[BTS FF FREELANCE] Trapped in a Marriage – (Chapter 14)

14

Title

Trapped in a Marriage

Author

Yoohwanhee

Main Cast

Jeon Jungkook [BTS]

Jung Hyerin [OC]

Kim Taehyung [BTS]

Ryu Sujeong [Lovelyz]

Genre

Romance, Marriage-Life, AU!, Conflic, School-Life

Length

Chaptered

Rating

PG-15

Summary

Resiko dalam sebuah pernikahan adalah: Masalahmu, masalahku juga. Itu karena kita harus melengkapi satu sama lain, jangan biarkan sesuatu tersembunyi diantara kita. Kalaupun ada yang kau sembunyikan, izinkan aku untuk mengetahuinya.

Disclaimer

BTS dan cast lainnya milik orangtua, agensi, dan Army, kecuali OC adalah milik author. Cerita murni hasil pemikiran author, so DO NOT PLAGIATOR. Jika ada kesamaan plot, tokoh, judul, dll adalah ketidak sengajaan.

SORRY FOR TYPO and HAPPY READING

Note: Cast dan rating bisa berubah disetiap chapternya.

WARNING!!! Chapter ini memiliki 8000+ kata

 

Chapter sebelumnya:

Hanbin hanya tersenyum miring dengan bibir yang sudah penuh darah, membuatnya jadi terlihat seperti monster sungguhan “Kau tahu, kan, sekarang aku membencimu bukan karena meninggalnya Hwayeon. Bahkan melihat wajahmu saja membuatku jadi ingin terus membencimu.”

“Bukan, Hyerin akan ku hancurkan setelahnya. Namun untuk saat ini, aku ingin menghancurkan perusahaan keluargamu dulu sebelum itu.” Ucap Hanbin seraya mencoba untuk berdiri.

Jungkook kembali menendang lelaki itu, membuat Hanbin kembali terjatuh “Apa katamu?”

Lelaki itu lalu tersenyum miring dan berujar “Kuharap kau bisa melakukannya karena perusahaanku terlalu besar untuk kau runtuhkan.” Ucap Jungkook lalu berjalan pergi meninggalkan Hanbin.

Sebelum akhirnya Jungkook berjalan semakin jauh, lelaki itu berkata tanpa berbalik memandang Hanbin di belakangnya “Jika kau berulah lagi, aku tidak akan tinggal diam. Bisa saja aku melakukan hal yang sama denganmu, menghancurkan apa yang ada di sekitarmu.” Ucapnya lalu pergi. Meninggalkan Hanbin yang kini hanya tertawa melihat kepergian Jungkook itu.

***

Yoongi terlihat sedang mengatur nafasnya. Ia lalu berjalan mendekat ke arah Jungkook. Setelah merasa nafasnya sudah normal, ia lalu melanjutkan “P-perusahaan keluargamu… sedang dalam masalah besar!.”

Jungkook menekuk alisnya “Mwo? Memangnya ada apa dengan perusahaan keluargaku?”

Yoongi kembali mengatur nafasnya dan melanjutnya “Ada yang menipu perusahaanmu. Selebihnya aku tidak tahu jelas. Namun yang pasti, untuk saat ini jumlah saham ayahmu menurun drastis dan kontrak kerja sama dari berbagai perusahaan juga telah diputuskan. Kau perlu ke kantor sekarang! Presdir Jeon menunggumu disana. Kakakku, Seunggi, yang memberitahukannya padaku.”

Jungkook terdiam mematung. Pikirannya kini hanya tertuju pada seseorang…

Apa ini bagian dari rencanamu, Kim Hanbin?! Dasar brengsek.

 

//Trapped in a Marriage//

 

-Berpisah?-

 

//Trapped in a Marriage//

 

“Kau harus membantu Ayah.”

Jungkook menghela nafas begitu mendengar ucapan ayahnya barusan lalu bertanya “Apa yang harus aku lakukan?”

Presdir Jeon melepas kacamata yang digunakannya dan mengarahkan pandangannya pada sang anak “Kau hanya perlu membantu cabang perusahaan Ayah yang ada di Indonesia. Ayah menugaskanmu cabang perusahaan yang disana karena apa yang terjadi disana tidaklah seburuk yang terjadi disini. Sedangkan untuk perusahaan utama yang berada disini, akan ayah tangani.”

Jungkook mengerutkan alisnya “Jadi maksud ayah aku harus ke Indonesia dan berada di sana untuk beberapa hari?”

Lelaki itu tambah menekuk alisnya begitu melihat sang Ayah menggelengkan kepalanya “Bukan beberapa hari, melainkan dua minggu. Kau harus mengumpulkan kembali perusahaan-perusahaan yang bisa diajak kerja sama, karena itulah kau butuh waktu lebih lama disana.” Ucap Presdir Jeon.

“Tapi-“

“Ayah sudah memberitahukan ini pada Hyerin dan dia mengerti akan keputusan ayah. Jadi kau tidak perlu mengkhawatirkan itu.” Potong Presdir Jeon lalu meraih tangan anaknya itu dan mengelusnya pelan. Sementara Jungkook hanya bisa menatap kosong ke depan dan mempertimbangkan perkataan sang Ayah barusan.

***

Langkah kaki lelaki itu terlihat sedikit sempoyongan. Memasuki area rumah dan membuka pintu. Pandangannya langsung terfokus pada seorang gadis yang kini sedang berjalan kesana-kemari di dapur dengan celemek putih. Lalu terdengar suara cempreng khas gadis itu menembus pendengarannya.

“Oh, Jeon-ah. Kau sudah pulang?”

Jungkook hanya tersenyum tipis—yang mungkin hampir tidak bisa dibilang sebagai senyuman—. Tungkainya bergerak maju mendekati Hyerin yang kini berdiri dua setengah meter darinya sekarang. Gadis itu terlihat sibuk dengan masakannya yang ada di atas kompor.

Tiba-tiba saja, lelaki itu melingkarkan tangannya di pinggang gadis itu dan memeluknya erat. Sementara kepalanya ditenggerkan di bahu kanan gadis itu. Menghirup aroma sampo yang digunakan gadisnya itu.

Hyerin yang merasa terganggu dengan pelukan itu mencoba untuk melepaskan lengan Jungkook dari pinggangnya “Ya, lepaskan dulu. Aku sedang memasak, Jeon.”

Lengan itu tak kunjung lepas bahkan disaat Hyerin sudah memintanya untuk melepaskan pelukan itu. Malah pelukan itu tambah semakin erat, membuat Hyerin yang dipeluknya hanya bisa menghembuskan nafasnya pasrah. Gadis itu lalu mengarahkan tangannya untuk mengelus pelan lengan Jungkook yang masih terbalut dengan lengan blazer sekolah. Hyerin hendak bertanya namun suara Jungkook mendahuluinya.

“Aku tidak sanggup meninggalkanmu.”

Mendengar itu, Hyerin terdiam. Rupanya itu yang menjadi beban pikiran Jungkook sedaritadi. Ia mengingat kembali perkataan Presdir Jeon padanya tadi, bahwa Jungkook akan ditugaskan di Indonesia untuk membantu membangkitkan kembali cabang perusahaan mereka disana.

Gadis itu lalu mematikan kompor dan membalikkan badannya, menatap Jungkook yang kini berada sangat dekat dengannya lalu tersenyum tipis “Kau harus, Jungkook-ah” ucapnya seraya menggenggam erat kedua tangan Jungkook. Tatapan lurus gadis itu menatap lembut pada sepasang iris cokelat Jungkook di depannya. Gadis itu lalu tersenyum tipis “Pikirkan kedua orangtua mu. Mereka begitu mengharapkanmu untuk ini. Mereka mengandalkanmu dan tentu saja kau tidak bisa mengecewakan mereka hanya karena aku.”

Jungkook mengalihkan pandangannya, menunduk ke bawah dan menghembuskan nafasnya seolah-olah telah putus asa dan merasa keberatan dengan perkataan Hyerin barusan.

Melihat Jungkook seperti itu, Hyerin pun langsung mengarahkan tangannya untuk menangkup pipi kanan lelaki itu lalu mengelusnya pelan. Begitu Jungkook kembali mengangkat kepalanya, gadis itu tersenyum simpul “Hanya dua minggu, Jeon. Menurutku itu tidak terlalu lama. Kau hanya perlu bersabar selama dua minggu untuk bertemu dengan istri cantikmu ini” gurau Hyerin seraya mengedipkan matanya berulang kali.

Lelaki itu sempat tersenyum tipis begitu mendengar perkataan Hyerin tadi, namun sedetik kemudian senyum tipis itu hilang. Jungkook menggeleng “Bagiku itu sangat lama. Berpisah denganmu akan sangat membuatku tersiksa. Aku bisa-bisa tidak tenang selama berada di sana. Aku takut Hanbin akan me-“

“Jeon…”

Panggilan Hyerin barusan membuat perkataan lelaki itu terhenti.

Lalu Hyerin kembali tersenyum tipis dan mengelus pipi kanan Jungkook “Aku… sangat mengenal Kim Hanbin. Dia tidak akan bisa sekejam itu padaku, ataupun padamu. Walaupun memang sifat aslinya agak menyebalkan dan bisa memancing amarah, namun bisa saja ada alasan dibalik sifatnya yang sekarang.”

Hyerin menatap suaminya itu dengan tatapan selembut mungkin seraya menyunggingkan sebuah senyuman manis “Kau pergi, dan selesaikan tugasmu disana. Aku akan menunggumu.” Ucap Hyerin, dengan senyum yang mengembang di wajah cantiknya.

