[BTS FF Freelance] Haze – (Chapter 1)

picsart_08-20-05-03-37

Haze (Chapter 1)

Written by rdkchv

Cast: All BTS members, Haze Kachvaneva (OC), and another support cast

Chaptered|Action, Angst, Romance, Friendship, War!AU|15

.

Aku tidak akan kembali.

Aku tahu aku sudah melangkah terlalu jauh saat itu. Aku tahu bagaimana rasanya saat kau mati-matian memperjuangkan mimpimu, lalu di tengah itu semua, kau sadar kalau impianmu itu terlalu besar untuk dirimu. Kau membutuhkan seseorang.

Seseorang itu muncul dari balik badai pasir di tengah bangunan-bangunan yang dilantakkan serangan udara. Seperti peserta percobaan alat teleportasi yang kurang beruntung dan jatuh setelah tersesat di dimensi kelima. Di tengah debu reruntuhan yang mengambang malas, menciptakan lapisan suram di atas sungai-sungai darah , tubuh-tubuh kosong, dan nyawa-nyawa yang berkeliaran dalam kebingungan dan trauma.

Seharusnya.

Seharusnya.

Entahlah, aku tidak tahu apa itu seharusnya. Apa itu seharusnya, dan apa yang seharusnya jadi seharusnya?

Terserah.

Menginginkan sesuatu itu tak ada gunanya. Aku ini orang baik, setidaknya dari sudut pandangku, bukan dari sudut pandang kehidupanku yang membenciku. Karenanya aku tak akan pernah mendapatkan apapun yang tertulis di daftar keinginanku. Bahkan setelah aku berpura-pura tak menginginkan apapun, tetapi sepertinya takdir tak bisa dibohongi, kan?

Dekat sekali.

Selalu dekat sekali.

Entahlah, mungkin semuanya tahu kalau kata ‘hampir’ itu menyakitkan. Begitu dekat, begitu tak terjangkau sampai kau mulai mengukur panjang tanganmu dengan penggaris.

Yang kutahu, kesempatan itu tak pernah hilang. Ia hanya suka bermain petak umpet. Dan takdir itu tak bisa dibohongi.

Haze melayangkan tatapan kosong ke arah langit yang kemerahan, mulai mempertanyakan impiannya sendiri. Apakah ini yang benar-benar dia inginkan? Ia menghela nafas sebelum berbalik dan berjalan menjauh. Serangan udara itu sudah berakhir, jendelanya pecah, dan hal itu akan terulang dalam tiga hari, tetapi dia tak bisa melakukan apapun. Perang adalah perang. Ini adalah perang.

Yoongi menatap langit kelam yang kemerahan itu. Wajahnya bersih dari semua emosi, tetapi matanya menyimpan semua kemarahan dan kekecewaannya. Ia membiarkan sebuah pertanyaan untuk hidupnya terucap tanpa suara dari benaknya, apa yang sebenarnya kau mau?

Ia berbalik ketika teman dekatnya yang sering mengganggunya, Seokjin, menyapanya.

“Apa yang kau lakukan di sini? Kau memikirkan seseorang?”

Hanya keheningan menjawab pertanyaannya.

Haze masih muda, sekitar 18, saat ia menerima beasiswa itu. Ia hanyalah seorang gadis baik biasa, sedikit lebih pintar dari gadis lainnya. Ia tak pernah berpikir tentang orang-orang yang memata-matainya, atau mengajarkan hal-hal yang sebenarnya tidak penting ke para calon mata-mata Korea Utara. Kenapa dia, dia pun tak tahu, dan tak peduli. Hidupnya saja sudah terlalu ruwet.

Yoongi lebih tua, 23 tahun. Ia memiliki setidaknya sepuluh buku penuh dengan lagu-lagu yang ditulisnya sendiri. Ia ingin terus menciptakan lagu-lagu dan menunjukkannya ke seluruh dunia. Ya, itu sudah dekat, tetapi ia tak pernah berpikir tentang jet tempur yang terbang di atas kepalanya dan menjatuhkan bom ke sebelah rumahnya. Dan seminggu setelahnya, ia menemukan dirinya sendiri di sebuah instalasi militer, tak peduli untuk mengingat namanya. Yang berhasil diingatnya hanyalah sebuah angka 72.

