[BTS FF Freelance] LIKE A FOOL – (Oneshot)

cover

Title: Like a Fool

Author: Zuu PIN9 @jsatan9

Cast:

Jeon Jungkook BTS

Hwang Ji Yun as You

Namjoon BTS

Jung Yein Lovelyz

Genre: Romance, Fantasy, Mystery

Length: Oneshot

Rating: PG13

Note : fanfic ini asli karya penulis. Sudah pernah diposting di blog pribadi (imaginasfanfic94.wordpress.com)

Maaf jika fanfic ini tidak sesuai dengan selera readers.

Selamat membaca ^^

Summary:

Kisah ini mungkin akan terbilang sangat biasa. Sebuah kisah yang tidak mampu menandingi tingginya rating drama korea kebanyakan. Dan tidak pula menarik simpati banyak orang. Aku hanya sekedar ingin membagi cerita. Kisah yang menceritakan seorang pria yang sedang jatuh cinta. Sangat biasa bukan? Manusia di dunia ini, entah itu wanita ataupun pria, akan merasakan jatuh cinta.

Tapi bagiku ini bukanlah cerita biasa yang akan mudah terhapus dan hilang bagai ombak yang menerjang tulisan pasir di tepi pantai. Cerita ini akan selalu membekas ibarat ombak besar yang tidak akan mampu menerjang tulisan pasir itu.

Aku, Jungkook, berumur dua puluh dua tahun. Aku, pria yang jatuh cinta itu.

***

Opening Song

Twice – Like A Fool

***

Aku adalah mahasiswa jurusan seni musik di salah satu universitas ternama di Seoul. Selama dua tahun menjadi seorang mahasiswa tidaklah menjadi beban bagiku. Hidup yang ku jalani awalnya biasa-biasa saja, namun beberapa bulan terakhir, pikiranku mulai terganggu. Jatuh cinta membuat pikiranku tak fokus, ada sebuah virus yang mencoba untuk merusak sistem yang bekerja di dalam otakku. Aku sering melamun, jarang mendengarkan penjelasan dosen di kelas dan kadang-kadang membuat keributan yang tidak jelas.

Jika aku tidak mampu untuk mengendalikan pikiran, bisa saja predikat mahasiswa terbaik di universitas ini menghilang dari genggamanku. Ya, memang selain tampan, aku memiliki otak yang cemerlang. Bukan untuk menyombong, tapi banyak teman mendeskripsikanku seperti itu. Contohnya, Ji Yun, perempuan yang saat ini bersamaku. Setiap hari selalu berceloteh panjang lebar memujiku, seperti kehabisan topik pembicaraan. Wanita yang duduk berhadapan denganku ini memesan mocha latte kesukaannya dan menyeruput minuman dingin itu hingga tak bersisa lalu berceloteh lagi, membuatku sedikit bosan.

Pria bertubuh jangkung menghampiri kami, tepatnya menghampiri Ji Yun. Dia Namjoon, pria yang dipikat hatinya oleh Ji Yun. Sudah menjadi rahasia publik bahwa Namjoon menyukai perempuan maniak buku itu. “annyeong…” suara berat Namjoon menyapa. Pria itu menarik kursi kosong dan duduk di samping Ji Yun. Senyuman Namjoon melebar sempurna seolah melihat bidadari cantik turun dari langit. Tatapan Namjoon tak lepas memandangi Ji Yun, bahkan aku yang duduk di depannya seolah – olah dianggap seperti seekor lalat pengganggu. Sementara itu Ji Yun masih sibuk menyeruput mocha latte atau tepatnya menyeruput gelas kosong.

“sejak kapan kau disini?” Namjoon bertanya seraya menatap Ji Yun, masih mengabaikanku. Aku terbatuk pelan, membuat Namjoon  menyadari keberadaanku. “kau hanya bertanya padanya?” Ku tunjuk Ji Yun. Gadis itu tak lagi menyeruput gelas kosong, ia pura-pura tenang –salah tingkah kurasa. Perempuan mana yang bisa tenang jika berada di dekat pria yang ia suka. Namjoon  membalas dengan tawa. Aku ikut tersenyum lebar, hampir tertawa. Sedangkan ekspresi Ji Yun seperti memberi tahu –cepat selesaikan percakapan bodoh ini, dan bergegas pergi-

Aku berdiri, menyandang tas ransel di bahu dan meraih gitar yang tersandar di meja. “Namjoon -ah, Ji Yun-ya, aku duluan ne…” ujarku menyudahi percakapan bodoh sesuai pikiran Ji Yun. “Aku ikut denganmu…” Ji Yun berseru dan dengan sigap membereskan buku-buku miliknya. “Namjoon –ssi ada sesuatu yang harusku selesaikan, annyeong…” pamit Ji Yun dan berlari kecil menjauhiku dan Namjoon. Aku melambai pada Namjoon  yang masih heran melihat kepergian Ji Yun.

Aku sedikit berlari mengejar Ji Yun yang hampir sampai di dekat belokan tangga gedung utama. Gadis berkacamata itu terlihat kewalahan membawa buku-bukunya. Aku segera menyambar buku itu agar tidak terjatuh dari genggamannya. “sikapmu terlalu berlebihan…”Ji Yun menoleh dan seketika berhenti “berlebihan apanya?” Ji Yun protes. Aku ikut berhenti, menatap Ji Yun dan lanjut melangkah. Beberapa belokan lagi, kami akan sampai di tempat parkir. Mahasiswa, dosen ataupun staff memang jarang membawa kendaraan ke kampus, hanya beberapa diantara kami, termasuk aku yang membawa sepedamotor.

“kenapa kau berbicara formal padanya?” Alis kiriku naik ditambah dengan tatapan selidik. Aku suka sekali memojokkan Ji Yun, terlebih soal status Ji Yun dan Namjoon  yang semakin hari semakin jelas bahwa ada ‘sesuatu’ yang terjadi diantara mereka.

“bukan dia orangnya…” Ji Yun membantah atau mungkin mencoba untuk berbohong. Aku menoleh lagi padanya. “Oh, jadi kau sudah bisa jatuh cinta sekarang?” aku sedikit tertawa. “aku bahkan lebih dulu jatuh cinta dibanding dirimu, tuan Jeon!” Ji Yun memelankan suaranya pada kata ‘tuan Jeon’. Aku membalas, tak ingin kalah. “tahu apa kau tentang cinta, nona Hwang?” Ji Yun terdiam, cukup lama menunggu jawaban darinya. Aku tersenyum lebar dan tertawa juga pada akhirnya. “sudahlah, tidak perlu kau tutupi, sangat jelas kalau nona Hwang jatuh hati pada…”

“Namjoon?” seru Ji Yun. “kenapa kau berpikir orang itu adalah Namjoon?Apa kau baru saja memikirkan dia?”  Tepat! Posisi Ji Yun tersudut. Dan aku semakin puas melihat wajah ketus Ji Yun –seperti ingin melemparku dengan bukunya,  waja Ji Yun semakin merah. Ji Yun berhenti dan berbalik, menatapku yang berjalan di belakang. “ Kau…” ucapannya tertahan.

“Hem…?” Aku berdehem, lalu menunggu bantahan selanjutnya. Kedua bola mata Ji Yun berputar, mengalihkan tatapan matanya dariku. “Hah…sudahlah, tidak ada gunanya menghabiskan waktu berdebat dengan anak kecil…” Ji Yun menghela napas. Dahinya mengerut ditambah dengan bibir yang maju beberapa centi. Aku berhasil merusak moodnya.

Ku cubit pipi Ji Yun seraya tertawa lebar. Aku memang hobi menjahili perempuan yang satu ini. Ji Yun adalah sahabatku sejak kecil. Kami selalu menghabiskan waktu bersama. Aku sangat tahu, dia akan berlipat-lipat menjadi kesal jika membahas hubungannya dengan Namjoon  pewaris Ello-perusahaan ponsel terbesar di Seoul. Selain pintar, tampan dan berasal dari keluarga kaya, Namjoon  juga terkenal ramah kepada siapa saja. Apa kurangnya lagi Namjoon  untuk Ji Yun? Dia pria perfect kurasa. Aku sangat setuju jika mereka memiliki hubungan yang ‘special’.

Aku meraih helm dan memberikannya pada Ji Yun. Raut wajahnya tak lagi mendeskripsikan kalau ia sedang sakit hati. Sepertinya ia tidak lagi mempermasalahkan perdebatan kami.

***

Seperti Namjoon dan Ji Yun, aku juga sedang jatuh cinta. Sudah dua bulan memendam rasa suka itu, rasa yang sama sekali tidak bisa kutebak, membingungkan. Perasaan yang selalu menghancurkan akal sehat dan logikaku. Cinta itu perlahan merasuk dan menjadi pengontrol. Jika dibayangkan aku semakin ‘tidak waras’. Memimpikan dia setiap hari, membuatku tertawa sendiri. Setiap melihat benda-benda di sekitar akan terbayang wajah menawannya. Mungkin dimata pria lain, dia terlihat tidak terlalu special. Tapi bagiku dia perempuan yang sangat berbeda, beribu kali lipat lebih menawan dibandingkan seorang Cleopatra sekalipun. Setiap saat  memandanginya hatiku akan merasakan kedamaian. Kelembutan yang terpancar dari wajahnya, mampu membuatku terjatuh lebih dalam, seketika jantungku akan berdegup kencang disetiap mataku melihatnya. Aku memang butuh oksigen tambahan. Oh Tuhan, lama-lama aku bisa sakit jiwa dibuatnya.

PLAK

Sentuhan sebuah benda berhasil membuyarkan lamunanku. Aku sedikit merintih, merasakan luar biasa sakitnya ditimpuk buku tebal. Ji Yun melambaikan buku tebal tersebut didepan wajahku, lalu memandang dengan heran. “apa yang sedang kau lamunkan?” Ji Yun bertanya seraya mengikuti arah pandangku, ke luar jendela besar yang berada di depan kami. Setelah melarikan diri dari Namjoon, aku dan Ji Yun mengunjungi perpustakan di pusat kota Seoul. Sudah menjadi rutinitas Ji Yun mengunjungi perpustakaan seusai kuliah.

Ji Yun berdecak “ya ya…jangan bilang kalau kau diam-diam memperhatikan perempuan itu kan? Aish…” Ji Yun kembali menimpuk buku tebal itu di atas kepalaku. “Ya!” balasku sedikit berteriak. Dua kali dipukuli sakitnya sungguh luar biasa. Ji Yun terkekeh dan menaruh benda ‘nista’ tersebut di atas meja. “oh, jadi selama ini kau rela mengunjungi perpustakaan hanya demi Yein? Dasar pria bodoh, kalau kau suka dia kenapa tidak menghampirinya eoh? Jeon Jungkook, pria pecundang…” ejek Ji Yun seraya menjulurkan lidah, seolah tahu siapa yang sedang kuperhatikan.

Aku memang tipe pria yang malas membaca buku. Salah satu alasan terkuat yang membuatku betah berlama-lama duduk di perpustakaan ini hanya untuk memandangi perempuan itu. Berjam-jam bahkan berhari-hari aku mampu bertahan jika perempuan itu tetap berada di sini. Sungguh beruntung, memiliki teman seperti Ji Yun karena dialah yang membuatku bertemu dengan perempuan itu di sini.

Cinta pada pandangan pertama.

Ji Yun sering berkunjung ke tempat ini,itu memudahkanku untuk ‘lebih dekat’ dengan cinta pertamaku. Ji Yun bebas datang kapan saja, bahkan menginappun pernah ia lakukan. Lagi pula perpustakaan ini adalah warisan dari keluarga Ji Yun. Bangunan ini didirikan oleh ibunya bersama sahabatnya dulu. Perpustakaan ini masih tetap bertahan karena Ji Yun sendiri yang mengelolanya. Orang tua Ji Yun saat ini berada di Jepang, mengelola perusahaan minuman di sana. Ji Yun tinggal seorang diri di sebuah apartement. Dan aku adalah orang yang selalu menemaninya.

Keningku mengerut mendengar kalimat Ji Yun. “tunggu? Siapa? Yein?” Aku kembali bertanya. Yein adalah teman sejurusanku. Dan dia juga sering mengunjungi perpustakaan ini. “ ya siapa lagi? jangan berpura-pura Jungkook! Aku bisa membaca pikiranmu!” ujarnya yang sekaligus membuatku tertawa.

Kau keliru nyonya Hwang!