Hati lelaki itu kembali tenang disaat ia melihat Hyerin yang kini sedang tersenyum di depannya, seolah-olah senyuman gadis itu mencoba meyakinkan pada dirinya bahwa tidak akan terjadi apa-apa selama dirinya berada di luar negeri. Walaupun masih ada sedikit keraguan untuk meninggalkan Hyerin di Korea, namun sepertinya ia harus memikirkan juga perasaan kedua orang tuanya serta perusahaan keluarganya. Ia tidak boleh bertindak semaunya dan tidak memikirkan sekitarnya hanya karena ingin terus menjaga Hyerin di sini.

Jungkook menghembuskan nafasnya lalu menatap Hyerin. Kedua tangan lelaki itu bergerak menarik Hyerin ke pelukannya. Lalu dengan suara yang sangat pelan, dia berbisik “Aku mencintaimu.”

Hyerin yang dipeluknya hanya bisa diam dan membalas pelukan lelaki itu. Lalu beberapa detik kemudian gadis itu melepaskan pelukannya dan berbalik, kembali menyalakan kompor dan memfokuskan dirinya pada daging yang kini berada di atas kompor.

“Sudah, jangan ganggu aku. Dagingnya tidak akan bisa kita makan nanti jika kau terus menggangguku. Ini daging hanwoo, tahu!” ujar Hyerin yang kemudian diikuti oleh tatapan berbinar dari Jungkook “Hanwoo? B-baiklah, aku tidak akan mengganggumu jadi tolong masakkan daging itu untukku. Aku sangat lapar sekarang.” Ucapnya seraya memegang perutnya dan duduk manis di depan meja makan. Hyerin hanya terkekeh begitu melihat tingkah laku Jungkook yang menurutnya sangat lucu itu.

***

Sementara itu, di suatu tempat…

“Kim Hanbin!”

Terdengar suara seorang lelaki menggema di ruangan kantor itu. Mencari-cari seseorang dengan nama ‘Kim Hanbin’. Begitu melihat orang yang dicarinya tengah duduk di sofa dengan santainya. Bahkan lelaki itu meletakkan kakinya di atas meja sementara di samping kakinya terdapat sekaleng cola  dan beberapa makanan ringan yang sudah berhamburan.

Pria paruh baya yang tadinya sibuk mencari Hanbin kini berjalan ke arah Hanbin dan melemparkan kertas-kertas dokumen tepat di wajah lelaki itu. Sontak Hanbin berteriak kesal dengan perlakuan semena-mena itu, padahal ini adalah kantornya.

“Apa-apaan ini?!” Teriak Hanbin dengan nada tidak terima. Sementara pria paruh baya yang berdiri di samping sofa yang ditempati Hanbin terlihat menampakkan wajah marah “Kau berteriak pada Ayahmu sekarang, hah?! Setelah membuat kekacauan dengan menipu BlueSaphire Company?! Apa kau sadar dengan apa yang kau lakukan?!”

Hanbin langsung berdiri dengan tampang tidak bersalah lalu membungkuk.

“Dasar anak yang tidak berguna! Ayah menyuruhmu untuk menghancurkan Qingdom Groups, bukan BlueSaphire! Kita perlu menghancurkan Qingdom Groups agar perusahaan kecil ini akan berkembang tanpa ada penghalang. Apa kau lupa atau kau berpura-pura lupa hanya karena rasa dendammu pada anak Presdir Jeon?!”

“Aku punya rencana lain.” Potong Hanbin, membuat ayahnya berhenti bersuara dan menatap sang anak dengan tatapan tanda tanya.

Hanbin tersenyum miring dan kembali bersuara, melanjutkan perkataannya tadi “Apa Ayah sudah lupa? Anak dari presdir BlueSaphire telah dinikahkan dengan adik CEO Jung Hoseok. Jika ingin menghancurkan Qingdom, otomatis aku harus menyingkirkan BlueSaphire terlebih dahulu karena BlueSaphire memiliki ikatan kerja sama yang sangat kuat dengan Qingdom. Lain kata, BlueSaphire adalah benteng terkuat Qingdom Groups.”

“Sebelum menghancurkan apa yang ada dibalik benteng, kita perlu menghancurkan bentengnya terlebih dahulu, bukan?” Setelah itu, ia mengakhiri kalimatnya dengan senyum sinis.

***

Malam itu, setelah selesai menghabiskan daging hanwoo, Hyerin membantu Jungkook untuk mempersiapkan apa yang akan dibawa lelaki itu besok. Dari pakaian, dokumen-dokumen penting, serta berbagai barang lainnya kini telah dimasukkan ke dalam koper Jungkook dengan rapi. Jika saja Hyerin tidak membantunya, mungkin ia akan kesulitan dalam hal ini karena lelaki itu sama sekali tidak terbiasa dengan hal-hal seperti itu. Bahkan tadinya ia hampir lupa untuk membawa celana boxer nya. Dan sungguh, itu sangat memalukan baginya, walaupun hanya dihadapan istrinya sendiri.

Setelah selesai, keduanya berniat untuk tidur. Waktu masih menunjukkan pukul delapan malam namun entah kenapa keduanya merasa sangat lelah dan butuh istirahat secepatnya.

Hyerin kini sudah bisa terbiasa dengan tidur di ranjang yang sama dengan Jungkook. Walaupun masih ada kesan yang terasa aneh jika ia berbaring di sebelah Jungkook. Apalagi disaat Jungkook berbaring merangkulnya dengan hangat seperti ini. Detak jantungnya jadi  berdetak tidak beraturan, bahkan kini semburat merah di pipinya sudah terlihat. Padahal ini bukan skinship pertamanya dengan Jungkook.

Disela-sela rangkulan hangat itu, Jungkook berbisik “Aku akan sangat merindukanmu.”

Mendengar itu, Hyerin terkekeh “Aigoo, kau berlebihan, Jeon.” Setelah itu Jungkook tertawa pelan dan mengerat rangkulannya pada Hyerin.

Sejenak hening. Jungkook memang sedang tidak ingin membicarakan sesuatu dan ingin menikmati waktu bersama dengan gadisnya sampai malam berakhir karena besok ia akan meninggalkan gadis yang sangat dicintainya itu.

Tiba-tiba, Hyerin mengeluarkan suara “Kudengar gadis-gadis di Indonesia adalah gadis yang cantik dan menarik. Sudah pasti kau akan melirik mereka, bukan?” ucap Hyerin seraya memainkan jari jemari Jungkook.

Jungkook hanya terkekeh mendengarnya lalu menjawab “Aku tidak akan melirik gadis lain selain dirimu. Kau istriku, Hyerin-ah. Mana mungkin aku meninggalkan istri cantik sepertimu disini dan berpaling pada gadis lain disana?” ujarnya lalu mengelus pelan rambut gadis itu.

Hyerin kembali berucap “Tapi, kebanyakan dari mereka sangat menarik, berbakat, dan pintar. Tidak sepertiku, otak limited edition. Aku bahkan tidak tahu bakatku apa.” Gadis itu lalu mengerucutkan bibirnya, membuat Jungkook yang melihatnya hanya terkekeh pelan lalu menggerakkan tangannya untuk mencubit pipi gadis itu.

Aigoo, sekarang kau yang berlebihan. Kau itu punya bakat, arra? Kau suka pada fashion, bukan? Kenapa tidak coba untuk jadi desainer? Atau jadi penulis? Bukankah kau suka membaca novel?” usul Jungkook. Hyerin hanya mendesah pelan lalu kembali mengerucutkan bibirnya lucu “Entahlah. Akan ku coba dua-duanya, nanti. Sekarang giliranmu, apa bakatmu, hah?” Tanya Hyerin dengan nada menantang.

Jungkook hanya terkekeh pelan lalu berucap “Bakatku adalah mencintai Jung Hyerin” Ucapnya mantap, yang kemudian direspon oleh desahan malas dari Hyerin “Berhenti menggombal, Jeon! Cepat katakan apa bakatmu?”

Lelaki itu terlihat berpikir sebentar, lalu mengarahkan pandangannya pada Hyerin yang kini sedang berada dirangkulannya itu “Yang pastinya aku tidak akan memiliki bakat malas mandi sepertimu”

Langsung saja Hyerin melotot mendengarnya dan melepas rangkulan Jungkook. Gadis itu mengarahkan pandangannya pada Jungkook dan menatapnya tajam “Bakat malas mandi sepertiku? Ya, yang malas mandi disini bukan aku, tapi kau! Dasar kerbau!”

Seketika tawa lelaki itu pecah begitu mendengar gadis itu berbicara dengan nada kesal, baginya itu terdengar lucu sekali “Arasseo, aku akui itu.” Ucapnya lalu kembali mengarahkan tangannya untuk merangkul gadisnya. “Menggemaskan” gumamnya pelan lalu mengelus rambut gadis itu pelan.

“Aku akan selalu mendukung apapun yang kau lakukan, baik menjadi desainer ataupun penulis. Eum, kecuali untuk berselingkuh. Aku tidak akan pernah mendukungmu untuk itu.” Ucap Jungkook lalu mencubit pelan hidung mancung milik Hyerin.

Mendengar itu, Hyerin membalas “Dan aku tidak akan pernah melakukannya, pabo.” Ucapnya lalu balas mencubit pipi Jungkook. Keduanya tertawa pelan lalu mempererat pelukan masing-masing. Sungguh, saat-saat seperti ini membuat keduanya benar-benar merasa sangat dekat. Berbaring sembari berpelukan hangat seperti ini membuat hati mereka terasa tentram dan damai, seolah-olah tidak ada yang bisa memisahkan keduanya.

Beberapa menit kemudian, pelukan itu di lepas oleh Hyerin. Gadis itu lalu menaikkan badannya dan bersandar pada bantal-bantal yang tersusun di belakangnya. Gadis itu lalu bersuara “Jeon…” panggil Hyerin yang diikuti oleh gumaman pelan dari Jungkook. “Hm?”

Sebelum melanjutkan perkataannya, gadis itu menarik nafas lalu menghembuskannya perlahan. Karena sesungguhnya, ia sedang bertarung dengan dirinya sendiri untuk sekedar menanyakan pertanyaan yang ingin ditanyakannya pada Jungkook ini.

