[Chapter 1] The Throne of Orient: Fall and Feud

the-throne-of-orient-copy

The Throne of Orient

written by tsukiyamarisa

.

BTS’ Suga as Fyre, Jimin as Alven, Jungkook as Devin, J-Hope as Hale, and OC’s Aleta

with BTS’ Jin as Killian

Chaptered | Kingdom!AU, Friendship, Life, Romance | 13

previous: Prologue

.

“…kau sendiri tahu apa akibatnya jika kita menolak secara terang-terangan.”

.

.

Fall and Feud

.

.

Fyre tak pernah benar-benar suka musim gugur, kendati untuk kali ini, ia lebih dari sekadar tidak suka.

Terbangun pada saat matahari masih belum terbit adalah suatu hal buruk, pertanda bahwa ia tak bisa tidur dengan nyenyak. Tambahkan dengan embusan angin yang menyelusup masuk ke dalam ruangan, diikuti suara derit pelan tanda bahwa jendela kamar tidurnya tidak tertutup rapat. Bingkai kayu itu bergerak perlahan, menunggu sampai sang pangeran Orient bangkit berdiri dan menutupnya.

Pada hari biasa, mungkin Fyre akan membiarkan jendelanya tetap terbuka sementara ia bergelung di balik selimut. Menunggu sampai Alven, Aleta, atau Devin mengetuk pintu, mengatakan bahwa ia harus segera bangun dan bersiap untuk serangkaian kegiatan yang ada. Namun, ini bukan hari biasa. Sama seperti rasa tidak sukanya pada musim gugur (dan juga musim dingin) yang semakin meningkat, kegelisahan Fyre pun agaknya menumpuk makin tinggi. Mendorongnya untuk bergerak turun dari ranjang, menghampiri jendela yang menampakkan hamparan pemandangan laut di luar sana.

Orient adalah kerajaan yang indah, begitu pikiran Fyre berkata. Itu adalah fakta, dan tak ada seorang pun yang berani berkata lain. Istana tempatnya tinggal berada pada sisi paling timur, berdiri megah di atas dataran yang berbatasan langsung dengan pantai, karang, dan laut. Kemudian, bergerak ke arah barat setelah melintasi jembatan batu sepanjang kurang lebih lima puluh meter, adalah pemukiman warga Orient yang tampak teratur dan penuh ketenangan. Atap-atap bangunannya didominasi warna merah bata dan cokelat, berselang-seling layaknya gradasi jika dilihat dari kejauhan.

Itu belum semuanya. Tepat di tengah pemukiman tersebut, adalah alun-alun Orient yang dihiasi dengan menara jam berukuran besar. Seluruh pusat kegiatan warga Orient berkerumun di dekatnya—baik itu sekolah, pasar, lapangan tempat bermain, hingga kedai makan dan minum tempat orang-orang berbincang. Fyre terkadang mengunjungi tempat itu saat ia sedang bosan atau penat, menggunakan berbagai macam penyamaran agar ia bisa berbaur dengan warga.

Namun, semua pemandangan itu tidak akan terlihat dari kamar Fyre.

Alih-alih, lelaki itu mendapati alunan ombak yang berdebur menabrak karang menemani dirinya. Lengkap dengan langit kelabu, serta beberapa burung camar yang terbang dengan malas menyambut pagi. Cuaca hari ini tampak suram, sama sekali tak membantu Fyre yang membutuhkan pikiran jernih demi memikirkan masalahnya.

Benar, ia sedang punya masalah yang cukup besar sekarang.

Mengembuskan napas, mau tak mau Fyre pun teringat akan obrolan tempo hari dengan sang raja. Dengan ayahnya sendiri, yang tampak begitu lelah dan pucat sampai-sampai ia tak bisa memikirkan sebuah jalan keluar. Tanggung jawab itu ada di pundak Fyre sekarang, yang kemarin sudah bersumpah bahwa ia tak akan membiarkan takhta Orient serta Aleta disingkirkan begitu saja.

“Dasar Cumblerton sialan!”

Fyre membiarkan makian itu meluncur keluar, kepalan tangan dihantamkan pada birai jendela. Ia kesal setengah mati, ia masih belum bisa menenangkan dirinya dan mulai memikirkan jalan keluar yang terbaik. Padahal, Fyre tahu benar bahwa ia hanya punya waktu dua minggu. Dua minggu sebelum hidupnya diporak-porandakan, sebelum tuntutan bodoh dari kerajaan di seberang lautan sana harus dipenuhi.