“jadi aku menyukai wanita bermarga Jung itu? Jangan konyol! hahaha…” pandanganku beralih menatap Yein yang saat ini duduk di samping perempuan yang ku sukai. Perempuan itu tetap fokus membaca buku dipangkuannya. Meski wajahnya terlihat lebih tua, tapi itu tidak akan menjadi penghalang, umur tak menjadi masalah.

“kenapa tertawa?” Ji Yun semakin heran melihat tingkahku yang membingungkan.

“hah…terserah imajinasimu Ji Yun“ ujarku, masih tertawa.

“jadi bukan Yein? Lalu siapa? Ya! Jawab pertanyaanku!” Ji Yun sedikit memaksa agar aku memberi tahu. Tapi aku malah membiarkan Ji Yun menerka-nerka sendiri siapakah perempuan yang memikat hatiku itu. Aku memandang ke arah jendela lagi. Sial, perempuan itu memergoki tatapanku. Mata kami bertemu. Cukup lama kami saling tatap dan terlalu berat untuk mengalihkan tatapan itu. Oh Tuhan, ku mohon hentikanlah waktu untuk beberapa menit saja. Aku ingin menatap bidadariku lebih lama lagi. Dia satu-satunya perempuan tercantik di bumi ini.

***

Malam semakin larut, tempat ini semakin sepi. Hanya beberapa pengunjung yang masih bertahan. Aku juga tidak melihat Yein lagi di sini. Ji Yun masih berkutat dengan tugas-tugas kuliahnya, membuat paper. Sedangkan aku menghabiskan waktu hanya memperhatikan perempuan itu. Sibuk mengintai setiap gerak-geriknya. Dari sore hari perempuan itu tidak bosan-bosan membaca dan terus membaca. Dimulai dari ia duduk bersebelahan dengan Yein hingga beralih duduk di dalam ruangan ini. Jarak kami hanya terpisah oleh satu rak buku besar di depan sana. Tapi aku masih dapat melihat dirinya dari celah-celah rak buku. Aku juga hafal rak-rak buku mana yang sering ia hampiri.

Kebiasaan perempuan itu saat membaca adalah menggerakkan jemarinya di atas buku. Dia selalu melepas kacamatanya disaat berhenti membaca. Setelah itu dia akan membaringkan kepalanya di atas meja. Dia perempuan yang sangat lucu. Kira-kira seperti itulah pemandangan yang selalu kutangkap dua bulan ini semenjak pertama kali mengunjungi perpustakaan. Aku meraih gitar yang dari tadi menganggur, tak sempat ku sentuh lagi semenjak menginjakkan kaki ke dalam ruangan. Aku memetik senar, lalu mulai bersenandung.

I need you Girl neon areumdawo

Aku menyanyikan sebaris lagu

Brak!

Lagi-lagi Ji Yun memukul kepalaku dengan buku. Sial! Dia merusak suasana saja. “ya! Ini perpustakaan! Kalau kau ingin bernyanyi, di luar saja! Kau mengganggu ketenangan orang lain tau!” Ji Yun mengomel. Sedangkan aku menghela napas dan menggerutu pelan. “kenapa? Lagi pula tidak ada yang keberatan…” aku membantah seraya melihat beberapa pengunjung yang berada di dalam ruangan. Mereka terlihat tenang dan tidak ada satupun yang protes. Ji Yun menarik pipiku dan meninggalkan rasa sakit di sana. Aish, perempuan ini bersikap kasar lagi padaku. Aku lantas membalas, tapi Ji Yun buru-buru menjauh. Sial.

Pandanganku berhenti, menatap lurus ke bagian rak buku yang berada satu meter di depan. Aku dapat melihat dengan jelas kalau perempuan itu tertawa dan mungkin menertawaiku. Tatapan kami bertemu lagi, dia tertawa padaku untuk selang beberapa detik. Akupun terkekeh pelan melihat tawanya yang lucu, membuatku gemas. Aku benar-benar semakin jatuh cinta.

Dan siapa sangka, perasaan ini semakin meminimkan kosentrasiku. Jatuh cinta memang menyusahkan, bahkan sampai membuat diri ini jatuh ke dalam lubang kesialan. Aku, Jeon Jungkook, menjadi sial setelah jatuh cinta. Setiap hari rela meluangkan waktu hanya untuk mengunjungi perpustakaan. Mencari-cari alasan menemani Ji Yun agar setiap waktu dapat bertemu dengan perempuan itu. Benar yang Ji Yun katakan. Aku adalah pria pecundang, sama sekali tidak memiliki keberanian untuk sekedar berkenalan. Hampir tiga bulan menjadi secret admirer dan aku belum mengetahui nama si pemilik senyum terindah itu. Memang pria pecundang.

Tiga bulan berlalu, hari ini bertepatan dengan ulang tahun Ji Yun. Sebagai permintaan hadiah ulang tahunnya, aku akan menemani Ji Yun bermain di Lotte World. Memang dia masih terlalu kekanak-kanakan. Setiap tahun memintaku untuk memberinya hadiah tiket Lotte World. Ku akui dia memang perempuan yang sangat aneh.

Aku bergegas menuju Lotte World. Pukul lima Aku dan Ji Yun sebelumnya membuat janji untuk bertemu di sana saja. Namun, sepanjang perjalan aku masih saja memikirkan perempuan itu, cinta pertamaku. Seharian tidak memperhatikannya membuatku dilanda rasa gelisah. Merasa tak tahan, akupun berbalik arah, mengambil jalan utama hendak melewati perpustakaan kota. Tak salah lagi, perempuan itu akan duduk di depan taman perpustakaan dengan tiga buku di sampingnya. Aku memang tahu persis kebiasaannya. Please, Ji Yun hanya sebentar saja. Keputusanku ini memang tak salah. Hanya saja mulai saat itu, perasaanku  akan berpaling menjauhinya. Cinta pertamaku perlahan pupus sudah.

Aku semakin mempercepat laju sepedamotor, melewati beberapa lampu merah, berhenti dan membelok, mengambil jalan pintas. Sesekali melirik jam tangan. Hampir pukul lima sore. Tapi ku rasa Ji Yun tidak akan keberatan jika aku terlambat hanya beberapa menit. Nanti akan kujelaskan padanya mengenai keterlambatanku. Aku yakin Ji Yun tidak akan mempermasalahkannya.

Sebelumnya aku tidak memiliki firasat buruk yang akan terjadi. Aku hanya menuruti naluri. Beberapa belokan lagi, aku akan sampai di perpustakaan. Tepatnya melewati perpustakaan. Aku hanya ingin melihat perempuan itu sebentar saja. Laju sepedamotor semakin kupercepat hingga melewati perpustakaan dan aku berhenti sejenak, memperhatikan perempuan nan jauh di sana. Sesuai perkiraan, perempuan itu duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon rindang, ditemani tiga buah buku tebal di sampingnya. Rambutnya yang lurus dibiarkan terurai panjang, melambai pelan tertiup angin. Perasaanku semakin larut akan kecantikannya. Senyumku merekah. Rasa rindu terobati sudah.

Waktu terasa bergerak lambat.

BRAK! CIIIITT!!!

Tak lama, senyuman itu memudar.

Peristiwa itu terjadi begitu cepat. Seorang pengendara motor ugal – ugalan melewatiku dengan kecepatan tinggi dan hampir menabrak truk pembawa besi yang berlawanan arah. Pengendara motor itu berhasil melewati truk, namun kondisi menjadi buruk saat truk melaju cepat dan mengarah padaku. Truk tersebut terbalik dan berputar lalu menabrakku. Sepedamotorku terpelenting jauh ke belakang, berputar  di tengah jalan lalu menabrak trotoar di seberang jalan. Sepeda motor itu rusak parah. Sementara itu, aku jatuh dan terbaring di atas aspal. Aku berdiri dengan segera, sama sekali tidak merasakan sakit. Tubuhku baik-baik saja. Beberapa kendaraan berhenti, seketika membuat macet lalu lintas. Segerombolan orang berlari ke tengah jalan, sibuk memanggil bantuan. Aku ikut memperhatikan orang-orang yang terlihat panik. Dan saat itu aku baru sadar, kalau aku menabrak seseorang. Oh Tuhan.

“permisi…permisi…” aku berteriak cemas. Berharap orang yang ku tabrak dalam keadaan baik-baik saja. Aku menerobros orang-orang yang menghalangi jalan. Langkahku berhenti, melihat tubuh yang terbaring bersimbah darah di bawah truk. Beberapa besi tertancap ke bagian lengan dan bahu. Aku terdiam kaku, memperhatikan tubuhku sendiri yang tak berbentuk itu.

Orang-orang mengabaikan keberadaan wujud yang tidak tampak ini. Mereka sibuk mengurusi tubuh yang mungkin tak bernyawa itu. Beberapa menit kemudian, sebuah ambulance dan mobil polisi melintas. Beberapa orang mengangkat tubuhku dengan tandu ke dalam ambulance. Aku masih saja terdiam, bingung dengan situasi yang terjadi.

Aku masih tetap berdiri di posisi yang sama. Apakah aku sudah mati? Begitu kalimat yang terlintas di dalam pikiranku.Hey, ini bukan drama 49 days, tapi kenapa aku seperti berperan dalam drama itu. Atau ini memang benar-benar nyata? Benarkah? Jadi aku sudah mati? Secepat itu? Tuhan, kau benar-benar tega.

Sesuatu terlintas dipikiranku, perempuan itu. Aku berbalik, tidak peduli dengan nasib tubuhku yang sekarang terbujur tak berdaya. Melihatnya saja, aku yakin dengan tubuh seperti itu, sudah jelas kalau aku sudah tak bernyawa. Beberapa meter dari posisiku berdiri, aku melihat perempuan itu berdiri jauh di sana. Mungkin dia juga menyaksikan kecelakaan itu. Kakiku beringsut ke arahnya.

Kesempatan hanya sekali, sekali saja kau menyia-nyiakannya dan selamanya kau akan menyesal.

Aku benar-benar merasa bodoh sekarang. Kenapa aku terlalu takut untuk berkenalan dengannya. Mengetahui namanya saja sudah lebih dari cukup, tapi aku sama sekali tidak pintar dalam menggunakan kesempatan. Aku pria bodoh.

Langkah kakiku semakin mendekatinya. Perempuan itu menatap lurus ke arahku, memberikan tatapan kosong. Ia masih berdiri di posisinya, seolah tahu kalau seseorang tengah menatapnya. Aku berhenti persis di depannya. Andai saja jemari ini dapat menyentuhnya, aku ingin sekali menyentuh pipi putihnya. Menatap perempuan itu saja hatiku semakin sakit.

“bodoh!” perempuan itu bersuara. Tatapannya yang tadi kosong, beralih menatap lurus ke dalam kedua bola mataku, seakan-akan dia dapat melihat tubuh trasparan ini. “kau tak perlu menyesal” perempuan itu bersuara lagi, seperti berbicara padaku. “kau membiarkan tubuhmu begitu saja? Kau pikir, Tuhan menciptakanmu hanya untuk hidup dan mati? Lalu berakhir, begitu? Masih banyak hal yang perlu kau pelajari di dunia ini Jeon Jungkook!” perempuan itu bersuara lagi, dan kali ini sedikit memerintah.

Kedua mataku membesar. Hey, dia bisa melihatku? Apa dia seorang indigo?  Dan yang membuatku tercengang adalah perempuan ini tahu nama lengkapku. Ini benar-benar aneh.

“tunggu apa lagi? tubuhmu membutuhkanmu Jungkook…ayo pergi…” perempuan itu berseru lantas berjalan cepat meninggalkanku. Siapa dia? Ini aneh, benar-benar aneh. “Jungkook!” teriak perempuan itu menyebut namaku. Aku berbalik dan tak disangka perempuan itu sudah berdiri di samping ambulance. Entah dorongan apa, kakiku langsung bergerak menghampirinya dan masuk ke mobil ambulance. “jangan pernah meninggalkan tubuhmu, Jungkook!” perempuan itu berkata bersamaan dengan pintu ambulance yang tertutup.

Entah siapapun perempuan itu, aku benar-benar berterimakasih padanya. Dia memberi semangat dan dorongan padaku agar tidak menyerah dan menerima nasib begitu saja. Banyak orang-orang yang ku sayang tengah menantiku. Dan seperti yang ia ucapkan, masih banyak yang harus ku pelajari di dunia ini, apapun itu termasuk jatuh cinta sekalipun. Aku menatap tubuhku dengan nanar. Darah pekat tak hentinya mengalir dari lengan dan bahu. Ada sedikit sobekan di bagian rahang dan lutut, untung saja kepalaku tidak mengalami cedera karena terlindungi helm. Setidaknya aku masih punya kesempatan hidup.