Hening sejenak, sampai akhirnya Hyerin membuka suara.

“Kenapa kau menjadikan Joo Hwayeon sebagai kekasihmu dulu?”

Jungkook terdiam. Tidak bersuara selama beberapa detik lalu akhirnya mendongakkan kepalanya menatap Hyerin yang duduk di sampingnya. Lelak itu lalu ikut mengangkat badannya dan memposisikannya bersandar tepat di

Lelaki itu lalu berucap “Ada yang tidak bisa ku beritahu padamu.”

Netra itu mengarah pada Jungkook, menatap wajah ragu lelaki itu dengan lekat. Hyerin lalu meraih tangan Jungkook dan mengelusnya “Semua terjadi karena taruhan Hanbin yang ditawarkan padamu, bukan? Heera telah memberitahukan semuanya padaku.”

Jungkook tertegun dalam diam. Kaget dengan perkataan Hyerin barusan.

Hyerin kembali bersuara setelah ia melihat wajah terkejut Jungkook itu “Aku ingin tahu kenapa kau menjadikan Hwayeon kekasihmu disaat kau sendiri berkata bahwa kau menyukaiku. Sebenarnya apa yang tidak bisa aku ketahui?”

Hyerin menatap lekat Jungkook di sampingnya “Aku yakin pasti ingatanmu tentang ini sudah kembali. Jadi, beritahu aku, apa alasanmu sampai melaksanakan taruhan itu dan rela membohongi Hwayeon tentang perasaanmu sendiri. Apa Hanbin—”

“—mengancammu?” Tanya Hyerin dengan netranya yang berfokus pada lelaki yang kini sedang menunduk itu.

“Ya. Dia mengancamku.”

Tidak butuh waktu lama, Jungkook menjawabnya. Kemudian lelaki itu kembali mengangkat kepalanya dan menatap Hyerin “Jika aku tidak menepati janjiku untuk menjadikan Hwayeon sebagai kekasihku, dia akan menyuruh orang untuk membunuhmu.”

Hyerin mengerutkan alisnya “Dan kau percaya perkataannya?”

“Dia menunjukkan padaku sendiri, di depan mataku sendiri! Dia memberikan foto mu pada sekumpulan orang-orang berbadan besar dan menyuruh mereka untuk mencari dirimu jika nanti aku menang dalam pertandingan. Dia melakukan itu semua karena ingin mengambil alih perusahaan keluargamu. Ia tengah membantu kerja ayahnya saat itu. Ayahnya ingin mendapat jabatan lebih tinggi lagi, beliau ingin melampaui ayahmu” Ujar Jungkook dengan bibir yang sedikit bergetar. Sementara Hyerin yang mendengarnya hanya bisa mengerutkan alisnya tidak percaya.

Kim Hanbin… melakukan hal sejahat itu? Hanya demi jabatan ayahnya?!, batin Hyerin.

Jungkook kembali melanjutkan “Aku pun menyuruh panitia pelaksanaan pertandingan taekwondo itu untuk mengganti lawanku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Setelahnya, aku hanya terus mengikuti perintah Hanbin.”

“Semuanya berakhir disaat kecelakaan terjadi. Aku kehilangan ingatanku mengenai taruhan itu, mengenai dirimu, dan mengenai semua kenangan-kenangan kita. Aku pun memulai kehidupan yang baru dengan ingatan baru pula. Jika saja dia tidak menolongku, aku mungkin tidak akan bisa berada disini sekarang, bersamamu, dengan ingatan yang sepenuhnya telah kembali ini.”

Hyerin menekuk alisnya setelah mendapati sesuatu yang mengganjal di perkataan Jungkook barusan “Dia?”

Lelaki itu menoleh ke arah Hyerin lalu menjawab.

“Kim Taehyung—“

“—dia yang menolongku disaat aku hampir terjatuh di dalam jurang.”

***

Keesokan harinya…

Hari ini adalah hari dimana Jungkook akan segera berangkat. Setelah berpamitan dengan kedua orangtuanya tadi di rumah, kini dia sudah berada di bandara. Ia juga telah mempersiapkan mental untuk menghadapi berbagai keluhan klien nanti. Jungkook tahu bahwa pekerjaan yang akan dikerjakannya nanti akan sangat memusingkan dan juga mungkin bisa membuatnya stres. Namun karena dukungan gadisnya serta teman-temannya, ia jadi lebih percaya diri.

Ia tahu, bahwa ini akan menjadi penentu baginya untuk menjadi penerus BlueSaphire Company.

“Tidak ada yang tertinggal, kan?”

Jungkook mengarahkan pandangannya pada gadis yang baru saja bertanya itu. Ia lalu terkekeh pelan “Sudah empat kali kau menanyakan pertanyaan yang sama, nona” ucapnya lalu mengacakkan rambut Hyerin gemas. Sementara Hyerin hanya mendengus kesal kemudian tertawa.

“Kau harus menurut pada dua oppa jelek ini, arasseo?” Ucap Jungkook seraya menunjuk Yoongi dan Jin yang kini malah menatapnya tajam “Apa kau bilang, Kook?” Tanya Yoongi dengan nada sangar. Jungkook langsung mengerjapkan matanya cepat dan merangkul Yoongi dan Jin “M-maksudku, oppa-oppa tampan. Tadi…eum, typo, hehe.” ucapnya lalu tersenyum kaku. Hyerin yang melihatnya hanya tertawa pelan. Sementara Jungkook kini malah dihajar kedua hyung nya dengan cara menjitak kepala lelaki itu.

“Ada apa ribut-ribut? Baru saja ditinggal beberapa menit.”

Suara seorang lelaki membuat ke empat manusia tadi menolehkan kepala mereka ke arah sumber suara tadi. Rupanya itu adalah Taehyung yang membawa kopi. Sujeong yang di belakangnya lalu membagikan kopi-kopi itu pada Yoongi, Jin, Jungkook, serta Hyerin.

“Jungkook tadi cari masalah dengan kita berdua” Ucap Jin lalu menunjuk Jungkook dan menunjukkan kepalan tangannya “Aku yang tampan dengan bibir tebal nan seksi ini dibilang jelek.” Jin lalu mengelus bibir bawahnya dengan gaya se-cool mungkin lalu mengedipkan mata kirinya pada Sujeong, membuat gadis itu bergidik geli.

Semuanya lalu tertawa.

Suasana di antara ke enam manusia itu terasa sangat hangat. Mereka terlihat sangat bahagia. Walaupun sebenarnya sang bintang utamanya agak sedikit ragu untuk menginjakkan kakinya di dalam pesawat nanti, namun sepertinya lelaki itu tidak lagi memusingkan kekhawatirannya karena mengingat sekarang Hyerin sudah dijaga oleh teman-teman terbaiknya.

Lalu, tiba-tiba suara cempreng seorang gadis membuat ke enam orang itu menoleh, tidak, bahkan beberapa orang yang berlalu lalang di dalam bandara itu juga sempat menoleh.

My bigbro~ Oppa!”

Begitu melihat siapa yang barusan memanggilnya itu, Jungkook langsung membulatkan matanya “Heera-ya!!” serunya seraya tersenyum lebar.

Gadis berambut blonde itu terlihat berlari ke arah Jungkook dan memeluk kakaknya itu erat. Ia begitu merindukan sosok sang kakak. Wajar saja karena ia tidak sempat bertemu dengan Jungkook karena sering diawasi oleh Hanbin, namun belakangan ini Hanbin menghilang jadi Heera menyempatkan waktu ini untuk bertemu dengan kakaknya.

Hyerin yang melihat kedua bersaudara itu berpelukan hanya bisa tersenyum simpul. Ia tahu keduanya bukanlah saudara kandung, namun kasih sayang diantara mereka sangat jelas dan sangat tulus. Keduanya saling menyayangi, baik Heera maupun Jungkook.

Yah paling tidak berbeda dengan dirinya dan Hoseok yang hampir setiap hari bertengkar hanya karena candaan sang kakak yang benar-benar receh dan mengundang amarah Hyerin. Namun, tentu saja jika ditanya apakah Hyerin menyayangi Hoseok, sudah pasti Hyerin akan menjawab ‘iya’. Kakaknya itu sudah seperti jiwanya yang lain.

“Kapan kau sampai di Korea? Kenapa tidak beritahu aku?”

Baru saja Heera akan menjawab pertanyaan kakaknya itu, suara Yoongi langsung memotong pembicaraan kedua kakak-beradik itu.

“Kau cantik sekali. Bisa minta nomor teleponmu?” Tanya Yoongi dengan kerlingan nakal diakhir kalimatnya. Heera sedikit memundurkan dirinya begitu Yoongi berjalan kearahnya. Melihat itu, Jungkook langsung menahan Yoongi dan berucap “Hyejin mau kau kemanakan? Dia sedang berada di belakangmu sekarang, mengasah pisau untuk membunuhmu.”

Mendengar itu, sontak Yoongi membalikkan badannya dan melihat sekitar “Dimana? Dimana?” Tanya lelaki itu dengan wajah waspada. Wajar saja Yoongi agak sedikit sensitif jika mendengar nama ‘Hyejin’ karena kemarin ia baru saja mengajak gadis—yang notabene adalah mantannya itu—untuk kembali menjalin hubungan dengannya. Seketika, semuanya tertawa begitu melihat tingkah konyol Yoongi.

Setelah beberapa menit berbincang-bincang dengan mereka, Jungkook akhirnya masuk ke ruang tunggu. Sebelum itu, ia meminta waktu sebentar untuk bicara empat mata dengan gadisnya, Hyerin. Kini, keduanya telah berdiri sedikit terpisah dari kelima manusia yang sibuk tertawa karena Yoongi yang mencoba menggombal pada Heera.

Jungkook menatap gadis bersurai panjang di depannya itu lalu tersenyum tipis. Menghembuskan nafasnya pelan dan kemudian berbicara.