Namun, bagaimana ia bisa menenangkan dirinya kalau kejadian tempo hari terus-menerus berputar di dalam benak? Menyesaki ruang pikirnya, sekaligus pada saat bersamaan membuat ia dilanda begitu banyak kekhawatiran. Bahkan, sekarang pun, setiap kalimat yang tertera di atas perkamen dari Cumblerton itu kembali terputar di dalam otaknya. Seolah mengingatkan Fyre akan realita pahit yang ada, akan sebuah janji masa lalu yang kini terancam untuk ia langgar.

.

-o-

.

Semuanya bermula ketika salah seorang pengawal Orient memintanya bertemu dengan raja.

Siang itu, Fyre sedang menikmati waktu luangnya dengan menemani Aleta di perpustakaan istana Orient. Duduk berdampingan di sofa biru yang tersedia, sementara Aleta membaca dan mengajarinya berbagai macam hal. Bukan tanpa alasan Raja Fielbert menunjuk gadis itu sebagai salah satu penasihat di kerajaan, berpikir bahwa ia pasti bisa membantu Fyre di kemudian hari.

Awalnya, ketika pengawal itu mengatakan “kabar buruk”, Fyre sempat berpikir jika ayahnya hendak mempercepat proses peralihan takhta atau semacamnya. Ia sudah siap untuk memprotes, terlebih karena keduanya sudah membuat kesepakatan mengenai masalah tersebut. Fyre baru akan menikah tahun depan, dan ia baru akan mengambil-alih takhta Orient—sesuatu yang sama sekali tidak ia nanti-nantikan—paling lambat satu atau dua tahun setelahnya.

Tetapi, ia salah.

Raja Fielbert hanya mengulurkan selembar perkamen, tepat saat Fyre berderap masuk. Ekspresinya mengatakan agar Fyre membaca isi surat itu lebih dulu, menolak untuk mendengarkan komentar atau protes sebelum sang pangeran selesai memahami isinya.

Yang mana, Fyre membutuhkan waktu sekitar lima menit untuk benar-benar mencerna isi surat tersebut dan akhirnya mengeluarkan suara seperti orang tersedak.

“P-pernikahan dan pembuatan perjanjian baru?”

Sang Raja mengangguk suram.

“T-tapi—“ Fyre menelan ludah, membaca isi perkamen itu sekali lagi. “Hak apa yang mereka punya untuk memaksaku menikah dengan putri dari kerajaan Cumblerton? Bukankah perjanjian di antara kita selama ini baik-baik saja?!”

“Memang benar bahwa kita telah membuat perjanjian damai dan kerja sama dengan mereka,” ujar Raja Fielbert, keningnya berkerut tak senang ketika ia mendapati Fyre menaikkan nada suaranya. “Tapi, mereka menganggap itu tidak cukup.”

“Tidak?”

“Kurasa kau cukup pintar untuk memahaminya, Nak?” Fielbert menjawab, meminta perkamen itu dari tangan Fyre. “Mereka selalu ingin menyerang Orient, dan selama ini kita harus bersusah-payah untuk membuat perjanjian kerja sama demi mencegahnya. Katakanlah bahwa pernikahan ini adalah… ah, mereka menyebutnya sebagai suatu bentuk perjanjian kerja sama yang baru.”

“Bodoh.”

“Fyre—“

“Maksudku, mereka yang bodoh!” Fyre kembali merasakan amarah membakar dirinya, selagi ia menggerakkan tangan untuk meraba dua buah cincin yang ia kenakan sebagai bandul kalung. Menggenggamnya erat-erat, berusaha untuk mengatur nada bicaranya sebelum melanjutkan, “Apa mereka pikir kita akan setuju begitu saja?”

“Tentu saja tidak,” balas Fielbert, manik hitamnya berkilat berbahaya. “Tapi, kau sendiri tahu apa akibatnya jika kita menolak secara terang-terangan.”

Fyre memejamkan mata, teringat akan sebuah cerita yang pernah dikisahkan Aleta kepadanya. Lebih dari tiga puluh tahun yang lalu, saat keduanya sama-sama belum lahir, pertempuran antara Orient dan Cumblerton pernah terjadi. Kedua kerajaan tersebut memiliki kekuatan yang nyaris imbang, dengan jumlah korban tewas yang hampir sama banyaknya. Peperangan jelas bukan sesuatu yang menguntungkan, sampai kakek Fyre—raja Orient saat itu—membuat perjanjian gencatan senjata dan menyelamatkan Orient dari kehancuran.