Ambulance berhenti. Dokter beserta beberapa perawat dengan sigap membawa tubuhku ke ruangan operasi. Sepertinya mereka akan melakukan operasi besar terhadap tubuhku. Aku berharap Tuhan memberiku harapan untuk hidup. Aku tidak mau mati dalam kondisi mengenaskan seperti ini. Dan juga tidak seharusnya aku pergi meninggalkan orang-orang didekatku dalam situasi yang mendadak. Mereka pasti sangat terpukul kehilanganku, terlebih Ji Yun. Tuhan, tolong kembalikan aku seperti semula.

DRRT DRRT

Dering ponsel memecah kepanikan di ruangan ini. Seorang dokter berteriak pada perawatnya, memerintah untuk menyingkirkan benda itu. Aku sempat melirik layar ponsel. Dan yang kutangkap adalah nama Ji Yun. Panggilan telfon itu seolah-olah panggilan terakhir untukku. Apakah hidupku hanya sampai di sini?

“korban kehilangan banyak darah…” ujar sang dokter. Aku semakin cemas, merasa takut meninggalkan dunia ini, sementara diriku masih menginginkan untuk tetap tinggal. Bersamaan dengan itu ponselku kembali berdering. Dokter yang sedang menangani kondisi tubuhku memerintah lagi, mengatakan pada perawatnya untuk mengangkat panggilan itu. Tuhan, umurku masih panjang kan?  

Beberapa saat kemudian, aku mendengar teriakan yang berasal dari luar ruangan. Teriakan itu jelas memanggil-manggil namaku. Seorang perawat yang bertugas bergegas ke luar ruangan, ku perhatikan perawat itu berbicara dengan seseorang. Dan orang itu adalah Ji Yun. Penampilan Ji Yun sangat berantakan, kulihat ia tidak mengenakan sepatu dan wajahnya terlihat sembab. Kedua matanya bengkak seperti disengat tawon.

Dalam keadaan seperti ini aku masih sempat tertawa karena melihat kondisi Ji Yun yang kurasa lebih parah dibandingkan kondisi tubuhku saat ini. “Jungkook! Jungkook!” Ji Yun terisak menyebut namaku berkali-kali. Perawat itupun meminta keteranganku padanya dan mungkin mengenai donor darah yang harus ku dapatkan dengan segera. Melihat Ji Yun aku merasa sedang menyaksikan drama tragis dimana seorang istri yang kehilangan suaminya, kurang lebih seperti itu. Ji Yun hanyut dalam perannya sebagai seorang istri. Tangisnya luar biasa membuat heboh.

“kau sungguh beruntung Jungkook, memiliki sahabat sebaik Ji Yun” sebuah suara berbisik di telingaku. Aku bergidik dan menoleh, merasa terganggu dengan suara itu. Di sampingku seorang wanita berdiri seraya mamperhatikan Ji Yun dan perawat yang tadi. “kau…?” aku berseru seraya menunjuk wanita itu. Bukankah dia cinta pertamaku?

“Dari mana kau tahu kalau aku berada di rumah sakit ini?” aku bertanya padanya. Wanita itu tak menjawab. Tatapannya datar. “Ya!” Aku berteriak lagi dan kali ini aku akan memaksanya untuk angkat bicara. “Ya! Jawab pertanyaanku!” aku mulai tak sabar melihat sikapnya yang terlalu misterius. Wanita itu memutar badannya lantas menjauh. “Ya!” aku berteriak untuk yang ketiga kalinya. Tanpa kusadari tanganku menahan lengannya agar tidak menjauh. Satu hal lagi yang aneh. Aku bisa menyentuhnya.

“Kau siapa!” aku sedikit membentak, memaksanya agar menjawab. Ia masih saja menatapku dengan ekspresinya yang datar. Perawat yang tadi berbicara dengan Ji Yun melewati kami dan menembus tubuh wanita itu. Aku terdiam seketika. Dia memiliki tubuh transparan sama sepertiku. Akupun melepaskan genggaman tanganku di lengannya. “Kau siapa? Apa kau arwah? Hantu?” Dia tetap enggan untuk menjawab. “Ya!” nada bicaraku semakin meninggi. Ku acak rambutku dengan kasar, merasa tak tahan. “ atau kau…” kalimatku terhenti sebentar “kau malaikat pencabut nyawa?”

Apa aku benar ditakdirkan untuk meninggalkan dunia ini sekarang?

Ia menoleh, masih diam. Lalu melangkah dan duduk di samping Ji Yun yang dari tadi terus menangis. “Ya! Jawab aku!” aku membentak dan tanpa sadar menendang kursi yang dia duduki, dan tentunya kakiku hanya menembus benda besi itu. “bersikap sopanlah sedikit Jungkook!” kali ini perempuan itu yang berteriak. Aku terdiam, berani-beraninya perempuan ini berbicara seperti itu padaku.

“Ya! Kau pikir kau siapa eoh? beraninya berteriak padaku!” Aku membalas dengan mendekatkan wajahku padanya. Entah kenapa rasa sukaku perlahan berkurang saat itu juga. Berbicara dengan perempuan itu membuat rasa simpatiku hilang. “kau ingin tahu siapa aku? Mudah! Kau hanya perlu mengikuti kemanapun gadis di sampingku ini pergi!” perempuan itu melirik Ji Yun yang masih menangis. “heh! jadi kau ingin bermain teka-teki?” emosiku memuncak, ingin sekali membanting kursi yang ia duduki. Perempuan misterius ini membuatku sedikit frustasi.

Aku mengakat kepala, menatap langit-langit koridor. Lelah rasanya berdebat dengan perempuan misterius ini. Aku berkata lagi hendak memaksanya to the point. “Ya!” ku turunkan wajahku lantas mengajaknya bicara. Namun kursi yang di depanku terlihat kosong, perempuan itu menghilang entah kemana. Ku lihat Ji Yun juga tidak lagi berada di tempatnya. Perempuan-perempuan tadi menghilang begitu saja. Kepalaku berputar, mencari-cari kemana mereka pergi.

Beberapa meter dari tempatku berdiri, terlihat Ji Yun berbicara dengan perawat yang sama. Ji Yun masuk ke dalam sebuah ruangan. Aku sempat mendengar percakapan mereka. Ji Yun bersedia mendonorkan darahnya untukku.

Sepuluh jam berlalu setelah Ji Yun mendonorkan darah. Darah Ji Yun positif cocok dengan darahku. Meskipun begitu, aku tetap khawatir dengan kondisi tubuhku yang terbalut selang-selang panjang, inpus, oksigen dan masih banyak selang yang melingkar di sekujur tubuhku. Lengan dan bahuku juga diperban. Sampai detik ini belum ada tanda-tanda kemajuan dari tubuhku. Kondisinya lemah total. Dan aku dinyatakan koma. Oh Tuhan sampai kapan aku harus begini?

Hampir pukul tiga pagi. Ji Yun masih duduk di depan ruangan dimana aku di rawat. Rambutnya berantakan, lingkaran hitam menghiasi di kedua kantung matanya. Matanya bengkak, seperti habis berkelahi. Ji Yun melirik pintu di depannya dengan tatapan sendu. Bibirnya yang selalu tersenyum itu kini menjadi datar, seperti kehilangan tenaga. Tubuhnya lemas, lebih lemas dari kondisi tubuhku di dalam sana. Dan satu lagi Ji Yun masih tidak mengenakan sepatu. Sepasang alas kaki itu ia taruh di bawah kursi tunggu, sama sekali tidak disentuh. Sepatu itu adalah hadiah ulang tahun yang kuberikan semalam. Sehari sebelum ia berulang tahun. “Ji Yun-ya!” seseorang berteriak memanggil Ji Yun. Aku seketika menggerutu melihat pria tua yang berjalan menghampiri Ji Yun. Di belakangnya terlihat paman Kim, sopir pribadi ayah.

abeoji…” Ji Yun bangkit berdiri, berseru pelan pada pria tua itu, ayahku. “bagaimana kondisinya?” tanya ayah lalu Ji Yun menjawab dengan gelengan kepala. Aku menghela napas, memperhatikan pria tua itu seraya mengumpat, lalu mengangkat kaki lantas menendangnya. Begitu tega seorang ayah membiarkan anaknya dalam keadaan sekarat, kemana saja dia? Padahal aku membutuhkan donor darah darinya tapi aku malah mendapatkannya dari Ji Yun. Ayah macam apa dia.

Ji Yun berkata lagi “Jungkook masih koma…” Ayah menutup wajahnya dengan satu tangan lalu bersandar di tembok. “setelah kehilangan ibumu, apa aku juga harus kehilanganmu?” Ayah berkata dengan suara yang semakin serak, dia menangis dengan wajah yang tertutupi tangan.

Aku melipat tangan di dada, memasang wajah sebal. Aku berkata, meskipun aku tahu ayah tidak akan mendengar kalimat yang akan kuucapkan ini. “Ya! Sudah jelas eommeoni bercerai denganmu karena sikapmu yang selalu tidak peduli, anak semata wayangmu sekarat dan kau baru muncul sekarang? Ya! Aboeji harus berterimakasih pada Ji Yun yang rela mendonorkan darahnya untuk menyelamatkanku! Kalau tidak karena Ji Yun aku mungkin sudah mati!”

Ayah menghapus air matanya. Lalu duduk di samping Ji Yun. “Ji Yun, aku sangat berterimakasih karena menjaga Jungkook semalaman, pulang dan istirahatlah, lihat tubuhmu sangat lelah, sopirku akan mengantarmu pulang…”

Ji Yun mengangguk pelan, perempuan itu meraih sepatu yang berada di bawah kursi lalu memakainya. Paman Kim memandu Ji Yun dengan berjalan mendahuluinya. Ji Yun membungkuk pada ayah sebelum benar-benar pergi.

‘Kau ingin tahu siapa aku? Mudah! Kau hanya perlu mengikuti kemanapun gadis di sampingku ini pergi!’

Entah kenapa kalimat perempuan itu terngiang di telingaku. Jujur, aku juga masih penasaran siapa dia sebenarnya. Dan apakah aku harus mengikuti Ji Yun sesuai dengan ucapannya? Sementara itu untuk apa aku melakukan hal ini karena jelas-jelas setiap hari aku selalu bersama Ji Yun dan aku selalu tahu apa yang dia lakukan. Hari-harinya sangat membosankan, kampus-perpustakaan-appartemen. Hanya ketiga tempat itu yang selalu melekat pada Ji Yun, sisanya? Sama sekali tak ada.

Ji Yun selalu bersamaku dan aku sangat tahu kebiasaan yang dia lakukan. Dan apa aku harus melakukan sesuatu yang padahal aku sudah tahu jawabannya? Ini sama sekali tidak masuk akal. Ji Yun dan paman Kim sudah menghilang di koridor. Aku masih ragu untuk melakukannya. Kepalaku menjadi pusing, dan pada akhirnya aku menuruti saja perintah perempuan misterius itu.

***

Paman Kim menghidupkan mesin mobil. Ji Yun duduk di kursi depan, sedangkan aku duduk di jok belakang. Hal yang masih ku herankan adalah aku ini ruh, yang terpisah dari jasadnya. Dan kenapa ruh sepertiku, berwujud transparan bisa duduk seperti yang dilakukan manusia, sementara ketika aku hendak menendang kursi yang ada malah kakiku hanya menembus benda itu. Seharusnya jika melihat kondisi seperti ini aku juga bisa menendang kursi. Ini benar-benar aneh.

Setengah perjalanan, paman Kim tetap fokus mengemudi. Ji Yun sibuk dengan pikirannya, dan hampir tertidur. Tentu, sangat jelas bahwa suasana akan menjadi sunyi jika hanya Ji Yun dan paman Kim berdua di dalam mobil ini. Ji Yun dan paman Kim tidak akrab, mereka lebih sering terlihat canggung di depanku. Dan aku yang selalu mengajak paman Kim untuk mengobrol dengan Ji Yun. Aku yang duduk di jok belakang menjadi bosan. Aku tipe orang yang hyperactive, jadi akan sangat membosankan jika suasana menjadi sunyi seperti ini. Aku menghela napas. Butuh dua puluh menit perjalanan lagi untuk bebas dari rasa bosan.