“Aku akan kembali.”

Hyerin terlihat mengangguk perlahan, walaupun sebenarnya dirinya sedikit tidak rela untuk ditinggal Jungkook. Namun ia juga harus mengingat bagaimana pentingnya tugas ini bagi Jungkook serta keluarga Jeon. Setidaknya ia harus merelakan Jungkook untuk pergi beberapa minggu dan memberi semangat padanya. Ia tidak mau semuanya jadi kacau balau hanya karena dirinya yang tidak ingin Jungkook pergi. Hyerin tidak akan pernah bersikap egois seperti itu.

Manik mata indah gadis itu menatap lembut pada sepasang iris yang berhadapan dengannya. Menatap lelaki itu lekat lalu tersenyum tipis. Perlahan, tungkai gadis itu melangkah mendekati Jungkook. Melingkarkan tangannya pada pinggang lelaki itu dan bersandar pada dada bidang milik lelaki itu. Jungkook pun tidak terlalu kaget dengan sikap Hyerin tersebut dan langsung membalas pelukan gadis itu. Mengelus rambut panjang sang gadis dengan lembut.

“Aku akan sangat merindukanmu” Ucap Hyerin.

Jungkook hanya diam dan terus mengelus rambut gadis itu, sampai akhirnya ia melepaskan pelukan itu dan menatap Hyerin lekat. Memandang wajah cantik gadisnya itu dan tersenyum. “Kau harus merindukanku. Aku tidak akan memaafkanmu jika kau tidak merindukanku.” Ujar Jungkook yang kemudian diikuti oleh tawa kecil dari Hyerin.

Dan dengan sekejap mata, Jungkook menangkup wajah gadis itu dan memajukan wajahnya. Menempelkan bibirnya tepat pada bibir sang istri. Menciumnya perlahan tapi pasti. Hyerin pun membalasnya dengan meraih leher Jungkook dan menariknya untuk memperdalam ciuman keduanya. Menikmati sisa waktu kebersamaan mereka dengan sebaik-baiknya, walaupun rasa sedih dan tidak ingin berpisah menyelimuti hati mereka, namun keduanya tahu bahwa mereka akan bertemu lagi begitu tugas Jungkook disana selesai.

Saat itu juga, pandangan Taehyung dan Sujeong dengan tidak sengaja menangkap pemandangan itu. Taehyung hanya tertunduk perlahan dan mencoba mengalihkan pandangannya. Bukan, bukan karena ia tidak ingin melihat itu, bahkan dirinya tidak memiliki perasaan apa-apa lagi begitu melihat Hyerin dicium oleh Jungkook.

Sedangkan Sujeong, tidak butuh satu detik, ia berbalik dan mengalihkan pandangannya. Berbanding terbalik dengan Taehyung, gadis ini malah merasa sedikit sakit begitu melihat pemandangan itu. Namun ia juga tahu bahwa dirinya tidak boleh sama sekali untuk memiliki perasaan itu pada Jungkook, ia perlu menghilangkan obsesinya pada Jungkook.

Setelah berpamitan pada teman-teman serta sang adik, Jungkook pun pergi begitu mendengar panggilan bahwa dirinya harus masuk ke dalam pesawat yang akan dinaikinya saat itu juga.

Oppa jangan khawatir! Aku akan menjaga perusahaan dan Hyerin eonni.

Hyerin melambaikan tangannya dengan senyum tipis walaupun wajahnya tampak sedih. Ia lalu menurunkan tangannya kembali begitu melihat punggung Jungkook sudah menjauh. Senyum tipisnya juga seketika menghilang, kemudian gadis itu bergumam.

“Dasar bodoh, aku tidak akan berhenti merindukanmu—”

“—bahkan sekarang saja aku sudah merindukanmu.”

***

Hanbin’s POV.

“Jadi, maksudmu disaat seperti ini kau akan menyerang Qingdom? Disaat Qingdom juga sudah bekerja sama dengan Diamonds Group?!”

Leherku pegal terus-terusan menunduk seperti ini. Yang bisa kulakukan adalah mengumpat dalam hati seraya mendengar seluruh omelan ayah. Aish, kenapa harus jam begini? Aku harus pergi ke club bersama Bobby dan Junhoe setengah jam lagi dan apa aku harus mendengarkan omelan ayah yang sangat tidak berguna ini?! Bajuku untuk pesta nanti juga belum disiapkan. Sial!

“Qingdom sudah menulis kontrak kerja sama bersama Diamonds Group, kau mau kita menulis kontrak kerja sama juga dengan mereka? Kita, yang perusahaan kecil seperti ini bekerja sama dengan mereka? Bisa saja mereka membuang kita nanti jika sudah tidak diperlukan”

Cih- Sudah untung diriku mengorbankan seluruh uangku hanya demi menyuap perusahaan-perusahaan lain untuk menipu perusahaan Jungkook, dan ini balasannya?

Terdengar hentakan keras dari meja kerja beliau. Ayah berdiri dan berjalan mendekatiku setelah merasa puas telah mengomeliku. Aku pun tertunduk lebih dalam, bukan karena apa namun ingin menunjukkan bahwa aku hormat padanya dan tidak akan membantah, walaupun sebenarnya di dalam hati aku mengumpat kesal.

“Kau memang anak yang tidak berguna! Ayah menyesal telah percaya padamu untuk menghancurkan Qingdom! Posisimu di perusahaan ini akan segera diganti oleh Hanbyul”

Sontak aku mengangkat kepalaku yang tadi tertunduk, menatap ayah dengan tatapan tidak percaya.

T-tidak! Jika posisiku sebagai CEO diganti, lalu akan jadi apa aku di perusahaan itu? Aku tidak mau menyandang gelar ‘anak tidak berguna’ di perusahaan ini. Ayahku seorang menteri sekaligus pemimpin perusahaan keluargaku! Aku harus sejajar dengan ayahku! Aku tidak ingin dianggap remeh oleh orang-orang! Karena aku Kim Hanbin! Bukan seorang pengecut yang tidak bisa melakukan apa-apa. Aku akan melakukan apapun demi mendapatkan pengakuan dari ayah. Apapun!

TUK!

Dengan terpaksa, aku pun berlutut. Mencoba memberi kesan kasihan pada diriku dengan menampakkan wajah bersalah.

“A-aku minta maaf, Ayah. Aku benar-benar akan melakukan yang terbaik untuk kedepannya namun tidak dengan Hanbyul! M-maksudku, aku harus menjadi pewaris perusahaan ini jadi b-berikan aku satu kesempatan lagi. Jika kali ini tidak berhasil, a-aku akan membiarkan Hanbyul mengambil tempatku.”

Haha. Apa-apaan ini. Aku memohon? Aku? Cih- Rendah sekali harga diriku. Namun mau bagaimana lagi, ini demi jabatan perusahaan! Aku harus mendapatkan seluruh warisan itu! Bagaimana pun caranya harus kudapatkan! Hanbyul? Masa bodoh dengan gadis cengeng itu.

Kulihat ayah merubah tampangnya yang tadi sangar kini kembali seperti biasa setelah menghembuskan nafas pasrah. Aku yakin setelahnya dia akan mengatakan bahwa-

“Tidak! Kau tidak memilki kesempatan lagi! Sudah cukup.”

Aku membelalak, tidak percaya dengan apa yang barusan ayah katakan.

N-ne?” ulangku.

Kulihat ayah mengambil tongkat golf nya dan-

T-tidak! Jangan! Tidak untuk kali ini!

A-ayah…

BUGH!

“Aakkh! Aaakkkhh! A-ayah-akk!”

Dan pukulan-pukulan dari tongkat golf itu menghantam seluruh badanku. Ya, kurasa ini balasan dari semua pengorbananku demi dirinya. Aku rela mengorbankan semuanya demi mendapat pengakuannya dan ini hasilnya. Aku menyesal.

“Aaakkh! A-ayah tolong-aakhh!”

***

Author POV.

Sudah seminggu sejak kepergian Jungkook, kehidupan Hyerin baik-baik saja selama itu. Ia mendapat banyak bantuan dari teman-temannya, terutama Taehyung. Lelaki itu telah banyak membantunya dan Hyerin merasa berhutang budi sekaligus merasa bersalah. Tidakkah dia terlalu jahat untuk dibantu? Dirinya bahkan sudah menolak pengakuan Taehyung mentah-mentah. Menurut Hyerin sendiri, dirinya terlalu jahat untuk dibantu seperti ini.

Selama seminggu ini pula, tidak ada yang terjadi. Hanbin telah menghilang dan tidak menampakkan dirinya sejak saat itu. Semuanya berjalan seperti biasa, seperti tidak ada masalah sebelumnya.

Namun, sepertinya tidak bagi Hyerin. Gadis itu memiliki masalah besar sekarang. Dan masalahnya yaitu—

—ia terlalu merindukan Jungkook.

Gadis itu sudah mencoba untuk menahan rasa rindunya namun tidak bisa. Setiap malam menjelang tidur ia selalu teringat pada Jungkook yang sering merangkulnya hangat sebelum tidur dan bercanda dengannya. Setiap pagi saat ia bangun pun ia teringat pada Jungkook yang selalu membangunkannya dengan kata-kata manis yang bisa selalu membuat Hyerin luluh.

Dan kini semua perasaan rindunya terobati dengan adanya telepon dari Jungkook setelah seminggu tidak bisa menelpon. Kata lelaki itu, ia memang agak sibuk selama seminggu ini.

“Jadi bagaimana dengan makananmu? Apa kau habiskan?