Haze berjalan ke luar. Debu, pecahan kaca, dan tubuh-tubuh tak bernyawa berserakan di jalan-jalan. Pikirannya melayang ke sahabatnya, orang baik lain yang juga ditipu pemerintah Korea Utara, tetapi berhasil membebaskan diri. Ia ada di sana saat kawannya itu berhasil bebas, ia juga berusaha kabur, tetapi gagal. Ia mendengar kalau sahabatnya itu ada di sini, lima kilometer dari tempatnya bekerja.

Ia seratus persen sadar kalau tempat sahabatnya berada sekarang tak bisa dimasuki sembarang orang. Dan tempatnya sangat jauh dari rumahnya, sejak pilihan transportasi yang ada hanyalah berjalan kaki. Jalanan begitu lengang, orang-orang masih takut keluar. Mobilnya meledak saat serangan udara, bersama jendelanya. Tetapi Kim Seokjin kembali ke Korea Utara, ia pasti takkan senang karena kebebasannya yang hanya berumur sebulan itu rusak. Kim Seokjin membutuhkannya.

Yoongi hanya mengangkat bahunya dan pergi. Seokjin tidak bereaksi, sebuah pikiran, bukan, memori, terlintas di benaknya. Gadis itu, Haze Kachvaneva, atau siapapun nama aslinya. Ia masih di sini, sejak ia gagal membebaskan diri malam itu. Mungkin dia masih hidup di sebuah tempat di sini, atau di manapun itu. Apakah gadis itu masih mengingatnya? Ataukah orang-orang itu membunuhnya setelah ia gagal membebaskan diri?

Yoongi berjalan ke luar, melewati gerbang, pandangannya menyapu kawat berduri yang menbuatnya merasa seperti seorang tahanan penjara. Berjalan keluar tidak semudah itu, tetapi ia benar-benar butuh udara segar. Ia merasa seperti tahanan penjara yang menunggu hukuman mati, mungkin lebih buruk. Memikirkan seseorang? Seokjin memang teman yang baik yang sama kurang beruntungnya dengannya, tetapi bisakah ia berpikir tentang sesuatu yang lebih ruwet dan besar dari seseorang?

Tidak, pikir Seokjin. Dia bukan seorang gadis yang akan mati saat dia tak ingin mati. Ia cukup pintar, ia cukup kuat, pemerintah punya alasan untuk menipu dan menangkapnya. Jadi dia mengesampingkan pikiran pesimis dan ketakutannya sebelum meninggalkan tempat favorit Yoongi. Ya, kau memang ahli dalam urusan memilih tempat, Yoongi, pikirnya sekaliagi

 

Sementara itu, Haze berhenti di depan tempatnya bekerja. Tidak terlihat bagus, bangunannya terlihat sama hancurnya dengan sekelilingnya, dengan lapisan abu-abu, berat, dan berdebu yang mengaburkan langit yang kemerahan. Tetapi hampir semua mata-mata terbaik Korea Utara dilatih di sini, dan calon-calon terbaik juga menjalani masa latihan di sini. Menjadi salah satu orang yang melatih mereka, ia tak yakin harus merasa bagaimana. Terkadang ia berpikir, ke mana perginya semua perasaannya? Ia mati rasa, bahkan saat melihat korban gas VX yang dimodifikasi. Setahunya, gas VX itu melanggar Konvensi Geneva atau apapun itu yang tak memasukkan agen-agen intelijen.

Peduli amat dengan Konvensi Geneva, apa urusanmu dengannya.

Haze mungkin saja hampir mati rasa, tetapi ia selalu merasa ada yang aneh dengan bangunan itu. Bukan sesuatu yang serius, ia tak pernah percaya perasaannya sendiri. Ia tak mengacuhkan pikirannya dan terus berjalan. Belum lima langkah, sebuah sosok yang lebih tinggi darinya masuk ke pandangannya.

Ia seorang tentara yang terlihat terlalu berantakan untuk ukuran tentara. Haze menyipitkan matanya, mencoba mengidentifikasi sosok itu. Tidak, Seokjin lebih tinggi darinya. Tetapi sosok itu sempat mengejutkannya ketika ia berkata,

“Berhenti dan dengarkan aku, Hazel.”

 

Advertisements

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s