Perjanjian yang sampai beberapa waktu lalu masih baik-baik saja.

Orient dan Cumblerton telah melakukan berbagai macam pertukaran sumber daya selama ini—Orient dengan hasil lautnya sementara Cumblerton dengan hasil ternaknya. Mereka bahkan saling bertukar ilmu pengetahuan dan berbagai macam keahlian-keahlian lain, semua demi memastikan agar pertempuran tidak lagi terjadi di kemudian hari. Tapi, apakah Cumblerton merasa puas dengan semua itu?

Cih, tentu saja tidak.

Fyre sendiri memang sudah mendengar desas-desus yang beredar selama dua tahun terakhir, mengenai pemerintahan Cumblerton yang menjadi semakin tidak beres. Beberapa warganya bahkan telah memutuskan untuk pindah dan menetap ke Orient, menyatakan jika mereka tak lagi merasa betah di tanah Cumblerton. Awalnya, itu memang bukan masalah besar. Selama Cumblerton masih menaati perjanjian dan warga Orient tidak terancam, maka pihak kerajaan pun tak semestinya perlu merasa khawatir.

Tapi ini….

Ini sudah keterlaluan!

Jadi inikah rencana Cumblerton sekarang, huh?! Memaksakan sebuah ikatan pernikahan, dan mereka baru akan setuju pada perjanjian damai setelahnya?

Dasar pengecut, batin Fyre berkata sadis, selagi ia kembali menggerakkan netranya untuk menatap Fielbert. Sang raja masih menunggu anak lelakinya untuk berkata-kata, membiarkan senyap mengisi sampai Fyre berdeham dan berkata dengan nada setegas mungkin:

“Ayah tak bisa melakukan ini.”

.

-o-

.

Setelah itu, ayahnya memang berjanji untuk tidak memberikan persetujuan apa pun pada Cumblerton.

Ia bahkan mengizinkan Fyre untuk menangani keadaan, untuk mencari sebuah langkah yang tepat demi menyelamatkan Orient dan warganya. Sang raja mungkin memang tidak menunjukkannya secara terang-terangan, tapi Fyre yakin benar bahwa mereka memiliki pendapat yang sama. Membiarkan pernikahan itu terjadi adalah sesuatu yang berbahaya, sesuatu yang—Fyre curigai—akan memiliki dampak lebih besar dibandingkan sukses atau tidaknya sebuah perjanjian damai semata.

Dan lagi, Fyre punya alasan kuat untuk tidak menyetujui pernikahan itu.

Mengalihkan pandang dari laut yang terbentang, Fyre kini mulai menggerakkan kaki ke kamar mandi. Bersiap untuk memulai hari, berharap agar ia bisa segera memiliki rencana untuk menolak tawaran dari Cumblerton dan menyelamatkan Orient. Ia harus mengendalikan amarahnya, mencoba berpikir jika ia memang masih menginginkan Aleta untuk tetap di sisinya.

Aku sudah berjanji padanya, benak Fyre berkata, selagi ia memandangi kaca yang tergantung di dinding kamar mandi. Aku sudah berjanji untuk menjaga Aleta, untuk memberinya hidup yang bahagia. Setelah apa yang kuperbuat di masa lalu, pantaskah jika aku kembali menyusahkan dirinya kali ini?

Sang pangeran menggeleng-gelengkan kepala, memberi jawab atas tanya yang ia lontarkan sendiri.

Lagi pula, Alven—aide serta sahabatnya—pasti akan mencekik dirinya lebih dulu jika ia sampai berani melukai gadis itu. Sebuah opsi yang mungkin akan Fyre pilih dengan senang hati, lantaran mati terdengar jauh lebih menyenangkan dibandingkan menikah dengan putri-entah-siapa-yang-tak-ia-kenal. Berlebihan memang, tetapi setelah apa yang terjadi di masa lalu, Fyre merasa kalau itu adalah hukuman yang pantas bagi dirinya.

“Berhentilah memikirkan kemungkinan terburuk yang ada, Fyre.” Ia menegur diri sendiri, lantas membiarkan air hangat membasahi tubuhnya. “Kau akan menemukan jalan keluarnya. Kau akan baik-baik saja.”