“Tentu saja. Apa ya namanya… Ah! Gado-gado! Makanan itu enak sekali. Bahkan aku meminta untuk membungkuskan dua untuk ku makan nanti di apartemen”

Hyerin terkekeh mendengar itu “Astaga, Jeon. Aku yakin kau akan jadi bulat sesampai di Korea”

“Eyy, aku tidak mungkin membiarkan abs seksi ku hilang begitu saja. Kan kau belum melihatnya”

Ya! Jeon Jungkook! Apa-apaan kau, ish!” omel Hyerin, dengan kedua pipi yang sudah memerah. Astaga, tidak bisa dipercaya bahwa yang tadi berbicara adalah Jungkook. Kenapa lelaki itu jadi mesum begini? Hyerin bahkan dibuat malu oleh perkataannya tadi. Apa efek dari Gado-gado yang dimakan lelaki itu? Entahlah…

“Kkk~ Aku bercanda, beruangku. Ah, dan… apa Hanbin menemuimu?”

Hyerin terdiam sejenak, lalu menghembuskan nafasnya pelan“Tidak. Dia tidak sering masuk sekolah. Menghilang begitu saja. Sudah kubilang, kan, aku baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir, Jeon.”

“Aku mengerti. Syukurlah kau baik-baik saja.”

Beberapa detik hening, sampai akhirnya Hyerin kembali bersuara.

“Aku merindukanmu”

Akhirnya, kalimat itu terucapkan. Setelah sekian lama dipendam sendiri, akhirnya ia bisa mengatakan perasaannya selama ini pada Jungkook. Ia benar-benar sangat merindukan lelaki itu sampai rasanya ingin mati. Apapun yang dilakukannya akan mengingatkannya pada Jungkook, bagaimana bisa ia tidak merindukan lelaki itu?

Hyerin menunduk perlahan dan meremas ujung blazer sekolahnya, menunggu Jungkook untuk menanggapi perkataannya barusan.

Beberapa detik masih tidak ada sepatah katapun yang didengar Hyerin. Dirinya bahkan menduga bahwa Jungkook telah memutuskan sambungan telepon. Namun begitu melihat layar ponselnya, nama Jungkook masih tertera disana, menandakan bahwa sambungan telepon itu belum diputuskan.

“Jungkoo-“

“Hyerin-ah…”

Hyerin langsung terdiam begitu mendengar suara lelaki itu memanggilnya.

“Bayangkan diriku sekarang berada didekatmu, berjalan kearahmu dan menatapmu.”

Hyerin terdiam, mendengarkan penuturan Jungkook ditelepon sembari tersenyum tipis. Tak lupa, dirinya mengikuti seluruh intruksi Jungkook. Menatap lurus ke depan dan membayangkan ada Jungkook disana, berjalan kearahnya.

Mata gadis itu berkaca-kaca begitu dirinya berhasil membayangkan Jungkook yang kini sudah berdiri di depannya dengan menatapnya lembut. Lalu terdengar gumaman pelan dari gadis itu “Jungkook-ah…” lirihnya pelan.

“Aku mendekat, kemudian memelukmu. Mengelus rambutmu dan menempatkan daguku di bahumu.”

Cairan bening itu menetes. Hyerin menitikkan air mata begitu dirinya membayangkan kini Jungkook memeluknya. Membayangkan dirinya kini bersandar di dada lelaki itu dan terisak pelan. Menghirup aroma khas lelaki itu dan membalas pelukan itu.

“Aku merindukanmu. Aku mencintaimu.”

Tetesan air mata itu semakin deras membasahi pipi Hyerin. Ia tidak bisa menahan perasaan itu. Ia begitu merindukan Jungkook. Merindukan segalanya dari lelaki itu. Sentuhan, suara, perlakuan dan kata-kata manis, serta deru nafas lelaki itu pun sangat dirindukannya.

Gadis itu mencoba menahan isakannya agar tidak didengar Jungkook. Sesekali ia menarik nafas dan menghembuskannya, berharap dengan itu ia bisa menghentikan tangisannya itu.

“J-jungkook-ah, Sujeong sudah menungguku di kantin. Kau… kau bisa menelepon lagi saat jam istirahat kedua. Kututup, ya.” Ucap gadis itu, bohong. Ia tidak mau jika Jungkook mendengarnya menangis hanya karena merindukan lelaki itu. Sungguh, ia merasa kekanak-kanakkan sekali sekarang sampai menangis seperti ini.

Tiit! Tiit!

Gadis itu lalu segera menaruh ponselnya di saku blazer kemudian mengelap kedua pipinya yang sudah basah dengan air matanya. Bersamaan dengan itu, pintu kelas 2-3 terbuka, menampakkan sosok Yoongi dan Jin disana.

“Hyerin-ah, ayo ke kantin! Kita makan siang bersama Hyejin.”

***

Tungkai gadis itu berjalan keluar dari minimarket. Tangan kanannya menenteng tas plastik yang berisi beberapa makanan ringan dan minuman yang baru saja dibelinya itu. Sebenarnya dirinya hanya disuruh Hyerin untuk membeli garam untuk makan malam mereka—mengingat Sujeong hari ini akan menginap di rumah Hyerin—, tapi entah kenapa dirinya malah tergoda dengan makanan ringan dan minuman yang terpajang indah di rak minimarket itu.

Gadis itu, Sujeong, terlihat berjalan ke arah rumahnya dengan mengunyah permen karet yang tadi dibelinya. Namun langkah kaki gadis itu terhenti begitu melewati sebuah lapangan basket umum yang saat itu sedang digunakan oleh seorang lelaki yang Sujeong pun tidak tahu siapa. Dirinya berhenti sejenak begitu mendengar lelaki itu meneriakan sesuatu begitu bola basketnya masuk dengan sempurna di dalam ring.

Namun, Sujeong berhenti bukan karena itu, melainkan karena dirinya merasa suara lelaki itu terdengar familiar.

Tepat saat itu juga, sang lelaki yang sedang menjadi objek pandangan Sujeong sekarang menoleh pada gadis itu. Tidak hanya sekedar menoleh, namun juga tersenyum dan menyapa Sujeong.

Annyeong” sapa lelaki itu seraya melambaikan tangan kirinya. Awalnya Sujeong tidak sempat mengenali wajah lelaki itu, namun begitu lelaki itu berlari dan menghampirinya, Sujeong bisa mengenali wajah lelaki itu.

Gadis itu ikut tersenyum tipis begitu sang lelaki sudah berada setengah meter darinya “Oh, Taehyung-ah.”

Lelaki itu, Taehyung terlihat tersenyum ke arah Sujeong dan melemparkan bola basket yang tadi dipegangnya itu. Refleks, Sujeong pun mengarahkan kedua tangannya untuk menangkap bola itu, walaupun sebenarnya dirinya agak kesusahan karena tangannya yang sedang menenteng tas plastik.

Sujeong hanya menatap Taehyung dengan tatapan tanda tanya begitu dirinya berhasil menangkap bola basket itu. Sementara Taehyung yang ditatapnya terlihat hanya tersenyum cengir, senyum yang bisa memancing sebuah jitakan super—menurut Sujeong.

“Tangkapanmu sempurna, sesempurna wajah cantikmu sekarang.”

Mendengar itu, sontak Sujeong memasang tampang jijiknya. Apa-apaan gombalan receh itu? Cih- Sujeong saja baru tahu kalau Taehyung bisa menggombal. Ditambah lagi kerlingan aneh dari Taehyung saat lelaki itu menyelesaikan kalimatnya tadi. Ergh, ingin sekali Sujeong melemparkan bola basket itu sekarang pada wajah Taehyung yang terlihat menggelikan itu.

“Kau mau mati, hah?!” Gadis itu lalu melempar bola basket itu secara asal, membiarkan Taehyung meringis kesakitan karena baru saja bola itu terlempar tepat pada perutnya “Ya, sakit tahu!” omel Taehyung seraya memungut kembali bola basket itu. Sujeong hanya mengabaikan lelaki itu dan berbalik, hendak pulang.

Namun, baru saja gadis itu melangkahkan kaki, Taehyung meraih lengan gadis itu dan menahannya. “Mau kemana kau? Siapa yang menyuruhmu pergi begitu saja setelah menggangguku yang sedang bermain basket dengan damainya tadi?”

Sujeong hanya menoleh dan memutar bola matanya malas. ‘Mengganggu’? Bukankah Sujeong hanya memandangnya tadi? Bahkan gadis itu tidak berkata ataupun melakukan sesuatu tadi pada saat Taehyung bermain. Dan sekarang Taehyung mengatakan bahwa Sujeong telah mengganggu aktivitas main basketnya tadi?

Woah, lama-lama lelaki ini jadi menjengkelkan juga, ya?

“Jadi, apa maumu?” tanya Sujeong dengan nada sedatar mungkin. Sementara Taehyung dihadapannya hanya tersenyum miring lalu memainkan bola basketnya, memutar bola basket itu di atas telunjuknya.

“Bertandinglah denganku. Jika kau bisa memasukkan bola ini ke dalam ring selama tiga kali, kau harus menjawab pertanyaan yang aku berikan nanti. Bagaimana?”

Mendengar itu, Sujeong tertawa. Astaga, apa Taehyung baru saja meremehkannya? Memasukkan bola ke ring adalah ujung kuku bagi Sujeong. Tidak, bahkan bagi anak SD pun itu sangat gampang.

Dan dengan mantapnya Sujeong mengangguk “Arasseo. Tapi, jika kau kalah, kau harus menuruti semua perintahku.” kata gadis itu seraya meletakkan belanjaannya dan menaikkan lengan bajunya, seolah-olah menunjukkan bahwa dirinya sudah benar-benar siap untuk bertanding dengan Taehyung. Melihat itu, Taehyung hanya memasang tampang menantang pada Sujeong dan menjawab “Hm, oke.”

Pertandingan yang tak direncanakan itu pun bermulai dengan Taehyung yang kini telah memantulkan bola basket dan menggiring bola itu ke arah ring. Sujeong pun terlihat mencoba menghalangi lelaki itu sebisa mungkin, namun lemparan pertama Taehyung sudah melambung dan membuat bola basket itu masuk melewati ring. Saat itu juga, Sujeong mendesah kesal dan bersiap untuk mengomel pada Taehyung.

