[BTS FF Freelance] Fire – (Ficlet)

picsart2016-20-8-00-15-33

Fire

a fic by Orchidious

Min Yoongi (BTS) with Jung Nahyun (OC)

Ficlet | Dark!AU, Sad | PG 15

I own nothing except the plot and the OC

Thanks to I Need U’s MV for give me idea to write this

~~”~~

 

Sunyi. Satu kata yang menggambarkan bagaimana keadaan kamar milik Min Yoongi saat ini. Meski si empunya kamar tengah berada di dalam, terduduk di atas kasur dengan pandangan kosong mengarah ke depan, tak ada suara yang terdengar selain bunyi detak jarum jam yang terus bergerak.

“Ini satu-satunya jalan yang bisa kami lakukan. Nahyun harus segera menjalani kemoterapi untuk tetap bertahan hidup.”

Ucapan dokter berkumis tipis yang tadi ditemui Yoongi di ruang kerjanya terus tertahan di benak si pemuda Min. Ia tak percaya, sungguh. Yoongi bahkan masih belum bisa mencerna perkataan si dokter sebelumnya yang mengatakan bahwa Nahyun tengah mengidap kanker kronis, sehingga mengharuskan gadis itu terperangkap di dalam rumah sakit untuk menjalani kemoterapinya. Suatu kejutan yang benar-benar membuatnya terpukul; bagaimana bisa gadis yang selalu bersamanya selama tiga tahun terakhir ini ternyata sedang bergelut dalam pesakitan sementara senyum ceria tak pernah absen ia tunjukkan?

Yoongi tak habis pikir.

Ia kalut—frustasi. Bingung bagaimana harus menyikapi ‘kejutan’ ini. Pemikiran realistisnya mengatakan kalau hal ini hanyalah sia-sia belaka. Biar bagaimanapun, nyawa Nahyun sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Kemoterapi hanya sebagai penghambat ajalnya, pemberi waktu sesaat bagi Yoongi untuk melihatnya sebelum mereka benar-benar terpisah dunia.

Jemari Yoongi mulai memainkan pemantik di tangannya. Entah sudah berapa lama benda itu berada di genggamannya—mungkin semenjak dirinya masuk ke kamar dan duduk melamun seperti orang depresi setengah jam yang lalu. Yoongi memang menyukai pemantik, lebih tepatnya ia suka memainkannya. Menurutnya, menyalakan api lalu kemudian mematikannya sudah bagai kebiasaan aneh yang membuatnya tak nyaman kalau tak dilakukan. Kendati Nahyun sedikit ngeri tiap kali melihatnya melakukan hobi aneh itu, Yoongi tak pernah berhenti melakukannya. Sudah biasa, selalu begitu katanya.

Dan saat itulah ide gila menghampiri kepalanya. Membuat pergerakan tangannya terhenti. Tatapan mata menajam sementara seulas senyum asimetris tercipta di bibirnya.

“Aku tahu apa yang harus dilakukan.”

-o-

Pukul dua belas malam.

Ruangan berdinding putih itu tetap senyap. Hanya ada seorang gadis dengan berbagai alat medis di tubuhnya dan seorang pemuda yang berdiri di samping ranjang. Yoongi diam. Menatap lekat gadisnya yang kini tengah berjuang mempertahankan hidup. Sorot matanya melemah, tanda bahwa ia begitu khawatir dengan keadaan si gadis.

Tangan Yoongi terulur. Menggenggam jemari Nahyun yang tak memberikan reaksi apapun. Yoongi tersenyum pahit.

“Aku harap, kau tidak lupa akan janji kita, Nahyun-ah,” lirihnya. Keadaan Nahyun yang seperti ini makin membuatnya frustasi. Seharusnya Nahyun tak masuk rumah sakit hari ini. Seharusnya Nahyun tak pingsan saat sedang berjalan di taman tadi pagi. Seharusnya…

’Ayo terus bersama sampai akhir, Yoongi-ya.’ Bukankah itu yang pernah kau katakan padaku, hm?” Yoongi bertanya pelan. Ia masih ingat benar perkataan Nahyun setahun yang lalu. Ketika mereka merayakan tahun kedua hubungan mereka. Saat itu, Yoongi memang tak melakukan banyak hal selain memberikan sebuah lagu kepada Nahyun. Lagu yang begitu manis kata-katanya, membuat Nahyun begitu senang mendapatkan hasil usaha Yoongi selama tiga bulan tersebut—lagu cinta pertama milik mereka. Sementara dirinya kala itu, membawa sebuah kotak berisi cincin couple yang langsung mereka sematkan ke jari manis masing-masing. Dan saling mengucap janji layaknya tengah berada di depan altar.

 

“Ayo terus bersama sampai akhir, Yoongi-ya.”

“Tetaplah di sisiku, Nahyun-ah.”

 

Tapi janji keduanya seperti tak bisa dipenuhi.

Meski Yoongi tahu, satu-satunya pengobatan bagi Nahyun adalah kemoterapi tersebut, ia tetap merasa mereka juga pasti akan berpisah. Pemikiran yang selalu realistis, tipikal khas seorang Min Yoongi. Itu pula yang membawanya datang malam hari kemari. Ketika keluarga Nahyun tengah pulang ke rumah. Hanya ada adik laki-lakinya—yang Yoongi tahu sedang pergi keluar untuk membeli cemilan.

Maka pemikiran realistis—sekaligus gila—itu mulai Yoongi jalankan. Ia beralih ke sudut ruangan, tempat dimana sebuah jerigen berisi penuh minyak tanah ia letakkan. Tak butuh waktu lama, aroma minyak tanah langsung memenuhi ruangan. Yoongi melenpar jerigen yang telah kosong itu dengan sembarang. Jemari menyusuri saku celana, mencari satu benda yang selalu menemaninya. Begitu mendapatkannya, Yoongi lantas tersenyum.

“Ayo terus bersama sampai akhir, Nahyun-ah.”

Api dari pemantik yang menyala langsung menjalari ruangan. Melahap habis bilik tertutup itu beserta seluruh isi di dalamnya. Malam yang pekat seketika benderang saat api semakin membesar. Menimbulkan riuh penghuni rumah sakit yang langsung kalang kabut memadamkan api untuk menyelamatkan dua insan yang tereperangkap di dalamnya.

Namun tetap saja terlambat.

 

Yoongi dan Nahyun sudah mencapai akhir mereka.

 

fin

Advertisements

2 thoughts on “[BTS FF Freelance] Fire – (Ficlet)

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s