrin kalau ia mendaratkan tamparannya ke pipi Jimin. Tidak begitu keras, sih, tapi tetap sukses membuat Jimin mengaduh.

“Tolol! Kau dan siluman kuda itu memang sama-sama tidak waras!” Wah, wah, ini semakin tidak sehat. Khatrin mulai membawa-bawa perkara fisik; menyamakan kekasihnya sendiri dengan kuda, merujuk pada gigi Hoseok yang memang—sorry to say—agak besar-besar.

“Habisnya, kau kutanya malah diam saja. Aku ‘kan cuma menebak,” Jimin menyuarakan pembelaan seraya mengelus-elus bekas tamparan Khatrin di pipinya.

“Tidak sampai menghamili, sih. Cuma mencium saja tadi di kantin.”

“Buset,” Jimin bersiul, “boleh juga si Hoseok.”

“Boleh juga gundulmu itu!” sewot Khatrin. “Aku malu sekali, sumpah. Semua orang di kantin bersorak seakan ada personil Bigbang melintas.”

Tawa Jimin menyembur, menerbitkan keinginan Khatrin untuk melemparnya ke Sungai Han sekarang juga. “Tahu-tahu dia menciummu, begitu? Atau bagaimana?”

“Katanya ada sisa sambal kacang di sudut bibirku, jadi dia berinisiatif untuk membersihkannya.”

Gelak tawa Jimin kembali membahana, kali ini berlipat kali lebih bernafsu. Pakai acara memegang perut sambil memukul-mukul meja segala. Terang saja Khatrin meradang. Ia baru saja mengalami ‘pelecehan’, tapi oknum yang mendeklarasikan diri sebagai sahabatnya malah tertawa heboh.

“Nona Jung, lihat, mukamu merah. Kau ini benar-benar tidak bisa menyembunyikan, ya, kalau sedang tersipu? Lain kali kalau memang menikmati ciumannya, tidak usah sungkan untuk bilang.”

Sekali lagi, Jimin harus merelakan pipi mulusnya menjadi sasaran keberingasan Khatrin. Mungkin Khatrin kecanduan efek membal yang timbul ketika telapak tangannya menyapa pipi Jimin lantaran gumpalan daging itu amatlah tembam, mungkin juga Khatrin merasa harus memberi pelajaran kepada sahabatnya yang punya mulut minta diplester itu. Sepertinya opsi kedua lebih memungkinkan, menilik gelagat Khatrin bertolak dari sana dengan ransel tersampir di bahu menuju bangku lain di deretan depan yang menandai dipecatnya Jimin sebagai teman sebangku Khatrin.

“Park Jimin brengsek.”

Advertisements

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s