Fyre terus mengulang kalimat itu selama ia membersihkan tubuh, berganti pakaian, lantas menyampirkan jubahnya dan kembali melangkah menuju kamar. Manik dengan cepat menangkap sosok Alven yang sudah rapi, berdiri di dekat jendela dengan ekspresi suram.

“Tidak biasanya kau sudah bangun, Fyre.”

“Dan tidak biasanya kau memasang muka suram, Alven.” Fyre balik berkomentar, bertukar tatap dengan Alven yang mengembuskan napas panjang. Agaknya, mereka sedang memikirkan masalah yang sama.

“Soal kemarin….”

Yeah?

“Aleta sudah menceritakannya padaku.” Alven kembali membuang pandang ke arah jendela, kendati Fyre bisa melihat tangan aide-nya mengenggam gagang pedang erat-erat. “Aku menyuruhnya untuk tidak terlalu khawatir, berkata kalau kau pasti bisa menemukan pemecahannya.”

“Sedang kupikirkan,” jawab Fyre cepat, tak ingin Alven melihat kecemasan dan rasa frustasi di wajahnya. “Ditambah lagi, aku mulai punya firasat buruk kalau….”

“Kalau?” Alven menyambar, atensinya kembali lagi pada Fyre. “Kalau apa?”

“Kalau Cumblerton menginginkan lebih dari sekadar perjanjian damai dan pernikahan bodoh.”

Senyap mengisi ruangan, selagi Alven menumpukan tangannya pada birai jendela dan mulai mengetuk-ngetukkan jemari. Berpikir sejemang, sebelum ia membuka mulut dan mengutarakan maksud kedatangannya hari ini.

“Sebenarnya, Fyre… aku memiliki firasat yang sama.”

Fyre mengangkat alis, menunggu.

“Kau ingat, apa kata Pangeran Killian saat kita mengunjungi Vesperia beberapa bulan yang lalu?” tanya Alven, menyebutkan nama kerajaan yang terletak di sebelah barat Orient. Berbeda dengan Cumblerton, Vesperia adalah kerajaan tetangga yang memiliki hubungan baik dan akrab dengan Orient. Pun dengan Norden yang terletak di sebelah utara, juga Meridies yang ada di sisi selatan. Tanpa perjanjian damai sekalipun, keempat kerajaan tersebut sudah dikenal memiliki persahabatan yang kuat.

“Apa kata Killian?”

“Aku yakin ia sempat menyebut-nyebut soal Cumblerton,” ucap Alven, suaranya penuh keseriusan. “Berkata kalau mereka pernah berkunjung, dan ia sendiri punya dugaan yang kurang mengenakkan tentang kerajaan Cumblerton.”

Fyre memikirkan hal itu sejenak, tahu bahwa Killian bukanlah tipe seseorang yang akan berburuk sangka jika keadaan tidak benar-benar memaksa. “Menurutmu, Killian bisa membantu?”

“Kurasa kita bisa mendapat sedikit pencerahan, mengenai apa mau Cumblerton sebenarnya. Saat itu, ia memang tidak mau mengutarakan isi pikirannya lebih lanjut. Tapi….”

“Tapi, kita perlu mengetahuinya sekarang.” Fyre melanjutkan, menganggukkan kepala tanda ia sudah membuat keputusan. “Baiklah, siapkan perjalanan ke Vesperia kalau begitu.”

“Tentu.”

“Dan Alven?”

“Ya?”

Fyre mengulum senyum simpul, merasakan angin dingin yang berembus masuk seraya berkata, “Aku akan pergi dengan Devin. Tetaplah di Orient, dan jaga Aleta baik-baik.”

.

-o-

.

“Putri Al—“

“Devin.” Aleta memberinya tatap memperingatkan, membuat si aide kedua di kerajaan Orient lekas bungkam. “Kau bisa memanggilku tanpa embel-embel itu, oke? Aku bahkan belum… kautahu, kami sama sekali belum….”

“Tapi kalau Pangeran Fyre tahu—“

“Aku akan berbicara dengan Fyre,” jawab sang gadis langsung, selagi ia berjalan menuju ruangan tempat arsip-arsip surat kerajaan tersimpan. “Lagi pula, kenapa juga ia tak memberimu hal lain untuk dikerjakan? Aku tidak butuh aide atau semacamnya.”