“hem…” paman Kim berdehem pelan, lalu melirik Ji Yun “paman yakin, tuan Jungkook akan segera pulih, jadi bersabarlah nona…”

Aku terkekeh. Ini pertama kalinya paman Kim memulai pembicaraan dengan Ji Yun. Ji Yun terlihat menghapus air matanya. Sampai kapan kau terus menangis Ji Yun? Sahabatmu ini tidak akan pergi secepat itu.

“aku seperti merasa tidak dapat melihatnya lagi paman, aku takut kehilangan Jungkook…” jawab Ji Yun, kedua matanya berkaca-kaca. Dan beberapa tetes air jatuh ke pipinya. Paman Kim memperlambat laju mobil, lalu berhenti di tepi jalan. Paman Kim melirik Ji Yun lagi lalu memberikan beberapa helai tisu padanya. “tenanglah, pria yang kau cintai tidak akan semudah itu meninggalkanmu, dia pasti kembali…”

Pria yang kau cintai? Siapa yang paman maksud? Aku?

Percakapan ini semakin menarik. Aku tidak boleh melewati apapun. Paman Kim menepuk pundak Ji Yun, perempuan itu menangis lagi. “Bagaimana dengan coklat yang akan kau berikan pada tuan?”

nde?”  Ji Yun mengeluarkan sebuah kotak bekal dari dalam tas ranselnya. Ji Yun membuka kotak bekal dan tercium wangi coklat. Sebagian bentuknya masih utuh, dan sebagian lagi sudah encer. “ paman maukah mencobanya? “

“sayang sekali nona, aku tidak suka coklat, tapi karena anda yang membuat aku akan memakannya…”

Sampai kapan mereka akan bercakap-cakap? Bukankah paman Kim dan Ji Yun tidak seakrab yang kutahu?

Paman Kim mengambil salah satu coklat yang bentuknya masih utuh. “ini benar-benar enak, anda membuatnya pagi tadi? selain membuat coklat apalagi yang nona bisa? Kelas memasakmu sudah mencapai level berapa? Haha…”

Kelas memasak? Dahiku mengerut, melihat paman Kim dengan lahap memakan coklat-coklat itu. Sejak kapan Ji Yun pandai memasak? Setahuku membuat segelas teh hangat saja dia tidak bisa, apalagi membuat coklat. Dan juga sikap Ji Yun dan paman yang tidak canggung seperti biasanya.

Ji Yun tersenyum tipis, senyuman pertama yang ku lihat semenjak sore. “ aku merasa bersalah, banyak hal yang ku tutupi dari Jungkook, termasuk eommoni, entah sampai kapan aku harus menjaga rahasia ini paman, jika aku mengatakan kebenarannya, aku akan menyakiti perasaan abeoji, dan jika aku tidak mengatakan kebenarannya, aku akan menyakiti perasaan Jungkook…”

“rahasia akan selalu menjadi rahasia, cepat atau lambat tuan Jungkook akan mengetahuinya, mungkin ketua akan mengatakannya langsung pada tuan Jungkook, kita tunggu saja”

Rahasia?

Aku yakin, ketua yang dimaksud paman Kim adalah ayah. Akupun semakin penasaran dan semakin larut dengan percakapan Ji Yun dan paman Kim. Ji Yun apa lagi yang kau sembunyikan dariku?

“Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika Jungkook tahu kalau ayah dan ibunya berpisah bukan karena bercerai tapi karena takdir Tuhan?”

Takdir Tuhan?

“tuan tidak ingin membuat Jungkook merasa sedih atas kematian ibunya. Tuan takut jika Jungkook mengetahui berita ini, dia akan semakin terpukul. Biarkan tuan yang menjelaskannya pada Jungkook nona. Tenanglah, semua akan baik – baik saja”

Begitu berita yang kudengar. Sangat tidak masuk akal dan diluar dugaan. Benarkah? Lalu apa yang menyebabkan ibu meninggal? Apakah ia sakit? Kenapa ayah tidak pernah menceritakannya padaku? Aku bukanlah anak kecil lagi yang akan terpukul mendengar berita seperti ini. Aku perlu penjelasan!

“pendarahan yang nona derita saat melahirkan tuan muda Jungkook, saya yakin itu bukanlah bencana yang Tuhan berikan, Tuhan tidak akan pernah tega melakukan hal seperti itu pada hambaNya yang taat, saya yakin nona Chow selalu tersenyum dari surga melihat Jungkook tumbuh dewasa”

Chow? Ibuku? Ya ayah tidak pernah memberi tahu siapa nama ibu padaku, seperti apa orangnya. Bahkan dia tidak pernah memperlihatkan foto ibu padaku. Kehidupanku hanya membayangkan bagaimana rupa ibu kandungku. Dia selalu menghindar jika aku mulai membahas tentang ibu.

Jadi, selama dua puluh dua tahun ayah menyembunyikan rahasia penting ini dariku?

Heh, manusia yang sangat tidak berperasaan.

***

Dua puluh menit berlalu. Dan selama itu pula aku shock dengan apa yang barusaja ku dengar. Selama ini aku telah dibohongi ayah? Kenapa?

Paman Kim mengantar Ji Yun hingga berhenti di depan gedung appartemennya. Akupun mengikuti Ji Yun hingga masuk ke dalam apartemen bersamanya. Dia menghidupkan saklar dan merebahkan tubuh di atas sofa lalu tertidur. Aku tercengang, melihat kondisi apartemen Ji Yun yang sangat bersih. Biasanya tempat ini akan terlihat berantakan di saat setiap aku mengunjunginya. Namun kali ini, benar-benar terlihat beda. Ruangan ini sangat bersih. Akupun mengedarkan pandangan ke segala arah. Mungkin masih ada hal yang dia tutupi lagi dariku.

Tatapan mataku berhenti di satu ruangan. Ji Yun selalu melarangku untuk masuk ke dalam ruangan itu. Aku sangat penasaran. Mungkin saja ruangan ini yang akan menjawab semua rasa penasaran itu. Aku melangkah, berhenti di depannya. Ruangan dengan pintu berkayu yang tertutup. Aku merasa tidak yakin dapat membukanya, karena saat ini aku berada dalam ruh yang transparan. Aku menatap pintu itu, berharap dapat terbuka lebar. Dan seketika pintu itu terbuka sesuai pikiranku. Bola mataku membesar, aku bisa melakukannya hanya dengan pikiranku saja? Apakah menjadi ruh itu seperti ini? Melakukan sesuatu hanya melewati pikiran? Menarik.

Aku masuk lalu mengendarkan pandangan, dan membiarkan pintu ruangan ini terbuka. Gelap. Ruangan ini benar-benar gelap. Aku butuh penerangan. Aku mencoba lagi, mengendalikan dengan pikiran. Aku melirik lampu yang menggantung di atas. Seketika ruangan ini bercahaya. Kedua mataku lantas tertutup rapat, terkena cahaya yang terlalu silau. Mataku bergerak cepat memperhatikan sekeliling. Ruangan ini benar-benar kosong. Dindingnya dicat putih -bersih dan tak ada satupun barang yang terpajang. Aneh. Jika ruangan ini kosong, kenapa Ji Yun selalu melarangku untuk mendekatinya?

Tak sengaja pintu ruangan ini tertutup. Keadaan kembali gelap, lalu aku menyadari sesuatu. Sebuah lukisan wajah yang terlihat terang di atas sana. Ku perhatikan lagi. Lukisan itu membentuk wajahku yang berukuran sangat besar.

Saat kubuka pintu ruangan ini, saat itu pula lukisan itu memudar dan kembali gelap. Aku masih berdiri di posisiku, dari sini aku bisa melihat Ji Yun yang tertidur di atas sofa. Kemudian mataku melebar, menangkap sosok yang duduk di atas sofa di samping Ji Yun. Lagi-lagi perempuan misterius itu menampakkan wujudnya. Sontak, aku berjalan mendekatinya, seketika pintu ruangan tadi tertutup dengan sendirinya. Aku berhenti persis di depan perempuan itu, banyak pertanyaan yang akan ku lontarkan. Tapi sebaliknya perempuan itu malah lebih dulu membuka pembicaraan.

“teka-tekiku baru saja dimulai Jungkook…” ucapnya dengan suara pelan lalu tersenyum tipis. Dilihat dari jarak sedekat ini, dia memang sangat cantik, wajahnya yang tirus, pipinya bersih seputih salju dan matanya yang seakan ikut tersenyum membuat dia memiliki wajah yang sempurna. Beginikah rupa  perempuan yang selama ini mencuri hatiku? Jadi selama ini aku jatuh cinta pada ruh?

Aku hendak bersuara namun sosok itu kembali menghilang. “ tu tunggu…” Aku berteriak, mencoba untuk menahannya tapi sia-sia saja. Berkali-kali aku berteriak memanggilnya namun dia tetap tak muncul. Akupun menyerah. Kemudian aku melirik perempuan yang tertidur di sofa. Perlahan Ji Yun bangkit dan berjalan menuju kamar. Aku mengikuti Ji Yun, mungkin di dalam sini, masih banyak petunjuk yang masih tersimpan. Ji Yun menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Dia kembali tertidur. Aku melirik jam dinding. Sudah pukul setengah lima pagi. Aku berjalan pelan, mengelilingi kamar Ji Yun. Banyak sekali fotoku dan dirinya yang terpajang di atas meja. Beberapa hadiah ulang tahun yang kuberikan padanya berjejeran rapi di sana. Puluhan buku skecth miliknya tertumpuk di samping meja. Ini adalah pemandangan yang biasa kutemui di dalam kamarnya.

Ji Yun adalah mahasiswa jurusan seni lukis. Menggambar ataupun melukis adalah hobinya. Dia sangat pandai dibidang itu. Aku sama sekali tidak berpikir untuk melihat buku-buku skecth itu. Karena sebelumnya aku pernah melihat semua isinya. Dan yang ada di dalam sana adalah semua lukisan karya Ji Yun, tidak ada yang special, skecth wajahku saja tidak pernah ia lukis. Ji Yun, siapa yang kau maksud dengan pria yang dicintai? Apakah itu aku? Kurasa…. tidak.

***

Hari kedua semenjak aku koma

Ji Yun bolos kuliah. Siang tadi, ia buru-buru mengunjungi rumah sakit memantau perkembangan kondisiku. Raut wajahnya terlihat sedih, melihat kondisiku yang tidak ada kemajuan dari semalam. Aku masih koma. Ayah juga masih menemaniku semenjak semalam. Pria tua itu terlihat tak tidur semalaman menunggu anaknya siuman. Perawat masuk ke dalam ruangan hanya untuk sekedar mencek kondisiku. Ayah menunggu di luar, sedangkan Ji Yun masih berada di dalam ruangan ini.

“Jungkook-ah, kapan kau akan bangun? Aku merindukanmu, jika kau tidak ada, siapa yang akan menemaniku membaca buku di perpustakaan lagi? kau masih berhutang padaku Jungkook, siapa perempuan yang kau sukai itu? apakah aku mengenalnya? Sepertinya aku tahu siapa dia…”

Aku tertawa mendengar kalimat terakhir Ji Yun. Bagaimana dia bisa tahu siapa perempuan yang ku sukai, jelas-jelas Ji Yun sama sekali tidak bisa melihatnya. Ji Yun berkata lagi “apakah aku harus memanggilnya ke sini agar kau bangun?” Ji Yun diam, seperti menunggu jawaban dari tubuh yang tidak berdaya itu. Iapun mengangguk. “ baiklah aku akan mengajak Yein kemari, jadi tenanglah…”

Yein? Tunggu! Aku tidak menyukai perempuan itu!

Ji Yun bangkit dan pamit pada ayah. Aku terus mengikutinya hingga berhenti di halte. Ji Yun menunggu beberapa menit lalu naik ke dalam bis. Hey, apa lagi hal aneh yang akan dia lakukan?

Ji Yun menuju gedung musik. Tempat dimana biasanya aku menerima kuliah. Kelas bubar sejam yang lalu. Ji Yun melangkah lagi menuju gedung tari. Dari tadi aku hanya mengikuti kemanapun dia pergi. Ji Yun berhenti di sebuah ruangan kecil yang berada di ujung lantai empat. Iapun langsung masuk ke dalam. Beberapa mahasiswi dengan mengenakan pakaian ballerina berdiri sejajar. Mahasiswi itu terlihat sedang latihan dan termasuk Yein diantaranya.

