[BTS FF Freelance] You Call It Love – Chaptered

65

You Call It Love

Story by PutrisafirA255

Min Yoongi (BTS) | Jung Hyejin (OC) | Jeon Wonwoo (Seventeen)

And other cast

AU, School life, Romance, Drama, Fluff, Hurt/Comfort, etc.

「Incheon, South Korea」

PG-15

Multi Chapter

This fiction dedicate to my Friend, who called Yoonhye.

I hope you reads and know how much I love you, friend.

“They just never know if I love you”

 

Hawa dingin semakin menusuk kulit putihnya yang hanya berbalut seragam sekolah biasanya. Hari ini memang benar-benar sial bagi gadis bermarga Jung itu. Ia tak melihat prakiraan cuaca, hingga akhirnya dirinya harus menunggu di halte bis dengan kedua tangan mengusap lengan.

Yang lebih sial daripada kesialannya hari ini, bis tak kunjung datang. Padahal ia sudah menunggu lebih dari tiga puluh dengan tubuh menggigil. Beberapa orang yang ada di sekitarnya pun sebenarnya merasa iba, namun mau apa lagi? Mereka juga butuh mantel masing-masing untuk menghindari dingin yang semakin menjadi.

Meskipun demikian, semua teori ‘mantel milik sendiri’ tak berlaku bagi pria yang ada di sebelah gadis itu. Terbukti, ketika ia berdiri dan melepasnya, mantel itu diberikan kepada Jung Hyejin—nama gadis itu. Tak perlu ditanyakan bagaimana reaksi terkejut yang Hyejin berikan. Gadis itu hanya menatap mantel yang diulurkan, lalu terarah menuju sang empu.

Sirheo?” tanyanya. Ia hanya tak suka ketika bantuannya hanya dijadikan sebagai pemandangan langka dan perlu diperhatikan dengan seksama. Hyejin yang kembali sadar dari alam bawah sadar lantas mengambilnya cepat. Enggan membiarkan keberuntungan yang datang dengan sia-sia.

“Terima kasih,” ujarnya dengan segaris senyum yang ia paksakan ketika rasa terkejut masih mendominasi. Setumpuk kuriositas yang hendak ditanyakan pun urung dilakukan. Kendati ingin berkenalan pun segera ia enyahkan dari pikiran kala melihat seragam yang tak lagi tertutup mantel itu menarik perhatiannya.

“Kau dari Incheon Haesong High School ?” tebak Hyejin sembari menunjuk pria itu menggunakan jari telunjuknya dengan raut muka kentara terkejut sekali. Pria itu hanya diam, malas menimpali. Hyejin pun akhirnya mengalah ketika pria itu mengambil langkah meninggalkannya masuk bis. Hyejin pun hanya bisa menggerutu sambil masuk menuju bis. Dapat ia lihat name tag pria itu saat sudah duduk di salah satu kursi yang dekat dengan jendela. Pandangannya menuju keluar, tanpa memedulikan keadaan sekitar. Seolah pemandangan itu lebih menarik dari apapun.

Tak ada bangku kosong lain yang tersedia, Hyejin dengan terpaksa duduk di samping pria itu. Membuang pandangan ke depan tanpa minat, walau sebenarnya pikirannya penuh dengan pria di sebelahnya. Kenapa pria itu baik sekali padanya? Mereka bahkan tak mengenal satu sama lain.

Tadi, sempat ia lihat name tag milik pria itu. Namanya sangat familiar di telinganya. Tidak! Bukan hanya di telinganya tetapi juga dalam ingatannya. Mengais ingatan masa lalu yang sudah terjadi, beberapa menit kemudian Hyejin membelalak. Ia baru ingat kalau pria itu adalah pria yang mencampakkan sahabatnya.

Sahabat Hyejin—Lee Hanna—menyukai pria yang bernama sama seperti pria di sebelahnya. Min Yoongi. Pria yang tinggi dengan raut wajah dingin yang terkesan maskulin itu membuat sahabatnya jatuh cinta. Namun, ketika Hanna mengatakan perasaannya, pria itu menolak. Dan berakhirlah dengan tangis Hanna yang memekakkan telinga keesokan harinya.