Ya, kau itu tinggi! Mana bisa aku menghalangimu! Ini tidak-“

Bola basket itu kembali masuk ke dalam ring. Taehyung hanya tertawa bangga dengan lemparan sempurnanya barusan, sementara Sujeong kini hanya bisa menatap Taehyung dengan tatapan tidak percaya.

“Tadi lemparan kedua, ya.” Ucap Taehyung lalu mengedipkan sebelah matanya pada Sujeong, kemudian berlari pergi mengambil kembali bola basket yang sudah menggelinding agak jauh itu.

Sujeong menghela nafas pasrah. Kalau begini bisa-bisa ia kalah dari Taehyung. Dengan segera, gadis itu berlari kecil ke arah Taehyung yang sudah memulai kembali permainannya. Aku tidak tahu apa yang kulakukan sekarang tapi kupastikan aku akan menang darimu, dasar curut sok keren!

Tangan gadis itu mencoba meraih bola basket yang ada pada Taehyung. Lelaki itu terkekeh begitu mengetahui sekarang Sujeong jadi lebih bersemangat dari sebelumnya. Melihat gadis itu berjinjit-jinjit dan mencoba merampas bola basket padanya membuat Taehyung tertawa kecil “Aigoo, kau ini kerdil, ya?” ledeknya sembari berlari menghindari Sujeong.

Mendengar itu, Sujeong memasang tampang marah “Ya! Asal kau tahu, tinggiku seratus enam puluh delapan dan itu sama sekali tidak pendek!” Ujar Sujeong tidak terima dirinya dibilang kerdil. Gadis itu lalu segera mengejar Taehyung, berniat untuk menjitak kepala lelaki itu.

Namun, langkahnya terhenti begitu menyadari ada sesuatu yang baru saja turun dari langit malam saat itu. Bukan, bukan semacam daun atau apa, melainkan air.

Semakin lama tetesan air itu semakin banyak dan membasahi permukaan bumi dengan derasnya. Langsung saja Sujeong berbalik dan pergi berteduh di sebuah kedai yang sudah tutup dan duduk di bangku yang ada disana. Taehyung yang tadinya sedang sibuk bermain dengan bola basketnya sendirian itu juga segera berlari ke kedai itu untuk berteduh. Namun sebelum itu, dirinya melempar bola basket itu ke dalam ring. Itu lemparan ketiganya yang berhasil.

Sesampai di kedai itu, Taehyung terduduk. Beberapa detik kemudian ia tertawa “Apa-apaan ini, aku yang membuat taruhannya dan aku juga yang menang. Tidak seru!”

Mendengar itu, Sujeong yang sedang membenahi barang-barang belanjaannya tadi yang ditaruh di bangku depan kedai itu langsung menengok pada Taehyung dengan tatapan bingung “Apa katamu?” Tanya Sujeong dengan mata sedikit melotot.

Taehyung menoleh dan tersenyum, memperlihatkan gigi-gigi kecilnya lalu berucap “Aku menang. Barusan aku melemparkan lemparan ketigaku” jawabnya yang kemudian diikuti oleh tatapan tajam dari Sujeong. Tanpa sepengetahuan Sujeong lelaki itu memasukkan bola basketnya? Apa ini tidak curang?

Ya! Aku mana tahu kau memasukkan bola basketnya. Tidak, kau curang! Lemparan ketigamu tidak akan kuakui.”

“Ya sudah, kalau begitu aku saja yang mengakui lemparan ketigaku. Aku akui bahwa aku yang memenangkan taruhannya” Ucap Taehyung dengan wajah sombongnya.

“Mana bisa begitu?! Andwae!”

SREET!

Jari telunjuk lelaki itu berada tepat di depan bibir Sujeong, mengisyaratkan gadis itu untuk diam dan tidak bersuara. Sontak saat itu juga Sujeong terdiam dengan mata membulat, kaget dengan perilaku Taehyung yang tiba-tiba.

“Sekarang, dengarkan pertanyaanku.” Taehyung menatap lekat gadis yang duduk disebelahnya itu, membuat Sujeong yang ditatap tidak bisa berkutik karena ketampanan lelaki itu. Oh sungguh, Sujeong tidak bisa lagi mengontrol detak jantungnya. Kim Taehyung terlalu mempesona! Siapapun yang diperlakukan seperti ini tentu saja akan merasakan hal yang sama dengan Sujeong, bukan?

Rintik-rintik hujan itu semakin deras, cukup untuk mengisi keheningan beberapa detik ini. Sampai akhirnya Taehyung menyunggingkan sebuah senyuman manis dan bersuara, menyampaikan pertanyaan yang ingin ditanyakan pada Sujeong itu. Lama-lama senyuman manis itu semakin lebar, lebar dan lebar, membuat wajah tampan itu jadi terlihat menakutkan. Bahkan Sujeong pun bergidik takut melihatnya. Astaga, dia gila!

“Apa yang ingin kau tanyakan, bodoh?” Tanya Sujeong sembari menoyor kepala Taehyung menjauh. Namun bukannya menjauh, lelaki itu malah menahan tangan Sujeong yang tadi digunakan untuk mendorong pelan kepalanya. Dan hal itu pun sukses membuat Sujeong terdiam, menatap lurus Taehyung yang kini juga menatapnya lembut.

“Bagaimana jika aku menyukaimu?”

Deg!

Sujeong menahan nafasnya sementara kedua bola matanya hanya bisa tertuju pada sosok lelaki yang kini menatapnya lekat.

“Apa yang akan kau lakukan jika itu terjadi? Apa kau akan menerimaku?” Tanya Taehyung. Mendengar itu Sujeong hanya bisa menelan ludah. Apa yang harus dijawabnya? Pertanyaan Taehyung ini begitu mainstream, sampai-sampai Sujeong tidak berani menjawabnya.

Akhirnya, setelah memberanikan diri bersuara, gadis itu pun berujar, lebih tepatnya melemparkan pertanyaan balik pada Taehyung “Apa ini… caramu menyampaikan bahwa kau menyukaiku?”

Taehyung hanya menarik nafas perlahan lalu menghembuskannya, kemudian dengan cepat lelaki itu mengalihkan pandangannya ke lain arah seraya mengangkat bahu “Jika iya, lalu kenapa?”

Heol.

Sujeong menutup matanya, mencoba memikirkan jawaban apa  yang harus disampaikannya pada Taehyung. Sementara Taehyung disebelahnya hanya diam, menunggu jawaban Sujeong sembari memandang lapangan basket yang sedang diguyur hujan itu.

Dua menit berlalu dan Sujeong masih belum menjawab pertanyaannya, gadis itu malah menggigiti kukunya dan sesekali melirik Taehyung disebelahnya. Taehyung menghembuskan nafasnya pelan lalu menoleh pada Sujeong, melirik gadis itu sebentar lalu beranjak dari bangku itu. Lebih tepatnya berlari ke tengah lapangan, membiarkan dirinya basah dengan rintik-rintik hujan yang semakin deras itu.

Sontak Sujeong membulatkan matanya begitu melihat Taehyung kini sudah berdiri di tengah-tengah lapangan basket itu. Gadis itu lalu berdiri dan memanggil Taehyung untuk segera kembali berteduh.

Ya! Kembalilah ke-“

“Ryu Sujeong!” Teriakan Taehyung terdengar jelas memanggil namanya. Walaupun jarak mereka terhitung cukup jauh, namun Sujeong bisa mendengarnya dengan jelas. Gadis itu pun hanya bisa diam dan memandangi Taehyung yang sedang berdiri di tengah-tengah derasnya hujan itu.

Lelaki itu tersenyum lebar “Mengenai pertanyaanku tadi… Ya, benar. Aku menyukaimu.”

Sujeong tertegun begitu mendengar suara Taehyung menggema, memasuki indra pendengarannya. Gadis itu terus memfokuskan dirinya untuk mendengar apa yang dikatakan Taehyung.

“Aku telah memberitahukan perasaanku padamu. Sekarang giliranmu!”

Sujeong menekuk alisnya, mencoba mencerna perkataan Taehyung barusan “G-giliranku?” gumamnya pelan.

Taehyung tersenyum lalu perlahan berjalan mendekati Sujeong, memposisikan dirinya lima meter dari tempat gadis itu berada lalu kembali meneriakkan sesuatu.

“Jika kau juga menyukaiku… jangan mengatakan apapun dan larilah padaku.”

Taehyung memberi jeda pada ucapannya tadi, lalu kembali melanjutkan “Jika kau tidak memiliki perasaan apapun padaku… berbaliklah dan pergi.”

Lelaki itu menyunggingkan senyum tipisnya lalu berkata “Namun, jangan mengira jika kau berbalik aku akan melepasmu begitu saja. Justru dengan berbaliknya dirimu, aku akan mendekatimu dan memelukmu dari belakang, mencegahmu untuk pergi menjauh dariku.” Lanjut Taehyung.

Sujeong terdiam, memandangi Taehyung yang sudah basah kuyup didepan sana beberapa menit dan membiarkan hening menyelimuti keduanya untuk saat ini. Atau lebih tepatnya memberi dirinya waktu untuk berpikir mengenai jawabannya pada pernyataan Taehyung barusan.

Merasa tidak ada jawaban dari Sujeong sampai detik ini juga, lelaki itu menyerah. Taehyung hanya tersenyum getir sementara netranya fokus memandang gadis yang kini sedang berdiri memandangnya. Lelaki itu menghembuskan nafasnya pasrah… lalu berbalik pergi. Karena dirinya merasa bahwa, Ryu Sujeong, gadis itu… tidak akan pernah memiliki perasaan yang sama dengannya. Dia merasa sia-sia saja dirinya mengungkapkan perasaannya jika gadis itu tidak memiliki perasaan yang sama dengannya.