“Ji Yun!” seru Yein lalu menghampiri Ji Yun di ambang pintu. “maaf aku mengganggu waktumu, Yein aku membutuhkan bantuanmu, hanya sebentar,ku mohon…”

“tapi kita sedang latihan…” Yein menolak. Ji Yun meraih tangan Yein dan memohon lagi hingga berlutut. Mau tak mau Yein mengangguk saja dan bergegas mengganti pakaian. Apa Ji Yun akan benar-benar membawa Yein ke rumah sakit seperti yang ia ucapkan? 

Akhirnya aku kembali lagi ke rumah sakit, berdiri di antara perempuan-perempuan ini. Yein  menatap tubuhku yang terbaring. Dia terlihat terkejut dengan kondisiku yang dibalut perban dan selang yang sangat banyak. Ji Yun duduk di samping ranjang, menatap ke arahku dengan pilu lalu berkata. “Jungkook, seperti permintaanmu aku membawa Yein ke sini, oleh karena itu cepatlah bangun, Yein juga menginginkan kau sembuh total dan kembali ke kehidupanmu seperti dulu, jadi ku   mohon buka matamu…” Ji Yun menangis lagi. Aku sampai-sampai kasihan melihatnya yang terus-terusan menangis.

Begitu sedihkah dia kehilanganku? Dan kenapa dia terus saja menangis? Ji Yun membuatku bingung. Pertama, hubungannya yang akrab dengan paman Kim. Kedua, Ji Yun yang mulai gemar memasak. Ketiga, rasa sok tahu Ji Yun mengenai perasaanku, menganggap bahwa Yein adalah perempuan yang aku sukai.

“aku turut prihatin melihat kondisi Jungkook, dia pasti akan sadar, aku yakin itu…” Yein menekan bahu Ji Yun agar membuatnya lebih tenang. “ terimakasih sudah memenuhi permintaanku Yein…”

“dan satu lagi, Jungkook sama sekali tidak menyukai ku…” Yein membalas dengan senyuman lalu pamit pada Ji Yun dan berjalan ke luar ruang rawat ini. Aku tersenyum mendengar kalimat Yein itu. Dengar Ji Yun, Yein merasa kalau aku tidak menyukainya, tapi kenapa kau malah berpikir sebaliknya?

***

Hari ketiga koma

Ji Yun lagi-lagi bolos kuliah. Semalaman dia menemaniku lebih tepatnya menemani tubuhku, seperti menanti datangnya keajaiban. Lingkaran hitam di bawah matanya berlipat-lipat semakin jelas. Ji Yun tidak tidur semalaman. Ia sibuk bergumam mengutarakan semua curahan hatinya. Aku hanya mendengar saja tanpa membalas gumamannya. Perlahan Ji Yun meraih telapak tanganku lalu menggenggamnya dan setetes air mata jatuh mengenai punggung tanganku. Ji Yun menangis lagi. Aku malah lebih prihatin melihat kondisi Ji Yun dibandingkan melihat kondisi tubuhku sendiri. Perempuan ini benar-benar membuatku khawatir.

“Jungkook…” Ji Yun berbicara lagi. “ siapapun perempuan yang kau cintai itu dan sebesar apapun kau mencintainya, tetap itu tidak akan membuat perasaanku padamu berubah, aku akan selalu berada di sampingmu, melindungimu, meskipun nanti kau bukanlah orang yang akan selalu bersamaku, tapi setidaknya kau harus tetap bertahan untuk cinta pertamamu Jungkook…jadi cepatlah kembali…kembalilah demi dia…kembalilah demi perempuan itu dan nyatakan perasaanmu padanya, aku yakin dia pasti menunggumu… ”

 “aku tidak pernah menunggu bocah tengik ini nona! ”sebuah suara mengagetkanku. Dia perempuan yang dimaksud Ji Yun, cinta pertamaku. Kedatangannya yang tiba-tiba di ruangan ini membuatku sedikit terkejut. Perempuan itu melirikku dari atas kepala hingga kaki. “ aku tidak mungkin menyukai pria bodoh ini, dia bukanlah tipeku…”

Dahiku mengerut, lantas memprotes padanya “ ya!” aku berteriak lagi untuk kesekian kalinya “ya! Ya! Ya! Aku memang menyukaimu, kau adalah wanita tercantik yang pernah kulihat, tapi bisakah kau menjaga kata-katamu nona dengan tidak memanggilku dengan bocah tengik? pria bodoh? itu menghinaku!” nada bicaraku meninggi, seakan mengajaknya berkelahi.

Perempuan itu  melipat tangannya, menatapku seakan menerima tantanganku. “kenapa? Yang berbicara adalah mulutku, jika kau tersinggung itu bukan urusanku!” ujarnya seraya mendorong tubuhku menjauhinya. Secepat kilat ku tarik tubuhnya. “hati-hati dengan ucapanmu nona!”

Perempuan itu terkekeh pelan. “satu hal yang kau lupakan tuan Jungkook, aku ini ruh, dunia ruh sangatlah berbeda dengan dunia manusia, jika kau menginginkanku sangatlah mudah, jadilah bagian dari kami…”

Genggamanku terlepas. “bagaimana? Apa kau ingin tetap menjadi seorang manusia atau menjadi ruh sepertiku?”

Ruh? Itu sama artinya aku harus mati.

Perempuan itu terkekeh. “ kenapa terlalu serius Jungkook?” perempuan itu membalikkan tubuhku menghadap ke pintu. Terlihat Ji Yun yang sudah meninggalkan ruangan. “kejarlah dia…” aku menoleh padanya yang tersenyum lebar. “aku sangat menyukai gadis yang bernama Ji Yun itu…” bisiknya lalu mendorong tubuhku hingga ke ambang pintu, saat aku menoleh lagi perempuan tadi sudah menghilang.

Aku merasakan sesuatu… Siapakah dia?

***

Ji Yun tidak terlihat semangat. Wajahnya kembali murung mengetahui kondisiku yang tidak kunjung membaik. Ji Yun berhenti di sebuah toko bunga hendak membeli sesuatu di sana. Ji Yun memilih sebuket tulip putih lalu membayarnya. Kami melanjutkan perjalanan menuju ke suatu tempat, tempat yang sangat jauh dari keramaian dan kebisingan. Tempat yang mengingatkanku akan kematian.

Sebuah pertanyaan kembali muncul di pikiranku. Sekarang apalagi yang Ji Yun lakukan di pemakaman ini. Apa tujuannya dan untuk siapa tulip putih itu. Setauku, tidak ada satupun kerabat Ji Yun yang dimakamkan di tempat ini. Jika ada, siapapun anggota keluarga yang meninggal, mereka tidak akan di makamkan di Korea. Keluarga besar Ji Yun berada di Jepang. Hanya keluarganyalah yang tinggal di Seoul. Dan hanya Ji Yun satu-satunya anggota keluarga yang masih menetap di Korea karena masa study-nya.

Ji Yun berhenti di sebuah makam, makam yang sangat tua. Batu nisan berbentuk salib berukuran besar itu tertulis sebuah nama yang sangat asing. RIP J.J.CHOW 27 Februari 2000. Aku tidak mengenal nama itu. Ji Yun menaruh tulip putih tadi di atasnya lalu berdoa untuk sang penghuni makam.

“Ya! Ji Yun, Siapa orang ini?” aku bertanya padanya, meskipun ku tahu Ji Yun tidak akan bisa mendengar ucapanku.

Ji Yun menoleh, seperti menatap ke arahku. Aku menjadi bingung. Dia bisa mendengar ucapanku barusan?

“Namjoon -ssi?” seketika akupun membalik badan dan yang kulihat adalah Namjoon tengah berdiri sejajar denganku. Ji Yun dengan segera berdiri dari posisinya. Aku bisa melihat Ji Yun lagi-lagi salah tingkah. Benar, dia menyukai Namjoon. Aku tertawa pelan, melihat ekspresi Ji Yun. Dia menyembunyikan rasa gugupnya di depan Namjoon . “Apa kau juga mengunjungi seseorang?”

Namjoon  tersenyum “ ya, ibuku…hm siapa ini? kerabatmu?” Namjoon  bertanya seraya berjalan mendekati Ji Yun. Ji Yun mengangguk saja dan kemudian suasana pemakaman yang sunyi beribu kali lipat semakin sunyi. Tak ada suara lagi yang terdengar dari mereka. Percakapan singkat terhenti begitu saja. Baik Ji Yun ataupun Namjoon  keduanya bungkam, entah apa yang mereka pikirkan, tapi suasana ini membuatku tidak nyaman. Dan satu hal yang kuketahui bahwa Ji Yun tidak bisa membohongiku lagi tentang perasaannya pada Namjoon.

Namjoon berdiri membelakangi Ji Yun. “semenjak kejadian itu, kenapa kita selalu canggung seperti ini?”

Kejadian saat itu?

Timbul tanda tanya besar di pikiranku. Pasti ‘suatu’ hal terjadi di antara mereka. Apakah Namjoon  sudah menyatakan perasaannya pada Ji Yun? Atau malah Ji Yun yang melakukannya sehingga membuat Ji Yun merasa malu setiap bertemu dengan Namjoon ? Ini semakin menarik. Aku kembali mendengarkan percakapan mereka. Rasa ingin tahuku ini mengusik pikiranku untuk kembali menguping.

Namjoon terlihat mengangkat wajahnya menatap langit. Tatapannya menerawang, seperti menembus hamparan putih-biru itu. Namjoon memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. Ia menghembus napas. Sementara itu Ji Yun hanya menundukkan wajah merahnya. “tenanglah, aku tidak akan memberi tahu pada siapapun, termasuk pada pria yang kau sukai itu…”

Ji Yun mendongak, menatap Namjoon  yang juga tengah menatapnya. “ Namjoon -ssi! a..aku…aku tidak menyukainya!” Suara Ji Yun terdengar lantang.

“benarkah?” Namjoon  bertanya dengan tatapan selidiknya. Ia seperti tidak yakin dengan pengakuan Ji Yun. “i…itu benar! Surat itu bukanlah dariku, itu…. dari teman, ya! dia menitipkannya padaku untuk diberikan padanya dan aku menaruh surat itu di dalam tasnya, aku bersumpah! Surat itu bukan dariku! lagi pula siapa yang mau menyukai pria seperti dia? Memang, aku sering memujinya, tapi bukan berarti aku menyukainya kan? ” ungkap Ji Yun panjang lebar, berusaha mati-matian meyakinkan Namjoon.

Surat?

Aku yang dari tadi mendengar pembicaraan mereka mulai terheran-heran. Siapa sebenarnya laki-laki yang disukai Ji Yun? Bukan kah itu Namjoon ?

 “siapa temanmu itu? Apa dia bernama Hwang Ji Yun? ”

Ji Yun menatap Namjoon  dengan kedua matanya yang membesar. “ Namjoon -ssi…” lagi-lagi Ji Yun membantah. Namjoon mengalihkan tatapannya dari Ji Yun. “ jika itu benar, berarti saat ini tidak ada laki-laki yang mengisi hatimu?”

“hah? i…itu…” Ji Yun terlihat bingung.

Namjoon  berbalik, menatap Ji Yun lagi. “ setiap hari aku menanti kedatangan seseorang yang bisa memberikanku kasih sayang dan ketulusan. Setiap kali aku bercerita pada ibu, ada seorang gadis yang berhasil memikat hatiku, dia satu-satunya orang yang bisa membuatku tersenyum lagi setelah kehilangan seorang ibu, dan orang itu adalah…” Namjoon menatap Ji Yun lekat “kau…”

Angin berhembus pelan menerbangkan dedaunan kering yang gugur di sekitar kami. Di atas sana awan-awan putih mulai terlihat memenuhi langit biru. Pembicaraan kembali terhenti, hanya kepakan sayap burung merpati yang terdengar.

“jika laki-laki itu adalah aku, apakah hatimu akan menerimanya?” Namjoon  bertanya. Ji Yun membalas tatapan Namjoon. Suasana hening kembali.

Jadi, laki-laki yang disukai Ji Yun bukanlah Namjoon ? Lalu siapa?

“Namjoon -ssi,aku sedang tidak mood untuk bercanda…” balas Ji Yun kemudian.

Namjoon  menatap Ji Yun dengan wajah yang serius “aku sedang tidak bercanda, aku benar-benar menginginkanmu…”

Ji Yun berjalan melewati Namjoon . “maaf, ada urusan penting yang harus kulakukan…”

“Jika aku Jungkook, apa kau akan menerimaku?”  Namjoon  bertanya dengan sedikit berteriak

Aku?                                                                                         

Langkah Ji Yun terhenti, ia kembali diam. “sudah ku katakan, aku tidak menyukai Jungkook!”