Devin hanya mengedikkan bahu, tetapi ia tetap mengikuti langkah kaki Aleta. Sudah setengah tahun sejak ia mulai menempati posisi ini, dan sudah sejak saat itu pula Fyre menyuruhnya untuk menjadi aide bagi Aleta. Sebuah keputusan yang tampaknya tak begitu disukai Aleta, lantaran gadis itu terus-menerus bersikeras menganggap Devin sebagai teman.

“Nona Aleta….”

“Astaga, Devin, kau bisa—“ Aleta tak menyelesaikan kata-katanya, menghentikan langkah tepat di tengah koridor istana. Tangannya terangkat untuk menyentuh pelipis, selagi ia memejamkan matanya rapat-rapat dan berusaha mengusir rasa pusing yang datang mendera.

Devin, di sisi lain, langsung bergerak sigap dan bersiap untuk menangkap Aleta.

“Itulah sebabnya aku tidak mengizinkanmu untuk berjalan-jalan hari ini, Aleta.” Devin bergumam, memutuskan untuk tidak memperpanjang pertengkaran dan menuruti keinginan sang gadis penasihat kerajaan. “Alven semalam berkata padaku kalau kau sedikit demam. Kalau Pangeran Fyre—“

“Devin!”

Perkataan Devin terhenti di tengah jalan, sementara Aleta lekas-lekas membuka mata dan memberi sorot memperingatkan ke arah aide-nya. Gadis itu berusaha untuk berdiri tegak, memasang senyum simpul tatkala ia memutar tubuh untuk menghadapi Fyre dan Alven.

“Ada masalah, Yang Mulia?” Devin langsung berucap, memberi Aleta kesempatan untuk menarik napas lebih dulu.

“Kau akan ikut denganku pergi ke Vesperia hari ini,” perintah Fyre langsung, sementara Alven beringsut mendekati Aleta dan melingkarkan lengannya pada sang adik. “Biar Alven yang menjaga Aleta, kau boleh pergi untuk menyiapkan kuda dan perbekalan.”

Devin langsung mengiakan, bergegas melangkah menuju istal untuk melakukan perintah Fyre.

“Pangeran Fyre?”

“Kamu selalu saja seperti itu di hadapanku,” desah Fyre, mengalihkan tatapnya kepada Aleta setelah ia selesai memberikan instruksi. “Sudah kubilang, kamu bisa memanggilku tanpa sebutan ‘Pangeran’, bukan?”

Aleta membalasnya dengan menjungkitkan ujung-ujung bibir, sedikit geli karena kalimatnya untuk Devin tadi kini ditujukan pada dirinya. Padahal, ia sengaja memanggil Fyre dengan sebutan itu lantaran ia hanya ingin menggodanya saja. Sedikit mencerahkan suasana tentunya tidak apa-apa, kan?

“Baiklah, Fyre.” Aleta akhirnya berkata, selagi Fyre memasang rupa puas. “Kamu akan pergi ke Vesperia?”

“Kurasa Killian tahu sesuatu yang bisa membantu,” jawab Fyre langsung, kemuramannya kembali menyebar di udara. “Soal masalah kemarin….”

“Baiklah.” Satu anggukan paham diberikan Aleta. “Aku percaya padamu, Fyre. Pergilah ke Vesperia, dan aku juga akan berusaha menyusun rencana di sini.”

Fyre memaksakan dirinya untuk menyunggingkan senyum, bergerak maju untuk meletakkan tangannya di puncak kepala sang gadis. Mengusap rambutnya perlahan, sebisa mungkin membiarkan rasa hangat serta optimis itu untuk menyebar di dalam dada. Mereka pasti bisa memecahkan masalah ini, sebagaimana Fyre pasti bisa menepati janjinya pada Aleta.

“Aku pergi dulu. Jaga dirimu baik-baik, mengerti?”

Aleta mengangguk, melambaikan tangan sementara Fyre melangkah menyusul Devin. Tungkai bergerak mantap, dagu terangkat tanda ia tak akan pernah menyerah. Ia punya waktu dua minggu, dan ia berjanji akan menggunakan waktu tersebut sebaik mungkin.

Karena Fyre sudah bersumpah, bahwa apa pun yang terjadi…

.

.

.

…Cumblerton tidak akan pernah bisa menyentuh Orient.