Terlalu lama berkutat dengan pikirannya sendiri, Hyejin akhirnya bangun dari lamunannya ketika sebuah deheman bariton terdengar di telinga. Ternyata, pria bermarga Min itu hendak keluar, namun terhalang oleh kaki Hyejin. “Mian,” ujarnya kikuk, namun kembali tak digubris. Pria bernama Min Yoongi itu justru melenggang pergi tanpa memerdulikannya.

“Dasar pria menyebalkan!”

.

.

.

Sesampainya di rumah, Yoongi justru melenggang pergi tanpa menyapa ataupun memberi salam kepada ibunya. Pria bermarga Min itu enggan membuang suara baritonnya hanya untuk beramah-tamah dengan sang ibu. “Kau sudah pulang?”

Yoongi pun hanya menghentikan sebentar langkahnya. Menoleh, lalu menundukkan kepalanya sebagai rasa hormat. Dan lagi-lagi, tak ada suara Yoongi yang biasanya membuat sang ibu tersenyum bahagia. Kini, hanya ada aura dingin yang menguar bak balok es berjalan.

Dulu, Min Yoongi tidak seperti itu. Pria itu periang, pandai dan suka mencairkan suasana. Namun, tak lagi ketika sang ibu mencari pendamping sebagai pengganti ayahnya yang tak lama meninggal. Tentu saja permasalahannya sangat jelas. Belum genap satu tahun Tn. Min meninggal, ibunya menikah dengan seorang pengusahan besar ternama, Samsung Group.

Itu sudah menjadi pukulan telak bagi kehidupan Yoongi. Setelah ayahnya meninggal, ibunya menikah dengan orang lain dengan dalil; ini semua demi kehidupan Yoongi. Maka dari itu, semua berubah bak Revolusi Perancis. Terlalu cepat, hingga tak biasa dipahami. Perubahan sifat yang telah Yoongi lakukan itu membuat ibunya sangat sedih. Namun, mau dikata apa? Ny. Min tak mau menampakkan kesedihannya. Beliau harus kuat, karena langkah yang beliau ambil itu hanya semata-mata untuk Min Yoongi—anak semata wayangnya.

Dan Yoongi sendiri pun tak mau tahu. Menjadi anak tiri dari seorang pemilik Samsung Group tak membuatnya manja. Ia bahkan mempunyai kerja paruh waktu di sebuah restoran italia saat malam, dan selalu mengikuti lomba agar mendapat uang tambahan dari gasil kerja kerasnya sendiri.

Yoongi tak mau tahu perihal hubungan ibunya dan juga pengusaha itu. Karena, semua fakta yang sudah terlalu sudah membuat dirinya berubah 180 derajat. Ia benci menjadi orang lain. Namun harus bagaimana? Ia tak bisa bercakap dengan orang lain. Dan sudah dipertegas selama beberapa bulan terakhir semenjak ibunya menikah dengan seorang pengusaha bernama Lee Hanbin, ia membenci silsilah keluarga Lee.

Maka dari itu, Lee Hanna yang satu sekolah sekaligus satu angkatan dengannya yang menjadi korban. Di jauhi lantas diabaikan, seolah tak ada gadis yang bernama Lee Hanna. Apalagi saat Yoongi tahu kalau gadis itu menyukainya, tentu saja ia menolak. Dan setelah itu, barulah Hanna bisa mengerti kenapa Yoongi menolaknya. Alasannya logis, mereka saudara tiri yang dengan mendadak dipersatukan melalui hubungan resmi yang menyedihkan.

Mencoba mengeyahkan semua pikiran yang terlintas otak cerdasnya, Yoongi lantas mengambil handuk. Mengalungkan di leher, lalu melenggang pergi menuju kamar mandi. Mendinginkan kepalanya yang selalu mendidih ketika memikirkan semua masalah yang sudahh ia alami.

Tak sampai dua puluh menit, Yoongi keluar dari kamar mandi. Mengacak rambut hitamnya dengan handuk, lalu menghampiri tempat tidurnya. Mengambil ponsel lima inchi buatan Samsung yang hendak ia buang, namun belum bisa membeli gantinya. Hidup Yoongi benar-benar sial.