Jantung ini seperti ingin meledak saat namaku disebut – sebut.

“mulut bisa saja berkata dusta, tetapi mata tidak bisa berbohong Ji Yun-shi…” Namjoon  berkata pelan. Gadis itu berbalik. Matanya berkaca-kaca. “kau tahu itu, tapi Jungkook tidak, dia laki-laki paling bodoh di dunia ini!”

Jadi…

Ji Yun berbalik hendak berjalan menjauhi Namjoon , namun pria itu malah menahan kepergian Ji Yun “datanglah padaku, jika dia membuat hatimu sakit…”

Ji Yun membalas tatapan Namjoon  kemudian melepas genggamannya. “Jungkook, dia menungguku di rumah sakit…”

Genggaman itu terlepas. Ji Yun berhasil menjauh. Sementara itu aku hanya bisa terdiam di posisiku. Aku benar-benar bingung dengan situasi ini. Tidak ada ungkapan lagi yang bisa ku katakan. Seketika aku kehilangan kata-kata.

“Ji Yun tunggu…” Aku mendengar suara teriakan Namjoon  di depan sana. Namjoon  berlari menyusul Ji Yun “ akan ku antar kau ke rumah sakit…” Namjoon  menarik Ji Yun. Aku masih saja terdiam, menyaksikan kepergian mereka yang perlahan hilang dari pandangan. Sekarang kejutan besar apa lagi yang akan kuterima?

***

Hari keempat, masih belum ada kemajuan

Seharian aku menemani Ji Yun di perpustakaan. Tak ada satupun buku yang ia baca. Benda dengan ratusan eksemplar itu ia biarkan tertumpuk di atas meja. Ji Yun dari tadi hanya melamun, gairahnya untuk membaca buku hilang.

Pengunjung perpustakaan hari ini ramai seperti biasa. Hanya saja aku tidak lagi melihat gadis cantik yang selalu duduk di bawah pohon rindang itu. Dia benar-benar menghilang semenjak tiga hari yang lalu.

‘Aku sangat menyukai gadis bernama Ji Yun itu’

Kalimatnya kembali terngiang, mengusik pikiranku. Kemudian, aku memandangi Ji Yun lagi. Ekspresinya datar, lingkaran di bawah matanya semakin hitam. Perlahan, Ji Yun merebahkan kepalanya di atas meja. Aku memperhatikan gerak-geriknya. Lalu ikut merebahkan kepala di atas meja, sejajar dengan wajahnya. Ji Yun menangis. Air matanya mengalir, lalu menetes, mengenai punggung tangannya. Wajah Ji Yun masih saja datar, meskipun air mata itu terus mengalir di pipinya. Dahiku mengerut, merasa bersalah padanya. Tanganku terangkat, hendak mengelus kepala Ji Yun, tapi mustahil. Tangan ini hanya menembus kepalanya.

“Ji Yun, apa yang membuatmu tertarik padaku?” aku bertanya, meskipun tidak ada kemungkinan jawaban yang kudengar darinya. Aku menghela napas. Lalu terdiam, melirik kedua mata Ji Yun yang semakin berair. “ bisakah aku mendengar jawabanmu sekarang?” aku bertanya lagi dan tanpa sadar air mataku ikut mengalir. Sudah lama tidak menangis. Terakhir kali saat aku mengetahui ayah dan ibu berpisah karena perceraian dan itu membuatku sangat terpukul. Ji Yun menyeka air matanya dan mengangkat wajah. Kemudian membereskan semua buku yang sama sekali tidak terbaca.

“kau menyerah?” Kepalaku terangkat, merasa tak asing mendengar suara ini. Perempuan misterius itu kembali muncul. Tiba – tiba saja ia duduk di depan kami. Aku menghela napas, rasa penasaran karena kehilangan sosoknya terbayar. “kemana saja?” Perempuan ini tersenyum lalu membalas “merindukan kehadiranku?”

Aku tertawa pelan. “apa? merindukanmu? Jangan terlalu percaya diri!” Aku bangkit berdiri, hendak mengikuti Ji Yun. Aku ingin menemaninya seharian, karena untuk saat ini, hanya itu yang bisa kulakukan.

“bersiaplah, karena kabar baik akan menghampirimu Jungkook!” Langkahku berhenti tanpa membalik badan. Kalimatnya membuatku ingin tahu. “maksudmu?” Aku bertanya. Namun, perempuan misterius itu menghilang. Sial!

Akupun membalik badan melihat Ji Yun menuju halte yang berada di depan gedung perpustakaan. Aku sedikit berlari kecil mengikutinya lalu berhenti, tepat saat bis datang. Ji Yun memilih kursi paling belakang dan duduk di tengahnya. Kondisi di dalam bis tidak penuh dengan penumpang dan hanya Ji Yun seorang duduk di kursi belakang. Saat hendak menghampiri Ji Yun tiba-tiba saja seseorang berjalan lalu menembus tubuhku yang transparan dan mengambil tempat di samping Ji Yun dan ku lihat orang itu adalah Namjoon . Aku menghela napas, akhirnya ku putuskan untuk berdiri saja.

Ji Yun sedikit terkejut dengan kehadiran Namjoon  di dekatnya. Namjoon melambai pada Ji Yun dan menyapa. Ji Yun membalas dengan senyuman, bispun melaju perlahan. “bukankah ini jam kuliah? Hem seperti hari-hari sebelumnya, kau tidak masuk lagi…” Ji Yun hanya diam, merasa kalimat Namjoon tak perlu untuk dibalas. “aku mengawasimu setiap hari…” lanjut Namjoon . Ji Yun spontan menoleh. Namjoon pun menyenderkan kepalanya di bahu Ji Yun, membuat Ji Yun terpaku sesaat. “bolehkan aku meminjam bahumu sebentar?” tanya Namjoon. Ji Yun tidak menjawab.

Entah kenapa jemariku mengepal melihat kedekatan Namjoon dan Ji Yun. Apa aku mulai cemburu?. Bis baru saja melewati halte berikutnya dan menambah empat penumpang. Salah satunya adalah Yein. Ini kebetulan yang luar biasa.

Bis bergerak, mengambil rute di sebelah kanan dan melewati beberapa mobil yang juga sedang melaju. Yein berjalan ke bagian belakang, masih mencari tempat yang nyaman untuk diduduki. Iapun melihat Namjoon dan Ji Yun, dan tentu tidak melihat wujudku di sini. Ji Yun menyadari kehadiran Yein dan wajahnya terlihat shock. Mungkin Ji Yun tidak ingin Yein salah paham mengenai hubungannya dengan Namjoon. Sangat jelas kalau Yein melihat mereka bersama ditambah Namjoon tengah memejamkan mata di bahu Ji Yun. Ji Yun menggoyangkan bahunya yang ditiduri Namjoon . Namjoon pun terbangun. Yein yang melihatnya tersenyum tipis. “apa aku mengganggu?” tanya Yein sedikit berbisik. Aku bisa mendengarnya karena Yein berdiri di depanku.

Ji Yun mengangkat kedua telapak tangannya, memberi kode –jangan salah paham. Yein tersenyum lagi “pasangan serasi”akunya. Jantungku terasa berdetak keras saat mendengar kalimat Yein. Aku merasa ada kecemburuan yang terselip.

Ji Yun memandangi Namjoon  lalu menjawab dengan kikuk. “hahaha ini tidak sesuai dengan pikiranmu…” Namjoon  membalas tatapan Ji Yun lalu melingkarkan lengannya ke bahu Ji Yun. “kami terlihat seperti sepasang kekasih? hmmm benar… ” ujar Namjoon lalu sedikit terkekeh. Ji Yun lagi-lagi memandangi Namjoon serta membesarkan kedua bola matanya. Ia berusaha keras membantah ucapan Namjoon. Yein ikut terkekeh “baguslah kalau begitu, ternyata rumor itu benar, kalian berdua memiliki hubungan yang spesial, lalu sejak kapan kalian bersama?”

“BUKAN BEGITU!KAU SALAH PAHAM!” Ji Yun sedikit berteriak. Bersamaan dengan itu bis mendadak berhenti. Yein yang berdiri di depanku hampir terjatuh. Spontan kutarik lengannya sehingga membuat tubuh Yein menyender ke tubuhku. Aneh. Aku bisa menyentuh Yein. Tanganku bisa menyentuhnya dan aku bisa merasakannya juga. “Yein-ya! Kau baik-baik saja?” Namjoon  kemudian menarik Yein untuk duduk di sebelahnya. Wajah Yein masih shock dengan kejadian ini, terlebih diriku. Yein menghirup oksigen berkali-kali, mencoba untuk menstabilkan pernapasannya. Lalu berkata kalau ia baik-baik saja. Sopir bis meminta maaf pada kami karena tiba-tiba menginjak rem, ia tidak melihat traffic lamp yang sedang menyala merah di depan.

***

Kamipun menuju sebuah mini market yang tidak jauh dari halte pemberhentian. Yein meneguk soft drink yang ia beli. Sementara itu Namjoon  dan Ji Yun belum menyentuh kaleng minuman mereka. “maaf, kalau aku merusak kencan pertama kalian…” ujar Yein seraya menaruh soft drinknya di atas meja. Ji Yun menyilangkan kedua telapak tangan. “sampai kapan kau menganggap kami ini sebagai pasangan kekasih?” Namjoon  bertanya, seraya menyeruput minumannya.

“jadi…?” Yein mendongak, menatap Ji Yun dan Namjoon  bergantian. “kami tidak pacaran! Meskipun aku mengharapkan sebaliknya…” ungkap Namjoon. Ji Yun menoleh pada Namjoon  lalu Namjoon  membalas tatapan Ji Yun. “oh? Jadi…cinta bertepuk sebelah tangan?” terka Yein dibalas oleh tawa Namjoon. Ji Yun menundukkan kepalanya, seperti merasa bersalah pada Namjoon . “kalau Yein sendiri adakah orang yang kau suka?” tanya Ji Yun.

Yein melipat kedua lengannya di atas meja, lalu tersenyum tipis. Wajahnya sedikit merona merah mendengar pertanyaan Ji Yun. “orang yang ku suka…” Yein menatap Ji Yun lalu melanjutkan “….adalah Jungkook…”

Aku?

Ji Yun dan Namjoon  saling berpandangan. “baguslah…” ujar Ji Yun. Aku menoleh, memperhatikan raut wajah Ji Yun. Ekspresinya menggambarkan kalau ia baik-baik saja setelah mendengar pengakuan Yein yang sedikit mengejutkanku itu. Ji Yun menyeruput minumannya. “kau tau? Jungkook juga menyukaimu…”

BRAK

Spontan kedua telapak tanganku memukul meja cafe, meluapkan rasa kesal karena Ji Yun terus berpikiran konyol seperti itu. Kenyataannya bukan Yein orang yang kusuka. Tatapan kedua mataku tak lepas menghujam Ji Yun. Ubun-ubunku terasa panas. Aku ingin menyadarkan Ji Yun namun apa yang bisa kulakukan dengan tubuh yang transparan ini. Ji Yun melampaui batas kesabaranku. Sejenak, aku berusaha untuk meredakan rasa kesal ini, lalu kembali berpikir rasional.

Aku menyadari bahwa kedua telapak tanganku bisa merasakan sentuhan di meja. Tak seharusnya aku bisa melakukan ini bukan?. Ji Yun, Namjoon dan Yeinpun tidak mendengar bunyi hentakan yang kutimbulkan. Kulirik kedua telapak tanganku yang memerah. Kenapa tanganku bisa melakukannya?

Tak terasa waktu semakin sore. Merekapun mengakhiri perbincangan di cafe. Namjoon  mengantar Yein dan Ji Yun menuju halte. Setahuku bis menuju apartemen Yein dan Ji Yun di arah yang sama. Namjoon pun pergi selepas bis yang ditumpangi mereka meninggalkan halte. Ji Yun dan Yein duduk berdampingan. Dan lagi-lagi aku terlibat di dalam perbincangan mereka.

“benarkah kalau Jungkook juga memiliki perasaan yang sama padaku?” Yein angkat bicara setelah lima menit bis bergerak. Ji Yun mengukir senyum lalu menjawab “benar! Aku tidak mungkin berbohong…”

“dari mana kau tahu?”

