[BTS FF Freelance] BTS and Her (Chapter 2 – Kim Namjoon and Her)

g9b4uax-1

BTS and Her

Chapter 2 – Kim Namjoon and Her

 

Jakarta, BTS Fan Meeting, 11 September 2015.

Tiket VIP untuk fan meeting sudah ada ditanganku. Aku bekerja keras untuk mengumpulkan uang demi mendapatkan tiket ini.

Fans yang memiliki tiket VIP bisa berjabat tangan dengan mereka sebelum konser dimulai, tapi aku menghindari itu. Aku belum siap menghadapi mereka.

Konser dimulai pukul 18:00. Gedung konser tepat berada di samping tempatku bekerja, sangat mudah untukku sampai ditempat konser. Jam ditanganku menunjukkan pukul 17.30, aku berjalan kaki menuju gedung konser.

Aku memasuki lobby utama gedung konser, begitu banyak fans yang menggunakan baju, topi, tas dengan logo “BTS”, bahkan wajah beberapa fans ditempeli sticker BTS dan ada beberapa fansite memberikan foto BTS gratis kepada fans. Sungguh aku tak menyangka mereka akan terkenal begitu cepat dikalangan remaja. Aku tercengang mengamati sekitarku yang tergila-gila kepada “oppa”nya.  
Pintu masuk ruang konser telah dibuka, para fans berlari kearah pintu dan berteriak karena tidak sabar melihat idola mereka. Aku hanya terdiam, mengumpulkan nyaliku untuk melihat idola mereka.

Aku biarkan rambut merah maroon panjangku terurai dengan kututupi topi hitam bertuliskan “supreme” diatasnya, masker hitam, baju putih yang dipadukan dengan cardigan hitam, blue jeans ketat dan sepatu converse merahku.

Aku masih bersandar disamping pintu masuk ruang konser.

“Permisi, kurasa konser sudah dimulai, kenapa kau masih diluar?” Tanya seorang staff yang tiba-tiba menghampiriku.

“Ah, aku akan masuk sebentar lagi.” Ucapku sambil menurunkan maskerku.

Nyaliku masih belum cukup.

Fans berteriak sangat keras menyanyikan lagu ulang tahun untuk Namjoon. Aku bisa merasakan merinding ditubuhku, panas dingin tidak menentu.

Ternyata aku belum cukup siap melihat mereka walaupun dari jauh. Mungkin sebaiknya aku mencuci mukaku lebih dulu.

18.30

Kakiku melangkah ke dalam ruang konser. Aku segera duduk di seat VIP.

Aku melihat Namjoon, Jin, Yoongi, Hoseok, Jimin, Tehyung, dan Jungkook yang sedang menyanyikan lagu “Danger”, gerakan yang sempurna, vocal yang stabil. Aku tak bisa berhenti tersenyum saat melihat mereka tampil, rasanya penglihatanku mulai terhalang oleh air. Aku menegakkan kepalaku, berusaha mengeringkan air didepan mataku.

Setelah  berusaha menenangkan diriku, aku mencoba menikmati lagu yang mereka bawakan. Gerakan – gerakan itu, aku masih mengingatnya dengan baik, kenangan – kenangan itu masih jelas berada di dalam otakku, Akhirnya aku bisa menikmati lagu-lagu mereka, aku tidak bisa berhenti menghentakkan kakiku seiring dengan lagu yang mereka bawakan.

20.00

Tak terasa sudah 10 lagu mereka bawakan dengan baik dan penuh semangat. Lagu “I Need You” adalah lagu penutup konser malam ini. Para fans berteriak sangat keras memohon agar Bangtan tidak meninggalkan panggung secepatnya. Taehyung, dia masih memegangi tirai dan terlihat tidak tega meninggalkan para fans nya, sedangkan member lainnya sudah meninggalkan panggung.

Para fans satu persatu sudah meninggalkan ruang konser, aku masih saja duduk dikursiku. VIP seat row 5.

Para staff mulai membereskan panggung.

“Permisi, fan meeting-nya sudah selesai.” Ucap seorang staff yang sedang mengangkut kursi disekitarku.

“Oh, Iya.” Aku tersadar dari lamunanku dan segera berdiri lalu meninggalkan ruangan.

Ketika aku sudah berada didepan pintu keluar, aku mendengar seseorang memanggilku.

“Taeseok-ah, Taeseok-ah, apakah itu kau?”

Aku mengenali suara itu.

Aku mempercepat langkahku untuk keluar dari ruang konser.

“Taeseok-ah, tunggu!”

Aku berlari menuju tangga darurat, menuruni tangga sampai basement tempat parkir mobilku.