Nampak dari layarnya, sebuah notifikasi LINE dari Taehyung—teman sekelasnya—yang sudah memenuhi layarnya. Agaknya pria Kim itu sudah sangat merindukannya—pikir Yoongi. Tak menunggu lama, Yoongi lantas membuka kunci ponselnya, lalu membalas pesan dari Taehyung.

From: KimTae

Temani aku, Hyung!

 

To: KimTae

Baiklah. Jam sepuluh malam aku kerumahmu.

Yoongi lekas mengganti baju rumahannya dengan kemeja merah tua bermotif kotak-kotak berwarna hitam yang menampakkan kesan maskulin. Tak lupa, jeans Levi’s kebanggaannya pun ikut dipasangkan dengan kemeja. Setelah ponsel sudah masuk ke dalam jaket, barulah pria Min itu membuka pintu. Menampakkan sang ibu yang tengah makan sendiri.

“Kau mau kemana?” tanya Ny. Min kala mendapati anaknya sudah keluar kamar dengan pakaian rapi. Yoongi pun hanya menjawab singkat. “Pergi,”

Dua silabel yang tergabung menjadi satu kata itu membuat sang ibu kembali menimpali. Mencoba mengingatkan walaupun tak akan digubris oleh sang empu. “Nanti malam ayahmu akan makan malam di rumah.” Ujarnya. Yoongi menghentikan langkahnya. Agaknya ada kalimat yang menari atensinya untuk lekas di sahut. “Ayah?” Yoongi membeo.

“Dia bukan ayahku”

“Yoongi-ah,”

“Aku pergi. Sampaikan salamku pada ahjussi.” Hanya itu kalimat terakhir yang diucapkan Yoongi sebelum menghilang dari balik pintu rumah mereka. Ny. Min hanya bisa menghela napasnya. Beliau hanya pusing ketika dihadapkan sengan dua pilihan. Hati atau masa depan Yoongi.

.

.

.

“Kau sudah mengerjakan tugasnya?”

Suara bariton itu sudah menggema, namun tak digubris oleh lawan bicaranya. Gadis Jung itu tak menimpali sang sahabat yang sudah sejak tadi mengajak bicara mengenai tugas yang harus dikumpulkan besok. “Hyejin?” panggil pria itu. Namun, lagi-lagi diabaikan oleh sang empu.

“Jung Hyejin!”

“A-Apa?” Hyejin hampir memekik jika saja tatapan pria dihadapannya tak mengunci iris coklatnya. Ah. . Hyejin terlena lagi. “Apa yang kau pikirkan?”

Awalnya Hyejin ingin berbohong kalau tak ada kejadian apapun yang mengganggu pikirannya, lalu mengalihkan pembicaraan menuju tugas. Namun, otaknya justru meminta lain. Ia malah mengatakan apa yang dipikirkannya tanpa mengatakan secara langsung. “Wonwoo-ah, bolehkah aku bertanya?”

Dengan sedikt keraguan yang mengganggu kuriositasnya, Wonwoo pun mengangguk. Hyejin mencoba mengatur napasnya sebelum akhirnya ia kembali membuka suara. “Bagaimana jika seorang laki-laki yang tak kau kenal memberikan mantelnya pada perempuan yang tidak kau kenal juga? Bukankah itu aneh?”

Mendengar penuturan Hyejin, Wonwoo menyernyit. Apakah yang dimaksud Hyejin adalah gadis itu sendiri dengan orang lain? Mencoba menjadi rasional, Wonwoo akhirnya menimpali. Walau ada sedikit rasa cemburu  yang terlintas di dalam benaknya. “Aku rasa dia penggemarmu.”

Hyejin pun hanya menggangguk—membenarkan. Tapi, tunggu! Penggemarmu? Apa Wonwoo tahu kalau gadis yang dimaksud Hyejin adalah . . dirinya sendiri?

“A-apa maksudmu dengan penggemarku?”