“aku sangat tahu apa yang Jungkook suka dan apa yang tidak dia sukai, termasuk wanita yang dicintainya…”ujar Ji Yun. Lagi-lagi dengan kata-kata ‘sok’ tahunya.

Yein tersenyum tipis “bagaimana aku bisa mempercayai kata-katamu?”

Ji Yun menghela napas, melirik Yein dengan senyuman “diam-diam dia selalu memperhatikanmu di perpustakaan…”

Tanganku terkepal. Aku ingin berteriak untuk menyadari gadis ini. Cukup Ji Yun!

Yein tertawa senang “benarkah?” Gadis ini lalu menyampirkan rambut panjangnya. Wajahnyapun merona merah. Ji Yun kemudian meraih jemari Yein dan menggenggamnya. Kedua bola mata Ji Yun terlihat berkaca-kaca. “ku mohon bantu aku untuk membangunkan Jungkook, jika kau selalu berada di dekatnya, mungkin saja Jungkook akan segera sadar…”

Yein mengeratkan genggaman tangan mereka, kedua matanyapun berair. “akupun berharap sama denganmu…kau tahu Ji Yun, aku selalu menemani Jungkook di rumah sakit saat kau tidak ada di dekatnya…dan aku melakukan itu semenjak hari pertama dia koma…”

Entah kenapa setelah mendengar ucapan Yein waktu terasa berputar lambat. Bis yang menumpangi kamipun terasa bergerak pelan –slow motion. Yein kembali melanjutkan “ku kira dulu kau dan Jungkook memiliki hubungan yang special”

Ji Yun terbatuk “tidak! Kami hanya teman biasa…”

“Sukurlah, aku benar-benar lega…aku janji, mulai saat ini aku yang akan menjaga Jungkook, kau tidak perlu khawatir…”

Ji Yun tersenyum dan memeluk Yein “Terimakasih…”

Tanganku semakin terkepal. Ji Yun tidak mengenal perasaannya dengan baik. Dan itu yang membuatku sangat sedih.

“Yein, aku akan mengatakannya sekali…”

“apa?” Yein bertanya.

“sama seperti Namjoon, cintaku bertepuk sebelah tangan…”

“maksudmu?”

“bukan hanya kau, tapi aku juga merasa lega karena berkat dirimu Jungkook tidak akan merasa sendiri lagi, aku sudah menyerah pada perasaanku, merelakan dia pergi bersama wanita yang ia cintai…” ujar Ji Yun dengan mata berkaca – kaca. “buat dia bahagia…”

“jadi kau sudah tau sekarang?” sebuah suara berbicara di dekat telingaku. Akupun memutar badan, sudah menerka pemilik suara itu. Perempuan misterius muncul di hadapanku dan tentu hanya aku seorang yang bisa melihat wujudnya. “waktumu hanya tersisa satu hari, setelah itu kau sendiri yang akan menentukan kisah selanjutnya…”

“tunggu!” ku cegah kepergiannya. “satu hari? Apa maksudmu?” Alisku tertaut. Aku ingin meminta penjelasan yang lebih darinya. “kau akan kembali lagi ke tubuhmu Jungkook dan satu hari adalah sisa waktumu untuk menjawab semua teka teki ini…dan disaat kau harus kembali, kau tidak boleh meninggalkan tubuhmu, jika kau lakukan, kau akan melupakan semua kejadian ini atau… kau akan menjadi ruh selamanya! Jika kau tidak ingin menyesal, jangan pernah melakukan kesalahan sedikitpun!” Tubuhnya perlahan memudar lalu menghilang dari pandanganku. Sial! 

Ji Yun sudah turun dari bis. Aku mengikutinya dan meninggalkan Yein yang masih berada di dalam bis. Lima menit lagi bis akan berhenti tepat di depan apartemen Ji Yun. Sebenarnya dengan berjalan akan menempuh waktu lebih lama untuk mencapai apartemennya. Tapi entah kenapa Ji Yun lebih memilih berjalan kaki. Ji Yun sudah menyeberang bahkan hampir tiba di tikungan jalan. Awalnya langkah Ji Yun pelan, namun lama kelamaan langkah kaki itu semakin bergerak cepat. Aku dan Ji Yun melewati mini market dan kantor pos. Sekitar tiga meter lagi, kami akan melewati taman bermain yang dulunya adalah tempat favorite kami saat sekolah dasar dulu. Langkah Ji Yun melambat. Akupun berhasil menyusulnya dan berjalan berdampingan. Akupun menoleh, lalu terkejut melihat wajah Ji Yun yang basah. Dia menangis.

Langkahku ikut melambat. Ji Yun masuk ke dalam taman bermain dan memilih duduk di sebuah ayunan. Telapak tangan Ji Yun dengan cepat mengusap air matanya. Beberapa anak yang terlihat bermain di sini sempat memperhatikan Ji Yun. Mereka terheran-heran melihat Ji Yun yang menangis. Lalu seorang bocah menghampiri Ji Yun dan memberikan sapu tangan padanya. “noona, pakailah ini…” ujar bocah itu. Raut wajahnya terlihat sangat prihatin melihat Ji Yun yang semakin sesegukkan. “terimakasih” jawab Ji Yun kemudian. Bocah itupun kembali bergabung dengan teman-temannya.

Ji Yun mengusap air matanya dengan sapu tangan tersebut. Matanya sedikit sembab dan hidungnya pun memerah. Aku ingin memeluknya, tapi aku tidak bisa. Kuangkat kedua telapak tanganku. Tanpa sadar setetes air mengenai jemariku. Aku merasa sedih karena tidak bisa berada di samping Ji Yun untuk saat ini. Aku ingin sekali melindunginya. Samar-samar pandanganku menjadi kabur. Kedua tanganku seperti menghilang. Begitu pula saat melihat tubuhku yang seakan menghilang. Apa yang terjadi?

 ‘kau akan kembali lagi ke tubuhmu Jungkook dan satu hari adalah sisa waktumu untuk menjawab semua teka teki ini’

Apakah aku akan terbangun dari tidurku yang panjang? Apakah ini pertanda kalau aku masih memiliki kesempatan untuk hidup?

Ku angkat tanganku yang seakan menghilang. Kemudian mencoba untuk menyentuh bahu Ji Yun. Dan aku bisa merasakan sentuhan tanganku di tubuhnya. Tubuhku bergetar. Benar. Aku akan kembali ke dunia ini. Aku tersenyum, merasa bahagia karena diberi kesempatan untuk melindungi Ji Yun. Setelah kembali nanti aku berjanji akan selalu berada di samping Ji Yun, gadis yang telah berhasil menarik hatiku untuk selalu bersamanya. Ku rasa hatiku mulai memilihnya dan melupakan cinta pertamaku. Benar, masih banyak yang perlu kupelajari dari dunia ini, termasuk belajar dalam hal mencintai.

Kepala Ji Yun terangkat, lalu melirik ke arahku. Aku membalas tatapannya. Ji Yun seperti menyadari keberadaanku.

“Namjoon?”

Namjoon?   

Badanku memutar. Namjoon berdiri tepat di belakangku. Tangannya baru saja menyentuh bahu Ji Yun sama seperti yang ku lakukan. Aku menghela napas. Ternyata Ji Yun sama sekali tidak menyadari sentuhanku. Ji Yun berusaha untuk menyembunyikan kesedihannya. “apa yang kau lakukan di sini?” tanya Ji Yun. “jangan pernah menyembunyikan kesedihanmu di depanku…menangislah jika kau ingin melakukannya…”

“siapa yang ingin menangis…” bantah Ji Yun. Namjoon kemudian meraih wajah Ji Yun dan memperhatikan kedua matanya. “sangat jelas kalau kau baru saja menangis…”

Ji Yun terdiam lalu Namjoon  menyodorkan sapu tangan miliknya “ini, kalau kau merasa belum puas…”

Ji Yun berpaling “aku sama sekali tidak membutuhkannya…” tolak Ji Yun. Namjoon  menghembuskan napasnya dan meraih tangan Ji Yun, menaruh sapu tangan tersebut di atas telapak tangan Ji Yun. “tapi kurasa kau sangat membutuhkannya…”

Namjoon berlutut di depan Ji Yun seraya menatapnya. “jangan pernah menyembunyikan perasaanmu…karena itu akan menambah rasa sakit…”

Ji Yun semakin terisak lalu membiarkan pipinya semakin basah. Namjoon bertanya. “apa kau merasa lebih baik sekarang?”

Ji Yun menundukkan kepalanya. Namjoon  menepuk telapak tangannya di atas kepala Ji Yun. “aku lebih senang melihat senyummu…” Namjoon tersenyum. Perlahan Ji Yunpun ikut tersenyum. Senyuman Namjoon  seperti penyemangat baginya. Namjoon  meraih kedua bahu Ji Yun lalu memeluk gadis itu. “berjanjilah untuk tidak lagi menangisi Jungkook, aku tidak ingin melihatmu lebih sedih dari ini, tetaplah ceria seperti biasanya…”

Ji Yun mendorong tubuh Namjoon  dengan pelan. “Namjoon -ah…” Ji Yun terdiam sesaat. Butuh beberapa detik untuk menunggu kalimat Ji Yun berikutnya. “bantu aku untuk berpaling darinya…”

Hatiku terasa terkoyak. Perkataan Ji Yun berhasil merusak perasaanku. Aku benar-benar merasa sedih. Aku sama sekali tidak ingin kehilangan Ji Yun, bukan lagi sebagai sahabat, tetapi sebagai gadis yang ingin kulindungi. Ji Yun terisak lagi “sudah saatnya aku merelakan Jungkook dengan gadis yang ia cintai, aku harus melupakannya…”

Namjoon mengelus kepala Ji Yun. “Besok aku akan menunggumu di Lottle World, pukul 7 malam. Aku akan menerima apapun keputusanmu…”

Ji Yun tersenyum disela-sela tangisnya. Senyuman Ji Yun membuat hatiku semakin sedih. “aku tidak akan membuatmu menunggu Namjoon…”

***

Hari terakhir menjadi ruh

Aku terus memperhatikan Ji Yun. Ji Yun terlihat berpakaian rapi hari ini. Sesuai janjinya dengan Namjoon  kemarin. Mereka akan bertemu di Lottle World pukul 7 malam. Dan sekitar satu jam lagi Ji Yun akan berangkat menemui laki-laki itu. Saat ini Ji Yun tengah melihat kondisiku yang sedikit mengalami kemajuan semenjak aku dinyatakan koma. Ditemani Yein yang setiap hari juga melihat kondisiku di ruangan ini.

“Yein, berjanjilah untuk selalu berada di samping Jungkook…”

Yein melirik Ji Yun lalu tersenyum “aku pasti selalu berada di samping pria yang kucintai, jadi kau tidak perlu khawatir…” Ji Yun kemudian memeluk Yein. “aku sangat berterimakasih padamu…aku yakin Jungkook pasti lebih merasa bahagia jika kau yang berada di dekatnya dan aku sangat yakin kalau sebentar lagi Jungkook akan sadar…”

Aku terkekeh pelan menertawakan diri sendiri. Terus saja berkata seperti itu Ji Yun! Perkataan yang sangat membuatku terpukul. 

Ji Yun melepas pelukan mereka lalu berhenti sebentar sebelum meninggalkan ruangan ini. Ji Yun berbalik, memandangi Yein “ jangan beri tahu aku apapun yang terjadi padanya, sudah kuputuskan bahwa mulai saat ini aku akan menghilang dari kehidupan Jungkook…” Ji Yun tersenyum. Senyuman yang ia paksa.

“tunggu…” Yein menahan tangan Ji Yun. “kau serius?”

Ji Yun tersenyum lagi, sok tegar. “ya, karena…aku merasa lebih baik begitu…” Ji Yunpun melangkah ke luar ruangan. Tanganku mencoba untuk menariknya kembali, namun yang ku lihat adalah tangan yang mulai kabur. Aku juga merasakan tubuhku seakan menghilang.

“disaat waktunya tiba, kau tidak boleh meninggalkan tubuhmu, jika kau lakukan, kau akan melupakan semua kejadian ini atau kau tidak akan bisa kembali lagi ke dunia ini! Jika kau tidak ingin menyesal, jangan pernah melakukan kesalahan sedikitpun!”

Aku berbalik, mengacuhkan kalimat ancaman itu, yang aku butuhkan adalah Ji Yun. Aku hanya percaya pada kata – kata yang ada di dalam hatiku bukan kata – kata yang belum pasti.