Tep… tep… tep…

Sreet!

Taehyung terhenti, menatap lurus ke depan tanpa membuat pergerakan apapun. Dia terkejut. Terkejut begitu mengetahui bahwa kini sebuah lengan melingkar tepat di pinggangnya, memeluknya erat seolah-olah tidak menginginkan lelaki itu pergi menjauh.

“Kau sendiri yang bilang, jika aku berbalik maka kau akan memelukku erat dan mencegahku pergi. Jika kau bilang begitu padaku, maka itu juga berlaku padamu.”

Taehyung terdiam begitu mendengar perkataan Sujeong barusan. Lelaki itu lalu melepas pelukan gadis itu dan berbalik menghadapnya. Senyum diwajahnya terpampang sangat jelas, menandakan bahwa dirinya sangat bahagia sekarang. Tidak peduli lagi dengan hujan yang kini membasahi dirinya.

Sujeong yang sudah basah kuyup itu ikut tersenyum, memandang lelaki itu dengan tatapan lembut lalu kemudian bertanya “Apa kau senang saat mengetahui bahwa aku juga menyukaimu?”

Taehyung hanya tersenyum, lalu dengan cepat lelaki itu menarik Sujeong ke pelukannya “Tanpa kau tanya pun sudah pasti kau tahu jawabannya, dasar kerdil!” Ucapnya seraya mengeratkan pelukannya pada gadis itu. Sementara Sujeong hanya terkekeh pelan lalu membalas pelukan itu, tidak menghiraukan hujan malam ini yang semakin deras. Seolah-olah menjadikan hujan itu sebagai saksi dari awal kisah cinta keduanya.

***

Di malam hari itu, rumah sedang sepi. Hyerin sendiri karena Yoongi yang bertugas untuk menginap di rumahnya hari ini sedang keluar bersama Hyejin, kekasihnya. Sementara Sujeong yang tadi disuruh untuk membeli garam malah tidak kembali kerumah padahal sudah hampir dua puluh menit gadis itu pergi. Bahkan disaat sudah hujan seperti ini pun dia belum kembali juga dan itu sempat membuat Hyerin khawatir.

Namun, setidaknya tamu Hyerin malam ini bisa mengusir kesepian yang dirasakannya.

“Jadi, ada apa?” Tanya Hyerin pada gadis berambut blonde yang kini tengah duduk di sofa yang terletak di sebelah kirinya. Gadis bersurai blonde itu tersenyum tipis lalu mengatakan tujuannya kemari.

“Aku kesini karena ingin memastikan apa keadaan eonni baik-baik saja karena Jungkook oppa selalu menelponku dan menanyakan apa diriku sering berkunjung di rumah.” Jelas gadis itu, Heera.

Hyerin terkekeh pelan lalu berkata “Oppa mu itu overprotektif sekali.” Responnya yang kemudian diikuti oleh tawa kecil dari Heera. Setelah itu, keduanya lalu berbincang-bincang mengenai kabar mereka belakangan ini.

Sampai akhirnya, Heera mengangkat topik pembicaraan yang berkaitan dengan Hanbin.

Eonni, mengenai video yang kukirimkan pada Nyonya Jung itu… sebenarnya aku benar-benar tidak berniat untuk mengirimkannya pada beliau.” Tutur Heera seraya merunduk pelan. Hyerin yang mendengarnya hanya diam, mencoba mendengarkan seluruh penjelasan Heera mengenai hal itu. Hal yang sempat mengancam hubungannya dengan Jungkook itu.

Heera menghembuskan nafasnya pelan, lalu kembali melanjutkan

“Saat itu, aku berada di rumah Hanbin oppa, mendiskusikan mengenai rencananya selanjutnya. Lalu aku masuk ke kamarnya dan tidak sengaja mendapati komputernya menyala. Aku pun berniat untuk menghapus video yang telah kuberikan padanya. Namun begitu aku hendak menghapusnya, aku mendengar derapan kaki seseorang diluar kamar. Aku pun mengurungkan niatku dan bertingkah seolah-olah aku sudah tidak tahan untuk mengirimkan video itu dan akhirnya aku pun mengirimkan video itu secara terpaksa. Setelah selesai, aku keluar dan mendapati Hanbin oppa berjalan pergi.”

“Aku sungguh minta maaf, eonni.” Ucap Heera dengan kepala yang masih menunduk dalam. Hyerin yang melihatnya hanya mengangguk mengerti “Tidak apa, toh semuanya sudah berlalu. Aku juga pasti akan melakukan hal yang sama jika berada di posisimu.”

Heera mengangkat kepalanya lalu menatap Hyerin, kemudian seulas senyum terpampang jelas di wajahnya. Akhirnya hal yang selama ini selalu membebaninya hilang. Gadis itu akhirnya bisa kembali tenang dan menjalani hidupnya tanpa ada kaitan nama ‘Kim Hanbin’ didalamnya.

**

Hari ini menjadi hari yang ke dua belas sejak Jungkook meninggalkan Korea. Besok adalah hari dimana Jungkook akan segera pulang dan Hyerin sangat senang akan itu. Saking senangnya, gadis itu bahkan sudah tidak tahu bahwa dirinya belakangan ini selalu tersenyum.

Dirinya sudah tidak sabar ingin bertemu Jungkook dan menghambur memeluknya.

Bahkan disaat pelajaraan sejarah—yang selalu menjadi pelajaran terkutuk bagi Hyerin dan mungkin bagi semua siswa di sekolah ini—, Hyerin terus tersenyum sementara obsidiannya fokus mengarah pada papan yang sedang menampilkan sebuah video penemuan fosil-fosil tua. Sujeong yang duduk di sebelahnya pun hanya bisa geleng-geleng kepala.

Teet! Teet!

Bel pulang sekolah berbunyi. Saat itu juga para siswa yang tadinya mengantuk bukan main kini menjadi segar kembali dan mengambil tas mereka bergegas untuk pulang.

Hari ini yang menjadi piket kebersihan adalah Hyerin dan beberapa siswa lainnya. Sujeong yang bukan merupakan piket kebersihan hari ini malah ikut membantu karena merasa bosan harus menunggu Hyerin. Gadis itu bergerak terlalu lambat karena itulah Sujeong berniat untuk membantunya. Sujeong yang menghapus papan tulis dan Hyerin yang membersihkan jendela.

Prang!!

Namun, tiba-tiba vas bunga yang tadinya terpajang indah di dekatjendela itu kini terjatuh, pecah berkeping-keping. Sontak Hyerin terkejut, matanya membulat dan dengan segera gadis itu berjongkok untuk membersihkan pecahan vas bunga itu. Tidak hanya Hyerin yang kaget dengan pecahnya vas bunga itu, namun seluruh orang yang ada di kelas itu.

“Apa yang terjadi?” Tanya Sohyun, salah satu siswa yang juga piket kebersihan hari ini. Gadis itu berjalan mendekati Hyerin dan membantunya.

“A-aku tidak sengaja. M-maaf.”

Sujeong yang melihat itu langsung meletakkan penghapus papan itu dan berjalan ke arah Hyerin “Kau harusnya lebih hati-hati, Hyerin-ah.” Ujarnya lalu membantu Hyerin dan Sohyun memungut pecahan vas bunga itu. “Hati-hati juga saat memungut pecahan kacanya.” Ucap Sujeong.

“Akh!”

Baru saja diingatkan Sujeong, gadis itu sudah terluka. Ujung jari Hyerin tergores dengan pecahan vas bunga itu. Tidak lama kemudian, cairan berwarna merah segar keluar dari goresan itu beriringan dengan ringisan sakit dari bibir Hyerin.

“Sudah ku bilang ha-“

“Sujeong-ah, aku takut. Perasaanku tidak enak.”

Mendengar itu, Sujeong menoleh ke arah Hyerin dan menatapnya heran “Wae?” Tanya gadis itu seraya mengambil tisu dari saku blazernya untuk mengelap darah di jari Hyerin.

Hyerin terdiam, memandang lurus ke depan dengan tatapan kosong kemudian melanjutkan perkataannya “Firasatku mengatakan bahwa akan ada yang terjadi pada Jungkook. Sedari tadi aku tidak bisa berhenti mengkhawatirkannya.” Ucapnya dengan wajah khawatir.

Sontak Sujeong pun kembali mengadahkan pandangannya pada Hyerin, menatap gadis itu lekat sampai akhirnya ia mengerutkan alisnya “Apa maksudmu?”

Hyerin diam, masih dengan pandangan kosongnya. Sampai akhirnya ia tersadar dan segera menggelengkan kepala “Ani, mungkin hanya perasaanku saja.” Ucapnya lalu kembali membantu Sujeong untuk memasangkan plester luka pada jarinya yang terluka itu. Mendengar itu, Sujeong menghela nafas lega “Kau menakutiku, tahu!”

***

BOOM!

Hyerin terkejut begitu mendengar suara ledakan yang sangat keras itu. Ia pun segera berlari keluar dari kamarnya, pergi memeriksa apa yang terjadi diluar sana. Dilihatnya Sujeong yang tadinya sedang duduk santai di atas sofa di ruang tv pun pergi beranjak dan memeriksa apa yang terjadi.

Namun, begitu tungkai gadis itu melangkah di luar pagar, Hyerin membelalak. Pesawat yang kini sedang terbang di atas wilayah itu terlihat dipenuhi oleh api. Tiba-tiba saja pikiran Hyerin tertuju pada Jungkook.

Hari ini adalah hari dimana Jungkook akan pulang ke Korea.

Sujeong yang dibelakangnya terlihat ikut terkejut sampai-sampai gadis itu tidak bisa berkata apa-apa dan hanya menatap pesawat itu. “Pesawat itu… tidak mungkin Jungkook ada didalamnya bukan?” tanya Sujeong pada Hyerin yang kini hanya diam mematung.

BOOM!