“Kau bilang seorang gadis ‘kan? Tentu saja itu kau. Tidak mungkin kau memikirkan tentang Hanna. Iya ‘kan?” tanya Wonwoo dengan sederet kuriositas yang sudah terealisasikan menjadi sebuah kalimat tanya yang sialnya berhasil membuat Hyejin skak mat. Sok tahu!” cibir Hyejin cepat.

Wonwoo melepaskan kaca matanya, lalu menyandarkan punggung tegapnya pada sandaran kursi. “Memangnya siapa namja itu? Apa dia lebih tampan dariku sampai kau memikirkan hingga sebegitu pusingnya?” tanya Wonwoo. Hyejin terdiam. Kalau dilihat-lihat, pria itu tidak terlalu tampan seperti Sehun—pria populer di sekolahnya. Namun, pria itu manis dengan segudang misteri yang perlu dipecahkan.

“Yah. . tidak terlalu. Tapi, aku rasa dia ma—”

Kalimat Hyejin terhenti. Hyejin gila! Kenapa kau mengatakan dengan sebegitu jujurnya kalau pria itu manis. Benar-benar gila! Hendak mengindari pertanyaan Wonwoo yang selalu bisa menyudutkan dirinya, Hyejin akhirnya bangkit dari bangku taman, lantas mengakhiri kerja kelompok secara sepihak. “Aku rasa kita butuh Hanna untuk menyelesaikan. Dia ada acara malam ini, jadi tidak bisa datang.” Jabarnya. Wonwoo yang tak tahu maksud kalimat Hyejin hanya menatap kepergian gadis Jung itu.

“Aku cemburu, kalau kau mau tahu, Hyejin-ah.” Gumam Wonwoo pelan. Hingga angin pun dengan mudah menenggelamkan dua belas silabel itu. Biarkan hanya Wonwoo yang memendam perasaannya, meskipun Hyejin tak tahu bagaimana perasan pria Jeon itu. Terlampau cinta untuk ditinggalkan, dan terlampau sayang untuk dipermainkan. Wonwoo dalam posisi dilema.

.

.

.

Yoongi lebih memilih berjalan kaki menuju rumah Taehyung. Agar ia bisa beralasan tak ada kendaraan saat acara makan malamnya. Jaraknya pun tak terlalu jauh. Sekitar satu kilometer dari rumahnya. Sepatu Adidas putih miliknya pun diajak menerobos hawa dingin yang menusuk. Membuat jejak tak kasat mata di atas aspal, dengan earphone terpasang di kedua telinganya. Namun, belum genap sepuluh meter pun akhirnya terhenti.

Gadis itu. . Apakah Yoongi tak salah lihat? Matanya belum mengalami rabun jauh ‘kan? Seseorang, tolong Yoongi bangun dari mimpi buruknya yang akan bertambah buruk seiring pertemuannya dengan gadis itu. Gadis yang ia bantu saat kedinginan di halte, dan membiarkan mantel pemberian ayahnya diberikan. Ya, Yoongi tak salah lagi.

Tak menunggu lama, Yoongi akhirnya menjejakkan kakinya demi mengejar gadis itu—Hyejin. “Kya! Kau yang di sana!” pekik Yoongi dengan jari telunjuk mengarah pada Hyejin. Gadis Jung itu peka untuk mengertu bahwa panggilan itu ditujukan untuknya. Maka dari itu, Hyejin lekas berbalik. Menatap sumber suara dengan mata membulat.

“Bukankah kau gadis yang tadi?” tebak Yoongi yang memang benar adanya. Hyejin pun hanya terdiam sembari memasang mimik muka terkejut, namun masih terkesan imut. Salahkan Yoongi yang sudah terpesona walau ini pertemuan untuk yang kedua kalinya.

Hyejin yang sudah mulai sadar akhirnya angkat bicara. “Kau pria yang meminjamkanku mantel? Kenapa kau bisa ada di sini?” tanya Hyejin. Gadis itu tak habis pikir bagaimana pria itu bisa tahu dimana rumahnya. Sedangkan Yoongi, ia bingung merangkai kata-kata dingin yang biasanya ia ucapkan. Entah kenapa dan dirinya pun juga tak tahu, tiba-tiba saja hatinya menghangat kala wajah putih dengan pipi pualam yang menggemaskan itu dilihat dari jarak yang dekat.