.

tbc.

chapter 1 dari project baru!!

entah kenapa tahu-tahu selesai aja diketik ini chapter pertama, meskipun nggak janji chapter2 berikut bakal sama cepetnya ehehehe (_ _)

anyway, selamat datang di Orient dan jangan lupa tinggalkan review ya!

Advertisements

16 thoughts on “[Chapter 1] The Throne of Orient: Fall and Feud

  1. Aahhh ceritanya terlampau seru kak.. 😀
    Aku suka, penggambarannya juga ngga terlalu susah dibayangin..
    Apalagi sama castnya Suga x Minha..
    Ngga kerasa waktu baca, tau2 udah tbc aja .. 😀
    Penasaran di prologue ada nama Leo tp blm dikasih castnya jadi apa? Lebih penasaran lagi sama putri Coblerton yg mau dijodohin sama Fyre..
    Kesalahan banget aku ngga ngikutin yg Virgo dan Vesperia (?)
    *Boleh minta passwordnya ngga buat yg Virgo? Atau gimana caranya dapet pasword?* hehe 😀 jujur aku penasaran banget soalnya, Kak

    Ditunggu banget kak chapter selanjutnya,..

    Like

    1. Aduh baru ch 1 udah dibilang seru aku jadi malu /.\ semoga nanti ke depannya bisa dipertahanin deh ga malah jadi geje /.\

      Iya ada leo tapi leo emang belum muncul ihihihi perannya dia masih rahasiaa~

      Yang virgo yg dilock ada 4 ch terakhir, untuk cara dapet pw-nya ada di chapter 9 yaaa~ untuk vesperia bisa langsung ke archievenya author snqlxoals818 (kak yeni) kebetulan kemaren baru aja tamat soalnya ^^

      Siap’-‘)7 makasih yaaa! ♡

      Like

  2. Omagat…. Kak mer lnjut trsss!!! Aq gk prnah bilang “gak” buat crta2 krjaan model gni… HUUUAAAA~~~~

    Ini sih jlas kudu cpt next chapt.na kak mer~~~ aq bkal sbar mnunggu ..*etdah~*

    Bneran deh d tnggu next.na sgera kak. Gk sbar asli. Demi apaaahhh coba fyre macam jman siti nurbaya d jdoh2.in! Huh! Kn jealous~ 😢

    Like

    1. Siap! ‘-‘)7 doakan aja lancar nulisnya seminggu sekali dan nggak ada halangan ya :”

      Huhu iya berasa jaman siti nurbaya padahal ini udah jaman kerajaan ((sama sama jadul sih benernya wkwk))

      Anyway makasih yaa! ♡

      Like

  3. OWOWOW AKU MENCIUM AROMA2 PEPERANGAN BESAR HAHAHAHAHA *ketawa jahat*

    Lalu aku ngakak masa baca ‘Pangeran Killian’ 😂😂😂 barti di ch 2 bakal ada killian??? DITUNGGU KALO GITU!

    Oh iya, udah kebayang juga gimana Orient dan sekitarnya. Dan kayanya agak lebih hangat daripada vesperia yg isinya salju mulu *pfft

    Serius aku nunggu adanya perang dan pertumpahan darah 😆 *beneran psycho*
    Semangat buat ch 2 nya ya meeeerr ^^)99

    Like

    1. ICY NIH NONGOL LANGSUNG PSYCHO AJA T.T GAADA PERANG PERANG GAADAAA /peluk alven/

      Killian kan emang pangeran……..? Apa udah turun status? /krik
      Iya lebih hangat dong sehangat alven-aleta-fyre kan ihiiiy :* ((dibuang))

      Makasih kayeeeen ♡

      Like

  4. Ternyata memang romance toh genrenya wkwk.. YoongixMinha emang bikin baper momennya ya….. Banyak2in aja kak sekalian biar baper terus /plak/
    Eh tapi, si Fyre mau dijodohin /.\ Etdah.. Ini nih yg greget /krik/
    But, jangan pisah plis… (tapi kalo konflik utamanya ini aku malah tambah semangat bacanya wkwk… /plin-plan/)
    Putri dari Cumblerton nya siapa ya?? Wah wah kepo aku ㅋㅋㅋㅋㅋ
    Semangat buat projek barunya ini kak! Fightingg!! ^-^)9

    Like

Leave your review, ARMY!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s