Bagaimana seseorang bisa mengenaliku? Aku sangat yakin sudah menutupi wajahku dengan benar.

Aku bisa mendengar dengan jelas suara manager Sejin memaggil namaku, tapi sudahlah yang terpenting aku sudah dimobilku, aku akan segera menghilang dari sini.

Ku buka masker, topi, dan cardiganku. Aku menyalakan mobil dan bersiap menginjak pedal gas secepatnya.

Saat mobilku mulai berjalan, aku lihat seorang laki-laki muncul didepan mobilku. Aku segera menginjak rem dengan cepat, melepaskan seat belt ku dan keluar dari mobil. Emosiku tidak terbendung.

“Apa yang kau lakukan? Minggir!” teriakku.

Lelaki itu berpakaian serba hitam, menggunakan masker dan topi hitam, memiliki tinggi kira – kira 180 cm. Dia melepaskan masker dan topinya.

“Kau tidak bisa lari dariku, Taeseok-ah.”

Mataku menatap lebar lelaki itu, terdiam seperti patung, dan tidak bisa berkata apa – apa lagi. Tubuhku terkunci sesaat.

“Aku tidak punya banyak waktu, kami harus terbang ke Jepang pukul 11 malam ini juga. Taeseok-ah, kembalilah. Itu semua hanya salah paham, kembalilah.” Ucap Namjoon dalam satu tarikan nafas.

“Tolong, jangan…” aku tak tahu harus berkata apa.

“Untuk apa kau datang? Kau masih peduli kan?” sanggahnya.

“Kau melihatku?”

“Taeseok-ah bagaimana aku tidak melihatmu? Aku tau kau datang saat kami menyanyikan lagu “Danger”. VIP seat row 5. Topi yang kau kenakan hadiah dari Jin Hyung, masker hitam bertali merah, cardigan hitam, sepatu converse merah. Ah, dan rambut merahmu.  Tolong, kembalilah!” dengan nafasnya yang tidak teratur, Namjoon masih berusaha menjawab pertanyaanku.

“Jangan memohon aku kembali, Namjoon. Kau tahu jawabannya.” Aku memutar badanku untuk kembali ke mobilku. Namjoon menarik tanganku.

“Aku akan menemukanmu lagi dan aku pastikan kau tidak bisa pergi lagi.” Tegasnya.

“Pergilah.” Aku tak berani menatap wajahnya, aku berusaha melepaskan genggaman tangannya.

Aku bergegas memasuki mobilku, Namjoon tidak menahanku lebih jauh. Dia membiarkan aku pergi.

Aku tidak melihat lagi ada Namjoon dari kaca spionku, kurasa ia sudah pergi.

Aku hentikan mobilku. Aku nyalakan mp3 player dan lagu “Hold Me Tight” terputar begitu saja.

Nafasku mulai tidak beraturan, aku sandarkan kepalaku ke stir mobil. Aku sangat menyesal bisa datang ke konser mereka. Aku tidak menyangka mereka menyadari kedatanganku.

Telfonku berbunyi, layar telfonku menunjukkan “Unknown Number”.

“Halo.” Jawabku.

“Taeseok-ah, ini Jin. Kau sudah bertemu Namjoon kan? Aku tahu kau pasti mengabaikannya. Aku masih berharap kau bisa kembali lagi suatu hari nanti, Taeseok-ah.”

“Bagaimana kau tau nomerku, Oppa?” tanyaku.

“Hei, sekarang aku orang kaya yang bisa melakukan apa saja, Taeseok-ah.”

“Ah, data pembeli tiket konser.”

“Berhenti mengatakan yang tidak penting, suatu hari nanti kami akan menemukanmu lagi, berjanjilah tidak akan lari lagi atau kau akan menyesal.” Ancam jin.

“Oppa, berhentilah. Tolong.”

“Kau berhutang nyawa kepadaku, kau lupa?”

“Aku fikir sudah satu sama.”

“It’s not over, Taeseok-ah.”

“Aku harus pergi.”

“Pergilah sejauh mungkin, karna kami akan menemukanmu lagi, dimanapun. Bye Taeseok-ah.” Jin menutup telfonnya.

Kedua tanganku memegang kepalaku yang tiba-tiba terasa berat. Seharusnya aku tidak perlu datang ke konser mereka. Seharusnya aku tidak mengangkat telfon dari Jin dan seharusnya aku tidak perlu bertemu Namjoon. Aku menyesal.

 

Advertisements

8 thoughts on “[BTS FF Freelance] BTS and Her (Chapter 2 – Kim Namjoon and Her)

Leave a Nice Review

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s