“Rumahku di perumahan ini.” Ujar Yoongi tenang, walau raut muka terkejut masih terpasang samar. Hyejin kembali membulatkan matanya. “Rumahmu dekat di sini?” Hyejin mengulangi beberapa kata dan mengkonversikannya menjadi sebuah kalimat tanya. Yoongi pun mengangguk.

Hyejin akhirnya teringat dengan kata-kata ibunya yang berkata bahwa ada tetangga baru yang akan menempati rumah kosong di sampingnya. Ia pun kembali menyuarakan pertanyaan berkaitan dengan hipotesis tak berdasar miliknya. Namun, kalimat tanya itu berubah menjadi sebuah kalimat perintah yang ingin jawabannya sebuah pernyataan. “Jangan bilang kalau kau tetangga yang baru pindah di samping rumahku?!”

Yoongi menyernyit. Ia memang baru saja pindah satu minggu sebelum masuk sekolah. “Memangnya kenapa?”

“Jadi, kau benar tetanggaku?”

“T-tetanggamu?!”

.

.

.

“Sial. . sial. . sial!”

Entah berapa kali umpatan Yoongi menggema, yang pasti pria itu tak puas mengumpat satu kali. Bahkan Taehyung yang bermain PSP di sampingnya hanya bisa menatapnya aneh. Karena kepedulian sebagai seorang sahabat, Taehyun akhirnya mengangkat tangan kirinya, lantas mempertemukan punggung tangannya dengan dahi Yoongi. Sepertinya pria Min itu demam—pikir Taehyung.

“Apa yang kau lakukan!”

“Kau tidak panas,” sahut Taehyun. Pria itu justru menutup bibirnya yang hampir menganga sepenuhnya. “Apa jangan-jangan kau. . gila? Kita harus pergi ke dok—”

PLAK

Suara itu membuat siapapun menjadi iba dengan Taehyung. Pasalnya Kim itu menjadi korban pemukulan kepala oleh Yoongi. Bahkan pria bermarga Min itu nampak tak merasa bersalah. “Bisa kau diam, Kim Taehyung?! Kalau kau tidak bisa diam, aku akan pulang.” Ancam Yoongi yang mendapat cengkeraman pada lengannya. “Hyung, aku dirumah sendiri. Kau tidak kasihan padaku apa?”

“Tidak,” sahut Yoongi pelan. Pria itu lekas mengambil PSP milik Taehyung yang tergeletak di atas meja. Setelah itu, ia melanjutkan permainan Taehyung yang sebelumnya terganggu oleh kedatangan Yoongi. Taehyung pun hanya bisa bungkam dan mengambil langkah menuju dapur. Mencari sesuatu yang bisa dimakan, daripada harus menatap Min Yoongi yang keasyikan main PSP-nya.

Taehyung akhirnya membuka kulkas. Mencari sesuatu di sana. Namun, belum sempat mengambil soda dan juga coklat kesukanya, ponselnya terlebih dulu berdering. Memecah keheningan yang memang sebelumnya sudah tercipta. “Ada apa, Hye?”

“Sekarang?” tanya Taehyung saat mendengar suara gadis di sana mengharapkan kedatangannya. Taehyung harus bagaimana? Ia tak bisa meninggalkan Yoongi, namun ia juga tak bisa menolak permintaan gadis itu. Mengingat kalau gadis itu adalah satu-satunya harapan untuknya agar tak sendiri.

“Sepuluh menit, aku akan sampai di rumahmu. Oke?”

Setelahnya, Taehyung lekas memutuskan sambungan. Mengacak rambutnya frustasi lantaran bingung mencari alasan. Ia belum pernah merasakan kebimbangan seperti ini sebelumnya. Taehyung bahkan tak ragu jika membolos jam pelajaran matematika bersama Jimin maupun kakak Hyejin—Jung Ho Seok, atau lebih dikenal sebagai J-Hope.