Ji Yun sudah menghilang. Akupun berlari ke luar ruangan tempatku dirawat, mataku mencari-cari keberadaan Ji Yun. Ji Yun terlihat memasuki lift. Aku terus mengejarnya dan akhirnya berhasil ikut masuk ke dalam lift yang sama. Hanya ada Ji Yun dan aku dengan tubuh yang mulai terlihat menghilang.

“Ya!” Aku berteriak pada Ji Yun, meskipun ku tahu Ji Yun tidak akan mendengarnya. Ya aku benar – benar bodoh, aku pria bodoh.

Lift bergerak turun. Aku mengambil posisi berdiri di depan Ji Yun dengan wajah yang merona merah. Aku berkata, menghujamnya dengan kalimat – kalimat yang tadinya kupendam, meskipun lagi – lagi ku tau kalau Ji Yun sama sekali tidak akan mendengar ucapanku ini, meskipun ku tahu semua tindakan ini hanyalah sia – sia. Tapi sekali saja, aku ingin Ji Yun mengerti dengan perasaanku sendiri dan tidak terlalu bodoh pada perasaannya yang pasrah merelakan cinta itu mati begitu saja.

“kau ingin pergi? Ya! Perempuan macam apa kau ini meninggalkan pria yang kau cintai berbaring sekarat di sana, tapi kau malah menemui pria lain, yang belum tentu mencintaimu seperti…” kalimatku berhenti, air mata itu mulai mengalir di pipi. “…seperti…..” aku menghela napas, menahan air mata yang terus mengalir. Ku tatap Ji Yun yang masih menunduk. Tanganku mengepal dan berusaha menyentuh Ji Yun, namun tanganku tak bisa melakukannya. Aku berkata lagi masih berusaha menahan tangis yang seakan ingin meledak. “…yang belum tentu mencintaimu seperti perasaanku terhadap dirimu. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada diriku, entah kenapa aku menjadi kesal dan sangat cemburu jika kau bersama pria lain…aku tidak suka jika kau terus berbohong pada dirimu sendiri seakan kau adalah gadis yang kuat untuk merelakan semuanya. Kau bukan tipe gadis yang kuat, kau gadis cengeng! Aku sangat tau itu!”

Aku mengehela napas lagi, menghirup udara yang terasa kosong. Aku melingkarkan kedua tanganku pada Ji Yun yang semakin transparan, seakan memeluk hamparan udara yang tidak bisa kurasakan. “Ji Yun… jangan tinggalkan aku…aku membutuhkanmu!”

Aku memeluknya, sangat erat sampai tubuhku benar – benar menghilang.

***

Ji Yun memperhatikan ponselnya. Air matanya menetes setelah membaca pesan singkat yang ia terima.

“Jungkook sudah siuman, kondisinya membaik…” Begitu sebaris kalimat yang ia terima dari Yein. Pesan itu ia dapat setelah tiga puluh menit meninggalkan rumah sakit. Saat ini Ji Yun berada di stasiun, menunggu subway berikutnya. Ji Yun menyeka airmatanya. Ia tersenyum senang. “sukurlah…”

“Ini sekaligus memberitahu bahwa aku harus segera melupakan Jungkook…” batinnya.

Ji Yun bangkit berdiri, siap untuk menaiki subway yang baru saja berhenti. Pandangannya menoleh, merasa seseorang tengah memperhatikan. “Namjoon? Sejak kapan kau disini?” tanyanya merasa heran karena tak seharusnya Namjoon  menunggu Ji Yun di stasiun.

Namjoon  tersenyum “Aku mengikutimu…”

“mengikutiku? kenapa?”

Namjoon  tidak menjawab pertanyaan itu. Ia malah menimpali dengan kalimat lain. “Sepertinya kau sedang bahagia…”

“oh…itu…aku senang mendengar kondisi Jungkook yang sudah membaik…”

“benarkah? Baguslah…” Namjoon  tersenyum lagi, lalu berjalan menghampiri Ji Yun dan berbisik pelan “aku juga berharap mendengar kabar baik darimu…” Pria itu berkata seraya menaiki subway yang berhenti di belakangnya. Ji Yun hanya mematung seperti mencerna ucapan Namjoon. “Ya! Sampai kapan kau berdiri di situ?” Namjoon  terkekeh lalu menarik tubuh Ji Yun memasuki subway.

***

Satu bulan setelah siuman

Ji Yun fokus membaca buku tebal di depannya. Seperti biasa ia akan menghabiskan waktu di perpustakaan, menamatkan beberapa eksemplar buku bertema seni yang ia suka. Namun ada sedikit yang berbeda. Dulu akulah orang yang selalu menemaninya. Aku yang selalu mengganggunya. Aku yang selalu merajuknya untuk mengunjungi perpustakaan ini demi menemui ruh yang dulu ku anggap sebagai cinta pertamaku. Namun kebersamaan itu tidak akan pernah terjadi lagi karena ia telah memiliki orang lain yang akan selalu berada di sampingnya. Orang yang selalu menyemangatinya dan orang itu adalah Namjoon. Pria yang saat ini duduk di sampingnya.

Ya selama sebulan semenjak siuman aku kehilangan berita mengenai dirinya. Ji Yun tidak pernah menghubungiku. Setiap kali menghubungi Ji Yun ia selalu menolak. Setiap kali ingin bertemu dengannya, Ji Yun selalu menghindar, memberikan alasan tak logisnya padaku hanya karena tidak ingin menemuiku. Ji Yun benar – benar lenyap dari hidupku. Dan orang yang selalu menemaniku adalah Yein.

Yein, wanita yang menyatakan perasaannya padaku. Aku sangat bersalah padanya karena Yein bukanlah wanita yang ada di dalam pikiranku. Saat ini yang dapat kusimpulkan bahwa Ji Yun benar – benar telah mengubur diriku dari pikirannya. Dan aku sangat sedih akan hal itu.

Saat ini aku memperhatikan Ji Yun dari kejauhan. Beberapa meter dari tempatnya dan Namjoon berada. Namjoon menoleh dan menyadari keberadaanku. Ia bangkit berdiri lalu menghampiriku diikuti tatapan Ji Yun. Aku menoleh menatapnya namun sesaat kemudian Ji Yun mengabaikan tatapanku. Apa sekarang dia membenciku?

“bagaimana kabarmu?” Namjoon menyapaku ramah seperti biasanya. Sementara itu Ji Yun terlihat merapihkan buku dan semua barang miliknya dari atas meja, hendak bergegas pergi. Sangat terlihat jelas bahwa Ji Yun menghindariku lagi.

Aku tersenyum “tidak baik seperti yang terlihat” Aku menjawab lalu membalas jabatan tangan Namjoon.

“sejak kapan kau berdiri di sini? Bukankah ingin menemuinya?” Namjoon bertanya seraya melirik Ji Yun yang saat ini terlihat memasukkan beberapa buku ke dalam tasnya.

“aku tidak mungkin mengganggu kebersamaan kalian” jawabku terus terang.

“kebersamaan? sejujurnya aku berharap demikian. Tapi sepertinya aku belum bisa membuat hatinya berpaling. Aku dan Ji Yun hanya sebatas teman. Sebulan lalu saat di Lotte World dia meminta maaf berkali – kali padaku. Aku ditolak bung. Perlu kau ketahui sampai detik ini kau lah satu – satunya pria yang masih ada di dalam hati dan pikirannya. Hmm, kuserahkan kisah cintaku padamu, lindungi dia” Namjoon menepuk pundakku lalu berjalan menjauh.

Jadi?

“Namjoon-ah, tunggu…” Ji Yun mengejar Namjoon seraya tergopoh membawa barangnya. Ia berjalan melewatiku tanpa menoleh. Tatapannya hanya mengarah ke depan, lagi – lagi mengabaikan keberadaanku.

***

Aku berdiri di depan rumah Ji Yun. Berkali – kali menghubunginya dan berkali – kali pula ia mereject panggilan dariku. Berkali – kali aku menyapanya, berkali – kali pula ia mengabaikanku. Tindakannya sungguh di luar batas.

Beberapa menit menunggu, Ji Yun akhirnya keluar, lalu sedikit terkejut dengan kemunculanku yang tiba- tiba. Ji Yun terlihat cantik seperti biasa dengan pakaian dress selutut. Rambut ikalnya dikucir terlihat sangat manis.

“kau mau kemana?” tanyaku to the point.

“bukan urusanmu” Ji Yun melewatiku begitu saja.

Ku tarik tangannya. “kau mau pergi kemana?”

“kencan” jawabnya singkat seraya menepis genggamanku.

“dengan siapa?”

Ji Yun menoleh menatapku kesal “kau banyak tanya! Ini bukan urusanmu!” teriaknya.

“akan kupatahkan kakimu jika pergi kencan dengannya!” aku tak kalah berteriak.

“patahkan saja!” Ji Yun membalas ancamanku. Wanita yang menyebalkan. Aku menggenggam tangannya lagi. “kau tidak boleh pergi!”

“Ya! Jeon Jungkook! Kau sudah punya Yein, yang selalu menjagamu saat di rumah sakit. Kau juga bisa mengajaknya kencan! Mengapa suka sekali mengganggu kesenangan orang eoh!ck!” Ji Yun semakin kesal. Wajahnya memerah karena berteriak dan kedua matanya mulai berair.

“kau senang?” Aku menggenggam tangannya semakin erat.

“Ya! tentu saja aku senang!” Ji Yun berteriak lalu berlari menjauh.

***

Aku mengikuti Ji Yun. Berjalan beberapa meter di belakangnya. Berjalan beberapa lama akhirnya kami berhenti di Lotte World, tempat favorite Ji Yun. Aku juga masih berhutang tiket bermain padanya.

Ji Yun membeli ice cream lalu duduk di sebuah kursi.

“sekarang kau sudah menjawab teka tekiku?” sebuah suara mengagetkanku. Sudah lama tidak melihat perempuan ini. Ruh cinta pertamaku.

“tunggu apalagi? Hampiri dia dan ungkapkan perasaanmu, kau terlahir bukan untuk menjadi pria pecundang Jungkook”

Aku kembali menatap Ji Yun lalu berjalan menghampirinya.

Kedua mata Ji Yun menatap lurus ke arah ice cream. Pikirannya seperti melayang jauh tak lagi terfokus pada nikmatnya makanan dingin itu. Sesaat kemudian airmatanya jatuh, tepat menetes di atas ice cream.

“aku tidak bisa melupakannya…” Ji Yun bergumam masih disela – sela isak tangisnya. “bodoh bodoh bodoh!” teriak Ji Yun memaki seraya memukul kepalanya.  Ice cream itu semakin meleleh.

“ya kau memang bodoh!”

Ji Yun mendongak, menatapku dengan mata yang berair. Ia semakin terisak. Akupun menarik tubuh Ji Yun, memeluknya erat. “kau wanita bodoh! Sangat bodoh!” Ku elus rambutnya.

“dan aku juga adalah pria bodoh yang selalu mencintaimu…”

Ji Yun mendongak dan menatap kedua bola mataku. “benar! Kau pria bodoh! Baru tau sekarang?”

Aku memeluk Ji Yun lagi, ingin membuatnya nyaman berada di sisiku. “dasar cengeng!”

Aku terkekeh lalu beralih menatap wanita yang berada di depan kami. Tentu Ji Yun tidak dapat melihat wujudnya. Aku tersenyum pada wanita itu.

Kau telah menyadariku akan perasaan yang sesungguhnya. Memang aku adalah pria pecundang yang tidak mengerti akan cinta. Yang selalu terlambat menyadari perasaannya. Kali ini aku berjanji melindungi gadis ini, seperti yang pernah kau lakukan padaku sebelumnya.

Satu hal, jawaban dari semua teka – teki ini adalah

Terimakasih Eomma

Aku tersenyum menatap paras cantik itu. Selang beberapa detik, wujudnya semakin menghilang terbawa angin.

Aku semakin mempererat pelukanku pada Ji Yun. Janji ini yang selalu kupegang. Aku akan melindungi Ji Yun hingga Tuhan nanti memanggilku kepangkuanNya.

Inilah kisah cintaku yang baru saja dimulai.

-The End-

***

Terimkasih telah membaca ^^ ditunggu komen dan likenya ^^

Dan tunggu karya author selanjutnya ya *\^0^/*

 

Advertisements

One thought on “[BTS FF Freelance] LIKE A FOOL – (Oneshot)

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s