Ledakan kedua di pesawat itu kembali mengagetkan keduanya. Namun kali ini yang lebih mengagetkannya, pesawat itu terlihat merosot jatuh. Saat itu juga, tiba-tiba saja Hyerin berteriak “Jeon Jungkook!!!”

Dan seketika gadis itu tidak bisa mengontrol dirinya sendiri. Pandangannya mulai memudar. Otaknya terlalu kaget untuk menerima semua ini. Ia pun terjatuh lemas, dengan kedua kelopak mata yang semakin tertutup. Membuat Sujeong dibelakangnya dengan gerakan cepat menangkap temannya yang sudah tak sadarkan diri itu.

“Jung Hyerin! Bangunlah! Hyerin-ah!”

.

.

.

“Jung Hyerin!”

Kedua kelopak mata gadis itu terbuka lebar sementara nafas tertahan karena terlalu terkejut. Hyerin memandang keadaan sekitar. Dirinya masih berada di dalam rumah, berbaring di atas sofa putih. Ia menghembuskan nafas lega, ternyata kejadian tadi adalah sebuah mimpi.

Lalu pandangannya tertuju pada Sujeong yang kini berdiri di samping sofa dan memandangnya. Hyerin pun bangun dan mengadahkan pandangannya pada Sujeong “E-eoh, ada apa?” tanya Hyerin.

“Sedari tadi ponselmu berdering, Jungkook menelponmu.” Ucap Sujeong seraya memberikan ponsel temannya itu. Hyerin pun hanya mengangguk “Gomawo” ucapnya lalu mengambil ponsel itu dari tangan Sujeong. Sujeong pun pergi setelah memberikan ponsel itu, melanjutkan aktivitasnya memasak makan malam mereka hari ini karena hari ini Jungkook akan segera pulang.

Hyerin yang terlihat masih bingung dengan mimpinya tadi itu pun mengelus rambutnya pelan lalu mengarahkan pandangannya pada layar ponsel miliknya. Tertera nama ‘Jeon’ disana. Gadis itu pun menggeser tombol hijau itu dan menempatkan ponselnya di telinga kanannya.

“Oh, Jeon-ah…”

***

Lelaki dengan kacamata hitam itu terlihat sedang menyetir mobil sport hitamnya. Sementara tangannya yang satu digunakan untuk memegang ponsel yang sedang terhubung dengan seseorang itu.

“Hyerin-ah, kenapa lama sekali mengangkatnya? Apa terjadi sesuatu?” Tanya lelaki itu, Jungkook.

“Ani, aku tertidur tadi. Kau sudah sampai di Korea? Syukurlah, kukira kau tidak akan kembali karena terlalu sibuk disana.”

“Mana mungkin aku berlama-lama meninggalkan istri cantikku sendirian dirumah? Aku merindukanmu” ucap Jungkook sembari mengulas senyum tipisnya.

Terdengar suara kekehan kecil dari seberang sana “Aku lebih merindukanmu. Cepatlah datang, aku akan menunggumu dirumah. Kami sudah menyiapkan makan malam yang spesial untukmu.”

Jungkook kembali tersenyum lebar “Ne, tuan putri. Memangnya masakan ap-“

BRUKK!

Mobil itu terdorong jauh dengan mobil silver yang barusan menabraknya dari samping, membuat mobil sport hitam itu terbentur di pembatas jalan dan hampir terjatuh di sungai disebelahnya. Dahi lelaki itu terbentur keras di stir mobil dan kaca di sampingnya. Sementara ponselnya yang tadi masih terhubung dengan Hyerin itu kini sudah tergilas oleh roda mobil silver yang tadi menabraknya.

Kedua kelopak mata lelaki itu terbuka pelan. Jeon Jungkook masih sadar walaupun hanya bisa menggerakkan kedua kelopak matanya saja. Lelaki itu sangat lemah. Banyak darah yang kini keluar dari kepalanya dan mengucur dengan derasnya. Dengan tenaga yang masih tersisa, lelaki itu bergumam pelan dengan suara yang melemah “H-hyerin…”

Dan, mata Jungkook tertutup rapat setelahnya. Menandakan bahwa ia sudah tidak sadarkan diri lagi—

—atau mungkin… Mati?

 

-To Be Continue-

Hai~ Note kali ini gabakal panjang-panjang dan ga ada preview next chap ea (~’u’ )~ (Hal ini akan berlaku selama tiga chapter terakhir :*)

Cuma mau bilang, dua chapter lagi dan END!

Agak ga rela tapi ga boleh gitu kan yaa. Setiap cerita tentu ada awal dan akhirnya, masa cerita ini jalan terus dan gatau stopnya dimana yekan :3 jadi belibet nanti yang buat ceritanya wekaweka/?

Okey itu aja, see you~

Next Chapter:

“Kau itu Jeon Jungkook! Kau orang terkuat yang ku kenal tapi kenapa jadi begini?”

“Bangunlah, bodoh! Bangun! Tidak seharusnya kau disini!”

“Kenapa kau ingin sekali membunuh korban?”

“Aish, dasar brengsek! Katakan sesuatu! Apa kau pikir diam saja akan menyelesaikan semuanya, hah?! Pekerjaanku ini tidak mudah dan kau-”

“Tolong… masukkan aku ke dalam penjara!”

Ne?!”

“Pernikahan kalian ditunda. Tuan mengatakan bahwa nona harus fokus belajar agar bisa mengambil jurusan bisnis nanti. Beliau takut jika nona tidak bisa mewariskan perusahaan dan hanya bergantung pada tuan muda Kim.”

“Bagaimana kabarmu disana… Jeon Jungkook?”

 

Trapped in a Marriage: Chapter 15

Advertisements

20 thoughts on “[BTS FF FREELANCE] Trapped in a Marriage – (Chapter 14)

  1. Gita Dharma

    Sialan ! Siapa tu yg berani nabrak jungkook oppa ? Btw entar si jungkook dipisahin lagi ya sama hyerin ? Kenapa sik cinta jungkook sama hyerin diuji terus ? Kasian mereka.
    Hy thor aku suka banget ff ini. Sejak pertama menjelajahi ff ini, aku jadi merasa terbawa alur ceritanya. Beneran keren ini ff ! Padahal authornya baru 14 tahun. Ahh daebak !
    Oh ya thor, nanti tolong dong dibikinin squelnya khusus untuk hyekook dan taejeong shipper ya ?!

    Like

  2. Song Hara

    Thor.. update dong.. udah sampe kebawa2 mimpi si Jongkook.. TT
    Thor jangan lama2 ya updatenya. Klo di sini kadang ngantri buat diposnya,, bkin akun di wattpad thor.. biar punya profile sendiri. Jadi karya2nya ngumpul jadi satu. Semangat nulis terus yaa.. gak nyangka yg nulis ini masih 14 tahun.

    Like

  3. LilBee

    Authornim.. maaf baru comment saat chapternya sudah banyak :” (←anak ini telat baca). Sudah lama nggak baca ff sekalinya baca langsung ketemu sama yg bikin baper (;-; .. intinya terima kasih sudah hadir membawakan cerita ini ;-;)b (←bapernya kagak berenti2) chapter2 selanjutnya ditunggu ya. Keep writing ^-^)/

    Like

  4. Nadellia

    Yaa… Jungkook, gak mati kan? ingatannya gak bakal hilang lagi kan?? kenapa bisa kecelakaan?? Pasti yang nabrak Hanbin-.- ye kan??:v
    Kyaa… romance nya ngena banget, suka banget Hyekook dan Taejong:3:3:3:3:3:3:3 Baveerr ane….:v:’v
    Mau end?? gak rela sih–” tapi ya mau gimana lagi-.- Yoohee… ff ini daebak banget!!! ahh… pokoknya end nya harus wahh:v harus!! kalau gitu fighting… Yoohee:v:3

    Like

  5. Misakimoon

    Kepo maksimal…….
    Sujeong n taetae bikin bapeeeeerrrr
    Hiks hiks udah mau end.
    Tp gpp. Aturnny emng udah begitu.
    Tetep semangat thor…………./0\

    Like

  6. Yuki yuki

    Akhirny di post jg chap ini. Huuuu kok aku tmbh sdih y klo ff ini akan sgera brakhir… Hikz…

    Chap ini seru bingits…. Suka bgian moment Taejong 😂😂😂😍😍😍..
    Mungkin ini aj yg bsa kukatakan, g tau mau ngomong ap lg sangking bgusny ff ini dri awal smpe chap ini
    Yoohwanhee, fighting!! 😊😊😘

    Like

  7. Yah,thorr. Ini beneran bakalan ending yaaa:((( syedihhhh:(( happy ending dong thor, jangan sad ending yaa. Kasian aku nya, eh salah. Kasian hyerinnya wkwk. Itu jungkook ga mati kan? Aishhbh penasaran thorr. Fightingg💙💙💙💙

    Like

  8. Levana

    Katanya gaada preview next chapter, eh trnyata ada.
    Alhamdulillah, agak kecewapas author blg gga ad preview next chptr tp pas liat prvienya ad lngsung lega 😀
    Keren thorr!! Next! 😉

    Like

  9. Jimindrea

    ARGHHH!!!
    Oke, thor aku paling sukachaps 14😍😍 ini campur aduk banget, kek nnton drama.
    Apalagi pas taehyung nembak sujeong, ergghh pas banget, ngena.. Baper akutu 😔😔😂
    Jungkook disini bener” boyfriend materials bgtt 😍 tapi… APA APAAN INI???!! KENAPA JADI BEGINI?? SUMPAH AKU GA PERNAH KEPIKIRAN BAKAL ADA ADEGAN KECELAKAAN BEGINI 😭😭😭
    Jeon gak mati kann?? Jangan dongg😢

    Pokoknya next chapter aku bakal tungguin,entah itu satu bulan dua bulan gpp. Aku setia nungguin ff keren ini..fighting yoohwanhee authornim😘

    Like

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s