Tiba-tiba Taehyung menghentikan acar mengacak rambut hitamnya. Ia bahkan sempat menyunggingkan senyumnya kala ide terlintas dibenaknya. Ya! Ia tahu bagaimana caranya mengelabuhi Yoongi dengan mudah. Walaupun hanya sedikit persentasi Yoongi percaya.

Hyung!” panggil Taehyung. Pria Kim itu dengan terburu-buru mengambil jaketnya yang tersampir di sofa. Yoongi pun hanya menoleh tanpa mengalihkan pandangan matanya. “Apa?”

“E-Eommaku, aku harus menjemputnya.” Ujar Taehyung sedikit gugup. Pria itu memang tidak bisa berbohong dihadapan Yoongi. Namun, harus bagaimana lagi? Ia harus menemui gadis Jung itu dan lekas menemaninya. Bahkan bisa Taehyung ketahui seberapa gadis itu kesal. Semoga saja Taehyung tak akan jadi pelampiasan saat keduanya bertemu.

Yoongi pun menghentikan permainannya. Meletakan perlahan di permukaan sofa, lantas bangkit. “Aku akan pulang.” Ucap Yoongi final. Pria itu tak mau mengganggu ketenangan keluarga damai itu. Ia bisa pulang atau pergi kemanapun yang ia mau. Ia punya waktu cukup banyak untuk bersantai. Apalagi pikirannya sangat kacau sekarang.

Mengingat gadis yang ia tolong itu membuatnya mati kutu. Apalagi ia pernah melihat gadis itu bersama Lee Hanna—adik tirinya sekaligus hoobae-nya. Maka dari itu, Yoongi harus menghindar dan tak akan pernah berurusan dengan semua orang yang mempunyai keterkaitan dengan silsilah Lee. Namun, yang terjadi malah gadis Jung itu adalah tetangga sebelh rumahnya. Dunia sudah gila!—pikir Yoongi.

“Kau mau kemana?” tanya Taehyung bingung. Pria itu tak bisa mengilhami gesture Yoongi terlalu cepat. “Pulang,” sahut Yoongi, lantas mengambil langkah menuju pintu utama. Taehyung sebenarnya merasa bersalah. Namun, mengetahui sifat Yoongi yang keras kepala—sekarang—maka dai itu Taehyung tak bisa melarang pria Min itu mengambil keputusan.

“Maafkan aku, Hyung.

Gwenchanha,

.

.

.

“Maaf, aku terlambat.” Ujar Taehyung kala mendapati Hyejin menatapnya tajam. Taehyung pun hanya bisa berharap ia tak jadi korban dari pekikkan Hyejin yang benar-benar memekakkan telinga. “Aku bosan,” ujar Hyejin membuka percakapan ketika Taehyung sudah mengambil alih tempat di sampingnya.

“Bosan?” Taehyung membeo. Memangnya kenapa sampai-sampai gadis populer seperti Hyejin bisa bosan? Padahal kalau dihitung, fans-nya bisa memenuhi aula sekolah yang lebarnya lebih dari sepuluh meter. “Kau punya ide agar aku tak bosan?”

Taehyung memutar akal. Mencari ide agar membuat gadis itu bahagia dan juga mencari kesempatan ketika ada. Oleh karena itu, penyebab Taehyung sibuk sendiri dengan poselnya. Hyejin pun dengan sabarnya menunggu. Karena gadis Jung itu tahu, Taehyung bisa diandalkan untuk mengusir kebosanannya.

“Ini,” Taehyung mengulurkan ponsel pintar lima inci-nya. Menampakkan sebuah permainan yang baru menjadi viral di semua dunia. “Pokemon Go?” Hyejin membaca nama permainan itu. Suaranya yang kentara bingung itu membuat Taehyung lekas merangsek maju. “Kau tahu ‘kan? Permainan ini sangat terkenal. Kau mau mencobanya?”

“Aku tak bisa memainkannya.”

“Aku akan mengajarkanmu.”

Taehyung lekas mengambil ponselnya dari genggaman Hyejin. Bangkit dari bangku taman, lantas mengukir jarak sembari mengangkat ponselnya. Hyejin yang tak tahu menahu dengan apa yang dilakukan Taehyung lekas mengikuti pria Kim itu. “Kau mau kemana, Kim Tae?”

Taehyung menoleh sebentar. “Ikuti saja aku. Setelah kau tahu bagaimana cara memainkannya, kau bisa mencobanya.” Taehyung menjawab. Tak lupa, senyum ramahnya tergaris hingga sudut bibir. Menunjukkan betapa bahagianya pria Kim itu ketika bisa bersama dengan Hyejin dan hanya berdua. Catat! Berdua!

“Itu! Ada pokemon di sana!” pekik Taehyung setelah ia menyerahkan ponselnya beberapa menit kemudian. Hyejin yang sudah mengerti bagaimana cara memainkannya pun antusias. Ia bahkan tak tahu kalau Wonwoo sudah di hadapannya. Menghentikan langkah kecil keduanya hingga akhirnya menggerutu karena mengganggu.

“Kau di sini?” empat silabel yang terangkai menjadi kalimat tanya pun mengundang amarah Taehyung. Bukankah pria itu sudah tahu kalau Hyejin sedang bersama sekarang? Dasar pria pengganggu!— Taehyung membatin. Hyejin yang terkejut dengan kedatangan Wonwoo yang tiba-tiba pun memasang rau muka datarnya. “Aku hanya bosan dan Taehyung menghiburku.”

Menghibur katanya? Lalu untuk apa Wonwoo menghawatirkan gadis Jung itu kalau yang dicari justru bersama pria lain? Bahkan pria Jeon itu pun mengutuk keringatnya yang enggan berhenti. Hyejin pun tak bodoh untuk tahu alasan Wonwoo berpeluh dan napasnya tersenggal-senggal. Hyejin cukup pintar untuk mengetahui keadaan.

“Taehyung, terima kasih untuk permainannya. Aku benar-benar terhibur.” Ucap Hyejin sembari mengembalikan ponsel lima inci Taehyung. Melukiskan segaris senyum di bibir cherry-nya, lalu menarik lengan Wonwoo. Mengajaknya ke sebuah tempat yang tak jauh dari taman demi menghindari Taehyung dan membicarakan sesuatu.

Tangan Hyejin lekas menelusuri sisi wajah Wonwoo. Mengusapnya pelan agar tak lagi basah berkat mengkhawatirkannya. Hyejin tahu, karena Wonwoo selalu peduli dengannya. Selalu mengkhawatirkannya setiap waktu. Selalu menanyakan keadaannya dan lain sebagainya. Namun, lambat laun Hyejin sadar. Bahwa perasaan yang ia anggap sebagai perasaan sahabat pun menjadi lebih dari sekedar tiga silabel pengikat umat itu.

Wonwoo tak pernah menganggapnya sebagai sahabat. Melainkan sebagai seorang gadis yang ceria, pandai, dan ramah. Walau masih banyak kekurangan yang tertutupi di balik raut bahagianya. Seperti sekarang misalnya. Hyejin menyembunyikan kebenaran mengenai mantel abu-abu yang diberikan Yoongi untuknya.

“Temanku meminjamkannya tadi,” jawab Hyejin seadanya. Ia tak bisa bohong di hadapan Wonwoo. Karena pria itu selalu tahu gerak-gerik Hyejin ketika berbohong. Gadis Jung itu akan mengalihkan pandangannya dna juga tangannya bergetar. Wonwoo bahkan tahu lebih banyak daripada Hyejin sendiri. Namun, Hyejin hanya diam mengenai semua hal itu. Bahwa ia tahu Wonwoo menyukainya.

.

.

.

Halo ARMY. Aku author baru yang sempet lirik-lirik BTS (apalagi V) akhir-akhir ini. Ini FF aku untuk pertama kalinya yang aku persembahkan kepada adikku tercinta(usually i call her Yoonhye)

Dan terspesial untuk readers yang menyukai bang Yoongi, terima kasih sudah meninggalkan jejak. Kalo responnya bagus aku akan lanjutin, tapi kalo enggak, aku akan mikir dua kali.

Have a nice day dan salam kenal!

My Blog: http://putrisafira255site.wordpress.com

 

Advertisements

3 thoughts on “[BTS FF Freelance] You Call It Love – Chaptered

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s